5 PERMAINAN MOTORIK HALUS

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Tak hanya motorik kasar, motorik halus pun perlu distimulasi. Supaya menyenangkan, lakukan sambil bermain.
MENGISI, MENUANG, MENCETAK
Bermain pasir bisa digunakan untuk menstimulasi motorik halus anak. Lakukan di pantai atau sediakan pasir bersih di sepetak bidang di halaman rumah. Jangan takut kotor, kenakan saja pakaian rumah yang tidak sayang untuk dikotori.
Manfaat:
Melatih kekuatan/keluwesan pergelangan tangan serta presisi.
Alat yang dibutuhkan:
Pasir bersih, sekop, ember, corong, aneka wadah.
Cara bermain:
* Biarkan anak mengisi embernya dengan pasir sampai penuh kemudian menuangnya dengan cara membalikkan ember. Lakukan sambil berseru, “Isi, isi embernya…lalu tuang…”
* Dengan pasir yang tersedia biarkan anak mencetak bentuk atau membentuk sendiri imajinasinya. Apakah itu gunung, benteng, dan sebagainya.
* Sambil mencetak, orangtua bisa menjelaskan pada anak nama-nama bentuk yang sedang dicetak, misalnya kura-kura, kotak, bunga dan sebagainya. Latihan ini sekaligus untuk menambah perbendaharaan katanya.
Yang harus diperhatikan:
* Pastikan kebersihan pasir. Serangga kecil, kotoran binatang atau benda-benda tajam seperti pecahan kaca bisa membahayakan anak.
* Ingatkan anak untuk tidak mengelap tangannya yang penuh pasir ke mulut, hidung atau mata. Karena dikhawatirkan pasir akan masuk ke bagian-bagian tersebut.
Setelah selesai bermain, cuci tangan hingga bersih dengan sabun, atau lebih baik lagi kalau langsung mandi sehingga badan lebih segar.
Selama tak digunakan, pasir di rumah harus ditutup agar tidak menjadi tempat kucing, anjing, atau ayam membuang kotoran.
MEMAKAI DAN MELEPAS PAKAIAN
Tanpa belajar pun sepertinya semua orang pada akhirnya bisa memakai/melepas pakaiannya sendiri. Meski demikian bukan berarti orangtua tak perlu melatih keterampilan ini. Selain mengasah motorik halus, memakai/melepas pakaian sendiri merupakan salah satu bentuk kemandirian anak.
Manfaat:
Melatih kemampuan jari-jemari, koordinasi mata dan tangan.
Alat yang dibutuhkan:
Baju berkancing besar, rok/celana karet, sepatu berperekat velcro, boneka dan pakaian perlengkapannya.
Cara bermain:
* Setelah mandi, biarkan anak mencoba memakai pakaiannya sendiri. Mulai dengan yang paling mudah seperti menaikkan/menurunkan celana/rok dengan ban karet.
* Setelah itu biarkan ia mencoba mengancingkan sendiri pakaiannya. Mulai dengan kancing yang besar-besar kemudian makin kecil.
* Bila kemampuan memakai pakaian sendiri sudah dikuasai, lanjutkan dengan memakai sepatu sendiri. Mulai dengan sepatu berperekat velcro.
* Latihan ini juga bisa dilakukan dengan menggunakan boneka besar yang pakaian/perlengkapannya bisa dilepas-pasang. Biarkan anak coba memakai dan melepaskannya. Untuk mudahnya berikan contoh terlebih dahulu bagaimana melakukannya.
Yang harus diperhatikan:
* Sebagai latihan awal berikan pakaian yang mudah dipakai/dilepas, seperti kaos longgar, celana/rok dengan ban karet.
* Di usia ini memakai/melepas pakaian sendiri termasuk belajar tahap awal. Jadi jangan terlalu memaksa anak, kalaupun belum bisa, biarkan ia terus mencoba.
MENYUSUN DAN MENYORTIR
Kegiatan menyusun dan menyortir selain melatih kemampuan motorik halus anak juga mengasah kepekaan dan fokus perhatian pada satu hal.
Manfaat:
Mengembangkan imajinasi, melatih kecerdasan logis-matematis, melatih presisi, melatih kemampuan mengelompokkan.
Alat yang dibutuhkan:
Balok kayu warna-warni dan bermacam bentuk.
Cara bermain:
* Minta anak menyusun balok berbentuk kubus ke atas, dari dari dua susun, lalu tiga susun dan seterusnya.
* Selanjutnya minta anak memasangkan balok berbentuk segitiga atau setengah lingkaran di bagian paling atas. Kalau masih berantakan dan balok yang disusun jatuh lagi, tetap semangati supaya mau terus mencoba.
* Setelah kemampuannya makin bertambah, biarkan anak berimajinasi membangun gedung, rumah, jembatan dan sebagainya.
* Minta anak menyortir/memisahkan balok berdasarkan bentuknya, misalnya kubus dengan kubus, segitiga dengan segitiga, dan seterusnya.
* Minta anak memisahkan/menyortir balok berdasarkan kelompok warna.
* Kegiatan menyortir juga bisa dilakukan dengan memberikan berbagai macam benda, seperti kancing baju, sendok, kayu, tutup gelas dan sebagainya. Ajari anak untuk mengelompokkannya/menyortir berdasar kriteria tertentu.
Yang harus diperhatikan:
Di usia ini kemampuan berjalan anak belum sempurna, untuk itu orangtua/pengasuh harus terus memantaunya. Jangan sampai anak menginjak/terpeleset salah satu balok yang sedang digunakan untuk bermain hingga jatuh.
MERONCE
Meronce merupakan salah satu stimulasi untuk mengasah kemampuan motorik halus anak.
Manfaat:
Melatih kemampuan jari-jemari. Latihan ini sekaligus bermanfaat sebagai dasar kemampuan memegang pensil.
Alat yang dibutuhkan:
Mainan ronce, tali sepatu/tali yang agak besar, roll bekas tisu.
Cara bermain:
* Kalau di rumah tersedia mainan ronce, ajari anak bagaimana cara memainkannya.
* Kalau tidak ada mainan ronce, gunakan tali sepatu/tali yang agak besar lalu masukkan ke dalam rol bekas gulungan tisu yang sudah dipotong-potong menggunakan cutter. Ronce sampai beberapa rol tersambung. Ikat kedua ujung tali, kalungkan di leher anak.
Yang harus diperhatikan:
* Supaya menarik, gambari/cat warna-warni rol bekas tisu.
* Setelah berhasil meronce rol bekas tisu yang besar, lanjutkan dengan meronce benda-benda yang lebih kecil.
MEMULUNG DAN MENJUMPUT
Anak pasti senang, saat orangtuanya memasak kue, ia ikut membantu menaburkan meises, kacang atau hiasan lainnya.
Manfaat:
Melatih kemampuan/kekuatan mengambil sesuatu hanya dengan dua jari.
Alat yang dibutuhkan:
Adonan kue, kismis, meises, kacang atau hiasan lainnya.
Cara bermain:
* Berikan sedikit sisa adonan kue untuk anak. Biarkan ia memulungnya dengan dua tangan.
* Setelah adonan dipulung, ajarkan menjumput kismis, meises, gula halus atau hiasan lainnya dan menaburkannya ke atas adonan.
* Kalau hiasan kue agak besar, seperti potongan kacang almond/mede, anak sekaligus bisa diajarkan berhitung dengan meletakkan masing-masing dua buah kacang pada tiap adonan.
* Setelah selesai, panggang kue hasil kreasinya dan biarkan anak menikmati.
Yang harus diperhatikan:
* Supaya mudah membersihkannya, alasi dengan plastik arena yang digunakan anak untuk memulung dan menghias kue.
* Kenakan celemek yang agak besar supaya bajunya tidak kotor.
* Pastikan bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi anak-anak.
Marfuah Panji Astuti/berbagai sumber.

