HIB DAN ANCAMAN KEMATIAN BAYI

sumber : milis balita-anda

Satrio Widianto (wartawan harian Pikiran Rakyat)

Kendati teknologi dan berbagai penemuan sudah demikian
banyak, penyakit-penyakit infeksi masih menjadi salah
satu penyebab kesakitan dan kematian pada bayi dan
balita. Upaya pencegahan telah dilakukan dengan cara
memperbaiki sanitasi, perbaikan gizi, dan kondisi
kehidupan masyarakat. Akan tetapi upaya ini ternyata
belum cukup.

Imunisasi masih menjadi tindakan pencegahan paling
efektif karena terbukti paling ampuh mencegah penyakit
infeksi. Imunisasi bagi bayi dan balita bukan saja
sangat menguntungkan secara individu, sebagai
pelindung dari penyakit, kecacatan, bahkan kematian.
Imunisasi juga bermanfaat bagi masyarakat secara luas
untuk mencegah penularan penyakit infeksi di antara
masyarakat, terutama bagi penyakit infeksi yang
ditularkan melalui kontak langsung dengan
penderitanya.
Melalui imunisasi, bayi dan balita akan menjadi kebal
terhadap penyakit infeksi tertentu. Sementara itu,
melalui program imunisasi massal, akan dicapai tujuan
akhir yaitu eradikasi penyakit dari suatu negara
bahkan dunia.

Penyakit yang berbahaya kadang-kadang pada awalnya
sulit diketahui karena tidak punya gejala spesifik
sehingga sangat sulit untuk mendeteksinya. Akibatnya
fatal jika tidk tertangani dengan segera dan tepat.
Hal ini tentu sangat mencemaskan, apalagi jika
penyakit tsb. menyerang balita yang belum dapat
mengungkapkan rasa tak enak pada tubuhnya.

Salah satu penyakit infeksi yang berbahaya dan tidak
memiliki gejala spesifik adalah penyakit Hib
(Haemophillus Influenzae tipe B). Ini bukanlah
penyakit sejenis influenza yang disebabkan oleh virus
influenza, tapi disebabkan oleh bakteri gram negatif,
yang bernama Haemophillus influenzae yang terbagi atas
jenis yang berkapsul dan tidak berkapsul.

Tipe yang tidak berkapsul umumnya tidak ganas dan
hanya menyebabkan infeksi ringan, sedangkan tipe yang
berkapsul terbagi atas 6 serotipe dari A sampai F. Di
antara jenis yang berkapsul, tipe B merupakan tipe
yang paling ganas dan 95% penyebab dari semua infeksi
akibat Haemophylus influenzae. Selain itu, tipe ini
juga menjadi salah satu penyebab tersering dari
kesakitan dan kematian pada bayi dan anak berumur
kurang dari 5 tahun.

Infeksi Haemophyllus influenzae tipe B atau lebih
dikenal sebagai Hib adalah infeksi yang paling sering
menyebabkan meningitis (radang selaput otak).
Penyakit lain akibat infeksi Hib adalah pneumonia
(radang paru) dan epiglotitis (radang tulang rawan
tenggorokan).
Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp.A. (K),
Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) mengakui, penyakit ini beresiko tinggi,
menimbulkan kematian pada bayi. Kalaupun sembuh,
meningitis Hib dapat menyebabkan gangguan pendengaran,
mental, dan otak.

Penyakit akibat Hib yang telah dikenal sejak 50 tahun
terakhir ini diketahui sebagai salah satu gangguan
kesehatan serta penyebab kesakitan dan kematian,
terutama bagi balita. “anak-anak di bawah usia 5
tahun merupakan kelompok anak yang paling rentan
terinfeksi Hib, sedangkan usia yang paling beresiko
adalah antara 2 bulan hingga 18 bulan. Sekitar 5-10%
dari mereka yang terinfeksi akan meninggal. Infeksi
akut Hib juga menyerang bayi berusia di bawah 6 bulan,
dengan tingkat kematian mencapai 40%,” kata Prof. Sri
Rezeki.

Di negara barat, Hib menyebabkan penyakit pada 20-200
per 100.000 penduduk. Perbedaan angka kejadian tsb.
disebabkan perbedaan teknis pemantauan, teknik
pengambilan materi pemeriksaan, teknis pemeriksaan
laboratorium, dan pola penggunaan antibiotik.

Beberapa laporan dari negara di Asia menunjukkan bahwa
Hib menjadi penyebab utama dan terbanyak yang
menimbulkan penyakit meningitis. Sementara itu, di
Indonesia, Hib menjadi penyebab 33% dari kasus
meningitis. Hasil riset lanjutan melaporkan bahwa Hib
merupakan 38% penyebab meningitis pada bayi dan anak
berumur kurang dari 5 tahun. Penyebabnya adalah
bakteri Hib yang ditularkan melalui udara dan kontak
langsung dengan penderita.
Meningitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dan bakteri, tapi lebih sering akibat infeksi bakteri
Hib. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak pada
usia lima tahun, diawali dengan gejala sakit
tenggorokan. Akan tetapi, gejala tsb. kemudian
membuat kondisi kesehatan pasien semakin parah
disertai dengan kaku leher, photofobia (takut melihat
cahaya), demam, sakit kepala akut, nyeri sendi,
muntah, mengantuk, gelisah, dan delirium (mengigau).
Pada beberapa pasien anak-anak, serangan meningitis
bisa datang secara mendadak dan beberapa jam setelah
muncul gejala, kemudian pasien meninggal.

Secara keseluruhan, tingkat kematian penyakit
meningitis akibat bakteri Hib mencapai sekitar 5%.
Meskipun dapat disembuhkan, sering pasien menderita
kecacatan, terutama gangguan pendengaran.
Selain itu, Haemophyllus influenzae juga menjadi
penyebab pneumonia atau radang paru. Penelitian
membuktikan bahwa pneumonia disebabkan oleh virus pada
25-75% kasus, sedangkan bakteri biasanya ditemukan
pada kasus yang berat. Kematian umumnya disebabkan
oleh infeksi bakteri.

Pada penderita pneumonia, kantung udara di dalam
paru-paru dipenuhi banyak cairan lain sehingga
mengganggu fungsi paru-paru. Akibatnya, oksigen sulit
mencapai aliran arah. Bila oksigen di dalam darah
sedikit, sel-sel tubuh tidak dapat bekerja dengan baik
sehingga bisa menimbulkan kematian.
Sebelum diperkenalkan vaksin, Hib merupakan bakteri
penyebab pneumonia dan diduga bertanggung jawab
terhadap 5-18% kejadian pneumonia. Radang paru atau
pneumonia lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang dengan prevalensi 5-15%. Anak-anak di
bawah 4 tahun termasuk kelompok paling rentan
menderita penyakit ini. Gejalanya demam,
menggigil/gemetar, napas pendek, batuk dan sakit dada.
Di negara maju, imunisasi telah menurunkan kejadian
infeksi Hib hingga lebih dari 95%, termasuk pneumonia.

Penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri Hib ini
adalah Epiglotitis, yaitu penyakit radang tulang rawan
tenggorokan akibat infeksi penutup tulang rawan
pangkal tenggorokan. Penyakit ini paling sering
terjadi pada anak-anak usia 2-4 tahun.
Penyakit ini dengan cepat menyerang tubuh, diawali
dengan sakit tenggorokan dan demam. Kemudian,
Epiglotis menjadi merah terang, bengkak dan sakit,
merusak/mengganggu jalan napas dan menyebabkan
penderitanya mengalami sulit bernapas dan menelan.
Anak jadi resah dan gelisah serta cenderung duduk
tegak dengan leher menengadah dan dagu menonjol
sebagai upaya untuk mengurangi gangguan jalan napas.
Pasien bisa meninggal dalam waktu beberapa jam
kemudian akibat mati lemas karena kekurangan napas
atau septisemia.

Sangat disayangkan, Hib tidak memiliki gejala yang
spesifik dan hanya dapat diketahui setelah terjadi
kerusakan pada selaput saluran pernapasan. Gejala
umum yang muncul adalah demam, rinitis, sakit
tenggorokan, batuk, lelah, nyeri otot dan kepala,
muntah dan diare. Haemophyllus influenzae hanya
ditemukan pada manusia. Penularan terjadi melalui
udara dan kontak langsung dengan penderita. Sebagian
besar orang yang mengalami infeksi tidak menjadi
sakit, tapi menjadi pembawa kuman (carrier) karena Hib
menetap di tenggorokan. Prevalensi carrier yang lebih
dari 3% menunjukkan angka cukup tinggi.

Penelitian pendahuluan di Lombok menunjukkan
prevalensi pembawa kuman sebesar 4,6%, suatu angka
yang cukup tinggi. Bila prevalensi pembawa kuman
cukup banyak, kemungkinan kejadian meningitis dan
pneumonia akibat Hib biasanya juga tinggi. Data yang
ada menunjukkan bahwa Hib memang merupakan penyebab
meningitis yang terbanyak.
Mengenai pengobatan yang perlu dilakukan, di masa lalu
pengobatan penyakit akibat infeksi Hib dengan
memberikan obat antibiotik sesegera mungkin untuk
menyelamatkan penderita. Akan tetapi, sekarang
pengobatan dengan antibiotik saja ternyata tidak cukup
ampuh, mengingat bakteri Hib dewasa ini sudah banyak
yang kebal terhadap pengobatan antibiotik. Di Amerika
diperkirakan 40$ bakteri Hib resisten terhadap obat
antibiotik ampisilin.

Kenyataan ini menyebabkan para ilmuwan kesehatan
kemudian memusatkan perhatian pada upaya pencegahan
penyakit Hib. Mereka akhirnya memutuskan bahwa
imunisasi Hib adalah satu-satunya cara paling praktis
dan efektif untuk mencegah terjadinya penyakit akibat
bakteri Hib.
Sekarang ini vaksin Hib umumnya sudah tersedia di
banyak negara, termasuk Indonesia. Bahkan, beberapa
negara di antaranya telah memasukkan vaksinasi Hib ke
dalam jadwal imunisasi wajib untuk bayi dan balitanya.
Di negara yang telah berkembang, imunisasi menurunkan
kejadian infeksi Hib hingga lebih dari 95%, termasuk
untuk kasus pneumonia. Pemberian vaksin Hib sedini
mungkin akan melindungi bayi dan balita dari terserang
penyakit meningitis atau radang selaput otak,
pneumonia dan epiglotitis.
Salah satu vaksin Hib yang diproduksi GlaxoSmithKline
(GSK) memuat komponen PRP-T (konjugasi
polyribosyl-ribitol phosphate dengan tetanus toxoid)
yang terbukti memberikan kekebalan tubuh yang paling
optimal dibandingkan dengan vaksin konjugasi Hib
dengan bakteri lainnya. Vaksin Hib ini dikenal dengan
nama Hiberix.

“Vaksin Hiberix dapat digunakan sebagai vaksin
tersendiri atau dikombinasikan secara praktis dengan
vaksin lain seperti dengan vaksin Infanrix, yaitu
vaksin untuk penyakit-penyakit Difteri, Pertusis,
Tetanus (DPT) dengan efek samping seperti demam,
merah, dan bengkak di sekitar suntikan yang sangat
minimal,” kata dr. Fransiscus Chandra, Direktur
Medikal GaxoSmithKline.
“Memang awalnya, vaksin Hib terbuat dari kapsul
Polyribosyribitol phosphate (PRP), namun ternyata
vaksin yang terbuat dari PRP murni ini kurang efektif.
Jadi vaksin yang digunakan adalah konjugasi PRP
dengan berbagai komponen bakteri lain. Yang beredar
di Indonesia saat ini adalah vaksin konjugasi dengan
membran protein luar dari Neisseria menigitidis
(PRP-OPM) dan konjugasi dengan toksoid tetanus
(PRP-T),” jelasnya.

Pada suntikan pertama, vaksin Hib PRP-OPM dapat
menghasilkan level proteksi yang lebih cepat
dibandingkan dengan PRP-T. Namun secara keseluruhan,
setelah suntikan ke-3 maka vaksin Hib PRP-T dapat
menghasilkan level proteksi yang jauh lebih tinggi
Pemberian vaksin Hib saat ini telah direkomendasikan
WHO/PAHO dan GAVI. Untuk bayi usia 2-6 bulan
diberikan imunisasi Hib sebanyak 3 dosis dengan
interval satu bulan. Bayi berusia 7-12 bulan
diberikan vaksinasi Hib sebanyak 2 dosis dengan
interval waktu satu bulan. Sementara itu, anak
berumur 1-5 tahun cukup diberikan imunisasi Hib
sebanyak 1 dosis, dengan dosis ulangan pada umur 15
bulan. Mengingat Hib lebih sering menyerang bayi
kecil (26% terjadi pada bayi berumur 2-6 bulan dan 25%
pada bayi berumur 7-11 bulan), vaksin Hib sebaiknya
telah diberikan sejak usia 2 bulan. Vaksin Hib tidak
dianjurkan diberikan sebelum bayi berumur 2 bulan
karena bayi tsb. belum dapat membentuk antibodi.
Setelah pemberian vaksin, efek samping yang mungkin
timbul adalah demam, nyeri, atau bengkak pada tepat di
area bekas suntikan. Namun, ada produk vaksin yang
efek sampingnya dapat ditekan lebih rendah lagi.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Fransiscus, vaksin Hib
ini terbukti memiliki reaksi lokal yang rendah
sehingga mengurangi rasa tak nyaman pada anak.

