Latih Anak agar Kreatif

sumber :kompas.com

Kompas.com — Semua orang tahu, kreativitas adalah modal untuk bertahan dan sukses dalam kehidupan. Berikut poin inspirasi untuk membentuk anak kreatif:

1. Pilih pola asuh yang pas. Tidak perlu mengontrol dan meminimalkan larangan. Dengan begitu, anak menemukan kebebasan dalam berkreasi.

2. Jangan melakukan kritikan yang mematikan. Kalau mau, berikan koreksi yang membangun. “Wuih hebat, pesawatnya bagus. Cuma, kalau mau terbangnya lebih tinggi coba bikin sayapnya agak besar.”

3. Berikan rasa aman dan percaya diri. Dengan ini anak akan menjadi seorang yang berani, tidak ragu, berani mengambil keputusan, berani mengambil risiko, dan bertanggung jawab.

4. Hargai karya anak. Seperti apa bentuknya? Cukup dengan perkataan positif, memberikan pujian yang tulus, atau sesekali boleh memberikan hadiah.

5. Berikan tantangan. Dengan cara ini, anak akan “memeras” otak untuk mendapatkan jalan keluar. Otaknya pun akan terus dirangsang untuk berpikir kreatif, menyukai tantangan, dan menguasai keterampilan tertentu.

6. Tidak memanjakan anak. Memberikan rasa kasih sayang memang perlu, tapi tidak harus memanjakannya. Selain membuat anak malas, kreativitasnya juga bisa mandek.

7. Jalin komunikasi yang baik. Ini adalah kunci kesuksesan membentuk anak kreatif. Jika komunikasi kita nyambung dan dimengerti anak, apa yang kita mau atau upayakan akan tecermin dalam usaha anak.

8. Sering-sering memberikan pilihan pada anak. Dengan ini anak akan terbiasa dan terkondisi untuk bisa menilai sesuatu, selektif, hati-hati, dan membuat pertimbangan. Beberapa tindakan berikut bisa dicoba:
- Beri anak kebebasan memilih saat kita membelikan sesuatu.
- Hindari “salah” atau “jangan” dalam setiap perkataan. Lebih baik katakan, “sebaiknya”, “kurang benar”, dan kata sejenis yang menunjukkan adanya alternatif lain.
- Hargai setiap pendapat anak.

9. Jangan menyepelekan anak. Mungkin karena menganggapnya masih terlalu kecil, anak tidak dianggap keberadaannya. Jadi, libatkan anak dalam diskusi, sharing, atau mengajaknya melakukan aktivitas bersama. Dengan cara itu akan ada banyak masukan yang anak terima, dia juga akan mempunyai banyak bahan yang bisa membuatnya kreatif.

Memacu Kreativitas Anak

Memacu Kreativitas anak

Setiap orang tua tentu ingin buah hatinya tumbuh menjadi sosok yang sehat, cerdas, dan kreatif, tak terkecuali Anda. Namun, mengembangkan kreativitas anak ternyata bukan hal mudah untuk dilakukan. Diperlukan pengertian dan keterlibatan langsung Anda dalam prosesnya.

Para ahli menyimpulkan bahwa pada dasarnya terdapat 3 ciri dominan yang dimiliki oleh anak kreatif: Spontan, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan tertarik pada hal-hal baru. Setiap anak memiliki kemampuan dasar kreativitas tersebut sejak dini, hanya saja perkembangannya tidak sama pada masing-masing anak. Perkembangan kreativitas anak ini tergantung pada berbagai hal, seperti gizi, kesehatan, pola pengasuhan, dan pengaruh lingkungan.

Sebagai orang tua, Anda tentu memahami bahwa dunia anak adalah dunia bermain dan bersuka cita, dimana mereka belum memikirkan tanggung jawab seperti orang dewasa. Bermain akan mempermudah anak memupuk unsur-unsur kreativitas, seperti rasa ingin tahu, daya khayal/imajinasi, dan coba-coba. Lewat permainan, tingkat kreativitas anak akan dipacu melalui daya khayalnya. Ini akan membuatnya mampu melihat gambaran dan wawasan baru.

Anda hendaknya menyadari keunikan setiap anak sebagai individu sekaligus menerima kelebihan dan kekurangannya. Untuk mengembangkan kreativitas anak, Anda harus mampu menelusuri bakat dan minatnya, mendorong, menghargai, dan menanamkan kepercayaan diri sekaligus terlibat dalam proses kreativitas anak.

Menyembunyikan hal-hal baru dari anak serta berkomunikasi dalam suasana tegang dan tidak menyenangkan, akan menghambat kreativitas anak. Kecenderungan lebih menghargai hasil daripada prosesnya dan menilai kreasi anak dengan perspektif Anda juga termasuk hal-hal yang dapat menghilangkan kreativitas anak Anda.

Gangguan terhadap kreativitas anak ternyata juga bukan melulu kesalahan orang tua. Sistem pendidikan di sekolah juga ikut berpengaruh. Kebanyakan sekolah menerapkan sistem pendidikan satu arah yang lebih mengutamakan IQ (kecerdasan intelektual). Dengan sistem pendidikan seperti ini, tingkat kreativitas dan kecerdasan emosional seringkali diabaikan.

Anda dapat membantu memacu kreativitas anak dengan memperhatikan beberapa hal seperti berikut:
a.. Berikan anak ruang dan kebebasan untuk bermain dan bereksplorasi.
b.. Biarkan anak memilih sendiri media permainannya, jangan terlalu diatur.
c.. Kenalkan anak pada orang lain, budaya, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda dari kebiasaannya.
d.. Biarkan anak merasa tenang, nyaman, dan menikmati proses kreativitasnya tanpa Anda terlalu turun tangan mengaturnya.
e.. Orang tua yang terlalu berlebihan memberikan berbagai hal kepada anak cenderung memiliki anak yang kurang kreatif. Ciptakan lingkungan yang terbuka dan menerima anak apa adanya.
f.. Dukung pertumbuhan kreativitas anak Anda dengan memberikan nutrisi tepat yang sesuai dengan perkembangannya. Karena kekurangan atau kelebihan gizi akan menghambat proses kreativitas anak

Rangsang Kreativitas Anak

Rangsang Kreativitas Anak dengan Bermain

Setiap hari maunya main, padahal Kevin (5) sudah sekolah. Karena baru sekolah di taman kanak-kanak, aktivitas yang dijalani Kevin, baik saat di sekolah atau rumah lebih bayak dilakukan dengan bermain. Meskipun demikian, beberapa permainan yang dilakukan Kevin sering membuat kedua orang tuanya kagum.