Menggemaskan Gelak Tawa Yang begitu Menggemaskan

sumber : http://www.pkesinteraktif.com/content/view/1296/209/lang,id/

Selasa, 13 Mei 2008

Mengajak bayi tertawa tidak hanya akan membahagiakannya, tapi masih banyak lagi manfaatnya. Jadi yuk asah selera humornya!

”Ha…ha…Ma..ma, ha..hik..hik,” begitu tawa ceria Bagas (8 bulan) ketika melihat aksi ibunya yang menjadi sapi sedang makan rumput sambil menyepak-nyepakkan kakinya. Waktu bermain dengan Bagas adalah saat yang begitu membahagiakan bagi Retno, sang ibu. Ia betah berlama-lama menghabiskan waktu bersama si kecil.

Soal ide yang bisa bikin Bagas tertawa, Retno memang jagonya. Dari bermain boneka tangan, meniru tingkah laku hewan hingga memberikan ekspresi muka yang aneh-aneh. Untuk itu ia rela melakukan apa saja, pura-pura berwajah cemberut, bersungut, atau menjadi nenek ompong yang bicaranya aneh.

Sayangnya, Retno jarang mengajak Irwan, sang suami ikut serta. Keruan saja Irwan jadi merasa “terganggu”. Tawa dan ekspresi Retno dan Bagas yang sangat lepas dan tampak bahagia, membuatnya sedikit cemburu. Ia sempat bepikir, apa sih pentingnya gelak tawa seperti itu? Demi menebus rasa penasarannya, Irwan mencari tahu manfaat tertawa bagi bayi dengan surfing di dunia maya. Ternyata hasilnya tidak sia-sia. Seorang psikolog Inggris, Richard Smale dari Bournemouth University menyatakan banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan mengembangkan rasa humor pada bayi. Di antaranya, membantu perkembangan fisik bayi karena pada saat bayi tertawa paru-parunya akan mengembang dan menyerap oksigen lebih banyak. Hal ini dapat menstabilkan tekanan darahnya.

Masih merasa penasaran, Irwan pun menghubungi sahabatnya yang juga seorang psikolog di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Indri Savitri, MSi. Menurut Indri, selain berdampak positif untuk perkembangan fisiknya, mengajak bayi tertawa juga bermanfaat untuk perkembangan emosinya. Si kecil akan lebih mampu mengungkapkan emosinya dalam merespons lingkungan. Katakanlah, ia akan langsung tertawa kala melihat boneka tangan lucu yang dimainkan oleh mamanya atau bayi mau tersenyum meskipun yang menyapanya belum ia kenal.

”Kegiatan bersama yang penuh tawa dan canda ini juga mampu mendekatkan hubungan antara bayi dengan sosok yang sering mengajaknya bercanda. Kehangatan juga terbentuk sehingga menciptakan rasa nyaman dan aman bagi bayi. Ini sangat bermanfaat untuk perkembangan emosinya kelak. Bayi yang memiliki perkembangan emosi yang baik, umumnya akan tumbuh menjadi anak yang kreatif,” tutur Indri.

”Oh..pantas Retno rela berlama-lama menghabiskan waktunya untuk tertawa dan bermain bersama Bagas,” gumam Irwan. Indri yang sempat mendengarnya langsung menegaskan, ”Kamu jangan mau ketinggalan dong. Luangkan waktu untuk tertawa bersama Bagas. Enggak perlu seharian seperti istrimu, tapi sempatkan waktu secara rutin setiap harinya. Asyik, kan bisa semakin dekat sama anak sekaligus juga memberi stimulasi.”

”Tapi bagaimana cara membuat Bagas tertawa, dia kan masih bayi?,” tanya Irwan. ”Caranya enggak sesulit yang kamu bayangkan kok. Nih, aku bikinin kegiatan yang bisa dilakukan orangtua sesuai dengan tahapan perkembangan bayi ya,” ucap Indri.

MEMBUAT BAYI TERTAWA

Indri pun mengambil secarik kertas dan membuat catatan ringkas tentang stimulasi yang dapat dilakukan sesuai dengan tahapan perkembangan bayi.

