Posts filed under 'IMUNISASI'
HIB DAN ANCAMAN KEMATIAN BAYI
SUMBER : MILIST BALITA-ANDA
sumber : harian Pikiran Rakyat
Satrio Widianto (wartawan harian Pikiran Rakyat)
Kendati teknologi dan berbagai penemuan sudah demikian
banyak, penyakit-penyakit infeksi masih menjadi salah
satu penyebab kesakitan dan kematian pada bayi dan
balita. Upaya pencegahan telah dilakukan dengan cara
memperbaiki sanitasi, perbaikan gizi, dan kondisi
kehidupan masyarakat. Akan tetapi upaya ini ternyata
belum cukup.
Imunisasi masih menjadi tindakan pencegahan paling
efektif karena terbukti paling ampuh mencegah penyakit
infeksi. Imunisasi bagi bayi dan balita bukan saja
sangat menguntungkan secara individu, sebagai
pelindung dari penyakit, kecacatan, bahkan kematian.
Imunisasi juga bermanfaat bagi masyarakat secara luas
untuk mencegah penularan penyakit infeksi di antara
masyarakat, terutama bagi penyakit infeksi yang
ditularkan melalui kontak langsung dengan
penderitanya.
Melalui imunisasi, bayi dan balita akan menjadi kebal
terhadap penyakit infeksi tertentu. Sementara itu,
melalui program imunisasi massal, akan dicapai tujuan
akhir yaitu eradikasi penyakit dari suatu negara
bahkan dunia.
Penyakit yang berbahaya kadang-kadang pada awalnya
sulit diketahui karena tidak punya gejala spesifik
sehingga sangat sulit untuk mendeteksinya. Akibatnya
fatal jika tidk tertangani dengan segera dan tepat.
Hal ini tentu sangat mencemaskan, apalagi jika
penyakit tsb. menyerang balita yang belum dapat
mengungkapkan rasa tak enak pada tubuhnya.
Salah satu penyakit infeksi yang berbahaya dan tidak
memiliki gejala spesifik adalah penyakit Hib
(Haemophillus Influenzae tipe B). Ini bukanlah
penyakit sejenis influenza yang disebabkan oleh virus
influenza, tapi disebabkan oleh bakteri gram negatif,
yang bernama Haemophillus influenzae yang terbagi atas
jenis yang berkapsul dan tidak berkapsul.
Tipe yang tidak berkapsul umumnya tidak ganas dan
hanya menyebabkan infeksi ringan, sedangkan tipe yang
berkapsul terbagi atas 6 serotipe dari A sampai F. Di
antara jenis yang berkapsul, tipe B merupakan tipe
yang paling ganas dan 95% penyebab dari semua infeksi
akibat Haemophylus influenzae. Selain itu, tipe ini
juga menjadi salah satu penyebab tersering dari
kesakitan dan kematian pada bayi dan anak berumur
kurang dari 5 tahun.
Infeksi Haemophyllus influenzae tipe B atau lebih
dikenal sebagai Hib adalah infeksi yang paling sering
menyebabkan meningitis (radang selaput otak).
Penyakit lain akibat infeksi Hib adalah pneumonia
(radang paru) dan epiglotitis (radang tulang rawan
tenggorokan).
Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp.A. (K),
Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) mengakui, penyakit ini beresiko tinggi,
menimbulkan kematian pada bayi. Kalaupun sembuh,
meningitis Hib dapat menyebabkan gangguan pendengaran,
mental, dan otak.
Penyakit akibat Hib yang telah dikenal sejak 50 tahun
terakhir ini diketahui sebagai salah satu gangguan
kesehatan serta penyebab kesakitan dan kematian,
terutama bagi balita. anak-anak di bawah usia 5
tahun merupakan kelompok anak yang paling rentan
terinfeksi Hib, sedangkan usia yang paling beresiko
adalah antara 2 bulan hingga 18 bulan. Sekitar 5-10%
dari mereka yang terinfeksi akan meninggal. Infeksi
akut Hib juga menyerang bayi berusia di bawah 6 bulan,
dengan tingkat kematian mencapai 40%, kata Prof. Sri
Rezeki.
Di negara barat, Hib menyebabkan penyakit pada 20-200
per 100.000 penduduk. Perbedaan angka kejadian tsb.
disebabkan perbedaan teknis pemantauan, teknik
pengambilan materi pemeriksaan, teknis pemeriksaan
laboratorium, dan pola penggunaan antibiotik.
Beberapa laporan dari negara di Asia menunjukkan bahwa
Hib menjadi penyebab utama dan terbanyak yang
menimbulkan penyakit meningitis. Sementara itu, di
Indonesia, Hib menjadi penyebab 33% dari kasus
meningitis. Hasil riset lanjutan melaporkan bahwa Hib
merupakan 38% penyebab meningitis pada bayi dan anak
berumur kurang dari 5 tahun. Penyebabnya adalah
bakteri Hib yang ditularkan melalui udara dan kontak
langsung dengan penderita.
Meningitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dan bakteri, tapi lebih sering akibat infeksi bakteri
Hib. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak pada
usia lima tahun, diawali dengan gejala sakit
tenggorokan. Akan tetapi, gejala tsb. kemudian
membuat kondisi kesehatan pasien semakin parah
disertai dengan kaku leher, photofobia (takut melihat
cahaya), demam, sakit kepala akut, nyeri sendi,
muntah, mengantuk, gelisah, dan delirium (mengigau).
Pada beberapa pasien anak-anak, serangan meningitis
bisa datang secara mendadak dan beberapa jam setelah
muncul gejala, kemudian pasien meninggal.
Secara keseluruhan, tingkat kematian penyakit
meningitis akibat bakteri Hib mencapai sekitar 5%.
