Posts filed under 'KESEHATAN ANAK'
Ponsel Tak Cuma Bikin Kuping Panas
sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/09/02/Gaya_Hidup/krn.20090902.175553.id.html
Anak-anak yang menggunakan telepon seluler memiliki risiko tumor otak
sampai 420 persen ketika dewasa nanti.
*WASHINGTON *– “Kini sudah waktunya kita sekali lagi menempatkan sains
di puncak agenda dan karya kita, mendengar semua yang dikatakan ilmuwan
kita, meski itu tidak selalu enak didengarnya, terutama ketika itu
memang terdengar tidak enak di telinga kita.”
Kutipan dari ucapan Presiden Amerika Serikat Barack Obama tersebut
tampak tegas dengan huruf-hurufnya yang tercetak tebal dan ukurannya
yang lebih besar. Kutipan itu, bersama prinsip waspada yang diadopsi
Komisi Eropa, mengisi halaman awal sebuah laporan terbaru yang
mengingatkan kaitan antara telepon seluler dan tumor otak.
Perdebatan tentang bahaya penggunaan telepon seluler memang tidak pernah
berhenti sampai ada bukti yang benar-benar konklusif. Sejauh ini, dari
National Cancer Institute di Amerika Serikat sampai Badan Kesehatan
Dunia (WHO), memang menyatakan bahwa segala perangkat digital nirkabel
bukan ancaman bagi kesehatan publik.
Tapi, seperti yang kali ini disimpulkan lewat sebuah studi dari Swedia
dan telah dipublikasikan melalui /International Journal of Oncology/,
Mei lalu, ada kutukan dari telepon seluler terhadap penggunanya.
Profesor Lennart Hardell dan timnya menemukan bahwa mereka yang telah
menggunakan telepon seluler dan telepon digital nirkabel sejak remaja
akan memiliki peningkatan risiko tumor otak hingga 420 persen.
Berlandaskan terutama pada hasil studi terbaru itulah sekelompok
peneliti internasional yang menyebut dirinya International EMF
(Electromagnetic Field) Collaborative mengingatkan kembali akan bahaya
penggunaan telepon seluler. Dalam laporan setebal 44 halaman, mereka
mencoba merangkum bahaya penggunaan telepon seluler terutama oleh
anak-anak.
Telepon seluler dan telepon nirkabel disebutkan memiliki emisi radiasi
elektromagnetik yang cenderung menembus lebih mudah dan dalam pada otak
anak-anak ketimbang orang dewasa. Tak cuma bikin kuping panas,
membiarkan telepon-telepon genggam itu menempel terlalu lama di kepala
anak-anak dan para remaja dikhawatirkan juga memicu tsunami tumor otak
di masa depan.
“Berharap saja kami salah, karena ini juga masih terlalu awal untuk
melihatnya sekarang, karena tumor memang memiliki usia laten 30 tahun,”
kata L. Lloyd Morgan sambil menambahkan, “tapi tanggung sendiri
risikonya kalau ternyata benar.”
Pensiunan insinyur listrik dari Berkeley, California, yang juga anggota
Bioelectromagnetics Society, itu bersama 43 pakar dan ilmuwan lainnya
dari Australia, Brasil, Kanada, Finlandia. Prancis, Jerman, Yunani,
Irlandia, Rusia, Spanyol, Swedia, dan Inggris memberi judul laporannya
itu “Cellphones and Brain Tumors: 15 Reasons for Concern”.
Studi yang didukung EMR Policy Institute, Peoples Initiative Foundation,
ElectromagneticHealth.org, The Radiation Research Trust and Powerwatch
tersebut juga mengungkap upaya penyesatan informasi lewat riset industri
nirkabel di 13 negara, sebagian besar di Eropa Barat. Morgan dan
kawan-kawan membeberkan 11 cacat studi Interphone yang hasil-hasilnya
bakal dirilis sebelum akhir tahun ini di 13 negara, belum termasuk
Amerika Serikat.
Studi yang sebenarnya sudah rampung sejak 2004 namun ditunda-tunda terus
publikasinya itu dituding meremehkan risiko tumor otak dari penggunaan
telepon seluler. Studi tersebut juga mengabaikan subyek pengguna telepon
portable, padahal perangkat ini juga mengemisikan radiasi gelombang mikro.
Studi Interphone tidak mengkaji ragam jenis tumor otak selain glioma
(kanker dalam sel glial), neuroma akustik (tumor di saraf pendengaran
pada otak), dan meningioma (tumor pada jaringan yang menghubungkan otak
dengan sumsum tulang belakang). Studi senilai jutaan dolar Amerika ini
malah mengkaji jenis tumor lain, seperti yang mungkin tumbuh di kelenjar
ludah, walau hasilnya diungkap terpisah.
Subyek-subyek yang sudah meninggal atau terlalu sakit untuk diwawancarai
juga ditinggalkan. Begitu pula anak-anak dan remaja. “Padahal mereka
justru yang paling rawan terhadap dampak emisi gelombang elektromagnet
telepon seluler,” bunyi laporan tandingan tim ilmuwan.
Hasil gabungan dari 13 negara memang baru akan dirilis, namun selama
empat tahun ini sudah ada 14 hasil studi Interphone yang dipublikasikan
secara terpisah-pisah. Tiga di antaranya merupakan kombinasi dari studi
yang dilakukan di lima negara, yakni Swedia, Denmark, Inggris,
Finlandia, dan Norwegia. Sisanya adalah studi individual di Jepang,
Denmark, Prancis, Jerman, Swedia, Inggris, dan Norwegia.