* Usia 0– 6 bulan

Bayi mulai senyum sosial pada usia 6 minggu. Mulai mengenali orang-orang yang sering berada di dekatnya, seperti ayah, ibu dan pengasuhnya. Ia pun mulai melemparkan senyum kepada orang yang sering dilihatnya tersebut. Reaksi gembira yang diikuti dengan tertawa keras mulai mampu dilakukan pada usia 3–4 bulan. Ini berkaitan dengan pita suaranya yang semakin kuat. Di rentang usia ini, bayi juga mulai mengekspresikan rasa gembiranya dengan teriakan seperti ”aaaaa” dan gerakan tubuh. Contoh, dengan menggerak-gerakkan tangan, menggoyang-goyangkan kepala dan tubuhnya ketika sedang duduk. Selera humor bayi 0-6 bulan masih terbatas pada suara-suara yang aneh atau gerakan yang dilakukan dengan berulang-ulang.

Stimulasi:

* Lakukan permainan petak umpet, caranya cukup sederhana, misalnya dengan bersembunyi di balik boks, sambil mengucapkan, ”Ayo cari papa, Sayang…” Diamlah sesaat di tempat itu, baru kemudian munculkan wajah dengan mimik gembira sambil berteriak, “Hai, aku di sini!” Teriakannya jangan terlalu keras ya karena justru dapat membuat bayi kaget dan menangis.

* Permainan tangkap sembunyi. Ibu/bapak menyembunyikan boneka, Teddy Bear, misalnya, di bawah selimut. Lantas tarik boneka tersebut dan angkat tinggi-tinggi. Jangan lupa tampilkan ekspresi gembira dengan tersenyum lebar. “Ooh…si Teddy Bear sudah kembali. Mau main sama Adek.”

* Gerakan memukul guling atau bantal sambil diiringi suara lucu. Umpama, mengajak bayi memukul “drum” batal/guling sambil menirukan suara drum, “Dum-dum…”

* Ciptakan permainan yang lucu dengan boneka tangan. Contoh, “Mbeeek…..kambing mau mencari rumput dulu. Ah, lapar nih…Nyam, nyam…” Lakukan dengan menggunakan suara aneh dan lucu.

* Usia 6–12 bulan

Bayi mulai melakukan kontak emosi dengan orang di sekitarnya. Bila ada yang mengajaknya bicara dan mengelitik tubuhnya, ia akan tertawa. Memasuki usia 8–9 bulan –saat kemampuan motoriknya semakin baik— reaksi gembiranya akan kerap diiringi dengan gerakan tubuh. Umpama, menggoyangkan kepala dan badannya sambil diiringi babbling (pengulangan), misalnya “wa…wa”. Pada rentang ini, bayi cenderung menyukai humor yang slapstick. Contoh, gerakan kita yang pura-pura terpeleset atau seolah-olah ingin menangkapnya.

Stimulasi:

* Gelitiklah telapak tangan atau kakinya dengan ujung jari tangan kita. Pasti itu akan mengundang tawa riangnya.

* Lakukan permainan interaktif, seperti cilukba, dengan ekpresi yang riang gembira.

* Tariklah bibir kita lalu cobalah bersuara maka akan terdengar suara yang aneh yang akan mengundang tawa bayi.

* Melakukan gerakan meniru. Contoh, gerakan kakek yang sedang berjalan dengan posisi bungkuk sambil menggunakan tongkat.

* Melakukan gerakan tiba-tiba seperti mau menangkap si bayi. Umumnya si kecil akan geli melihat kita melakukan itu.

* Buatlah boneka yang sedemikian rupa dapat menjulurkan lidahnya. Biarkan bayi menggerakkan tangannya untuk menarik lidah boneka tersebut. Lihatlah ekspresinya yang terkekeh-kekeh saat melihat lidah yang tiba-tiba menjulur keluar itu.

* Menirukan berbagai gerakan binatang yang lucu sambil melakukan atraksi konyol. Umpama. kuda yang sedang berjalan lalu tiba-tiba meloncat-loncat dengan mengangkat kaki diiringi suara ringkikan yang keras.

YANG HARUS DIPERHATIKAN

”Silakan dibaca baik-baik dan dipraktikkan ya… Tapi, ini bukanlah sesuatu yang baku. Kamu bisa kreasikan sendiri sesuai kemampuan dan kondisi Bagas,” saran Indri sambil menyerahkan catatannya. “Namun, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan ketika memberikan stimulasi kepada bayi. Jangan sampai bayi tertawa berlebihan. Contoh, sampai teriak keras-keras atau guling-gulingan yang buntutnya malah membuatnya marah atau menangis. Bila sudah mencapai tahap itu, segera hentikan guyonan dan tenangkan bayi. Terlalu banyak tertawa juga dikhawatirkan malah bisa mengundang muntah, atau malah terbawa hingga tidur dan membuat tidurnya tidak tenang.

”Kalau waktu memberikan stimulasi, kapan waktu yang paling tepat? Sepertinya, Retno tidak mengenal waktu. Kadang pagi, siang, sore. Apakah memang bebas?” tanya Irwan penuh rasa ingin tahu. ”Untuk waktu sebenarnya bebas. Namun sebaiknya, pilih waktu ketika anak sedang tenang dan kenyang atau siaga menerima rangsangan, alias sedang tidak mengantuk. Bila belum makan berikan makan terlebih dahulu. Kira-kira 15 menit kemudian, baru diberikan stimulasi. Pilihlah waktu di luar jam tidur si bayi.

Hal lain yang patut diperhatikan pula adalah temperamen bayi. Untuk bayi yang tergolong memiliki temperamen mudah, biasanya tidak sulit untuk memberinya stimulasi. Kalau hari ini berhasil, dijamin besok juga akan berhasil. Tapi, bayi sulit (difficult baby) dan “lama panas” (slow to warm up) sulit diprediksi. Bisa hari ini berhasil, besok gagal. Untuk itu orangtua harus sabar dan sedikit menurunkan intensitasnya bila dirasa gagal,” papar Indri panjang lebar.

”Wow… banyak sekali ilmu yang aku dapat nih. Aku janji deh, akan mencobanya. Aku mau tunjukkan ke Retno kalau aku juga mampu menjalin kedekatan dengan Bagas. Trims ya..,” kata Irwan menutup obrolan di sore yang cerah itu.

Sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Utami Sri Rahayu.

Main, Yuk!

