Posts filed under 'KEHAMILAN'
Ibu Over Hati-hati, Bayi Penakut!
SUMBER : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby
“Saya bingung, sejak hamil lagi istri saya serba takut mau ngapain-ngapain. Hanya di tempat tidur. Malah diajak berhubungan intim saja nggak mau. Pokoknya serba hati-hati dan takut melakukan apa pun. Padahal kata dokter nggak apa-apa, lho,” cerita seorang reporter sebuah televisi swasta yang tak mau disebut namanya. “Eh, itu berpengaruh nggak sih sama janin?” tiba-tiba ia balik bertanya.
Tindakan ibu hamil yang harus ekstra hati-hati, sebenarnya hanya lantaran ketakutan terjadi sesuatu pada bayinya jika ia melakukan berbagai kegiatan atau makan makanan tertentu. Ini bisa jadi karena ibu memiliki pengalaman yang tak bagus pada kehamilan sebelumnya (traumatik), seperti pernah mengalami keguguran atau ‘tersugesti’ berbagai pantangan yang dikatakan orang-orang tua. Atau mungkin juga karena kepribadian ibu memang pencemas.
Jika tanpa indikasi medis – seperti riwayat keguguran berulang atau komplikasi kehamilan – sesungguhnya ibu hamil bisa menjalani kehidupan kehamilannya secara normal. Bekerja di kantor, boleh; makan apa saja, tak ada pantangan asal tak berlebihan; berhubungan intim dengan suami, silakan, dsb.
Malah, menurut spesialis kebidanan dan kandungan Nining Hadiyanti, terlalu hati-hati, serba takut kalau-kalau kegiatannya akan mengganggu janin, justru berpengaruh pada janin. “Bukan hanya gizi, stimulus luar atau penyakit yang dapat mempengaruhi janin, juga kondisi emosi ibu,” tegasnya.
Ibu yang memiliki kecemasan berlebihan yang ditandai dengan tindakan ekstra hati-hati, menurut penelitian, perilakunya dapat menurun pada bayi yang dikandungnya. Ingat kan Bu, jika kita takut untuk melakukan sesuatu, pasti jantung berdebar lebih kencang, dan itu dirasakan janin. Selain itu, ketika kita cemas dan ketakutan, oksigen jadi terhambat, terus mengganggu aliran darah ke seluruh tubuh termasuk ke janin. Karena kekurangan pasokan, janin pun ikut gelisah.
Bagaimana setelah si kecil lahir? Menurut psikolog Henny Eunike Wirawan, M.Hum., bayi yang gelisah karena ibunya serba ketakutan, besar kemungkinan menjadi anak pencemas, penakut,dan cengeng. “Selain pengaruh hubungan saraf, terhambatnya oksigen, karena ikatan emosional ibu dan bayi itu sudah terbentuk sejak dalam kandungan,” jelasnya. “Maka, kalau ibu pencemas, penakut, siap-siap saja punya anak yang juga penakut atau cengeng.”
Jangan Serba Takut, Ah!
Takut begini, takut begitu, Bu, Pak. Cobalah usir dengan…
* Bapak, bantu ibu dengan menjelaskan bahwa itu ketakutan yang tak perlu.
* Lawan perasaan takut. Yakinlah bahwa kehamilan Anda normal-normal saja dan melakukan berbagai kegiatan justru membuat Anda dan bayi lebih sehat.
* Yang penting, pola makan Anda bagus. Makanan yang baik memenuhi kebutuhan Anda dan janin. Janin yang sehat dan kuat dapat Anda ‘ajak’ melakukan berbagai macam aktivitas.
* Keluarlah dari rumah, kunjungi tetangga dan teman Anda, dan bersantailah.
* Hindari gula terutama bila digabung dengan cokelat dan minuman berkafein lainnya karena dapat meningkatkan kecemasan.
Dr. Nining Hadiyanti, spesialis kebidanan & kandungan
Siapa Yang Perlu Ekstra Hati-hati?
Setiap kehamilan pasti harus dijaga dengan hati-hati. Namun pada beberapa pasien dengan riwayat tertentu harus dijaga ekstra hati-hati. Mereka yang harus lebih hati-hati:
* Pasien yang susah mendapatkan anak. Secara medis pasien yang demikian disebut infertilitas sehingga agak susah mendapatkannya. Sewajarnyalah kalau ibu demikian lebih hati-hati menjaga kehamilannya.
* Ibu dengan riwayat keguguran berulang. Pasien ini biasanya mudah hamil tapi selalu mengalami keguguran. Perlu ekstra hati-hati bahkan mungkin sampai bed rest.
* Kehamilan pertama di atas usia 35 tahun. Kehamilan itu biasanya mengandung risiko sehingga harus dijaga ekstra.
* Ibu dengan penyakit tertentu. Misalnya, yang mengidap penyakit hipertensi, diabetes, jantung, ginjal atau penyakit lainnya yang membahayakan kehamilan. Sementara itu dari sisi anak, ibu harus menjaga kehamilan bila keadaan janin placenta previa, atau ari-ari terletak di bawah.
Ibu hamil yang tak mengalami keluhan atau gangguan alias normal saja tentu tak perlu ekstra hati-hati. Hati-hati perlu, dengan memperhatikan gizi dan istirahat yang cukup. b Mira
Sumber: Tabloid Ibu Anak
Add comment September 7, 2009
Apakah Mulut Rahim Lemah Itu ?
sumber : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby
Selama masa kehamilan, banyak proses yang akan berlangsung. Bukan hanya pada janin yang terus tumbuh dan berkembang, tetapi juga pada tubuh si ibu ang hamil. Namun kadangkala tubuh ibu tidak sepenuhnya ’siap’ mengantisipasi perubahan yang terjadi selama proses kehamilan berlangsung. Adanya beberapa kelainan pada tubuh ibu hamil, seperti lemahnya otot-otot pada mulut rahim bukan tidak mungkin dapat mengancam kehamilan.
Mulut rahim yang lemah, dalam ilmu kebidanan dikenal sebagai inkompetensia serviks. Ini merupakan istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot mulut rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka di tengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin besar. Pada kehamilan yang normal, mulut rahim harus selalu tertutup rapat sampai masa kehamilannya berakhir, yakni setelah mencapai 37-38 minggu.