Meskipun dapat disembuhkan, sering pasien menderita
kecacatan, terutama gangguan pendengaran.
Selain itu, Haemophyllus influenzae juga menjadi
penyebab pneumonia atau radang paru. Penelitian
membuktikan bahwa pneumonia disebabkan oleh virus pada
25-75% kasus, sedangkan bakteri biasanya ditemukan
pada kasus yang berat. Kematian umumnya disebabkan
oleh infeksi bakteri.
Pada penderita pneumonia, kantung udara di dalam
paru-paru dipenuhi banyak cairan lain sehingga
mengganggu fungsi paru-paru. Akibatnya, oksigen sulit
mencapai aliran arah. Bila oksigen di dalam darah
sedikit, sel-sel tubuh tidak dapat bekerja dengan baik
sehingga bisa menimbulkan kematian.
Sebelum diperkenalkan vaksin, Hib merupakan bakteri
penyebab pneumonia dan diduga bertanggung jawab
terhadap 5-18% kejadian pneumonia. Radang paru atau
pneumonia lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang dengan prevalensi 5-15%. Anak-anak di
bawah 4 tahun termasuk kelompok paling rentan
menderita penyakit ini. Gejalanya demam,
menggigil/gemetar, napas pendek, batuk dan sakit dada.
Di negara maju, imunisasi telah menurunkan kejadian
infeksi Hib hingga lebih dari 95%, termasuk pneumonia.
Penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri Hib ini
adalah Epiglotitis, yaitu penyakit radang tulang rawan
tenggorokan akibat infeksi penutup tulang rawan
pangkal tenggorokan. Penyakit ini paling sering
terjadi pada anak-anak usia 2-4 tahun.
Penyakit ini dengan cepat menyerang tubuh, diawali
dengan sakit tenggorokan dan demam. Kemudian,
Epiglotis menjadi merah terang, bengkak dan sakit,
merusak/mengganggu jalan napas dan menyebabkan
penderitanya mengalami sulit bernapas dan menelan.
Anak jadi resah dan gelisah serta cenderung duduk
tegak dengan leher menengadah dan dagu menonjol
sebagai upaya untuk mengurangi gangguan jalan napas.
Pasien bisa meninggal dalam waktu beberapa jam
kemudian akibat mati lemas karena kekurangan napas
atau septisemia.
Sangat disayangkan, Hib tidak memiliki gejala yang
spesifik dan hanya dapat diketahui setelah terjadi
kerusakan pada selaput saluran pernapasan. Gejala
umum yang muncul adalah demam, rinitis, sakit
tenggorokan, batuk, lelah, nyeri otot dan kepala,
muntah dan diare. Haemophyllus influenzae hanya
ditemukan pada manusia. Penularan terjadi melalui
udara dan kontak langsung dengan penderita. Sebagian
besar orang yang mengalami infeksi tidak menjadi
sakit, tapi menjadi pembawa kuman (carrier) karena Hib
menetap di tenggorokan. Prevalensi carrier yang lebih
dari 3% menunjukkan angka cukup tinggi.
Penelitian pendahuluan di Lombok menunjukkan
prevalensi pembawa kuman sebesar 4,6%, suatu angka
yang cukup tinggi. Bila prevalensi pembawa kuman
cukup banyak, kemungkinan kejadian meningitis dan
pneumonia akibat Hib biasanya juga tinggi. Data yang
ada menunjukkan bahwa Hib memang merupakan penyebab
meningitis yang terbanyak.
Mengenai pengobatan yang perlu dilakukan, di masa lalu
pengobatan penyakit akibat infeksi Hib dengan
memberikan obat antibiotik sesegera mungkin untuk
menyelamatkan penderita. Akan tetapi, sekarang
pengobatan dengan antibiotik saja ternyata tidak cukup
ampuh, mengingat bakteri Hib dewasa ini sudah banyak
yang kebal terhadap pengobatan antibiotik. Di Amerika
diperkirakan 40$ bakteri Hib resisten terhadap obat
antibiotik ampisilin.
Kenyataan ini menyebabkan para ilmuwan kesehatan
kemudian memusatkan perhatian pada upaya pencegahan
penyakit Hib. Mereka akhirnya memutuskan bahwa
imunisasi Hib adalah satu-satunya cara paling praktis
dan efektif untuk mencegah terjadinya penyakit akibat
bakteri Hib.
Sekarang ini vaksin Hib umumnya sudah tersedia di
banyak negara, termasuk Indonesia. Bahkan, beberapa
negara di antaranya telah memasukkan vaksinasi Hib ke
dalam jadwal imunisasi wajib untuk bayi dan balitanya.
Di negara yang telah berkembang, imunisasi menurunkan
kejadian infeksi Hib hingga lebih dari 95%, termasuk
untuk kasus pneumonia. Pemberian vaksin Hib sedini
mungkin akan melindungi bayi dan balita dari terserang
penyakit meningitis atau radang selaput otak,
pneumonia dan epiglotitis.
Salah satu vaksin Hib yang diproduksi GlaxoSmithKline
(GSK) memuat komponen PRP-T (konjugasi
polyribosyl-ribitol phosphate dengan tetanus toxoid)
yang terbukti memberikan kekebalan tubuh yang paling
optimal dibandingkan dengan vaksin konjugasi Hib
dengan bakteri lainnya. Vaksin Hib ini dikenal dengan
nama Hiberix.
Vaksin Hiberix dapat digunakan sebagai vaksin
tersendiri atau dikombinasikan secara praktis dengan
vaksin lain seperti dengan vaksin Infanrix, yaitu
vaksin untuk penyakit-penyakit Difteri, Pertusis,
Tetanus (DPT) dengan efek samping seperti demam,
merah, dan bengkak di sekitar suntikan yang sangat
minimal, kata dr. Fransiscus Chandra, Direktur
Medikal GaxoSmithKline.
