Q & A Imunisasi infantrik & tripacel

sumber : http://www.sehatgroup.web.id/milist sehat

Question :Dear all,
Waktu anak saya pertama kali imunisasi DPT, dsa menawarkan imunisasi DPT “infantrik”, imunisasi ini ngga bikin anak jadi demam. Saya pernah dengar ada juga imunisasi yang ngga bikin anak jadi demam juga namanya”Tripacel”, sebesanrnya apa sih Perbedaan imunisasi ini ?lidya nofita

Answer 1 : Dear Mbak Lidia,
Coba bantu ya.Infanrix & Tripacel tuh sama2 vaksin yg acellular (DPaT) tapi bedaprodusen aja mbak. Kalau Infanrix buatan Glaxo Smith Kline. SedangkanTripacel buatan Aventis Pasteur.
Semoga terjawab ya.
Lulu

Q & A Imunisasi gabungan pada bayi 4 bln

sumber : http://www.sehatgroup.wen.id/milist sehat

Question : Dok & Sp’s..Bisa ga ya… kasih imunisasi HiB 1 digabung ma HiB 2 di usia 4 bulan…? orlangsung aja HiB 2..? Naufal (4 bln) rencana mau ku imunisasi HiB 2 tp HiB 1belum dapet, ga tahu ni…. kemaren pas imunisasi sebelumnya (umur 2bln)dsa-nya ga nganjurin dan saya-nya juga belum kenal milis ini (he…he…)

salam,widi

Answer 1 :kayaknya nggak bisa mbak,khan naufal masih 4 bln ya, berarti kasih Hib 1 dulu ,nanti selang 8 minggu hib 2, 8 mingu lagi hib 3 dansetahun kemudian hib 4.Selang 8 minggu itu yang paling ideal, karena naufalagak telat bisa catch up, artinya selangnya diperkeciljadi 4-6 minggu, nggak masalah.
heni

Answer 2 : setelah 6 bulan pemberian hib cukup 2 kali dengan jarak 4 – 8 minggu. laluhib3nya 1 tahun dari yg ke2
rifa

Q & A Imunisasi gabungan HIB dan Hepatitis B

sumber : http://www.sehatgroup.web.id/milist sehat

Question : mau nanya juga dong,
insya alloh bulan besok alief ( 18 bln ) akan imunisasi HIB dan Hep Bulanganapa efeknya kalo kedua imunisasi itu dilakukan dalam waktu bersamaan ?
mohon tanggapannya, soalnya ibukke alief masih ragu-ragu … maunya dia HIBdulu terus bulan depannya baru Heb B.
trimakasih sebelumnyabapakke alief

Answer 1 : pak 18 bulan hepnya yg ke 3 apa ulangannya?saya liat di jadwalnya aap untuk ulangan itu usia 24 bulanhib dan hep aman dilakukan bersamaan, biasanya simultan,2 suntikan (cmiiw).say sudah coba dengan faiz waktu 6 bulan (hep3 dan hib2) dan gak ada gejala2panas dll.18 bulan bukannya dpt/polio 4?gimana dengan mmr dan cacar air? apakah sudah?
rifa

Answer 2 : efeknya kalau suntiknya simultan atau berbarengan 1. bayar dokternya cuma 1 kali kunjungan2. disuntiknya 2 kali, 1 di kanan 1 dikiri3. rasa sakit jd dua kali krn dua kali masuk suntik dalam perbedaan waktu bbrp detik saja4. anak akan nangis kesakitan tapi bulan depan ga perlu ketemu dokternya lagi kalau imunisasi lain udah selesai, wah anak bisa senewen kan anak daya ingatnya tinggi, baru sampai tempat parkir aja dia udah tau ini tempat dimana dia akan disuntik
efeknya kalau suntikan dipisah atau dalam 2 tanggal yang berbeda1. bayar dokternya 2 kali kunjungan2. disuntiknya 2 kali juga tapi di tanggal dan waktu yg berbeda3. rasa sakit 2 kali juga tapi di waktu yg berbeda4. ortu harus sediain waktu berkunjung ke dokter 2 tanggal kalau perlu cuti jadi ngajuin 2 kali cuti kekantor utk keperluan imunisasi5. anak akan semakin hapal ama dokternya krn sebulan lalu disuntik pasti bulan ini disuntik lagi
gitu pak…