”Antusias saja melihat perkembangan yang dilakukannya, terutama ketika bermain ada saja hal baru yang sifatnya positif sekali, seperti merakit robot-robotan, meskipun untuk orang dewasa terbilang mudah, tapi untuk anak seusianya hal yang luar biasa, belum lagi perkembangan cara Kevin berkomunikasi,” cerita Inggrid tentang anaknya.

Meskipun saat ini Kevin begitu tertarik mengutak-ngatik benda, seperti robot dan mobil-mobilan, sebagai orang tua Inggrid mengaku belum tahu minat dan bakat anaknya yang sesungguhnya. ‘’Sebagai orang tua saya senang setiap perkembangan yang dilakukan Kevin, meskipun hanya perkataannya yang terkesan dewasa hingga berbagai kemampuan lainnya,” ujar Inggrid. Diakui Inggrid, kalau Kevin selalu cepat menguasai setiap jenis permainan yang sifatnya mengutak-ngatik benda.

Sebagai orang tua, Inggrid mengaku berusaha menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan terutama beragai jenis permainan yang disukai Kevin. ‘’Agar mainan yang dibeli tidak sia-sia saya sengaja mengajak Kevin ikut untuk memilih apa yang ia sukai, sambil bertanya pada penjualnya seperti apa jenis mainannya,”paparnya.

Tidak hanya memfasilitasi Kevin dengan berbagai jenis permainan yang ada, sesekali Inggrid sengaja mengajak anak sematawayangnya rekreasi ditempat yang banyak permainan anak-anaknya. ‘’Kalau di Batam, kalau hanya libur sehari pilihannya ke mall yang ada pusat permainan anaknya,” jelasnya. Menurutnya mencari suasana lain yang disenangi anaknya untuk bermain salah satu alasan Inggrid senang membawa Kevin ke Mall.

Diakui Psikolog Rakyani, bermain bagian dari proses belajar yang dilakukan setiap anak. Dalam bermain ada lima kecerdasan yang membuat kecerdasan anak jadi terangsang. Diantaranya kecerdasan berpikir (kognitif), Emosi, bahasa, gerak tubuh (motorik) dan kecerdasan sosial atau berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan. Dari berbagai jenis mainan yang banyak saat ini, seperti apa mainan yang bagus untuk anak?

Menurut alumni Universitas Padjajaran Bandung ini, mainan yang bagus adalah mainan yang disesuaikan dengan usia anak. ‘’Anak dibagi dalam beberapa tahap usia dalam perkembangannya, masing-masing tahapan usia ada jenis mainan yang cocok dan bagus untuk merangsang kecerdasan anak,” papar Evy.

Dalam hal ini Evy mencontohkan, bagi anak usia dua tahun, jenis permaianan yang cocok, yakni permainan yang diarahkan untuk pengenalan warna pada anak, misalnya puzzle, balok atau lingkaran dengan pilihan warna-warna yang menarik. Kemudian jenis permainan anak usia 3-4 tahun dan seterusnya perlahan berubah dengan tingkat permainan yang lebih menantang anak untuk berpikir dan juga aktivitas tubuh lebih aktive.


‘’Disinilah orang tua memang harus jeli dalam memilihkan mainan untuk anaknya, yang penting meskipun banyak mainan jangan biarkan anak sibuk dengan mainannya sendiri, harus ada pengawasan,” saran Evy.

Dessy
Ditemani Orang Tua

Jika melihat dari pelanggan yang datang ke time zone, khususnya yang berlokasi di Mega Mall, Manager Time Zone Mega Mall, Dessy mengaku, 80 persen dari pelanggannya anak-anak ditemanin langsung oleh orang tuanya. ‘’Kalau di Mega Mall, kebanyakan memang anak dengan orang tuanya, beda dengan di tempat lain seperti di BCS segemnnya lebih pada remaja,” ujar Dessy.

Jika melihat jenis permainan yang ada di pusat permainan yang dikelolanya, Dessy mengaku permainan yang disediakan untuk usia anak mulai 2 tahun hingga permainan yang juga disenangi oleh orang dewasa. ‘’Kebenyakan kalau yang datang berkeluarga dengan ibu-bapaknya, biasanya ibunya sibuk mengawasi anaknya, sementara si bapak justru asyik dengan permaianan yang disukainya, sudah tidak heran jika akhirnya yang lebih banyak main justru bapaknya,” papar Dessy.

Jika dilihat dari jenis permainan yang ada, semua permainan yang ada dapat merangsang kecerdasan anak. ‘’Setiap permainan yang kami sajikan memiliki fungsinya masing-masing dalam hal pengembangan multiple intellegence,” paparya.

Di antara jenis permaianan yang berhubungan dengan pengembangan kecerdasan anak yakni, slam and jam. Permainan dengan memasukan bola ke dalam keranjang bisa melatih koordinasi mata dan tangan si kecil. selain itu juga dapat mengembangkan motorik kasar dan halusnya serta melatih respon dari si anak.

Dengan permainan ini juga bodily kinesthetic intelligence atau kecerdasan yang berkaian dengan ketrampilan fisik bisa berkembang. Tidak hanya itu permainan ini juga merangsang kecerdasan yang berkaitan dengan angka dan juga interpersonal intelligence, karena sia anak harus mengatur strategi bagaimana cara yang tepat untuk memasukan bola secara tepat dan berkompetisi meraih skor yang lebih tinggi dibandingkan tempannya. ‘’Masih banyak lagi permaianan lainnya dan setiap permainan yang ada memiliki unsur pengembang kecerdasan yang dimiliki anak,” paparnya.

