Posts filed under 'PERILAKU BAYI DAN ANAK'

MEMAHAMI TANGISAN BAYI

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=01003&rubrik=bayi

*T**ak usah panik jika bayi menangis. Anda dapat mengatasinya dengan mudah
jika tahu sebabnya. Jangan pula berpikir, ia anak yang rewel. Menangis
adalah cara si kecil berkomunikasi dengan Anda.*

* *

Setiap bayi pasti menangis dan beberapa di antara mereka lebih sering
menangis dibanding yang lain. Anak cengeng? Bukan! Yang jelas, menangis
adalah cara ia berkomunikasi dengan Anda. Khususnya selama 12 bulan pertama
kehidupannya. Lewat tangis, ia memberitahukan kebutuhan-kebutuhannya kepada
Anda seperti rasa lapar, lelah, pedih, dan keadaan tubuh yang tak
menyenangkan lainnya, serta untuk memenuhi keinginan diperhatikan.

Pada umumnya bayi sering menangis pada minggu-minggu pertama kehidupan, baik
siang maupun malam. Ini karena bayi yang baru lahir masih berada dalam fase
penyesuaian dari dalam kandungan ke dunia luar. Jadi, jika ia sering
menangis, “Tak usah cemas! Sering atau jarangnya bayi yang baru lahir
menangis, salah satu faktornya adalah keturunan. Mungkin waktu kecil, ibu
atau ayahnya juga begitu, rewel,” kata *Dr. Najib Advani SpA. MMed. Paed.*,
dokter anak di Sub. Bag, Kardiologi Anak FKUI-RSCM ini.

Banyak-sedikitnya tangisan, menurut Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya yang
dialih-bahasakan, *Perkembangan Anak II,* berbeda-beda menurut cepat dan
memadainya pemenuhan kebutuhan dan keinginan mereka. Jika dipenuhi dengan
segera, bayi kemudian hanya akan menangis karena merasa sakit dan tertekan.
Setelah umur dua minggu, ada sebagian bayi yang menangis berlebihan. Dalam
kebanyakan kasus dilaporkan, orangtua bayi tersebut tak cepat memperhatikan
tangis bayinya dan tak konsisten menanggapinya.

Jumlah tangisan juga bervariasi menurut “saat harinya”, bertepatan dengan
saat jadwal bayi. Misalnya, bayi paling sering menangis sebelum saatnya
diberi makan dan sebelum waktunya tidur malam. Ketika bayi dapat
menyesuaikan diri dengan jadwal waktu makan dan tidur, tangisan pada
saat-saat tersebut berkurang.

Jangan hentikan tangisnya dengan cara mengangkatnya setiap kali ia rewel
atau menangis. Carilah apa yang salah dan jika tak terlalu serius, segera
alihkan perhatiannya. Menurut Dr. Najib, secara garis besar bayi menangis
dibagi dua kelompok. Pertama, bayi menangis tanpa penyakit, seperti lapar,
haus, perasaan tidak enak atau tidak nyaman (kepanasan, kedinginan, popok
basah, suara berisik, dan lainnya), tumbuh gigi, saat buang air kecil,
kesepian, lelah, atau kolik. Kedua, bayi menangis karena ada sesuatu
penyakit seperti infeksi, radang tenggorokan, radang telinga, hernia,
sumbatan usus, autisma, dan sebagainya.

Jika bayi menangis karena penyakit, periksakan ia ke dokter. Tapi jika
tidak, Anda dapat membantu menenangkannya. Berikut jenis-jenis penyebab
serta penanganan tangis bayi sesuai usianya.

* *

*ARTI TANGISAN BAYI 0-3 BULAN*

Pada umumnya, para ibu mengartikan tangis bayi sebagai tanda lapar.
Ingatlah, menangis tak selalu berarti lapar. Arti tangis berbeda-beda,
masing-masing merupakan tanda komunikasi yang jelas sebagai ungkapan pesan
kepada Anda tentang apa yang ia butuhkan. Gerakan tubuh yang menyertai
tangis dapat membantu Anda lebih memahaminya. Makin keras dan makin lama
tangis, makin kuat kebutuhannya.

** “Saya lapar.”*

Tangis lapar biasanya berpola. Ia menangis, lalu stop untuk bernafas,
menangis lagi, lalu stop untuk bernafas. Biasanya diselingi gerakan
mengisap. Jika sangat lapar, tangisnya lebih keras dan terus-menerus.

Jika ia masih menangis saat disusui ASI, coba lihat hidungnya. Ada
kemungkinan bibir atasnya menutupi hidung dan ia sulit bernafas, sehingga
menangis.

** “Saya bosan.”*

Tangis bosan biasanya pendek, diikuti keheningan, lalu tangis pendek lagi.
Tangisnya akan berlanjut jika Anda tak segera mendekatinya dan mengajaknya
bermain.

** “Saya lelah.”*

Tangis lelah berupa rengekan. Ia mungkin akan menggosok-gosok wajahnya dan
memutar kepalanya dari satu sisi ke sisi lain. Sebuah usapan atau gerakan
berirama cukup menenangkan ia dan bisa membuatnya tidur.

** “Saya kesepian.”*

Beberapa bayi butuh perhatian lebih dibanding bayi lainnya dan mulai merasa
kesepian ketika ia ditinggalkan sendiri untuk waktu lama. Tangis kesepian
berupa rengekan setiap menit dan kadang diikuti air mata. Emongan yang lama
membuatnya senang.

** “Saya tak nyaman.”*

Biasanya suara tangis melengking dan jelas, nafas agak tersendat, tapi lalu
nafasnya menjadi cepat diikuti tangis lain. Mungkin lengannya terjepit,
pantatnya kotor, tertusuk peniti, atau mungkin ia kedinginan/kepanasan.

** “Saya kolik.”*

Bayi sering menangis karena kolik atau kejang/kram usus. Hingga kini belum
diketahui penyebab kolik. Ada dugaan, sistem pencernaan bayi belum sempurna
sehingga timbul gangguan pencernaan. Kolik dialami pada 3 bulan pertama
kehidupan dan biasanya terjadi sore hari menjelang malam.