Ade novita

Answer 3 : untuk hep b sepertinya yg ulangan bu,bulan ini sudah dapat dpt/polio 4alhamdulillah mmr juga sudahkalo cacar katanya usia 2thnan
bulan ini maunya saya, dpt/hib sekalian polio, tapi DSAnya maunya HIB bulandepan aja bareng Heb B, karena yg boleh masuk ke ruang dr cuman istri yangikut aja … :-))
trimakasih untuk tanggapannyabappake alief

Answer 4 : ups….. baru saya perhatikan lagi yg diaap 24 month dst itu catch up, jdhep gak ada ulangan ya (cmiiw)jd kayaknya yg dimaksud adalah hep3 ya pak?
thxrifa

Q & A Imunisasi setelah imunisasi campak

sumber : http://www.sehatgroup.web.id

Question : dear smart parents & dr wati,
sorry mungkin udah sering dibahas. hari jumat kemarin anakku (9 bulan) baru diimunisasi campak. Setelah imunisasi campak, imunisasi apalagi yang wajib, setelah umur 9 bulan ya?Mohon sharingnya.
yeni

Answer 1 : Mba Yeni,
Kalo kata DSAnya sih Ghina ku di suruh balik lagi pas 1 th, untuk HIB 2…tp aku juga mau sekalian tanya deh…benarkah sesudah imunisasi campak ini enggak ada imunisasi lain lagi, sampai umurnya 1 th (untuk HIB 2) ?Terima kasih…
Best Regards, WINDI TANIA

Answer 2 : mba Yeni & Windi,
Evelyn juga sama, habis imun campak, tapi aku disuruh balik untuk imun wajib DPT, Polio, dan HIB ulangan kalo udah umur 1.5 tahun, kalo MMR-nya tidak diwajibkan, terserah orang tua masing2, katanya sih MMR boleh dikasih antara umur 1-3 tahunHendrika

Answer 3 : ga pa pa mba.. kalo ga salah.. jarak waktu yang paling bagus/efektif(cmiiw), antara hib 1 dan hib 2 adalah 2 bulan.. gina skrg umurnya brapamba?.. kalo udah 8 bulanan,,, segera aja hib2-nya.. aku juga telat hib2-nya.. baru kemaren bareng campak (bumi 8,5 bulan).. (masing2 paha 1suntikan..)
-yuli-

Answer 4 : Ghina (9 bln) Sabtu kemaren baru campak sih…oks deh entar aku inform ke suami ku…Aku heran ajah ko DSAnya enggak inform dari awal yah ? Kalo HIB 2 itu sudah harus selesai sblm 6 bln…kebanyakan pasien kali yah…Anyway thanks a lot to all SP yg udah kasih pencerahannya (Mba Pudji Yulianti, Hen_drika)
Best Regards, WINDI TANIA

Answer 5 : ma’af,.. tadi copy paste-nya kurang berhasil, tabelnya jadi acak2an….mudah2an yang ini berhasil.cmiiw kalo ada yang salah ya dok & sp,..

Answer 6 : Dear mbak Yeni,
Sebetulnya kalau lingkungan cukup aman dari risiko penularan campak, tidakapa-apa imunisasi campaknya Irdina tidak dilakukan sekarang. Dengan catatanbahwa pada usia 12 bulan nanti dia harus imunisasi MMR; campaknya akantercover di situ.
Memang tidak salah mbak, bahwa kalau tertular maka tubuhnya akan membentukantibodi sendiri. Tetapi pada saat anak kita kena campak itu, selalu adarisiko terjadi komplikasi, yang akibatnya bisa sangat parah, bahkan fatal.
Juga betul setelah diimunisasi ada kemungkinan bahwa anak kita akan kenacampak. Fungsi imunisasi bukan sama sekali menghilangkan kemungkinan anakkita kena suatu penyakit, tetapi karena sudah terbentuk antibodi, makabegitu virus/bakteri sumber penyakit menular itu masuk, si antibodi ini akansegera mengenalinya. Dengan begitu, kalaupun tertular, tidak akan parah danterhindar dari risiko terjadinya komplikasi.
Untuk mengetahui komplikasi apa saja yang bisa muncul dari penyakit campak,coba deh mbak Selvi browsing mengenai Campak, baik di internet maupun difiles sehat di yahoogroups.
salam,/hanni