Memang awalnya, vaksin Hib terbuat dari kapsul
Polyribosyribitol phosphate (PRP), namun ternyata
vaksin yang terbuat dari PRP murni ini kurang efektif.
Jadi vaksin yang digunakan adalah konjugasi PRP
dengan berbagai komponen bakteri lain. Yang beredar
di Indonesia saat ini adalah vaksin konjugasi dengan
membran protein luar dari Neisseria menigitidis
(PRP-OPM) dan konjugasi dengan toksoid tetanus
(PRP-T), jelasnya.
Pada suntikan pertama, vaksin Hib PRP-OPM dapat
menghasilkan level proteksi yang lebih cepat
dibandingkan dengan PRP-T. Namun secara keseluruhan,
setelah suntikan ke-3 maka vaksin Hib PRP-T dapat
menghasilkan level proteksi yang jauh lebih tinggi
Pemberian vaksin Hib saat ini telah direkomendasikan
WHO/PAHO dan GAVI. Untuk bayi usia 2-6 bulan
diberikan imunisasi Hib sebanyak 3 dosis dengan
interval satu bulan. Bayi berusia 7-12 bulan
diberikan vaksinasi Hib sebanyak 2 dosis dengan
interval waktu satu bulan. Sementara itu, anak
berumur 1-5 tahun cukup diberikan imunisasi Hib
sebanyak 1 dosis, dengan dosis ulangan pada umur 15
bulan. Mengingat Hib lebih sering menyerang bayi
kecil (26% terjadi pada bayi berumur 2-6 bulan dan 25%
pada bayi berumur 7-11 bulan), vaksin Hib sebaiknya
telah diberikan sejak usia 2 bulan. Vaksin Hib tidak
dianjurkan diberikan sebelum bayi berumur 2 bulan
karena bayi tsb. belum dapat membentuk antibodi.
Setelah pemberian vaksin, efek samping yang mungkin
timbul adalah demam, nyeri, atau bengkak pada tepat di
area bekas suntikan. Namun, ada produk vaksin yang
efek sampingnya dapat ditekan lebih rendah lagi.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Fransiscus, vaksin Hib
ini terbukti memiliki reaksi lokal yang rendah
sehingga mengurangi rasa tak nyaman pada anak.
Meski demikian, manfaat imunisasi masih jauh lebih
besar, mengingat sebagian penyakit masih belum ada
obatnya. Dalam hal ini, vaksin merupakan salah satu
bentuk obat yang paling aman, efektif, dan dapat
menurunkan biaya kesehatan.
Orang tua diharapkan lebih memahami berbagai jenis
imunisasi yang dibutuhkan oleh bayi karena pencegahan
lebih baik daripada mengobati. Orang tua juga berhak
menanyakan vaksin yang akan diberikan kepada bayinya,
termasuk efek samping akibatnya. Orang tua atau siapa
pun yang ingin mengetahui tentang vaksin dan
penyakitnya kini bisa mendapat akses lebih mudah
dengan membuka situs di www.worldwidevaccine.com.
Dengan memahami segala sesuatu sejak dini, niscaya
tingkat kesakitan dan kematian pada bayi akan bisa
berkurang secara signifikan.
Add comment September 17, 2009
Benarkah Imunisasi Justru Membuat Anak Sakit?
SUMBER : http://202.146.5.33/ver1/Kesehatan/0702/16/152102.htm
*Imunisasi bukanlah hal baru dalam dunia kesehatan di Indonesia, namun
tetap saja sampai kini banyak orangtua yang masih ragu-ragu dalam memutuskan
apakah anaknya akan diimunisasi atau tidak. *
Kebingungan tersebut sebenarnya cukup beralasan, banyak selentingan dan
mitos yang kontroversial beredar, mulai dari alergi, autis, hingga
kejang-kejang akibat diimunisasi. Namun, jika para orangtua mengetahui
informasi penting sebelum imunisasi, sebenarnya risiko-risiko tersebut bisa
dihindari. Apa saja yang perlu diketahui orangtua?
Banyaknya penyakit baru yang menular dan mematikan serta penyakit infeksi
masih menjadi masalah di Indonesia. Selain gaya hidup sehat dan menjaga
kebersihan, imunisasi merupakan cara untuk melindungi anak-anak dari bahaya
penyakit menular.
Hal tersebut diungkapkan oleh Dr.Soedjatmiko, SpA(K), MSi, Ketua Divisi
Tumbuh Kembang Pediatrik Sosial, FKUI, RSCM. “Vaksinasi akan meningkatkan
kekebalan tubuh dan mencegah tertularnya penyakit tertentu,”katanya.
Di Indonesia, ada lima jenis imunisasi yang wajib diberikan pada anak-anak,
yakni BCG, polio, campak, DTP, dan hepatitis B. Menurut badan kesehatan
dunia (WHO), kelima jenis vaksin tersebut diwajibkan karena dampak dari
penyakit tersebut bisa menimbulkan kematian dan kecacatan. Selain yang
diwajibkan, ada pula jenis vaksin yang dianjurkan, misalnya Hib, Pneumokokus
(PCV), Influenza, MMR, Tifoid, Hepatitis A, dan Varisela.
*Harus Fit*
Sebelum anak diimunisasi, ada beberapa kondisi yang membuat imunisasi
sebaiknya ditunda, yakni saat anak sedang panas tinggi, sedang minum
prednison dosis tinggi, sedang mendapat obat steroid, dalam jangka waktu 3
bulan terakhir baru mendapat transfusi darah atau suntikan imunoglobulin.