Tujuh puluh persen perkembangan otak pada anak tiga tahun pertamanya bisa dioptimalkan dengan bermain.
Tutup botol minum sudah cukup membuat Ando sibuk. Diguling-gulingkannya ke kiri dan ke kanan. `’Gheeaa!” teriak riang bocah berumur setengah tahun itu.
Sungguh, tak usah repot memikirkan mainan untuk bayi! Botol minum botolnya sendiri pun bisa menghibur. Tak harus beli, dan, `’Kalau si anak mempunyai bawaan dari dalam kandungan sudah pintar, ia bisa menghadapi situasi yang dihadapi, dia akan mencari sendiri yang ada di lingkungannya, seperti memainkan tangannya sendiri, memainkan ludah, dan lain-lain,”tutur psikolog dari SMF Kesehatan Anak RS Dr Sardjito/Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Dwi Susilowati Spsi.
Berdasarkan teori psikolog dari Swiss, Piaget, bayi pada usia di bawah satu tahun sedang mengembangkan sensorik dan motorik. Perkembangan sensoriknya berhubungan dengan pancaindra (penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, penciuman). Di sisi lain, perkembangan motorik alias gerak seorang anak mengikuti tahapan-tahapan, misalnya: mulai usia 5 bulan anak sudah bisa belajar duduk sendiri; usia 6 bulan sudah mulai tumbuh gigi, sehingga ia merasakan gatal dan ingin memasukkan benda ke dalam mulut; memasuki usia 7 bulan anak sudah mulai merangkak.
Tujuh puluh persen
Lalu, bagaimana mengetahui mainan dan permainan yang dibutuhkan anak? Kiki, begitu sapaan Dwi Susilowati, menyarankan para orang tua untuk mengetahui dulu perkembangan anak dari sisi aspek perkembangan fisik, perkembangan kognitif (cara berpikir atau cara mencari pemecahan), perkembangan emosi, perkembangan sosial, dan perkembangan motoriknya. Dari situ barulah bisa menentukan permainan yang cocok untuk si kecil. ”Intinya dalam memberikan mainan itu untuk mengoptimalkan. Perkembangan otak anak tiga tahun pertama itu sebesar 70 persen bisa dioptimalkan dengan mainan,”ungkap Kiki.
Yang pasti, jelas dia, permainan anak di bawah satu tahun itu lebih sederhana dan lebih sedikit. Ia mengutip pendapat Piaget bahwa untuk mengoptimalkan sensorik dan motorik pada anak di bawah satu tahun, kita berpegangan dari tubuh si anak.
Untuk mengoptimalkan pemahaman tentang tubuh, misalnya, biasanya bayi itu terlentang. Bayi suka kaki menaikkan dan tangan, bahkan anak yang lebih fleksibel memasukkan kakinya ke bagian jari-jari tangannya. Peran orang tua, jelas Kiki, adalah mengoptimalkannya sambil memberi stimulasi perkembangan berbicara. `’Misalnya, ‘Iya, ini kaki adik, ada lima jari, sama dengan jari tangan’,” ujarnya, mencontohkan.
Berkaitan dengan perkembangan pendengaran, anak pada usia di bawah satu tahun suka membuang mainan. Tapi, Ayah dan Ibu tak perlu kesal. `’Ini bukan karena tidak suka dengan mainannya,” kata Kiki. Apa sebenarnya yang terjadi? Kegiatan membuang-buang mainan sebenarnya dilakukan karena anak melihat akibat dari perbuatannya. Misalnya, bila menjatuhkan tutup gelas dan berbunyi, si kecil senang pada bunyi yang ditimbulkan. Akibat, kegiatan menjatuhkan tutup gelas pun dilakukan berulang kali. `’Karena itu orang tua jangan langsung melarang anak yang berulang-ulang menjatuhkan tutup gelas tersebut.”
Karena itu, Kiki menyarankan orang tua agar memberikan mainan itu berwarna cerah, juga mengeluarkan bunyi. Perhatikan juga permukaan lapisan benda. Pilihlah yang bisa menstimulasi perabaan tangan dan kaki. Misalnya, bola polos dan bola yang bergerigi lembut. Kedua bola itu secara bergantian dialurkan dari ujung jari tangan kemudian ke seluruh badannya. Dengan cara itu bayi akan belajar ada permukaan yang halus dan kasar. `’Kalau dia hanya diberi benda-benda yang permukaan halus saja, dia tidak kaya wawasannya dalam mengenal lingkungan dengan rabaan,” jelas Kiki.
Sebuah, satu waktu
Mainan untuk anak di bawah usia satu tahun pun tidak harus dibeli, bahkan, dianjurkan yang ada di rumah. Sebenarnya benda-benda di dalam rumah sangat banyak yang bisa digunakan seperti, sendok, gelas plastik, karpet, dan lain-lain. Yang penting sederhana dan edukatif, karena ini bisa merangsang cara berpikir dan belajar anak. ”Dengan permainan itu memang bisa merangsang kecerdasan,” kata Kiki.
Untuk anak usia amat muda ini, perhatian utama terletak pada bentuk fisik mainan. Ia menjelaskan, pandangan bayi cenderung tidak bisa terlalu jauh, sehingga mainan harus didekatkan. Selain itu, anak terbiasa mengenal lingkungan sesuai dengan perkembangan sensor motorik dengan memasukkan ke mulut, maka mainannya pun jangan terlalu kecil, ukurannya lebih besar dari mulut si anak, tetapi masih bisa direngkuh dengan tangan anak, tidak mempunyai sudut-sudut yang tajam.
Contoh mainan anak di bawah satu tahun, Kiki menyebut, mainan berbentuk lingkaran, bulatan, segi empat, segi tiga. Bahannya, pilihlah yang aman, lebih baik memakai plastik sehingga mudah dibersihkan; tidak memakai cat, kalaupun dengan cat tidak mengandung racun. Pilihlah warna yang kontras seperti kuning, hijau merah dan setipe.
”Anak perlu belajar satu warna, satu benda, tidak terlalu kompleks gambarnya. Kalau terlalu kompleks anak belum mampu untuk merespons dan akan mengalami kebingungan,” kata Kiki. Biasanya, jelas dia, disarankan untuk bayi di bawah enam bulan permainannya cukup satu buah untuk satu waktu, sekitar 5-10 menit, baru berganti mainan yang lain. Hal ini untuk meningkatkan proses pembiasaan dan anak bisa mengoptimalkan apa yang dia hadapi.
Dalam memilih permainan untuk anak-anak di bawah satu tahun harus memperhatikan keamanan anak, kemampuan anak, kondisi fisik si anak dan kematangan jari jemarinya. Bagaimana mainan yang menggunakan baterai? Menurut Kiki, mainan yang dikontrol dengan baterai terlalu kompleks untuk anak di bawah satu tahun. Selain itu, permainan seperti itu tidak begitu merangsang kemampuan anak untuk belajar. Misalnya, robot-robotan yang dijalankan dengan baterai, anak hanya tahu ternyata robot itu bisa jalan.
Tetapi bila diberi bola, anak bisa memainkannya dengan berbagai cara seperti digulingkan, dilempar, diraba-raba. Jadi, Kiki menambahkan, dalam memberikan permainan kepada anak di bawah satu tahun itu yang terpenting justru kreativitas si pengasuh, orang tua dan orang-orang di sekitar si anak. Kiki melihat orang tua yang bekerja secara tidak sadar untuk mengurangi rasa bersalahnya, sering membelikan berbagai mainan untuk si anak. Akibatnya, mainan yang diberikan kepada anak itu sering mubazir, karena tidak sesuai dengan perkembangan si anak. `’Padahal yang terpenting dibutuhkan anak itu adalah kehadiran orang tua untuk bermain bersama si anak,” katanya. (nri )