Q & A Vaksin varisella

sumber : http://www.sehatgroup.web.id

Question : Dear dr Wati & SP,Anak saya Nathan (2 th 10 bl) belum mendapat vaksin varisella. Apakah terlambat utk. memberikannya sekarang. Bahaya apa yg timbul bila vaksin tsb.tdk diberikan.Mohon pencerahannya.
Rgds
Indah

Answer 1 : Mbak Indah,DSA saya pernah menjelaskan bahwa IDAI menganjurkan vaksin cacar ini pada usia 10 tahun (sesuai tabel vaksin IDAI). Tapi, di Amerika, vaksin ini dianjurkan di usia 12 bulan ke atas (bisa lihat http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/mm5301-Immunizationa1.htm#tab ) Menurut DSA saya, vaksin cacar akan menekan virus supaya tidak bereaksi, tapi bukan berarti virus cacar itu hilang, dia hanya sembunyi. Kalau dia keluar, biasanya bukan lagi berupa cacar tetapi herpes (cmiiw, ya dok…). Kalau vaksin diberikan saat usia anak >12 bulan, kemungkinan anak terkena cacar memang kecil, tetapi dia berpotensi terkena herpes di usia muda, karena itu IDAI menyarankan untuk diberikan pada usia 10 tahun. Mungkin bisa didiskusikan dengan DSA nya, Mbak. Berikut saya re-post tanggapan dr. Wati mengenai vaksin cacar beberapa minggu lalu:
Vaksinasi Tifus2 & Varicella
Saya coba jawab
2. cacar air. Sampai saat ini sih cacar air hampir tidak pernah menimbulkan komplikasi serius tetapi CDC di USA melaporkan beberapa kasus ensefalitis akibat cacar air – tapi dikit banget kok. Kalau negara maju, kesepakatannya mulai usia 1 tahun dapat diberikan imunisasi cacar air tetapi kalau satgas imunisasi idai, usia 10 tahun. Nah terserah kalian. Tapi kalau mau imunisasi sekarang harus diingat bahwa suatu saat mesti di booster cuma gak tahu kapan, penelitian length of protectionnya belum selesai. Bukan apa2 kalau mereka kenanya saat remaja, justru lebih berat.
luluk

Answer 2 : Dokter Wati and Smart Parents,Saya ibu dari Naomi 2, 5 bulan. Ingin tau tentang imunisasi varisela. Dokter anak saya menyarankan imunisasi ini. Apakah varisela ini memang harus diberikan? Apa saja keuntungan dan kerugiannya bila diberikan. Umur berapakah pada umumnya varisela diberikan atau dijadualkan?Oh ya, kalau hepatitis A itu adakah batasan umur pemberiannya?
Terima kasih.
Ossy

