Pilih-pilih KB saat masa Menyusui

Asal artikel : http://www.anakku.net/index.php?option=com_content&task=view&id=192&Itemid=57

By Dr. Frida Soesanti, on 17-05-2007 11:07
Published in : ibu-ayah ,ibu

Banyak orang bilang KB dapat mempengaruhi ASI hingga banyak ibu yang menundanya. Ada pula yang beranggapan, ber-KB haruslah menunggu haid pertama setelah bersalin. Ber-KB sesegera mungkin sebenarnya lebih baik selama tak ada masalah dengan pulihnya rahim.

Sebenarnya, memberi ASI eksklusif menjadi salah satu cara KB alami karena dapat menekan kesuburan. Makin sering menyusui, Anda makin terlindungi dari kehamilan. Namun Sekitar 10 persen ibu yang memberi ASI eksklusif bisa juga hamil, hingga cara ini tak 100 persen aman, dan dianjurkan untuk dikombinasi dengan kontrasepsi lain.

Sebaiknya, sebelum melahirkan, ibu sudah mempersiapkan kapan dan metode kontrasepsi apa yang diinginkan karena pastinya ibu sudah direpotkan dengan berbagai hal setelah melahirkan. Para ahli menganjurkan akhir masa nifas ibu sudah mantap dengan metode KB yang dipilihnya.

Keuntungan Kontrasepsi Menyusui

Anda bisa mendapat keuntungan kontrasepsi dari menyusui bila:
- Memberikan ASI eksklusif
- Menyusui sesering dan selama mungkin siang dan malam sesuai keinginan bayi
- Mendahulukan memberi ASI sebelum waktu makan si kecil
- Tetap menyusui meski ibu atau si kecil sedang sakit
- Menghindari pemakaian botol atau empeng atau nipple shield
- Tidak mengalami haid sama sekali setelah delapan minggu setelah melahirkan
- Bayi masih di bawah usia enam bulan

Memilih kontrasepsi saat menyusui

Pil kontrasepsi

Pil KB kombinasi yang mengandung hormon estrogen dan progesteron tidaklah dianjurkan untuk ibu menyusui karena mengurangi produksi ASI. Bila Anda tak cocok dengan cara KB yang lain sedangkan Anda menyusui, lebih baik memilih pil KB yang hanya mengandung turunan hormon progesteron (mini pil). Sebuah studi menunjukkan mini pil ini tidak mempengaruhi ASI dibandingkan pil kombinasi. Efek kontrasepsi mini pil yang lebih lemah bisa dibantu dengan memberi ASI eksklusif. Dan bila ibu sudah berhenti menyusui, barulah menggantinya dengan pil kombinasi.

KB suntik atau implant

Karena hanya mengandung hormon turunan progesteron, KB suntik pada prinsipnya sama dengan mini pil. KB suntik memiliki efek lebih panjang dan disuntikkan pada periode tertentu saja (satu bulan atau 2-3 bulan). Konon, saat penyuntikan dengan dosis tinggi, hormon yang masuk ke ASI akan meningkat, namun menurut studi hal ini tidak merugikan si bayi.

KB implant merupakan jenis KB hormonal yang bersifat jangka panjang. KB dilakukan dengan memasukkan sejenis selongsong berisi hormon ke bawah kulit, dan akan diambil bila ibu menginginkannya atau setelah lima tahun.

Efeknya sama dengan KB suntik.

WHO menyarankan ibu yang menyusui eksklusif mulai memakai kontrasepsi berisi hormon turunan progesteron ini enam minggu setelah melahirkan.

AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)

Sampai saat ini, AKDR menjadi pilihan pertama untuk ibu yang masih menyusui namun belum ingin kontrasepsi mantap.Selain keluhan yang minimal, AKDR tidaklah berpengaruh pada ASI karena bekerja secara lokal di dalam rahim. Pemasangan AKDR tidaklah perlu menunda waktu, bisa dilakukan pada akhir nifas, biasanya saat satu bulan tujuh hari setelah ibu bersalin. Sebab, bila diberikan lebih awal, risiko AKDR untuk terlepas (ekspulsi) lebih besar.

Metode kontrasepsi lain

Beberapa ibu memilih untuk mengkombinasi ASI eksklusif dengan metode KB sederhana seperti kondom, diafragma, atau senggama terputus. Kedua metode ini akan saling melengkapi selama proses menyusui dilakukan dengan benar. Ingatlah untuk mengganti metode KB bila ibu tak lagi menyusui secara eksklusif karena metode-metode ini memiliki efektifitas yang rendah.

Pada ibu yang tak ingin punya anak lagi, kontrasepsi mantap yaitu dengan mengikat saluran rahim bisa dilakukan dalam 24 jam pertama setelah melahirkan. Kontrasepsi mantap juga bisa dilakukan pada pasangan dengan mengikat saluran sperma.

Pilihan terbaik KB saat menyusui
1. Bila sudah tak ingin punya anak lagi, lakukan kontrasepsi mantap
2. AKDR
3. Suntik KB depoprovera
4. KB implant
5. Mini pil atau cara sederhana lain
6.Pil kombinasi adalah pilihan terakhir, digunakan bila ibu tak lagi menyusui atau anak sudah diberi makanan padat. Pilihlah yang kandungan estrogennya rendah.

Referensi:
1. Ka rkata MK. Keluarga Berencana saat laktasi. Dalam: Soetjiningsih, ed. ASI petunjuk untuk tenaga kesehatan. EGC, Jakarta. 1997
2. American Academy of Family physicians. Blenning EC, Paladine H. An approach to the post partum office visit. Am Fam Physician 2005;72:2491-6, 2497-8.
3. Combined hormonal versus nonhormonal versus progestin-only contraception in lactation. Cochrane Database syst rev.2003