Rangsangan Keamajuan Pada Anak

• Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas – (Creative materials)
• Mengambil dan meletakkan mainain – (Putting and taking toys)
• Memilih bentuk – (Shape sorters)
• Mainan untuk melatih ketrampilan tangan – (Dexterity toys)
• Mainan untuk kamar mandi – (Bath toys for water play)
• Permainan mengikuti pemimpin – (Follow the leader play)
• Buku, majahlah, dan segala sesuatu yang bergambar – (Books, magazines, anything with pictures)
• Bahan untuk bermain pura-pura – (Materials for pretend play)
• Tempat yang aman untuk belajar memanjat – (Space safe for supervised climbing)
• Lingkungan yang bervariasi – (A varied environment)
• Pujian – (Applause)

First words. First steps. With these two feathers in the toddler’s cap, or nearly so, the learning game becomes more exciting than ever before. The world is growing by leaps and bounds; give your toddler a chance to explore and learn about it, and promote his or her continued physical, social, intellectual, and emotional development, by offering the following:
Dengan adanya kata-kata pertama, langkah-langkah pertama yang dapat dilakukan oleh anak, maka permainan belajar akan lebih menyenangkan. Beri kesempatan pada anak anda untuk menjelajahi dan belajar tenang junia dan kemajuannya, dan bentulah kemajuan fisik, sosial, intelektual dan emosionalnya, dengan menawarkan beberapa hal berikut:

Creative materials
Scribbling with crayons provides tremendous satisfaction for many babies. Taping the paper to a table, the floor, or an easel will keep it from sliding all over, and confiscating the crayons as soon as they are applied where they shouldn’t be or if baby decides to chew on one will help tech their proper use. Don’t allow pens and pencils, except under close supervision, since the sharp points can spell disaster if baby falls on either one. Finger painting can be fun for some, while others are uncomfortable with muddy fingers that are an occupational hazard of the art. Although hand washing demonstrates that the condition is only temporary, some children continue resisting the medium. Musical toys can be fun, too. Baby can also learn to improvise musically, with a wooden or metal spoon on a pot bottom, for instance, if you demonstrate first. Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas
Mencoret-coret dengan crayon adalah kegiatan yang sangat memuaskan bagi banyak anak. Rekatkan kertas pada alas meja, lantai, atau alas lainnya agar kertas tidak menggeser ketika dicoreti, dan singkirkan crayon segera setelah crayon disalah-gunakan untuk mencoret bagian yang tidak boleh dicoret atau jika bayi memasukkan crayon ke dalam mulutnya, hal ini akan membantu mereka untuk menggunakkannya dengan benar. Jangan biarkan mereka menggunakkan pensil dan pena, kecuali di bawah pengawasan yang ketat, karena ujung yang tajam dapat membahayakan. Melukis dengan menggunakan jari dapat menyenangkan bagi beberapa anak, tetapi ada juga anak yang merasa tidak senang dengan tangan yang ‘terkotori’ cat. Meskipun cuci tangan dapat menunjukkan pada anak bahwa kotor tersebut hanya bersifat sementara, beberapa anak tetap tidak mau menggunakan bahan tersebut. Mainan yang bermusik juga dapat menyenangkan. Bayi juga dapat belajar meningkatkan kemampuan musiknya, misalyna dengan memukulkan sendok kayu atau logam pada panci, jika anda memberi contoh terlebih dulu.
Putting and taking toys
Babies love to put things in and take them out although the latter skill develops before the former. You can buy putting-and-taking toys, or just use objects around the house such as empty boxes, wooden spoons, measuring cups, paper cups and plates, and napkins. Fill a basket with a variety of small items (but not small enough for baby to mouth and choke on) for starters. Be ready to do most of the putting in until baby becomes much more proficient. Sand and water allow for putting in and taking out in the form of pouring – and most toddlers love both materials but they require constant supervision. Mengambil dan meletakkan mainain
Bayi umumnya senang sekali mengeluarkan dan memasukkan mainan. Meskipun ketrampilan mengeluarkan barang akan terjadi lebih dulu daripada memasukkan. Anda dapat membeli mainan khusus yang dapat dikeluarkan dan dimasukkan, tetapi anda juga dapat menggunakan kotak bekas yang kosong, sendok kayu, cangkir plastik atau kertas, dan lap. Isi sebuah keranjang dengan berbagai benda kecil (tetapi tidak terlalu kecil sehingga dapat masuk ke mulut bayi dan membuat bayi tersedak). Bersiaplah bahwa pada mulanya anda sendiri yang harus sering memasukkan kembali benda-benda tersebut, sampai bayi sudah lebih mahir. Anda juga dapat menggunakan pasir dan air untuk latihan menuang – bayi biasanya menyukai kedua bahan ini, tetapi diperlukan pengawasan yang ketat.