Answer 3 : dear mba ossy,..saya bantu jawab yaa… ini saya copy paste-kan mengenai imunisasi varicella yang diambil dari http://www.medicastore.com.sesuai dengan rekomendasi idai, imunisasi varicella diberikan pada usia 10tahun, tapi kalo standar internasional bisa diberikan pada umur > 12 bulan dan suatu saat harus di-booster ulang (cmiiw)..terus.. kalo imunisasi hepatitis A, (sesuai dengan rekomendasi idai) bisa diberikan pada > 24 bulan, diberikan 2 kali dengan interval 6-12 bulan (cmiiw)..
===========================Imunisasi Varisella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air.Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.Setiap anak yang berumur 12-18 bulan dan belum pernah menderita cacar air dianjurkan untuk menjalani imunisasi varisella.Anak-anak yang mendapatkan suntikan varisella sebelum berumur 13 tahun hanya memerlukan 1 dosis vaksin.Kepada anak-anak yang berumur 13 tahun atau lebih, yang belum pernah mendapatkan vaksinasi varisella dan belum pernah menderita cacar air,sebaiknya diberikan 2 dosis vaksin dengan selang waktu 4-8 minggu.Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster dan sangat menular.Biasanya infeksi bersifat ringan dan tidak berakibat fatal; tetapi pada sejumlah kasus terjadi penyakit yang sangat serius sehingga penderitanya harus dirawat di rumah sakit dan beberapa diantaranya meninggal.Cacar air pada orang dewasa cenderung menimbulkan komplikasi yang lebih serius.Vaksin ini 90-100% efektif mencegah terjadinya cacar air. Terdapat sejumlah kecil orang yang menderita cacar air meskipun telah mendapatkan suntikan varisella; tetapi kasusnya biasanya ringan, hanya menimbulkan beberapa lepuhan (kasus yang komplit biasanya menimbulkan 250-500 lepuhan yang terasa gatal) dan masa pemulihannya biasanya lebih cepat.Vaksin varisella memberikan kekebalan jangka panjang, diperkirakan selama 10-20 tahun, mungkin juga seumur hidup.Efek samping dari vaksin varisella biasanya ringan, yaitu berupa:
– demam
– nyeri dan pembengkakan di tempat penyuntikan
– ruam cacar air yang terlokalisir di tempat penyuntikan.
Efek samping yang lebih berat adalah:
– kejang demam, yang bisa terjadi dalam waktu 1-6 minggu setelah penyuntikan
– pneumonia
– reaksi alergi sejati (anafilaksis), yang bisa menyebabkan gangguan pernafasan, kaligata, bersin, denyut jantung yang cepat, pusing dan perubahan perilaku. Hal ini bisa terjadi dalam waktu beberapa menit sampaibeberapa jam setelah suntikan dilakukan dan sangat jarang terjadi.
– ensefalitis
– penurunan koordinasi otot.
Imunisasi varisella sebaiknya tidak diberikan kepada:
– Wanita hamil atau wanita menyusui
– Anak-anak atau orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan yang lemah atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan imunosupresif bawaan
– Anak-anak atau orang dewasa yang alergi terhadap antibiotik neomisin atau gelatin karena vaksin mengandung sejumlah kecil kedua bahan tersebut
– Anak-anak atau orang dewasa yang menderita penyakit serius, kanker atau gangguan sistem kekebalan tubuh (misalnya AIDS)
– Anak-anak atau orang dewasa yang sedang mengkonsumsi kortikosteroid
– Setiap orang yang baru saja menjalani transfusi darah atau komponen darah lainnya
– Anak-anak atau orang dewasa yang 3-6 bulan yang lalu menerima suntikan immunoglobulin.maaf kalo ga berkenan.
-yuli-
mamabumi

Q & A Pasca imunisasi BCG

SUMBER : http://www.sehatgroup.web.id

Question : Dear Dr. wati & SP’s
mohon bantuannya ….Anak saya ( 4 1/2 bulan ) pasca imunisasi BCG di lengannya timbul benjolan besar seperti bisul dan bernanah, karena saya takut ada apa apa saya pergi ke DSA nya, oleh dokter tersebut saya diberi obat INH berupa puyer dan diminta seminggu kemudian untuk balik lagi untuk dilihat lagi apakah membaik atau makin memburuk benjolan tersebut . saat itu dokter belum bisa memastikan apakah itu karena memang reaksi dari imunisasi BCg tersebut , BCGintis atau karena infeksi sekunder. . 2 hari setelah minum obat INH tersebut benjolan makin mengempes dan tidak bernanah lagi. tadi malam saya kedokter lagi untuk cek kembali benjolan tersebut dan sekalian imunisasi DPT/polio , Sampai disana dokter malah menyarankan saya untuk melakukan tes darah rutin ( Hb , Ht, Le,Erl,HJ,LED ) untuk memastikan apakaha anak saya positif terkena TB atau tidak ( mudah2 an tidak .. ) dan pemeriksaan radiologi thorax photo PA untuk memastikan apakah ada kelainan pada paru paru anak saya.karena menurut dokter dia jadi takut apakah benjolan nya itu membaik karena memang alami sudah seharusnya membaik atau karena pengaruh obat INH tersebut ?dokter juga bilang tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening , dokter jadi malah khawatir anak saya positif terkena TB ( dikeluarga kami tidak ada yang pernah TBC ) .Saat ini BB anak saya 6,2 kg PB 62 cm dan setiap bulan selalu naik BB nya , saya diliat di growth chart itu masih normal , badannya tidak panas dan tingkahnya masih lincah seperti biasa.Saya mohon masukan dari Dr dan Sp apakan perlu saya melakukan tes darah dan photo tersebut ?saya kasian sekali dgn anak saya kalo sampe harus tes darah , saya benar2 bingung.
mohon bantuannya yang Dr dan Spterima kasih sebelumnya

salamTati

Answer 1 : Mbak Tati,Bukannya kalau habis imunisasi BCG memang bekasnya akan mengalami seperti bisul , dulu juga irdin begitu…tapi memang didiemin aja nanti juga sembuh dan hilang sendiri ( meninggalkan bekas sedikit ), coba cari second opini deh..kalau sudah menyangkut diagnose yg cukup berat begini.
Mba di nakita senin ini , kalau tidak salah halaman 3 & 4 mengupas masalah TBC pada anak – anak ,
Maaf yah bila tidak banyak membantu.