Reproduksi Sehat dengan Kontrasepsi Oral Plus

sumber : solusikesehatan.com
Sosoknya yang unik membuat wanita harus diperlakukan dan memperlakukan dirinya istimewa. Organ-organ reproduksi yang dimilikinya adalah perabot vital yang harus dipelihara kesehatannya. Salah satu cara dengan pemakaian kontrasepsi yang tepat
Secara kodrati wanita adalah sosok yang unik. Keadaan ini tampak jelas dilihat dari organ-organ tubuh yang dimilikinya. Ada payudara, vagina, rahim, hormon estrogen dan progesterone. Dan tentu saja berbeda dengan pria, dengan organ-organ yang dimiliknya ini wanita mengalami haid, melahirkan dan menyusui.
Fungsi-fungsi reproduksi inilah yang membuatnya istimewa dan khas. Dengan sendirinya, wanita sebagai pribadi juga harus diperlakukan khusus. Entah oleh pria maupun dirinya sendiri. Tentu saja, perlakukan istimewa ini wajib diberlakukan juga untuk organ-organ itu sendiri.
Maka dari itu, kesehatan organ-organ reproduksi adalah hak dan kebutuhan utama wanita. Dr. Ramona Sari, Kepala Divisi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menyebutkan, data angka kematian ibu (AKI) tahun 1997 dari Departemen Kesehatan menunjukkan skor tinggi. “334 dari 100 ribu kelahiran hidup. Itu jumlah yang tidak sedikit,” ujarnya. Dan menurutnya, itu semua akibat dari tidak terpeliharanya kesehatan reproduksi dengan baik.
“Biasanya karena pendarahan, infeksi, terlambat ditolong, terlambat mengambil keputusan, ketiadaan biaya, jumlah anak terlalu banyak sementara jarak usia anak terlalu dekat, belum lagi keracunan kehamilan,”.
Sejak Lahir
Pemeliharaan kesehatan organ reproduksi, menurut Dr. Ramona berlangsung mulai sejak lahir. Namun, masalah reproduksi pada umumnya sering terjadi sejak wanita menginjak usia remaja. Banyak persoalan yang bakal dihadapi bila wanita pada usia ini tidak sadar akan pentingnya pemeliharaan organ reproduksi ini.
Data UNAIDS (United Nations Programme on HIV/AIDS), Desember 1997, menunjukkan bahwa secara global, setiap tahun kira-kira 15 juta remaja usia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS). Bahkan 40 persen dari semua kasus infeksi HIV terjadi pada kaum muda usia 15-24 tahun. Perkiraan terakhir malah mencengangkan. Setiap hari ada 7000 remaja terinfeksi HIV.
“Semua itu tentu saja sangat terkait dengan berbagai faktor. Salah satunya soal akses informasi mengenai kesehatan reproduksi,” tutur Dr. Ramona. Namun dari data yang cukup mencengangkan ini, Dr. Ramona mengingatkan bahwa ada golongan usia lain yang saat ini sangat rawan dengan persoalan kesehatan reproduksi. “Mereka yang sudah mapan hidupnya, mobilitasnya tinggi, belum mikir keluarga karena memang belum mau berumahtangga. Mereka ini ya, para eksekutif muda usia di atas 24 tahun,” jelasnya.
Kehidupan bebas yang cenderung dianut oleh kelompok usia ini menambah kerawanan dalam hal pemeliharaan kesehatan reproduksi. Langkah pencegahan menyebarnya PMS yang paling mungkin adalah dengan menganjurkan pengunaan kondom. “Tentu saja langkah ini minus malum (terbaik dari yang jelek), karena biasanya golongan usia ini tidak bakalan mempan diceramahi apalagi dengan nasihat suci dari kitab suci,”ujar Ramona.
Penggunaan alat kontrasepsi satu ini, menurut Ramona, adalah cara paling aman untuk terhindar dari PMS. “Tentu penggunaannya harus benar. Sejak mulai pria ereksi sampai selesai hubungan seksualnya,”jelasnya.
Kontrasepsi Oral Lebih Banyak
Bahkan untuk para ibu pun sebenarnya penggunaan kontrasepsi kondom ini dianggapnya paling bagus karena sangat aman. “Hanya sayangnya, keluhan bahwa dengan kondom tidak menyenangkan datang dari pria. Padahal justru dengan cara itulah para suami bisa ikut membantu istrinya mengusahakan kesehatan reproduksi, terutama kalau para suami itu sering jajan,” ujar Ramona.
Persoalan penggunaan kontrasepsi memang sering menjadi sorotan dan masalah besar bagi para ibu. “Karena paling sering terkait dengan kesehatan reproduksi,” jelas Dr. Ramona lagi. Kebanyakan wanita, juga pria menginginkan adanya pengaturan jumlah anak. Satu-satunya langkah untuk itu adalah dengan alat kontrasepsi.
Padahal selama ini berbagai alat kontrasepsi yang ada, menurut Ramona lebih banyak menuntut pihak wanita menggunakannya. “Meskipun tersedia kontrasepsi untuk kedua pihak, umumnya wanitalah yang lebih banyak menggunakannya,” jelas Ramona. Sementara itu, tidak ada metode kontrasepsi (pencegah kehamilan) yang bebas dari masalah
Misalnya saja, kontrasepsi diafragma, untuk beberapa pengguna bisa menyebabkan infeksi saluran uretra.atau kontrasepsi spemisida entah yang berupa aerosol, tablet atau krim. Efek samping yang mungkin muncul adalah iritasi vagina. Atau kontrasepsi IUD yang bisa menimbulkan infeksi panggul serta pendarahan di luar masa menstruasi atau darah menstruasi lebih banyak dari biasanya.
Pemakaian kontrasepsi yang tepat akan membantu para ibu mengatur jarak kelahiran. Jarak kelahiran yang memadai setidaknya 2 sampai 3 tahun memberi kesempatan ibu-ibu memiliki waktu untuk mempertahankan kesehatan dirinya sendiri. Juga waktu untuk merawat anaknya secara maksimal.
Dari semua wanita yang pernah konsultasi dengannya, Ramona menyebutkan bahwa kontrasepsi oral berupa pil menduduki rangking pertama. Nomor dua suntik, IUD, dan terakhir adalah susuk.
Dr. Yanto Kadarusman. Sp.OG, spesialis kebidanan dan kandungan dari FKUI membenarkan kenyataan ini. “Sejak 7 tahun silam, mulai banyak wanita yang mengkonsumsi pil sebagai alat kontrasepsi,”. Berapa jumlah pastinya memang tidak disebutkannya. Yang jelas menurutnya sekitar lebih dari 50 persen wanita Indonesia.
Selain paling efektif, praktis, aman, efek samping kontrasepsi oral berbasis hormon ini dianggap relatif rendah dibanding kontrasepsi lainnya. ”Ini mungkin disebabkan perilaku orang kita yang terbiasa meminum obat sehingga pil dianggap paling sesuai baginya,” Ujar Dr. Yanto.
Apalagi dengan teknologi yang saat ini ada. Pil KB yang mengandung estrogen, progesteron sudah dilengkapi dengan hormon antiandrogen. “Selama ini kombinasi kontrasepsi memang hanya estrogen dan progesterone. Itu pun dengankadar tinggi,” ujar Ramona.
Kombinasi hormon three in one berdosis rendah ini berfungsi mencegah ovulasi, meningkatkan kekentalan lendir leher rahim sehingga menghalangi masuknya sperma, dan membuat dinding rongga rahim tak siap menerima hasil pembuahan. Bila dilakukan secara benar dan rutin, akurasi kontrasepsi ini mendekati 100 persen.
Di samping itu, kontrasepsi oral plus ini mampu menyembuhkan kelainan menstruasi, mengatasi kelebihan androgen, dan mengurangi risiko pada alat reproduksi (pendarahan, kanker ovarium, endometrium, infertilitas primer, dan lainnya).
Bahkan pil KB ini, selain sebagai kontrasepsi, juga bisa mengatur siklus haid, dan meredakan keluhan pada kulit, rambut, dan lainnya akibat kelebihan androgen. “Untuk jangka waktu lama, pil ini tidak membuat masalah asal kondisi si ibu benar-benar bagus dan tidak ada kelainan lain,” tutur Dr. Yanto.
Pil KB yang dimaksud adalah kontrasepsi oral yang mengandung etinil estradiol, siproteron asetat (CPA), dan antiandrogen. CPA ini mengikat androgen sehingga kelebihan androgen pada wanita bisa dikurangi. Karena itulah, kulit berminyak dan jerawat bisa dikurangi secara perlahan-lahan dengan metode tersebut.
Apabila wanita berkontrasepsi oral pil seperti ini ingin hamil, penggunaannya bisa dihentikan sewaktu-waktu. Tentu saja, mereka yang berkontrasepsi dengan cara ini, kedisiplinan dibutuhkan dalam meminumnya.
Di samping harus setiap hari selama 21 hari, waktu meminumnya pun harus kurang lebih saja. Misalkan, pada hari pertama meminum pil pada pukul 22.00, esoknya pun pil dimimun pada saat yang sama. Kalaupun terlambat, toleransi waktunya adalah 12 jam. Lebih dari itu, fungsi pil akan berkurang.@ bj
Macam-macam Kontrasepsi
Sterilisasi
Yaitu pencegahan kehamilan dengan mengikat sel indung telur pada wanita (tubektomi) atau testis pada pria (vasektomi). Proses sterilisasi ini harus dilakukan oleh Ginekolog (dokter kandungan), Efektif jika ingin melakukan pencegahan kehamilan secara permanen, misalnya karena faktor usia.
Teknik
1. Coitus Interruptus (Senggama Terputus)
Ejakulasi dilakukan di luar vagina. Efektifitasnya 75-80%. Faktor kegagalan biasanya terjadi karena ada sperma yang sudah keluar sebelum ejakulasi. Orgasme berulang atau terlambat menarik penis keluar.
2. Sistem Kalender (Pantang Berkala)
Tidak melakukan senggama pada masa subur. Perlu kedisiplinan dan pengertian antara suami istri karena sperma maupun sel telur (ovum) mampu bertahan hidup sampai 48 jam setelah ejakulasi. Efektifitasnya 75-80%. Faktor kegagalan terjadi karena salah menghitung masa subur (saat ovulasi) atau siklus haid tidak teratur sehingga perhitungan tidak akurat.
3. Prolonged Lactation
Atau menyusui, selama 3 bulan setelah melahirkan saat bayi hanya minum ASI dan menstruasi belum terjadi. Otomatis tidak akan hamil. Tapi begitu ibu hanya menyusui < 6 jam/hari, kemungkinan terjadi kehamilan cukup besar
Mekanik
1. Kondom
Efektif 75-85%. Terbuat dari latex, ada kondom untuk pria maupun wanita serta berfungsi sebagai pemblokir/barrier sperma. Kegagalan umumnya karena kondom tidak dipasang sejak permulaan senggama atau terlambat menarik penis setelah ejakulasi sehingga terlepas dan cairan sperma tumpah di dalam vagina. Kekurangan metode ini :
- Mudah robek bila tergores kuku atau benda tajam lainnya
- Membutuhkan waktu pemasangan
- Mengurangi sensasi seksual
2. Spermatisida
Bahan kimia aktif untuk membunuh sperma, berbentuk cairan, krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan ke dalam vagina 5 menit sebelum senggama. Efektifitasnya 70%. Sayangnya bisa menyebabkan reaksi alergi. Kegagalan sering terjadi karena waktu larut yang belum cukup, jumlah spermatisida yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas , 6 jam setelah senggama.
3.Vaginal Diafragma
Lingkaran cincin dilapisi karet flesibel ini akan menutup mulut rahim bila dipasang dalam liang vagina 6 jam sebelum senggama. Efektifitasnya sangat kecil, karena itu harus digunakan bersama spermatisida untuk mencapi efektifitas 80%. Cara ini bisa gagal bila ukuran diafragma tidak pas, tergeser saat senggam, atau terlalu cepat dilepas(< 8 jam) setelah senggama.
4. IUD (Intra Uterine Device)
Terbuat dari bahan polyethylene yang diberi lilitan logam, umumnya tembaga (Cu) dan dipasang di mulut rahim. Efektifitasnya 92-94%. Kelemahan alat ini yaitu bisa menimbulkan rasa nyeri pada perut, infeksi panggul, pendarahan di luar masa menstruasi atau darah menstruasi lebih banyak dari biasanya.
IUS (Intra Uterine System) bentuk konrasepsi terbaru, cara kerja sama dengan IUD, nilai plusnya : Lebih tidak nyeri dan kemungkinan menimbulkan menimbulkan perdarahan lebih kecil. Menstruasi jadi lebih ringan (volume darah lebih sedikit) dan waktu haid lebih singkat)
Hormonal
Fungsi utama, mencegah kehamilan (karena menghambat ovulasi). Kontrasepsi ini juga biasa digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesterone, dan androgen dalam tubuh. Kontrasepsi hormonal bisa berupa pil KB yang diminum sesuai petunjuk hitungan hari yang ada pada setiap blisternya, suntikan, susuk yang ditanam untuk periode tertentu, Koyo KB atau spiral berhormon.
Menurut Dr. Ramona, sebenarnya cocok atau tidaknya seseorang pada salah satu jenis alat kontrasepsi tergantung pada kondisi masing-masing. “Semuanya harus dilihat secara menyeluruh lebih dahulu. Sebab itu konsultasi pada bidan, dokter umum atau dokter kandungan adalah tindakan yang tepat sebelum menggunakannya,” jelas Ramona.@
Waspadai Keputihan!
