Salah Kaprah Gizi Anak

sumber : http://www.lucianasutanto.com/index.php?option=com_content&task=view&id=56&Itemid=53

Pemahaman orang bisa berbeda-beda. Yang sudah dianggap “benar” pun ternyata belum tentu benar.

Anak gemuk berarti sehat

Sering terjadi ibu-ibu yang masuk ke kamar praktik Dr. Luciana B. Sutanto MS. SpGK. mengeluh, “Dok, anak saya tidak mau makan.” Padahal, anaknya sudah tampak bulat. Menurut Dr. Luciana, masih banyak kaum ibu yang paling suka kalau anaknya gemuk. Gemuk atau kurus memang dapat bersifat subyektif sehingga yang aman adalah taat mengikuti petunjuk pola peningkatan tinggi dan berat badan. Anak kegemukan bisa berakibat macam-macam. ia tidak akan lincah bergerak. Barangkali ia juga akan diolok-olok kawannya. Lagi pula anak gemuk cenderung lebih sering berkeringat yang akan mengakibatkan tumbuh jamur pada lipatan-lipatan di tubuhnya. Yang paling aman adalah orang tua belajar memberikan gizi yang baik kepada anak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan makannya.

Susu murni itu menyehatkan

Sebetulnya yang dimaksud di sini adalah susu sapi murni. Tentu saja baik untuk bayi sapi tapi tidak untuk bayi manusia. Susu sapi kandungan kalorinya tinggi supaya anak sapi lekas tumbuh besar. Komponennya berbeda dari ASI. Susu sapi lebih sulit diserap oleh bayi manusia sehingga dapat menyebabkan diare. Beda dengan susu sapi yang sudah dikemas dan beredar dipasaran, biasanya sudah dimodifikasi agar makin menyerupai susu ASI. Jadi tidak tepat kalau dikatakan susu sapi murni itu pasti akan baik bagi bayi. Kalau diberikan kepada bayi, akibat terburuk yang dapat terjadi adalah bayi bisa terkena alergi, kegemukan, atau ya itu tadi, diare.

Telur itu bergizi, jadi anak harus banyak makan telur
Dr. Luciana menceritakan, ada ibu yang datang ke kamar praktiknya membanggakan bahwa anaknya demikian menyukai telur sampai bisa menghabiskan 10 butir dalam sehari. Telur itu sumber protein yang mendekati sempurna namun tidak berarti kita harus mengasupnya banyak-banyak. Soalnya, dalam sebutir telur yang besar kandungan 95 kalori, 10 g protein dan 6 g lemak. Pertimbangkan dulu kebutuhan gizi anak yang tergantung pada usia dan aktivitasnya. Kalau dalam sehari sampai mengonsumsi 10 butir, kalori dari telur saja sudah 950 kalori. Belum dari sumber makanan yang lain. Seyogyanya makanan untuk anak dipilihkan yang bergizi seimbang dari pelbagai sumber bahan makanan.
Dr. Luciana yang berbicara dalam acara talkshow “Sehat Bersama Menu Sehat” di Radio Sonora FM 92,0 Jakarta 2 maret 2007 itu menitip pesan: berikan ASI ekskulsif selama 6 bulan, ikuti dengan sabar perkembangan kemampuan makan anak dan bekali diri dengan pengetahuan gizi yang baik. Niscaya anak-anak anda akan tumbuh sehat dan cerdas.

(Menu Sehat Edisi 6/111/07)

Ibu dan Anak Sehat berkat Vitamin A

sumber : Gizi.net

Jumat, 17 September, 2004 oleh: Siswono
Gizi.net – Selama krisis ekonomi melanda Indonesia, insiden kurang
vitamin A (KVA) pada ibu dan balita di daerah miskin perkotaan
meningkat. Beberapa data menunjukkan hampir 10 juta balita menderita
KVA sub klinis, 60.000 di antaranya disertai dengan bercak bitot yang
terancam buta. Selain itu, di beberapa provinsi di Indonesia,
ditemukan kasus-kasus baru KVA yang terjadi pada balita bergizi buruk.

