Mainan Edukatif

PILIH MAINAN EDUKATIF AGAR SI KECIL TEKUN

Disebut mainan edukatif karena dapat merangsang daya pikir anak. Termasuk di antaranya meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dan memecahkan masalah. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana membedakan mainan jenis ini dari mainan lainnya? Simaklah jawaban-jawaban tentang mainan edukatif yang disampaikan Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., psikolog perkembangan dari Fakultas Psikologi UI, yang juga terapis bermain.

APA YANG MASUK KATEGORI MAINAN EDUKATIF?

* Diperuntukkan bagi anak balita

Yakni mainan yang memang sengaja dibuat untuk merangsang berbagai kemampuan dasar pada balita.

* Multifungsi

Dari satu mainan bisa didapat berbagai variasi mainan sehingga stimulasi yang didapat anak juga lebih beragam.

* Melatih problem solving

Dalam memainkannya anak diminta untuk melakukan problem solving. Dalam permainan pasel misalnya, anak diminta untuk menyusun potongan-potongannya menjadi utuh.

* Melatih konsep-konsep dasar

Lewat permainan ini, anak dilatih untuk mengembangkan kemampuan dasarnya seperti mengenal bentuk, warna, besaran, juga melatih motorik halus.

* Melatih ketelitian dan ketekunan

Dengan mainan edukatif, anak tak hanya sekadar menikmati tetapi juga dituntut untuk teliti dan tekun ketika mengerjakannya.

* Merangsang kreativitas

Permainan ini mengajak anak untuk selalu kreatif lewat berbagai variasi mainan yang dilakukan. Bila sejak kecil anak terbiasa untuk menghasilkan karya, lewat permainan rancang bangun misalnya, kelak dia akan lebih berinovasi untuk menciptakan suatu karya, tidak hanya mengekor saja.

APA SAJA MANFAATNYA?

* Melatih kemampuan motorik

Stimulasi untuk motorik halus diperoleh saat anak menjumput mainannya, meraba, memegang dengan kelima jarinya, dan sebagainya. Sedangkan rangsangan motorik kasar didapat anak saat menggerak-gerakkan mainannya, melempar, mengangkat, dan sebagainya.

* Melatih konsentrasi

Mainan edukatif dirancang untuk menggali kemampuan anak, termasuk kemampuannya dalam berkonsentrasi. Saat menyusun pasel, katakanlah, anak dituntut untuk fokus pada gambar atau bentuk yang ada di depannya — ia tidak berlari-larian atau melakukan aktivitas fisik lain sehingga konsentrasinya bisa lebih tergali. Tanpa konsentrasi, bisa jadi hasilnya tidak memuaskan.

* Mengenalkan konsep sebab akibat

Contohnya, dengan memasukkan benda kecil ke dalam benda yang besar anak akan memahami bahwa benda yang lebih kecil bisa dimuat dalam benda yang lebih besar. Sedangkan benda yang lebih besar tidak bisa masuk ke dalam benda yang lebih kecil. Ini adalah pemahaman konsep sebab akibat yang sangat mendasar.

* Melatih bahasa dan wawasan

Permainan edukatif sangat baik bila dibarengi dengan penuturan cerita. Hal ini akan memberikan manfaat tambahan buat anak, yakni meningkatkan kemampuan berbahasa juga keluasan wawasannya.

* Mengenalkan warna dan bentuk

Dari mainan edukatif, anak dapat mengenal ragam/variasi bentuk dan warna. Ada benda berbentuk kotak, segiempat, bulat dengan berbagai warna; biru, merah, hijau, dan lainnya.

KAPAN ANAK DIAJAK MELAKUKAN PERMAINAN EDUKATIF?

Meski memiliki manfaat melimpah, bukan berarti anak bisa dijejali dengan mainan edukatif terus-menerus. Mainan edukatif hanya salah satu faktor pendukung perkembangan otak anak agar lebih maksimal. Jadi tak perlu memaksa atau memorsir anak untuk melakukan permainan edukatif setiap saat.

Selain mainan edukatif, anak juga perlu dikenalkan dengan mainan pada umumnya, seperti boneka, mobil-mobilan, dan mainan-mainan yang tidak untuk dibongkar pasang lainnya. Walau tidak termasuk mainan edukatif, tapi mainan-mainan seperti itu tetap dapat menyumbangkan manfaat edukasi pada si kecil. Dengan konsep multiple intelligence edukasi bisa mencakup berbagai hal. Tidak selalu mengarah pada konsep-konsep dasar.

Misalnya begini, saat si kecil asyik bermain boneka, sebenarnya ia dilatih untuk melakukan interaksi dengan orang lain melalui boneka tersebut. Bagaimana dia harus “memperlakukan” si boneka dengan kasih sayang; disuapi, ditimang, disusui, dan tidak dibanting atau dinjak-injak. Motorik halus dan kasar si kecil juga tetap dapat terstimulasi secara tak langsung saat ia memakaikan baju pada bonekanya. Anak juga dapat mengenal warna serta peran sosial sebagai ibu, kakak, dan sebagainya.

KAPAN MAINAN EDUKATIF MULAI DIKENALKAN?

Tentu sedini mungkin. Sejak usia batita, sodori anak dengan berbagai jenis permainan baik dengan mainan edukatif ataupun bukan. Sekadar mengingatkan saja, perkembangan otak anak di usia ini masuk dalam fase emas (the golden age) atau otak si kecil sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Karena itulah, stimulasi amat diperlukan. Semakin banyak stimulasi maka koneksi antarsarafnya semakin banyak terhubung.

Anak yang sudah akrab dengan mainan edukatif sejak dini, perkembangan kecerdasannya akan terlihat lebih maksimal. Ia lebih mampu berkonsentrasi, kreatif, serta tekun. Sementara yang tidak, biasanya akan lebih tertinggal dalam masalah intelektual. Anak-anak yang tidak diperkenalkan dengan mainan edukatif akan lebih sulit untuk belajar mengenai bentuk dan warna.

Mereka juga tidak terbiasa untuk duduk tenang serta tekun. Hal ini dapat membuat anak menjadi sulit diarahkan untuk berkonsentrasi menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan nantinya. “Banyak kasus yang saya tangani, anak-anak yang sering bermain fisik dan terlalu sering menonton teve, di usia sekolahnya kurang bisa berkonsentrasi, kurang telaten, tidak tekun, dan mudah menyerah, karena mereka tidak terbiasa untuk duduk tenang dan tekun.”

BAGAIMANA MENGOPTIMALKAN MANFAATNYA?

Sebelum menyodorkan satu mainan edukatif pada si kecil, contohkan dahulu bagaimana cara memainkannya. Asal tahu saja, mainan edukatif berbeda dari mainan pada umumnya yang lebih mudah dipahami anak. Mobil-mobilan, contohnya, hanya tinggal digeser-geser, didorong atau ditarik, mungkin si kecil sudah bisa asyik memainkannya. Namun, pada mainan edukatif dibutuhkan cara tertentu untuk bisa mendapatkan asyiknya. Pasel misalnya harus disusun dan disesuaikan keping-kepingnya. Untuk itulah perlu ada arahan dari orang dewasa. Demikian pula dengan permainan palu yang kelihatannya simpel bagi orang dewasa tapi belum tentu bagi si kecil. Perlu penjelasan lebih dulu mengenai cara memalu untuk memasang “paku” dan mencopotnya kembali.

Beberapa anak mungkin saja dapat bermain tanpa perlu pengarahan terlebih dulu. Tapi jangan lupa, kemampuan setiap anak berbeda-beda. Ada yang cepat memahami kesalahannya dan cepat menganalisa, tetapi ada juga yang biasa-bisa saja, bahkan lambat. Bila si kecil termasuk lambat dan tidak mendapat pengarahan, maka bisa-bisa mainan edukatif tersebut hanya akan dibuangnya karena dianggap tidak menarik.

Satu hal penting, saat mengarahkan anak, jangan mengharuskan ia melakukan persis sama seperti yang sudah kita contohkan. Berikan kebebasan padanya untuk melakukan sesuai dengan keinginannya. Contoh, saat kita membangun rumah-rumahan dari mainan balok, biarkan ia membuat mobil-mobilan dari mainan yang sama.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 1 TAHUN:

· Permainan memasukkan benda ke dalam wadah atau menumpuk benda (seperti gelas plastik air mineral), sangat cocok bagi anak satu tahunan.

· Setelah itu si kecil bisa ditawari mainan single puzzle, yaitu mainan yang pada penutupnya diberi lubang-lubang berbentuk geometris, seperti segitiga, segiempat dan lingkaran. Lalu si kecil diminta memasukkan benda-benda yang sesuai pada lubangnya. Namun, kita belum bisa menuntutnya untuk memasukkan setiap bentuk sampai selesai, melainkan harus satu per satu. Berikan ia bentuk segitiga dulu lalu arahkan tangannya untuk memasukkan ke lubang yang berbentuk sama dengan arah yang tepat, misalnya.

Ajak si kecil untuk melakukan tuang-menuang air dari wadah yang lebih kecil ke wadah yang lebih besar. Dengan begitu anak tahu bahwa air dari wadah yang lebih kecil bisa tertampung dalam wadah yang lebih besar. Permainan serupa dengan menunjukkan bahwa benda yang lebih kecil bisa masuk ke dalam wadah yang lebih besar juga bisa dilakukan.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 2 TAHUN:

Pasel berbentuk rumah-rumahan, buah atau binatang dengan 2-3 pecahan. Untuk menyusun pasel tersebut tentu dibutuhkan keterampilan sehingga anak akan dirangsang untuk mengembangkan kemampuannya.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 2,5-3 TAHUN:

· Bila sebelumnya pasel yang diberikan hanya terdiri atas beberapa keping saja, kini tingkatkan dengan pasel yang memiliki lebih banyak keping.