Biasanya, keadaan ini baru akan terjadi pada saat usia kehamilan sudah memasuki trimester kedua atau ketiga. Terbukanya mulut rahim sebelum waktunya ini akan menyebabkan bayi lahir prematur dan juga mengakibatkan keguguran.
Penyebab Kelainan Mulut Rahim dan Gejalanya
Para ahli belum dapat mengetahui secara pasti faktor-faktor yang menyebabkan kelainan pada mulut rahim ini sampai saat ini. Namun ada beberapa kondisi yang terbukti menjadi faktor penunjang terbukanya mulut rahim sebelum waktunya. Wanita yang memiliki mulut rahim lemah biasanya mempunyai sejumlah riwayat kesehatan tertentu. Misalnya saja pernah mengalami trauma pada mulut rahimnya. Trauma ini misalnya karena pernah mengalami operasi pada membuka mulut rahim (dilatasi), misalnya kuretase.
Selain itu, bila seseorang wanita pernah mengalami kesulitan pada waktu proses persalinan sebelumnya sehingga mengakibatkan ‘kerusakan’ pada rahimnya, atau memiliki kelainan pada rahimnya, pernah hamil kembar, atau memiliki riwayat keluarga dengan kelainan yang sama pada mulut rahimnya, maka kemungkinan besar menderita kelainan pada mulut rahim.
Kemungkinan juga bisa terjadi pada wanita yang pernah megalami keguguran pada trimester ke-2 atau lebih dari 2 kali berturut-turut.
Gejala kelainan mulut rahim
Terbukanya mulut rahim di tengah masa kehamilan umumnya ditandai dengan gejala berupa perdarahan dari vagina, bercak-bercak darah maupun perdarahan cukup banyak. Seringkali, ibu hamil yang mengalami kelainan pada mulut rahimnya juga akan merasakan pada bagian perut bawah, atau adanya beban yang sangat berat terpusat di bagian bawah perut.
Tindakan Medis yang Tepat
Apapun tindakan yang akan dilakukan dokter, tujuannya adalah untuk mempertahankan kehamilan tersebut agar dapat berlangsung hingga mencapai usia 37-38 minggu. Jangan sampai si janin lahir sebelum waktunya. Sebab, paru-paru janin belum cukup matang dalam perkembangannya sehingga tidak akan mampu berfungsi dengan baik untuk menunjang kehidupan bayi setelah lahir. Upaya yang akan dilakukan dokter adalah ‘mengikat’ mulut rahim agar tertutup kembali sampai masa kehamilan berakhir dan janin siap untuk dilahirkan.
Tindakan ini biasanya dilakukan sebelum kehamilan mencapai usia 20 minggu. Yaitu dengan teknik yang disebut Mac Donald dan Shirodkar. ‘Ikatan’ ini umumnya akan dibuka setelah kehamilan mencapai 37 minggu, kehamilan cukup bulan sekitar 7 bulan, atau bila ada tanda-tanda melahirkan.
Sumber: Tabloid Ibu Anak
1 comment September 7, 2009
Episiotomi dalam Persalinan (Bagian 2),
SUMBER : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby Sat
Perawatan dan Persiapan Hubungan Intim
Pada bagian pertama tulisan ini telah dipaparkan definisi medis episiotomi, sejarahnya dalam dunia kebidanan, dan praktiknya di kamar bersalin saat ini. Bagian kedua ini akan mengupas perawatan luka episiotomi dan bagaimana hubungan intim pertama kali dilakukan setelahnya.
Apa yang terjadi setelah persalinan dengan episiotomi selesai?
Banyak perempuan merasa terlalu khawatir terhadap luka perineumnya sehingga takut melakukan aktivitas seperti berjalan, buang air kecil, mandi, dll., pada hari-hari pertama usai melahirkan. Sebenarnya hal ini berlebihan karena luka episiotomi bisa pulih lebih cepat, tak perlu menunggu hingga 4-6 minggu.
Kuncinya adalah memulihkan kesehatan secara umum dan menjaga kebersihan luka episiotomi. Lakukan perawatan rutin seperti yang disarankan dokter, misal, membasuh luka dengan cairan antiseptik (bisa juga menggunakan air rebusan daun sirih), mengganti pembalut dengan teratur, menjaga daerah perineum agar tak lembab — karena lembab akan mengundang jamur — dan mandi secara teratur. Dulu, ada pemikiran mencampurkan garam pada air mandi akan mempercepat proses penyembuhan, tapi faktanya hal ini malah akan membuat luka menjadi teriritasi. Anda juga sebaiknya menghindari busa sabun mandi — ada baiknya untuk hanya menggunakan air saat mandi untuk beberapa minggu. Keringkan luka dengan mengusapnya secara lembut, menggunakan handuk bersih.
Saat ke Kamar Kecil
Dalam beberapa hari pertama mungkin saja akan terasa sakit saat buang air kecil. Beberapa ibu menggunakan air hangat untuk membasuh bagian luka agar tak terasa sakit. Ini boleh-boleh saja, tapi mungkin akan terasa sedikit menyengat.
Menghilangkan Rasa Sakit
Episiotomi dengan sedikit jahitan biasanya lebih cepat pulih dan tak menimbulkan rasa sakit ketimbang episiotomi dengan jahitan banyak. Jika ada rasa seperti terbakar pada bekas episiotomi, jangan pernah berpikir untuk menghilangkannya dengan menggunakan kantung es yang ditaruh langsung. Jika Anda melakukannya, mungkin malah akan merasa semakin terbakar oleh dingin es. Segala sesuatu yang dingin juga akan memutus aliran darah di area tersebut, dan ini malah memperlambat penyembuhan.
Banyak dokter merekomendasi ibu mengkonsumsi obat arnica yang tersedia di apotek secara bebas, untuk membantu proses penyembuhan. Jika tetap merasa sakit, minta rekomendasi untuk mengkonsumsi obat parasetamol. Jika menginginkan obat lebih kuat, minta pada dokter yang bisa dikonsumsi. Jangan gegabah mengingat Anda juga tengah menyusui.