Sandra
Rekreasi ke Pusat Permainan Anak

Memahami bermain bagian dari dunia anak-anak, Sandra tidak hanya memfasilitasi kedua anaknya dengan berbagai jenis permainan yang disukai anaknya. ‘’Biasanya tiap minggu saya dan anak-anak selalu pergi ke pusat permaianan anak yang ada di mall,” ujarnya.

Meksipun di rumah memiliki berbagai jenis permaianan anak, tapi dengan mengajak anak bermain diluar selain permainannya pilihannya lebih banyak, perubahan suasana yang tidak monoton juga membuat anak-anaknya merasa lebih senang.


‘’Awalnya saya yang memilihkan jenis permainan apa, tapi setelah itu mereka sudah tahu mana permainan yang lebih mereka sukai, dari apa yang mereka suka setidaknya saya jadi tahu minatnya kemana,” ujar direktur PT. El Shaddai Mulia. (dew)

Membiasakan Anak Kreatif

Membiasakan Anak Bersikap Kreatif
-
Mita Zoelandari

Kreativitas itu pilihan, bukan bakat. Setiap anak berpotensi menjadi kreatif.
Tak seorang pun yang tidak memiliki kreativitas, karena jika demikian sama seperti tidak memiliki kepintaran sama sekali. Kreativitas bukan bakat, namun dapat ditumbuhkan dan dibentuk sehingga setiap anak memiliki peluang menjadi kreatif.
Mungkin Anda pernah mendapatkan situasi anak seperti ini. ? Ma! Tali sepatuku putus!? . Bagaimana biasanya cara Anda memberi saran pada anak.

? Tanya Mbak untuk mengambilkan tali sepatu yang baru?

? Bisakah kamu memakai sepatu yang lain saja?

?Tunggu sebentar ya, mama akan datang?

Coba kamu cari di lemari kaca dekat sofa, disana ada tali sepatu yang baru?

? Sebaiknya apa yang akan kamu lakukan??

Cara orangtua menanggapi sebuah permasalahan akan mempengaruhi cara anak menyelesaikan masalah. Bila hanya mempunyai satu solusi saja untuk menanggapi permasalahan anak, maka mereka juga hanya mengenal dan menggunakan satu solusi saja. Bagaimana cara orangtua bersikap terhadap tindakan anak akan sangat mempengaruhi pola kebiasaan anak hingga dewasa.

Cobalah lakukan sebuah pengandaian. Bayangkan jika anak bekerja sebagai trainer management yang mengatur acara peluncuran produk. Skenarionya, ia bertugas mempersiapkan jamuan tamu penting dari luar negeri. Tiba-tiba dia mendapat kabar dari event organizer bahwa pesanan makanan telat akibat truk pengantar mengalami kecelakaan.

Berikut beberapa kemungkinan solusi yang diambil anak untuk mengatasi masalah ini.

1. Menanyakan atasannya hal apa saja yang harus ia lakukan.

2. Bertanya kepada event organizer apakah mereka dapat mencarikan solusi atau memutuskan mencari event organizer lain untuk mengurusnya.

3. Mencari ide alternatif dan meminta ide dari yang lainnya sebagai masukan lalu menemukan solusi terbaik dari permasalahan tersebut. Anak akan membuat keputusan tanpa campur tangan bosnya atau memberitahukan bosnya tentang solusi yang ia dapatkan.

Solusi yang anak pilih berkaitan dengan kebiasaan yang telah terbangun pada diri anak. Idealnya, anak mengambil tindakan nomor tiga sebagai solusi permasalahan secara independen. Namun, ini bisa terjadi jika anak terbiasa belajar mengambil keputusan dengan bijak saat menghadapi permasalahan sehari-hari. Sehingga, respon orangtua untuk pilihan a,b,c dan d di atas tak mampu mengajarkan anak berpikir kreatif saat menghadapi masalah.

Kendati solusi yang dipilih anak bukan keputusan yang terbaik. Setidaknya anak akan mendapatkan apresiasi dari atasannya mengenai tindakan independen, kemampuan manajemen permasalahan serta keberaniannya mengambil risiko dan solusi alternatif. Makna dari ilustrasi di atas menunjukkan adanya hubungan antara kepribadian dengan kreativitas. Orang kreatif menyukai tantangan dan yakin bahwa setiap permasalahan memiliki solusi. Selain itu, juga mereka sudah biasa terbuka terhadap ide baru dan berani mengambil risiko atas ide barunya tersebut kendati tidak mendapat respon yang bertentangan dari lingkungannya. Bila anak bertanya pada atasannya, ini menunjukan dirinya bukan orang kreatif.

Kreativitas = Seni ?

Saat bertanya siapa contoh tokoh yang kreatif banyak orang menyebutkan Picasso, Leonardo da Vinci, Affandi, Basuki Abdullah, dan beberapa artis lainnya. Kreativitas tak hanya sebatas pada bidang seni, tapi merupakan sikap (attitude) yang tak hanya melibatkan pola berpikir anak tapi juga kemampuan anak menyelesaikan masalah.

Banyaknya orang yang meraih kesuksesan karena kreativitas selain di bidang seni, misalnya Bill Gates merupakan pengusaha kreatif yang bermula dari mimpi, menciptakan adanya personal komputer di setiap rumah tangga. Yang dimaksud dengan kreatif tak hanya memiliki dan menjalankan ide. Tapi juga mampu mencari keunggulan dari kreativitas tersebut. Misalnya berani mengganti bumbu dari resep masakan dan akhirnya menemukan rasa masakan yang unik.