Yang mengejutkan adalah rata-rata hasil studi tersebut menyatakan bahwa
telepon seluler melindungi penggunanya dari tumor otak. Sebuah
kesimpulan yang memicu Morgan cs menuding studi dilakukan dengan
telepon-telepon seluler khusus yang memang dilengkapi fitur yang
membuatnya aman. “Atau desain studi sejak awal sudah salah.”*WURAGIL |
PCWORLD | RADIATIONRESEARCH*
*Kembali ke Telepon Kabel *
Rasanya sulit sekali membayangkan hidup saat ini tanpa telepon seluler.
Ronald Herberman, pakar kanker di University of Pittsburgh Cancer
Institute, yang juga anggota tim International Electromagnetic Field
Collaborative, tahu benar soal ini.
Itu sebabnya Herberman mengatakan tim merekomendasikan sekadar
pembatasan penggunaan telepon seluler. Rekomendasi berlaku setidaknya
sampai data yang lebih konklusif terhimpun dua tahun lagi. Saat itu
Badan Kesehatan Dunia dan International Agency for Research on Cancer
sejatinya sudah akan memberi kesimpulan baik atau buruk telepon seluler
untuk kesehatan, terutama otak.
Sambil menunggu kesimpulan itu, Herberman menambahkan, akan jauh lebih
baik menganggapnya buruk. “Sejumlah studi memang tidak mengindikasikan
bahwa telepon seluler itu aman, tidak pula tegas menyebut mereka
berbahaya. Tapi bukti-bukti semakin kuat mengindikasikan bahwa kita
harus mengurangi paparannya,” katanya.
Dengan membatasi penggunaan telepon seluler, risiko terpapar medan
elektromagnetiknya juga akan semakin kecil. Herberman mengungkapkan,
negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Kanada sudah menyadari
pentingnya pembatasan tersebut dan memberlakukan rekomendasi pengurangan
paparan radiasi elektromagnetik dari perangkat digital seperti telepon
seluler.
Herberman menyarankan agar konsumen membeli telepon seluler dengan
spesifikasi radiasi yang rendah. Caranya, dengan mencari apa yang
disebut SAR atau /specific absorption rate/. Menurut Komisi Komunikasi
Federal Amerika Serikat, parameter SAR mengukur jumlah energi frekuensi
radio yang diserap tubuh ketika menggunakan sebuah telepon seluler.
Komisi itu telah menetapkan batas tertinggi SAR yang bisa diterima
sebesar 1,6. Berdasarkan kriteria ini, Motorola Razr V3x merupakan yang
paling ramah karena tingkat SAR-nya hanya 0,14. Tapi telepon seluler
Motorola pula yang menurut daftar SAR keluaran CNET memiliki SAR di
batasnya tertinggi, yakni V195.
Selain merujuk kepada kemampuan penetrasi gelombang tersebut ke dalam
tubuh, rekomendasi Herberman lainnya mungkin terdengar ekstrem. Tapi,
ya, kalau memikirkan dampaknya 30 tahun lagi, mungkin ada baiknya juga
disimak.
- Hanya membolehkan anak menggunakan telepon seluler dalam kasus-kasus
darurat. Mereka juga jangan sekali-sekali dibiarkan tidur dengan telepon
seluler disimpan di bawah bantal.
- Jauhkan telepon seluler dari tubuh, dari kantong sekalipun. /Headset/
tanpa kabel mungkin bisa jadi alternatif.
- Hindari menggunakan telepon dalam kendaraan bergerak karena cenderung
meningkatkan tenaga dan radiasi yang dibutuhkan perangkat yang bergerak
menjauh dari menara pemancarnya.
- Memprioritaskan pemakaian telepon seluler di luar rumah atau gedung
juga bisa mengurangi tenaga dan radiasi itu.
- Batasi penggunaan telepon seluler di bus, kereta, atau alat
transportasi umum lainnya untuk mencegah perangkat yang sedang Anda
gunakan menyebarkan radiasi kepada orang lain di sekitar.
- Gunakan telepon kabel kalau ingin berbicara lama, jangan telepon
seluler. Malah, kalau mungkin, gunakan selalu telepon kabel.
- Ganti-ganti telinga ketika berkomunikasi dengan telepon seluler untuk
membagi beban paparan radiasi antara satu sisi tubuh dan sisi yang lain
- Kembangkan kebiasaan berkirim pesan pendek (SMS).
*15 Alasan *
Peringatan tentang bahaya radiasi dari penggunaan telepon seluler
terhadap kesehatan sudah disuarakan selama bertahun-tahun. Begitu
sulitnya membuat percaya banyak orang, ahli bedah saraf dari Inggris,
Vini Khurana, sampai-sampai pernah menerjemahkan tingkat bahaya itu
lebih tinggi ketimbang asbes dan merokok.
Khurana mengaku tak berlebihan soal terjemahannya tersebut. Iia, yang
telah menulis lebih dari 30 makalah ilmiah dan mengulas lebih dari 100
studi tentang efek telepon seluler, mengatakan saat ini sudah tiga
miliar orang di dunia yang menggunakan telepon seluler.
Angka itu tiga kali lipat lebih banyak daripada jumlah orang yang
merokok di seluruh negara di dunia. Padahal, dengan angka itu saja, lima
juta perokok meninggal tiap tahun.