Meski demikian, manfaat imunisasi masih jauh lebih
besar, mengingat sebagian penyakit masih belum ada
obatnya. Dalam hal ini, vaksin merupakan salah satu
bentuk obat yang paling aman, efektif, dan dapat
menurunkan biaya kesehatan.
Orang tua diharapkan lebih memahami berbagai jenis
imunisasi yang dibutuhkan oleh bayi karena pencegahan
lebih baik daripada mengobati. Orang tua juga berhak
menanyakan vaksin yang akan diberikan kepada bayinya,
termasuk efek samping akibatnya. Orang tua atau siapa
pun yang ingin mengetahui tentang vaksin dan
penyakitnya kini bisa mendapat akses lebih mudah
dengan membuka situs di http://www.worldwidevaccine.com.
Dengan memahami segala sesuatu sejak dini, niscaya
tingkat kesakitan dan kematian pada bayi akan bisa
berkurang secara signifikan.

Benarkah Imunisasi Justru Membuat Anak Sakit?

sumber : milis balita anda

Imunisasi bukanlah hal baru dalam dunia kesehatan di Indonesia, namun
tetap saja sampai kini banyak orangtua yang masih ragu-ragu dalam memutuskan
apakah anaknya akan diimunisasi atau tidak. *

Kebingungan tersebut sebenarnya cukup beralasan, banyak selentingan dan
mitos yang kontroversial beredar, mulai dari alergi, autis, hingga
kejang-kejang akibat diimunisasi. Namun, jika para orangtua mengetahui
informasi penting sebelum imunisasi, sebenarnya risiko-risiko tersebut bisa
dihindari. Apa saja yang perlu diketahui orangtua?

Banyaknya penyakit baru yang menular dan mematikan serta penyakit infeksi
masih menjadi masalah di Indonesia. Selain gaya hidup sehat dan menjaga
kebersihan, imunisasi merupakan cara untuk melindungi anak-anak dari bahaya
penyakit menular.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dr.Soedjatmiko, SpA(K), MSi, Ketua Divisi
Tumbuh Kembang Pediatrik Sosial, FKUI, RSCM. “Vaksinasi akan meningkatkan
kekebalan tubuh dan mencegah tertularnya penyakit tertentu,”katanya.

Di Indonesia, ada lima jenis imunisasi yang wajib diberikan pada anak-anak,
yakni BCG, polio, campak, DTP, dan hepatitis B. Menurut badan kesehatan
dunia (WHO), kelima jenis vaksin tersebut diwajibkan karena dampak dari
penyakit tersebut bisa menimbulkan kematian dan kecacatan. Selain yang
diwajibkan, ada pula jenis vaksin yang dianjurkan, misalnya Hib, Pneumokokus
(PCV), Influenza, MMR, Tifoid, Hepatitis A, dan Varisela.

*Harus Fit*

Sebelum anak diimunisasi, ada beberapa kondisi yang membuat imunisasi
sebaiknya ditunda, yakni saat anak sedang panas tinggi, sedang minum
prednison dosis tinggi, sedang mendapat obat steroid, dalam jangka waktu 3
bulan terakhir baru mendapat transfusi darah atau suntikan imunoglobulin.

Intinya si kecil harus dalam kondisi sehat sebelum diimunisasi agar
antibodinya bekerja. Imunisasi adalah pemberian virus, bakteri, atau bagian
dari bakteri ke dalam tubuh untuk membentuk antibodi (kekebalan). Jika anak
sakit dimasuki kuman atau virus lain dalam vaksin, maka kerja tubuh menjadi
berat dan kekebalannya tidak tinggi.

“Kalau hanya batuk pilek sedikit atau diare sedikit tidak apa-apa diberi
imunisasi, tapi jika bayi sangat rewel sebaiknya ditunda satu-dua
minggu,”papar Seodjatmiko. Soedjatmiko menyarankan agar orangtua
memberitahukan pada dokter atau petugas imunisasi jika vaksin terdahulu
memiliki efek samping, misalnya bengkak, panas tinggi atau kejang.

*Sesudah imunisasi*

Menurut Seodjatmiko, setiap vaksin memiliki reaksi berbeda-beda, tergantung
pada penyimpanan vaksin dan sensitivitas tiap anak. Berikut reaksi yang
mungkin timbul setelah anak diimunisasi dan bagaimana solusinya.

*BCG*
Setelah 4-6 minggu di tempat bekas suntikan akan timbul bisul kecil yang
akan pecah, bentuknya seperti koreng. Reaksi ini merupakan normal. Namun
jika koreng membesar dan timbul kelenjar pada ketiak atau lipatan paha,
sebaiknya anak segera dibawa kembali ke dokter. Untuk mengatasi
pembengkakan, kompres bekas suntikan dengan cairan antiseptik.

*DPT*
Reaksi lokal yang mungkin timbul adalah rasa nyeri, merah dan bengkak selama
satu-dua hari di bekas suntikan. Untuk mengatasinya beri kompres hangat.
Sedangkan reaksi umumnya antara lain demam dan agak rewel. Berikan si kecil
obat penurun panas dan banyak minum ASI.

Kini sudah ada vaksin DPT yang tidak menimbulkan reaksi apapun, baik lokal
maupun umum, yakni vaksin DtaP (*diphtheria, tetanus, acellullar pertussis*),
sayangnya hariga vaksin ini jauh lebih mahal dari vaksin DPT.

*Campak*
5-12 hari setelah anak mendapat imunisasi campak, biasanya anak akan demam
dan timbul bintik merah halus di kulit. Para ibu tidak perlu mengkhawatirkan
reaksi ini karena ini sangat normal dan akan hilang dengan sendirinya.

*MMR* (*Mumps, Morbilli, Rubella*)
Reaksi dari vaksin ini biasanya baru muncul tiga minggu kemudian, berupa
bengkak di kelenjar belakang telinga. Untuk mengatasinya, berikan anak obat
penghilang nyeri.

Orangtua yang membawa anaknya untuk diimunisasi dianjurkan untuk tidak
langsung pulang, melainkan menunggu selama 15 menit setelah anak
diimunisasi, sehingga jika timbul suatu reaksi bisa langsung ditangani.