Berhubungan badan
Waktu yang tepat untuk mengetahui kapan hubungan intim dilakukan kembali setelah bersalin, sangat bergantung pada keputusan masing-masing individu, persisnya antara Anda dan suami. Yang pasti, Anda harus menunggu sampai perdarahan pasca-persaliann selesai (masa nifas), dan luka episiotomi sembuh sebagian atau sepenuhnya. Ini perlu dipertimbangkan, sebab luka tersebut bisa saja masih rapuh dan menyebabkan kesakitan setelah berhubungan intim.
Normalnya, hubungan intim sesudah beberapa minggu atau bulan tindakan episiotomi, tak menimbulkan rasa sakit. Tetapi jangan malu mengatakan pada suami jika memang masih terasa nyeri. Cobalah lagi lain waktu bila Anda lebih siap. Jika irisan telah dijahit dengan baik, tak ada alasan jahitan tersebut copot atau lepas saat Anda berhubungan intim, meski masih banyak saja ibu merasakan ketakutan ini.
Menggunakan sedikit minyak pelumas di area vagina Anda juga merupakan ide baik, mengingat usai melahirkan vagina Anda belum cukup mempunyai minyak pelumas untuk lubrikasi. Hindari penggunaan minyak pelumas yang unsurnya tak termasuk air, seperti jelly petroleum, karena tak memungkinkan udara masuk ke dalamnya dan malah akan menghambat proses penyembuhan.
Jika ingin mulai melakukan hubungan seks, Anda bisa mengambil sejumlah posisi yang ‘aman’. Posisi sama-sama menyamping cukup baik untuk memperkecil tekanan pada bagian perineum. Bangunlah aktivitas seksual Anda, tapi jangan sampai membatasi atau tak mengindahkan rasa sakit yang dirasakan.
Komplikasi
Masalah yang umum terjadi setelah melakukan episiotomi adalah infeksi, akibat sulitnya menjaga daerah tersebut tetap kering dan bersih. Masih tergolong normal bila luka kembali berdarah, setelah 6 minggu pasca-melahirkan. Rasa gatal yang berlebih juga bisa menandakan adanya infeksi, masuknya jamur, atau hal lainnya pada bekas luka, yang harus dicek lebih lanjut ke dokter. Beberapa ibu mungkin saja merasa sakit karena jahitan yang dibuat terlalu kencang, tetapi dokter bisa dengan segera membetulkan dengan mengendurkan atau melepas beberapa jahitan yang membuat tak nyaman tersebut. b Rahmi Hastari/MB
Sumber: Tabloid Ibu Anak
Add comment September 7, 2009
Episiotomi, Apakah Itu? (Bagian 1)
sumber : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby
Episiotomi salah satu prosedur persalinan normal. Meski sempat menjadi momok di dunia persalinan, faktanya prosedur ini sangat membantu ibu dan bayi.
Salah satu prosedur persalinan normal adalah episiotomi, yaitu pengguntingan untuk memperbesar jalan lahir bayi. Biasanya dokter atau bidan membuat irisan pada perineum (area antara vagina dan lubang anus) dan badan perineal (segitiga di dalam belahan otot dan jaringan otot yang terdapat dalam dasar rahim).
Teknologi ini dikembangkan di Inggris pada tahun 1970 dan awal 1980-an, di mana saat itu tindakan episiotomi dipakai pada sekitar 50% persalinan, dan dianggap perlu ketimbang pembukaan secara alami. Namun setelah itu ada juga periode ketika episiotomi ditinggalkan dan para ibu memilih melahirkan secara natural. Dengan informasi yang cukup dan ahli penolong persalinan yang tepat, sebenarnya episiotomi tak perlu menjadi momok bagi para ibu.
Kapan episiotomi diperlukan?
Setiap persalinan sangat tergantung pada masing-masing individu. Namun berikut ini ada beberapa alasan umum mengapa Anda membutuhkan tindakan episiotomi.
1. Untuk mempercepat persalinan bila kepala bayi terlalu besar (biasanya berlawanan dengan perineum) dan bayi memperlihatkan tanda-tanda dalam bahaya.
2. Sebelum dilakukan persalinan bantuan dengan forsep atau vakum.
3. Untuk menghindari risiko kerusakan kepala bayi pada persalinan sungsang atau kelahiran prematur.
4. Untuk menghindari upaya yang terlalu keras jika calon ibu mengidap sakit jantung atau tekanan darah tinggi.
5. Untuk membantu persalinan jika ada hambatan yang serius pada tahap kedua persalinan, yang bisa jadi mengharuskan akibat perineum yang keras karena pernah mengalami operasi, baik untuk memperbaiki mulut rahim atau sejenis operasi kandung kemih.
Bisakah menghindari episiotomi?
Banyak bidan menyatakan perineum perempuan Asia lebih lentur, tapi belum diketahui apakah hal itu akibat faktor genetik atau perbedaan gaya hidup. Anda dapat menghindari tindakan episiotomi, sekaligus mengurangi rasa sakit persalinan, dengan beberapa cara berikut:
1. Melakukan latihan mulut rahim, untuk membantu perineum menjadi lebih lentur.
2. Melakukan pemijatan pada bagian perineum dengan menggunakan minyak sayur atau minyak almond.
3. Kemungkinan paling efektif menghindari tindakan episiotomi adalah dengan melakukan proses persalinan yang benar, misal perlahan mengeluarkan kepala bayi sesuai dengan tingkatan pembukaan vagina. Tunggulah refleks menekan secara alamiah yang akan Anda alami. Hindarilah tekanan yang terlalu dipaksakan.
4. Tetap rileks dan dengarkan baik-baik petunjuk yang diberikan dokter. Dokter bisa memperlambat jalannya persalinan, bila memang Anda merasa tak tahan. Dokter juga yang bisa menilai kapan waktu yang tepat untuk meminta Anda melakukan tekanan. Jika Anda mendorong terlalu awal, sebelum perineum terbuka maksimal, Anda akan lebih merasakan sakitnya.