Anak harus belajar menemukan solusi sendiri dengan mempertimbangkan beberapa kemungkinan dan berani mengambil resiko atas pilihannya. Ia juga harus menunjukkan bahwa dirinya mampu berteman dengan masalah serta mampu melihat peluang, memiliki ide yang orisinil dan independen. Ajarkan anak menjadikan masalah layaknya
sebuah bisnis, seni, atau ilmu pengetahuan. Sehingga sikap kreatif bisa menjadi sebuah kebiasaan.

Kreativitas merupakan pilihan, tak hanya orang yang memang memiliki bakat kreatif. Bagaimana seseorang mampu menanggapi situasi juga bisa dikatakan orang kreatif. Setiap anak berpotensi menjadi kreatif, seperti yang dikatakan seorang pendidik kenamaan dari Inggris, Arthur J Cropley, bahwa tak seorang pun yang tidak memiliki kreativitas, karena jika demikian sama seperti tidak memiliki kepintaran sama sekali. Tidak kreatif berarti anak tidak berpikir dan tidak melakukan apa-apa. Sebab itu, sangat kecil kemungkinannya orangtua tak mampu membentuk kreativitas anak.

Orangtua bisa menjadi contoh bagi anak asalkan mau merefleksikan diri. Coba pikirkan kembali tindakan Anda saat menghadapi beberapa masalah. Apakah Anda telah melupakan masalahnya? Apakah Anda mengandalkan orang lain dalam menghadapi masalah? atau Anda mencoba menarik diri saat tidak bisa menemukan solusi?. Melalui pertanyaan ini, orangtua bisa menilai sendiri, kesiapan menjadi contoh bagi anak. Langkah pertama yang dapat orangtua lakukan yaitu mengenali dan mengembangkan kreativitas diri sebelum mengembangkan kreativitas anak.

Kreativitas di Kehidupan
Sehari-hari

Dalam keseharian orangtua bisa mendapatkan contoh kreativitas untuk diajarkan pada anak. Misalnya, ketika menyusuri perjalanan pulang sekolah, Anda menemukan seorang pria duduk di sudut jalan berjualan nasi kotak. Ajak anak melihat kondisi dari perspektif yang berbeda, yaitu cara menjual makanan di jalanan merupakan salah satu solusi mendapatkan uang.

Kita sering melihat tukang sampah yang mengangkut gerobak yang berat dengan menggunakan prinsip kuda menarik beban sehingga beban dapat menjadi lebih ringan. Dengan menggunakan imajinasinya dan menggunakan prinsip yang ada, tukang sampah tersebut dapat mencari solusi dalam pekerjaannya.

Atau sekelompok anak yang memiliki ide untuk menciptakan jenis pena baru. Usaha pertama dilakukan dengan mengisi sedotan dengan tinta yang ditutup dengan kain pada satu sisi. Usaha ini tidak berhasil karena diameter sedotan terlalu kecil, lalu mereka mencoba dengan menggunakan selang yang lebih besar. Kelihatannya lebih baik, tetapi ternyata tinta cepat habis. Mereka tidak putus asa, akhirnya mereka menemukan cara dengan menutup kedua ujung selang dengan kain. Mereka menamai pena temuan baru ini lipstick pen.

Ciri-ciri

Hal-hal yang bisa orangtua lakukan

Sadar bahwa dirinya kreatif.

1. Jangan pernah mengatakan ?Saya tidak kreatif?.
2. Bagikan cerita kepada anak anda tentang problem yang anda hadapi dan bagaimana cara anda mengatasinya.
3. Pada saat anak anda menghadapi masalah, katakan kepadanya
?Mama yakin kita bisa mengatasi persoalan ini, kita hanya perlu
berpikir.?

Berpikiran terbuka untuk ide-ide baru dan menolak penilaian yang premature.

1. Dengarkan anak anda sebelum membuat komen apapun.
2. Pada saat anak memberi ide, berikan komen yang positif terlebih
dulu sebelum mengkritiknya.

Selalu penasaran menemukan solusi yang tepat.

1. Pada saat memikirkan solusi, dorong dan bantulah anak untuk
memikirkan paling tidak 2 alternatif solusi, kemudian tanyakan
solusi yang mana yang lebih disukai. Atau tanyalah, ??Kamu punya
ide apa lagi ??

Berani mengambil risiko dalam mencoba sesuatu yang baru

1. Pada saat anak ragu-ragu, katakan kepadanya, ??Kamu tidak akan
pernah tahu kalau tidak mencoba.?
2. Bila anak mencoba sebuah ide tetapi tidak berhasil sesuai harapan,
tanyalah, ??Apa yang dapat engkau pelajari dari ini ? Paling tidak kita
telah tahu apa yang seharusnya tidak kita lakukan lain kali.?

Tidak takut kepada problem yang sulit dan tidak mempunyai jawaban yang pasti.

1. Mengerti bahwa problem yang terbuka (open ended) adalah prob
lem yang tidak memiliki satu jawaban yang benar.
2. Berikan kepada anak setiap hari sebuah problem yang open ended,
misalnya kita hari ini tidak punya air untuk memasak nasi, apa yang
harus kita lakukan ?

Orisinil, berpikir sesuatu yang baru dan tidak umum.

1. Pada saat bermain game, katakan kepada anak ? Mari kita memikir
kan permainan yang belum pernah kita lakukan.?
2. Pada waktu memikirkan ide untuk projek di sekolah, katakan
kepada anak ?Ayo kita pikirkan sesuatu yang belum pernah dip
ikirkan orang lain. Kita buat sesuatu yang menarik dan lain dari
yang lain.?

Independen yakni percaya akan pemikirannya

1. Hindari steriotype anak anda (misalnya apa yang harus dilakukan
oleh anak laki atau perempuan).
2. Bangunlah rasa percaya diri anak.

Perseptif, melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.

1. Bermain ?Apa yang baru ?? dengan anak anda. Ambillah objek di
sekeliling anda, temukan minimum 2 hal baru dari objek tersebut
yang tidak anda perhatikan sebelumnya.