Bagaimana jika orangtua lupa pada jadwal vaksinasi anak? Menurut Soedjatmiko
hal itu tidak menjadi masalah dan tidak perlu mengulang vaksin dari awal.
“Tidak ada itu istilah hangus. Sel-sel memori dalam tubuh mampu mengingat
dan akan merangsang kekebalan bila diberikan imunisasi berikutnya,” katanya.
Untuk mengejar ketinggalan, dokter biasanya akan memberi vaksin kombinasi.

Meskipun seorang anak sudah mendapatkan imunisasi secara lengkap, bukan
berarti ia tidak akan tertular penyakit, namun penyakitnya lebih ringan dan
tidak terlalu berbahaya. “Dampak dari penyakitnya lebih ringan, kemungkinan
meninggal, cacat dan lumpuh juga bisa dihindari,”kata dokter yang juga
menjadi Satgas Imunisasi PP IDAI ini.

Pilihan memang ada di tangan orangtua, tetapi bagaimanapun tugas orangtua
adalah untuk melindungi anaknya, dan imunisasi adalah cara yang penting
untuk mencegah si kecil dari serangan penyakit. Bukankah mencegah lebih baik
dari mengobati?

*Penulis*: An

Vaksin Anak Tercemar DNA Virus Babi

sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/03/23/0944090/Vaksin.Anak.Tercemar.DNA.Virus.Babi

*LONDON, KOMPAS.com — * Badan Pengawas Obat Amerika Serikat atau FDA,
Senin (22/3/2010), merekomendasikan kepada para dokter untuk
menghentikan sementara penggunaan vaksin rotarix kepada bayi karena
adanya kontaminasi DNA virus dari babi.

Material yang mencemari vaksin tersebut adalah DNA dari /porcine
circovirus 1/, sejenis virus dari babi yang belum dapat diketahui apakah
menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang.

Namun, FDA juga menekankan bahwa vaksin tersebut tidak menimbulkan
ancaman bagi kesehatan. “Tidak ada bukti pada saat ini bahwa material
ini menimbulkan risiko keselamatan,” ungkap Komisioner FDA Dr Margaret
Hamburg, seperti dikutip /CNN./

Hamburg juga mengatakan, sekitar satu juta anak di AS dan sekitar 30
juta anak di dunia telah memperoleh vaksin rotarix. Vaksin ini dibuat
oleh produsen obat asal Inggris, GlaxoSmithKline, dan disetujui
penggunaannya oleh FDA pada 2008.

Vaksin rotarix diberikan secara oral kepada bayi berusia enam pekan atau
lebih untuk mengatasi infeksi rotavirus yang mengakibatkan diare dan
muntah.
Vaksin untuk rotavirus lainnya, yakni RotaTeq, dibuat oleh Merck.
Hamburg menyatakan, RotaTeq, yang disetujui pemakaiannya oleh FDA pada
2006, tidak terkontaminasi.

Hamburg menjelaskan, FDA menemukan kontaminasi setelah dilakukannya
riset akademis menggunakan sejenis teknik untuk mendeteksi virus dalam
beragam vaksin. Mereka menemukan pencemaran material itu dan
melaporkannya kepada GlaxoSmithKline.

Pihak perusahaan Inggris itu sendiri telah membenarkan adanya
kontaminasi pada produknya. Pencemaran tersebut ditemukan pada tahap
awal pembuatan vaksin.

Dalam pernyataan tertulisnya, GlaxoSmithKline menekankan bahwa DNA virus
babi itu tidak menimbulkan ancaman penyakit bagi manusia. Virus ini
ditemukan pada produk daging dan sering kali dikonsumsi tanpa
menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan.

“Tak ada isu kesehatan yang teridentifikasi oleh agen eksternal atau
GSK. GSK peduli pada keamanan pasien dan memenuhi standar tertinggi
pembuatan vaksin dan obat-obatan. Kami sedang bekerja dan mendiskusikan
temuan ini dengan pejabat dan agensi di seluruh dunia, ” ungkap Chief
Medical Officer GSK Thomas Breuer.

Vaksinasi Hepatitis B Mengurangi Tingkat Kanker Hati pada Anak dan Remaja di Taiwan

sumber :http://www.kalbe.co.id/health-news/20422/vaksinasi-hepatitis-b-mengurangi-tingkat-kanker-hati-pada-anak-dan-remaja-di-taiwan.html

Kalbe.co.id – Pelaksanaan program vaksin virus hepatitis B (HBV) secara universal pada bayi pada pertengahan 1980-an telah menghasilkan penurunan besar pada kejadian karsinoma hepatoseluler (HCC) di antara anak dan remaja di Taiwan. Hal itu berdasarkan sebuah laporan yang diterbitkan dalam Journal of National Cancer Institute edisi 16 September 2009, versi internet.

Hepatitis B adalah penyebab utama karsinoma hepatoselular – sejenis kanker hati primer – terutama di daerah endemi infeksi HBV kronis, sebagaimana banyak terjadi di wilayah Asia.

Mei-Hwei Chang dan rekan dari Taiwan Hepatoma Study Group ingin menyelidiki apakah pencegahan HCC setelah peluncuran program vaksin HBV secara universal pada bayi yang baru lahir di Taiwan pada Juli 1984 telah melewati masa kanak-kanak, serta untuk menentukan prediktor HCC pada kohort bayi yang divaksinasi ketika baru lahir.

Para peneliti memakai dua daftar HCC nasional untuk mengumpulkan data dari 1.958 pasien berusia enam hingga 29 tahun ketika mereka didiagnosis dengan kanker hati antara 1983 dan 2004. Peneliti menganalisis kejadian HCC berdasarkan usia dan jenis kelamin di antara kohort bayi baru lahir yang divaksinasi dan yang tidak divaksinasi dengan memakai model regresi Poisson.

Selain itu, rekam medis dari 64 pasien yang mengembangkan HCC walau telah divaksinasi dan 5.524.435 orang tanpa HCC yang lahir setelah program universal dimulai, dibandingkan terhadap ciri-ciri imunisasi HBV pada bayi dan status antigen permukaan hepatitis B(HbsAg) dan antigen hepatitis B “e” (HBeAg) pada ibu sebelum kelahiran.