· Permainan rancang bangun juga sudah bisa diberikan untuk merangsang koordinasi motoriknya. Anak sudah bisa membuat susunan bangunan ke atas sambil mengimajinasikan bentuk apa yang sedang dibuatnya meskipun masih belum terbentuk jelas. Ketika anak mampu bermain rancang bangun, pujilah apa yang sudah dihasilkannya. Meskipun bentuknya hanya berupa susunan balok yang tidak beraturan, kita tetap harus memberikan apresiasi agar anak merasa dihargai. Hindari sikap mencemooh yang akan memerosotkan motivasinya dalam berkreasi.

APA YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT MEMBELI?

Membeli mainan edukatif memang perlu selektif. Kita harus menyesuaikan dengan usia anak dan kemampuan yang dimilikinya. Berikut panduannya:

MAINAN ANAK 1 TAHUN:

Di usia batita awal anak belum memiliki kemampuan motorik yang baik. Jadi kemampuan dasar inilah yang perlu dilatih. Namun permainan untuknya haruslah sederhana dan tidak terlalu menyita waktu. Selalu dampingi si kecil saat bermain.

MAINAN ANAK 2 TAHUN:

Derajat kesulitan mainan edukatif untuk anak usia dua tahun sudah harus lebih tinggi ketimbang anak satu tahun. Bila sebelumnya yang diberikan adalah single puzzle, maka di usia ini anak bisa diajak bermain pasel dengan bentuk yang lebih kompleks.

MAINAN ANAK 2,5 ­ 3 TAHUN:

Permainan edukatif yang kita berikan harus lebih tinggi lagi tingkat kerumitannya. Di usia ini anak perlu belajar mengorganisasi bagian-bagian yang terpisah menjadi satu kembali, anak juga dituntut untuk mulai belajar tekun menggunakan berbagai kemampuannya untuk menyelesaikan masalah.

APAKAH HARGA MAINAN EDUKATIF PASTI TERJANGKAU?

Tentu saja. Mainan edukatif tak mesti didapat dengan harga selangit. Kita bisa memanfaatkan benda-benda yang ada di sekeliling rumah sebagai sarana permainan edukatif. Misalnya, gelas plastik bisa digunakan si kecil untuk ditumpuk-tumpuk. Ini merupakan permainan yang mengasyikkan baginya. Gelas-gelas plastik tersebut juga bisa dimasukkan ke dalam wadah yang lebih besar, seperti dus bekas. Aktivitas mandi juga bisa dimanfaatkan sebagai permainan edukatif. Biarkan si kecil memasukkan air ke dalam ember dengan menggunakan ciduk. Semua itu akan melatih berbagai kemampuan dasar anak.

Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

Permainan Ayah dan Anak

Permainan Ayah dan Anak yang Melatih Motorik

Sejumlah permainan tertentu lebih sering dilakukan bersama ayah. Permainan tersebut juga bisa jadi sarana untuk melatih motorik anak. Antara lain:

  1. Main Bola
    Tujuan : Melatih gerak motorik kasar dan halus.
    Cara : Untuk motorik kasarnya, dorong si kecil menendang bola, berlari mengejar bola dan melompat. Untuk motorik halus, ajak anak menangkap dan melempar bola. Ukuran bola dapat disesuaikan dengan usianya, misalnya, bola kecil untuk anak usia 6 bulan – 5 tahun.
  2. Main pesawat-pesawatan
    Tujuan : Melatih indra perabaan bayi, kekuatan tubuh bagian atas dan kepercayaan diri.
    Cara : Peluk anak di bagian dada dan pinggangnya dalam posisi tengkurap, dengan salah satu tangan Anda. Gunakan tangan yang lain untuk menyangga tubuhnya. Jaga agar badannya dekat dengan badan Anda. Ayun secara perlahan dengan gerakan maju mundur. Sambil mengayun, tirukan bunyi pesawat yang sedang mengudara. Dijamin si kecil akan tertawa senang! Bisa dilakukan dengan anak di atas 1 tahun.
  3. Main ayun mengayun
    Tujuan : Membuat anak gembira, merangsang keseimbangan, dan pendengaran.
    Cara : Peganglah bayi di kedua ketiaknya, sehingga tangan bayi bebas bergerak. Ayun-ayun pelan melayang rendah ke kanan ke kiri sambil bernyanyi-nyanyi. Si kecil pasti tertawa-tawa senang. Nah, sekali waktu anak lebih tinggi sedikit lalu ke bawah, ini dapat mengejutkan anak sekaligus lebih menggembirakannya. Lakukan hati-hati, jangan terlalu mengejutkan atau terlalu sering memberi kejutan.
    Dilakukan dengan anak usia 6 bulan – 2 tahun
  4. Main Musik
    Tujuan : Melatih motorik halus, pendengaran (mengenal bunyi) dan kemampuan musikal.
    Cara : Ambil sebuah alat musik khusus anak, misalnya piano mainan, belira atau drum mainan. Dorong anak untuk memencet tuts piano, memegang tongkat belira atau tongkat drum. Biarkan ia menemukan ‘nada’ sendiri. Bila ia mulai bosan, Anda dapat memainkan lagu sederhana dari alat musik tersebut, misalnya lagu ‘Lihat Kebunku’, atau ‘Pelangi’. Setelah ia tertarik, tunjukan padanya cara memainkan alat itu dengan benar.
    Bisa dilakukan dengan anak 6 bulan – 5 tahun lebih
  5. Mainan Stimulasi
    Tujuan: Merangsang kepekaan indera, dan melatih anak mengenali perbedaan bentuk, warna, dan bunyi
    Permainan ini melibatkan benda-benda mainan. Di antaranya mainan yang bertombol atau tidak tapi bisa mengeluarkan bunyi. Mainan warna-warni, atau berlobang-lobang untuk tempat keluar masuk benda, atau mainan berbagai bentuk.
  6. Main tanpa Alat
    Main tanpa alat seperti bermain pendekar-pendekaran, bergulat, lomba lari, bisa dilakukan dengan balita. Permainan ini juga meningkatkan koordinasi motorik, keseimbangan, dan fungsi otak.

Bersama Ayah Tingkatkan Fungsi Otak
Banyak kegiatan yang bisa dilakukan ayah untuk meningkatkan fungsi otak si kecil. Di antaranya:

* Membaca bersama
Ayah biasanya suka membaca koran. Libatkan anak saat membaca. Jelaskan gambar-gamabar di koran, baca headline atau berita-berita yang bisa di mengerti anak, dsb., akan merangsang daya pikir anak untuk lebih kritis.

* Melibatkan Anak dalam Kegiatan Ayah
Ayah mungkin senang mengotak-atik mesin mobil, memperbaiki benda-benda yang rusak, atau sekadar mencuci mobil. Melibatkan anak dalam kegiatan tersebut mendekatkan anak-ayah secara emosional. Meski kegiatan tersebut khas ayah, namun Anda juga bisa mengajak si upik.

* Jalan-jalan di Hari Cerah
Manfaatkan hari libur untuk berjalan-jalan pagi. Banyak hal yang bisa ditemui anak dan merangsang rasa ingin tahunya. Misal, bagaimana burung bernyanyi di pagi hari. Bagaimana bunga bermekaran dan harum baunya. Mengapa banyak orang berolahraga di hari Minggu, dsb.

* Sesekali, Ajaklah Melihat Pekerjaan Ayah
Anak selalu tahu kapan ayah pergi untuk bekerja, kapan pulang, dan apa pekerjaannya. Tapi tahu persiskah anak apa yang dilakukan ayah saat bekerja? Mengajak dan memperlihatkan pekerjaan pada anak memperkaya daya pikirnya seperti, mengetahui mengapa ayahnya bekerja, untuk apa, dan bagaimana ia bekerja.

Bagaimana Sih Caranya?
Sebagai ayah, tentu saja Anda ingin melakukan segalanya untuk mengasuh si kecil. Tetapi saat si kecil masih tergantung dengan ibunya, tentu saja Anda bingung untuk memulainya darimana. Tetapi, jangan khawatir, dengan tekad dan rasa cinta yang dalam, Anda pasti bisa melakukannya. Tips dibawah ini dapat Anda jadikan tolak ukur untuk memulainya:

  1. Cari pengetahuan sebanyak-banyaknya. Sesekali membaca buku panduan pengasuhan anak, buku tentang psikologi anak atau buku-buku yang berisikan informasi tentang tumbuh kembang si kecil adalah langkah pertama yang harus dilakukan. Bahkan, sesekali mengikuti seminar atau kelas tentang bagaimana cara mengasuh bayi bukanlah hal yang tabu dilakukan.
  2. Temani istri Anda saat ia mengikuti kelas senam hamil atau pelatihan di klinik laktasi. Hal ini membuat Anda lebih memahami mengapa ikatan emosional antara ibu dan bayi sangat kuat. Ini akan meringankan perasaan Anda saat istri Anda tiba-tiba menomerduakan Anda.
  3. Bila Istri Anda menyusui ASI, jadilah partner yang baik . Caranya, tawarkan bantuan untuk menyendawakan bayi saat ia selesai menyusu. Bahkan bila ia terbangun pada malam hari, temani dia. Ini membuat ikatan batin antara Anda dan si kecil semakin kuat.
  4. Dekatkan diri dengan si kecil sesering mungkin.Tidak ada kursus untuk menjadi Ibu atau Ayah yang baik. Untuk mengasuh si kecil dengan baik yang dibutuhkan adalah insting dan menghadapinya kenyataan. Untuk itu, jangan takut bila Anda tidak tahu cara mengendong bayi atau menemani si kecil bermain. Dengan sering melakukannya Anda pasti bisa.

Jangan pedulikan komentar istri atau orang lain tentang cara Anda mengasuh anak. Beberapa Ayah kadang-kadang menjadi putus asa mengasuh si kecil karena sering ‘dicela’. Ingat, Anda bukan istri atau mertua, mungkin saja, cara Anda malah membuat si kecil lebih dekat pada Ayahnya dibanding pada Ibu.