Tangis kolik sangat keras disertai jeritan dan episodik: suatu saat timbul,
suatu saat hilang, tapi hanya satu atau dua menit, lalu menangis lagi.
Biasanya diikuti gerakan tangan ke arah perut, badan mengencang, dan kadang
disertai buang angin. Menggosok perutnya dengan minyak telon dapat membantu
menenangkannya.

** “Saya sakit.”*

Rasa sakit diungkapkan dengan tangis melengking, keras, diselingi rintihan
serta rengekan. Tangis bayi yang perutnya mulas, lebih melengking dan lebih
ribut. Hubungi dokter anak Anda jika ia menunjukkan gejala-gejala sakit
tertentu.

*ARTI TANGISAN BAYI 4-12 BULAN*

Mulai usia 3-4 bulan, Anda akan melihat perubahan nyata pada si kecil.
Tangisnya mulai berkurang karena ia sekarang mulai tahu apa yang ada di
sekelilingnya. Ia mau mendengarkan dan tertarik terhadap segala sesuatu di
sekelilingnya.

** “Saya lapar.”*

Rasa lapar masih nyata menyebabkan ia menangis. Ia mulai mengkonsumsi
makanan padat. Ia pun lebih aktif dibanding sebelumnya dan karenanya cepat
lelah. Bayi yang aktif, kebutuhan makannya lebih banyak. Makanan kecil dan
minuman dapat memulihkan energinya.

** “Saya tumbuh gigi.*

Biasanya bayi mulai tumbuh gigi usia 6 bulan ke atas. Biasanya tangisnya
muncul di sore hari, kuat seperti tangis sakit karena ada rasa nyeri.

** “Saya cemas.”*

Mulai usia 7 atau 8 bulan, kebanyakan bayi menangis karena cemas, terutama
saat ia “kehilangan” Anda. Baginya, Anda adalah dasar dari rasa amannya. Ia
akan tenang “menjelajahi dunia” selama Anda berada dalam pandangannya. Jika
Anda meninggalkannya atau ia tak melihat Anda, meski Anda ada di dekatnya,
ia akan menangis.

** “Saya ingin diperhatikan.”*

Lewat usia 6 bulan, ia mulai mempelajari, menangis ialah suatu alat untuk
memperoleh perhatian. Bayi usia 7 atau 8 bulan cukup menyadari, dengan
menangis, Anda akan segera berlari mendekatinya. Lebih baik Anda tak
buru-buru menggendongnya, tapi hiburlah atau ajak main.

** “Saya sakit.”*

Rasa sakit yang ia alami lebih karena benturan-benturan pada fisiknya saat
ia bergerak aktif. Meski tidak luka, tetap memungkinkan ia menangis. Mungkin
lebih karena rasa kaget. Mengalihkan perhatiannya dapat menolong ia
melupakan sakitnya dengan cepat.

**”Saya sangat lelah.”*

Lelah berlebihan ditunjukkan oleh rengekan, lekas marah, dan akhirnya
menangis. Menjelang akhir tahun pertamanya, ia mempunyai kehidupan yang
penuh dengan pengalaman baru, yang membuatnya kehabisan energi sebelum ia
kehilangan semangat. Ia butuh pertolongan Anda untuk membuatnya cukup rileks
seperti tidur.

**”Saya marah.”*

Mulai usia 9 bulan, dalam dirinya mulai berkembang konsep, “Saya ingin.” dan
kemarahan merupakan caranya untuk menunjukkan rasa frustrasinya ketika
sesuatu tak diperoleh sesuai keinginannya. Seolah ia dibuat jengkel oleh
batasan-batasan, beberapa di antaranya merupakan rintangan fisik seperti
kursi tinggi dan kursi dorong, yang terasa menghalanginya saat ia ingin
berkembang lebih leluasa.

Ia juga terhalang oleh kemampuan komunikasinya yang masih baru. Karena tak
bisa mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata, ia akan menggenggam erat
kepalan tangannya dan pipinya memerah, untuk menunjukkan pada Anda bahwa ia
tak puas dengan situasi yang ada.

*Julie Erikania.Foto:Dok.Nakita*

*
*

*Menghentikan Tangis*

Ada banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk menentramkan bayi Anda.
Pilihlah sesuai kebutuhannya.

**Gendong.*
Gendong ia dalam posisi tegak lurus dengan perut menempel di dada Anda,
tepuk-tepuk punggungnya dengan lembut. Bawa ia berjalan-jalan mengelilingi
ruangan atau ke ruangan lain. Bisa juga dengan cara meletakkannya di kereta
bayi dan dorong perlahan-lahan dengan hati-hati. Jika kondisi Anda tak
memungkinkan untuk menggendongnya sambil berjalan, letakkan ia di lengan,
sementara Anda duduk di kursi goyang. Goyangan yang lembut akan
menenangkannya.

** Usap atau tepuk-tepuk lembut.*
Beberapa bayi dapat ditenangkan hanya oleh sentuhan Anda, tanpa harus
menggendongnya. Ia bisa tenang hanya karena ditepuk-tepuk pantatnya atau
diusap-usap punggungnya, sambil Anda bersenandung lembut.

** Beri sesuatu untuk diisap*.
Hampir setiap bayi menjadi tenang dengan mengisap. Beri ia mainan khusus
untuk digigit atau bimbing ia menemukan jari-jemarinya untuk dimasukkan ke
mulutnya. Bisa juga Anda menggunakan jari kelingking Anda yang sudah
dibersihkan untuk ia isap.

** Alihkan perhatiannya.*
Anda dapat mengalihkan perhatiannya dengan memperlihatkan sesuatu yang
menarik sehingga ia lupa pada tangisnya. Gambar-gambar warna-warni atau
mainan aneka bentuk dan warna akan mempesonanya. Cermin juga bisa digunakan.
Ia akan senang melihat wajahnya sendiri.