Jika cara di atas gagal Anda lakukan, janganlah menutup pikiran Anda untuk melakukan episiotomi. Jika memang Anda ditawari untuk melakukannya, pastikanlah Anda melakukannya dengan kerelaan. Sikap ini akan sangat membantu Anda nantinya, karena bagaimanapun, prosedur ini harus dilakukan demi keselamatan dan kelancaran persalinan Anda dan bayi Anda sendiri.
Siapa yang kompeten melakukan episiotomi?
Seorang dokter atau bidan dapat melakukan episiotomi. Anda akan diminta mengambil posisi lithotomy (berbaring pada punggung), dengan kaki diangkat pada pijakan kaki. Episiotomi juga bisa dilakukan dengan cara berbaring pada satu sisi, satu kaki diangkat. Sebelumnya area vagina dibersihkan dengan obat antiseptik untuk mencegah infeksi pada luka.
Pemberian anestesi
Jika sebelumnya Anda telah diberi suntikan epidural (anestesi yang membuat mati rasa di bagian bawah tubuh), tindakan anestesi untuk episiotomi bisa dilakukan di bagian daerah yang telah mati rasa tersebut. Meski demikian, jika Anda kerap melahirkan tanpa dibantu penghilang rasa sakit, penggunaan gas, udara, dan pethidine (analgesik yang membuat Anda santai), Anda akan diberikan anestesi lokal untuk menghambat saraf sensitif di area perineal — biasanya diberikan sedikit takaran lignocaine, yang disuntikkan di kulit.
Untuk melindungi kepala bayi, yang mungkin lebih besar dibandingkan area perineum pada saat ini, dokter akan memasukkan dua jari ke dalam vagina saat ia menyuntikkan anestesi. Membutuhkan sekitar 4-5 menit untuk menunggu efek anestesi bekerja.
Pengguntingan
Pemotongan dilakukan menggunakan sepasang gunting khusus episiotomi, atau dengan pisau bedah. Ada dua tipe irisan: midline atau garis tengah, yang potongannya lurus ke bawah dengan anus atau mediolateral, yaitu agak rendah ke sudut. Irisan midline umum di Amerika. Di negara lain irisan mediolateral lebih populer.
Biasanya dokter akan menunggu Anda mengalami kontraksi lebih dulu sebelum melakukan pengguntingan, karena pada saat itu perineum mudah diiris dan perdarahannya segera dihentikan. Kemudian, dokter akan memasukkan dua jari ke dalam vagina untuk melindungi kepala bayi.
Setelah itu bayi akan lahir tepat setelah diberikan episiotomi.
Jika ternyata ada irisan yang rusak, dokter mungkin melakukan tekanan dengan jari pada bagian irisan untuk menahan perdarahan — perineum penuh pembuluh darah sehingga bila terjadi perdarahan adalah normal.
Jika anestesi bekerja dengan semestinya, Anda tak akan merasa sakit. Namun beberapa perempuan merasakan suatu sensasi saat perineum ditarik atau dientakkan. Jika Anda merasa kesakitan, segera katakan pada dokter.
Penjahitan
Saat bayi lahir dan plasentanya keluar, dokter akan menjahit irisan yang dibuatnya. Jahitan umumnya tak menyakitkan. Waktu penyembuhannya berbeda-beda, tergantung jenis irisan dan pengalaman dokter yang melakukannya. Yang perlu diketahui, jahitan ini telah dilakukan dengan hati-hati, karena itu, jangan khawatir bila kering dalam waktu agak lama. Di lain pihak, banyak ibu begitu semangat mendapatkan seorang anak, sehingga mereka bahkan tak ingat telah melakukan episiotomi. b Rahmi Hastari/MB
Sumber: Tabloid Ibu Anak
Add comment September 7, 2009
Yang Harus Dilakukan Oleh Ibu Hamil
sumber : cyberjob.cbn.net
Mother And Baby
Apabila Anda pernah menjalani tindakan pelebaran pada mulut rahim, misalnya untuk kuretase, atau pernah mengalami beberapa hal yang memperbesar kemungkinan mulut rahimnya menjadi lemah, sebaiknya lebih waspada pada saat menjalani kehamilan berikutnya.
Lakukan pemeriksaan lebih rutin terhadap kondisi kehamilan Ibu, termasuk keadaan mulut rahim. Juga jangan menunda untuk segera memeriksakan diri apabila terdapat bercak-bercak darah di tengah-tengah masa kehamilan ibu, apalagi jika ibu mengalami pendarahan.
Apabila ibu sudah mendapatkan penanganan berupa ‘pengikatan’ pada mulut rahim, Ibu diharuskan menjalani istirahat total atau bed rest dan mendapat obat penenang rahim dan pencegah infeksi. Juga, untuk sementara Ibu tidak diperbolehkan untuk melakukan senggama dan sebagian aktivitas Ibu harus dibatasi.
Upaya Pencegahan
Mengingat penyebab lemahnya mulut rahim ini belum dapat diketahui secara pasti, maka upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahannya pun tidak dapat disarankan secara khusus.
Artinya, dengan melakukan sejumlah hal yang disarankan tersebut, tidak dapat dipastikan bahwa Ibu akan terhindar dari kemungkinan untuk mengalami kelemahan pada mulut rahim.
Tapi paling tidak, Ibu yang memiliki kemungkinan untuk menderita kelainan ini, dianjurkan untuk waspada dan lebih sering memeriksakan diri dan kehamilan Ibu ke dokter.
Sumber: Tabloid Ibu Anak
Add comment September 7, 2009
Ibu Hamil dan Perjalanan Jauh
Sumber : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby
Ibu hamil boleh melakukan perjalanan jauh, termasuk lebih dari 5 jam, asalkan memperhatikan beberpa faktor baik sebelum maupun selama mudik. Ini penting demi kenyamanan ibu dan keselamatan janin, baik saat di perjalanan maupun ketika sampai di tujuan. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan, antara lain usia kehamilan, keadaan kesehatan kehamilan, kesehatan umum ibu, dan kenyamanan di perjalanan. Berikut hasil wawancara dengan Dr. Alfiben Sp. Og dari RD Hermina Depok.