Hasil

* Kejadian HCC lebih rendah secara bermakna di antara anak-anak dan remaja berusia 6-19 tahun pada kohort kelahiran yang divaksinasi dibandingkan dengan kohort yang tidak divaksinasi.
* Ada 64 kasus HCC di antara pasien yang divaksinasi (37.709.304 orang-tahun) dibandingkan 444 kasus di antara yang tidak divaksinasi (78.496.406 orang-tahun).
* Risiko relatif terhadap pengembangan HCC yang disesuaikan berdasarkan usia dan jenis kelamin adalah 0,31, atau kurang lebih sepertiga, pada orang yang divaksinasi saat kelahiran (p <0,001).
* Di antara kohort yang divaksinasi, risiko pengembangan HCC dikaitkan secara bermakna dengan faktor-faktor berikut:
o Vaksinasi HBV yang tidak lengkap (menerima kurang dari tiga dosis vaksin): rasio odds [OR] 4,32;
o Status HBsAg ibu sebelum melahirkan: OR 29,50;
o Status HBsAg ibu sebelum melahirkan dengan pemberian imunoglobulin hepatitis B (HBIG) pada saat kelahiran: OR 5,13;
o Status HBeAg ibu sebelum melahirkan tanpa pemberian HBIG pada saat kelahiran: OR 9,43.

Berdasarkan temuan itu, para penulis penelitian menyimpulkan, “Pencegahan karsinoma dengan vaksin HBV berlanjut dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Kegagalan mencegah karsinoma hepatoseluler kebanyakan akibat tidak berhasil mengendalikan infeksi HBV pada ibu yang sangat menular,” mereka menambahkan.

Imunisasi

sumber :http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-0l1g6a-tips.htm

Apa yang seharusnya diketahui oleh setiap keluarga dan masyarakat mengenai imunisasi? Tanpa imunisasi, kira-kira 3 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena penyakit campak, 2 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena batuk rejan, 1 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena penyakit tetanus, dan dari setiap 200.000 anak, 1 akan menderita penyakit polio. Imunisasi yang dilakukan dengan memberikan vaksin tertentu akan melindungi anak terhadap penyakir-penyakit tertentu. Walaupun pada saat ini fasilitas pelayanan untuk vaksinasi ini telah tersedia di masyarakat, tetapi tidak semua bayi telah dibawa untuk mendapatkan imunisasi yang lengkap. Walaupun pada saat ini fasilitas pelayanan untuk vaksinasi ini telah tersedia di masyarakat, tetapi tidak semua bayi telah dibawa untuk mendapatkan imunisasi yang lengkap.

Bilamana fasilitas pelayanan kesehatan tidak dapat memberikan imunisasi dengan pertimbangan tertentu, orang tua dapat menghubungi seseorang Dokter (Dokter Spesialis Anak) untuk mendapatkannya.

Tujuan Imunisasi:

Untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit.

Manfaat Imunisasi:

* Untuk Anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian.
* Untuk Keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
* Untuk Negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.

Perlukah Imunisasi ulang?

Imunisasi perlu diulang untuk mempertahankan agar kekebalan dapat tetap melindungi terhadap paparan bibit penyakit.

Dimana mendapatkan imunisasi?

* Di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)-Di Puskesmas, Rumah Sakit Bersalin, BKIA atau Rumah Sakit Pemerintah.
* Di Praktek Dokter/Bidan atau Rumah Sakit Swasta.

Apakah imunisasi Difteri, Pertusis (Batuk rejan), Tetanus (DPT) dapat diberikan bersama-sama imunisasi polio?

Imunisasi DPTdan polio dapat diberikan bersamaan waktunya.

Efek samping Imunisasi:

Imunisasi kadang dapat mengakibatkan efek samping. Ini adalah tanda baik yang membuktikan bahwa vaksin betuk-betul bekerja secara tepat.

Efek samping yang biasa terjadi adalah sebaagai berikut:

BCG: Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan. Setelah 2�3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian menjadi luka dengan garis tengah �10 mm. Luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan luka parut yang kecil.

DPT: Kebanyakan bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan imunisasi DPT, tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Sebagian besar merasa nyeri, sakit, kemerahan atau bengkak di tempat suntikan. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus, akan sembuh sendiri.Bila gejala diatas tidak timbul tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan dan Imunisasi tidak perlu diulang.

POLIO: Jarang timbuk efek samping.

CAMPAK: Anak mungkin panas, kadang disertai dengan kemerahan 4�10 hari sesudah penyuntikan.

HEPATITIS: Belum pernah dilaporkan adanya efek samping.

TETANUS TOXOID: Efek samping TT untuk ibu hamil tidak ada.

Perlu diingat efek samping imunisasi jauh lebih ringan daripada efek penyakit bila bayi tidak diimunisasi.

Perlukah pemerikasaan darah sebelum pemberian imunisasi Hepatitis?

Untuk bayi berumur lebih dari 1 tahun seyogyanya dilakukan pemerikasaan darah.

Untuk apakah imunisasi ini?

Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan imunisasi adalah bayi dan balita karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan ibu-ibu hamil serta wanita usia subur.

Apakah imunisasi dasar dan berapa kali diberikan?

* Imunisasi dasar adalah imunisasi yang diberikan untuk mendapat kekebalan awal secara aktif
* Kekebalan Imunisasi dasar perlu diulang pada DPT, Polio, Hepatitis agar dapat mdlindungi dari paparan penyakit.
* Pemberian Imunisasi dasar pada Campak, BCG, tidak perlu diulang karena kekebalan yang diperoleh dapat melindungi dari paparan bibit penyakit dalam waktu cukup lama.

HIB DAN ANCAMAN KEMATIAN BAYI

SUMBER : MILIST BALITA-ANDA

sumber : harian Pikiran Rakyat
Satrio Widianto (wartawan harian Pikiran Rakyat)

Kendati teknologi dan berbagai penemuan sudah demikian
banyak, penyakit-penyakit infeksi masih menjadi salah
satu penyebab kesakitan dan kematian pada bayi dan
balita. Upaya pencegahan telah dilakukan dengan cara
memperbaiki sanitasi, perbaikan gizi, dan kondisi
kehidupan masyarakat. Akan tetapi upaya ini ternyata
belum cukup.

Imunisasi masih menjadi tindakan pencegahan paling
efektif karena terbukti paling ampuh mencegah penyakit
infeksi. Imunisasi bagi bayi dan balita bukan saja
sangat menguntungkan secara individu, sebagai
pelindung dari penyakit, kecacatan, bahkan kematian.
Imunisasi juga bermanfaat bagi masyarakat secara luas
untuk mencegah penularan penyakit infeksi di antara
masyarakat, terutama bagi penyakit infeksi yang
ditularkan melalui kontak langsung dengan
penderitanya.
Melalui imunisasi, bayi dan balita akan menjadi kebal
terhadap penyakit infeksi tertentu. Sementara itu,
melalui program imunisasi massal, akan dicapai tujuan
akhir yaitu eradikasi penyakit dari suatu negara
bahkan dunia.