Permainan Tradisional

Bermain merupakan dunia anak dan cara mereka mempelajari dunia yang merupakan hak setiap anak tanpa batas usia karena bermain mempunyai banyak manfaat dan nilai positif. Sementara kemajuan teknologi membuat permainan tradisional tersingkir dengan permainan elektronik yang antara lain berupa mobil remote, video games, dan permainan komputer.

Saat ini jarang terlihat permainan tradisional dimainkan oleh anak-anak terutama di kota besar. Memang banyak kendala yang dihadapi dalam memainkan permainan ini, di antaranya lahan tempat bermain menghilang, sifat individualistis yang semakin berkembang di masyarakat kota.

Sebenarnya banyak yang dapat dipetik dari permainan tradisional. Selain alat-alatnya mudah diperoleh, dan memungkinkan anak-anak untuk membuat dan mengkreasikan alat permainan dengan bahan-bahan yang dapat ditemukan di sekitar mereka.

Seperti biji congklak yang umumnya dari kerang dapat digantikan dengan biji-bijian; papan congklak tidak harus menggunakan papan kayu berlubang tetapi dapat digantikan dengan melubangi tanah sehingga menyerupai bentuk papan congklak. Atau untuk permainan dampu saat ini dapat dilakukan di rumah menggunakan kotak-kotak lantai yang ada atau kotak gabus debagai pengganti lapangan.

Sisi positif lain yang dimiliki permainan tradisional antara lain:

  • Membantu anak mengembangkan kemampuan interaksi dan berkomunikasi dengan baik, karena anak harus menyampaikan idenya, bernegosiasi, mengungkapkan emosinya secara tepat.
  • Mengembangkan kepandaian sosial dan menanamkan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat setempat
  • Belajar untuk mematuhi peraturan yang ada karena termotivasi oleh pengakuan bersikap sportif oleh anak lain.

DAMPU
Permainan ini umumnya dimainkan oleh anak-anak usia sekolah baik laki-laki maupun perempuan. Main dampu tidak membutuhkan peralatan yang harus dibeli, cukup dimainkan di tanah lapang dengan membuat petak-petak di permukaan tanah sesuai dengan bentuk yang disepakati baik menggunakan kapur atau pecahan genting atau apapun.

Alat lain yang digunakan adalah benda pipih seperti batu, pecahan genting, tutup botol yang digepengkan dan lain-lain sebagai biji. Inti permainannya adalah melempar batu pipih ke dalam kotak dengan tidak boleh keluar atau mengenai garis batas kotak, lalu melompat-lompat dengan satu kaki dalam kotak yang tidak berbatu tanpa boleh menginjak garis dan batu peserta lain. Setelah berputar anak harus mengambil batu dengan tetap bertumpu pada satu kaki lalu melompat kembali sampai ke garis awal.

Manfaat :

  • Melatih keseimbangan tubuh.
  • Melatih kemampuan reka visual.
  • Meningkatkan kemampuan motor planning (perencanaan gerak).
  • Meningkatkan kemampuan diferensiasi tekstur berdasarkan indera perabaan.

LOMPAT TALI
Sesuai namanya inti permainan ini adalah melompat tali. Tetapi tentu tidak semudah namanya, permainan ini mempunyai berbagai tingkat kesulitan; dari melompati tali yang rendah sampai setinggi tangan. Selain itu kesulitan juga bertingkat dari melompati tali yang diam sampai tali yang berputar. Alat yang digunakan sangatlah sederhana, hanya karet gelang yang dijalin menjadi panjang.

Manfaat :

  • Melatih kemampuan visual motor.
  • Meningkatkan kemampuan motor planning (perencanaan gerak).
  • Meningkatkan konsentrasi.
  • Meningkatkan kemampuan gerak fisik melompat, yang bermanfaat untuk kekuatan tubuh dan juga keterampilan dalam olahraga.
  • Melatih kekuatan kontrol mata.

GALASIN
Permainan ini memiliki banyak nama lain diantaranya : gobak sodor, main galah, main adang-adangan, dll. Inti dari permainan galasin ini adalah menghadang pihak lawan jangan sampai berhasil melewati garis dan jangan sampai dapat kembali ke garis awal.

Manfaat :

  • Meningkatkan kemampuan fisik.
  • Melatih kemampuan membaca gerak tubuh/gesture.
  • Meningkatkan kemampuan komunikasi dan kemampuan menyusun strategi lebih baik

PETAK JONGKOK
Petak jongkok merupakan permainan yang masih banyak terlihat dimainkan di daerah- daerah perumahan oleh anak-anak yang tidak membutuhkan alat dan dapat dimainkan kapan saja dan dimana saja. Pada intinya permainan petak jongkok adalah main kejar-kejaran dimana agar agar tidak tertangkap oleh “penjaga” anak harus jongkok.

Manfaat :

  • Meningkatkan kemampuan motorik kasar dan ketahanan fisik.
  • Melatih kemampuan fleksibilitas kaki.
  • Meningkatkan solidaritas dengan teman.

CONGKLAK
Atau dengan nama lain dhakon merupakan permainan untuk 2 orang. Pada intinya permainan adalah mengisi setiap lubang pada papan congklak dengan biji-bijian satu persatu, tanpa boleh terlewat atau ada yang terisi lebih dari satu. Dilakukan saecara bergiliran sampai semua biji-bijian yang ada habis. Pemenang permainan congklak adalah pemilik biji-bijian terbanyak pada akhir permainan.

Manfaat :

  • Melatih kemampuan manipulasi motorik halus.
  • Melatih konsentrasi.
  • Mendidik sifat sportifitas anak
  • Melatih kemampuan mengatur strategi.
  • Sarana belajar berhitung.
  • Melatih koordinasi 2 sisi tubuh.

BEKEL
Permainan bekel umumnya dimainkan oleh anak-anak perempuan tapi permainan ini juga bisa dimainkan oleh anak laki-laki. Bekel merupakan permainan melontarkan bola ke atas dan menangkapnya kembali. Tetapi pada saat bersamaan harus mengambil atau mengubah posisi biji-biji yang ada sesuai peraturan tingkat kesulitan yang dijalankan.

Manfaat :

  • Melatih koordinasi visual-motor.
  • Melatih meningkatkan konsentrasi.
  • Meningkatkan kemampuan kontrol gerakan jari-jari dan tangan.
  • Kemampuan mempertahankan posisi tubuh.

(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan majalan Anakku)

Permainan Anak

Permainan buat si kecil

Usia 0-3 Bulan
Stimulasi dengan bola-bola kecil aneka warna
* Gerakkan bola-bola tersebut ke arah kiri-kanan, hingga merangsang
perhatiannya dan membuatnya tersenyum.
* Biarkan si kecil mencoba mengenali bentuk bola itu dengan
menyentuhnya. Eksplorasi ini akan membantu merangsang kemampuan
motoriknya.
* Manfaat:
Merangsang kemampuan indra penglihatan. Dengan latihan yang terus-
menerus, kedua matanya akan berfungsi optimal. Si kecil akan mampu
melihat objek yang dilihat dengan jelas dan bisa terfokus ketika
menatap benda dari jarak yang berlainan.
Stimulasi dengan mainan/boneka/gambar menarik
* Bentangkan tali di antara dua sisi kiri dan kanan tempat tidurnya.
Gantungkan mainan/boneka/gambar menarik dengan posisi persis di atas
wajah si bayi. Pastikan talinya terikat erat dalam posisi tegang agar
tak jatuh ke wajah bayi.
* Pilihlah bentuk binatang yang lucu, seperti itik, gajah, atau sapi.
Usahakan warna setiap boneka berlainan agar si mungil mulai belajar
mengenal warna.
* Gerak-gerakkan gantungan itu untuk menarik perhatian si kecil.
* Jelaskan satu per satu nama-nama binatang/gambar tersebut.
* Manfaat:
Bayi akan belajar mengetahui perbedaan masing-masing bentuk mainan
yang digantung. Untuk tahap berikutnya, tangan si kecil akan
menggapai-gapai mainan yang digantung itu, sehingga kemampuan
motoriknya terasah.
Stimulasi dengan balon
* Balon bisa dijadikan mainan pilihan agar bayi tak merasa bosan.
* Usahakan bentuk balon tak hanya bulat/lonjong, tapi juga panjang
atau menyerupai bunga matahari. Warna balon pun sebaiknya warna-warni
untuk mengasah kemampuan indra penglihatannya.
* Sesekali lepaskan tali balon dan biarkan si kecil memperhatikan
pergerakan balon tersebut saat melayang perlahan. Pemandangan ini
akan membuatnya terkagum-kagum, sementara rasa ingin tahunya akan
bertambah.
* Manfaat:
Belajar memfokuskan indra penglihatan, selain membina hubungan yang
lebih erat antara bayi dengan orang tuanya.
Stimulasi dengan kerincingan
* Berikan si kecil mainan berupa kerincingan.
* Rangsang rasa penasaran si kecil dengan menggerakkan kerincingan
dan biarkan dia berusaha menggapai dan memegangnya.
* Manfaat:
Awalnya ditujukan untuk menstimulasi kemampuan indra pendengaran.
Setelah menangkap dari mana arah suara itu berasal, otomatis indra
penglihatan dan kemampuan refleksnya diuji.