Sebagian besar persoalan reproduksi pada wanita adalah keputihan. Gejala ini dialami hampir oleh setiap wanita. Tidak pandang bulu. Dari yang belum haid sampai wanita menopause. Pada wanita menopause, lendir yang keluar adalah refleks adanya rangsangan, walaupun produksi hormon turun drastis dan tidak mengalami masa ovulasi lagi. Dalam ini masih dianggap normal.
Keputihan yang istilah medisnya flour albus atau lekorea sering menjadi gejala premenstrual syndrome untuk wanita yang masih subur. Karena itu sedikit sekali yang berusaha mengobati keputihan. Padahal, keputihan bisa jadi menandakan adanya gangguan kesehatan, misalnya adanya kanker mulut rahim, yang perlu segera diobati.
“Indikasi adanya masalah kesehatan jika keputihan tersebut mulai berubah warna, gatal dan mengeluarkan bau yang kurang enak,”tutur spesialis kebidanan dan kandungan sekaligus konsultan seks Dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG.
Ada dua jenis keputihan, menurut Boyke. Keputihan fisiologis dan keputihan patologis. Keputihan fisiologis berciri tidak gatal, tidak bau, lendir berwarna bening. Keputihan fisiologis biasanya terjadi hanya pada masa ovulasi atau masa subur (pada wanita usia 20-40-an), menjelang haid, saat hamil karena terkait dengan faktor hormonal, akibat stress, kelelahan, celana dalam terlalu ketat atau sehabis berhubungan seks.
Keputihan patologis muncul, saat lendir yang berlebihan itu keluar disertai infeksi. Bisa lokal sekitar vagina atau di bagian dalam vagina. Biasanya gejala lain yang menyertai antara lain rasa gatal, pedih, vagina kemerahan, dan lendir berubah warna.
Menurut Boyke, hampir semua wanita di Indonesia pernah mengalami keputihan patologis seumur hidupnya minimal satu sampai dua kali. Berdasar pengalamannya menghadapi pasien di Klinik PASUTRI miliknya, Boyke menyebutkan sepertiga pasien yang dihadapinya menderita keputihan.
Sementara itu, Dr. Asri, Sp.OG dari Pusat Pelayanan Keluarga Pro-Familia, Jakarta malah menyebutkan bahwa lebih dari 70% wanita Indonesia mengalami penyakit keputihan.
Bisa Mandul
Sayangnya, keputihan seringkali dianggap sepi. Padahal bisa menyebabkan macam-macam gangguan. Baik keputihan fisiologis maupun patologis harus segera diobati. Masing-masing membawa pengaruh bagi kesehatan
Keputihan fisiologis menyebabkan kurang bersihnya alat kelamin, yang akan menyebabkan masalah pada saat melakukan hubungan seksual. Akibat lain bisa jadi keputihan yang tidak diobati memungkinkan munculnya infeksi indung telur. Akibatnya, wanita tersebut mandul.
Sementara untuk menghindari akibat lanjut dari keputihan patologis, Boyke menyarankan agar para wanita dan pasangannya lebih baik memeriksakan diri mereka dengan pap net sekali dua tahun sejak berhubungan seks.
Pap net adalah Pap Smear dengan memanfaatkan teknologi komputer. Kecanggihannya memungkinkan identifikasi sel-sel abnormal dan sel-sel prakanker dalam jumlah kecil sekalipun. Pap Net dapat menyempurnakan hasil Pap Smear konvensional hingga 30% lebih peka.
“Biasanya langkah ini dilengkapi dengan tindakan yang disebut kuras vagina,” ujar Boyke. Pada dasarnya, ini adalah pengontrolan dan pembersihan vagina sampai ke mulut serta rongga rahim. Langkah ini menjadi tindakan awal supaya jamur atau kuman tidak merembet sampai ke rongga rahim atau saluran telur yang bisa mengakibatkan kemandulan atau infeksi yang bisa menyebabkan munculnya kanker.
“Sebab itu wanita yang menderita keputihan hendaknya tidak menunda pengobatannya,” saran Dr. Asri. Supaya tidak repot, penderita bisa mendatangi klinik semacam Klinik Pasutri atau Pusat Pelayanan Keluarga yang memberi pelayanan mulai dari wawancara, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium serta membersihkan vagina sampai ke rongga rahim hingga pengobatannya sampai tuntas.
Pelayanan seperti one stop treatment dengan biaya Rp 50.000,- per orang biasanya hanya berlangsung sekitar 30 menit. Menurut Dr. Asri, sebenarnya dengan wawancara saja sudah dapat diduga jenis penyebab keputihannya. Tapi akan lebih tepat kalau dilakukan pemeriksaan laboratorium (setelah diambil usapan lendirnya) yang memakan waktu beberapa puluh menit saja. Sementara menunggu hasilnya, pasien dipersilakan menjalani “kuras” vagina.
Caranya, ujung vagina sampai rongga rahim diteropong dengan speculum. Dengan alat penjepit kain kasa (gaas) yang terlebih dulu direndam dalam betadin ini, tindakan “kuras” dilakukan.
Pasien tidak perlu takut karena tindakan ini sederhana dan tidak menyiksa. Setelah hasil pemeriksaan lab diketahui, dokter akan memberikan obat yang tepat. Obat bisa berupa obat minum atau tablet yang dimasukkan ke lubang vagina. Setelah 3 bulan, pasien diharapkan kembali untuk cek ulang. Para ibu yang menghadapi masalah dengan pasangan sehubungan dengan kasus ini bisa sekalian berkonsultasi.
Para wanita yang menderita keputihan, acap kali kambuh penyakitnya karena kurang diobati tuntas. “Mengobati daerah sekitar vagina saja belum cukup, sebaiknya sampai ke bagian dalam,” ujar Dr. Asri. Produk-produk yang memperkenalkan diri sebagai obat semprot pembersih vagina, katanya, belum menjamin kesembuhan. Begitu juga vagina atau krim vagina yang diberikan oleh dokter secara kurang tepat. @
Penyebab Keputihan Patologis
Jamur
Misalnya akibat infeksi jamur Candida albicans. Biasanya warna lendir berubah keruh seperti kapur dan terasa gatal sekali. “Bisa jadi keputihan akibat infeksi Candida albicans ini juga mengenai pria,” jelas Dr. Asri. Sebab itu bila seorang istri menderita candidiasis, suami pun harus diperiksa.
Jamur muncul akibat kurang higienis atau terlalu lembab di bagian organ vital. Misalnya, celana dalam kurang bersih, tinggal atau bekerja di ruangan lembap, atau karena hubungan seksual dengan penderita lain.
Dr. Boyke menegaskan, keputihan jamur bisa muncul akibat minum dosis tinggi obat antibiotik, obat hormon atau steroid dalam jangka panjang. Walau penyakit yang diobati dengan obat-obatan tersebut sembuh, jamur bisa jadi merajalela. Pada penderita kanker yang sedang diobati dengan obat-obatan sitostika (kemoterapi misalnya) yang menurunkan daya kekebalan tubuh pun alat vitalnya atau kulit di bagian lain mudah ditumbuhi jamur.
Penderita diabetes juga acap kali dihinggapi keputihan akibat kurang normalnya metabolisme karbohidrat. Dalam tubuh seseorang yang kekurangan zat besi atau seng juga bisa terjadi candidiasis. Wanita yang gemar menggunakan semprot wewangian pada sekitar vagina ada kalanya mengalami alergi dan dapat menimbulkan luka yang rawan jamur.
Pada wanita hamil, hormon estrogen dan progesteron yang meningkat memudahkan jamur tumbuh. Epitelium vagina (sel yang membentuk lapisan yang menutupi permukaan vagina dan membentuk kelenjar) biasanya jadi tempat tumbuh jamur.
Selain jamur, bakteri semisal hemofilus vaginalis dan parasit dari golongan trikomonas juga sering menyebabkan keputihan.
Cacing Kremi
Di malam hari cacing kremi yang mendekam di usus penderita, biasanya turun ke kawasan dubur untuk bertelur. Setelah itu, ia akan masuk kembali ke usus. Payahnya, cacing ini sering nyasar. Bukannya kembali ke usus, malah masuk ke liang vagina. Akibatnya, korban akan mengalami keputihan karena cacing kremi. Gejalanya, selain rasa gatal, juga adanya lendir keruh dan kental berwarna sedikit kekuningan seperti susu, terkadang berbusa.
Keputihan ini biasanya juga diderita anak-anak perempuan (balita sampai anak besar). Terjadi akibat spora yang menempel pada makanan atau barang lain yang terkontaminasi. Sebab itu kalau ada anak perempuan mengeluh di daerah vagina terasa gatal dan mengeluarkan lendir kekuningan, segeralah periksakan ke dokter. Mungkin penyebabnya cacing kremi.
Penyakit Seksual
Selain ketiga penyebab tadi, ada pula keputihan karena penyakit seksual seperti gonore (GO) atau sifilis yang ditularkan melalui hubungan seksual. Kedua penyakit ini umumnya tidak menampakan adanya gejala gatal, tetapi warna lendir seperti susu dan berbau. Pada penderita sifilis bahkan disertai luka-luka di sekitar vagina.
Sedangkan kalau di sekitar vagina tumbuh sesuatu mirip jengger ayam, kutil, atau kembang kol biasanya itu disebabkan oleh virus tertentu. Gangguan kelainan ini mudah menular pada pasangan hubungan seksualnya.
Sebab Lain
Namun dari sekian macam keputihan, ada yang bukan disebabkan oleh kuman, jamur, ataupun virus, melainkan akibat alat kontrasepsi semisal tampon atau spiral. Kelainan letak uterus atau servik yang perlu pembenahan, tumor ganas (kanker) atau jinak pada mulut rahim, atau sekedar luka bisa muncul keputihan patologis.
Keputihan akibat kanker rahim salah satu penyebabnya adalah sering berganti-ganti pasangan. “Dari berganti-ganti pasangan itulah, maka sang suami menularkan kepada istrinya. Karena para istri malu memeriksakan dirinya ke dokter, maka mereka biasanya baru memeriksa setelah menderita keputihan dan hubungan seks berdarah. Padahal sudah masuk stadium dua atau tiga,” kata Boyke. Padahal dengan deteksi dini melalui pemeriksaan pap net (deteksi kanker), pasien dapat dideteksi ada-tidaknya penyakit kanker. Bahkan jika masih pada stadium dini, penyakit tersebut dapat disembuhkan 100 persen
Kanker mulut rahim juga bisa terjadi pada mereka yang belum pernah melakukan hubungan seksual jika wanita itu sering merokok. “Wanita yang merokok mempunyai kecenderungan 12 kali lebih banyak dibanding wanita yang tidak merokok untuk menderita penyakit kanker mulut rahim,” kata Boyke.@
Alasan Anda Harus Papsmear
Bila Anda perempuan dengan keadaan seperti di bawah ini, perlu melakukan Papsmear atau paptes:
∑Usia di atas 18-70 tahun
∑Menikah pada usia di bawah 20 tahun
∑Pernah melakukan senggama sebelum usia 20 tahun
∑Berusia lebih dari 30 tahun
∑Pernah melahirkan lebih dari 3 kali
∑Pernah memakai alat kontrasepsi lebih dari 5 tahun, terutama IUD atau alat kontrasepsi hormonal
∑Mengalami perndarahan setiap hubunga seksual
∑Mengalami keputihan atau gatal pada vagina
∑Sudah menopause dan mengeluarkan darah pervagina
∑Sering berganti pasangan dalam senggama
Perhatikan hal ini sebelum papsmear:
∑Tidak bersenggama 2 hari sebelum papsmear
∑Tidak sedang haid
∑Tidak melakukan pembilasan vagina dengan cairan khusus pembersih vagina
Papsmear dapat mengenali keadaan pra kanker, 5-10 tahun sebelum sel kanker berkembang. Pencegahan sejak awal dan rutin lebih efektif dan sangat murah.@
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara kebersihan:
Berikut ini beberapa langkah yang harus dilakukan dalam memelihara kesehatan alat reproduksi menurut Dr. Asri, Sp.OG
• Jaga organ intim agat tidak lembab setelah buang air kecil atau buang air besar. Bilas vagina sampai bersih, kemudian keringkan sebelum memakai celana dalam. Usahakan agar daerah kemaluan dan selangkang selalu kering, lebih-lebih bila kita tergolong gemuk. Suasana lembap sangat disukai oleh jamur.
• Saat membersihkan vagina, bilas dari arah depan ke belakang. Hal ini untuk menghindari terbawanya kuman dari anus ke vagina. Lebih baik air untuk membersihkan langsung ditadah dari kran biasa atau dengan kran semprot. Air yang terkumpul di ember atau bak mandi bisa saja terkontaminasi air kencing orang lain, spora, jamur, atau kuman.
• Bila menggunakan kertas tisu, anda harus hati-hati. Lendir dan air memang terserap, tapi hendaknya diingat bahwa tidak semua tisu terjamin kualitasnya. Tisu yang terbuat dari serbuk kayu ada yang tercemar jamur kalau proses pembuatannya kurang baik.
• Hindari pemakaian celana dalam yang ketat. Jangan biarkan celana basah atau lembab, karena memberi peluang tumbuhnya jamur.
• Saat menstruasi, ganti pembalut beberapa kali dalam sehari.darah yang keluar bisa menjadi media tumbuhnya kuman.
• Jika perlu, gunakan cairan pembersih vagina bila memang ada infeksi di daerah kemaluan.
Lakukanlah hubungan seksual hanya dengan satu orang, sebab sering berganti pasangan akan menambah kemungkinan terinfeksi. @