Di beberapa negara ada kebijakan medis yang melarang ibu usia kehamilan lebih 32 minggu melakukan perjalanan jauh. Alasannya, pada usia kandungan tersebut, jantung dan organ tubuh ibu bekerja lebih berat dari biasanya. Saat itu kebutuhan janin akan oksigen dan pasokan makanan dari ibu menjadi lebih banyak. Akibatnya, volume plasma darah meningkat 30-35%. Artinya, tubuh ibu hamil lebih cepat merasa lelah dan daya tahan tubuhnya berkurang. Misal, jika berdiri terlalu lama, ibu akan pingsan. Akan sangat beresiko jika ibu melakukan perjalanan jauh hingga merasa kelelahan.
Bagi ibu hamil yang usia kandungannya di bawah 32 minggu, mudik masih dibolehkan. Namun sebelumnya, periksakan dulu kondisi kesehatan umum dan kesehatan kehamilan. Jika kehamilan tidak bermasalah dan kesehatan ibu secara umum cukup baik, ibu boleh mudik. Namun bila kehamilannya bermasalah, ada baiknya ibu menunda perjalanan jauh.
Pada dasarnya kehamilan ada dua macam. Sebagian besar kehamilan adalah kehamilan normal. Sebagian kecil, sekitar 10%, kehamilan tidak normal atau bermasalah. Maksudnya, sejak awal kehamilan, ibu memiliki masalah kesehatan fisik dan psikis. Bagi ibu yang kehamilannya tidak normal inilah perjalanan jauh yang melelahkan bisa menimbulkan risiko perdarahan atau malah keguguran.
Berikut ini beberapa tips yang harus dilakukan ibu hamil, sebelum dan selama melakukan perjalanan jauh:
1. Periksakan kesehatan secara umum pada dokter kandungan atau bidan yang biasa memantau kandungan ibu. Mintalah semacam surat keterangan rujukan. Ini penting untuk memberikan gambaran kepada dokter atau bidan di kampung halaman jika terjadi sesuatu terhadap kehamilan.
2. Pastikan di kampung halaman ada tempat bagi ibu hamil untuk memeriksakan kesehatan. Tanyakan hal ini pada famili yang tinggal di sana. Ini untuk memastikan ibu cepat mendapatkan pertolongan jika terjadi sesuatu.
3. Pastikan kondisi fisik ibu dalam keadaan fit, sehingga kuat di perjalanan. Jika perlu, minum vitamin yang dianjurkan dokter agar tubuh lebih kuat.
4. Persiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan di perjalanan. Misal. kendaraan yang nyaman, membeli tiket sejak awal tidak perlu antre, dan menghindari terjebak macet yang terlalu lama.
5. Pola makan selama di perjalanan harus dijaga. Tetaplah makan teratur, dan mengkonsumsi susu dan vitamin. Pilih camilan berupa buah dan hidangan sarat gizi, misal, roti isi, lontong daging, atau pastel sayuran, ketimbang snack asin berupa keripik dan minuman bersoda.
6. Demi kenyaman ibu hamil di perjalanan, pilihan alat transportasi sangat menentukan. Kenyamanan memang sarat mutlak, agar kehamilan ibu tidak terganggu. Syarat kenyamanan kendaraan umum, misal, tersedia kursi untuk duduk, tersedia ruang untuk menselonjorkan kaki, ventilasi udara cukup baik, ibu hamil tidak bercampur dengan penumpang lain yang merokok, dan tersedia toilet ibu hamil biasanya sering buang air. Jika mungkin, carilah transportasi umum yang menyediakan tenaga medis, untuk menaggulangi kondisi darurat.
7. Utamakan pakaian yang longgar dan menyerap keringat, untuk menagtisipasi sebab produksi keringat yang lebih banyak selama hamil. Jangan gunakan pakaian atau celana celana ketat.
8. Perbanyak istirahat di jalan. Menikmati pemandangan boleh saja, tapi jangan sampai membuat kelelahan. Misal, terlalu banyak terjaga, berdiri, atau berjalan-jalan. Kelelahan akan membahayakan kesehatan ibu dan janin.
9. Jangan terlalu lelah saat bersilaturahmi dengan keluarga di kampung halaman. Ingatlah perjalanan Anda kembali ke rumah akan sangat membutuhkan tenaga.
10. Usai melakukan perjalanan jauh, upayakan untuk memeriksakan kembali kandungan, paling tidak 2-3 hari setelah tiba di rumah. Tenaga medis akan memberitahukan apa yang harus dilakukan ibu sekembali mudik, misalnya beristirahat atau memberikan vitamin tambahan. (Rahmi Hastari)
1 comment Agustus 6, 2009
Bedah Caesar Berulang
Sumber : http://cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby
Pada umumnya, persalinan dengan bedah caesar merupakan pilihan terakhir setelah segala upaya untuk melahirkan normal mengalami kegagalan. Atas alasan medis, ibu harus melakukan operasi yang dilakukan dengan membuka dinding perut dan dinding uterus, untuk mengangkat bayi dari dalam rahim. Sebenarnya persalinan bedah caesar sangat beresiko tinggi bagi ibu maupun bayi. Oleh karena itu ibu yang pernah menjalani operasi caesar memerlukan persiapan lebih baik saat
menghadapi persalinan berikutnya. Banyak ibu beranggapan dia tidak akan bisa mempunyai anak lagi pasca-persalinan bedah cesar pertama. Ada juga yang beranggapan tidak bakal bisa menjalani persalinan secara normal. Berikut hasil wawancara dengan Dr. Alfiben Sp. OG dari RS Hermina Depok.
Pernah mendengar kisah Ethel Kennedy? Ibu mantan senator senior AS Robert F. Kennedy ini, melahirkan sebelas anaknya dengan bedah caesar! Padahal pada jamannya dulu bedah caesar masih belum semaju dan seaman saat ini, lho.
Hingga kini pun sebetulnya banyak dokter tetap berpendapat bedah caesar tidak mungkin dilaksanakan hingga berulang-ulang. Mengapa? Ini lantaran bedah caesar untuk kali berikutnya akan sangat bergantung dari jenis irisan bedah yang dibuat dan jenis jaringan parut terbentuk pada bedah cesar pertama. Karena itu bila ibu terpaksa melalukan persalinan pertama dengan bedah caesar, ada baiknya mengkonsultasikan hal ini ke dokter kandungan sehingga Anda bisa mengetahui dengan pasti apakah bisa melalukan bedah cesar kembali atau tidak pada persalinan berikutnya.