Salam,Shi

Answer 2 : mbak tati, pengalaman saya dulu juga gitu kok mbak. Habis vaksin BCG di bekas suntikannya akan benjol, memerah kemudian
Baca lebih lanjut

Q & A Suntikan BCG

sumber : http://www.sehatgroup.web.id

14/12/2004
Q : Dear Dr. Wati,
Dok, saya mau tanya, apa benar kalo anak mau dibawa ke Indonesia harus disuntik BCG dulu? Saya sekarang tinggal di sydney. Kalo menurut buku kesehatan disini sih ngak ada jadwal untuk BCG sampe 1 tahun. Pertanyaan kedua, menurut dokter, hal apa saja yang perlu saya perhatikan sewaktu membawa anak saya ke indonesia?
Sekedar informasi anak saya perempuan umur 11.5 bulan BB 10.4kg TB 77cm (BBL 3.66kg TBL 54cm) Masih seimbang tidak dok beratnya? soalnya sering saya pantau beratnya tiap minggu, kadang naik tapi kadang bisa turun sampe 200gr. Anaknya sih keliatannya oke saja, aktif sekali, sudah bisa berjalan walau masih seperti orang mabuk hehehe.
Terima kasih sebelumnya, semoga suratnya dibalas sebelum saya berangkat ke indonesia.
Cheers,Ivonne.

A : Dear IvonneThanks ya buat emailnya … wah apa kabar Sydney … musim semi yaa… pasti bunga2 bermekaran … semoga Jakarta dan kota besar lainnya bisa punya taman seperti di sana heheheOk saya coba tanggapi ya 1. BCG. Indonesia memang endemis TBC oleh karena itu perlu imunisasi BCG … namun demikian,. kalau sudah di atas usia 3 bulan… harus tes Mantouc terlebh dahulu untuk memastikan si bayi belum terpapar 2. Tidak ada vaksin yg efektivitasnya 100%… bahkan BCG ini efektivitas nya tidak tinggi … oleh karena itu saya selalu menyarankan pada para orang tua untuk melakukan skrining ronsen dada sebelum menerima staf baru yang akan berdekatan dengan anak misalnya pengasuh dan supir. 3. Anakmu normal kok tumbuh kembang nya… hati2 jangan kegemukan ya… seluruh dunia sangat prihatin lho dengan kegemukan pada anak Ok have a nice coming home,
wati

Rubella Pada Kehamilan

http://www.cdc.gov/MMWR/PREVIEW/MMWRHTML/rr5012a1.htm

All exposed pregnant women should be screened to determine if they a) were
infected during pregnancy, b) are susceptible, or c) were immune before
pregnancy. Because of the seriousness of CRI, immunity must be documented by
a verified, dated record of a positive serologic test. Pregnant women
without documented immunity should be tested for the presence of rubella IgG
and IgM antibodies as outlined in this section. Identifying susceptible
pregnant women is critical, so they can be isolated from further exposure,
monitored for infection, and vaccinated postpartum. Pregnant women with
evidence of infection during pregnancy should be evaluated to verify rubella
infection and determine gestational age at time of infection, if possible,
to assess the possibility of risk to the fetus.