Pil Kontrasepsi Bikin Kulit Lebih Halus?

sumber : Tabloid Nova
Tujuan pemakaian alat kontrasepsi adalah mencegah terjadinya kehamilan. Namun, ternyata, selain fungsi pencegahan kehamilan, alat kontrasepsi juga bisa membuat kulit wajah menjadi halus.

Kenapa dan alat kontrasepsi yang mana?

Rani, lajang 20 tahun, tekun menyimak sebuah artikel tentang pil KB di majalah yang tengah ia baca. Yang membuatnya tertarik, informasi di tulisan itu menyebut bahwa pil KB dapat membuat kulit jadi halus, bersih tanpa jerawat. Benarkah?

Menurut Prof. Dr. dr. Biran Affandi, Sp.OG dari FKUI, alat kontrasepsi, seperti pil KB, umumnya memang dikonsumsi untuk merencanakan sebuah keluarga. Namun, alat kontrasepsi ada banyak macam. Salah satunya, kontrasepsi hormonal yang bisa digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan hormon dalam tubuh. Sementara, jerawat pun timbul karena adanya ketidakseimbangan hormon tadi. Jadi, selain yang berkaitan dengan kehamilan, fungsi alat kontrasepsi juga untuk membuat hormon seimbang.

Pengertian alat kontrasepsi sebenarnya adalah usaha mencegah terjadinya kehamilan. “Sifatnya bisa sementara atau permanen. Beda dengan keluarga berencana (KB) yang artinya lebih luas, yaitu mengatur atau menjarangkan kehamilan untuk merencanakan sebuah keluarga,” jelas Biran.

Ada dua jenis kontrasepsi, yakni non-hormonal dan hormonal. Kontrasepsi non-hormonal ada tiga macam. Yang pertama, kontrasepsi teknik. Misalnya dengan menyusui. “Menyusui 24 jam (full breast-feeding) selama enam bulan pertama usia bayi akan berpengaruh pada pencegahan ovulasi,” jelas Biran. Ditambah lagi, wanita menyusui juga belum mendapat haid.

Yang kedua, kontrasepsi mekanik, yakni dengan spiral (IUD) dan kondom. IUD merupakan alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim. “Tapi spiral ada efeknya, yakni menimbulkan rasa nyeri di perut, infeksi panggul, perdarahan di luar masa menstruasi. Atau darah menstruasi yang keluar lebih banyak dari biasanya.”

Sementara kondom berfungsi sebagai pemblokir sperma masuk ke vagina. “Tapi, ini pun bisa gagal. Biasanya karena kondom tidak dipasang sejak permulaan senggama. Kondom juga mudah robek jika tergores kuku atau benda tajam lain. Pemasangan kondom pun butuh waktu, selain bisa mengurangi sensasi seksual,” papar Biran.

Yang ketiga adalah metode sterilisasi, yaitu pencegahan kehamilan dengan mengikat sel indung telur pada wanita (tubektomi) atau testis pada pria (vasektomi). “Metode ini efektif bagi yang ingin mencegah kehamilan secara permanen, bukan sementara.”

EFEKTIF DAN FLEKSIBEL

* Kontrasepsi hormonal memiliki fungsi utama untuk mencegah kehamilan, tapi juga bisa digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh.

“Kontrasepsi ini mempengaruhi kadar estrogen dan progesteron yang dapat mencegah ovulasi, sehingga akan mencegah kehamilan,” jelas Biran.

Namun, kontrasepsi hormonal tidak boleh diberikan pada wanita yang sedang hamil, punya kelainan pembuluh darah otak, gangguan fungsi hati atau tumor pada rahim. Yang termasuk kontrasepsi hormonal adalah pil kombinasi, suntik, susuk, juga koyo KB. “KB suntik memang praktis dan murah, tapi punya kelemahan, bisa mengganggu siklus haid,” ungkap Biran.

Begitu pula susuk yang ditanam di bawah kulit lengan. Praktis, tapi efeknya membuat nyeri lengan dan seringkali bermasalah saat proses pencabutan. Koyo KB ditempelkan di kulit setiap minggu. Sayang, bagi yang berkulit sensitif, koyo ini sering menimbulkan alergi.

Hingga saat ini, yang paling dianggap efektif adalah pil kombinasi atau biasa disebut oral contraception (OC). OC merupakan kombinasi estrogen dan progesteron berdosis rendah.

Kelebihan OC adalah bisa bekerja dengan berbagai cara sekaligus, antara lain mencegah terjadinya ovulasi, mengentalkan lendir leher rahim sehingga sperma tidak bisa masuk ke rahim, serta membuat dinding rongga rahim tidak siap untuk menerima dan menghidupi hasil pembuahan. Syaratnya, harus disiplin. Dengan disiplin, perlindungan terhadap terjadinya kehamilan bisa mencapai 100 persen.

Selain itu, cara ini juga fleksibel, bisa dihentikan kapan saja. Jika ingin hamil, bisa langsung berhenti minum pil. “Biasanya, 3 bulan setelah berhenti minum pil, wanita akan langsung hamil,” tukas Biran. Penggunaan pil ini juga relatif praktis dibandingkan suntik yang masih memungkinkan terjadinya syok.

Keuntungan lain, OC bisa mengurangi risiko kehamilan di luar kandungan, karena tidak terjadi ovulasi. “OC juga bisa mengurangi risiko terjadinya kista ovarium, penyakit radang panggul, dan mengurangi gejala pre-menstruasi berat seperti kejang perut dan nyeri.”

Radang panggul terjadi akibat infeksi. Nah, OC dapat mengurangi masuknya kuman penyebab infeksi. Masih ada lagi manfaat OC, yakni mengurangi risiko munculnya benjolan jinak payudara, juga infertilitas primer. “OC akan mengurangi risiko kemandulan.”

OC juga dapat melindungi wanita terhadap osteoporosis, serta perlindungan terhadap kanker ovarium dan endometrium, sehingga akan meningkatkan kualitas hidup manusia.

TUMBUH RAMBUT

* OC ternyata juga memberi manfaat tak langsung, misalnya membuat siklus haid kembali normal dan menghilangkan nyeri ovulasi.

Selain itu juga mengurangi rasa tegang pada payudara ketika sedang haid. Bahkan, beberapa pil kombinasi juga mengurangi jerawat.

Hal ini juga dibenarkan oleh dr. Tjut Nurul Alam Jacoeb, Sp.KK dari FKUI. Menurutnya, dalam tubuh wanita terdapat hormon estrogen, progesteron, dan androgen. Hormon androgen ada pada laki-laki dan perempuan. “Tapi jumlah dan jenisnya berbeda. Pada perempuan, jika mengalami ketidakseimbangan hormon, androgennya akan meningkat,” jelas Nurul.

Perkembangan saat ini membuat OC berbeda dengan pil KB (pil kombinasi) yang dulu ada. Saat ini, OC mengandung anti-androgen, yang sebelumnya tidak ada di pil-pil KB. “Itulah sebabnya, OC mampu menghaluskan kulit karena menekan minyak yang diproduksi hormon androgen.”

Pada perempuan, hormon androgen memicu pertumbuhan rambut pada ketiak, pubis, membentuk estrogen, mencegah osteoporosis, memicu nafsu seksual, dan menimbulkan perasaan nyaman. Kelebihan hormon androgen pada perempuan dapat menyebabkan kulit berminyak, timbul jerawat, hingga tumbuh rambut berlebih di tempat yang tidak biasa (hirsutisme). “Hormon ini juga dapat menipiskan rambut di kepala, klitoris membesar, suara berubah, dan kulit kasar.”

Yang mengkhawatirkan, jika kelebihan hormon ini sampai mengganggu siklus haid, obesitas, dan peningkatan risiko penyakit jantung. “Gangguan terhadap siklus haid ini bisa sampai terhentinya haid, juga infertilitas,” kata Nurul. Hormon androgen ini juga mempengaruhi kerja akar rambut dan kelenjar sebum (penghasil lemak yang mengganggu kulit sehingga menjadi jerawat).

Selain itu, kelenjar sebum akan menstimulasi akar rambut sehingga terjadi hirsutisme. Jerawat terjadi ketika muara kelenjar sebum tersumbat. Ini mengakibatkan cairan sebum tidak dapat lolos, sehingga terjadi pembendungan dan peradangan. “Tapi tidak menutup kemungkinan, jerawat ditimbulkan oleh kosmetik dan debu,” ujar Nurul.

Untuk kondisi hirsutisme, jumlah rambut pada janggut, dada, punggung bagian atas, perut, bagian dalam paha, atas mulut, akan meningkat. “Ini bisa ditangani dengan mencabut, mencukur, atau waxing yang dioleskan di kulit sampai kering lalu dikelupas. Tapi cara ini tidak sampai ke akar rambut. Bisa juga dengan pemberian anti androgen.” Di sinilah fungsi pil kombinasi, yang di dalamnya terdapat anti androgen. “Anti androgen ini akan mengatasi berbagai masalah kulit sehingga kulit menjadi bersih.”