Di lain pihak, bila Anda memang telah melakukan bedah caesar berulang kali, ada baiknya berpikir ulang untuk melakukannya kembali. Sebab Anda telah banyak mendapatkan jaringan parut. Ini bisa menimbulkan resiko robeknya rahim pada saat kontraksi persalinan. Oleh karena itu, ibu diharapkan mengetahui segala informasi tentang mengapa persalinan harus dilakukan dengan bedah caesar dan bagaimana sayatan yang diberikan pada rahim (jenis bedah caesar).
Untuk kembali berbaring di meja bedah pun persiapannya harus dilakukan ekstra baik. Misal, makanan harus mencukupi baik jumlah maupun kualitasnya – umumnya yang memenuhi standar empat sehat lima sempurna – harus cukup melakukan olahraga, mempersiapkan diri dengan baik – fisik maupun mental – serta melakukan pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesehatan dan rumah sakit yang baik.
Saat menjelang persalinan, Anda pun harus bersikap lebih waspada. Cobalah untuk mengetahui dan sigap dalam menyikapi tanda-tanda menjelang kelahiran, terutama pada bulan-bulan terakhir kehamilan, seperti terjadinya kontraksi, pengeluaran darah, dan pecahnya ketuban. Jika tanda-tanda ini muncul, beritahukan dokter dan segera ke rumah sakit. Anda juga dianjurkan untuk segera memberitahu jika mengalami perdarahan atau nyeri perut terus-menerus, tanpa
bisa menjelaskan penyebabnya.
Sekali Caesar, Tidak Selamanya Caesar
Ada ungkapan mengatakan “Sekali cesar, tetap cesar”. Sebenarnya ini tidak berlaku lagi, sebab para pakar Obstetri dan Ginekologi telah mengeluarkan pernyataan bahwa tindakan cesar yang berulang-ulang tidak dianjurkan dan menyarankan ibu melakukan persalinan per-vagina setelah bedah caesar pertama. Statistik pun menunjukkan, sekitar 50-80% ibu yang pernah bersalin secara cesar pun akan mampu menjalani proses persalinan normal pada persalinan-persalinan berikutnya. Persalinan normal ini juga tergantung jenis irisan bedah pada rahim (yang bisa berbeda dari irisan bedah pada dinding perut) yang dilakukan pada bedah sebelumnya dan dari sebab bayi Anda harus dikeluarkan melalui pembedahan.
Bila Anda mempunyai irisan bedah yang melintang rendah – yaitu mengiris bagian bawah rahim yang 95% dilakukan oleh bedah caesar saat ini – maka besar kemungkinan Anda akan sukses melahirkan melalui vagina setelah caesar tersebut. Bila Anda mempunyai irisan klasik yang vertikal – yaitu irisan tegak di tengah rahim – biasanya Anda tidak akan dibolehkan melakukan persalinan per-vagina, karena resiko robeknya rahim. Rahmi Hastari
Add comment Agustus 6, 2009
Persalinan Darurat di Rumah
sumber : Mother And Baby
Untungnya persalinan darurat di tempat-tempat unik hanya terjadi di film atau TV. Tetapi hanya untuk berjaga-jaga bila kebetulan Anda adalah salah satu dari wanita seperti itu, mungkin bijaksana bila Anda dan pasangan mengenal dasar-dasar persalinan darurat di rumah, di perjalanan atau di kantor. Kuncinya tetap tenang, ingat meski Anda tidak tahu apa-apa tentang melahirkan bayi, secara alami tubuh seorang ibu dan anaknya dapat melakukan tugasnya sendiri. Berikut hasil wawancara dengan Dr Deddy Arman Saidi, Sp OG dari RS Hermina, Bekasi.
Persalinan Darurat di Rumah atau di Kantor
1. Hubungi pusat pertolongan darurat terdekat. Minta mereka menghubungi dokter Ibu.
2. Ibu harus mulai menarik nafas pendek dan cepat untuk menghindarinya dari mengejan
3. Selama persiapan dan persalinan, tenangkan dan yakinkan ibu.
4. Bila ada waktu, cuci daerah vagina dan tangan Anda dengan sabun dan air.
5. Bila tidak waktu memindahkan ibu ke tempat tidur, letakkan koran, handuk bersih, atau pakaian yang dilipat di bawah pantatnya untuk meninggikan agar ada ruang untuk bahu bayi.
6. Bila ada waktu tempatkan ibu di meja atau tempat tidur, sedemikian rupa agar pantatnya agak menggantung, tangan berada di bawah paha untuk menjaga paha tetap terangkat. Bila ada letakkan dua kursi untuk mendukung kakinya.
7. Lindungi permukaan persalinan, bila mungkin dengan taplak plastik, gorden plastik dari kamar mandi, koran , handuk, dsb. Sebuah baskom atau panci dapat diletakkan untuk menadahi cairan ketuban dan darah.
8. Ketika puncak kepala bayi mulai muncul, perintahkan ibu menarik nafas cepat dan pendek atau meniup (tidak mendorong), dan berikan tekana lawan dengan hati-hati pada kepala agar ia tidak keluar dengan tiba-tiba. Biarkan kepala muncul secara bertahap – jangan pernah menariknya keluar!. Bila terdapat lingkaran tali umbilikal melilit leher, kaitkan jari padanya dan dengan hati-hati angkat melalui kepala bayi.
9. Bila kepala telah keluar, dengan hati-hati urut bagian sisi hidung ke arah bawah, leher, dan bagian bawah dagu ke arah, atas untuk membantu mengeluarkan lendir dan cairan ketuban dari hidung dan mulut.
10. Selanjutnya pegang kepala dengan dua tangan dan tekan sedikit ke arah bawah (jangan menarik), pada saat bersamaan mintalah ibu mendorong (mengejan) untuk mengeluarkan pundak bagian depan. Ketika lengan bagian atas muncul, angkat kepala dengan hati-hati, perhatikan pundak bagian belakang muncul. Sekali pundak telah keluar, maka bagian lain dari bayi akan keluar dengan mudah.