Intinya si kecil harus dalam kondisi sehat sebelum diimunisasi agar
antibodinya bekerja. Imunisasi adalah pemberian virus, bakteri, atau bagian
dari bakteri ke dalam tubuh untuk membentuk antibodi (kekebalan). Jika anak
sakit dimasuki kuman atau virus lain dalam vaksin, maka kerja tubuh menjadi
berat dan kekebalannya tidak tinggi.
“Kalau hanya batuk pilek sedikit atau diare sedikit tidak apa-apa diberi
imunisasi, tapi jika bayi sangat rewel sebaiknya ditunda satu-dua
minggu,”papar Seodjatmiko. Soedjatmiko menyarankan agar orangtua
memberitahukan pada dokter atau petugas imunisasi jika vaksin terdahulu
memiliki efek samping, misalnya bengkak, panas tinggi atau kejang.
*Sesudah imunisasi*
Menurut Seodjatmiko, setiap vaksin memiliki reaksi berbeda-beda, tergantung
pada penyimpanan vaksin dan sensitivitas tiap anak. Berikut reaksi yang
mungkin timbul setelah anak diimunisasi dan bagaimana solusinya.
*BCG*
Setelah 4-6 minggu di tempat bekas suntikan akan timbul bisul kecil yang
akan pecah, bentuknya seperti koreng. Reaksi ini merupakan normal. Namun
jika koreng membesar dan timbul kelenjar pada ketiak atau lipatan paha,
sebaiknya anak segera dibawa kembali ke dokter. Untuk mengatasi
pembengkakan, kompres bekas suntikan dengan cairan antiseptik.
*DPT*
Reaksi lokal yang mungkin timbul adalah rasa nyeri, merah dan bengkak selama
satu-dua hari di bekas suntikan. Untuk mengatasinya beri kompres hangat.
Sedangkan reaksi umumnya antara lain demam dan agak rewel. Berikan si kecil
obat penurun panas dan banyak minum ASI.
Kini sudah ada vaksin DPT yang tidak menimbulkan reaksi apapun, baik lokal
maupun umum, yakni vaksin DtaP (*diphtheria, tetanus, acellullar pertussis*),
sayangnya hariga vaksin ini jauh lebih mahal dari vaksin DPT.
*Campak*
5-12 hari setelah anak mendapat imunisasi campak, biasanya anak akan demam
dan timbul bintik merah halus di kulit. Para ibu tidak perlu mengkhawatirkan
reaksi ini karena ini sangat normal dan akan hilang dengan sendirinya.
*MMR* (*Mumps, Morbilli, Rubella*)
Reaksi dari vaksin ini biasanya baru muncul tiga minggu kemudian, berupa
bengkak di kelenjar belakang telinga. Untuk mengatasinya, berikan anak obat
penghilang nyeri.
Orangtua yang membawa anaknya untuk diimunisasi dianjurkan untuk tidak
langsung pulang, melainkan menunggu selama 15 menit setelah anak
diimunisasi, sehingga jika timbul suatu reaksi bisa langsung ditangani.
Bagaimana jika orangtua lupa pada jadwal vaksinasi anak? Menurut Soedjatmiko
hal itu tidak menjadi masalah dan tidak perlu mengulang vaksin dari awal.
“Tidak ada itu istilah hangus. Sel-sel memori dalam tubuh mampu mengingat
dan akan merangsang kekebalan bila diberikan imunisasi berikutnya,” katanya.
Untuk mengejar ketinggalan, dokter biasanya akan memberi vaksin kombinasi.
Meskipun seorang anak sudah mendapatkan imunisasi secara lengkap, bukan
berarti ia tidak akan tertular penyakit, namun penyakitnya lebih ringan dan
tidak terlalu berbahaya. “Dampak dari penyakitnya lebih ringan, kemungkinan
meninggal, cacat dan lumpuh juga bisa dihindari,”kata dokter yang juga
menjadi Satgas Imunisasi PP IDAI ini.
Pilihan memang ada di tangan orangtua, tetapi bagaimanapun tugas orangtua
adalah untuk melindungi anaknya, dan imunisasi adalah cara yang penting
untuk mencegah si kecil dari serangan penyakit. Bukankah mencegah lebih baik
dari mengobati?
*Penulis*: AN
Add comment September 17, 2009
Whooping Cough and the DTaP Vaccine
SOURCE : http://children.webmd.com
Bordetella pertussis is a bacteria that can live in the human respiratory tract. Pertussis, or whooping cough, is spread through secretions from sneezes and coughs. Most pertussis infections are passed between family members and household contacts, such as babysitters. The infection can be prevented with DTaP vaccines given to babies at 2 months, 4 months, and 6 months old.
How contagious is whooping cough?
Whooping cough is highly contagious. If one person has the pertussis bacteria, each unvaccinated household contact has up to 90% chance of catching the infection as well.
How can someone catch whooping cough if they’ve already been vaccinated?
Unlike some vaccines, the pertussis vaccination may not provide lifelong immunity to the disease. Immunity may wane 5-10 years after the last childhood vaccine.
Can I carry the pertussis bacteria without knowing it?
Experts believe it’s rare or impossible to carry or transmit pertussis without any symptoms. However, if you’ve been immunized, your symptoms may be mild — but still infectious. Cold symptoms might occur at the beginning of the infection, and a cough will sooner or later be present.
If the vaccine wears off so quickly, why don’t more adults catch pertussis?
Hundreds of thousands of people do catch pertussis each year, but they don’t usually realize it. The pertussis vaccine reduces the severity of whooping cough, so most vaccinated teens and adults experience relatively mild symptoms.
How effective is the childhood pertussis vaccine, DTaP?
After the third dose — given at age 6 months — children have 80% to 85% immunity against pertussis. Protection lasts from three to five years. The DTaP shot also protects against tetanus and diphtheria.
Can I prevent whooping cough by hand washing and avoiding sick people?