Usia 3-6 Bulan
Stimulasi dengan cermin
* Bayi pun ingin mengetahui seperti apa, sih, wajahnya. Tunjukkan
padanya cermin dan biarkan ia mengagumi wajah yang terpantul di situ.
* Mintalah kakaknya memangku si kecil, kemudian biarkan si kecil
mengamati wajahnya sendiri dan wajah kakaknya di cermin.
* Jangan lupa tunjuk wajah yang terlihat di cermin sambil menyebut
namanya dan kakaknya.
* Manfaat:
Bayi belajar mengidentifikasikan diri sendiri yang tengah tersenyum
atau tertawa yang membuat kemampuan sosialnya terasah.
Stimulasi dengan selimut
* Posisikan bayi di atas selimut. Ayah memegang kedua ujung yang satu
sementara kedua ujung lainnya dipegang ibu.
* Ayunkan selimut perlahan ke kiri dan kanan supaya bayi
merasa “diombang-ambing”. Pastikan semua ujung selimut terpegang erat
agar bayi tak jatuh.
* Gulung selimut menyerupai sebuah bantalan kemudian telungkupkan
bayi di atasnya. Pegangi si kecil dan biarkan ia mengetahui bagaimana
rasanya “menggelinding”.
* Manfaat:
Melatih kekuatan/stamina tubuh sebagai elemen dasar untuk melakukan
berbagai aktivitas fisik di kemudian hari.
Stimulasi dengan bahan berisik
* Bungkus piring plastik dengan plastik kresek.
* Tempelkan piring itu ke telapak kaki bayi. Biarkan dia merasakan
sentuhan benda tersebut pada kakinya
* Seiring dengan pijakan kakinya, ia juga akan mendengar suara kresek-
kresek yang membangkitkan rasa ingin tahunya.
* Manfaat:
Mengasah sensitivitas telapak kaki sebagai modalnya kelak untuk
belajar berjalan.

Usia 6-9 Bulan
Stimulasi dengan mainan yang bisa berputar
* Dalam posisi duduk di pangkuan ibu/bapak, tunjukkan mainan berupa
kincir dari kertas.
* Tiuplah baling-balingnya agar berputar. Sesekali, hentikan
tiupannya dan perhatikan bagaimana reaksi si kecil.
* Manfaat:
Melatih respons mata ketika melihat benda berputar dan menumbuhkan
rasa ingin tahu dengan cara mencoba meraih mainan tersebut.
Stimulasi dengan mainan peralatan dapur
* Rangsanglah rasa ingin tahu bayi dengan mainan berbentuk peralatan
dapur, seperti sendok dan piring kaleng/plastik. Tapi jangan berikan
mainan yang bisa menimbulkan bahaya seperti bentuk garpu atau pisau.
* Biarkan ia menyentuh dan memainkannya sambil kita jelaskan satu per
satu fungsi alat dapur itu.
* Manfaat:
Selain mengenal perbendaharaan alat dapur, juga melatih kemampuan
motorik ketika dia mencoba memegang dan mencengkeram mainan itu.
Stimulasi dengan buku cerita
* Sembari duduk di pangkuan, tunjukkan pada si kecil buku cerita yang
bergambar.
* Ceritakan kisah dalam buku itu dengan suara dan intonasi yang enak.
Rangsang ketertarikan bayi dengan materi cerita yang beragam agar tak
bosan.
* Manfaat:
Memperkaya kosakata sehingga kemampuan lisannya akan lebih terasah.
Stimulasi dengan gelembung sabun
* Permainan berupa gelembung sabun sangat menarik. Amati reaksi
gembira yang diluapkannya.
* Hanya saja pastikan tak ada gelembung yang menghampiri wajah si
kecil. Bila pecah tepat di dekat matanya dikhawatirkan bisa
menimbulkan perih.
* Manfaat:
Melatih gerak refleks mata, tangan, dan gerakan badan ketika meraih
gelembung itu. Selain itu, mempererat hubungan anak dengan ibu/bapak.
Stimulasi dengan foto
* Ambil album foto keluarga. Posisikan bayi untuk duduk di pangkuan
lalu tunjukkan satu per satu foto dalam album itu.
* Saat menunjukkan foto-foto tadi jangan lupa sebutkan nama sosok
yang ditunjuk. Semisal, “Yang ini mama, ini papa dan yang itu kakek
sama nenek.”
* Manfaat:
Mengenalkan silsilah dan merangsang rasa ingin tahunya lebih jauh
lagi.
Stimulasi dengan mainan yang dibungkus
* Bungkuslah mainan-mainan si kecil menyerupai kado.
* Biarkan si kecil berusaha membuka bungkusan tersebut satu-persatu.
Lihatlah reaksinya ketika membuka bungkusan berisi bola, boneka,
binatang dan miniatur alat-alat dapur.
* Manfaat:
Melatih kekuatan jari-jemari dan menumbuhkan rasa penasaran, serta
minat mengeksplorasi.
Stimulasi dengan wadah plastik
* Berikan si kecil botol-botol plastik bertutup yang sudah diisi
ragam kacang, seperti kacang hijau, kacang kedelai, kacang merah,
atau makaroni dan sejenisnya.
* Amati reaksi/keheranannya saat menggoyang-goyangkan botol-botol
tersebut. Ia sedang menyimak suara yang ditimbulkan benda di dalamnya.
* Di lain kesempatan beri wadah yang agak besar dan isilah dengan
mainannya. Libatkan si kecil untuk memasukkan mainannya sekaligus
mengeluarkannya.
* Manfaat:
Belajar memfokuskan perhatian dan mengolah daya pikirnya. Si kecil
pun melatih diri untuk jadi orang yang aktif.
Stimulasi dengan senter
* Ambillah senter. Tempatkan mainan-mainan/boneka sekitar setengah
meter di depan posisi duduk di kecil.
* Sorotlah mainan-mainan si kecil satu per satu. Lihat ketertarikan
si kecil ketika mengamati sinar yang menerpa mainannya.
* Manfaat:
Belajar mengenal cahaya yang terfokus juga merangsang daya
penglihatan terhadap objek yang disorot senter itu.
Stimulasi dengan gasing
* Posisikan si kecil duduk di pangkuan. Mintalah orang lain
memutarkan mainan gasing persis di depannya.
* Amati luapan kegembiraan akibat rasa takjub menyaksikan mainan yang
bisa berputar sedemikian rupa.
* Manfaat:
Si kecil belajar berpikir logis mengenai sebab-akibat. Rasa ingin
tahu pun makin terasah.

Usia 9-12 Bulan
Stimulasi dengan puzzle
* Berilah si kecil puzzle sederhana dengan gambar-gambar yang
menarik/lucu.
* Biarkan si kecil berusaha menyusun puzzle-nya, hingga rasa ingin
tahunya terpenuhi.
* Manfaat:
Merangsang konsep berpikir anak dan menstimulasi motivasi dirinya
untuk bisa menyelesaikan sesuatu.
Stimulasi dengan mainan mobil-mobilan * Dudukkan si kecil di atas
mainan berbentuk mobil.
* Doronglah perlahan-lahan mobil itu maju, mundur, dan belok ke kiri
atau kanan.
* Biarkan si kecil yang memegang kemudi biar ia merasakan kebanggaan
tersendiri.
* Manfaat:
Mengasah keterampilan dan melatih keseimbangan tubuh.
Stimulasi dengan tumbuhan-tumbuhan
* Ajaklah si kecil ke halaman rumah, ke kebun atau paling tidak
ajaklah ia mendekati pot bunga.
* Kenalkan nama tumbuhan, tekstur daun, warnanya dan buahnya.
* Di lain waktu kenalkan ia pada jenis tumbuhan lain.
* Manfaat:
Belajar mengenal dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Stimulasi dengan mainan yang ditumpuk-tumpuk
* Beri benda-benda dengan aneka bentuk dan ukuran.
* Rangsang si kecil untuk belajar menumpukkan benda-benda tersebut
mulai yang berukuran besar sampai yang paling kecil.
* Manfaat:
Melatih kemampuan motorik dan mengolah daya pikir serta
kreativitasnya.

Permainan Anak

Permainan apa saja sih yang baik untuk anak-anak? (dibawah 5 tahun)

Hal ini mengganjal pikiran saya akhir-akhir ini, terus bertjokol di benak saya karena sejauh ini, saya sering bertemu anak-anak yang bermain dengan mainan, entah itu games dan apalah itu, yang IMHO, ndak mendidik, ndak ngislami dan (maaf-maaf saja) sekedar trik orang tua supaya anak sibuk sendiri, sedemikian rupa sehingga orang tuanya bisa bekerja dan beraktivitas.

Ini serius lho ya, saya amati, terutama bagi yang berdomisili di luar negeri, jenis permainan ini sangat terbatas. Outdoor jelas susah, cuma bisa pas summer, butuh terman dan tempat bermain (misalnya sport). Jenis permainan standard itu kan ‘PC games’. Mulai dari anak dari tokoh masyrakat, alim ulama sampai anak orang biasa kayak kita-kita ini; permainannya berputar di media elektronik : games/videos di komputer dan TV.

Dari hasil nge-browse, saya menemukan penelitian Profesor R.K. Sawyer (WUStL). Katanya Prof. Sawyer, untuk anak dibawah 6 tahun. Permainannya harus konstruktif, dimana anak dibiarkan aktif berkreasi mengakumulasi pengetahuan selama bermain. Batasannya: aman dan sesuai umur. Point ini mudah dipahami.

Katanya lagi, permainan yang baik adalah permainan yang ‘tidak saklek’ atau bahasa dia, low realism. Maksudnya: Anak yang sudah pernah nonton Kura-kura Ninja akan mudah memainkan mainan berbentuk Leonardo atau Donnatello. Akibatnya anak menjadi tidak kreatif. Beda kalau mainannya belum pernah diliat diTV, dia akan lebih bebas untuk berimajinasi dan berimprovisasi.

Catatan menarik lain dari Sawyer adalah tentang kehadiran orang tua selama si anak bermain. Katanya, bukanlah mainan itu yang memacu proses belajar anak, tapi interaksi anak dengan orang tua, selama memainkan mainan, menjadi bagian terpenting. Padahal, beberapa hari yang lalu, saya baru saja diberi tahu tips mendidik dari seorang pensiunan pendidik, katanya: “penuhi saja ruangannya dengan mainan, lalu biarkan ia main sendiri”.

Hmmm, ini catatan yang penting dari Sawyer, kalau memang anak mesti selalu ditemani saat bermain.