Shape sorters
Usually long before babies can say circle, square or triangle, they have learned to recognize these shapes and can put them in the proper opening in a shape-sorter toy. These toys also teach manual dexterity and, in some cases, colours. Be aware, however, that baby may need many demonstrations and much assistance before mastery of shape sorters is achieved. Memilih bentuk
Biasanya lama sebelum bayi dapat mengatakan lingkaran, persegi, atau segitiga, mereka sudah belajar mengenal bentuk-bentuk ini dan dapat meletakkan mereka ke tempat/lubang yang tepat pada mainan pemilihan bentuk. Mainan jenis ini juga melatih ketrampilan tangan, dan warna. Tetapi, perlu disadari bahwa bayi perlu banyak diajari dan diberi contoh sebelum ia dapat menguasai mainan pemilihan bentuk ini.
Dexterity Toys
Toys that require turning, twisting, pushing, pressing, and pulling encourage children to use their hands in a variety of ways. Many parental demonstrations may be needed before babies are able to handle some of the more complicated manoeuvres, but once mastered, these toys provide hours of concentrated play. Mainan untuk melatih ketrampilan tangan
Mainan yang perlu diputar, ditekan, ditarik, didorong, akan membantu anak untuk mengunakkan tangannya dalam berbagai cara. Orangtua perlu menunjukkan terlebih dulu sebelum anak dapat menangani mainan ini, tetapi sekali anak sudah dapat menguasainya, maka mainan jenis ini dapat mengasyikan anak selama berjam-jam.
Bath toys for water play
These teach many concepts, and allow the joy of water play without a mess all over the floor or furniture. The bathtub is also a good place for blowing bubbles – but you’ll probably have to do the blowing yourself for a while yet. Mainan untuk kamar mandi
Mainan ini mengajari banyak konsep, dan menyediakan kegembiraan dari bermain air tanpa harus membasahi seluruh lantai atau meja-kursi. Bak mandi juga merupakan tempat yang baik untuk bermain gelembung – tetapi untuk sementara anda sendirilah yang harus membuatkan gelembung-gelembung ini.
Follow the leader play
Daddy starts clapping, then mummy. Baby is encouraged to follow suit. Then daddy flaps his arms, and mummy does, too. After a while, baby will follow the leader without prodding, and eventually will be able to take the lead. Permainan mengikuti pemimpin
Ayah mulai bertepuk tangan, ibu mengikuti. Dan bayi diajak untuk mengikuti. Ibu melipat tangan, ayah juga mengikuti. Tidak lama kemudian, bayi akan mengikuti si pemimpin tanpa harus dipaksa dan akhirnya justru akan sanggup untuk memimpin permainan.
Books, magazines, anything with pictures
You can’t have a live horse, elephant, and lion in your living room – but you can have all of them, and more, visit your home in a book or magazine. Look at and read books with your baby several times durng the day. Each reading session will probably be short, maybe no more than a few minutes, because of your child’s limited attention span, but together they will build a firm foundation for later enjoyment of reading. Buku, majahlah, dan segala sesuatu yang bergambar
Anda tentu tidak dapat menghadirkan kuda, gajah dan singa hidup di ruang keluarga anda – tetapi anda dapat menghadirkan mereka semua melalui buku atau majalah. Baca dan lihatlah buku bersama bayi anda beberapa kali sehari. Setiap kali mungkin hanya sebentar saja, mungkin tidak lebih dari beberapa minit, karena kemampuan pemusatan perhatian anak anda masih singkat, tetapi hal ini akan membangun kegemarannya untuk membaca kelak.

Materials for pretend play
Toy dishes, kitchen equipment, pretend food, play houses, trucks and cars, hats, grown-ups’ shoes, sofa cushions – almost anything can be magically transformed in an imaginative toddler’s world of make believe. This kind of play develops social skills as well as fine motor co-ordination (putting on and taking off clothing, scrambling eggs or cooking soup), creativity, and imagination. Bahan untuk bermain pura-pura
Mainan piring, peralatan dapur, makanan, rumah, truk dan mobil, topi, sepatu, bantalan kursi – hampir segala sesuatu dapat secara ajaib diubah dalam imajinasi anak menjadi dunia menurut khayalnya. Permainan seperti ini dapat mengembangkan kemampuan sosialnya, juga koordinasi otot motorik kecilnya (melepas dan mengenakan baju, mengocok telur atau memasak sop), kreatifitas dan imajinasinya.
Space safe for supervised climbing
Babies love to climb steps (when you’re not supervising, a gate is a must), clamber up a slide (stay right behind, just in case), manoeuvre onto a low chair or on and off the bed. Let them – but stand by and be ready to come to the rescue if need be. Tempat yang aman untuk belajar memanjat
Bayi biasanya sangat senang menaiki tangga loteng rumah (jika anda tidak dapat mengawasinya, maka mutlak diperlukan pagar pengaman), menaik tangga luncuran (tetaplah berada di belakangnya), menaiki kursi atau tempat tidur. Biarkan mereka melakukannya – tetapi berdirilah di dekatnya dan selalu siap untuk menyelamatkan jika diperlukan.
A varied environment
The baby who sees nothing but the inside of his or her own home, the family car, and the supermarket is going to be a very bored. There’s an exciting world outside the door, and your baby should see it daily. Even going out in the rain or snow (barring flooding and blizzard conditions) can be a learning experience. Give your baby a tour of area playgrounds, parks, or other busy areas with lots of people to see. Lingkungan yang bervariasi
Bayi yang tidak pernah melihat apapun kecuali suasana di dalam rumahnya, interior mobilnya, dan toko yang sama, akan menjadi bayi yang sangat bosan. Ada dunia luas yang menakjubkan di luar pintu rumah, dan bayi anda harus melihatnya setiap hari. Bahkan pergi keluar pada saat hujan, dapat merupakan pengalaman belajar. Ajak bayi berkeliling taman bermain dan area yang sibuk di mana banyak orang untuk dilihat.
Applause
Cheer your baby on as new skills are mastered. Achievement, while satisfying, often means more when accompanied by recognition. Pujian
Pujilah bayi anda ketika ia berhasil menguasai suatu ketrampilan. Keberhasilan, selain memuaskan, seringkali juga akan lebih berarti jika disertai pengakuan dari orangtuanya.