Mampu memotivasi diri

1. Berikan anak berbagai pengalaman yang berbeda untuk memban
tunya menemukan apa yang ia sukai dan tidak ia sukai.
2. Mengidentifikasi minat anak dan membantunya mengembangkan
minat tersebut.

Berpikir ?Bagaimana jika??, ?Bagaimana cara lain untuk ? ??, ?Mengapa ? ??

1. Bermain ?Bagaimana jika ?? dengan anak anda. Bergiliran bertanya
?Bagaimana jika ? ?, kemudian bersama-sama berimajinasi dan
menggambarkan situasi dalam pertanyaan ?bagaimana jika ??.
2. Pada malam hari, beritahu anak anda tentang apa yang anda ingin
tahu selama hari ini. Kemudian meminta anak untuk sharing juga
tentang apa yang ingin dia ketahui hari itu.

Memiliki rasa humor, mampu tertawa di saat gagal dan tetap semangat sesudahnya

1. Tertawa akan kesalahan kita sendiri dan beritahu anak apa yang
kita pelajari dari kesalahan.
2. Ceritakan tentang cerita-cerita di mana orang membuat kesalahan,
tetapi belajar dari kesalahan tersebut dan akhirnya berhasil sukses.

Membesarkan Anak Kreatif

Membesarkan Anak Yang Kreatif

Ibu dan ayah yang ingin membesarkan ‘Michelangelo’ baru mungkin perlu sedikit menahan diri. Riset baru mengatakan bahwa anak-anak yang orang tuanya benar-benar ‘membiarkan mereka’ akan menjadi lebih kreatif dibandingkan anak-anak yang orang tuanya lebih banyak terlibat dalam proses kreativitas mereka. Hasil temuan tersebut dipresentasikan oleh Dr. Dale Grubb dari Baldwin-Wallace College di Berea, Ohio, dalam pertemuan tahunan American Psychological Society.

Para orang tua yang suka mengajari berbagai hal kepada anak-anak mereka, cenderung mempunyai anak-anak yang kurang kreatif, demikian ia menjelaskan. Dan yang perlu digarisbawahi ialah kadang mereka terlalu berlebihan mencoba untuk terlibat dalam proses kreativitas si anak.

Biarkan kreativitas mereka berkembang
Dalam penelitian tersebut, mereka menggunakan berbagai metode pengujian untuk menilai kreativitas 29 orang anak yang berusia 3 – 6 tahun, dan kreativitas salah satu orang tua anak-anak tersebut. Grubb menjelaskan bahwa dalam satu tes mereka memberikan beberapa pertanyaan sederhana, seperti “bagaimana anda dapat menggunakan sepotong kertas?” atau “bagaimana anda dapat menggunakan sebuah kotak?”, dan semakin banyak ataupun semakin ‘asing’ jawaban yang diberikan, maka mereka dianggap semakin kreatif.

Tidak mengherankan, orang tua yang lebih kreatif tampaknya mempunyai anak-anak yang lebih kreatif. Namun Grubb mengatakan bahwa mereka masih tidak jelas apakah hal ini terjadi karena faktor genetik atau cara mereka mendidik. Dengan memusatkan perhatian pada cara orang tua mendidik, para peneliti merekam interaksi antara orang tua dan anak mereka saat sedang bermain. Mereka membuat asumsi bahwa orang tua dengan cara mendidik yang paling mendukung dan ‘memungkinkan’, akan mempunyai anak-anak yang paling kreatif. “‘Memungkinkan’ berarti bersikap sangat fokus pada anak, bertanya kepada si anak tentang apa yang ingin ia lakukan, mengapa begini atau begitu serta hal-hal lain yang seperti itu,” Grubb menjelaskan.

Tetapi asumsi yang mereka buat ternyata keliru. Gaya mendidik yang ‘memungkinkan’ bukan hanya tidak ada kaitannya dengan tingkat kreativitas tertentu dari anak, akan tetapi malah – meskipun tidak besar – cenderung menyebabkan berkurangnya kreativitas. “Malah gaya ‘Memungkinkan’ ini dapat dengan mudah berkembang menjadi apa yang disebut sebagai sikap ‘memaksa’, yang membuat orang tua sering berkata: “jangan begitu, lakukan seperti ini”, dan tidak memberikan banyak pilihan kepada anaknya,” kata Grubb.

Pesan yang dapat diambil, menurut Grubb, adalah bahwa kalau orang tua menghargai kreativitas si anak dan memberikan dukungan tanpa terlalu mengarahkan dan kalau mereka sendiri memang kreatif, maka mereka mungkin akan mempunyai anak-anak yang lebih kreatif.

Bagaimana hal ini dapat diterapkan ke dalam ruang bermain anak?
Pertama-tama, hindari alat-alat permainan yang memaksakan konsep struktur atau membatasi kreativitas si anak. Berikan kepada mereka kertas putih polos, bukan buku mewarnai (dengan gambar-gambar yang telah ditetapkan sebelumnya) dan biarkan mereka menemukan sendiri kemana mereka ingin pergi.

Pilih alat-alat permainan yang bentuknya lebih mudah diubah-ubah (seperti lilin mainan), ketimbang balok-balok yang saling disambung dan hanya dapat membentuk bangunan persegi yang terbatas.

Namun yang paling penting, selalu berikan pujian atas usaha yang telah mereka lakukan. Mereka mungkin saja menggambar sesuatu yang konyol atau tidak masuk akal, namun tetap berikan pujian karena mereka telah mencoba membuat sesuatu yang baru, demikian saran Grubb.

[ kembali ke atas ] (sumber : satumed.com)

Sepuluh Perangkat Penting dalam Pengasuhan yang Positif

MENENTUKAN BATASAN.

Perlu diyakini bahwa setiap anak itu memerlukan batasan. Anak benar-benar membutuhkan aturan yang lentur dan ia akan mengalami kebingungan tanpa peraturan. Dengan membuat batasan berarti kita telah menyediakan lingkungan fisik yang memberikannya rasa aman dan dapat dijadikan tempat belajar. Setiap usia akan mempunyai batasan tersendiri, dengan demikian kita sebagai orangtua juga harus siap untuk memperluas batasan kita sesuai dengan perkembangan usia anak.