Sekarang, masalahnya, apakah telepon seluler seseram rokok. Khurana
senada dengan tim ilmuwan Collaborative dengan menyatakan bukti semakin
kuat dan signifikan yang mengaitkan penggunaan ponsel dengan tumor di
otak. “Risikonya akan semakin nyata pada tahun-tahun ke depan,” katanya.
Toh, masih sangat berat memisahkan orang-orang dari telepon seluler
mereka. Industri ponsel pun masih belum yakin akan bahaya-bahaya
tersebut dan cenderung menganggapnya sebagai suara-suara miring.
“Diskusi literatur ilmiah terbatas oleh individual,” begitu Asosiasi
Operator Seluler di Inggris pernah bilang.
Kelompok Industri itu bahkan siap menggebrak dengan riset tandingannya
yang digelar serentak di 13 negara. Efek hasil riset inilah yang coba
dilawan tim Collaborative dalam laporannya yang terbaru. Morgan,
Herberman, dan yang lainnya menilai ada 15 alasan yang mesti menjadi
pertimbangan setiap orang di dunia.
1. Riset mereka sendiri menunjukkan ponsel menyebabkan tumor otak.
2. Riset yang mereka danai juga menunjukkan penggunaan ponsel mengatrol
risiko tumor otak (2000-2002).
3. Studi Interphone secara konsisten menunjukkan penggunaan ponsel
kurang dari 10 tahun melindungi penggunanya dari tumor otak.
4. Riset independen menunjukkan ada risiko tumor otak dari penggunaan
ponsel.
5. Meski ada pemelintiran hasil yang sistemik di seluruh studi
Interphone, risiko tumor otak yang signifikan dari penggunaan ponsel
masih muncul.
6. Studi-studi kemandirian pendanaan industri menunjukkan apa yang bisa
diharapkan apabila telepon nirkabel menyebabkan tumor otak.
7. Tingkat bahaya tumor otak dari penggunaan ponsel tertinggi terjadi
pada anak-anak, dan semakin belia anak itu mulai mengenal telepon
seluler, semakin tinggi risikonya.
8. Sudah banyak pemerintah yang mengingatkan akan bahaya penggunaan
ponsel pada anak-anak.
9. Batas paparan ponsel hanya berdasarkan panas yang ditimbulkannya.
10. Perubahan dalam masalah kesehatan terkait dengan medan
elektromagnetik sudah disepakati dalam parlemen Eropa.
11. Radiasi ponsel merusak DNA, sebuah sebab kanker yang tak terbantahkan.
12. Radiasi ponsel dapat ditunjukkan membocorkan penghalang otak-darah.
13. Panduan manual ponsel mengingatkan kepada penggunanya untuk
menjauhkan ponselnya itu dari tubuh bahkan ketika ia tidak aktif sekalipun.
14. Komisi Komunikasi Federal di Amerika Serikat mengingatkan tentang
penggunaan telepon nirkabel.
15. Kesuburan pria bisa rusak akibat radiasi ponsel.
1 comment September 2, 2009
Bila Napas Si Kecil Bermasalah
http://cidera-otak.blog.friendster.com/
By Dr. Darmawan BS, SpA(K) – Divisi pulmonologi , Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM,
Dok, napas anak saya bunyi dan kalau diraba seperti ada getaran, bahaya tidak dok, saya takut ada flek paru” Banyak orang tua yang khawatir bila anaknya mengalami keluhan ini, bila tidak diluruskan, orang tua seringkali shopping ke banyak dokter karena khawatir.
Chesty child adalah suatu istilah yang longgar untuk menggambarkan seorang bayi/anak yang tampaknya mudah sekali mengalami gejala di saluran napas, atau disebut chestiness. Gejala pernapasan ini berupa batuk, mengi (napas ngik-ngik), stridor, napas berbunyi (noisy breathing) atau ‘sekedar’ napas grok-grok. Fenomena ini cukup sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, sayangnya kita tidak mempunyai padanan kata yang tepat. Karena ini merupakan istilah longgar dapat diterapkan dari neonatus dengan napas grok-grok hingga anak-anak yang mengalami keluhan batuk kronik berulang. Biasanya mulai bergejala sejak umur sangat muda hingga awal usia sekolah.
Perlu dikomunikasikan
Terkadang pada keadaan berat, orang tua melaporkan bahwa bila diraba dada si anak akan terasa getaran napasnya. Bila tidak ditangani dengan baik, orang tua akan terus khawatir dan berkeliling ‘shopping’ ke banyak dokter. Ada juga yang akhirnya dipenuhi kekhawatirannya oleh dokter dengan dinyatakan sebagai flek paru. Bila masih bayi, kemungkinan penyebab yang paling sering ditanyakan adalah “Apakah bukan karena waktu lahir petugas kurang bersih merawat jalan napasnya?” Jawaban praktisnya adalah “Bila memang kurang bersih waktu lahirnya, anak saat ini mestinya sudah ada di surga. Nyatanya si kecil masih di sini, jadi pasti bersih waktu petugas merawat jalan napasnya”.
Untuk itu kita perlu lebih cermat menangani kasus chesty child. Suatu survei tentang kepuasan pasien oleh dr. Steven Feldman baru-baru ini disimpulkan pasien akan puas bila dapat menjalani komunikasi dengan dokternya, serta dokter yang suportif dan care. Kuncinya komunikasi, memberi penjelasan pada orang tua pasien dengan bahasa awam apa yang dialami anaknya.