During an outbreak, the following steps should be taken to evaluate and
follow up with pregnant women who had contact with a person with confirmed,
probable, or suspected rubella:

- Use documented serologic test results to verify immunity. If
unavailable, conduct rubella IgG and IgM antibody testing regardless of
symptom history. Pregnant women who are exposed to rubella and who do not
have documented proof of immunity should be tested for rubella-specific IgM
antibodies to identify recent infection. Because 20%–50% of rubella cases
are asymptomatic, this testing policy is crucial to assess the possibility
of risk to the fetus. Another way to identify recent infection is to detect
a significant rise in paired IgG serum. A single positive IgG test indicates
rubella immunity, but does not give information regarding the timing of the
infection. However, a significant rise in IgG antibody (determined by
testing paired sera) or positive IgM antibody test indicates recent
infection.
– Recommend restricting activities to avoid exposure while waiting for
serologic test results. During this time, pregnant women should be excluded
from activities (e.g., work or school) that present the possibility of
exposure to persons with confirmed or suspected cases of rubella. Pregnant
women found to be susceptible to rubella should avoid these settings for 6
weeks (two incubation periods) after the onset of symptoms of rubella in the
last patient for whom rubella cannot be ruled out.
– Evaluate exposed pregnant women with positive IgG titers and
negative IgM to determine if they acquired immunity before pregnancy or
infection during pregnancy. Women without previously documented immunity who
were exposed during pregnancy and >6 weeks before IgM testing could test
negative for IgM antibodies, which are normally not detectable >6 weeks
after infection. Thus, a negative rubella IgM antibody assay does not rule
out infection during pregnancy. The dates of the pregnancy, possible
exposures, test(s), and history of rash illness should be considered in
assessing the possibility of risk to the fetus.
– Evaluate pregnant women with confirmed rubella to assess risk to the
fetus. Rubella infection during the first 3 months of pregnancy is
associated with the greatest risk for CRI, and up to 90% of infants born to
mothers infected during the first 11 weeks of gestation will develop CRS.
Infection late in the first half of pregnancy is more likely to result in
hearing impairment and less likely to be associated with other defects.
Although not likely to result in CRS, rubella infection late in pregnancy
can result in congenital rubella infection only.
– Pregnant women with negative IgG and negative IgM on first testing
should be retested in 10–14 days; the first specimen should be reanalyzed
along with the second specimen. A significant rise in IgG or positive IgM
indicates recent infection. If a susceptible pregnant woman continues to be
directly exposed to rubella, repeat tests of paired sera in 10–14 days to
determine if infection occurs, then every 3–4 weeks if exposure continues.
Testing can be performed earlier if pregnancy outcome might be influenced.
Evaluate the infant on delivery for signs of CRS, and vaccinate the mother
postpartum.
– Recommend restricting activities for susceptible women (i.e., those
without detectable IgG and IgM antibodies), obtain follow-up serologic
testing, and vaccinate after delivery. Susceptible pregnant women should be
excluded from activities (e.g., work or school) that present the
possibility of exposure to persons with confirmed or suspected cases of
rubella. Pregnant women found to be susceptible should avoid these settings
for 6 weeks (two incubation periods) after the onset of symptoms of rubella
in the last patient for whom rubella cannot be ruled out. Household contacts
or other ongoing contacts without documented rubella immunity should be
vaccinated.
– Evaluate asymptomatic, exposed pregnant women with documented
history of previous rubella immunity. Rubella reinfection is rare but has
been documented (*19–22*). Women with documentation of previous
rubella immunity who are exposed to rubella during pregnancy should consult
their physicians. After discussing the potential for reinfection, physicians
might recommend acute- and convalescent-phase IgG antibody testing or an IgM
antibody test to document whether reinfection has occurred. However, the
potential for false-positive IgM tests exists, and the potential risks and
benefits of testing should be considered.
– Counsel pregnant women with documentation of previous immunity to
seek medical attention promptly if rubella-like symptoms appear. Any
pregnant woman with documented immunity and rubella-like symptoms should be
– immediately evaluated by a physician to diagnose the symptoms and
ensure the health of the mother and fetus.

Imunisasi BCG

B C G ( BACILLUS CALMETTE-GUERIN )

Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman ini dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yang terberat). Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja. Bila pemberian imunisasi ini “berhasil,” maka setelah beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan bekas, maka pada bayi perempuan, suntikan sebaiknya dilakukan di paha kanan atas. Biasanya setelah suntikan BCG diberikan, bayi tidak menderita demam.