Catatan lain yang menarik dari Sawyer adalah tentang video games. Jika dibandingkan menonton TV, video games masih lebih bisa dijadikan pilihan lah. Tapi bermain bersama dengan anak lainnya lebih diutamakan ketimbang main video games. Alasannya lagi-lagi; kreativitas yang terbatas yang ditawarkan video games. Tidak seperti main bersama yang penuh imaginasi dan banyak ruang untuk mengembangkan kreativitas.

Berhubung saya newbie (pemula) dalam dunia parenting. Segala masukan dari bapak-ibu yang sudah pengalaman akan sangat bermanfaat bagi kami

Sumber bacaan a.l.: Web Prof Keith Sawyer

Mainan Anak

Mainan Anak

Definisi

Mainan (toy) merupakan suatu obyek untuk dimainkan (play). Bermain (play) sendiri dapat diartikan sebagai interaksi dengan orang, hewan, atau barang (mainan) dalam konteks pembelajaran (learning) atau rekreasi.

Mainan (toy) dan bermain (play) merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran mengenal dunia dan tumbuh dewasa. Seorang anak menggunakan mainan untuk menemukan identitas, membantu tubuh menjadi kuat, mempejalari sebab dan akibat, mengembangkan hubungan, dan mempraktekkan kemampuan mereka. Mainan lebih dari sekedar bersenang-senang, karena mainan dapat digunakan untuk mempengaruhi aspek kehidupan.

Peran Mainan dalam Perkembangan Anak

Mainan memberikan hiburan sembari juga memberikan peran mendidik. Mainan mengembangkan perilaku kognitif dan merangsang kreativitas. Mainan juga mengembangkan kemampuan fisik dan mental yang pastinya diperlukan di kemudian hari oleh anak.

Mainan untuk bayi biasanya menggunakan suara, warna cerah, dan tekstur yang unik. Melalui bermain dengan mainan, bayi mulai mengenali bentuk dan warna. Mainan edukasi (educational toys) untuk anak biasanya mengandung puzzle, teknik pemecahan masalah, atau persamaan matematika.

Yang perlu diingat adalah tidak semua mainan sesuai untuk semua umur anak. Beberapa mainan dikhususkan untuk anak dengan rentang umur tertentu, yang tidak memberikan hasil baik atau bahkan bisa merusak perkembangan anak pada rentang umur yang berbeda.

Mainan dan Jenis Kelamin

Mainan tertentu, seperti barbie dan tentara, seringkali dianggap lebih sesuai untuk satu jenis kelamin tertentu. Kebanyakan orang percaya bahwa jenis kelamin dan pilihan jenis mainan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Bermain dengan mainan yang bukan untuk jenis kelaminnya seringkali mendapatkan pandangan yang negatif dari orangtua atau anak yang lain. Pada jaman ini, apabila seorang anak perempuan bermain dengan mainan untuk anak laki-laki lebih bisa diterima oleh lingkungan dibandingkan apabila seorang anak laki-laki bermain dengan boneka.

Tipe Mainan

Mainan rakitan (construction toys)

Mainan rakitan merupakan kumpulan potongan-potongan yang terpisah, yang dapat digabungkan kembali menjadi beberapa model. Model-model yang populer seperti mobil, pesawat angkasa, dan rumah. Mainan rakitan yang paling umum adalah blok-blok kayu sederhana berwarna-warni.

Mainan rakitan ini sesuai untuk anak (dan juga orang dewasa) yang suka bekerja dengan tangan, suka memecahkan puzzle, dan suka berimajinasi.

Boneka, hewan, dan miniature (dolls, animals, and miniatures)

Boneka merupakan model dari manusia, atau yang menyerupai manusia (contohnya Bert), atau hewan. Seringkali boneka dimaksudkan untuk dekorasi atau koleksi untuk anak yang sudah besar atau orang dewasa, namun kebanyakan boneka ditujukan sebagai mainan untuk anak-anak, terutama anak perempuan.

Miniatur kendaraan (toy vehicles)

Anak-anak telah bermain dengan miniatur kendaraan sejak jaman kuno, dengan miniature kendaraan roda dua. Jaman sekarang mainan kendaraan telah berkembang, mencakup mainan miniatur mobil, pesawat terbang, kapal laut, dan kereta.

Puzzle

Suatu puzzle merupakan suatu masalah atau misteri yang dipecahkan dengan kepandaian dan kreativitas. Solusi untuk puzzle mungkin membutuhkan pola yang sudah ada dan menciptakan aturan khusus. Puzzle berdasar pada proses penyelidikan dan penemuan untuk menyelesaikannya, yang mungkin dapat dipecahkan lebih cepat oleh mereka yang mempunyai kemampuan deduktif yang bagus. Sejarah puzzle ini telah melampaui ribuan tahun.

Ada berbagai tipe puzzle, seperti maze, yang merupakan tipe puzzle tour. Kategori lain meliputi puzzle konstruksi, puzzle batang (stick), puzzle lantai, puzzle angka, puzzle transport, puzzle gambar, puzzle logika, puzzle mekanik dan lain-lain.

Mainan yang melibatkan aktivitas fisik

Banyak mainan melibatkan bermain secara aktif. Ini termasuk mainan seperti bola, hulahop, yo-yo, dan lain-lain. Bermain dengan mainan ini membuat anak berlatih fisik, membentuk tulang dan otot yang kuat. Melempar dan menangkap bola dapat mengembangkan kemampuan koordinasi tangan-mata anak.

Mainan koleksi (collectable toys)

Beberapa mainan, seperti Barbie, menimbulkan antusiasme yang besar, sehingga menjadi mainan untuk dikoleksi. Oleh karena itu, beberapa mainan memang dipasarkan untuk orang dewasa sebagai koleksi. Beberapa orang membelanjakan sejumlah besar uang untuk bisa mendapatkan koleksi yang lengkap.

Aturan Keamanan

Banyak negara mempunyai standar keamanan untuk tipe-tipe mainan anak yang bisa dijual. Kebanyakan membatasi bahaya potensial yang bisa ditimbulkan, seperti mudah terbakar atau bisa membuat tercekik. Anak-anak sering mempunyai kebiasaan memasukkan mainan ke dalam mulut mereka, sehingga bahan mainan yang digunakan harus bebas racun. Bahan mainan juga tidak boleh mudah terbakar.

Anak-anak belum bisa membedakan mana mainan yang aman dan mana yang berbahaya, dan orang tua tidak selalu bisa memikirkan segala kemungkinan yang bisa muncul, sehingga aturan dan peringatan sangatlah penting dalam mainan anak.

sumber: wikipedia

Mainan Anak

MAINAN ANAK CERDASKAN ANAK ANDA

Permainan Anak,Ternyata bukan Main-main Cerdaskan generasi Anda dengan memberi mereka mainan sebanyak-banyaknya, sejak bayi.

Mengikuti perkembangan bayi-bayi di sekitar kita, nampaknya cukup menyenangkan juga. Ada perbedaan mencolok antara perkembangan Ryan dengan Ridwan, mulai dari ketika masih bayi hingga di usia mereka kini yang menginjak tiga tahunan. Dua anak bertetangga ini ternyata mengalami masa perkembangan yang jauh berbeda.

Ryan, bayi sulung dari ayah seorang pegawai negeri sementara Ridwan memiliki ayah pedagang. Persamaan di antara keduanya, ibu anak-anak itu sama-sama tidak bekerja, dan mengasuh sendiri bayi-bayi sulung mereka itu.

Ibu Ridwan banyak memberikan putranya alat-alat permainan, sedari bayi hingga kini. Untuk urusan ini, ia dan suaminya sepakat untuk menyisihkan pendapatan bulanan yang sebenarnya tak juga terlalu besar, demi merangsang perkembangan kepribadian Ridwan. Bahkan seringkali sang ibu mencari ide untuk membuat sendiri mainan-mainan tersebut. Berkat kreativitasnya, nampak sekali perkembangan Ridwan kecil menjadi begitu pesat, dan ia tumbuh menjadi anak yang lincah, pandai bicara dan daya tangkapnya bagus.

Hal ini berbeda dengan kondisi Ryan, yang tumbuh menjadi anak laki-laki yang kalem dan pendiam. Ia cenderung pasif dan bersikap menunggu. Gerakannya pun lemah, lambat, serta kurang tertarik kepada hal-hal baru di sekitarnya. Ya, perbedaannya dengan Ridwan adalah karena kedua orang tuanya tidak banyak menyediakan mainan untuknya. Ibu Ryan pernah berkilah,

‘Sedangkan untuk sandang pangan saja susah, buat apa beli mainan? Buang-buang uang saja.’

Pembaca dengan mudah tentu dapat menebak, manakah ibu yang bijaksana? Seberapa pentingkah sebenarnya arti permainan bagi perkembangan anak? Benarkah hanya merupakan kemubadziran semata jika orang tua membelikan mainan-mainan yang harganya selangit itu?

Rahasia pada dua tahun pertama

Sementara itu, masih banyak orang berpandangan sempit, yang belum memahami betapa hebat proses pembelajaran yang sedang dilakukan makhluk baru tersebut. Sepintas, bayi memang seperti seonggok daging bernyawa yang belum bisa melakukan apa-apa kecuali menangis, pipis, dan berak. Maka bagi mereka pemenuhan kebutuhan bayi pun cukup dengan merawat, membersihkan, memberi susu dan makan. Selanjutnya menunggu hingga mereka sedikit bisa

mulai berkomunikasi. Akhirnya, tahun-tahun awal kehidupan bayi pun dibiarkan lewat begitu saja, tanpa tindakan aktif orang tua dalam memacu perkembangan bayinya.

Selayaknya ibu bijaksana harus tahu, apa yang terjadi di dalam otak anak selama tahun-tahun awal kehidupannya. Penelitian para ahli menyebutkan, bahwa seorang bayi terlahir dengan me mbawa lebih dari satu miliar saraf dalam otak yang masih terputus-putus. Kelak, saraf-saraf ini akan berkembang saling menyambung, dan kuantitas serta kualitas sambungannya tulah ang menentukan kecerdasan anak.