** Tunggu amarahnya mereda.*
Anda tak selalu dapat menenangkan bayi yang frustrasi. Bahkan jika ia tak
senang duduk di kursinya, Anda tak dapat memecahkan masalah dengan
memindahkan dan mengangkatnya. Ketika tak ada hasilnya, cobalah untuk
rileks. Jangan terpaku untuk menghentikan tangisnya jika Anda menemukan tak
ada hal serius atau sesuatu yang salah. Tunggu saja sampai kemarahannya
reda. Setelah amarahnya reda, beri kata-kata yang menyejukkan dan buat ia
asyik dengan mainan penuh warna. Rangkulan dan gendongan juga bisa
menentramkannya. Kasih sayang Anda bukan hanya mengerem kemarahannya, tapi
juga akan membantu si kecil mengembangkan rasa aman dan perasaan baik.
Ketika ia besar, ia akan belajar berdasarkan ini untuk menenangkan diri
begitu ia marah, dan ia akan belajar untuk dapat mengendalikan diri atau
menjaga tetap tenang tanpa kemarahan meledak-ledak.

*Julie*

*
*

*Jika Tangisnya Tak Kunjung Berhenti*

Jika ia tak berhenti menangis, boleh jadi karena Anda sangat cemas dan
gugup. Ingatlah, ketegangan Anda akan menular padanya. Ia dapat merasakannya
dari otot-otot lengan Anda yang mengeras saat Anda menggendongnya, maupun
dari raut wajah Anda yang menunjukkan kecemasan.

Nah, ketika ia melihat sinyal-sinyal tersebut, ia tahu ada yang salah dan
ini akan membuatnya merasa lebih buruk. Tangisnya menjadi lebih keras
sebagai hasil dari kecemasan Anda. Di pihak lain, Anda pun semakin bertambah
cemas. Jadi, bersikap rileks dan lakukan cara-cara berikut:
*1.* Katakan pada diri Anda untuk percaya diri. Suatu tangisan bayi bukan
refleksi dari ketidakmampuan Anda sebagai orangtua. Cobalah untuk tak
melemahkan rasa percaya diri Anda.
*2.* Bersikap realistis. Bayi Anda akan banyak menangis pada banyak
kesempatan, tak apa-apa. Anda perlu merancang standar yang realistis untuk
diri sendiri.
*3.* Jika Anda tak tahu lagi harus bagaimana menenangkannya, tinggalkan si
kecil di boksnya. Minta suami Anda untuk mengambil alih.
*4.* Bicarakan dengan suami. Berurusan dengan tangis bayi memang bisa
menyulitkan. Katakan padanya, bagaimana cemasnya Anda. Berbagi perasaan
dengan suami akan membantu membuat diri Anda lebih tenang.
*5*. Terima pertolongan ketika ditawarkan. Sebuah pelepasan dari
“tanggungjawab” akan mengurangi kecemasan Anda. Anda akan merasa lebih enak
setelah satu atau dua jam kemudian.
*6.* Ingatlah, segalanya pasti akan menjadi mudah. Penelitian membuktikan,
tangisan bayi akan berkurang tingkatannya mulai usia 4 bulan. Nanti ia akan
lebih mudah dikendalikan.
*7.* Jika Anda mencurigai tangisan si kecil disebabkan penyakit tertentu,
segera periksakan ke dokter anak.

*Julie*

Add comment September 17, 2009

Anak Agresif, Normalkah?

source : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby

Si kecil sangat agresif. Kerap memukul atau menendang teman, teriak-teriak sampai melempar-lempar benda. Normalkah agresivitas seperti itu?

Nico melotot pada kakaknya, Deni. Serta merta tangannya terjulur dan memegang leher Deni.
“Eh, eh, eh, kenapa ini?” teriak sang ayah sembari mendekati keduanya.
“Deni nggak mau ngasih mainannya, sih! Hayo, kasihin nggak?” mata bulat Nico masih melotot.
“Ini kan punya Deni, huhuhu….”

Thomas geleng-geleng kepala. Dua jagoannya selalu saja ribut. Terutama Nico. Bisa dibilang si adik lah yang selalu tak mau kalah, tak segan-segan merebut atau memukul kakaknya. Pada teman-temannya pun demikian. Nico cenderung agresif dan menguasai. Thomas dan Nina, istrinya, sering khawatir dengan keagresifan putranya.

Bu, Pak, si kecil bertingkah agresif sebenarnya wajar-wajar saja. Banyak anak, terutama laki-laki, cenderung agresif, secara refleks memukul atau menendang temannya bila ia tak menyukai sesuatu. Atau berteriak dan melempar-lemparkan benda-benda saat ia tengah marah. Dan menurut pakar, kelakuan agresif merupakan salah satu ciri anak usia balita.

Dalam buku What to Expect the Toddler Years karya Einsenberg, Murkoff & Hathaway, dijelaskan, banyak perilaku agresif anak usia ini berhubungan dengan frustrasi. Frustrasi karena tak diperhatikan orangtua, frustrasi karena keinginannya tak dipenuhi, frustrasi karena ia tak bisa melakukan keterampilan yang seharusnya ia kuasai.

Pengaruh Internal

Ada beberapa pendapat tentang penyebab timbulnya agresivitas ini, yang semuanya bermuara pada rasa frustrasi. Namun ada satu hal yang disetujui Eisenberg dkk., bahwa sebagian besar faktor penyebab anak bersikap agresif karena pengaruh orangtua. Dr. Seto Mulyadi, psikolog dan pengamat anak juga mensinyalir demikian, perilaku agresif anak bisa diperoleh dari berbagai sumber, dan salah satunya dari orangtua.
Contoh yang mudah, si kecil sering dinakali kawannya dan hampir selalu menangis setelahnya. Adakalanya orangtua menyarankan anak, “Jangan menangis dong. Kamu harus berani. Sesekali boleh dibalas, bla-bla-bla….” Saran tersebut secara tak sadar mengarahkan anak untuk bertindak agresif.