Pemberian Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkulosis ( TBC ), Imnunisasi ini diberikan hanya sekali sebelum bayi berumur dua bulan. Reaksi yang akan nampak setelah penyuntikan imunisasi ini adalah berupa perubahan warna kulit pada tempat penyuntikan yang akan berubah menjadi pustula kemudian pecah menjadi ulkus, dan akhirnya menyembuh spontan dalam waktu 8 – 12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut, reaksi lainnya adalah berupa pembesaran kelenjar ketiak atau daera leher, bial diraba akan terasa padat dan bila ditekan tidak terasa sakit. Komplikasi yang dapat terjadi adalah berupa pembengkakan pada daerah tempat suntikan yang berisi cairan tetapi akan sembuh spontan.

Q & A Imunisasi 1

28/05/2005
Q : Dear dokter,
Bersama ini mohon agar kiranya saya diberikan informasi. Ada keluarga saya baru datang dari daerah dan mempunyai bayi berumur 6 bulan. Mungkin karena tidak adanya informasi yang benar, maka bayi tersebut sampai sekarang belum diberikan imunisasi sama sekali, dikarenakan persepsi bahwa imunisasi akan membuat tubuh bayi menjadi panas. Pertanyaan saya : apakah bayi tersebut harus mengikuti imunisasi dari awal seperti bayi baru lahir atau hanya imunisasi untuk 6 bulan dan seterusnya.
Mohon saya diinformasikan mengenai apa yang harus dilakukan, mengingat sekarang ini terjadi wabah polio, apalagi saudara saya berasal dari Sukabumi. Terima kasih.
Witri

A : Teknisnya bagaimana?
Usia 6 bulan ini: lakukan tes Mantoux di lengan bawah kanan
lalu paha kiri DPT-HIB, paha kanan hepatitis B, dan teteskan polio
Kembali 2 minggu kemudian ke dokter untuk dibaca tes Mantouxnya bila hasilnya negatif, 2 minggu kemudian berikan BCG
Usia 8 bulan: DPT-HiB2, Polio2, Hep B2
Usia 10 bulan: DPT3, polio3, campak
Usia 1 tahun, Hep B3.
Minta saudaramu untuk mencatat imunisasi yang diberikan. Ingatkan pula kepadanya pentingnya imunisasi tepat waktu agar kadar antibodinya optimal sehingga si bayi pun terlindung dari berbagai penyalit yang menyengsarakan. .
Memang ada beberapa jenis imunisasi yang menimbulkan demam atau membuat bayi lebih rewel tapi efeknya jauh lebih ringan bila dibandingkan dengan penyakit yang mengancam bayi kalau tidak diimunisasi. Betul tidak, Wit?
Tolong bantu dampingi saudaramu yang sedang takut dan bingung. Kalau demam dan rewel, coba berikan banyak cairan untuk si bayi (susu, air putih, jus, kaldu), seka bayi dengan air hangat, kompres hangat, atau berikan parasetamol sesuai dosisnya (Tanyakan pada dokter, ya..)
Pastikan juga kondisi si bayi tidak demam tinggi saat akan diimunisasi. Batuk-pilek ringan bukan halangan untuk imunisasi lho, Wit..
Proviciat, WitriSemoga banyak muncul Witri-witri yang lain, ya..Semoga jawaban saya membantu
Salam sayang saya untuk si kecil dan orang tuanya
wati

Imunisasi ke Dsa atau dokter umum

Question : Dear dr Wati & SP,
Mau tanya, anak saya besok dijadwalkan imunisasi oleh DSA nya, tp saya lagi mempertimbangkan untuk membawa anak saya imunisasi di dr umum saja, mengingat biaya DSA jauh lebih tinggi dari dr umum, sedangkan imunisasi yang diberikan sama ( CMIIW ). Bagaimana pendapat dr Wati dan SP ? Apa positif & negatifnya jika saya membawa anak saya imunisasi di dr umum ? Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas sharingnya.
Salam,Beth

Answer 1 : Kalo aku dulu malah ke Bidan untuk imunisasi yg diwajibkan (BCG,Hep B123DPT-Polio123,Campak) Kalo yg dianjurkan ke DSA (Cacar Air,DPT-Polio4-HibMMR) soalnya Bidan ngga punya vaksinnya. Dampak negatif mungkin obatnya ygmerk terbatas, misalnya di Bidan ngga ada Dpat, beliau cuman punya DPT, efekdemam ke anak kayanya itu tergantung anak, alhamdulilah biarpun disuntiknyaDPT Rakhel ngga pernah demam/rewel. Kalo positif mungkin lebih murah, nggagabung sama anak yg sakit, soalnya kalo di bidan ada jadwal khusus utkimunisasi. Semoga membantu dan maaf kalo tidak berkenan,Santi Mama Rakhel