Dalam penyelidikan selanjutnya terbukti bahwa sambungan saraf-saraf tersebut akan semakin banyak dan bagus jika bayi memperoleh perasaan tenang, tenteram dan bahagia. Belaian tangan ibu memberi kasih sayang kepada bayi memberikan kontribusi begitu banyak terhadap proses pembangunan saraf otak tersebut. Begitu juga kebahagiaan yang diperoleh bayi ketika ibu mengajaknya tersenyum, tertawa, dan bermain.

Dan salah satu dari kegembiraan maksimal yang mereka peroleh adalah manakala bayi-bayi itu disodori mainan-mainan yang menarik, sesuai kebutuhan mata, telinga, dan rabaan mereka. Maka, jika dengan alat-alat permainan tersebut ibu bisa memberikan kegembiraan sebanyak-banyaknya kepada mereka, sungguh hal itu akan memaksimalkan perkembangan fungsi otak anak.

Proses penyambungan saraf-saraf ini mencapai 50% pada dua tahun pertama, selanjutnya hanya 30% hingga tahun kelima dan sisanya 20% dipenuhi hingga usia ke-12. Jadi bila kita menyia-nyiakan waktu yang diberikan Allah pada dua tahun awal kehidupan anak, sungguh merugilah kita.

Eksplorasi melalui indra

Permainan, dalam dunia anak memiliki ciri khas yang berkembang sesuai dengan usia. Dengan mengetahui karakter khas pola permainan anak, tentunya akan mempermudah orang tua dalam mengerti, memahami, dan selanjutnya memenuhi kebutuhan putra-putrinya terhadap alat-alat permainan.

Dengan bekal rasa ingin tahunya, setiap bayi akan mempelajari tentang alam lingkungan sekitarnya. Tahap eksplorasi ini berlangsung semenjak lahir hingga usia sekitar dua tahun, dan merupakan tahap awal sebelum mereka nantinya mengembangkan pola permainan yang lain. Dalam tahap ini, anak akan berusaha melihat, mendengar, memegang dan merasakan apa saja benda-benda yang ada di sekelilingnya. Mereka akan mengambil segala macam benda yang ada dalam jangkauan tangannya. Kemudian selama beberapa detik anak melihat, mengamati, dan memasukkan ke dalam mulutnya. Warna, bentuk serta bunyi yang menarik dari benda yang diamati bayi akan membuatnya bertahan agak lama dalam eksplorasi ini. Setelah usai dan puas, dibuanglah benda itu untuk mencoba meraih yang lain.

Dengan cara inilah anak belajar segala sesuatu tentang dunia. Ketika mata mereka menangkap benda warna-warni yang digantungkan di depan mereka, mata itu nampak begitu bergairah. Bulat bola matanya menatap lekat mengikuti gerak goyangan benda ke kiri dan ke kanan. Seakan melalui mata itulah ia salurkan seluruh energinya.

Saat inilah seorang anak mulai mengembangkan daya penglihatannya. Mereka yang terbiasa mengamati berbagai ragam warna menarik, akan termotivasi untuk terus melihat, menatap dan mengamati sekelilingnya. Mereka menjadi lebih peka terhadap benda-benda. Mereka menjadi lebih teliti, tidak mengabaikan hal-hal yang kecil.

Manfaat dari ketajaman daya penglihatan anak mungkin baru akan dirasakan ketika usianya menginjak 3 atau 4 tahun. Minat mereka untuk mengamati segala sesuatu melalui matanya akan mulai nampak, sementara itu semakin banyak obyek benda yang ditangkap mata dan masuk ke dalam otak, yang kecil-kecil sekalipun. Kelebihan ini akan sangat terasa manfaatnya ketika anak mulai belajar di SD, di mana mereka harus pandai-pandai mengamati hal-hal yang diterangkan dan ditulis guru di papan tulis.

Beberapa anak mengalami masalah dalam kecepatan untuk mampu membaca, karena memiliki daya penglihatan yang kurang baik. Akibatnya mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk memasukkan satu obyek penglihatan ke dalam otak. Konsentrasi mereka dalam melihat dan mengamati sesuatupun masih belum bisa optimal. Dan masih banyak juga anak mengalami masalah dalam pelajaran-pelajaran mereka, karena kurang bisa berkonsentrasi penuh terhadap apa yang mereka lihat.

Ketika tangannya mulai bergerak terarah, maka bergeraklah kedua tangan mungilnya ke arah benda tersebut, berusaha untuk bisa meraihnya. Namun ternyata tak mudah. Rupanya bayi-bayi mungil itu belum bisa mengendalikan tangannya sendiri! Bahkan mengenggam sesuatupun mereka belum bisa! Keinginan kuat anak untuk meraih mainan-mainan tersebut akan mempercepat proses koordinasi otak dan tangannya, sehingga motorik halus kedua tangannya akan lebih cepat terlatih. Jika koordinasi otak dan tangan baik, anak akan termotivasi untuk banyak

memegang benda-benda di sekitarnya, membuat mereka aktif melakukan apa saja yang bisa mereka kerjakan dengan benda-benda tersebut.

Bagaimana dengan telinganya? Anak-anak mungil itu ternyata akan lebih peka terhadap berbagai jenis suara jika mereka sering bermain dengan bunyi-bunyian. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka mudah Tertarik terhadap berbagai bunyi yang ada di sekelilingnya, dan termotivasi untuk mempelajari benda yang mengeluarkan bunyi tersebut.

Kelak, kepekaan daya pendengaran pun sangat diperlukan anak dalam perkembangan pembelajarannya. Jelas, daya pendengaran anak yang baik akan sangat mempermudah mereka ketika harus berupaya sendiri mencari pengetahuan di bangku sekolah.

Mainan murah meriah

Bagaimana dengan harga mainan bayi yang serba mahal? Ini memang tantangan tersendiri bagi kita. Satu bukti yang sulit dibantah adalah bahwa anak-anak keluarga non-muslim yang dengan mudah mampu membeli fasilitas-fasilitas permainan tersebut ternyata mengalami perkembangan kepribadian yang jauh lebih baik dari pada anak-anak kita. Secara umum, tak berlebihan jika

dikatakan anak-anak mereka lebih cerdas. Lantas, apa yang harus kita upayakan untuk mengejar ketertinggalan ini? Apakah kita boleh diam saja sehingga menjadi lebih jauh tertinggal lagi?

Tentu saja tidak. Kita harus berbuat sesuatu mengantisipasi hambatan yang menghadang. Bukankah tak ada rotan, akarpun jadi? Pepatah ini mengajarkan kita untuk berupaya mencari alternatif lain yang bisa lebih murah pengadaannya. Asalkan kita memahami konsep dan fungsi dasar dari setiap mainan, insya-Allah kita bisa rancang alternatif kreasi yang tak kalah

menariknya, hanya dari bahan-bahan sederhana yang sering ada di sekitar kita. Berikut adalah beberapa contoh kreasi mainan buatan sendiri yang berguna untuk balita anda.

Dari sebuah hanger atau gantungan baju (pilih warna yang cerah), Anda bisa menjadikannya sebuah gantungan. Dan carilah tiga buah benda lain dengan besar dan berat berimbang untuk bisa digantung dengan tali di gantungan baju tadi. Benda apa saja bisa dimanfaatkan, apalagi yang memiliki warna-warni cerah dan menarik. Misalnya sisir, botol lem, tempat pasta obat

nyamuk, hingga boneka-oneka kecil milik anak-anak.

Dari sisa kaleng tempat makanan atau minuman kaleng yang berwarna-warni mencolok, Anda bisa memasukkan dua atau tiga butir kelereng ke dalamnya, kemudian menutup kembali lubang masuk kelereng dengan isolasi kuat-kuat. Jadilah mainan ‘gemerincing’ yang cukup ramai jika digelindingkan.

Sediakan berbagai jenis kain perca berbentuk panjang untuk diikatkan satu dengan yang lainnya menjadi jalinan yang tidak terlalu panjang namun mudah dipegang. Warna-warni kain yang mencolok membuat anak tertarik memegang kain-kain ini. Tangan bayi akan mempelajari tekstur dari setiap jenis perca yang berbeda. Ada yang halus, licin, kasar atau berbulu. Perbedaan jenis

tekstur kain yang mengenai telapak tangan mereka akan melatih indra peraba tersebut untuk menjadi semakin peka.

Jika ada benda-benda dapur yang tidak berbahaya, bisa anda padukan dengan sendok sehingga menjadi alat musik dengan cara memukul-mukulkan sendok ke benda tadi, semisal piring, mangkok, gelas melamin atau plastik. Beragam suara yang ditimbulkannya akan menggggembirakan bayi, apalagi jika mereka diberi kesempatan untuk memukul-mukulkan sendiri sendok tersebut dengan tangannya.

Masih ada seribu satu macam ide merancang permainan bayi dengan menggunakan barang-barang yang tersedia di sekitar kita. Prinsipnya, alat-alat pemainan tersebut memenuhi fungsi untuk merangsang ketajaman indra penglihatan, pendengaran, hingga perabaan bayi. Pilih selalu barang-barang dengan warna mencolok, mudah dipegang, dan aman jika masuk ke mulut bayi.