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), misalnya, pada tahun 2000
ditemukan beberapa kasus kekurangan vitamin A tingkat berat (X3).
Kondisi ini berbeda dengan Survei Nasional Xeroftalmia tahun 1978-
1980 yang tidak banyak menemukan kasus tersebut. Terlebih lagi pada
1994 Pemerintah Indonesia memperoleh piagam Helen Keller Award karena
dinilai berhasil menurunkan angka xeroftalmia dari 1,34 persen atau
sekitar tiga kali lebih tinggi dari ambang batas yang ditetapkan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1978 menjadi 0,33 persen
pada tahun 1992.

Sebagai kilas balik, dalam kurun waktu 1964-1965 dan pada tahun 1970-
an, Indonesia pernah dijuluki sebagai “home of xerophthalmia” karena
insiden xeroftalmia pada balita yang cukup tinggi. Menurut ahli gizi
Prof Dr Muhilal, saat itu dari 1.574 anak laki-laki berusia kurang
dari 8 tahun yang mengunjungi Rumah Sakit Undaan Surabaya, 497 anak
diantaranya (31,6 persen) menderita xeroftalmia. Di samping itu,
penelitian di lima desa di Kabupaten Semarang oleh Oey menemukan
insiden xeroftalmia berkisar 1,4 sampai 7,3 persen.

Xeroftalmia adalah suatu keadaan selaput ikat mata yang kering karena
kekurangan vitamin A, terkadang sampai jaringan selaput bening pada
mata rusak. Penyakit ini oleh Oey disebutkan sebagai penyebab utama
kebutaan pada anak-anak terutama pada anak prasekolah. Xeroftalmia
hanya salah satu dari wujud KVA. Ada konsekuensi lain yang terjadi
pada orang yang KVA, seperti buta senja (hemarofia), sel epitel
conjuctiva yang abnormal, tingginya kesakitan terutama diare dan
ISPA, tingginya kematian pada balita, rendahnya respons imun tubuh
dan pertumbuhan terganggu.

Hubungan antara vitamin A dan mortalitas anak balita sudah diteliti
di Aceh oleh Sommer dan kawan-kawan, yang dipublikasi “Lancet” pada
1986. Di situ diungkapkan bahwa pemberian vitamin A dosis tinggi
200.000 International unit (IU) setiap 6 bulan dapat menurunkan angka
kematian anak balita sekitar 36 persen. Penelitian tentang pemberian
vitamin A yang difortifikasi pada monosodium glutamat (MSG), kata
Muhilal, menunjukkan penurunan angka kematian balita sebesar 45
persen.

“Dua penelitian itu mengungkapkan bahwa penurunan angka kematian
balita karena intervensi vitamin A dapat dilakukan melalui dosis
tinggi setiap enam bulan maupun dosis rendah yang diberikan setiap
hari,” kata Muhilal.

Lalu, ada pula penelitian tentang pengaruh vitamin A terhadap sistem
imunitas tubuh yang dilakukan oleh Pulitbang Gizi, Rumah Sakit Mata
Cicendo Bandung, dan John Hopkins University. Pada penelitian ini
penderita xeroftalmia dan yang bukan penderita dibagi dalam dua
kelompok dan satu kelompok diberi vitamin A dosis tinggi, sedangkan
kelompok yang lain diberi placebo. Hasilnya, pemberian vitamin A
dosis 100.000 IU pada bayi berusia 6 bulan dapat mengurangi respons
imun terhadap campak bila bayi masih mempunyai imunitas maternal
(kekebalan yang diperoleh dari ibu). Karena itu dianjurkan memberi
vitamin A dosis 100.000 IU pada usia 8-9 bulan di mana imunitas
maternal terhadap campak sudah sangat kecil.