Penyakit yang berbahaya kadang-kadang pada awalnya
sulit diketahui karena tidak punya gejala spesifik
sehingga sangat sulit untuk mendeteksinya. Akibatnya
fatal jika tidk tertangani dengan segera dan tepat.
Hal ini tentu sangat mencemaskan, apalagi jika
penyakit tsb. menyerang balita yang belum dapat
mengungkapkan rasa tak enak pada tubuhnya.

Salah satu penyakit infeksi yang berbahaya dan tidak
memiliki gejala spesifik adalah penyakit Hib
(Haemophillus Influenzae tipe B). Ini bukanlah
penyakit sejenis influenza yang disebabkan oleh virus
influenza, tapi disebabkan oleh bakteri gram negatif,
yang bernama Haemophillus influenzae yang terbagi atas
jenis yang berkapsul dan tidak berkapsul.

Tipe yang tidak berkapsul umumnya tidak ganas dan
hanya menyebabkan infeksi ringan, sedangkan tipe yang
berkapsul terbagi atas 6 serotipe dari A sampai F. Di
antara jenis yang berkapsul, tipe B merupakan tipe
yang paling ganas dan 95% penyebab dari semua infeksi
akibat Haemophylus influenzae. Selain itu, tipe ini
juga menjadi salah satu penyebab tersering dari
kesakitan dan kematian pada bayi dan anak berumur
kurang dari 5 tahun.

Infeksi Haemophyllus influenzae tipe B atau lebih
dikenal sebagai Hib adalah infeksi yang paling sering
menyebabkan meningitis (radang selaput otak).
Penyakit lain akibat infeksi Hib adalah pneumonia
(radang paru) dan epiglotitis (radang tulang rawan
tenggorokan).
Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp.A. (K),
Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) mengakui, penyakit ini beresiko tinggi,
menimbulkan kematian pada bayi. Kalaupun sembuh,
meningitis Hib dapat menyebabkan gangguan pendengaran,
mental, dan otak.

Penyakit akibat Hib yang telah dikenal sejak 50 tahun
terakhir ini diketahui sebagai salah satu gangguan
kesehatan serta penyebab kesakitan dan kematian,
terutama bagi balita. “anak-anak di bawah usia 5
tahun merupakan kelompok anak yang paling rentan
terinfeksi Hib, sedangkan usia yang paling beresiko
adalah antara 2 bulan hingga 18 bulan. Sekitar 5-10%
dari mereka yang terinfeksi akan meninggal. Infeksi
akut Hib juga menyerang bayi berusia di bawah 6 bulan,
dengan tingkat kematian mencapai 40%,” kata Prof. Sri
Rezeki.

Di negara barat, Hib menyebabkan penyakit pada 20-200
per 100.000 penduduk. Perbedaan angka kejadian tsb.
disebabkan perbedaan teknis pemantauan, teknik
pengambilan materi pemeriksaan, teknis pemeriksaan
laboratorium, dan pola penggunaan antibiotik.

Beberapa laporan dari negara di Asia menunjukkan bahwa
Hib menjadi penyebab utama dan terbanyak yang
menimbulkan penyakit meningitis. Sementara itu, di
Indonesia, Hib menjadi penyebab 33% dari kasus
meningitis. Hasil riset lanjutan melaporkan bahwa Hib
merupakan 38% penyebab meningitis pada bayi dan anak
berumur kurang dari 5 tahun. Penyebabnya adalah
bakteri Hib yang ditularkan melalui udara dan kontak
langsung dengan penderita.
Meningitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dan bakteri, tapi lebih sering akibat infeksi bakteri
Hib. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak pada
usia lima tahun, diawali dengan gejala sakit
tenggorokan. Akan tetapi, gejala tsb. kemudian
membuat kondisi kesehatan pasien semakin parah
disertai dengan kaku leher, photofobia (takut melihat
cahaya), demam, sakit kepala akut, nyeri sendi,
muntah, mengantuk, gelisah, dan delirium (mengigau).
Pada beberapa pasien anak-anak, serangan meningitis
bisa datang secara mendadak dan beberapa jam setelah
muncul gejala, kemudian pasien meninggal.

Secara keseluruhan, tingkat kematian penyakit
meningitis akibat bakteri Hib mencapai sekitar 5%.
Meskipun dapat disembuhkan, sering pasien menderita
kecacatan, terutama gangguan pendengaran.
Selain itu, Haemophyllus influenzae juga menjadi
penyebab pneumonia atau radang paru. Penelitian
membuktikan bahwa pneumonia disebabkan oleh virus pada
25-75% kasus, sedangkan bakteri biasanya ditemukan
pada kasus yang berat. Kematian umumnya disebabkan
oleh infeksi bakteri.

Pada penderita pneumonia, kantung udara di dalam
paru-paru dipenuhi banyak cairan lain sehingga
mengganggu fungsi paru-paru. Akibatnya, oksigen sulit
mencapai aliran arah. Bila oksigen di dalam darah
sedikit, sel-sel tubuh tidak dapat bekerja dengan baik
sehingga bisa menimbulkan kematian.
Sebelum diperkenalkan vaksin, Hib merupakan bakteri
penyebab pneumonia dan diduga bertanggung jawab
terhadap 5-18% kejadian pneumonia. Radang paru atau
pneumonia lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang dengan prevalensi 5-15%. Anak-anak di
bawah 4 tahun termasuk kelompok paling rentan
menderita penyakit ini. Gejalanya demam,
menggigil/gemetar, napas pendek, batuk dan sakit dada.
Di negara maju, imunisasi telah menurunkan kejadian
infeksi Hib hingga lebih dari 95%, termasuk pneumonia.

Penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri Hib ini
adalah Epiglotitis, yaitu penyakit radang tulang rawan
tenggorokan akibat infeksi penutup tulang rawan
pangkal tenggorokan. Penyakit ini paling sering
terjadi pada anak-anak usia 2-4 tahun.
Penyakit ini dengan cepat menyerang tubuh, diawali
dengan sakit tenggorokan dan demam. Kemudian,
Epiglotis menjadi merah terang, bengkak dan sakit,
merusak/mengganggu jalan napas dan menyebabkan
penderitanya mengalami sulit bernapas dan menelan.
Anak jadi resah dan gelisah serta cenderung duduk
tegak dengan leher menengadah dan dagu menonjol
sebagai upaya untuk mengurangi gangguan jalan napas.
Pasien bisa meninggal dalam waktu beberapa jam
kemudian akibat mati lemas karena kekurangan napas
atau septisemia.