Rangsang Kemajuan Anak

Yang perlu anda ketahui: Memberikan Rangsangan Keamajuan Pada Anak:

  • Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas – (Creative materials)
  • Mengambil dan meletakkan mainain – (Putting and taking toys)
  • Memilih bentuk – (Shape sorters)
  • Mainan untuk melatih ketrampilan tangan – (Dexterity toys)
  • Mainan untuk kamar mandi – (Bath toys for water play)
  • Permainan mengikuti pemimpin – (Follow the leader play)
  • Buku, majahlah, dan segala sesuatu yang bergambar – (Books, magazines, anything with pictures)
  • Bahan untuk bermain pura-pura – (Materials for pretend play)
  • Tempat yang aman untuk belajar memanjat – (Space safe for supervised climbing)
  • Lingkungan yang bervariasi – (A varied environment)
  • Pujian – (Applause)


First words. First steps. With these two feathers in the toddler’s cap, or nearly so, the learning game becomes more exciting than ever before. The world is growing by leaps and bounds; give your toddler a chance to explore and learn about it, and promote his or her continued physical, social, intellectual, and emotional development, by offering the following:

Dengan adanya kata-kata pertama, langkah-langkah pertama yang dapat dilakukan oleh anak, maka permainan belajar akan lebih menyenangkan. Beri kesempatan pada anak anda untuk menjelajahi dan belajar tenang junia dan kemajuannya, dan bentulah kemajuan fisik, sosial, intelektual dan emosionalnya, dengan menawarkan beberapa hal berikut:

Creative materials

Scribbling with crayons provides tremendous satisfaction for many babies. Taping the paper to a table, the floor, or an easel will keep it from sliding all over, and confiscating the crayons as soon as they are applied where they shouldn’t be or if baby decides to chew on one will help tech their proper use. Don’t allow pens and pencils, except under close supervision, since the sharp points can spell disaster if baby falls on either one. Finger painting can be fun for some, while others are uncomfortable with muddy fingers that are an occupational hazard of the art. Although hand washing demonstrates that the condition is only temporary, some children continue resisting the medium. Musical toys can be fun, too. Baby can also learn to improvise musically, with a wooden or metal spoon on a pot bottom, for instance, if you demonstrate first.

Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas

Mencoret-coret dengan crayon adalah kegiatan yang sangat memuaskan bagi banyak anak. Rekatkan kertas pada alas meja, lantai, atau alas lainnya agar kertas tidak menggeser ketika dicoreti, dan singkirkan crayon segera setelah crayon disalah-gunakan untuk mencoret bagian yang tidak boleh dicoret atau jika bayi memasukkan crayon ke dalam mulutnya, hal ini akan membantu mereka untuk menggunakkannya dengan benar. Jangan biarkan mereka menggunakkan pensil dan pena, kecuali di bawah pengawasan yang ketat, karena ujung yang tajam dapat membahayakan. Melukis dengan menggunakan jari dapat menyenangkan bagi beberapa anak, tetapi ada juga anak yang merasa tidak senang dengan tangan yang ‘terkotori’ cat. Meskipun cuci tangan dapat menunjukkan pada anak bahwa kotor tersebut hanya bersifat sementara, beberapa anak tetap tidak mau menggunakan bahan tersebut. Mainan yang bermusik juga dapat menyenangkan. Bayi juga dapat belajar meningkatkan kemampuan musiknya, misalyna dengan memukulkan sendok kayu atau logam pada panci, jika anda memberi contoh terlebih dulu.

Putting and taking toys

Babies love to put things in and take them out although the latter skill develops before the former. You can buy putting-and-taking toys, or just use objects around the house such as empty boxes, wooden spoons, measuring cups, paper cups and plates, and napkins. Fill a basket with a variety of small items (but not small enough for baby to mouth and choke on) for starters. Be ready to do most of the putting in until baby becomes much more proficient. Sand and water allow for putting in and taking out in the form of pouring – and most toddlers love both materials but they require constant supervision.

Mengambil dan meletakkan mainain

Bayi umumnya senang sekali mengeluarkan dan memasukkan mainan. Meskipun ketrampilan mengeluarkan barang akan terjadi lebih dulu daripada memasukkan. Anda dapat membeli mainan khusus yang dapat dikeluarkan dan dimasukkan, tetapi anda juga dapat menggunakan kotak bekas yang kosong, sendok kayu, cangkir plastik atau kertas, dan lap. Isi sebuah keranjang dengan berbagai benda kecil (tetapi tidak terlalu kecil sehingga dapat masuk ke mulut bayi dan membuat bayi tersedak). Bersiaplah bahwa pada mulanya anda sendiri yang harus sering memasukkan kembali benda-benda tersebut, sampai bayi sudah lebih mahir. Anda juga dapat menggunakan pasir dan air untuk latihan menuang – bayi biasanya menyukai kedua bahan ini, tetapi diperlukan pengawasan yang ketat.

Shape sorters

Usually long before babies can say circle, square or triangle, they have learned to recognize these shapes and can put them in the proper opening in a shape-sorter toy. These toys also teach manual dexterity and, in some cases, colours. Be aware, however, that baby may need many demonstrations and much assistance before mastery of shape sorters is achieved.

Memilih bentuk

Biasanya lama sebelum bayi dapat mengatakan lingkaran, persegi, atau segitiga, mereka sudah belajar mengenal bentuk-bentuk ini dan dapat meletakkan mereka ke tempat/lubang yang tepat pada mainan pemilihan bentuk. Mainan jenis ini juga melatih ketrampilan tangan, dan warna. Tetapi, perlu disadari bahwa bayi perlu banyak diajari dan diberi contoh sebelum ia dapat menguasai mainan pemilihan bentuk ini.

Dexterity Toys

Toys that require turning, twisting, pushing, pressing, and pulling encourage children to use their hands in a variety of ways. Many parental demonstrations may be needed before babies are able to handle some of the more complicated manoeuvres, but once mastered, these toys provide hours of concentrated play.

Mainan untuk melatih ketrampilan tangan

Mainan yang perlu diputar, ditekan, ditarik, didorong, akan membantu anak untuk mengunakkan tangannya dalam berbagai cara. Orangtua perlu menunjukkan terlebih dulu sebelum anak dapat menangani mainan ini, tetapi sekali anak sudah dapat menguasainya, maka mainan jenis ini dapat mengasyikan anak selama berjam-jam.

Bath toys for water play

These teach many concepts, and allow the joy of water play without a mess all over the floor or furniture. The bathtub is also a good place for blowing bubbles – but you’ll probably have to do the blowing yourself for a while yet.

Mainan untuk kamar mandi

Mainan ini mengajari banyak konsep, dan menyediakan kegembiraan dari bermain air tanpa harus membasahi seluruh lantai atau meja-kursi. Bak mandi juga merupakan tempat yang baik untuk bermain gelembung – tetapi untuk sementara anda sendirilah yang harus membuatkan gelembung-gelembung ini.

Follow the leader play

Daddy starts clapping, then mummy. Baby is encouraged to follow suit. Then daddy flaps his arms, and mummy does, too. After a while, baby will follow the leader without prodding, and eventually will be able to take the lead.

Permainan mengikuti pemimpin

Ayah mulai bertepuk tangan, ibu mengikuti. Dan bayi diajak untuk mengikuti. Ibu melipat tangan, ayah juga mengikuti. Tidak lama kemudian, bayi akan mengikuti si pemimpin tanpa harus dipaksa dan akhirnya justru akan sanggup untuk memimpin permainan.

Books, magazines, anything with pictures

You can’t have a live horse, elephant, and lion in your living room – but you can have all of them, and more, visit your home in a book or magazine. Look at and read books with your baby several times durng the day. Each reading session will probably be short, maybe no more than a few minutes, because of your child’s limited attention span, but together they will build a firm foundation for later enjoyment of reading.

Buku, majahlah, dan segala sesuatu yang bergambar

Anda tentu tidak dapat menghadirkan kuda, gajah dan singa hidup di ruang keluarga anda – tetapi anda dapat menghadirkan mereka semua melalui buku atau majalah. Baca dan lihatlah buku bersama bayi anda beberapa kali sehari. Setiap kali mungkin hanya sebentar saja, mungkin tidak lebih dari beberapa minit, karena kemampuan pemusatan perhatian anak anda masih singkat, tetapi hal ini akan membangun kegemarannya untuk membaca kelak.

Materials for pretend play

Toy dishes, kitchen equipment, pretend food, play houses, trucks and cars, hats, grown-ups’ shoes, sofa cushions – almost anything can be magically transformed in an imaginative toddler’s world of make believe. This kind of play develops social skills as well as fine motor co-ordination (putting on and taking off clothing, scrambling eggs or cooking soup), creativity, and imagination.

Bahan untuk bermain pura-pura

Mainan piring, peralatan dapur, makanan, rumah, truk dan mobil, topi, sepatu, bantalan kursi – hampir segala sesuatu dapat secara ajaib diubah dalam imajinasi anak menjadi dunia menurut khayalnya. Permainan seperti ini dapat mengembangkan kemampuan sosialnya, juga koordinasi otot motorik kecilnya (melepas dan mengenakan baju, mengocok telur atau memasak sop), kreatifitas dan imajinasinya.

Space safe for supervised climbing

Babies love to climb steps (when you’re not supervising, a gate is a must), clamber up a slide (stay right behind, just in case), manoeuvre onto a low chair or on and off the bed. Let them – but stand by and be ready to come to the rescue if need be.

Tempat yang aman untuk belajar memanjat

Bayi biasanya sangat senang menaiki tangga loteng rumah (jika anda tidak dapat mengawasinya, maka mutlak diperlukan pagar pengaman), menaik tangga luncuran (tetaplah berada di belakangnya), menaiki kursi atau tempat tidur. Biarkan mereka melakukannya – tetapi berdirilah di dekatnya dan selalu siap untuk menyelamatkan jika diperlukan.

A varied environment

The baby who sees nothing but the inside of his or her own home, the family car, and the supermarket is going to be a very bored. There’s an exciting world outside the door, and your baby should see it daily. Even going out in the rain or snow (barring flooding and blizzard conditions) can be a learning experience. Give your baby a tour of area playgrounds, parks, or other busy areas with lots of people to see.