Answer 2 : Saya kira ndak apa-apa mbak sepanjang dokternya sangat mengerti betul jadwalimunisasi yang benar pada anak.Kebetulan anak saya dapat Dpat pertamanya malah didokter umum ,dia malahsabar banget nerangin hal-hal yang belum kita ketahui ttg imunisasi padaanak.Sama saja mbak hasilnya.Semoga membantu.
RgdsMelly

Answer 3 : Dear Mbak Beth,
Imunisasi di Dokter Umum atau Bidan, bisa kok,,,, dg catatan memangdokter/bidan itu memang melayani imunisasi. Bahkan gak hanya imunisasi, KBpun bisa di dokter umum/bidan. Confirm aja mbak ke dokter umumnya, bisa utkimunisasi/tdk.
Henny[Ibunya Audrey]

Answer 4 : Dear Mba Devi,
Ga mesti ke Dr. Wati kok untuk imunisasi MMR, saran saya datang aza kembali ke dsa lamanya bawa artikel tentang imunisasi yang ada di file milis kalo ga salah sumbernya http://www.cdc . lalu diskusi sama dsanya, jika dsanya ga mau juga, utarakan dengan baik, halus dan bijak bahwa mba sebagai orangtuanya ingin sekali melindungi Hessa secepat mungkin dan apakah dsanya mau menjamin jika suatu saat nanti ternyata hessa terserang penyakit yang harusnya bisa tercover oleh MMRnya (maaf ini hanya contoh saja, bukan bermaksud menyumpahi ya!).
Untuk menggabungkan tetrac Hib dengan MMR boleh saja kok (cmiiw ya dok).
Semoga membantuEfi_Andra’s mom
sumber : milist sehat

Imunisasi MMR dan Autisme

http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/05/11005080/vaksin.mmr.bukan.penyebab.autisme
Jumat, 5 September 2008 | 11:00 WIB

KEKHAWATIRAN para orangtua akan isu vaksin yang dapat menyebabkan
austisme tampaknya akan semakin pudar. Sebuah riset di Amerika
Serikat (AS) membuktikan, tidak hubungan sama sekali antara autisme
dengan pemberian vaksin MMR (measles, mumps, rubella).

Riset yang telah dipubliskasi Rabu kemarin dalam jurnal Public
Library of Science edisi online ini adalah penelitian yang mematahkan
riset sebelumnya oleh Dr Andrew Wakefield dari Royal Free Hospital,
Inggris. Dalam risetnya yang kemudian ditarik dari jurnal Lancet,
Wakefield mengindikasikan adanya kaitan antara vaksin MMR dan autisme.

Para ahli dari Columbia University New York dan Centers for Disease
Control (CDC) membantah indikasi riset Wakefield setelah meneliti
sinyal-sinyal penanda genetika dari virus measles (campak) pada sampel
jaringan usus 25 anak pengidap autisme yang juga menderita gangguan
pencernaan.

Mereka membandingkan sampel tersebut dengan 13 anak lainnya yang bukan
autis, tapi mengidap gangguan pencernaan. Jaringan ini lalu dianalisa
di tiga laboratorium berbeda dengan sistem pemeriksaan acak.

Menurut peneliti, hasil riset ini telah menyediakan bukti kuat yang
mematahkan dugaan adanya hubungan autisme dengan virus campak pada
saluran pencernaan ataupun paparan MMR. “Kami tak menemukan hubungan
antara masa pemberian vaksin MMR dan kejadian penyakit
gastrointestinal ataupun autisme,” ungkap pimpinan riset, Dr Mady Hornig.

Di AS sendiri, klaim pengadilan federal telah mempertimbang komplain
para orangtua dalam setahun terakhir. CDC mengatakan, kekhawatiran
orangtua akan risiko vaksin membuat mereka enggan memberikan vaksin
MMR kepada anak sehingga memicu peningkatan kasus campak di AS dan Eropa.

Penyakit campak menyebabkan kematian pada sekurangnya 250.000 orang
per tahun, dan korban sebagian besar adalah anak-anak di negara
berkembang. Berdasarkan data CDC, satu dari 150 anak di Amerika
mengidap autisme.