Hand hygiene and covering coughs and sneezes may prevent some pertussis transmission. However, vaccination (in childhood and again in adolescence or adulthood) is considered the only effective means of prevention.
Who should get revaccinated against pertussis?
Current federal guidelines advise that everyone between ages 11 and 64 should receive the Tdap booster shot.
What is Tdap?
Tdap is a combined tetanus, diphtheria, and pertussis booster vaccination. The vaccine is given in a single shot after age 11 and before age 64.
How effective is the Tdap booster shot?
Tdap provides 90% renewed immunity against pertussis. This protection seems to last for at least five years. Tdap is also effective at preventing tetanus and diphtheria.
What are the risks of DTaP and Tdap?
The risks of DTaP, Tdap, and other common vaccines are very low. Soreness and inflammation at the injection site are most common. Some people may experience a short period of malaise or low-grade fevers. Allergic reactions to vaccines are extremely rare, but can be serious. The risks of tetanus, diphtheria, and pertussis are higher than the risks of reactions to the vaccines.
Add comment Juni 24, 2009
Q & A DPT 2
sumber : milist sehat
Dpt,Dpat, & alergi
Question : Selamat siang semua…dokter, saya mau nanya nih (spt biasa…),
1.. pertimbangan apa bagi kita utk memutuskan anak lebih baik menerima imunisasi DPaT dibanding DPT. selain pertimbangan ekonomi ya dok… krn toh katanya w/p pakai DPaT, belum tentu tidak demam khan ? kalo disuruh memilih, lebih baik yang mana ? Vilo 5 minggu lalu imunisasi DPT, badannya berangsur2 anget sampe 38 der, minum tempra, & nggak rewel dalam masa2 demam itu. klo yg pertama DPT, yg ke 2 DPaT, boleh nggak dok ?
2.. Lalu, tatalaksana penanganan demam u/ anak flu (colds), bisa diterapkan jg utk demam krn imunisasi dok ? kmrn pas DPT 1 itu, sempet panik & nelpon ruang perawatan bayi di Carolus, kata susternya, harusnya begitu selesai imunisasi langsung aja minumin tempranya, jd nggak usah nungguin demam….gimana dok ? sementara kata dr Aryono, 37.5 der, minum deh tempra nya.
3.. Vilo (5 bl 11 hr) sampai skrn msh ASI & Formula, niatnya mau sampe 6 bln, sblm masuk solid food. Sejauh ini dia nggak menampakkan gejala alergi makanan. Saya pun termasuk pemakan segala, alias nggak alergi thd makanan ttt, w/p wkt saya msh di bwh 10th, sempat alergi berat seafood. Jd, selama masa ASI ini, saya makan spt biasa & sll mengusahakan yg bergizi. Mnrt dokter & SP’s, apakah ada kemungkinan, bila tiba waktunya solid food nanti, Vilo bakalan alergi thd makanan ttt, misal thd seafood, w/p waktu masa menyusui 0-6 bln, saya mengkonsumsi ikan jg, dan tdk ada reaksi alergi pd Vilo.
Terimakasih banyak ya dok & SPsditunggu sharingnya.
Ira & Herry & Vilo
Answer 1 : Pak Herry,Saya coba bantu jawab ya
1. Pertimbangan efektivitas suatu vaksin dilihat dari kemampuannyamerangsang tubuh membentuk antibodi terhadap kuman ybs. Nah karena DPT,vaksin ini dibuat dengan memakai kuman pertusis yg utuh, kemampuanmenghasilkan antibodinya lebih tinggi dibanding dengan DPaT. Tapi, kadarantibodi yang dihasilkan keduanya sama-sama telah melampaui batas proteksiuntuk melawan kuman pertusis.
Kalo tidak pernah kejang demam, tidak ada efek samping sih gak apa pake DPT.Nah, kalo bapak mau yang pertama pake dpt, kedua pake DPaT yah boleh aja
2. Tatalaksana demam bisa dipakai untuk demam imunisasi.
3. Kala menurut saya, bisa saja dia alergi terhadap makanan.
salam,
shelly
—Answer 2 : Selamat siang semua…
1.. pertimbangan apa bagi kita utk memutuskan anak lebih baik menerima imunisasi DPaT dibanding DPT. selain pertimbangan ekonomi ya dok… krn toh katanya w/p pakai DPaT, belum tentu tidak demam khan ? kalo disuruh memilih, lebih baik yang mana ? Kalo menurut saya, apapun yang bpk pilih adalah yang terbaik buat Villo sebab kalo kita pilih DPT yang tidak demam tapi si anak mudah demam ya ga bisa ditekan si anak harus ga demam atau sebaliknya.Vilo 5 minggu lalu imunisasi DPT, badannya berangsur2 anget sampe 38 der, minum tempra, & nggak rewel dalam masa2 demam itu. klo yg pertama DPT, yg ke 2 DPaT, boleh nggak dok ? Boleh saja (cmiiw ya dok), pilih yang simultan ya pak.
2.. Lalu, tatalaksana penanganan demam u/ anak flu (colds), bisa diterapkan jg utk demam krn imunisasi dok ? sama saja, apalagi demam krn imunisasi itu normal dan ga berlangsung lama kokkmrn pas DPT 1 itu, sempet panik & nelpon ruang perawatan bayi di Carolus, kata susternya, harusnya begitu selesai imunisasi langsung aja minumin tempranya, jd nggak usah nungguin demam….gimana dok ? Saya juga pernah dpt anjuran demikian tapi saya tetap memberikan paracetamol ketika suhu si kecil diatas 38.5, ketika mulai rewel.Dulu setiap habis imun DPT si kecil demam dan ketika DPT ke3 suhu si kecil 39.3 dibanding DPT sebelumnya, saya hanya memberi paracetamol 1x ketka suhunya 38.5, selebihnya saya terus memperbanyak ASI, jus buah dan observe, saya buat catatan tersendiri di diary kesehatannya setiap 1jam, saya pantau aktifitasnya, pipis, minumnya, bobonya, kondisinya, dll. sehingga saya tahu kapan saya perlu waspada. Demamnya juga ga berlansung lama hanya 9jam setelah itu suhu si kecil normal kembali.sementara kata dr Aryono, 37.5 der, minum deh tempra nya.