Perilaku yang menggambarkan agresivitas juga adakalanya ditampilkan keluarga. Ayah pada ibu, ibu pada ayah, orangtua pada pembantu rumah tangga atau pada anggota keluarga lainnya. Contoh perilaku seperti itu membuat anak yang masih dalam masa imitasi (meniru) segera belajar bahwa itu adalah cara terbaik untuk mendapatkan apa yang diinginkan

Tak Dapat Ditoleransi bila…

Agresivitas di satu sisi menunjukkan bahwa si upik dan buyung kita berani, mau bertindak lebih dahulu, mau menunjukkan keinginannya, akan tetapi di sisi lain bisa dianggap over dan tak dapat ditoleransi.
Agresivitas anak harus Anda atasi segera bila ia mulai suka memukul adik, kakak, teman atau siapa saja untuk merespons ketaksukaannya; cenderung merebut benda bukan miliknya sendiri secara paksa; mau menang sendiri; tak suka jika ditegur, dengan cara marah-marah atau memukul yang menegurnya; melempar-lempar benda untuk menunjukkan kekesalannya, dsb.

Bu, Pak, seorang anak yang secara terus-menerus berkeinginan untuk menyakiti orang lain, dari segi fisik maupun emosional, perlu diajak untuk santai dan Anda pun perlu mengambil langkah-langkah tertentu:

1. Pada usia 5-6 tahun, si kecil sudah cukup umur untuk mengerti perkataan bila Anda berkata, “Jika kamu terus memukuli temanmu, tentu teman-temanmu tidak akan mau mengundangmu saat mereka membuat pesta ulang tahun.”

2. Ajarkan padanya cara yang bisa dilakukan untuk melampiaskan keagresifannya. Kegiatan menggambar atau menempel adalah hal yang paling efektif dalam meredam keagresifannya. Kegiatan lain bisa juga berupa aktivitas fisik, seperti mengajaknya joging, bermain bola, bertinju atau melompat-lompat.

3. Tak ada salahnya kok, bila si kecil marah. Jangan menjadi geram bila Anda melihat si kecil tengah marah-marah. Sebaliknya, bantulah ia melepaskan amarahnya tanpa harus menyakiti orang lain.

4. Jangan-jangan Anda terlalu keras. Disiplin yang terlalu berlebihan bisa membuat anak merasa frustrasi. Kendurkan sedikit agar si kecil merasa lebih rileks.

5. Atau, Anda kurang memperhatikannya? Mulailah sejak sekarang untuk memberi perhatian dan merespons semua perilaku positif anak.

6. Atau, Anda berdua tak konsisten dalam mendidik anak? Ayah bilang A, Ibu B, akibatnya si kecil tak punya pegangan dan mau nyelonong semaunya sendiri. Jika ya, segera komunikasikan untuk satu kata dalam menerapkan disiplin pada si kecil.

7. Perlu hukuman. Jika agresivitasnya masih tinggi, hukuman menjadi penting. Asal, Anda menerapkannya dengan konsisten dan tak membahayakan anak. b Rahmi Hastari

Sumber: Tabloid Ibu Ana

Add comment September 7, 2009

Bila Anak Syok

sumber : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby
Baru saja Anda melihat si kecil lincah bermain di lapangan. Tapi begitu perhatian Anda sebentar beralih ke buku bacaan, terdengar teriakan si kecil, ia terjatuh, dengan keadaan wajah pucat, napas terengah-engah, keringat dingin keluar, denyut nadinya cepat tapi lemah, serta mengeluh kehausan, lalu pingsan. Ini semua pertanda anak mengalami syok. Mungkin hal ini karena anak sakit dan kaget. Syok juga bisa terjadi karena pendarahan hebat disebabkan tulang rusuk atau panggul yang patah hingga terjadi perubahan mendadak di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan darah tiba-tiba turun akibat kekurangan cairan atau kerja jantungnya tergantung.

Beberapa upaya yang bisa Anda lakukan untuk menolong si kecil adalah :

* Bila akibat perdarahan, segera baringkan si kecil di atas lantai atau permukaan yang rata.

* Angkat kedua kakinya dan letakkan di atas tumpukkan bantal sampai lebih tinggi dari jantungnya.

* Lepaskan pakaiannya yang ketat, lalu miringkan kepalanya ke salah satu sisi.

* Usahakan agar tubuh si kecil tetap hangat dengan menyelimutinya. Tetapi, jaga jangan sampai ia merasa kepanasan.

* Kalau si kecil pingsan, miringkan tubuhnya agar jalan napasnya tidak tertutup lidah. Sambil menunggu dokter, periksa terus pernapasannya.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Add comment September 5, 2009

Bayi Rewel

SUMBER : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby

Bayi selalu ingin merasa nyaman. Bila tidak, ia jadi rewel bahkan mengamuk. Bagaimana supaya ia tetap nyaman dalam berbagai situasi?

Ada bayi yang memiliki pembawaan ‘rewel’. Bila situasi tidak nyaman sedikit saja, ia pasti menangis atau mengamuk. Sebaliknya, ada juga bayi yang amat sangat tenang. Biasanya, ia baru menangis bila kondisinya sudah benar-benar ‘menyakitkan’.

Menurut psikolog pendidikan anak Universitas Indonesia Dra. Ike Anggraika, M.Si., perbedaan pembawaan bayi sangat tergantung banyak hal. Mulai pengaruh yang diterima bayi saat dalam kandungan hingga trauma yang diperoleh saat lahir. Ibu hamil yang sering mendapatkan tekanan, Ike mencontohkan, kemungkinan akan melahirkan bayi yang rewel.