Selalu memproduksi lendir
Saluran napas setiap saat akan memproduksi sekret (lendir) yang bermanfaat untuk fungsi pernapasan itu sendiri. Sekret ini akan dibersihkan oleh sistem bersihan mukosilier di dinding saluran napas. Bila jumlah sekret sedikit, secara tak sadar akan tertelan, bila banyak, akan merangsang refleks batuk. Pada bayi muda, kemampuan bersihan ini belum optimal hingga sekretnya tak bisa dibersihkan sempurna. Itulah mengapa bayi kecil sering bernapas grok-grok. Tetapi semakin ia besar, meningkat pula kemampuan bersihan mukosilier hingga gejala diharapkan akan membaik seiring perjalanan waktu.
Cari penyebab
Bila gejala chestiness berat atau berlanjut, perlu dicari dan ditelusuri faktor lain yang berperan. Pajanan asap rokok merupakan satu hal yang wajib digali informasinya bila bertemu dengan pasien chesty child. Merokok pasif merupakan salah satu penyebab tersering terjadinya chestiness, dan dapat merupakan penyebab tunggal. Pajanan ini bukan hanya terjadi bila si perokok merokok dalam rumah. Merokok di teras, garasi, dan kamar mandi bisa menimbulkan polusi karena asap bisa menelusup ke mana pun. Penghindaran asap rokok ini saja biasanya sudah sangat mengurangi keluhan pasien, atau gejala chestiness hilang sama sekali.
Selain asap rokok, keluhan chestiness akan lebih menonjol bila ada riwayat alergi dalam keluarga. Perlu ditelusuri adanya alergi dalam keluarga ayah dan ibu pasien. Kalau perlu ditelusuri hingga buyutnya. Sebagian besar chesty child, yaitu sekitar separuhnya ternyata mengalami asma. Oleh karena itu, bila berjumpa dengan chesty child, perlu penggalian ke arah asma. Misalnya ada pola berulang, gejala memburuk malam hari, dan gejal amembaik dengan pemberian obat asma. Juga perlu ditanyakan adanya faktor pencetus baik lingkungan (debu rumah, bulu binatang, asap, dll), pencetus makanan (es, coklat, makanan bervetsin), atau tertular salesma (common cold), aktifitas fisis berlebihan, udara dingin, dan sebagainya.
Sebagian chesty child lain, gejala muncul sebagai manifestasi akut infeksi respiratorik akut (IRA) berulang karena virus (recurrent viral ARI) tanpa kelainan lain. Hingga saat ini belum jelas benar mengapa pada sebagian anak mudah megnalami chestiness ini. Tapi mengingat ditemukannya pola sama dalam keluarga, diduga faktor genetik ikut berperan. Anak ‘sehat’ megnalami beberapa kali episode IRA, normalnya tak lebih dari 6-8 kali pertahun dengan durasi kurang dari seminggu, umumnya 2-3 hari. Pada chesty child, episode batuk pilek lebih sering terjadi, bisa dengan atau tanpa demam. Pencetus chestiness tidak selalu karena IRA, tapi dapat karena berbagai hal lain, sperti polutan baik dalam rumah atau luar rumah. Durasi chestiness juga berlangsung lebih lama, lebih dari seminggu atau bahkan lebih dari dua minggu.
Pada sebagian kecil chesty child dapat ditemukan penyakit dasar yang lebih serius seperti refluks gastroesofagus (aliran balik cairan lambung ke esofagus), laringotrakeomalasia (kelemahan saluran tenggorokan dan trakea), gangguan menelan, bronkiektasis, dan lain-lain. Pada anak dengan gangguan saraf otot (neuromuskular), misalnya palsi serebral biasanya jug amengalami gejala chestiness. Pada pasien tersebut terjadi gangguan fungsi otot menelan dan atau otot yang berperan dalam proses batuk. Biasanya pasien juga mengalami gangguan fungsi bersihan mukosilier berlanjut. Sebagai hasilnya, pasien dengan gangguan neuromuskular juga menjadi chesty child dengan gejala makin berat bila ada faktor pendukung, misalnya IRA atau polutan dan alergen.
Waspadi berbagai kelainan
Tampak terlihat kalau chesty child mencakup anak dengan kelainan klinis pernapasan yang luas, termasuk batuk kronik berulang. Pendekatan klinis praktisnya adalah pertama mencari kemungkinan pajanan asap rokok sebagai penyebabnya. Langka kedua, digali kemungkinan ke arah asma. Biasanya sebagian besar sudah terjaring dalam dua hal tersebut. Bila tidak, lanjutkan penelusuran ke arah penyakit dasar lain yang lebih serius. Tidak lupa kemungkinan kelainan bawaan bila terjadi paa usia sangat muda. Perlu diingat pula kemungkinan kelainan neuormuskular sebagai faktor dasar terjadinya chestiness.
Add comment Agustus 8, 2009
Timbal Tingkatkan Risiko Karies Gigi
SUMBER : http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/29/03472092/timbal.tingkatkan.risiko.karies.gigi
Jakarta, Kompas – Paparan timah hitam atau timbal ternyata memicu karies
gigi sulung pada anak-anak. Karena itu, konsumsi makanan yang kaya
kalsium perlu diperbanyak.