Lingkungan yang bervariasi

Bayi yang tidak pernah melihat apapun kecuali suasana di dalam rumahnya, interior mobilnya, dan toko yang sama, akan menjadi bayi yang sangat bosan. Ada dunia luas yang menakjubkan di luar pintu rumah, dan bayi anda harus melihatnya setiap hari. Bahkan pergi keluar pada saat hujan, dapat merupakan pengalaman belajar. Ajak bayi berkeliling taman bermain dan area yang sibuk di mana banyak orang untuk dilihat.

Applause

Cheer your baby on as new skills are mastered. Achievement, while satisfying, often means more when accompanied by recognition.

Pujian

Pujilah bayi anda ketika ia berhasil menguasai suatu ketrampilan. Keberhasilan, selain memuaskan, seringkali juga akan lebih berarti jika disertai pengakuan dari orangtuanya.

The excerpt is taken from a extract from a very popular book for new mothers called “What to Expect the First Year“*. This translation will help expat parents train their Indonesian maids/baby sitters to stimulate young children by giving them ideas and activities to help understand the developmental needs of toddlers.

I compiled this information because I was concerned that my Indonesian nanny just followed my son around when I was out and didn’t make many attempts to stimulate him in my absence. Since highlighting and discussing a variety of activities with my child minder, I now come home and find my son has been busy reading, playing with shape sorters, painting and/or drawing.

Andrea McVicar

*What to Expect The First Year. A. Eisenberg, H. Murkoff and S. Hathaway, 1997. Australian edition, pages
383-385. Bayi pada Tahun Pertama. A. Eisenberg, H. Murkoff and S. Hathaway. 1997 Bahasa Indonesia edition, pages 463-466.

Permainan Sesuai Usia

Jenis Permainan Sesuai Usia

0 – 3 BULAN

Pada minggu-minggu pertama kelahiran, ia dapat melihat suatu obyek dalam jarak pendek, kira-kira 25 cm. Kira-kira 1-2 bulan kemudian, ia mulai dapat mengenal wajah orang dan memberikan reaksi terhadap suara atau senyum.

Penelitian menunjukkan, bayi sangat tertarik melihat wajah manusia ketimbang benda lain. Wajah Anda adalah “mainan” pertamanya. Dekatkan wajah Anda saat menggendongnya atau saat duduk di depan boksnya. Tersenyumlah dan ajak ia bicara. Ia pasti senang.

Tentu saja ia juga perlu benda-benda lain untuk dilihat. Ini penting sebagai sumber utama rangsangan sebelum ia terampil memegang. Gambar- gambar yang jelas, terang, berwarna cerah, yang berkilau seperti silver foil, sangat disukainya. Beri ia cukup waktu untuk merespon sesuatu yang Anda tunjukkan padanya, karena reaksinya masih lambat.

Letakkan benda atau mainan dalam jarak pandang yang dapat dijangkaunya lalu gerakkan benda itu secara perlahan ke kiri dan kanan. Jika matanya tak bereaksi mengikuti gerakan, ia mungkin tak melihat. Sebab itu, pastikan dulu sampai ia kira-kira ada perhatian, baru benda itu digerakkan. Sesuatu yang bergerak dan berbunyi juga disukainya. Gantungkan di boksnya mainan yang bisa bergoyang/berputar dan mengeluarkan bunyi.

Sekitar usia 1-1,5 bulan, ia mulai dapat menghubungkan pendengaran dengan penglihatannya. Jika mendengar suara, ia mulai mencari sumber suara dengan matanya. Seperti penglihatan, ia pun lebih suka mendengar suara manusia, terutama suara ayah-ibunya. Di usia 2 bulan, ia mulai bereaksi dengan bermacam-macam suara. Berbicara, menyanyi, dan membacakan cerita anak-anak dengan berbagai irama akan sangat menyenangkannya.

Saat ganti popok juga bisa dijadikan kesempatan bermain dengannya. Gerak-gerakkan kakinya atau gelitik lembut telapak kakinya. Ia pasti suka. Begitu pun saat mandi, dininabobokan, dan lainnya.

Sentuhan dan usapan Anda di wajah dan seluruh tubuhnya, akan mengembangkan indera perabanya. Ini juga penting untuk mengembangkan rasa diterima dan menumbuhkan rasa percaya diri.

3 – 6 BULAN

Mulai usia 3 bulan, ia suka memiringkan badannya ke satu sisi saat berbaring. Rangsang ia dengan mainan berwarna mencolok atau berbunyi agar ia berusaha menjangkau mainan itu dengan tangannya yang di sebelah atas, sehingga badannya ikut bergerak. Dengan melakukan permainan ini berulang-ulang, akhirnya ia bisa tengkurap sendiri.

Sekitar usia 4 bulan, ia senang sekali bila digendong dalam posisi duduk. Usia 6 bulan, ia dapat duduk tanpa dibantu meski hanya beberapa menit. Dudukkan ia di atas kedua lutut Anda dan pegang kedua lengannya, lalu perlahan sentakkan ia ke atas dan ke bawah. Ia pasti gembira. Sepanjang usia ini, ia suka sekali menyentuh,
menggenggam, menggoyangkan dan menarik apa saja. Sediakan mainan yang ringan dan berwarna dengan ukuran pas untuk ia pegang dan genggam. Ia akan lebih suka jika mainannya itu juga bersuara dan taruh di dalam jarak yang bisa ia jangkau.

Beri mainan yang bersuara jika disentuh/ditendang, gantung rendah di boksnya agar kaki kecilnya bisa menendang mainan itu. Untuk mencegah kecelakaan, jangan lupa memindahkan mainan itu segera setelah ia terampil mengangkat kepala dan dadanya (sekitar usia 5 bulan).

Ia sangat menyukai orang-orang dan tertarik dengan gerak tubuh serta ekspresi wajah mereka. Bimbing tangannya yang mungil untuk menyentuh bagian-bagian tubuh Anda sambil menyebutkan nama-nama bagian tubuh itu. Permainan lain yang dapat Anda lakukan, pegang ia pada kedua ketiaknya dan ayunkan ke atas dengan gerakan lembut.

6 – 9 BULAN

Mulai usia 6 bulan, periode waktu bangunnya dalam satu waktu sekitar 2-3 jam, sehingga waktu bermainnya lebih panjang. Saat terjaga, ia tak mau lagi hanya berada dalam posisi tidur telentang. Ia pasti akan berguling dan berusaha duduk atau merangkak. Letakkan mainan kesukaannya dalam jarak tertentu untuk merangsangnya belajar merangkak.

Sekitar usia 8-9 bulan, ia dapat duduk tanpa dibantu, meski belum sepenuhnya dapat menguasai keseimbangan tubuhnya. Banyak bayi belajar duduk dan merangkak secara bersamaan. Umumnya, di usia 10 bulan ia sudah dapat duduk kokoh dan merangkak ke mana pun ia mau.

Di usia ini, ia praktis butuh lebih banyak permainan. Buatkan aneka mainan dari barang-barang yang tersedia di rumah, seperti cangkir plastik, boks sepatu, botol plastik, dan lainnya. Jika ia menolak sebuah mainan yang tak familiar (ini sering terjadi), letakkan di sampingnya dan coba lagi nanti. Beri tahu cara menggunakan sebuah mainan, tapi jangan dorong ia untuk bermain dengan cara yang “benar”
karena hanya akan membuatnya frustrasi.

Permainan tanpa alat seperti cilukba atau petak-umpet juga menyenangkannya. Ia akan tertawa gembira saat melihat wajah Anda kembali. Atau dudukkan ia di bahu Anda sehingga ia lebih tinggi daripada Anda. Ia akan gembira oleh pemandangan baru. Atau angkat ia tinggi-tinggi ke udara. Ia pasti senang.

9 – 12 BULAN

Setelah bisa duduk mantap, waktu mandi menjadi waktu bermain yang menyenangkan. Mainan seperti bebek, perahu, gelas dari plastik, bisa digunakan. Dapat juga Anda mengajaknya bermain di halaman dengan menggunakan ember berisi air. Ajak ia memercikkan air, menuangkan air dari gelas dan mengapungkan mainan. Ia pasti senang.

Bermain menangkap bola juga bisa dilakukan setelah ia dapat duduk. Duduklah berhadapan dengannya, lalu gelindingkan bola ke arahnya. Pasangan Anda atau anggota keluarga lain duduk di belakangnya, membantu ia menerima bola dan menggelindingkan kembali ke Anda. Pilih bola dari bahan ringan dengan warna menarik.

Di usia ini, ia senang menjatuhkan sesuatu mainan ke lantai dan Anda mengambilkannya, lalu ia menjatuhkannya lagi dan Anda kembali mengambilkannya. Tentu saja Anda perlu sabar. Karena permainan ini penting baginya untuk belajar mengerti bahwa jika ia menjatuhkan sesuatu, maka benda itu akan tetap berada di bawah. Beri ia benda-benda yang tak dapat pecah atau menggelinding jauh.

Ia pun menyukai permainan mengeluarkan dan memasukkan mainan dari dan ke dalam sebuah wadah. Boks (kardus atau boks plastik) dan beberapa balok warna-warni ukuran 5 cm bisa diberikan padanya. Setelah ia berhasil mengeluarkan semua balok-balok itu, ia akan memasukkannya kembali satu demi satu. Begitu terus berulang-ulang sampai ia puas.

Sekitar usia 10 bulan, ia mulai belajar berdiri. Sebulan kemudian, ia sudah bisa berdiri sendiri dengan berpegangan pada kursi atau tepi tempat tidur. Ini mendorongnya untuk belajar jalan. Acungkan mainan favoritnya untuk mendorongnya belajar berdiri tanpa berpegangan, atau tuntun kedua tangannya saat belajar jalan. Ia pasti senang.

Di usia ini, ia juga senang dinyanyikan, diceritai, dan dibacakan dongeng. Kebanyakan bayi menyenangi siaran radio dan TV dan melihat gambar-gambar. Khusus TV, sebaiknya Anda tak membiasakan ia sering “nonton” TV untuk menghindari kemungkinan ia kelak akan kecanduan nonton.