Bayi yang mendapat trauma lahir (misalnya menjalani proses kelahiran yang mengakibatkan luka serius), bayi yang lahir dengan kelainan (misalnya kelainan jantung atau penyakit bawaan) kemungkinan juga akan berpembawaan sedikit rewel. “Tapi tidak selalu begitu. Sebab tidak jarang bayi yang lahir normal dan sempurna pun rewel. Mungkin ini pengaruh keturunan atau sifat bawaan dari orangtuanya,” ungkap Ike.

Atasi Kerewelan dengan Benar

Tangisan atau amukan bayi rewel acap membuat kita, para orangtua, kebingungan. Apalagi bila kita sudah mencoba menangani tapi bayi tetap rewel. Bingung bercampur lelah dan khawatir, akhirnya membuat kita panik. Padahal, kepanikan hanya akan membuat bayi bertambah rewel.

Untuk itulah penanganan yang tepat diperlukan. Selama ini, menurut Ike, setiap orangtua mempunyai cara khusus untuk mengatasi kerewelan bayi mereka. Ada yang mencoba menenangkan dengan menempatkan bayi di ayunan. Ada yang menenangkan dengan memutar alunan musik merdu. Ada yang menimang-nimang sambil membawa bayi pergi dari ruangan tempat menangis sembari mencari udara yang lebih segar.

Sayangnya, lanjut Ike, tidak jarang orangtua menangani kerewelan bayi dengan cara yang kurang tepat. Maksudnya, cara-cara yang dilakukan kurang mendidik. Contohnya, ada bayi asyik menggigit-gigit ikat pinggang ayahnya. Ia menangis karena tiba-tiba ibunya melarangnya. Bayi itu terus menangis, seolah meminta ikat pinggang tersebut. Tak berhasil membujuknya, akhirnya si ibu menyerah dan memberikan lagi ikat pinggang kepada bayinya untuk digigit-gigit.

“Tindakan ibu tadi keliru. Sebab ikat pinggang bukanlah sesuatu yang aman untuk digigit bayi. Selain itu, ia tak menunjukkan konsistensi dalam sikap, padahal ia tengah mendidik bayinya. Ibu tadi juga tidak mencoba mengalihkan perhatian bayi kepada hal lain, sehingga bayi merasa direbut ‘kenyamanannya’ tanpa mendapatkan ganti yang sebanding,” terang Ike. Selain itu, cara menangani kerewelan yang tidak benar menyebabkan bayi tumbuh menjadi anak yang sulit dikendalikan.

Melakukan tindakan yang benar adalah kunci menangani kerewelan bayi. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan bila bayi Anda rewel dalam berbagai kondisi:

Ganti suasana yang lebih nyaman
Bayi bisa tertekan karena bosan dengan situasi atau posisi yang sama. Atau, ia merasa sendirian atau tidak diperhatikan. Kadang bayi juga mendapatkan salah satu bagian tubuhnya terasa sakit. Misalnya, kakinya pegal karena posisi yang salah. Atau badannya sakit karena tempat yang ditempati tidak nyaman (sempit, keras, berpermukaan kasar, dll).

Kasus yang sering terjadi adalah bayi menangis saat didudukkan di kursi makan, bahkan berontak atau menepis makanan yang disodorkan. Jika kursinya nyaman, kemungkinan hal ini disebabkan bayi merasa bosan harus duduk di kursi yang itu-itu juga. Biasanya ini terjadi pada bayi 2-4 bulan.

Untuk mengatasinya, pindahkan kursi makan ke tempat yang berbeda. Pilih tempat yang menarik atau pemandangannya lebih lega. Misalnya pekarangan rumah. Bila masih rewel, ubah lagi posisi kursi. Atau bila perlu pindahkan bayi dari kursi beberapa saat.

Perdengarkan suara-suara lembut
Puisi, lagu-lagu, atau senandung lembut yang bermakna dari mulut ayah atau ibu dapat menenangkan bayi yang rewel. Ada penelitian yang menunjukkan, suara lembut berirama yang keluar dari mulut manusia dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman. Bila mendengar suara-suara seperti itu, bayi umumnya akan lebih kooperatif.

Beri sentuhan
Sentuhan akan membuat bayi yang rewel merasa nyaman. Banyak bayi yang sedang menangis berhenti perlahan saat tangan ibu atau ayahnya menyentuh bagian tubuhnya atau menggendongnya. Cara ini rupanya membuat bayi merasa nyaman karena ia merasa orang terdekatnya selalu berada di sisinya. Jadi, ia merasa terlindungi.

Beri pijatan lembut
Pijatan lembut adalah salah satu bentuk sentuhan. Tapi dengan pijatan, bayi akan merasa hangat karena aliran darahnya lebih lancar. Cara ini bisa digunakan untuk mengatasi bayi yang menangis setiap kali dimasukkan ke dalam bak mandi. Selain merasa nyaman, pijatan membuat bayi rileks, tidak takut atau stres.

Jagalah Emosi Anda

Faktor lain yang menentukan keberhasilan Anda menenangkan bayi rewel adalah sikap yang tepat. Yaitu:

Tetap tenang. Rasa khawatir atau lelah menangani bayi rewel kerap membuat kita panik. Namun sebaiknya Anda tetap tenang, karena sikap panik hanya akan membuat bayi bertambah rewel dan stres.

Pilih penanganan yang tepat. Anda-lah yang lebih mengenal bayi Anda, sehingga Anda pula yang lebih mengetahui penanganan yang paling tepat untuk menanganinya saat rewel.

Konsisten. Sejak nol tahun, bayi harus mendapat pola asuh yang konsisten. Artinya, dalam keadaan rewel sekalipun kita tidak boleh memberi kelonggaran. Cari solusi yang tidak menciptakan masalah baru.