Hal ini disampaikan Ririn Arminsih Wulandari dalam disertasi untuk
memperoleh gelar doktor dalam Ilmu Epidemiologi di Universitas
Indonesia, Senin (27/7) di Depok. Ririn meraih gelar doktor dengan
predikat sangat memuaskan.
Karies, salah satu penyakit jaringan keras gigi, ditandai kerusakan
permukaan gigi. Kerusakan mulai dari lapisan terluar, yaitu email,
berupa reaksi demineralisasi oleh asam yang terbentuk dari hasil
fermentasi glukosa dalam plak, menjalar ke lapisan bawahnya, yaitu dentin.
Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001 menyebutkan, angka kejadian karies
gigi di Indonesia 52,3 persen. Selain kebiasaan dan frekuensi gigi,
karies gigi dipengaruhi kadar timbal (Pb) dalam darah seseorang.
Menurut Ririn, dalam penelitiannya, dari 265 siswa SD kelas II usia 6-8
tahun di Kota Bandung, prevalensi karies gigi 94,71 persen dengan tujuh
gigi sulung berlubang. Rata-rata asupan kalsium siswa SD kelas II adalah
288,72 mg per hari atau di bawah nilai standar 600 mg per hari.
Hasilnya, kelompok siswa dengan kadar Pb pada gigi sulung 1,55 mikrogram
per gram atau lebih berisiko 2,78 kali kejadian karies gigi sulung
daripada kelompok dengan kadar Pb kurang dari 1,55 mikrogram per gram.
Pb dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan dan pencernaan,
lalu diserap sel darah merah, dan didistribusikan ke jaringan keras
tulang, gigi, dan jaringan lunak. Timah hitam pada gigi dapat terjadi
karena substitusi dengan kalsium yang berdampak terjadinya perubahan
struktur.
”Hal ini mengakibatkan gangguan dari kekuatan gigi sehingga terjadi
keretakan gigi. Adanya Pb ditandai garis hitam pada gigi,” kata Ririn.
Anak-anak bisa terpajan Pb sejak dalam kandungan melalui plasenta
ataupun terpapar dari lingkungan sekitar.
*Berbahaya*
Meski Pb termasuk logam berat toksik, penggunaannya amat luas karena
bersifat menguntungkan, yaitu mudah ditempa, tidak bereaksi dengan air,
tidak mudah terbakar, penghantar listrik yang baik, dan tidak tembus
sinar radioaktif. Penggunaan Pb, antara lain, sebagai bahan baku batu
baterai dan aki, pelapis pada kabel listrik, kaleng makanan, dan
minuman, campuran cat, campuran bahan bakar, campuran pestisida,
campuran permen, serta pelapis kotak makanan.
Sumber pencemaran Pb di lingkungan ditemukan di udara, air, tanah,
makanan, dan tumbuhan. Masuknya Pb ke dalam tubuh manusia melalui kulit,
sistem, pernapasan, dan pencernaan. Timah hitam terakumulasi pada
jaringan lunak, seperti otak, ginjal, dan hati, serta pada jaringan
keras, yaitu pada tulang dan gigi.
Ekskresi Pb lewat feses, urine, keringat, dan air susu ibu. Kelompok
yang berisiko terpajan Pb ialah mereka yang ada di jalanan, seperti
polisi lalu lintas, pedagang kaki lima, pejalan kaki, pengendara sepeda,
anak yang bersekolah di daerah padat lalu lintas, dan kelompok pekerja
industri, seperti batu baterai dan aki.
”Keterpajanan Pb pada ibu yang sedang hamil akan didistribusikan ke
janin melalui plasenta sehingga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
janin,” kata Ririn.
Gejala klinis akibat terpajan Pb adalah pusing, mual, rasa logam di
dalam mulut, muntah, dan ada garis hitam pada gigi. Dampak jangka
panjang berupa penurunan kemampuan belajar dan fungsi pendengaran, serta
kerusakan fungsi organ. seperti ginjal, sistem saraf, reproduksi, dan
otak. (EVY)
Add comment Juli 30, 2009
Racun Dalam Produk Mandi Bayi
SUMBER : http://www.tipsbayi.com/
SUMBER sumber: healthnews.com
Berencana membeli sabun atau shampoo untuk bayi Anda? Tahukah Anda bahwa dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Analytical Sciences (sebuah laboraturium independen di Petaluma, California, Amerika Serikat) awal tahun 2009, ternyata 32 dari 48 produk mandi bayi mengandung karsinogen yang dapat menyebabkan kanker?
Latar Belakang Penelitian
Pada awal tahun 2009, Analytical Sciences memeriksa 48 produk mandi bayi dalam rangka “The Campaign For Safe Cosmetics”.
Ternyata 32 produk diantaranya mengandung 1,4-dioxane dan 23 diantaranya mengandung formaldehyde dalam jumlah kecil. Bahkan 17 produk terbukti mengandung kedua unsur kimia ini.
Produk mandi bayi yang terkontaminasi ini pun tidak terbatas pada sabun dan shampoo saja, tetapi juga produk-produk lain seperti lotion, gelembung busa untuk mandi, sabun cair, pasta gigi, tissue basah, serta sun block untuk bayi.
Apa Bahayanya dan Bagaimana Bisa Terdapat Dalam Produk Mandi Bayi?
Menurut Environmental Protection Agency Amerika Serikat, kedua unsur kimia di atas dicurigai sebagai penyebab penyakit kanker dan sebenarnya tidak ditambahkan secara sengaja ke dalam produk-produk tersebut.