3.. Vilo (5 bl 11 hr) sampai skrn msh ASI & Formula, niatnya mau sampe 6 bln, sblm masuk solid food. Sejauh ini dia nggak menampakkan gejala alergi makanan. Saya pun termasuk pemakan segala, alias nggak alergi thd makanan ttt, w/p wkt saya msh di bwh 10th, sempat alergi berat seafood. Jd, selama masa ASI ini, saya makan spt biasa & sll mengusahakan yg bergizi. Mnrt dokter & SP’s, apakah ada kemungkinan, bila tiba waktunya solid food nanti, Vilo bakalan alergi thd makanan ttt, misal thd seafood, w/p waktu masa menyusui 0-6 bln, saya mengkonsumsi ikan jg, dan tdk ada reaksi alergi pd Vilo.Memang jika dikeluarga ada yang alergi kemungkinan si anak menderita alergi bisa saja tapi observe aza artinya berikan menu makanan yang sehat, buat menu makanannya jangan dicampur jadi satu agar jika terjadi alergi bisa dideteksi si anak alerginya krn apa? alergi juga bisa timbul tidak hanya dari makanan, bisa dari yang lainnya seperti debu, aerosol, dll.
Semoga Villo sehat selalu ya.
Efi_Andra’s mom
Answer 3 : up. mbak iraaku mo sharing aja nich mbak,waktu kevin mau diimunisasi DPT, aku minta yg DPaT (yg ngak panas punya),soalnya waktu itu khan kevin masih kecil en aku takut dia nanti rewel klpanas, jadinya pake yg DPaT deh.setelah diimunisasi emang bener sich , ngak panas sama sekali. soalnyadsanya jg udah bil ngak bakal panas.aku pernah tanya sama dsanya, bagusan mana DPT dibanding DPaT. dia bilangsama aja. cuma bedanya kl DPaT ngak timbul panasnya aja jadinya bayi ngakrewel karena panas…en bedanya yach diharganya itu lho..he..he… mahalan yg DPaT.jadi menurut aku sich, tinggal pilih aja. soalnya sama aja sich nantinya.cuma beda di panas en harganya aja..
semoga membantu..
erlin st
Answer 4 : mbak…sewaktu Rafi akan imun DPT dsa menanyakan terlebih dahulu ke kami, apakah ada riwayat kejang2 di keluarga kami ? krn panas dapat menyebabkan kejang2..apabila tdk ada..maka DPT pun tdk apa2..dan diberikan tempra terlebih dahulu oleh dsa baru DPT. Kami pun memilih yg DPT krn tdk ada riwayat kejang2..
alhamdulillah..Rafi baik2 saja..tdk sampai panas..
Hmmm selisih harganya juga berbeda jauhhhhh…(ttp uang bkn masalah utk anak kita kan ? krn ortu kita jg sll bilang..uang bisa dicari..kesehatan yg penting..)
Lia Muliawaty
Answer 5 : Pak Herry & mbak Ira,Saya mau coba sharing pengalaman pribadi aja nih :
1. Waktu itu saya pilih imunisasi untuk Irdin ( minggu depan 6 bulan ), yg DPaT, alasannya adalah : karena memang saya kasihan aja membayangkan kalau irdin nantinya demam karena imunisasi, dan alhamdulillah dengan yg DPaT irdin tidak panas / tidak hangat badannya jadi tetap lincah ,
2. Nah waktu Jadwal DPT 3, kebetulan saya ambil yg gabungan dengan Hib, badannya agak hangat ( saya tidak tahu apakah DPT nya yg bikin hangat, atau HIB nya ), tapi saya tidak langsung berikan tempra, saya monitor terus panas tubuhnya , dan saya suply air putih yg banyak ke tubuhnya,alhamdulillah panasnya hanya mencapai 37.2 Irdin masih tetap lincah jadi tempranya tidak saya berikan.
3. Ketika usia 4 bulan saya coba berikan irdin makan pertama biskuit beras merah ( yg di cairkan dengan susu ), tapi baru sekali makan besoknya di sekitar punggung dan pantatnya ( maaf ), banyak timbul bruntusan seperti biang keringat ( wajah dan badannya tidak sama sekali ), saya ambil kesimpulan aja sendiri bahwa ternyata anak saya alergi terhadap produk tsb., saya hentikan dan 2 hari kemudian bruntusannya hilang sendiri tanpa di obati.
Sekian aja pak semoga dapat membantu.
Salam,
Selvi
Add comment April 28, 2009
Q & A Suntik DPT
Sumber : milist sehat
17/12/2004
Q: Anak saya sekarang berumur 4 bln. November suntik DPT yg 1, suntik yang tidak demam. Tgl 4 des’ ini akan suntik DPT yang ke-2, kami akan coba suntik yang demam karena kami pikir biar badan anak kami bisa mengenal demam.
Apakah suntik DPT yg tidak demam akan menimbulkan masalah di kemudian hari? Karena efek dari obat yg disuntikan.
Bila suntik DPT yg ke 3 tidak demam lagi bagaimana ?Bagusnya suntik yang mana ?