11. Segera bungkus bayi dengan selimut, handuk, atau apa saja yang cukup bersih. Letakkan bayi pada perut ibunya, atau bila tali pusatnya cukup panjang (tapi jangan menariknya), bisa pada dada ibunya.
12. Jangan mencoba menarik plasenta keluar. Tapi bila ia keluar dengan sendirinya sebelum ambulans tiba, bungkuslah dengan handuk atau koran dan bila mungkin tempatkan di tempat yang lebih tinggi dari letak bayi. Tidak perlu mencoba memotong tali pusat.
13. Usahakan agar ibu dan bayi tetap nyaman dan hangat sampai bantuan tiba.
Persalinan Darurat di Perjalanan
1. Bila Anda berada di mobil Anda sendiri, berhentilah. Carilah bantuan lewat alat komunikasi. Bila tidak nayalakan lampu peringatan bahay atau atau lampu tanda belok. Bila seseorang berhenti untuk memberi pertolongan, minta padanya menelepon atau menghubungi RS atau pertolongan darurat terdekat. Bila Anda berada di taksi, minta supir taksi meminta bantuan lewat radionya.
2. Bila mungkin bantulah ibu tersebut pindah ke tempat duduk belakang. Letakkan mantel, jaket atau selimut di bawahnya. Lanjutkan pertolongan seperti tulisan di atas.
3. Segera setelah persalinan selesai, lanjutkan perjalanan ke RS.
Persalinan Darurat Seorang Diri
1. Tetap tenang. Hubungi pusat pertolongan darurat terdekat, minta mereka menghubungi dokter Anda.
2. Temui tetangga atau orang lain untuk minta tolong, bila mungkin.
3. Mulai menarik nafas pendek dan cepat agar tidak menekan/mengejan.
4. Kalau bisa, cuci tangan dan daerah vagina.
5. Letakkan beberapa handuk bersih, koran, atau kain lebar pada tempat tidur, sofa, atau lantai, dan berbaringlah sambil menunggu pertolongan.
6. Bila meski Anda sudah menarik nafas cepat dan pendek bayi tetap akan lahir sebelum pertolongan tiba, dengan perlahan mulailah mengejan setiap kali Anda merasakan dorongannya. Dan bila ia keluar, tangkaplah dengan tangan Anda.
7. Lanjutkan dengan langkah nomor 9 sampai 13 tulisan di atas.(BOD)
Sumber: Tabloid Ibu Anak
Add comment Agustus 4, 2009
Pregnant Women Who Eat Chocolate Will Give Birth to Happier Babbies
Source : http://www.baby-parenting.com
Women who munched on chocolate while pregnant gave birth to happier babies, according to a study reported in New Scientist.
A study of more than 300 pregnant women to rate their stress levels and chocolate consumption. Six months after giving birth, the mothers were asked to gauge their child’s behaviour in categories like fear, soothability, smiling and laughter.
The results were surprising. The babies of stressed women who had regularly consumed chocolate showed less fear of new situations than babies of stressed women who abstained.
The babies born to women who had been eating chocolate daily during pregnancy were more active. They better encompassed traits such as smiling and laughter. So expectant mothers can take heart this Easter. Tucking into chocolate eggs is good for the baby.
The researchers point out that they cannot rule out the possibility that chocolate consumption and baby behaviour are both linked with some other factor, they speculate that the effects they observed could result from chemicals in chocolate associated with positive mood being passed on to the baby in the womb.
Add comment Juni 26, 2009
Membaca Hasil Tes TORCH
SUMBER : http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/05/13/16414334/membaca.hasil.tes.torch
KOMPAS.com — Seorang rekan (25) tengah hamil 14 minggu. Sewaktu usia kehamilannya 11 minggu, dia dianjurkan dokter menjalani tes infeksi TORCH (toxoplasmosis, other infections, rubella, cytomegalovirus (CMV), and herpes simplex virus (HSV)). Seminggu kemudian, hasilnya keluar: IgG untuk tokso dan rubella positif, sedangkan IgM negatif. Hasil pemeriksaan tersebut membuatnya panik dan mencemaskan kondisi janinnya, meskipun dia tidak tahu pasti apa perbedaan IgG dan IgM. Kata dokter yang menangani kehamilannya, rekan ini tidak perlu kelewat khawatir karena IgG untuk tokso maupun rubella yang positif masih bisa diobati dengan antibiotik. Benarkah demikian?
Sebagian besar kasus infeksi toksoplasmosis tidak menunjukkan gejala klinik. Satu-satunya cara untuk menentukan apakah seorang ibu terinfeksi atau tidak adalah dengan pemeriksaan serum darah yang akan menunjukkan ada tidaknya parasit bernama Toxoplasma gondii. Pada dasarnya, tubuh akan bereaksi terhadap setiap kuman yang masuk dan menyebabkan infeksi dengan membentuk sistem pertahanan spesifik.
Pada waktu pertama kali terinfeksi (infeksi primer), tubuh manusia akan membentuk senyawa protein IgM (Immunoglobulin M) sebagai reaksi terhadap masuknya mahluk asing ke dalam tubuh. Senyawa protein ini dalam waktu relatif singkat langsung terbentuk begitu tubuh terkena infeksi. Antibodi IgM akan muncul di minggu pertama terjadinya infeksi, mencapai puncak pada satu bulan, kemudian mengalami penurunan. Pada beberapa individu, IgM dapat tetap terdeteksi beberapa tahun setelah infeksi primer. Namun, secara perlahan-lahan, IgM ini akan menghilang dalam waktu 1-24 bulan kemudian dan bisa timbul lagi bila yang bersangkutan terinfeksi kembali.