Jaga emosi. Tidak perlu menunggu sampai merasa marah jika bayi menangis terus. Ketika kekesalan sudah muncul, mintalah suami atau anggota keluarga lain menangani bayi. Meninggalkan bayi rewel sejenak biasanya efektif untuk memperbaiki suasana hati. b Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Add comment September 5, 2009

Arti Tangisan Bayi 0 -3 Bulan

Sumber : http://mommygadget.com

Pada umumnya, para ibu mengartikan tangis bayi sebagai tanda lapar. Ingatlah, menangis tak selalu berarti lapar. Arti tangis berbeda-beda, masing-masing merupakan tanda komunikasi yang jelas sebagai ungkapan pesan kepada Anda tentang apa yang ia butuhkan. Gerakan tubuh yang menyertai tangis dapat membantu Anda lebih memahaminya. Makin keras dan makin lama tangis, makin kuat kebutuhannya.
“Saya lapar” Tangis lapar biasanya berpola. Ia menangis, lalu stop untuk bernafas, menangis lagi, lalu stop untuk bernafas. Biasanya diselingi gerakan mengisap. Jika sangat lapar, tangisnya lebih keras dan terus-menerus.
Jika ia masih menangis saat disusui ASI, coba lihat hidungnya. Ada kemungkinan bibir atasnya menutupi hidung dan ia sulit bernafas, sehingga menangis.
“Saya bosan” Tangis bosan biasanya pendek, diikuti keheningan, lalu tangis pendek lagi. Tangisnya akan berlanjut jika Anda tak segera mendekatinya dan mengajaknya bermain.
“Saya lelah” Tangis lelah berupa rengekan. Ia mungkin akan menggosok-gosok wajahnya dan memutar kepalanya dari satu sisi ke sisi lain. Sebuah usapan atau gerakan berirama cukup menenangkan ia dan bisa membuatnya tidur.
“Saya kesepian” Beberapa bayi butuh perhatian lebih dibanding bayi lainnya dan mulai merasa kesepian ketika ia ditinggalkan sendiri untuk waktu lama. Tangis kesepian berupa rengekan setiap menit dan kadang diikuti airmata. Emongan yang lama membuatnya senang.
“Saya tak nyaman” Biasanya suara tangis melengking dan jelas, nafas agak tersendat, tapi lalu nafasnya menjadi cepat diikuti tangis lain. Mungkin lengannya terjepit, pantatnya kotor, tertusuk peniti, atau mungkin ia kedinginan/kepanasan.
“Saya kolik”
Bayi sering menangis karena kolik atau kejang/kram usus. Hingga kini belum diketahui penyebab kolik. Ada dugaan, sistem pencernaan bayi belum sempurna sehingga timbul gangguan pencernaan. Kolik dialami pada 3 bulan pertama kehidupan dan biasanya terjadi sore hari menjelang malam.
Tangis kolik sangat keras disertai jeritan dan episodik: suatu saat timbul, suatu saat hilang, tapi hanya satu atau dua menit, lalu menangis lagi. Biasanya diikuti gerakan tangan ke arah perut, badan mengencang, dan kadang disertai buang angin. Menggosok perutnya dengan minyak telon dapat membantu menenangkannya.
“Saya sakit” Rasa sakit diungkapkan dengan tangis melengking, keras, diselingi rintihan serta rengekan. Tangis bayi yang perutnya mulas, lebih melengking dan lebih ribut. Hubungi dokter anak Anda jika ia menunjukkan gejala-gejala sakit tertentu.
Sumber: Julie Erikania

Add comment Agustus 8, 2009

Suka Mengompol

sumber : sehatgroup.web.id

24/09/2004
Q : Anak saya berumur 1 tahun. Lahir BBLR yaitu 1,8 kg dan panjang 49 cm. Sekarang 8,4 kg. Pada usia 4 bulan, ketauan bahwa dia alergi susu sapi.Badannya timbul bintik-bintik merah. Sehingga dia diberi susu kedelai untuk campuran bubur susunya. Sedangkan ASI sampai 10 bulan. Yang ingin saya tanyakan, selain bahan yang mengandung susu sapi, makanan lain apakah yang harus dihindari? Misalnya telur, dan apa lagi? Di usia berapakah perlu dicoba makanan tersebut,
Andrew

A : Dear AndrewMasih mungkin anakmu normal meski tak ada salahnya kamu singkirkan kemungkinan infeksi saluran kemih – caranya? periksakan urinnya di lab, urin rutin dan urin k ultur. Pakai tempat urin yang steril (minta dari lab) dan kirim ke lab dalam waktu kurang dari 1 jam. Sementara menunggu hasilnya, biasakan anak untuk pipis sebelum tidur dan jangan berikan minum terlalu banyak sejam sebelum dia tidur. tengah malam, pasang alarm, bangunkan dan bawa anak ke kamar mandi Pagi dan siang hari, secara berkala ajak anak duduk di pipot cantiknya, jangan tunggu sampai dia kebelet Sukses ya

wati

Add comment April 3, 2009

RESEP KOMUNIKASI EFEKTIF

sumber : NAKITA

Agar komunikasi orang tua nyambung dengan anak, perhatikan kepribadian dan kematangan berpikirnya.
Komunikasi yang efektif penting dalam kehidupan berkeluarga. Tampaknya semua orang sudah tahu itu. Masalahnya, tidak semua orang memahami bagaimana resep berkomunikasi yang efektif antara ayah dan ibu serta orang tua dan anak. Menurut Roslina Verauli, M.Psi., psikolog dari Empati Development Centre, Jakarta, komunikasi efektif berkaitan erat dengan pola asuh orang tua. Ia kemudian “meminjam” enam tipe komunikasi yang dikemukakan F. Philip Rice yang dikaitkan dengan pola asuh,
yaitu:
1. Tipe terbuka
Tipe ini paling sehat. Antara anak dan orang tua terjalin komunikasi saling terbuka. Orang tua mau mendengarkan anak dan anak secara leluasa dapat bercerita, mengeskpresikan perasaan dan pikirannya serta berdiskusi dengan orang tua. Tipe komunikasi ini ada pada pola asuh demokratis atau authoritative. Umpamanya, saat kedua orang tua sedang berbicara, mereka membolehkan anak menanggapi dan menghargai pendapatnya, “Oh, kalau menurut pendapat Adek seperti itu, ya?”
(lagi…)

Add comment November 22, 2008

Berkomunikasi dengan Anak, Sulitkah?