Untuk menangani jerawat, Nurul menganjurkan membersihkan kulit dengan hati-hati. Bisa juga dilakukan pemberian obat anti-bakteri (benzoilperoksida), antibiotik, dan pelepasan komedo.

Memilih Alat Kontrasepsi

* Tidak ada metode kontrasepsi yang efektif 100 persen atau bisa cocok untuk semua orang.

Jadi, jangan mendasarkan pemilihan kontrasepsi Anda pada situasi orang lain. Konsultasikan dengan ginekolog mengenai plus-minus setiap metode untuk kondisi Anda.
Tentukan berapa lama Anda ingin menunda kehamilan: temporer atau permanen. Bila Anda membutuhkan kontrasepsi dalam jangka waktu tidak terlalu lama (di bawah 3 tahun) dan masih ingin hamil lagi, penggunaan OC atau metode jangka pendek lain bisa dipertimbangkan.

Selama menyusui, hindari penggunaan kontrasepsi yang mengandung estrogen, karena dikhawatirkan akan mengurangi produksi ASI.

Bila Anda ingin mengunakan kontrasepsi hormonal, perhatikan sejarah kesehatan Anda, misalnya riwayat penyakit diabetes kronis, jantung, ginjal, dan sebagainya.
Lakukan pemeriksaan pap smear, mamografi dan tekanan darah secara teratur (misalnya sekali setahun) selama menggunakan alat kontrasepsi.

Gunakan OC berfungsi ganda dengan kandungan CPA (anti-androgen), sehingga Anda mendapatkan manfaat ganda: ber-KB sambil mendapatkan kulit wajah halus bebas minyak dan jerawat, sekaligus berbagai manfaat non-contraceptive.

Paling Efektif

Keberadaan OC di Indonesia memang masih memicu kontroversi. Di kebanyakan negara Eropa, OC dijual bebas tanpa resep dokter. Sementara di Indonesia, masih harus dengan resep dokter. “Namun, OC dianggap sebagai metode kontrasepsi paling efektif dengan efek samping minimal,” tandas Biran.

Sebenarnya, dengan status dapat dijual bebas, OC akan mampu menurunkan angka aborsi dan biaya yang dikeluarkan masyarakat. Selain itu, OC juga membantu pemerintah dalam mengendalikan angka kelahiran dan memelihara sumber daya manusia.

Namun, penggunaan OC juga memungkinkan peningkatan kasus wanita dengan masalah ginekologis, seperti penyakit infeksi reproduksi, karena pasien malas periksa ke dokter. “Apalagi jika terjadi penyalahgunaan OC, seperti seks bebas, yang bisa meningkatkan kasus penyebaran penyakit seksual,” ujar Biran.

Ada juga faktor penyebab kegagalan penggunaan OC. Jika salah memulai mengonsumsi, maka efeknya pun tidak maksimal. Dalam setiap kemasan, ada urutan hari dan panah untuk menunjukkan urutan konsumsi. Ditambah lagi, jika lupa memulai dengan kemasan baru pada waktu yang ditentukan setelah 7 hari bebas pil, juga tidak maksimal.

“Pernah juga ada yang putus di tengah jalan karena efek samping pil yang menimbulkan rasa mual dan pusing. Apalagi jika ada yang termakan mitos bahwa tubuh harus istirahat dari OC selama 1 – 2 bulan setiap periode tertentu,” urai Biran. Jadi, sebaiknya pendidikan ditingkatkan baik melalui media, atau pelajaran di sekolah. Bisa juga dengan peningkatkan jumlah klinik KB.

Mitos Seputar OC

* OC sama dengan metode KB lainnya . Tidak benar, karena OC mampu membuat kulit lebih halus.
* OC membuat tubuh bertambah gemuk. Sebenarnya ini berkaitan dengan pola makan individu dan sugesti terhadap rasa aman. Berat badan justru terjaga stabil. Rasa aman mencegah kehamilan dan berbagai keuntungan mengonsumsi OC, membuat diri Anda jadi senang dan suka makan. Jadi itu pengaruh individu.
* OC sebabkan jerawat. Sekarang sudah ada OC yang mengandung CPA (Siproteron Asetat) yang dapat mencegah produksi minyak berlebihan pada kulit. Jadi OC justru mempercantik kulit.
* OC bikin rahim kering sehingga mempengaruhi kesuburan. Justru OC mudah diatur, jika ingin hamil, bisa langsung dihentikan. Pada wanita sehat, OC dapat membuat siklus haid teratur.
* OC memicu kanker
Penelitian membuktikan bahwa OC mengurangi risiko terjadinya kanker ovarium.
* OC sebabkan perdarahan. Ini terjadi jika mengonsumsi OC tidak disiplin. Karena jika berhenti minum pil lebih dari 12 jam, hormon tubuh akan turun yang artinya tanda sudah boleh haid. (Tabloid Nova)

Kontrasepsi tidak Tepat Sebabkan infertilitas

sumber : http://www.sehatgroup.web.id
1/22/2007
Jangan Tunda Kehamilan Anak Pertama!
SETIAP pasangan suami istri (pasutri) yang baru menikah, berhak menunda kehamilan. Namun, ada baiknya memilih kontrasepsi yang tepat berdasarkan anjuran dokter, untuk menghindari infertilitas atau sulit hamil pada saat sudah menginginkan kehadiran sang bayi. Pasalnya, tak jarang kesuburan sang wanita jadi berkurang setelah menghentikan penggunaan kontrasepsi. Akibatnya, ya jadi sulit hamil. Perlu diketahui, melahirkan pada usia 35 tahun ke atas berisiko tinggi bagi calon ibu.
Kenapa kesuburan wanita jadi berkurang pasca menggunakan alat kontrasepsi?
Ber-KB sementara yang berujung pada kondisi sulit hamil, sebenarnya merupakan teka-teki besar bagi dunia kesehatan. Majalah Health Journal memaparkan, 48% perempuan muda yang menggunakan pil antihamil dan spiral KB (IUD) selama 2-4 tahun, mengalami sulit hamil saat menginginkan anak pertama. Sejumlah spesialis infertilitas Barat pun kemudian melakukan penelitian untuk mengetahui penyebabnya.
Mereka menemukan fakta, faktor antibodi antisperma pada wanita bisa memicu kegagalan kehamilan. Kondisi ini terjadi lantaran pemerosotan potensi sperma dalam membuahi ovum (sel telur) dalam tubuh wanita. Muncul dugaan kuat bahwa penggunaan alat kontrasepsi seperti pil atau suntik KB – yang berisi hormon penolak pembuahan — serta IUD dalam jangka waktu tertentu jadi penyebab meningkatnya antibodi antisperma.
Sejak lahir, setiap manusia normal memang dibekali suatu sistem imunologi yang berpotensi melindungi tubuh terhadap berbagai serangan penyakit, termasuk jenis-jenis penyakit seksual.
Pada tubuh pria pun bisa timbul antisperma yang merupakan fenomena autoimun, atau akibat sistem imun membentuk antibodi terhadap antigen tubuhnya sendiri, yakni sperma. Sebaliknya, wanita tidak mempunyai unsur antigen yang terkandung seperti pada sperma maupun komponen plasma semen. Namun, begitu wanita berhubungan seksual dengan pria, dalam tubuhnya akan terbentuk antibodi antisperma terhadap antigen sperma. Pada tingkat tertentu, antibodi masih bisa ditembus oleh sperma berkualitas baik (cepat dan kuat) untuk membuahi sel telur hingga menghasilkan kehamilan.
Walaupun hanya satu sperma yang bakal membuahi sel telur, menurut teori kedokteran, dibutuhkan puluhan juta (minimal 20 juta) sperma agar kemungkinan terjadinya pembuahan lebih besar. Pasalnya, perjuangan untuk bisa mencapai sel telur luar biasa beratnya bagi kebanyakan sel sperma. Selama dalam perjalanan panjang menuju indung telur, banyak sperma berguguran.
Namun, belakangan para androlog tidak lagi berpatokan pada teori ini, yang terpenting bukan jumlahnya, melainkan kualitas spermanya. Walaupun sang suami hanya memiliki 5-6 juta sperma, tapi kalau gerakannya cukup gesit, bisa saja membuahi sel telur. Yang jadi masalah, kalau jumlah sperma sedikit dan gerakannya lamban. Ya, mereka akan berguguran sebelum mencapai tujuan!
Pada pasangan yang menggunakan kontrasepsi seperti pil dan suntik KB, walaupun terjadi kontak antara sperma dan sel telur dalam tubuh wanita, pembuahan takkan terjadi. Sedangkan pada KB IUD (spiral) pembuahan bisa terjadi, namun biasanya langsung gugur.
Menurut para pakar dalam penelitian tadi, selama penggunaan alat kontrasepsi, pembentukan antibodi terhadap sperma akan terus terbentuk. Bahkan, semakin lama kadarnya semakin tinggi dan pertahanannya semakin kuat. Diduga, inilah pemicu utama kesulitan mendapatkan keturunan.
Dengan kata lain, dalam tubuh si wanita telanjur timbul “kontrasepsi alami”, atau tercipta antibodi kuat penolak kehadiran sperma yang hendak membuahi sel telurnya. Kalaupun sampai terjadi pembuahan, bisa jadi, akan membentuk efektor imun lebih dahsyat. Efektor imun adalah sistem imun seluler (yang dibawa oleh leukosit, makrofag, dan lain-lain) yang mampu menimbulkan peradangan terhadap janin dan plasenta yang mulai berkembang dalam rahim sang ibu. Penolakan imun ini bisa berujung pada keguguran.
Jika pascapenggunaan kontrasepsi mengalami kesulitan hamil, pasutri dianjurkan menjalani terapi kondom atau “sarung KB”. Jadi, setelah setop menggunakan obat antihamil, selama 6-10 bulan berikutnya, sebaiknya menggunakan sarung KB.
Selama itu antibodi akan menurun, dan terjadi pembersihan sehingga ia tak ada lagi di daerah organ reproduksi sang istri. Saat pemanfaatan sarung KB dihentikan, pada masa subur sperma akan bermigrasi sampai ke saluran indung telur untuk menjumpai ovum tanpa hambatan apa pun.
Memang, hasil penelitian soal antibodi antisperma sebagai biang keladi tadi masih berlumuran pro-kontra. Kalaupun penyebabnya masalah antibodi yang meningkat, belum tentu hanya gara-gara kontrasepsi itu, tapi mungkin juga karena dalam tubuh wanita secara alami terbentuk antibodi antisperma yang kuat.
Dalam kasus ini, biasanya dokter akan memberikan obat imunosupresi yang akan menekan pembentukan antibodi terhadap sperma, tak perlu dengan terapi sarung KB. Tapi, penggunaan obat imunosupresi ini pun masih banyak ditentang, sebab efek sampingannya, tubuh calon ibu akan kekurangan antibodi sehingga lebih mudah kemasukan kuman atau virus seperti rubela, campak, dan lain-lain, yang membahayakan janin.
Karenanya, kalaupun pasangan muda ingin menunda kehamilan, sebaiknya menggunakan cara yang lebih aman, yaitu dengan kondom. Ia akan mencegah pembuahan sekaligus mencegah kontak antara antigen suami dengan sistem imun istri, sehingga antibodi pada tubuh istri tidak meningkat.
Tapi, kalau mau lebih aman lagi, sebaiknya pasangan suami istri tidak menunda masa kehamilan. Jadi, miliki satu anak dulu, barulah ber-KB.
(dr. Suzilawati)

PLUS-MINUS RAGAM METODE KONTRASEPSI

sumber : NAKITA
Cermati plus-minus masing-masing metode kontrasepsi agar pencegahan kehamilan berlangsung aman dan efektif. Berikut uraian dr. R. Muharam, Sp.OG., dari Klinik Fertilitas dan Menoandropause SamMarie, Jakarta.