Jika kita menentukan batasan tidak perlu banyak-banyak, paling banyak 5 atau 6 saja. Letakkan di tempat yang mudah dilihat mereka, sepertinya di pintu kulkas adalah tempat yang tepat.

4 petunjuk tepat bagi keluarga mengenai bagaimana memperlakukan dan diperlakukan anggota keluarga dengan baik:


Pergunakan bahasa yang tepat dan sesuai untuk memberitahu bagaimana perasaan kita terhadap mereka. Kita tidak mempergunakan bahasa yang kasar atau sebutan yang tidak menyenangkan bagi mereka.


Tidak akan melukai orang lain baik secara fisik maupun mental.


Tidak akan merusak barang orang lain maupun miliki kita sendiri.


Berusaha untuk menyelesaikan masalah yang melanda kita, bukan berkubang disana.

Jika masalah muncul, lihat kembali kepada petunjuk tadi, apakah ada yang tidak beres?

Anak-anak kadang-kadang akan mencoba mengetes batasan-batasan yang sudah diberikan, disini kita harus bersikap konsisten untuk mendorong mereka melakukan apa yang sudah digariskan. Ada batasan yang bisa dinegosiasikan ada yang tidak. Konsisten saja. Barangkali kita sering terlalu mudah untuk mengatakan tidak dan kemudian mengatakan ya. Oleh karena itu jangan takut untuk mengatakan “Saya perlu pikirkan lagi tentang hal itu”. Perlu diingat bahwa batasan itu akan membuat anak kita merasa aman dan dapat menjadi orang yang penuh percaya diri. Terakhir yang harus diingat adalah penting orangtua bekerjasama dan sama-sama menyetujui aturan yang dibuat, jangan sampai terjadi pertentangan.

TIME OUT dan PENDINGINAN.

Kombinasi ini berlaku untuk orangtua dan anak. Ketika anak berbuat tidak benar, dia merasa kecil hati dan seringkali tidak bisa mengontrol diri. Time out akan memberikan tempat dimana dia bisa mengatur perasaannya dan mendinginkan suasana. Anak usia di bawah 3 tahun memerlukan diri kita untuk menenangkan, berada didekatnya dan menentukan berapa lama anak mengontrol dirinya. Anak di atas 3 tahun akan belajar berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk Time out dan akan belajar menentukan kapan mereka siap untuk kembali. Sikap positif dari orangtua dan cara melaksanakan Time out akan menentukan apakah hal itu merupakan hukuman atau cara positif untuk belajar mengontrol diri. Kitapun perlu mengenali kapan kitapun memerlukan Time out. Semua orangtua dapat menggunakan waktu pendinginan untuk meredakan kemarahan dan menghilangkan frustrasi akibat perbuatan anak. Ketika kita melakukan pendinginan maka kita akan menjaga diri dari berbicara atau berbuat sesuatu yang menyakitkan anak yang kemudian akan disesali, dan kita dapat menjadi model bagaimana mengontrol emosi diri sendiri bagi anak. Cara yang bisa kita lakukan adalah menarik nafas dalam-dalam dan menghitungkan sampai seputuh, meninggalkan anak dengan orang yang bisa dipercaya atau jalan-jalan atau mengunci pintu sejenak untuk memberikan ruang pribadi bagi kita. Biarkan anak tahu bahwa kita akan menemui mereka kembali setelah merasa reda atau anak-anak mau tenang. Jangan sampai mengesankan cara ini adalah suatu bentuk penolakan kita terhadap anak.

BERWAJAH DINGIN (POKER FACE).

Banyak ahli menggunakan istilah ini untuk mendefinisikan sikap tenang, bahasa tubuh yang santai. Ketika kita menjaga wajah kita lurus, hal itu memperlihatkan bahwa kita tidak terpengaruh dengan kekacauan yang terjadi dan tidak terpancing emosi. Jaga alis kita ke atas dan anda tidak akan merengut. Jika kita bicara, jaga suara kita tenang dan dingin. Hal ini merupakan cara yang sangat efektif ketika tidak ingin memberikan perhatian yang tidak pantas terhadap perilaku anak yang negatif tapi kita ingin tetap terlibat. Contohnya ada seorang ibu yang ingin mengajak anaknya Doni usia 2 tahun untuk tidur tapi selalu bangun lagi dan turun dari tempat tidur, dengan cara yang ramah dan tenang, dengan wajah dingin dan bicara beberapa patah kata. Pada hari pertama saya tetap tenang dan ramah dan menyuruh Doni kembali ke tempat tidur berulang kali sampai 35 kali (hal itu membantu saya untuk bisa menghitung apa yang saya lakukan). Akhirnya dia tertidur di tengah ruang di lantai. Pada hari berikutnya saya perlu mengajaknya sampai 15 kali, dan kembali ia tertidur di lantai. Hari ketiga ia menangis untuk 5 menit dan tidur di lantai dekat tempat tidurnya. Hari keempat ia menangis 5 menit dan tetap tinggal di tempat tidur. Setelah itu ia pergi tidur dengan senang hati dan tanpa disuruh. Hal ini merupakan sesuatu yang berat untuk dilakukan, memerlukan kesabaran yang sangat tinggi. Ketika Doni tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, tidak ada kata-kata manis, tidak ada teguran dan peringatan, tingkah laku itu dihentikannya.

WAKTU UNTUK BERLATIH.