Sumber : Kompas l Minggu, 2 Maret 2008 | 17:55 WIB

Oleh : Sawitri Supardi Sadarjoen

KEBANYAKAN orangtua berpendapat, kalau anaknya pendiam atau sibuk bermain sendiri, berarti anaknya manis, penurut, mandiri, dan tidak perlu mendapat perhatian khusus.

Sementara kebanyakan orangtua yang disibukkan oleh anak yang sangat rewel, sering memberi sebutan anak itu nakal, banyak maunya, dan tidak menurut.

Terhadap anak yang pendiam, mandiri, dan selalu menyiapkan keperluan sekolah sendiri, orangtua merasa segala hal sudah tercukupkan karena anak tersebut memang pada dasarnya anak manis yang penurut dan tahu akan kewajibannya.

Namun, dapat terjadi orangtua dikejutkan perilaku anak yang semula manis, penurut, dan tahu kewajiban tersebut tiba-tiba mogok sekolah, tidak kooperatif, serta menunjukkan sikap melawan orangtua. Apa pun yang disarankan orangtua seolah mental dan tidak berpengaruh. Anak jadi mengurung diri dan baru keluar kamar bila lapar atau perlu ke kamar mandi.

Orangtua menjadi bingung. Anak dimarahi dan dibentak dengan ungkapan, “Ngomong dong, ada apa, kenapa enggak mau sekolah!” Bahkan dipukul sekalipun anak bergeming, malahan bisa mengatakan, “Bunuh saja saya sekalian.” Walaupun, setelah beberapa saat anak akhirnya mau membuka mulut, menceritakan sepintas kenapa dia mogok sekolah.
(lagi…)

Add comment November 22, 2008

Ketika Si Kecil Berperilaku Buruk

Sumber: Nova

Namanya saja anak-anak, pasti ada saat-saat di mana mereka berkelakuan buruk. Tidak displin, ngambek, memukul, marah, dan sebagainya. Dalam menghadapinya, yang penting, bagaimana orangtua harus menyikapimya agar perilaku tak terpuji anak tak menjadi kebiasaan buruk di masa depan.

ANAK BALITA:
Usia 6 – 18 bulan:
Ketika sedang bermain, tiba-tiba si kecil menggigit tangan Anda. Apa yang harus dilakukan?

Jangan Lakukan:
Jangan menggigitnya kembali. Banyak orang tua merasa, cara ini dapat memberi pelajaran bagi anak untuk tidak menggigit lagi di lain waktu. Maksudnya, biar anak kapok. Masalahnya, bayi yang masih kecil tidak mengerti, gigitan mereka menimbulkan rasa sakit atau sebaliknya. Hasilnya Anda berdua merasa sakit dan menderita.

Sebaiknya:
1. Dorong bayi dengan hati-hati dan katakan, “Sayang, jangan gigit, ya. Kalau kamu menggigit Mama, Mama kesakitan.”
2. Perlihatkan perilaku alternatif seperti memeluk.
3. Berikan sesuatu yang lembut untuk digigit bila bayi sedang dalam tahapan tumbuh gigi.

Usia 2 – 3 tahun:
Menendang dan berteriak, lalu si kecil yang sedang marah melemparkan mainan ke lantai toko karena Anda tidak mau membelikan mainan yang diinginkannya.
(lagi…)

Add comment November 20, 2008

Berapa Lama Si Kecil Membutuhkan Waktu Tidur?

sumber : fitrianisigitbudiarto.blogspot.com/2008/04/berapa-lama-si-kecil-membutuhkan-waktu.html

Ini adalah hal yang sering dipertanyakan oleh para orang tua baru. Berikut ini adalah pedoman umum tentang rata-rata waktu tidur yang dibutuhkan bayi, disesuaikan dengan perkembangan usia. Tentu saja setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda – karena selalu saja ada anak yang membutuhkan waktu tidur lebih banyak beberapa jam dibandingkan anak lain, atau justru kurang beberapa jam.

Usia

Waktu Tidur Malam

Waktu Tidur Siang *

Total Waktu Tidur

1 bulan

8 ½

7 (3)

15 1/2
3 bulan 10 5 (3) 15
6 bulan 11 3 1/4 (2) 14 1/4
9 bulan 11 3 (2) 14
12 bulan 11 ¼ 2 1/2 (2) 13 3/4

* beberapa kali tidur

Hal yang penting diingat oleh orang tua, bahwa kebanyakan anak justru membutuhkan tidur lebih lama dibandingkan rata-rata. Seringkali, jika seorang anak memiliki kebiasaan tidur yang buruk atau menolak tidur setelah jam 11 malam, maka orang tua biasanya akan berpikir bahwa anaknya sekadar tidak ingin tidur. Hal ini tidak benar – pada kenyataannya, anak seperti ini mengalami gangguan tidur. Agar dapat mengukur sewajar apa pola tidur anak Anda, cobalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
(lagi…)