METODE KONTRASEPSI ALAMI
Metode alami hanya bisa diterapkan pada wanita dengan siklus haid teratur. Caranya dengan menghindari sanggama pada saat subur. Alat bantu metode ini adalah pengukuran suhu basal dan uji kekentalan lendir leher rahim.

Plus:
* tidak ada efek samping
* ekonomis

Minus:
* Angka kegagalan tinggi. Faktanya, 10 – 30 dari 100 wanita, hamil setiap tahun.
* Tidak memberi perlindungan terhadap penyakit kelamin dan hepatitis B maupun HIV/AIDS.

METODE KONTRASEPSI DENGAN ALAT

Bisa dibagi menjadi:
1. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Alat kontrasepsi dalam rahim mempunyai beberapa tipe, antara lain Copper T380A, Nova T, dan beberapa AKDR yang diberi hormon (mirena, Levo Nova).

Plus:
* Angka perlindungannya cukup tinggi, yaitu dengan kegagalan 0,3-1 per 100 wanita tiap tahun.

Minus:
* Mengundang risiko infeksi radang panggul, perdarahan, dan kehamilan di luar kandungan.
* Komplikasi perforasi (lubang) uterus.
* Tidak memberi perlindungan terhadap penyakit kelamin dan hepatitis B maupun HIV/AIDS.

2. Kontrasepsi Dengan Metode Perintang

Yang paling umum digunakan adalah kondom, diafragma, dan spermisida.

Kondom
Kantong kecil yang terbuat dari karet ini bekerja dengan membungkus penis, sehingga sperma yang keluar tetap berada dalam kantong tersebut.

Plus:
* Aman dipakai
* Mudah didapat
* Cukup efektif bila digunakan dengan benar.
* Dapat mencegah penyebaran penyakit menular seksual dan hepatitis B HIV/AIDS.

Minus:
* Ada risiko robek. Oleh sebab itu, gunakan satu kondom hanya untuk satu kali pakai. Kondom yang baik terasa licin dan basah. Jangan gunakan kondom yang bagian dalamnya kering, yang terasa lengket di tangan, atau yang merekat pada bungkus plastiknya.
* Angka kegagalan tinggi, yaitu 3 – 15 per 100 wanita per tahun.

Diafragma

Berbentuk seperti mangkok ceper, terbuat dari karet. Cara penggunaannya dimasukkan ke dalam vagina. Alat ini berkerja dengan cara menutupi mulut rahim, sehingga sperma, meski masih masuk ke vagina, tak bisa meneruskan perjalanan ke rahim.

Plus:
* Dapat dipakai berkali-kali.
* Melindungi dari kehamilan dan penyakit menular seksual hepatitis B HIV/AIDS.

Minus:
* Angka kegagalan tinggi, yaitu 5 – 20 per 100 wanita per tahun.
* Sulit dipasang.

Spermisida
Alat KB ini memiliki bentuk beragam. Ada foam aerosol (busa), tablet, supposutoria (???), krim, jeli, dan spons. Dipakai dengan cara dioleskan ke dalam vagina sebelum berhubungan intim. Spermisida mematikan sel-sel sperma sebelum sempat memasuki rahim.

Plus:
* Melindungi pemakainya dari penyakit menular seksual gonorrhea, klamida, hepatitis B, HIV/AIDS
* Tidak didapatkan efek samping sistemik/pada tubuh.

Minus:
* Angka kegagalan 10-25 dari 100 wanita per tahun.
* Tidak memberi perlindungan terhadap hepatitis B, penyakit menular seksual, seperti HIV/AIDS, klamidia, gonorrhea.
* Bisa menimbulkan gatal-gatal atau lecet pada vagina.
* Tidak terlalu ampuh bila hanya digunakan tanpa bantuan alat lain seperti kondom atau diafragma.

3. Metode KB Hormonal
Kebanyakan kontrasepsi hormonal mengandung estrogen dan progesteron atau hanya progesteron saja.

Pil KB Terpadu
Umumnya mengandung hormon gestagen dan estrogen sintetik. Pil yang dianjurkan adalah pil dosis rendah yang mengandung estrogen kurang dari atau sebesar 35 mikrogram dan 1 miligram progesteron.

Plus:
* Mudah didapat

Minus:
* Harus diminum setiap hari.
* Tidak semua wanita disarankan menggunakan pil, yaitu:
- ibu menyusui
- perokok
- berusia 40 tahun ke atas
- memiliki problema kesehatan apa pun seperti kejang, TBC, kanker, hipertensi, diabetes, hepatitis, jantung pernah stroke, dan lainnya.

* Menimbulkan efek samping:
- terjadi pendarahan tidak teratur di luar masa haid.
- mual-mual
- sakit kepala

Pil KB Mini
Beda dengan pil KB terpadu, pil ini hanya mengandung gestagen saja.

Plus:
* Dapat digunakan untuk ibu menyusui
* Mudah didapat

Minus:
* Memiliki efek samping yaitu:
- pendarahan tidak teratur
- haid tidak datang
- terkadang muncul sakit kepala

Suntikan
Suntikan KB melindungi dari kehamilan sampai tiba waktunya disuntik kembali. Efektivitasnya hampir sama dengan pil kombinasi dan melebihi pil mini maupun AKDR. Kegagalan pada umumnya terjadi karena ketidakpatuhan terhadap jadwal suntik atau teknik penyuntikan yang salah. Cara kerja suntikan KB salah satunya yaitu menyebabkan pengentalan mukus serviks, sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma.

Yang perlu diketahui, jika kontrasepsi suntikan dihentikan harus menunggu 1 tahun atau lebih untuk bisa hamil kembali.
Pemakai akan menerima suntikan hormon setiap 1-3 bulan sekali, yaitu:

* Suntikan progestin;
Suntikan yang hanya mengandung hormon gestagen saja. Contohnya, depo provera dan depo noristerat.

Plus:
* Bisa digunakan untuk ibu menyusui atau wanita yang tidak boleh memakai tambahan estrogen.

Minus:
* Memiliki efek samping:
- pendarahan tidak teratur
- haid tidak datang
- berat badan bertambah

* Suntikan terpadu
* Suntikan yang mengandung hormon gestagen dan estrogen, misalnya, depo estrogen-progesteron atau cyklofem.

Plus:
* Tidak mempengaruhi siklus haid

Minus:
* Tidak bisa dipakai ibu menyusui
* Sulit diperoleh
* Relatif mahal
* Tidak dianjurkan bagi wanita yang tidak disarankan minum pil KB terpadu dan suntikan progestin.

Susuk

Dipakai dengan memasukkannya ke bawah permukan kulit sebelah dalam lengan. Ada 2 jenis:
- Norplant merupakan salah satu metode kontrasepsi berjangka waktu 5 tahun. Efektivitas kontrasepsi yang terdiri dari 6 batang susuk ini sangat tinggi. Angka kehamilan rata-rata pertahun hanya kurang dari 1 %.
- Implanon: kontrasepsi yang terdiri atas satu batang susuk ini dapat dipergunakan sedikitnya selama 3 tahun.

Plus:
* Sesudah dipasang alat ini akan mencegah kehamilan selama 5 tahun.
* Bisa digunakan oleh wanita yang mengalami masalah dengan hormon estrogen.
* Bisa digunakan oleh wanita yang menjalani pengobatan untuk kekejangan.
* Walau dirancang 5 tahun, bisa dicopot sewaktu-waktu.

Minus:
* Susuk lebih gampang dipasang
daripada dicopot. Jadi sebelum memakai metode ini, pastikan pekerja kesehatan di klinik atau pos pelayanan KB sudah terlatih dan terampil serta bersedia mencopot susuk seandainya tidak lagi dikehendaki.
* Susuk sebaiknya dihindari jika yang bersangkutan:
- Pengidap kanker atau benjolan keras di payudara
- Haidnya sudah terlambat datang
- Mengalami perdarahan abnormal dari vagina
- Penderita sakit jantung
- Ingin hamil dalam beberapa tahun mendatang

METODE KONTRASEPSI LAKTASI

Metode ini hanya bisa diterapkan pada ibu menyusui yang benar-benar menyusui secara eksklusif/terus-menerus.

Plus:
* Ekonomis.
* Mengurangi perdarahan pascamelahirkan.
* Memberikan nutrisi yang baik pada bayi.

Minus:
* Hanya melindungi pada 6 bulan pertama.
* Angka kegagalan/kehamilan 6 per 100 wanita per tahun.

METODE KONTRASEPSI DARURAT (PASCASANGGAMA)
Sebenarnya kontrasepsi ini bukan merupakan alternatif untuk pencegahan kehamilan. Namun, dalam keadaan darurat metode kontrasepsi ini dapat digunakan, yaitu setelah berhubungan seks dan sebelum implantasi (menempelnya embrio pada dinding rahim).
Yang perlu dicermati, kontrasepsi darurat hanya dibolehkan bagi wanita yang tidak menggunakan jenis kontrasepsi apa pun dan yang melakukan sanggama pada pertengahan siklus haidnya.

Ada beberapa jenis kontrasepsi darurat:

* Estrogen:
Sudah mulai ditinggalkan karena dosis yang digunakan cukup tinggi, sehingga menimbulkan banyak efek samping.