Sangat disayangkan, Hib tidak memiliki gejala yang
spesifik dan hanya dapat diketahui setelah terjadi
kerusakan pada selaput saluran pernapasan. Gejala
umum yang muncul adalah demam, rinitis, sakit
tenggorokan, batuk, lelah, nyeri otot dan kepala,
muntah dan diare. Haemophyllus influenzae hanya
ditemukan pada manusia. Penularan terjadi melalui
udara dan kontak langsung dengan penderita. Sebagian
besar orang yang mengalami infeksi tidak menjadi
sakit, tapi menjadi pembawa kuman (carrier) karena Hib
menetap di tenggorokan. Prevalensi carrier yang lebih
dari 3% menunjukkan angka cukup tinggi.

Penelitian pendahuluan di Lombok menunjukkan
prevalensi pembawa kuman sebesar 4,6%, suatu angka
yang cukup tinggi. Bila prevalensi pembawa kuman
cukup banyak, kemungkinan kejadian meningitis dan
pneumonia akibat Hib biasanya juga tinggi. Data yang
ada menunjukkan bahwa Hib memang merupakan penyebab
meningitis yang terbanyak.
Mengenai pengobatan yang perlu dilakukan, di masa lalu
pengobatan penyakit akibat infeksi Hib dengan
memberikan obat antibiotik sesegera mungkin untuk
menyelamatkan penderita. Akan tetapi, sekarang
pengobatan dengan antibiotik saja ternyata tidak cukup
ampuh, mengingat bakteri Hib dewasa ini sudah banyak
yang kebal terhadap pengobatan antibiotik. Di Amerika
diperkirakan 40$ bakteri Hib resisten terhadap obat
antibiotik ampisilin.

Kenyataan ini menyebabkan para ilmuwan kesehatan
kemudian memusatkan perhatian pada upaya pencegahan
penyakit Hib. Mereka akhirnya memutuskan bahwa
imunisasi Hib adalah satu-satunya cara paling praktis
dan efektif untuk mencegah terjadinya penyakit akibat
bakteri Hib.
Sekarang ini vaksin Hib umumnya sudah tersedia di
banyak negara, termasuk Indonesia. Bahkan, beberapa
negara di antaranya telah memasukkan vaksinasi Hib ke
dalam jadwal imunisasi wajib untuk bayi dan balitanya.
Di negara yang telah berkembang, imunisasi menurunkan
kejadian infeksi Hib hingga lebih dari 95%, termasuk
untuk kasus pneumonia. Pemberian vaksin Hib sedini
mungkin akan melindungi bayi dan balita dari terserang
penyakit meningitis atau radang selaput otak,
pneumonia dan epiglotitis.
Salah satu vaksin Hib yang diproduksi GlaxoSmithKline
(GSK) memuat komponen PRP-T (konjugasi
polyribosyl-ribitol phosphate dengan tetanus toxoid)
yang terbukti memberikan kekebalan tubuh yang paling
optimal dibandingkan dengan vaksin konjugasi Hib
dengan bakteri lainnya. Vaksin Hib ini dikenal dengan
nama Hiberix.

“Vaksin Hiberix dapat digunakan sebagai vaksin
tersendiri atau dikombinasikan secara praktis dengan
vaksin lain seperti dengan vaksin Infanrix, yaitu
vaksin untuk penyakit-penyakit Difteri, Pertusis,
Tetanus (DPT) dengan efek samping seperti demam,
merah, dan bengkak di sekitar suntikan yang sangat
minimal,” kata dr. Fransiscus Chandra, Direktur
Medikal GaxoSmithKline.
“Memang awalnya, vaksin Hib terbuat dari kapsul
Polyribosyribitol phosphate (PRP), namun ternyata
vaksin yang terbuat dari PRP murni ini kurang efektif.
Jadi vaksin yang digunakan adalah konjugasi PRP
dengan berbagai komponen bakteri lain. Yang beredar
di Indonesia saat ini adalah vaksin konjugasi dengan
membran protein luar dari Neisseria menigitidis
(PRP-OPM) dan konjugasi dengan toksoid tetanus
(PRP-T),” jelasnya.

Pada suntikan pertama, vaksin Hib PRP-OPM dapat
menghasilkan level proteksi yang lebih cepat
dibandingkan dengan PRP-T. Namun secara keseluruhan,
setelah suntikan ke-3 maka vaksin Hib PRP-T dapat
menghasilkan level proteksi yang jauh lebih tinggi
Pemberian vaksin Hib saat ini telah direkomendasikan
WHO/PAHO dan GAVI. Untuk bayi usia 2-6 bulan
diberikan imunisasi Hib sebanyak 3 dosis dengan
interval satu bulan. Bayi berusia 7-12 bulan
diberikan vaksinasi Hib sebanyak 2 dosis dengan
interval waktu satu bulan. Sementara itu, anak
berumur 1-5 tahun cukup diberikan imunisasi Hib
sebanyak 1 dosis, dengan dosis ulangan pada umur 15
bulan. Mengingat Hib lebih sering menyerang bayi
kecil (26% terjadi pada bayi berumur 2-6 bulan dan 25%
pada bayi berumur 7-11 bulan), vaksin Hib sebaiknya
telah diberikan sejak usia 2 bulan. Vaksin Hib tidak
dianjurkan diberikan sebelum bayi berumur 2 bulan
karena bayi tsb. belum dapat membentuk antibodi.
Setelah pemberian vaksin, efek samping yang mungkin
timbul adalah demam, nyeri, atau bengkak pada tepat di
area bekas suntikan. Namun, ada produk vaksin yang
efek sampingnya dapat ditekan lebih rendah lagi.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Fransiscus, vaksin Hib
ini terbukti memiliki reaksi lokal yang rendah
sehingga mengurangi rasa tak nyaman pada anak.

Meski demikian, manfaat imunisasi masih jauh lebih
besar, mengingat sebagian penyakit masih belum ada
obatnya. Dalam hal ini, vaksin merupakan salah satu
bentuk obat yang paling aman, efektif, dan dapat
menurunkan biaya kesehatan.
Orang tua diharapkan lebih memahami berbagai jenis
imunisasi yang dibutuhkan oleh bayi karena pencegahan
lebih baik daripada mengobati. Orang tua juga berhak
menanyakan vaksin yang akan diberikan kepada bayinya,
termasuk efek samping akibatnya. Orang tua atau siapa
pun yang ingin mengetahui tentang vaksin dan
penyakitnya kini bisa mendapat akses lebih mudah
dengan membuka situs di http://www.worldwidevaccine.com.
Dengan memahami segala sesuatu sejak dini, niscaya
tingkat kesakitan dan kematian pada bayi akan bisa
berkurang secara signifikan.