The excerpt is taken from a extract from a very popular book for new mothers called “What to Expect the First Year”*. This translation will help expat parents train their Indonesian maids/baby sitters to stimulate young children by giving them ideas and activities to help understand the developmental needs of toddlers.
I compiled this information because I was concerned that my Indonesian nanny just followed my son around when I was out and didn’t make many attempts to stimulate him in my absence. Since highlighting and discussing a variety of activities with my child minder, I now come home and find my son has been busy reading, playing with shape sorters, painting and/or drawing.
Andrea McVicar
*What to Expect The First Year. A. Eisenberg, H. Murkoff and S. Hathaway, 1997. Australian edition, pages
383-385. Bayi pada Tahun Pertama. A. Eisenberg, H. Murkoff and S. Hathaway. 1997 Bahasa Indonesia edition, pages 463-466.

Q & A Keranjingan main play station

Question : Dear Dr. Wati, Moderators & Sp’s,
Saya mau sharing dan sebenarnya ini titipan pertanyaan dari suami sayamengenai keponakannya.
Namanya Ghifari usia 3 tahun, sebenarnya ibunya sudah memasukkannya diplaygroup dekat rumahnya. Tapi, kegemarannya main play station yangmembuatnya tidak sekolah lagi. Sebenarnya sih bukannya anaknya yangtidak mau, tapi karena setiap hari kalau bangun bisa sampai jam 02 siangkarena malamnya si anak main play station sampai jam 2 pagi. Kakak iparsaya justru membiarkan anaknya terus menikmati play station-nya, bahkanbila ada update cd mainan terbaru pasti dibelikan.
Sebenarnya saya, kakak-kakak yang lain bahkan mertua saya sudahmengingatkan agar adanya pembatasan dalam bermain, tapi ibunyaberpendapat ‘yang penting anak diam dan tidak main-main keluar yangberbahaya bagi dirinya’.
Sebenarnya si ibunya juga sudah berusaha tapi mungkin kurang dapatdukungan dari suami. Kebetulan si ibu juga sangat sibuk dan jam pulangkerjanya tidak menemtu, bahkan bisa sampai pagi buta (si ibu bekerja disalah satu stasiun tv swasta di jakarta).
Dari sisi psikologinya apa yang akan terjadi pada si anak bila halseperti ini dibiarkan terus?
Mungkin ada Sp’s yang bisa kasih input, pengalaman dan saran-saran apayang musti saya lakukan atau ibu dari si anak agar bisa men-stop ataupaling tidak meminimalisir keranjingannya dalam bermain play station.
Terima kasih…
Umminya Akbar & Aisha

Answer 1 : Dear Ummi Akbar & Aisyah,
Mungkin saya sedikit membantu masalah keponakan suami Mbak yang sepertinyasudah “keranjingan” main play station., sama seperti yang terjadi dengankeponakan saya.
Coba perlahan dibatasi mainnya, atau belajar disiplin hanya dalam jamtertentu dia boleh main PS .Kalo perlu peralatannya disembunyikan dulu dan baru diberikan kalo sudahbelajar (mengerjakan PR).
Kalo saya sendiri , sampai sekarang saya dan suami tidak berkeinginanmembelikan PS karena memang telah banyak contoh dimana anaknya begitu”keranjingannya” dengan PS. Walaupun dengan merengek minta dibelikan ,sampai saat ini kami tidak memenuhinya, tetapi dengan kesabaran memberikanpengertian padanya kita coba untuk mengalihkan kemauannya tsb, denganmemberinya komputer mainan. Dan alhamdulillah berhasil.
Semoga bisa membantu.

Salam,Rani

Answer 2 : dear mbak endah
sharing yaa,,, dulu pernah anak kakak ipar saya ngalamin masa “keranjinganPS”,,, jalan terakhir sih kakak ipar saya “ngebuang” PS itu dari rumahnya,termasuk kaset2 PS nya,, (alesan ke anaknya PSnya rusak, mamah blum adauang utk beli lagi,,,,,) dan di alihkan ke kegiatan / mainan lain yg gakganggu jam istirahat / belajar dia,,, memang gak cespleng, anaknya ngambekberat, tp gak lama, dia udah seneng sama maenan barunya,, lupa tuh !
maaf jika tipsnya tdk banyak membantu
henny[ibunya audrey]

Answer 3 : Pengalaman saya:
Main PS buat kedua anak saya, hanya setiap hari sabtupulang sekolah dan hari minggu atau ada hari libur.Itupun harus ada waktunya, tidak dibiarkan mainsekehendak hatinya, karena anak saya 2, jadi harusgiliran mainnya atau terserah mereka mau mainbersama-sama, yg penting mereka sudah punya jatahwaktu masing2. Hari Minggu batas main hanya sampai jam2siang setelah itu tidak boleh main PS, setelah jam2siang istirahat siang sampai sore, kemudian kembalike jadwal belajar spt biasanya. Hari sabtu atau jikaesok hari hari libur batas mainnya sampai jam 7malam.Jika hari minggu atau hari libur, waktu main sayatetapkan jam istirahat dengan alasan mata harusistirahat juga PSnya harus istirahat spy PS tdk cepatrusak. Selebihnya mereka boleh nonton TV atau mainanlainnyaJika anak saya ada nilai jelek/kurang, sy akanmenghukum dengan tidak melarang main PS, itukonsekuensinya.Saya jelaskan pada anak2 bahwa PS hanya hiburan bukansuatu keharusan, krn PS tidak akan pernah membantumendapat nilai bagus justru sebaliknya.Jelas, komitmen ortu yg berperan buat si anak, danortu jangan bosan2 memberikan pengertian.Buat saya PS sangat mengganggu konsentrasi anak jikatidak dikontrol dengan baik, karena PS bisa membuat sianak kecanduan jika tidak diatur dan diberipengarahan.Apalagi anak baru usia 3th sebaiknya segera ditatakembali jam mainnya krn jika sdh biasa main PS sejakusia 3th akan susah menatanya kemudian hari, ygkesulitan ya ortu juga.
Semoga pengalaman saya membantu,
kathy

Answer 4 : Sekedar sharing juga,
Anak kakak ipar saya yang juga keranjingan PS, begitu PSnya diumpetin, eehh… dia main di tempat penyewaan PS.
Cheers,- Vita –

sumber : http://www.sehatgroup.web.id

Jenis Mainan Anak

1. Detergent Box Block* (1+, indoor activities, adult participation)

Junk materials often make the best play toys for young children and by
recycling packaging you are saving money and the environment

* **What you need:*
– Square laundry detergent cartons
– Masking tape
– Coloured or patterned adhesive plastic

*What to do:*
Many laundry detergents now come in clock shape cartons. They make ideal
building blocks for your children. After wiping them out, tape the lids
closed with masking tape and then cover with coloured or patterned plastic.