* Estrogen-progesteron:
Diberikan dalam 24 jam atau paling lambat 48 jam pascasanggama. Dosisnya harus tinggi.

* Gestagen:
Diberikan paling lambat 3 jam setelah sanggama.

* Danazol:
Dosis yang diperlukan 800-1200 mg/hari. Banyak menimbulkan efek samping.

* Antiprogestin:

Dikenal sebagai abortivum. Dosisnya cukup 600 mg/hari.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Efektivitasnya lebih tinggi bila digunakan segera setelah sanggama.
- Untuk menghindari gangguan siklus haid, gunakan hanya 1 kali pada 1 siklus haid.
- Bila tidak terjadi haid pada siklus berikutnya, ibu harus melakukan tes kehamilan.
- Setelah menggunakan kontrasepsi darurat sebaiknya tidak melakukan sanggama lagi sampai datang siklus haid berikut.

- Bila embrio telah tertanam dalam rahim maka pil atau tablet tidak dapat mencegah kehamilan. Kalau digunakan malah dapat menimbulkan efek kecacatan. Oleh karena itu steroid seks tidak boleh diberikan setelah 72 jam pascasanggama. Bila waktu telah dilampaui dan implantasi tetap hendak dicegah, maka akan dipasang AKDR dari tembaga.

Minus:
* Sakit kepala, mual, dan muntah. Yang bersangkutan perlu diberi obat antimuntah. Kalau terjadi kehamilan maka perlu dipertimbangkan pengakhiran kehamilan untuk mencegah efek kecacatan/kelainan pada janin.

METODE KONTRASEPSI MANTAP

Dikenal juga dengan sterilisasi, yaitu operasi pada saluran indung telur (perempuan) atau saluran sperma (laki-laki) agar steril atau tak ada sel telur untuk dibuahi maupun sel sperma untuk membuahi. Sterilisasi pada wanita disebut dengan tubektomi sedangkan para pria dikenal dengan vasektomi.

Tubektomi

Plus:
* Cukup efektif dalam mencegah kehamilan 0,1/100 wanita per tahun.

Minus:
* Bersifat permanen
* Tidak terlindung dari penyakit menular seksual

Vasektomi

Plus:
* Cukup efektif dalam mencegah kehamilan 0,3/100 wanita per tahun.

Minus:
* Bersifat permanen.

* Tidak terlindung dari penyakit menular seksual.

SESUAIKAN DENGAN USIA

Pemilihan alat kontrasepsi, menurut Muharam, perlu disesuaikan dengan usia. Bagi perempuan 20-35 tahun disarankan menggunakan kontrasepsi pil atau kondom. “Alat Kontrasepsi Dalam Rahim seperti IUD atau Spiral adalah pilihan kedua untuk menghindari terjadinya risiko infeksi pada rahim.”

Dengan alasan yang sama pula, AKDR sebaiknya tidak digunakan bagi perempuan yang belum pernah memiliki momongan. IUD/Spiral bisa dipakai perempuan yang telah mempunyai anak atau telah berusia di atas 30 tahun. Sedangkan bagi perempuan di atas 40 tahun jangan menggunakan kontrasepsi pil. “Pil KB biasanya menggunakan hormon estrogen dan atau gestagen sintetik.”

Untuk mengonsumsi pil ini dibutuhkan fungsi hati yang cukup bagus, sementara fungsi hati pada wanita di atas 40 tahun biasanya sudah berkurang. Lebih baik, gunakan AKDR atau Kontap (kontrasepsi mantap), seperti tubektomi atau vasektomi.

Faras Handayani. Ilustrator: Pugoeh

KONTRASEPSI BUKAN CUMA MASALAH ISTRI

sumber : NAKITA
Agar masalahnya tak berlarut-larut, pastikan Anda tahu kemungkinan-kemungkinan seputar pemakaian alat kontrasepsi.

Siapa yang harus menggunakan alat kontrasepsi, suami atau istri? Pertanyaan ini tidak bisa selesai dengan jawaban sederhana karena masalahnya memang kompleks. Konsekuensinya terkait dengan banyak hal, dari kesehatan organ reproduksi, budaya setempat, hingga kondisi psikologis. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan alat bantu ini. Namun penggunaan kontrasepsi pada hakikatnya tidak hanya membatasi jumlah anak, karena juga mempertaruhkan kualitas kehidupan keluarga pemakainya. Lihat saja, pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi, baik oleh pasangan maupun negara seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, selain membebani secara psikologis, juga mengundang masalah lainnya.

Pemahaman sepotong-sepotong tentang kontrasepsi adakalanya memancing perdebatan. Bila kedua belah pihak merasa tidak punya “bahan” yang lengkap tentang pilihan alat kontrasepsi berikut risikonya, sebaiknya libatkan pihak ketiga yang kompeten. Dalam hal ini dokter kandungan atau bidan.

Buang jauh-jauh keinginan memaksa salah satu pihak. Sebaliknya pilih alternatif yang paling aman dari sudut medis dan paling nyaman untuk keduanya. Apalagi dengan kemajuan dunia kedokteran, penggantian jenis alat kontrasepsi sangat dimungkinkan bila dirasa ada masalah dengan pilihan sebelumnya.

RAGAM PILIHAN DAN DAMPAK PSIKOLOGISNYA

* IUD

Jenis kontrasepsi ini diklaim paling aman. Meski demikian kondisi ini tidak berlaku umum bagi tiap ibu. Ada beberapa risiko seperti perdarahan, rasa nyeri di perut dan sebagainya. Namun selama dokter/bidan memastikan tidak ada yang salah dengan pemasangan alat ini, maka efek yang muncul bisa jadi adalah efek psikologis.

Masalah psikologis: Biasanya keluhan yang muncul adalah rasa sakit, rasa tidak nyaman, suami merasa ada yang mngganjal/”menusuk” saat berhubungan intim dan sebagainya. Pada saat pemasangan pun sebagian wanita merasa “seram” karena adanya benda asing yang dimasukkan ke tubuhnya.

Cara mengatasi: Ada contoh nyata, seorang wanita merasa selalu sakit perut akibat pemasangan IUD. Setelah konsultasi dengan dokter, dia ingin alat tersebut dilepas. Oleh dokter alat tersebut sebenarnya tidak benar-benar dilepas, namun sekadar “dirapikan”. Keluhannya langsung hilang, begitu dia merasa sudah “dilepas”. Padahal tentu saja IUD-nya masih berada di tempat semula. Intinya, keluhan yang muncul adalah masalah psikologis. Sebaiknya pasangan yang memilih kontrasepsi jenis ini sudah mempersiapkan mental. Rasa sakit dan tidak nyaman selama sudah dipastikan dokter tidak ada masalah, bisa diabaikan.

* Hormonal

Kontrasepsi jenis hormonal bisa berupa pil atau suntikan.

Masalah psikologis: Efek hormonal yang bisanya muncul adalah kenaikan berat badan, flek cokelat kehitaman di wajah. Bahkan akibat perubahan hormon ada beberapa wanita yang mengalami depresi.

Cara mengatasi: Bila secara medis kontrasepsi jenis ini dirasa tidak cocok, maka dokter akan menyarankan untuk menggantinya dengan kontrasepsi jenis lain. Efek psikologis yang muncul bisa direduksi dengan banyaknya aktivitas. Sebagai contoh, wanita bekerja yang sibuk tidak akan terpengaruh dengan perubahan hormonal yang dialaminya.

* Kondom

Bila kedua jenis kontrasepsi di atas menimbulkan masalah secara medis pada wanita, maka kondom bisa menjadi solusi paling praktis dan masuk akal. Apalagi pemakaian kondom dibatasi hanya pada saat masa subur saja. Itu berarti frekuensi penggunaannya sekitar seminggu setiap bulannya.

Masalah psikologis: Rasa tidak nyaman dan mengganggu kenikmatan hubungan seksual.

Cara mengatasi: Berkurangnya kenikmatan seksual akibat pemakain kondom hampir bisa dipastikan adalah masalah psikologis. Apalagi kondom yang beredar di pasaran saat ini sudah lebih modern, baik dari bentuk, ketebalan, dan tingkat keamanannya. Bila satu merek dirasa kurang oke, coba dulu dengan berganti merek lain. Buang jauh-jauh pikiran berkurangnya kenikmatan dan ganti dengan keinginan untuk memberikan kualitas kehidupan yang terbaik bagi keluarga.

* Sistem Kalender

Pengaturan jarak kehamilan dengan sistem kalender hanya efektif bagi wanita yang mempunyai siklus menstruasi teratur. Dengan demikian kapan datang masa suburnya dapat dihitung secara tepat. Namun, kontrasepsi jenis ini paling rawan “kebobolan”. Selain ketidakpatuhan pada jadwal, hitungannya pun mungkin saja meleset. Ada baiknya kontrasepsi kalender dibarengi dengan pemakain kondom di hari-hari subur.

Masalah psikologis: Seperti sudah disinggung di atas, kendala utama kontrasepsi alami ini adalah ketidakpatuhan pada jadwal. Apalagi untuk pasangan yang masih muda, baik dari segi usia maupun usia pernikahan. Kadangkala menahan hasrat terasa lebih sulit daripada memikirkan risikonya.

Cara mengatasi: Sekali lagi komunikasi. Jadikan jadwal yang sudah diatur sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Bila salah satu pasangan mengatakan tidak di tanggal yang sudah disepakati, jangan menjadikannya sebagai alasan untuk marah dan mengungkit hal-hal yang tidak perlu. Tanpa kesadaran dan kedewasaan kedua belah pihak, pembatasan ini bisa memicu hal-hal lain yang nantinya malah merusak hubungan pernikahan, seperti adanya affair dan sebagainya.

* Steril

Pada dasarnya pemilihan kontrasepsi permanen harus didukung dengan alasan medis maupun kesiapan mental. Tanpa alasan medis yang kuat, biasanya dokter akan menawarkan alternatif kontrasepsi jenis lain.

Masalah psikologis: Kesiapan mental menjadi faktor penentu. Semisal kemungkinan munculnya perasaan “terbuang” setelah fungsinya sebagai pria/wanita tidak lagi sempurna. Atau sebaliknya, pada beberapa pribadi tertentu rasa aman yang permanen ini justru membuatnya merasa bebas sehingga membuka peluang untuk melakukan kontak seksual dengan siapa pun selain pasangan tetapnya.