Kedua unsur kimia ini muncul dikarenakan proses pembuatan produk, oleh karena itu Anda tidak akan menemukan 1,4-dioxane dan formaldehyde dalam daftar bahan pada semua kemasan produk ini. Sebuah penelitian lain di tahun 1982 yang dilakukan oleh FDA menunjukkan bahwa 1,4-dioxane yang terdapat pada lotion dapat menembus dan meresap ke dalam kulit manusia dan formaldehyde dapat memicu reaksi alergi pada sebagian orang yang sensitif.
Tanggapan Produsen
Diantara produk yang tercemar kedua unsur kimia ini adalah 2 produk terkenal dari Johnson & Johnson, yaitu Johnson & Johnson Baby Shampoo dan Baby Magic Lotion. Dalam sebuah pernyataannya, Johnson & Johnson menyatakan bahwa, “FDA dan badan-badan pemerintahan lainnya di seluruh dunia menganggap bahwa kandungan sejumlah yang ditemukan tersebut termasuk aman dan seluruh produk kami telah lolos dari persyaratan dan peraturan di setiap negara di mana produk-produk ini dijual.”
Mereka juga menambahkan, “Kami kecewa karena Campaign for Safe Cosmetics telah salah dalam menilai keamanan produk-produk kami, telah berseberangan dengan konsensus para peneliti ahli dan badan penelitian pemerintahan yang telah memeriksa keamanan bahan kandungan produk kami, serta telah membuat panik banyak orang tua.”
Di sisi lain, Stacy Malkan, juru bicara Campaign for Safe Cosmetics mengatakan, “Kami tidak bermaksud untuk membuat panik para orang tua, akan tetapi untuk memberitahu mereka bahwa produk-produk yang mengaku berbahan lembut dan alami ternyata terkontaminasi oleh karsinogen, yang sebenarnya sama sekali tidak perlu.”
Malkan juga megatakan bahwa walaupun tingkat kandungan kedua kimia tersebut termasuk rendah, masalahnya sejumlah kecil karsinogen ini ditemukan di BANYAK produk dan produk-produk ini digunakan SETIAP HARI, sehingga bisa membahayakan juga.
Sehingga Malkan menyatakan, “Produk-produk ini bukanlah yang paling aman serta paling alami – dan para orang tua harus mengetahui hal ini.”
Apa yang Harus Anda Perbuat?
Jepang dan Swedia telah melarang penggunaan formaldehyde pada produk-produk personal care. Uni Eropa juga telah melarang penggunaan 1,4-dioxane. Sedangkan FDA (Food and Drug Administration – Amerika Serikat) belum menentukan batas aman pengunaan kedua unsur ini pada produk personal care dan masih menganggap bahwa jumlah kandungan yang ada sekarang tidak membahayakan.
Malkan sendiri untuk saat ini menyarankan agar Anda memilih produk mandi bayi yang mengandung lebih sedikit bahan. Ingat-ingat itu saja ya… Lebih sedikit bahan (ingredients) berarti lebih baik dan aman…
Add comment Juli 17, 2009
Ratusan Jajanan Sekolah Berbahaya
source : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/06/23/Metro/krn.20090623.168919.id.html
TANGERANG – Ratusan jajanan di Kota Tangerang diduga mengandung bahan
berbahaya. Hasil itu didapat setelah Dinas Kesehatan Kota Tangerang
mengambil 270 sampel makanan jajanan dari 30 pedagang di 21 sekolah
dasar. Pemeriksaan dilakukan sejak 8-17 Juni lalu.
Pedagang yang diduga mencemarkan bakteri ke penganan yang dijualnya juga
ikut diperiksa. Pemeriksaan oleh Subdinas Pelayanan Kesehatan Dinas
Kesehatan Tangerang terdiri atas pemeriksaan cemaran bakteri pada
makanan jajanan sekolah, pemeriksaan /rectal swab/ (usap dubur) dan
/hand swab/ (usap tangan) pada pedagang, dan pemeriksaan bahan tambahan
makanan.
“Hasilnya belum kami ketahui,” kata Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dr
Hery Suharyanto kepada /Tempo/ kemarin. Beberapa jajanan yang diduga
mengandung bahan berbahaya antara lain gulali, agar-agar, es serut, dan
saus untuk siomay. Ada pula lontong, bakso, gorengan, mi, kue adonan,
dan martabak yang terindikasi mengandung boraks.
Selain itu, minuman yang melebihi ambang batas pengimulsi (bahan
tambahan penguat rasa), misalnya rasa madu yang berasal dari pemanis
buatan, ikut diperiksa. Kodratullah, seorang staf di POM Dinas Kesehatan
Kota Tangerang, mengatakan pengimulsi itu bertujuan menyamarkan rasa dan
supaya jajanan menjadi kental.
Menurut Kodrat, para pedagang menjalani pemeriksaan usap tangan dan usap
dubur untuk mengetahui apakah mereka membawa bibit bakteri karena
bersentuhan dengan makanan yang dijualnya. “Ada alatnya untuk /rectal
swab/,” tutur Kodrat. Setelah hasilnya keluar, menurut dr Hery, Dinas
Kesehatan akan melakukan pembinaan terhadap pedagang yang menjual
makanan-makanan berbahaya. “Kami akan memberikan penyuluhan. Kami tak
ingin mematikan mata pencarian mereka,” ujarnya.