Banyak tingkah laku tidak sesuai yang kerap muncul dapat dicegah. Asalkan kita tahu cara menghindarinya. Kesalahan yang kerap terjadi adalah kita punya harapan bahwa anak kita tahu semua yang kita tahu padahal dalam kenyataanya tidak begitu. Dengan kita memberi kesempatan pada anak untuk belajar dan menjelaskan alasan-alasannya, anak dapat berbuat sesuatu dengan lebih baik. Jika kita punya masalah, coba ingat apakah kita sudah pernah mengajarinya tentang hal itu. Jika kita punya masalah dengan anak kita yang secara sembrono lari ke jalan raya, coba minta ia berdiri di pinggir jalan tentunya di awasi oleh orang dewasa lainnya dan mengawasi anda mengendarai mobil sambil melindas mobil-mobilannya atau sepotong semangka. Katakan “Coba lihat berat sekali mobil ini ya? Bisa menghancurkan sesuatu” Dari situ katakan mengapa kita harus berjalan di pinggir jalan. Walaupun kita sudah memberitahu anak, tentunya kita harus terus mengawasi anak kalau berada di jalan. Dan anakpun akan mempunyai pemahaman yang lain mengapa kita tetap mengawasi mereka. Alasan anda dekat dengan dia, bukan semata-mata karena mengkhawatirkan dirinya tapi untuk menunjukkan bahwa kita tahu bahwa anak kita sudah mampu dan bisa memahami aturan tersebut.

Kalau anak kita suka berbuat keonaran di toko mainan, luangkan waktu untuk mengajarinya dengan cara membuat ‘perjalanan’ ke toko sebagai latihan. Anak kita tidak akan menyadari bahwa itu latihan. Katakan kepadanya sebelum kita pergi ke toko apa yang akan kita lakukan jika ia menangis atau merengek. “Nina, kita akan pergi cari kado untuk adik Ari. Kita akan memilih kado terus ke kasir untuk membayar dan langsung pulang. Kalau kamu merengek dan menangis kita akan langsung kembali ke mobil tanpa beli kado”. Lakukan seperti yang anda bicarakan. Latihan ini akan menghemat waktu anda di kemudian hari, karena anak anda akan yakin bahwa anda akan melakukan apa yang anda katakan akan anda lakukan .

Jika berpakaian jadi masalah, ingat jangan pernah melakukan sesuatu pada anak mengenai hal yang bisa dikerjakan anak sendiri. Kebanyakan anak usia 2,5 tahun bisa pakai baju sendiri asal dilatih. Luangkan waktu untuk membeli baju yang gampang dipakai, ajarkan bagaimana mengenakannya dan biarkan mereka mengenakanya sendiri.

Coba buat papan latihan. Cara ini akan mengajarkan anak untuk belajar tentang perilaku yang baik dan bertanggung jawab. Hal ini bukan sistem hadiah. Anda hanya membantu anak memvisualisasikan metode monitoring perilakunya sendiri. Coba kita buat papan membereskan tempat tidur.

 

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

Minggu

-

-

-

-

-

-

-

Setelah menjalankan hal itu pada akhir minggu, kita rayakan keberhasilan tersebut dengan pergi bersama atau aktifitas lain bersama yang menyenangkan.

BERBUAT TANPA BANYAK BICARA.

Anak-anak akan bosan dengan ceramah dan pengamatan yang terus menerus. Lama-lama anak akan ‘menulikan’ telinga terhadap omelan kita. Seringkali anak akan menuruti orangtua setelah ia tahu apa sebenarnya yang dimaksud oleh orangtua atau sampai melihat kita lepas kendali dan marah. Katakan apa yang ingin anda katakan 1 kali dengan pesan positif, dari pada kita bilang “jangan lari” Coba katakan “coba jalan dengan tenang” dan kemudian lakukan. Hentikan mengingatkan terus menerus. Jika anak tidak mau berhenti berlari, hentikan secara halus dan tegas.

PILIHAN.

Kalau ingin mendorong tumbuhnya tanggung jawab, tawarkan pilihan-pilihan yang masuk akal jangan menuntut. Memberdayakan pilihan memberikan rasa pada anak untuk mengontrol apa yang terjadi pada dirinya, hal ini penting untuk penghargaan terhadap diri sendiri. Ketika kita memberikan pilihan bukan untuk dinegosiasikan tapi untuk membawa kan wawasan anak dan menjadikan anak yang bertanggungjawab, mengembangkan kerjasama. Harus diingat pilihan yang diberikan harus dapat diterima anak.

WAKTU KHUSUS.

Anak kita membutuhkan waktu khusus dengan kita atau pengasuhnya dalam keseharian hidupnya. Kita tidak perlu memanjakan dengan aktivitas yang mahal. Kita bisa lakukan sesuatu yang murah tapi menyenangkan. Hanya main-main dirumah atau jalan-jalan keliling komplek ini juga bisa dilakukan. Waktu itu benar-benar khusus untuk anak tidak boleh diselingi kegiatan lain. Yang paling penting dalam kegiatan ini adalah anak tahu kapan hal ini akan diadakan. Selain itu adalah kita melakukan apa yang dipilih dan disukai anak. Hal ini akan terus diingat anak, merasa dicintai dan tidak akan mencari perhatian lewat perilaku buruk.

MEMBESARKAN HATI.

Merupakan sesuatu yang kita pergunakan untuk membuat perubahan yang positif, membantu anak untuk mengembangkan kepercayaan dirinya. Belajar memisahkan antara apa yang dilakukan anak dengan jati diri anak. Jangan menggunakan kata anak baik dan anak nakal. Berbuat kesalahan itu wajar karena itu merupakan proses belajar. Cinta itu tidak bersyarat. Berikan pesan positif dengan antusiasme secara tiba-tiba ketika anak tidak mengharapkan. Perhatikan pada perbuatan anak yang positif daripada perbuatan negatif. Temukan kebaikannya. Fokuskan pada proses yang terjadi bukan pada hasilnya. Pertahankan sikap yang positif dengan cara “melihat gelas separuh sebagai gelas penuh dari pada kosong” Coba melucu, hidup ini jangan terlalu serius. Dari pada menyalahkan, coba untuk mencari cara penyelesaikan masalah. Buat harapan yang sesuai dengan tingkat usia. Terlalu over protektif dan selalu menolong itu akan mengecilkan arti anak. Dari pada terus menerus memaksa, lebih baik memberdayakan mereka dengan meninggalkannya, misalnya: “Sita, ibu tinggalkan kamu di kamar mandi ya. Kalau kamu cepat sikat gigi saya akan ajak kamu membaca buku”. Bersabarlah dan tunjukan minat akan proses dari diri anak. Gunakan “ya” daripada “tidak”. Katakan “letakan kaki kamu dilantai” lebih baik daripada “jangan taruh kaki disofa, kotor!”. Gunakan pertanyaan “apakah” “mengapa” atau “bagaimana” untuk melihat apakah persepsi anak kita sama dengan persepsi kita. Gunakan kata “tolong” dan “terima kasih”.