Cara mengatasi: Untuk pria/wanita yang merasa “terbuang” karena fungsi organ reproduksinya sudah tidak sempurna lagi, komunikasi efektif kedua belah pihak akan menjadi tali penyelamat. Masalah yang dihadapi adalah masalah bersama. Bantu/dorong pasangan yang sudah steril dengan pikiran dan aktivitas positif. Kesibukan dan perasaan masih dibutuhkan akan menjauhkannya dari rasa putus asa.

Untuk mereka yang merasa “aman” dengan keadaan ini pun disarankan makin memperdalam dan mengintensifkan komunikasi dengan pasangan. Jangan pernah ciptakan peluang dari kondisi ini. Tanggung jawab sebagai manusia dewasa harusnya bisa menjadi sekat tak kasat mata yang tidak boleh ditembus. Jangan tergoda untuk berselingkuh dan sejenisnya semata karena menyadari tidak adanya konsekuensi yang harus dihadapi.

SADARI RISIKONYA

Selain pemilihan jenis kontrasepsi yang bisa menimbulkan efek psikologis, risiko “kebobolan” pun harusnya sudah diperhitungkan. Seperti sudah diketahui, kecuali kontrasepsi mantap, pilihan lainnya hanya menjamin di atas 90%. Artinya, masih ada peluang sekitar 1-10% terjadinya kehamilan.

Beberapa kejadian bisa dijadikan pelajaran. Contohnya ada seorang pria di Amerika yang merasa heran istrinya bisa hamil lagi padahal selama berhubungan dia menggunakan kondom. Ketika menuntut produsen kondom merek itu, diketahui bahwa efektivitas kondom tersebut hanya 99% dan itu sudah tertulis dalam kemasannya. Kebetulan pasangan inilah yang mendapat “kehormatan” untuk menjadi konsumen yang 1% tadi.

“Kebobolan” saat menggunakan alat kontrasepsi pun bisa berdampak secara psikologis. Bagaimanapun si anak tidak direncanakan kehadirannya. Langkah pertama yang harus diambil adalah berlapang dada dengan menerima anugerah tersebut. Jangan saling menyalahkan apalagi membuang-buang waktu dengan menuntut produsen alat kontrasepsi sebab hanya akan menyeret rangkaian gerbong masalah yang panjang.
Marfuah Panji Astuti

Konsultan ahli:
Dra. Lidwina Banowati, M. Psi.,
psikolog dari Siloam Graha Medika Hospital, Kebon Jeruk, Jakarta

Kontrasepsi: Pills, Mini Pills dan IUD

Sumber: ibu ibu DI
Tanya
“Bagaimana aturan penggunaan mini pil yang efektif. Apakah harus selalu pada jam yang sama setiap harinya? Bagaimana bila kita lupa?”[Mi]

“Apakah benar bahwa penggunaan mini pill tidak efektif setelah masa pemakaian 4 strip (4 bulan) ? Karena dokter saya hanya memberikan mini pill / excluton sebanyak 4 kali saja dan untuk seterusnya dianjurkan untuk menggunakan pil biasa atau IUD.” [Mi]

Jawab
“Penggunaan kontrasepsi pil tergantung dari jenis pilnya. Aku saat ini menggunakan KB dengan pil Gynera, produksi Schering AG. Harga sekitar Rp.50.000,- per pak, isi 21 tablet. Pil ini diminum setiap hari pada jam yang sama. Kalau lupa meminum pada jam tersebut diberi tenggang waktu hingga 12 jam dari jam biasanya. Lewat 12 jam, pilnya TIDAK boleh diminum lagi. Dilanjutkan keesokan harinya dengan pil untuk hari itu sesuai dengan petunjuk harinya. Nah, kalau lupa untuk minum, dianjurkan untuk menggunakan kondom atau alat kontrasepsi non hormonal lainnya setiap berhubungan.. Setelah habis 1 periode minum (21 hari) diberi tenggang waktu 7 hari sebelum mulai minum pack berikutnya. Biasanya menstruasi akan keluar dalam periode 7 hari ini. Bila dalam 7 hari ini tidak ada menstruasi sebaiknya hubungi DSOG sebelum mulai minum pack berikutnya. Aku sepertinya cocok dengan pil KB ini, karena sejak meminum pil ini siklus mensku jadi teratur, tidak seperti ketika aku dulu menggunakan suntik KB..”[Jn]

“Aku menggunakan pil Exluton (untuk ibu menyusui), sejak anak pertama hingga anak kedua (saat ini berusia 9,5 bulan). Nah sepertinya karena aku memberi ASI, aku tidak mendapat mens hingga 7,5 bulan. Bahkan sewaktu menyusui anak pertama aku baru mulai mendapat mens lagi setelah anakku berusia 1,3 tahun. Cara minum pilnya, harus pada jam yang sama dengan tenggang waktu sekitar 2 jam (plus minus). Aku pernah tanya dokter bagaimana bila suatu hari kita lupa minum pilnya tetapi kita terlanjur berhubungan dengan suami, menurut dokternya kita harus minum pilnya itu pada saat kita ingat, setelah itu siklus minum pilnya kembali seperti semula. Tetapi kalau teringatnya setelah 24 jam ya minumnya satu saja, tidak perlu dua, tetapi diminum pada hari yang bener, yang terlupa disisakan saja, agar mudah untuk kita mengontrol hari berikutnya. Saya punya trik supaya tidak lupa, pil ini saya letakkan diatas kulkas atau bisa juga ditempatkan pada tempat yang gampang terlihat (setiap saat). Selain itu peran suami juga sangat penting agar selalu mengingatkan kita Di sini Exluton harganya sekitar 10 – 15 ribu rupiah.”[Yn]

“Aku ber-KB dengan pil Diane 35 produksi Organon, harganya kalau di apotik sekitar 61-62 ribu rupiah, tapi kalau di Century 57 ribu. Sebelumnya waktu menyusui aku pake Exluton. Diane aturan minumnya sama juga dengan Gynera, kalau lupa minum tenggang waktunya 12 jam. Tapi menurut dokterku paling bagus tenggang waktu sekitar dua jam dan lebih bagus kalau diminum malem hari. Pengalamanku, aku pernah lupa memberi tenggang waktu antara 1 periode minum dan berikutnya, akhirnya aku sempat beberapa bulan tidak mens. Sekedar info, pil KB itu karena fungsinya mengatur hormon memang membuat menstruasi menjadi teratur. Dulu aku sempat kosong satu tahun setelah menikah karena kondisi hormonku tidak bagus sehingga sulit hamil dan oleh dokterku aku diterapi dengan pil KB. Ternyata setelah itu mens menjadi teratur, PMS hilang dan Alhamdulillah setelah tiga bulan terapi hormon aku hamil :-))”[Ml]

“Saya dulu mengkomsumsi pil Microgynon tetapi pil tersebut berpengaruh terhadap produksi ASI yang mengakibatkan anak saya tidak mau menyusui. Sedangkan pil Excluton memang ditujukan untuk ibu yang masih menyusui. Coba anda minta diresepkan lagi oleh dokter” [DB]

“Saya menggunakan Microlut, keluaran Schering. Aturan minumnya tidak jauh beda dengan pil lain, diminum diwaktu yang sama, selisih/ tenggang waktu 3 jam setiap harinya. Kalau terlupa, selama tidak lebih dari 12 jam diminum jatah hari itu, kalau lewat ya sudah dilanjutkan keesokan harinya. Dan proteksinya baru akan efektif setelah 14 hari kontinyu minum, artinya dalam 14 hari pertama belum ada proteksi.”[nn]

Tanya
“Apakah benar menggunakan IUD akan susah punya anak lagi ? Karena selama ini yang saya dengar, apabila kita menggunakan hormon (pil/suntik) baru kemungkinan akan mengalami kesulitan untuk memiliki keturunan.” [LK]

Jawab
“IUD sesuai namanya : Intra Uterine Device, berarti alat yang dimasukkan ke uterus (rahim). Kita menyebutnya spiral, karena dulu baru keluar yang bentuknya melingkar – lingkar seperti spiral. Tapi sekarang bentuknya sudah tidak melingkar – lingkar lagi, tetapi seperti huruf T sedangkan pil tidak termasuk IUD. Memang efek dari penggunaan IUD tergantung dari kondisi tubuh masing – masing. Teman saya sebulan setelah lepas IUD langsung hamil sedangkan saya sudah lepas IUD setahun yang lalu namun belum juga hamil.” [Rn]

“Menurut saya pemakaian IUD tidak menyebabkan kesulitan didalam memperoleh keturunan. Karena saya menggunakan IUD semenjak anak saya yang pertama berumur 5 bulan sampai dengan anak saya berusia 3,5 tahun. Selama pemakaian IUD saya tidak pernah kontrol karena kebetulan saya tidak ada keluhan dan hubungan suami isteri juga tidak mengalami gangguan. Alhamdulillah, Saya lepas sprial bulan Juli 1999 dan hamil di bulan November 1999 serta melahirkan bulan Juli 2000.” [Nv]

“Menurut pengetahuan saya, pemakaian IUD tidak menjadikan seseorang kesulitan didalam memperoleh momongan. Karena teman saya menggunakan IUD, 1 bulan setelah IUD dilepas teman saya langsung hamil. Jadi mungkin tergantung dari kondisi masing – masing individu.”[Nur]

“Mungkin tidak terjadi kepada semua pemakai IUD. Namanya benda asing yang dimasukin ke dalam tubuh, mempunyai efek yang berbeda pada setiap orang. Yang minus kemungkinan terjadi perlengketan sangat besar, ini diakui oleh dsog saya. Apabila usia kita sudah diatas 30 tahun, tapi masih ingin mempunya anak lagi, saran saya sebaiknya jangan KB lebih baik menggunakan sistem kalender/kondom. Tapi kalau memang sudah tidak mau tambah anak lagi, tidak apa – apa menggunakan IUD karena jangka waktu penggunaannya yang cukup panjang.”[DB]

“Saya menggunakan spiral, setelah berencana untuk hamil anak kedua spiral tersebut saya lepas, sebulan kemudian saya langsung hamil dan saya belum pernah mendengar bahwa apbila kita menggunakan IUD akan kesulitan mendapatkan keturunan atau mungkin karena ini tergantung dari kondisi tubuh ibu.” [Dn]

“Menurut saya apakah penggunaan IUD akan berakibat susah memiliki keturunan memang tergantung dari kondisi tubuh masing – masing. Saya menggunakan spiral (IUD) sejak bulan November 1999 sampai dengan bulan Juli 2001, setelah dilepas saya sempat 1 kali mengalami haid pada bulan Juli dan bulan berikutnya saya sudah hamil.” [Mi]