Nia Hapsari
A : Dear NiaThanks buat emailnyaDPT mamang ada dua macam yaitu DPT yang konvensional (difteri, pertusis dan tetanus). Sejaka 3 tahun terajhir ini tersedia pula DaPT dimana pertusis nya atau batuk rejan/batuk 100 hari… sudah diubah …sehingga vaksin DaPT ini tdk menimbulkan demam … Di lain pihak… karena sudah diubah kompisisnya saat dibuat sebagai vaksin .. maka kemampuannya untuk merangsang tubuh kita dalam memprodsi antibodi … lebih kecil ketimbang DPT … Sebelum ada DaPT… semua anak juga dapatnya DPT … kalau anakmu tidak pernah kejang demam… tidak ada salahnya memakai DPT … kalaupun nantinya demam… berikan saja parasetamol Ok selamat mengimunisasikan anakmuBTW … kok kamu tidak bercerita perihal imunisasi HiB nya? Sudah kan? Biar tidak meningitis lho anakmu
wati
Add comment April 28, 2009
Q & A Imunisasi pheumococcal
Question : Dear Dr Wati and SP
Apa kegunaan imunisasi pheumococcal itu dan ada tdkya efek smapingannya ? perlu tdk untuk anak usia2.6thn and 4 thn . DSA nya anak sy bilang itu bagustetapi karena kita tinggal di Asia hanya perlu 1x imunisasinya apa betul ya ? . dI TUNGGU sarannya and informasinya Terima kasih
Salam Ratny
Answer 1 : dear Mbak Ratny,
vaksin pneumococcal adalah vaksin utk mencegah infeksikarena bakteri pneumococcal, antara lain infeksitelinga atau sinusitis, tp kedua penyakit tsb punjarang yang diakibatkan oleh bakteri, kebanyakan oleh virus.berikut jawaban dr. Wati mengenai pertanyaan tsb(posting bln nov 04) :
vaksin pneumococcal tdk ada di indonesia .. tapi kanear inf krnpneumococcal lbh jarang ketimbang akibat virus..
wati
Dan utk info ttg vaksin tsb, berikut dari mayoclinic
neumococcal vaccine: When is it appropriate for olderchildren?
Q: A pediatrician recommended the pneumococcal vaccinefor our preschooler. I thought this was only given toinfants. Is it safe for older children?
A: The pneumococcal vaccine helps prevent pneumococcalinfection. Pneumococcal bacteria cause many illnessesin children younger than 5 years, including:
Bacterial meningitis
Blood infection (sepsis)
Bacterial pneumonia
Ear infections
Sinusitis
Pink eye (bacterial conjunctivitis)
The Centers for Disease Control and Preventionrecommends the vaccine for all children younger than 2years. This age group is at the greatest risk ofserious complications, including death, frompneumococcal disease. But the vaccine is alsorecommended for older children who are at increasedrisk of pneumococcal disease, such as due to:
Chronic lung conditions, such as asthma
Sickle cell disease
HIV infection
Chronic heart conditions
Immune system disorders
The potential risks of the pneumococcal vaccine aresimilar to those associated with other antibacterialvaccines – primarily brief, mild reactions, such asswelling and redness at the site of injection and mildfever. Rarely, a severe adverse reaction may occur.Children who have had a severe reaction after a doseof pneumococcal vaccine shouldn’t receive subsequentdoses of the vaccine.By Mayo Clinic staff AN00170 September 17, 2004semoga menjawab ya….
elfrida
Add comment November 26, 2008
Rangkuman Imunisasi IPD
sumber : milist sehat
Karena adanya informasi penting, rangkuman ini saya revisi.
Apa gunanya vaksinasi IPD?
Acute lower respiratory infections are responsible for two million deaths
per year and a large proportion of these are pneumococcal disease. A recent
study (Cutts F. et al., The Lancet 2005) in The Gambia indicates that more
than one third of these deaths might be caused by the bacterium
Streptococcus pneumoniae. Most victims are children in developing countries.
Pneumonia deaths far outnumber deaths from meningitis. Nonetheless, in
non-epidemic situations, Streptococcus pneumoniae is the main cause of
meningitis fatalities in sub-Saharan Africa; of those who develop
pneumococcal meningitis, 40-75 % either die or are permanently disabled.
Children infected with HIV/AIDS are 20-40 times more likely to contract
pneumococcal disease than children without HIV/AIDS.
A seven-valent conjugate vaccine called Prevnar is designed to act against
seven strains of pneumococcal disease. It has been developed by Wyeth and is
licensed in the United States and several other countries. In the United
States, use of this vaccine has led to a dramatic decline in rates of
pneumococcal disease, not only in immunized children, but also in the
un-immunized population through reduced transmission.
(lagi…)
1 comment November 26, 2008
Q & A Imunisasi ppi
sumber : www.sehatgroup.web.id/milist sehat
22/03/2005
Q : Dear Doctor,Anak saya saat ini berumur 2 tahun, karena kesulitan ekonomi yang kami hadapi, sampai saat ini belum mendapatkan imunisasi PPI (i.e. HIB, MMR). Apakah imunisasi tersebut masih bisa diberikan sekarang dan apakah ada efek samping karena pemberiannya terlambat?
Terima kasih.