Store the blocks neatly in the largest basket you can buy and add to the
supply as you wash! My son uses his for building towers, making cities to
go with his train set, making castles and so on.

Challenge your children to a competition to see who can built the highest
tower before it falls down. If you have toddlers they will love it if older
children built towers for them to knock down.

*2. Magazine Picture Puzzles** *(1+, indoor activities, adult participation)
Create simple jigsaw puzzles with your children from large magazine picture

*What you need:*
– Large magazine pictures
– Scissors
– Glue
– Thick pieces of cardboard

*What to do*:
Look through magazines with your children and let them choose some pictures
they would like to make into puzzles. Help them cut out the pictures, then
use a strong glue to stick the pictures onto thick pieces of cardboard.

When the glue is dry, cut the pieces into puzzle shapes. With younger
children begin with four or five puzzle pieces. As they master the skill,
cut the pictures into more pieces.

Store and label the puzzles in plastic bags in a shoebox.

3. Story Time

Teach your children the joys of reading from an early age and they will
thank you for it in later life

* **What you need:*
– Books
– Time

*What to do:*
It is never too early to interest your children in books and reading.
Literacy is a vital skill and an appreciation of books from an early age can
give your children a great start to learning, and be a lifetime source of
pleasure.

There is a huge variety of excellent children’s literature available,
either to buy or borrow for your local library. Set aside time each day to
sit with your children and read them a story. Younger children enjoy looking
at books with large, bright images. Older children will enjoy memorising
simple stories and rhymes, and will follow along as you read together, often
repeating parts of the story.

Have patience with very young children when they ask you to read the same
book over and over again. Take time to show them the words, as well as the
pictures.

*4. Bash a Bag* (2+, outdoor/indoor activities, adult participation)
Let your young children use up some energy with this simple activity

* **What you need:*
– A bag made of strong paper, plastic or fabric
– String
– Newspaper
– Wooden spoon

*What to do:*
Your children will love helping you tear up the newspaper and roll it into
balls to fill the punching bag. When the bag’s full, tie it tightly with
string. Hang the bag from a hook or doorway. (Make sure it will not hit
anything precious)

Your children will have a great time bashing away at the bag with a wooden
spoon. Make sure they take it turns and don’t hit each other by accident!
***5. Bottles and Lids* (3+, indoor)
This activity will help develop your children’s power of prediction as they
guess which lid fits which bottle. It’s also a good way to develop the
muscles in their hands and fingers

*What you need:*
• Bottles of different shape and sizes with screw-top lids

*What to do:*
Put out a selection of jars (at least ten) with lids with different
circumstances. See if your children can find the correct lid for each jar
and screw it on.
Later they might like to time themselves with an egg timer to see how fast
they can do it.
They could also put the jars in order from the smallest lid to the largest.
Hint!: remain them to take a great care with the glass bottles.

80 persen Mainan dari Cina di RI Mengandung Racun & Logam Berat

Penulis: Arin Widiyanti – detikcom
http://www.detik.com

Jakarta, Anak-anak Anda memiliki mainan dari Cina? Waspadalah. Hampir 80%
mainan-mainan dari Cina itu ternyata mengandung racun dan timbal.

Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisonal Indonesia (APMETI)
menemukan mainan Cina yang beredar di Indonesia 80 persen mengandung heavy
metal dan racun.

Mainan-mainan dari Cina yang beredar ciri-cirinya adalah sebagian besar
terbuat dari plastik seperti bola, mobil-mobilan dan boneka dan umumnya
harganya lebih murah 50 persen dan beratnya lebih enteng dari produk buatan
lokal.

Demikian dikatakan Ketua APMETI Dhanang Sasongko saat dihubungi
detikFinance, Jakarta, Kamis (2/7/2007).

“Mainan tersebut mulai beredar diIndonesia sejak krisis moneter, ketika para
orangtua mulai mencari mainan murah. Padahal mainan itu sangat berbahaya
kalau terkena suhu panas langsung mengurai,” ujar Dhanang.

Dampak dari penguraian itu, menurutnya, tidak langsung terlihat tapi apabila
anak memainkan dalam waktu lama bisa autis, sakit pernafasan, asma dan lemah
konsentrasi karena anak sering menghirup racun seperti timbal.

Dhanang menambahkan mainan Cina yang masuk awalnya ke jenis mainan umum kini
sudah merambah ke mainan edukasi. Padahal mainan Cina tidak mempertimbangkan
kualitas dan presisi hanya berpikir bentuk yang lucu atau warna yang meriah.

“Mudah saja mencarinya di Pasar mainan Prumpung dan pasar pagi sebagian
besar itu mainan dari Cina, meski berbahaya mudah diperjualbelikan,-“
keluhnya.

Sebelumnya, Produsen mainan Amerika Serikat (AS), Fisher-Price menarik
hampir satu juta mainannya yang dibuat oleh Cina, menyusul kekhawatiran
tingginya kandungan timbal dalam cat untuk mainan tersebut.

Insiden penarikan barang impor dari Cina ini bukan untuk pertama kalinya.
Sebelumnya, importir mainan Cina, RC2 Corp juga menarik 1,5 juta mainan kayu
“Thomas the Train” menyusul dugaan tingginya kandungan timbal dalam catnya.

Kandungan timbal itu berbahaya bagi anak-anak karena bisa menyebabkan
kelainan otak dan darah.

Produk-produk dari Cina lainnya yang juga ditarik oleh AS adalam makanan
bayi dan pasta gigi. Penarikan itu dilakukan setelah ribuan binatang AS mati
akibat keracunan makanan yang diimpor dari Cina.