PERTEMUAN KELUARGA.

Pertemuan keluarga merupakan pendekatan kelompok dan langsung antara orangtua dan anak untuk menghubungkan dan melatih ketrampilan yang dimiliki. Dan pertemuan keluarga anak bisa merasakan bahwa kontribusinya itu diperlukan.

MENYELESAIKAN MASALAH. Dengan berbicara dan mendengarkan anak akan membantu anak untuk mengembangkan ketrampilan membuat keputusan yang baik dan mendorong kerjasamanya. Sebelum anak mau mendengarkan kita, ia ingin kita mau mendengarkan mereka dahulu . Hal ini tidak akan berfungsi pada saat kita marah. Agar poses ini berhasil beberapa hal yang bisa dilakukan :


Sebutkan perasaannya. Tunjukan perhatian yang sungguh-sungguh, misalnya: “Susi, sepertinya kamu sedih sekali karena Tuti pindah rumah”. Beri jeda dan dengarkan dan refleksikan.


Berempati


Ekspresikan perasaan anda

Solusi sumbang saran


Laksanakan, buat evaluasi

Kalau anda merasakan terlalu banyak chaos dan anda ingin anak menunjukan tanggung jawab. Coba buat batasan, pergunakan time out dan pendinginan dengan wajah dingin dan atau beraksi dangan menggunakan beberapa kata atau mungkin waktu untuk berlatih. Kalau anak mengabaikan kita, coba buat pertemuan keluarga dan selesaikan masalah dan ketika kita ingin membangun kepercayaan diri anak buat kegiatan khusus dan memberikan banyak dorongan. Peralatan ini harus dikombinasikan dengan kesabaran, konsistensi dan rasa cinta akan membantu anda menjadi orangtua yang positif.

(sumber, Positive Parenting from A to Z, karen Renshaw Joslin, 1994)

Kreativitas Anak

Memacu Kreativitas Anak

1/22/2007

Setiap orang tua tentu ingin buah hatinya tumbuh menjadi sosok yang sehat, cerdas, dan kreatif, tak terkecuali Anda. Namun, mengembangkan kreativitas anak ternyata bukan hal mudah untuk dilakukan. Diperlukan pengertian dan keterlibatan langsung Anda dalam prosesnya.

Para ahli menyimpulkan bahwa pada dasarnya terdapat 3 ciri dominan yang dimiliki oleh anak kreatif: Spontan, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan tertarik pada hal-hal baru. Setiap anak memiliki kemampuan dasar kreativitas tersebut sejak dini, hanya saja perkembangannya tidak sama pada masing-masing anak. Perkembangan kreativitas anak ini tergantung pada berbagai hal, seperti gizi, kesehatan, pola pengasuhan, dan pengaruh lingkungan.

Sebagai orang tua, Anda tentu memahami bahwa dunia anak adalah dunia bermain dan bersuka cita, dimana mereka belum memikirkan tanggung jawab seperti orang dewasa. Bermain akan mempermudah anak memupuk unsur-unsur kreativitas, seperti rasa ingin tahu, daya khayal/imajinasi, dan coba-coba. Lewat permainan, tingkat kreativitas anak akan dipacu melalui daya khayalnya. Ini akan membuatnya mampu melihat gambaran dan wawasan baru.

Anda hendaknya menyadari keunikan setiap anak sebagai individu sekaligus menerima kelebihan dan kekurangannya. Untuk mengembangkan kreativitas anak, Anda harus mampu menelusuri bakat dan minatnya, mendorong, menghargai, dan menanamkan kepercayaan diri sekaligus terlibat dalam proses kreativitas anak.

Menyembunyikan hal-hal baru dari anak serta berkomunikasi dalam suasana tegang dan tidak menyenangkan, akan menghambat kreativitas anak. Kecenderungan lebih menghargai hasil daripada prosesnya dan menilai kreasi anak dengan perspektif Anda juga termasuk hal-hal yang dapat menghilangkan kreativitas anak Anda.

Gangguan terhadap kreativitas anak ternyata juga bukan melulu kesalahan orang tua. Sistem pendidikan di sekolah juga ikut berpengaruh. Kebanyakan sekolah menerapkan sistem pendidikan satu arah yang lebih mengutamakan IQ (kecerdasan intelektual). Dengan sistem pendidikan seperti ini, tingkat kreativitas dan kecerdasan emosional seringkali diabaikan.

Anda dapat membantu memacu kreativitas anak dengan memperhatikan beberapa hal seperti berikut :

  1. Berikan anak ruang dan kebebasan untuk bermain dan bereksplorasi.
  2. Biarkan anak memilih sendiri media permainannya, jangan terlalu diatur.
  3. Kenalkan anak pada orang lain, budaya, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda dari kebiasaannya.
  4. Biarkan anak merasa tenang, nyaman, dan menikmati proses kreativitasnya tanpa Anda terlalu turun tangan mengaturnya.
  5. Orang tua yang terlalu berlebihan memberikan berbagai hal kepada anak cenderung memiliki anak yang kurang kreatif. Ciptakan lingkungan yang terbuka dan menerima anak apa adanya.
  6. Dukung pertumbuhan kreativitas anak Anda dengan memberikan nutrisi tepat yang sesuai dengan perkembangannya. Karena kekurangan atau kelebihan gizi akan menghambat proses kreativitas anak

Sumber

www.sahabatnestle.co.id