Agung
A : Dear AgungThanks ya atas emailnyaKamu benar … Program Imunisasi di indonesia terbagi duaPPI dan Non PPIPPI adalah program imunisasi pemerintah sehingga vaksinnya disubsidi pemerintah dan harganya murah amat murah Vaksin non PPI yang dianjurkan bisa kamu lihat di web IDAI Rekomendasi kebijakan imunisasi non PPI sehubungan dengan pola penyakit infeksi di Indonesia. Ada beberapa vaksin Non PPI seperti HiB, MMR, Tifus, dan Hep A Kalau keuanganmu terbatas … MMR dan tifus serta HibMengingat pola penyakitnyaMMR kan untuk melindungi anakmu terhadap campak, rubela (campak jerman) dan gondongan (mumps)HiB untuk melindungi terhadap komplikasi kuman HiB (komplikasinya meningitis dan penumonia)Tifus, penularannya kan melalui makanan dan minuman yang tercemar … biasanya kalau anak suka jajan atau di rumah ada pengidap … Dan di Indoneisa. kalau anak demam … sering di label sebagai gejala tifus … yang sebetulnya keliru … di lain pihak, kalau anakmu sudah diimunisasi kan kamu bisa menyatakan ke dokternya bahwa anakmu bukan gejala tifus. Ok, semoga jawaban saya sedikit memperjelasBagaimanapun, mencegah senantiasa lebih baik ketimbang mengobati
wati
Add comment Oktober 23, 2008
Q & A Imunisasi infantrik & tripacel
sumber : www.sehatgroup.web.id/milist sehat
Question
ear all,
Waktu anak saya pertama kali imunisasi DPT, dsa menawarkan imunisasi DPT “infantrik”, imunisasi ini ngga bikin anak jadi demam. Saya pernah dengar ada juga imunisasi yang ngga bikin anak jadi demam juga namanya”Tripacel”, sebesanrnya apa sih Perbedaan imunisasi ini ?lidya nofita
Answer 1 : Dear Mbak Lidia,
Coba bantu ya.Infanrix & Tripacel tuh sama2 vaksin yg acellular (DPaT) tapi bedaprodusen aja mbak. Kalau Infanrix buatan Glaxo Smith Kline. SedangkanTripacel buatan Aventis Pasteur.
Semoga terjawab ya.
Lulu
Add comment Oktober 23, 2008
Q & A Imunisasi gabungan pada bayi 4 bln
sumber : www.sehatgroup.wen.id/milist sehat
Question : Dok & Sp’s..Bisa ga ya… kasih imunisasi HiB 1 digabung ma HiB 2 di usia 4 bulan…? orlangsung aja HiB 2..? Naufal (4 bln) rencana mau ku imunisasi HiB 2 tp HiB 1belum dapet, ga tahu ni…. kemaren pas imunisasi sebelumnya (umur 2bln)dsa-nya ga nganjurin dan saya-nya juga belum kenal milis ini (he…he…)
salam,widi
Answer 1 :kayaknya nggak bisa mbak,khan naufal masih 4 bln ya, berarti kasih Hib 1 dulu ,nanti selang 8 minggu hib 2, 8 mingu lagi hib 3 dansetahun kemudian hib 4.Selang 8 minggu itu yang paling ideal, karena naufalagak telat bisa catch up, artinya selangnya diperkeciljadi 4-6 minggu, nggak masalah.
heni
Answer 2 : setelah 6 bulan pemberian hib cukup 2 kali dengan jarak 4 – 8 minggu. laluhib3nya 1 tahun dari yg ke2
rifa
Add comment Oktober 23, 2008
Q & A Imunisasi gabungan HIB dan Hepatitis B
sumber : www.sehatgroup.web.id/milist sehat
Question : mau nanya juga dong,
insya alloh bulan besok alief ( 18 bln ) akan imunisasi HIB dan Hep Bulanganapa efeknya kalo kedua imunisasi itu dilakukan dalam waktu bersamaan ?
mohon tanggapannya, soalnya ibukke alief masih ragu-ragu … maunya dia HIBdulu terus bulan depannya baru Heb B.
trimakasih sebelumnyabapakke alief
Answer 1 : pak 18 bulan hepnya yg ke 3 apa ulangannya?saya liat di jadwalnya aap untuk ulangan itu usia 24 bulanhib dan hep aman dilakukan bersamaan, biasanya simultan,2 suntikan (cmiiw).say sudah coba dengan faiz waktu 6 bulan (hep3 dan hib2) dan gak ada gejala2panas dll.18 bulan bukannya dpt/polio 4?gimana dengan mmr dan cacar air? apakah sudah?
rifa
Answer 2 : efeknya kalau suntiknya simultan atau berbarengan 1. bayar dokternya cuma 1 kali kunjungan2. disuntiknya 2 kali, 1 di kanan 1 dikiri3. rasa sakit jd dua kali krn dua kali masuk suntik dalam perbedaan waktu bbrp detik saja4. anak akan nangis kesakitan tapi bulan depan ga perlu ketemu dokternya lagi kalau imunisasi lain udah selesai, wah anak bisa senewen kan anak daya ingatnya tinggi, baru sampai tempat parkir aja dia udah tau ini tempat dimana dia akan disuntik
efeknya kalau suntikan dipisah atau dalam 2 tanggal yang berbeda1. bayar dokternya 2 kali kunjungan2. disuntiknya 2 kali juga tapi di tanggal dan waktu yg berbeda3. rasa sakit 2 kali juga tapi di waktu yg berbeda4. ortu harus sediain waktu berkunjung ke dokter 2 tanggal kalau perlu cuti jadi ngajuin 2 kali cuti kekantor utk keperluan imunisasi5. anak akan semakin hapal ama dokternya krn sebulan lalu disuntik pasti bulan ini disuntik lagi
gitu pak…
Ade novita
Answer 3 : untuk hep b sepertinya yg ulangan bu,bulan ini sudah dapat dpt/polio 4alhamdulillah mmr juga sudahkalo cacar katanya usia 2thnan
bulan ini maunya saya, dpt/hib sekalian polio, tapi DSAnya maunya HIB bulandepan aja bareng Heb B, karena yg boleh masuk ke ruang dr cuman istri yangikut aja …
)
trimakasih untuk tanggapannyabappake alief
Answer 4 : ups….. baru saya perhatikan lagi yg diaap 24 month dst itu catch up, jdhep gak ada ulangan ya (cmiiw)jd kayaknya yg dimaksud adalah hep3 ya pak?
thxrifa
Add comment Oktober 23, 2008