Sementara itu, di Depok, daerah yang juga terdapat jajanan berbahaya,
Dinas Kesehatan akan melakukan pembinaan terhadap pedagang pada 2010.
Menurut Kepala Seksi Pengawasan Obat dan Makanan Dinas Kesehatan Depok
Yulia Oktavia, pihaknya juga akan memberikan penyuluhan kepada guru,
kepala sekolah, dan murid. Yulia belum mau mengungkapkan makanan apa
yang diduga mengandung bahan berbahaya. “Nanti akan kami beri tahu
jajanan ini mengandung apa saja,” tuturnya. *AYU CIPTA| TIA HAPSARI
Add comment Juni 23, 2009
MENGAPA ANAK ANAK PENYUKA PERMEN LEBIH GAMPANG SAKIT?
sumber : Wied Harry Apriadji
INTI sel merupakan pusat pertahanan tubuh. Di sana bertumpuk timbunan vitamin C, untuk menjaga sistem kekebalan tubuh. Ketika anak makan permen berlebihan – maupun makanan-minuman manis lainnya, kedudukan vitamin C dalam inti sel tersebut diserobot oleh gula. Mengapa sistem pertahanan tubuh mudah dibobol oleh gula, ternyata karena struktur molekul gula dan vitamin C serupa. Akibatnya, tubuh kita terkecoh dan bersedia membuka pintu gerbang sistem pertahanan tubuh tersebut bagi
masuknya pasukan gula. Nah, ketika kekuasaan vitamin C dalam inti sel sudah direbut oleh gula, maka sistem pertahanan tubuh menjadi anjlok. Pada saat inilah penyakit dan gangguan kesehatan lebih gampang datang, salah satu di antaranya flu dan pilek.
Rasa manis gula bersifat adiktif (membuat ketagihan). Karena itu, alihkan kegemaran terhadap rasa manis pada makanan-minuman manis alami. Misalnya jus jeruk manis (diperas dari jeruk siam/pontianak), jus wortel-apel (dalam perbandingan sama, diproses dengan juice extractor), jus nanas-bayam (bayam cukup 1/4 bagian dari nanas, diproses dengan juice extractor). Berikan jus buah manis ini sesaat ketika anak bangun tidur. Jus diberikan pada suhu kamar, tanpa tambahan es dan/atau buah tidak dingin lemari es, agar nutrisinya lebih mudah diserap tubuh. Dengan demikian, bukan hanya kebutuhan anak terhadap rasa manis akan terpuaskan, tetapi sistem kekebalan tubuhnya juga akan menjadi lebih baik.
Wied Harry Apriadji
Ahli gizi dan kuliner sehat alami
1 comment April 28, 2009
Kebugaran dan Anak-anak Usia 2-3 tahun
sumber : www.sehatgroup.web.id
Anak-anak usia 2-3 tahun belajar berbagai macam gerakan dasar seperti berjalan, berlari, menendang, dan melempar. Anak-anak di usia ini sangat aktif secara alami, jadi berikanlah mereka kesempatan untuk terus berlatih dan membangun keahlian ini. Dengan mendukung anak anda untuk terlibat dalam kegiatan bermain, anda juga membantu anak anda tetap fit di masa kini dan di masa yang akan datang.
Seberapa banyak yang diperlukan? Berdasarkan National Association of Sports and Physical Education, setiap balita harus :
• mendapatkan paling sedikit 30 menit kegiatan fisik terstruktur (dengan pengawasan orang dewasa)
• mendapatkan paling sedikit 60 menit kegiatan fisik tidak terstruktur (bermain bebas)
• tidak non aktif selama 1 jam dalam 1 waktu (kecuali untuk tidur)
Apa yang Anakku Lakukan
(lagi…)
Add comment November 17, 2008
Sakit tanda mau pintar
sumber : www.sehatgroup.web.id/milist sehat
01/07/2005
Q : Dok,Saya sering mendengar, jika balita mengalami sakit panas atau buang air dengan maaf e’e’ terdapat seperti biji cabai menandakan anak akan bertambah pintar (ngentengin badan) benar gak sich dok?Pertanyaan kedua, benarkah penggunaan Baby walker tidak baik untuk perkembangan bay?sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
Maya
A : Dear MayaTerimakasih atas email dan pertanyaanmuHehehe … memang banyak pola pikir di masyarakat seperti yang kamu kemukakan … sebenarnya sih tidak ada konsep seperti itu dalam dunia kedokteran
Demam kan gejala .. semacam alarm bahwa ada sesuatu tengah terjadi dalam diri si anak. Penyebab demam banyak sekali tetapi pada bayi dan anak kebanyakan karena infeksi dan kebanyakan karena infeksi virus (disertai pilek, batuk). Jadi samasekali tidak ada kaitannya dengan mau pinter Nah .. ketika sembuh kepandaiannya bertambah .. itu sih memang sudah waktunya dia kepandaiannya bertambah
Juga tidak benar kalau tinjanya berbiji-biji artinya mau pintar
Baby walker di berbagai negara maju memang sudah dilarang karena terkait angka kecelakaan yang tinggi. Pemakaian baby walker memposisikan bayi pada risiko cedera (baby walker kan bisa berkecepatan tinggi sehingga dalam sekejap bisa berada di luar jangkauanmu)
Kedua .. pemakaian baby walker tidak menambah kepandaian bayi, bayi justru tidak berlatih untuk mempergunakan seluruh anggota tubuh termasuk kaki. Bayi yang duduk di baby walker hanya mempergunakan tungkai bawah, pahanya pasif
Ok .. lebih baik biarkan ia rambatan sambil dijaga, bantu dia untuk titah kalau ia memang sudah ingin jalan
Sayang saya untuk anakmu ya
wati
Add comment November 17, 2008
Tidur Bayi Berhubungan Erat dengan Obesitas
sumber : ‘Tidur Bayi Berhubungan Erat dengan Obesitas’
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2008/11/06/brk,20081106-144287,id.html
TEMPO Interaktif New York: Tidur konsisten sejak bayi ternyata berhubungan
dengan berat badan ketika dewasa. Peneliti menemukan hubungan erat ini,
ketika mengamati 1000 orang sejak bayi sampai usai 32 tahun.