2 comments Oktober 15, 2008

Q & A Adik kakak

sumber : www.sehatgroup.web.id

14/06/2005
Q : Saya seorang ibu rumah tangga punya anak 2 laki laki.yang pertama : 8 thn t/b 136/22yang kedua : 6 thn t/b 134/26
Masalahnya sewaktu umur anak kedua saya baru lahir sampai umur 5 thn selalu digangguin ma dibrantemin sama kakaknya terus sehingga jadi terjadi perkelahian dan adiknya kalah.Tetapi setelah anak kedua sayamenginjak umur 6 thn justru dia yang sering jahillin ma gangguin kakaknya.Aapa mungkin ada faktor balas dendam soalnya anak kedua saya badannya jauh lbh berisi drpd kakaknya sekarang?
Dan dia berani nantangin kakaknya untuk main smakdown gitu dan berantem. Anehnya justru sekarang kakaknya kaya yg manja sama saya setelah badan adiknya lbh besar. Sebentar bentar dia berteriak manggil saya kalo lagi ribut ribut sama adeknya. Dan sering juga keduaanak saya berantemnya diluar rumah pas lagi barengan maen sama teman tetangganya. Darisana anak pertama saya kayak yang malu kalau ketemu ama teman-temen tetangganya soalnya kalo berantem di luar tuh sama adiknya, anak pertama saya yang dikejar-kejar sama dipukulin olehadiknya dan biasanya langsung nangis smabil manggil manggil saya.
Pertanyaan :Mengapa anak pertama saya jadi berubah cengeng dan takut sama adiknyadan kenapa anak pertama saya seperti yang gak ada tenaganya gitu buat ngelawan. Apa normal bila anak pertama saya seperti yang ketakutan dan kalah berantemnya oleh adiknya sendiri yang kalo diliat fisiknya masih lebih tinggian dia?
Dan apakah tidak apa-apa bila saya meninggalkan mereka cuman berduaan di rumah soalnya saya pergi kerja, tidak berbahaya bagi anak pertama saya, soalnya anak kedua saya berantemnya suka kasar main pukul badan,tarik rambut,tampar.
Semoga pertanyaan saya dijawab secepatnya
TerimakasihSandra

A : pukul-memukul inilah yang dia tiru sekarang. Kalau dibiarkan mungkin acara pukul-pukulannya tidak akan selesai. Ayo kita sama-sama mulai menghentikan kekerasan dari rumah kita sendiri, dari usia sedini mungkin.
Sebenarnya untuk saya wajar saja bila si sulung takut. Mungkin memang si adik memukulnya sakit. Mungkin juga dia sedang belajar bahwa memukul itu tidak baik sehingga dia tidak bisa melawan saat adiknya memukulinya. Rasanya wajar saja kalau dia minta tolong dan minta perlindungan dari kamu ya, San..
Mungkin Sandra bisa bicara dengan jagoan-jagoan kecilmu. Anakmu sudah besar-besar, lho.. sudah bisa diberikan penjelasan, sudah bisa diajarkan disiplin, sudah mengerti saat diberi hukuman bila melanggar aturan (misalnya membantu mengerjakan pekerjaan rumah tapi jangan dipukul, dicubit, atau disentil berikan hukuman yang sifatnya positif,jangan justru membuat anak dendam).
Sandra juga harus menyetop sumber kekerasan. Perhatikan acara TV yang mereka tonton, perhatikan teman-teman anakmu, perhatikan sekolah dan lingkungan bermainnya, perhatikan gerak-gerik kamu dan suamimu di rumah. Jangan biarkan anakmu mencontoh kekerasan lingkungan sekitarnya. Sandra tidak mau kan kalau acara main pukul anakmu keterusan sampai besar nanti. Jangan biarkan acara bermain anakmu melibatkan pukul-memukul. Toh masih banyak acara main lain yang damai.
Bicarakan pada kedua anakmu bila tiba-tiba anakmu berantem. Tanyakan penyebabnya, berikan penjelasan dan alasan apa yang tidak boleh dan apa yang boleh. Jangan memberi kesan berpihak pada salah satu anak karena akan menimbulkan perasaan dendam atau tidak adil pada anak yang lainnya. Coba berikan hukuman kepada siapa yang salah tapi jangan lupa diberikan penjelasan kenapa anak dihukum, sebelumnya buat perjanjian dulu dengan anak hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan serta hukuman apa yang diterima kalau anak melanggar. Dan kalau perlu hukuman diberlakukan ke keduanya … coba deh Sandra browse perihal sibling rivalry
Akhirnya… luangkan lebih banyak waktu dengan anakmu … sulit memang tetapi bisa.
Nah kadang kalian kumpul semuanya. Kadang kamu pergi dengan si kakak saja … lain kalinya dengan si adik saja (saya suka mengumpamakannya sebagai upaya selingkuh hehehe) dimana masing-masing si adik maupun si kakak merasa paling istimewa
Semoga jawaban saya bisa membantu.
Salam sayang saya untuk kedua jagoan kecilmu
Wati

Add comment Oktober 14, 2008

Previous Posts


Dapurku..

Jurnalku

Blog Aku Yang Lain

Fave Link

Pembaca Terhormat Saya Bukan Dokter

Artikel-artikel ini hanya untuk keperluan saya pribadi dari hasil browsing sana dan sini dan untuk referensi saya sendiri dalam mengasuh anak saya. jangan dijadikan patokan yaaaa

Quote Of The Day

Ayo tanam pohon, 1 orang 1 pohon.. yang sudah tanam pohon lapor yaaaa...

Anda Pengunjung Ke :

Page Rank

Tulisan Teratas

Kalendar

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Kategori Awan

ANTIBIOTIK ASI BATUK PILEK BB TB dan GC DEMAM GIGI ANAK HEADLINE NEWS IMUNISASI KEHAMILAN KESEHATAN KESEHATAN ANAK MAINAN ANAK MPASI NEW BORN PARENTING PENDIDIKAN ANAK PERILAKU BAYI DAN ANAK POLA ASUH POLA MAKAN PROBLEM MAKAN PSIKOLOGI BAYI DAN ANAK RESEP STIMULASI BAYI SUSU SAPI TAHAPAN BICARA TAHAPAN PERKEMBANGAN TATA LAKSANA PENYAKIT TEMPER TANTRUM TUMBUH KEMBANG Uncategorized

Kategori

Arsip

Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

mira di Minum Susu Justru Sebabkan…
PEPPY di Variasi Menu 1 Tahun Ke A…
redy di Hernia pada balita
adi di Cara Memperbanyak ASI
dewhie di Tanda Dan gejala awal keh…

Klik tertinggi

Top Rated

Facebook ku…

YMku Online Ga Ya?

My Son Birthday

Lilypie

My Honey

Image019

Image017

Image016

Image015

Image013z

Image013

Image012z

More Photos

Isi Buku Tamu ya..