Benarkah Imunisasi Justru Membuat Anak Sakit?

SUMBER : http://202.146.5.33/ver1/Kesehatan/0702/16/152102.htm

*Imunisasi bukanlah hal baru dalam dunia kesehatan di Indonesia, namun
tetap saja sampai kini banyak orangtua yang masih ragu-ragu dalam memutuskan
apakah anaknya akan diimunisasi atau tidak. *

Kebingungan tersebut sebenarnya cukup beralasan, banyak selentingan dan
mitos yang kontroversial beredar, mulai dari alergi, autis, hingga
kejang-kejang akibat diimunisasi. Namun, jika para orangtua mengetahui
informasi penting sebelum imunisasi, sebenarnya risiko-risiko tersebut bisa
dihindari. Apa saja yang perlu diketahui orangtua?

Banyaknya penyakit baru yang menular dan mematikan serta penyakit infeksi
masih menjadi masalah di Indonesia. Selain gaya hidup sehat dan menjaga
kebersihan, imunisasi merupakan cara untuk melindungi anak-anak dari bahaya
penyakit menular.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dr.Soedjatmiko, SpA(K), MSi, Ketua Divisi
Tumbuh Kembang Pediatrik Sosial, FKUI, RSCM. “Vaksinasi akan meningkatkan
kekebalan tubuh dan mencegah tertularnya penyakit tertentu,”katanya.

Di Indonesia, ada lima jenis imunisasi yang wajib diberikan pada anak-anak,
yakni BCG, polio, campak, DTP, dan hepatitis B. Menurut badan kesehatan
dunia (WHO), kelima jenis vaksin tersebut diwajibkan karena dampak dari
penyakit tersebut bisa menimbulkan kematian dan kecacatan. Selain yang
diwajibkan, ada pula jenis vaksin yang dianjurkan, misalnya Hib, Pneumokokus
(PCV), Influenza, MMR, Tifoid, Hepatitis A, dan Varisela.

*Harus Fit*

Sebelum anak diimunisasi, ada beberapa kondisi yang membuat imunisasi
sebaiknya ditunda, yakni saat anak sedang panas tinggi, sedang minum
prednison dosis tinggi, sedang mendapat obat steroid, dalam jangka waktu 3
bulan terakhir baru mendapat transfusi darah atau suntikan imunoglobulin.

Intinya si kecil harus dalam kondisi sehat sebelum diimunisasi agar
antibodinya bekerja. Imunisasi adalah pemberian virus, bakteri, atau bagian
dari bakteri ke dalam tubuh untuk membentuk antibodi (kekebalan). Jika anak
sakit dimasuki kuman atau virus lain dalam vaksin, maka kerja tubuh menjadi
berat dan kekebalannya tidak tinggi.

“Kalau hanya batuk pilek sedikit atau diare sedikit tidak apa-apa diberi
imunisasi, tapi jika bayi sangat rewel sebaiknya ditunda satu-dua
minggu,”papar Seodjatmiko. Soedjatmiko menyarankan agar orangtua
memberitahukan pada dokter atau petugas imunisasi jika vaksin terdahulu
memiliki efek samping, misalnya bengkak, panas tinggi atau kejang.

*Sesudah imunisasi*

Menurut Seodjatmiko, setiap vaksin memiliki reaksi berbeda-beda, tergantung
pada penyimpanan vaksin dan sensitivitas tiap anak. Berikut reaksi yang
mungkin timbul setelah anak diimunisasi dan bagaimana solusinya.

*BCG*
Setelah 4-6 minggu di tempat bekas suntikan akan timbul bisul kecil yang
akan pecah, bentuknya seperti koreng. Reaksi ini merupakan normal. Namun
jika koreng membesar dan timbul kelenjar pada ketiak atau lipatan paha,
sebaiknya anak segera dibawa kembali ke dokter. Untuk mengatasi
pembengkakan, kompres bekas suntikan dengan cairan antiseptik.

*DPT*
Reaksi lokal yang mungkin timbul adalah rasa nyeri, merah dan bengkak selama
satu-dua hari di bekas suntikan. Untuk mengatasinya beri kompres hangat.
Sedangkan reaksi umumnya antara lain demam dan agak rewel. Berikan si kecil
obat penurun panas dan banyak minum ASI.

Kini sudah ada vaksin DPT yang tidak menimbulkan reaksi apapun, baik lokal
maupun umum, yakni vaksin DtaP (*diphtheria, tetanus, acellullar pertussis*),
sayangnya hariga vaksin ini jauh lebih mahal dari vaksin DPT.

*Campak*
5-12 hari setelah anak mendapat imunisasi campak, biasanya anak akan demam
dan timbul bintik merah halus di kulit. Para ibu tidak perlu mengkhawatirkan
reaksi ini karena ini sangat normal dan akan hilang dengan sendirinya.

*MMR* (*Mumps, Morbilli, Rubella*)
Reaksi dari vaksin ini biasanya baru muncul tiga minggu kemudian, berupa
bengkak di kelenjar belakang telinga. Untuk mengatasinya, berikan anak obat
penghilang nyeri.

Orangtua yang membawa anaknya untuk diimunisasi dianjurkan untuk tidak
langsung pulang, melainkan menunggu selama 15 menit setelah anak
diimunisasi, sehingga jika timbul suatu reaksi bisa langsung ditangani.

Bagaimana jika orangtua lupa pada jadwal vaksinasi anak? Menurut Soedjatmiko
hal itu tidak menjadi masalah dan tidak perlu mengulang vaksin dari awal.
“Tidak ada itu istilah hangus. Sel-sel memori dalam tubuh mampu mengingat
dan akan merangsang kekebalan bila diberikan imunisasi berikutnya,” katanya.
Untuk mengejar ketinggalan, dokter biasanya akan memberi vaksin kombinasi.

Meskipun seorang anak sudah mendapatkan imunisasi secara lengkap, bukan
berarti ia tidak akan tertular penyakit, namun penyakitnya lebih ringan dan
tidak terlalu berbahaya. “Dampak dari penyakitnya lebih ringan, kemungkinan
meninggal, cacat dan lumpuh juga bisa dihindari,”kata dokter yang juga
menjadi Satgas Imunisasi PP IDAI ini.

Pilihan memang ada di tangan orangtua, tetapi bagaimanapun tugas orangtua
adalah untuk melindungi anaknya, dan imunisasi adalah cara yang penting
untuk mencegah si kecil dari serangan penyakit. Bukankah mencegah lebih baik
dari mengobati?
*Penulis*: AN