Dalam penelitian ditemukan, bahwa ketika masa kecilnya kurang tidur atau
tidak konsisten jam tidurya, maka ketika dewasa cenderung mengalami masalah
obesitas.
Bayi TidurDr Robert John Hancox dalam penelitian ini mengatakan kebiasaan
tidur awal akan berpengaruh langsung pada berat badan pada rentang waktu
yang panjang. “Meskipun kita tidak dapat membutikan apa penyebabnya dan
hubungannya, tapi studi ini membuktikannya.”
(lagi…)
Add comment November 6, 2008
Bayi Kurang Gizi, Daya Kognitif Berkurang
sumber : Idionline/KCM
Anak-anak yang pada masa usia mulai nol hingga lima tahun harus mendapatkan nutrisi sesuai dengan kebutuhannya, karena kurangnya salah satu unsur saja akan membuat pertumbuhan mereka terganggu.
Salah satu unsur itu misalnya zat besi. Apabila anak-anak menerima asupan makanan dengan tingkat kandungan zat besi yang rendah maka berakibat terjadinya defisiensi pada otak (berkurangnya kemampuan kerja otak), walaupun mereka memperoleh penanganan medis sejak awal, demikian dilaporkan oleh para peneliti Amerika.
Hasil penelitian terhadap 185 remaja Costa Rica menunjukkan bahwa mereka yang pada masa usia balita mengalami kekurangan zat besi pada nutrisinya semasa lima tahun pertama dalam kehidupan mereka, tak pernah lulus tes daya ingat dan daya kemampuan belajar, dan semakin besar kekurangan zat besi pada nutrisi yang diperolehnya pada usia hingga lima tahun maka semakin buruk pula kondisinya bersamaan dengan bertambahnya umur mereka.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Pediatri dan Remaja memperlihatkan betapa pentingnya nutrisi pada usia awal sejak bayi hingga lima tahun, demikian para peneliti melaporkan.
(lagi…)
Add comment November 5, 2008
Tata Laksana Otitis Media Akut
sumber : www.sehatgroup.web.id
6/8/2007
Definisi dan Anatomi Telinga
Otitis media adalah infeksi atau inflamasi (inflamasi: peradangan) di telinga tengah.1,2
Telinga sendiri terbagi menjadi tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam (ilustrasi pembagian telinga dapat dilihat di http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/1092.htm ).1,3
Telinga tengah adalah daerah yang dibatasi dengan dunia luar oleh gendang telinga. Daerah ini menghubungkan suara dengan alat pendengaran di telinga dalam. Selain itu di daerah ini terdapat saluran Eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan rongga hidung belakang dan tenggorokan bagian atas. Guna saluran ini adalah:
- menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga dan menyesuaikannya dengan tekanan udara di dunia luar.
- mengalirkan sedikit lendir yang dihasilkan sel-sel yang melapisi telinga tengah ke bagian belakang hidung.
Bagaimana Otitis Media Terjadi
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.1 Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.
Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus).2 Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri.1 Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.
Sebagaimana halnya dengan kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris, setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun.4 Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun.
Penyebab
Penyebab otitis media akut (OMA) dapat merupakan virus maupun bakteri.4,5 Pada 25% pasien, tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Virus ditemukan pada 25% kasus dan kadang menginfeksi telinga tengah bersama bakteri. Bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenzae dan Moraxella cattarhalis. Yang perlu diingat pada OMA, walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik. Hal ini dimungkinkan karena tanpa antibiotik pun saluran Eustachius akan terbuka kembali sehingga bakteri akan tersingkir bersama aliran lendir.
Mengapa Anak Lebih Mudah Terserang OMA
Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena beberapa hal.1
- sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan.
- saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.
- adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.
Diagnosis
Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut.6
- Penyakitnya muncul mendadak (akut)
- Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga tubuh) di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut:
- menggembungnya gendang telinga
- terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga
- adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga
- cairan yang keluar dari telinga
- Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut:
- kemerahan pada gendang telinga
- nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal
Anak dengan OMA dapat mengalami nyeri telinga atau riwayat menarik-narik daun telinga pada bayi, keluarnya cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran, demam, sulit makan, mual dan muntah, serta rewel.4,6,7 Namun gejala-gejala ini (kecuali keluarnya cairan dari telinga) tidak spesifik untuk OMA sehingga diagnosis OMA tidak dapat didasarkan pada riwayat semata.6
Efusi telinga tengah diperiksa dengan otoskop (alat untuk memeriksa liang dan gendang telinga dengan jelas).4
Add comment Oktober 28, 2008