Tergantung kondisi
Kira-kira 4 minggu setelah terjadinya infeksi primer akan terbentuk pula IgG (Immunoglobulin G) yang merupakan suatu zat penangkis atau kekebalan tubuh. IgG ini juga merupakan protein dengan berat molekul besar. Adanya IgG menunjukkan bahwa dalam tubuh telah terbentuk kekebalan. Jadi, bila titer/angkanya positif berarti tubuh telah membentuk kekebalan terhadap mahluk penyebab infeksi. Secara teoretis IgG ini akan menetap di dalam tubuh. Hanya, kadarnya dapat naik atau turun sesuai kondisi kesehatan seseorang. Namun, pada kebanyakan kasus, IgG terus naik dan IgM menetap.
IgG dan IgM yang positif menunjukkan adanya infeksi primer. Hal ini perlu pengobatan dan evaluasi, baik pada ibu maupun bayinya. Bila IgM positif sedangkan IgG negatif berarti menunjukkan adanya infeksi baru. Jika pada pemeriksaan ulang hasil IgM kemudian menjadi negatif, berarti IgM yang terdeteksi semula tidak spesifik.
Antibodi IgG yang muncul beberapa minggu setelah respons IgM akan mencapai maksimum 6 bulan kemudian. Angka yang tinggi dapat bertahan selama beberapa tahun, tetapi akhirnya terjadi penurunan sedikit demi sedikit, menghasilkan kadar yang rendah dan stabil yang mungkin bertahan seumur hidup. Jadi, ibu yang pernah terinfeksi toksoplasmosis di masa lalu, titer IgG-nya tidak pernah nol ataupun negatif.
Dugaan terhadap infeksi TORCH biasanya memang dibuktikan melalui pemeriksaan darah dengan pengukuran titer IgG, IgM, atau sekaligus keduanya. Kalau IgM dapat terdeteksi sekitar seminggu setelah infeksi akut dan menetap selama beberapa minggu atau bulan, IgG bisa saja tidak muncul sampai beberapa minggu kemudian setelah angka IgM meningkat.
Bila diduga terinfeksi tetapi nyatanya IgM negatif, maka pemeriksaan laboratorium harus diulang 4 minggu dari tanggal pertama kali dilakukan pemeriksaan laboratorium. Ini penting dilakukan untuk memastikan adanya infeksi ataupun tidak. Bila pada pemeriksaan ulang IgM tetap negatif, namun titer IgG memperlihatkan kenaikan sebanyak 4 kali, kemungkinan yang bersangkutan memang sedang terinfeksi. Adapun bila terjadi perubahan titer dari IgM negatif menjadi positif, kemungkinan yang bersangkutan tengah terinfeksi kembali.
Pemeriksaan ulang
Angka-angka yang terbaca pada hasil pemeriksaan laboratorium terhadap serum darah, apakah positif atau negatif, memang hanya ditemukan sebatas pada penyakit-penyakit infeksi yang bisa tertitrasi, yakni akibat infeksi TORCH. Namun, meski angka-angka sudah didapat, kepastian mengenai infeksi ini masih harus dibuktikan dengan pemeriksaan lanjutan, seperti biakan kuman dan pemeriksaan cairan amnion. Sayangnya, di Indonesia belum bisa dilakukan pemeriksaan biakan virus sehingga diagnosis adanya infeksi TORCH hanya berdasarkan hasil laboratorium yang belum tentu 100 persen benar. Mengapa demikian?
Sebab, akurasi angka-angka itu sendiri lagi-lagi terpulang pada mesin pemeriksaan yang digunakan di laboratorium. Itulah mengapa tak jarang dokter menganjurkan pasien melakukan pemeriksaan ulang ke laboratorium berbeda karena sangat mungkin pemeriksaan di satu laboratorium berbeda dengan hasil di laboratorium lain. Perbedaan itu sendiri bisa karena faktor mesinnya, bisa pula akibat penurunan atau peningkatan titer IgG dan IgM sesuai kondisi terkini si pasien.
Bila pada pemeriksaan ulang 4-6 minggu kemudian IgG tidak naik secara bermakna atau tidak terdapat IgM dengan nilai positif, Anda bisa menarik napas lega karena itu artinya Anda tidak perlu mendapat pengobatan. Akan lebih baik lagi bila pemeriksaan ulang tersebut dilanjutkan dengan pemeriksaan aviditas IgG untuk memastikan apakah janin juga terinfeksi atau tidak. Aviditas IgG yang rendah menunjukkan adanya infeksi baru, sementara aviditas IgG yang tinggi merupakan pertanda adanya kekebalan lampau.
Kendati tidak perlu menjalani terapi pengobatan, bukan berarti Anda boleh lalai memeriksakan kandungan. Bahkan, monitoring terhadap janin biasanya dilakukan lebih ketat. Antara lain dengan pemeriksaan USG serial untuk mencari adakah kelainan bawaan pada janin sambil terus memantau pertumbuhannya.
Narasumber: Dr. Stephen V. Mandang, SpOG, MbiomedSc, dari Siloam Hospital Karawaci
(Theresia Puspayanti)
Add comment Mei 15, 2009
Cacar air di kala hamil
sumber : http://www.anakku.net/content/cacar-air-di-kala-hamil
Cacar air atau varicella yang disebabkan virus herpes memang amat mudah menular. Dikalangan anak-anak, rasanya lumrah saja mereka terkena penyakit dengan gejala bintil-bintil merah berair ini. Tapi, bagaimana bila Anda sedang hamil? Penurunan daya tahan tubuh selama hamil menjadikan Anda lebih rentan terhadap penyakit ini meskipun saat kecil Anda pernah menderitanya.
Bisa menulari janin
Penularan virus cacar air biasanya melalui saluran napas seperti cairan hidung, dahak, air liur, atau bersentuhan. Penularan ke janin juga bisa terjadi lewat ari-ari. Masa dari masuknya kuman hingga muncul gejala (inkubasi) adalah 10-12 hari dengan periode infeksius (viremia) yang dapat menularkan pada orang lain sekitar 1 minggu sejak terkena kuman.
Ibu hamil yang terkena cacar dapat menambah risiko pada janin seperti kematian janin atau sindroma varicella kongenital berupa kelainan bentuk dan saraf yang berat pada bayi hingga keterbelakangan menal. Juga, bayi bisa lahir prematur. Ibu pun bisa terkena komplikasi seperti radang paru-paru atau radang otak.
(lagi…)
5 comments November 14, 2008