Kesehatan Ibu

Sekalipun manfaat pemberian vitamin A sangat besar untuk kesehatan
anak, tidak semua pihak memberi perhatian yang cukup. Misalnya di
Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengelola Program Gizi Dinas
Kesehatan Kota Kupang I Gusti Agung Ngurah Suarnawa SKM, menuturkan
untuk tahun 2004, belum ada bantuan dari donor internasional semacam
HKI maupun Unicef dalam pengadaan kapsul vitamin A. Pihak Dinas
Kesehatan Kota Kupang sudah mengusulkan 6.000 kapsul vitamin A ke
pemerintah kota tetapi belum disetujui karena pemerintah kota untuk
tahun 2004 tidak mengalokasikan dana untuk hal itu.

Program vitamin A di kota itu mengandalkan bantuan dari Helen Keller
Indonesia (HKI) dan Unicef. Kapsul vitamin A yang diperoleh dari
kedua lembaga itu didistribusikan secara gratis pada bulan Februari
dan Agustus. Kapsul vitamin A yang dibagikan di puskesmas dan
posyandu terdiri dari kapsul vitamin A berwarna biru dengan dosis
100.000 IU dan kapsul berwarna merah dengan dosis 200.000 IU. Pada
bulan itu juga dilakukan penyuluhan makanan bergizi kaya vitamin A
melalui radio dan penyuluhan keliling. Sasaran program, kata Gusti
Agung, adalah balita, bayi, ibu nifas. Kapsul berwarna merah untuk
balita dan ibu nifas, sedangkan kapsul berwarna biru untuk anak
berusia 6-11 bulan.

“Di Kupang belum ditemukan penderita xeroftalmia, karena memang tidak
ada surveilan. Surveilan hanya dilakukan pada penyakit malaria dan
diare. Cakupan kapsul vitamin A di Kota Kupang belum 100 persen
menjangkau balita, pada bulan Februari tahun 2003 saja cakupan
vitamin A 86,2 persen dan bulan Agustus cakupannya 83,6 persen,” ujar
Gusti Agung.

Vitamin A tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan anak saja. Vitamin A
juga berperan penting untuk kesehatan ibu yang baru melahirkan. Pada
ibu hamil dan menyusui vitamin A berperan penting. Karena, hal ini
terkait erat dengan kejadian anemia pada ibu, berat badan kurang,
kurang gizi, meningkatnya risiko infeksi dan penyakit reproduksi.
Serta, menurunkan kelangsungan hidup ibu sampai dua tahun setelah
melahirkan. Angka kecukupan gizi vitamin A di Indonesia untuk ibu
hamil menurut Buletin Kesehatan & Gizi edisi 1 Juni 2004 yang
diterbitkan HKI, adalah 500 retinol equivalent (RE) per hari.

Jumlah ini meningkat menjadi 700 RE per hari pada ibu hamil dan 850
RE pada saat si ibu menyusui. Berdasarkan data terbaru NSS, median
asupan vitamin A untuk ibu di Indonesia hanya 150 RE untuk ibu yang
berada di daerah kumuh perkotaan dan hanya 200 RE untuk ibu yang
tinggal di pedesaan. Dengan menghitung rata-rata masa menyusui 18-20
bulan untuk setiap anak dan tingkat fertilitas saat ini, diperkirakan
seorang ibu akan membutuhkan vitamin A yang tinggi pada 1/3 kurun
waktu masa usia subur. Hal ini terkait dengan air susu ibu (ASI),
yang merupakan sumber vitamin A yang terbaik untuk bayi. Oleh karena
itu, sangatlah penting bagi seorang ibu untuk meningkatkan asupan
makanan yang mengandung vitamin A agar kandungan vitamin itu pada ASI
meningkat.

PEMBARUAN/NANCY NAINGGOLAN

Panduan Kecukupan Gizi Harian Anak-anak

sumber : beingmom.org

Bagaimana saya tahu anak saya gizinya cukup?
Hal terbaik yang bisa anda lakukan adalah memberikannya makanan yang mencakup kelima kelompok makanan (biji-bijian, buah-buahan, sayuran, susu serta daging dan kacang-kacangan) setiap kali waktu makan. Mungkin anda tidak bisa memberikan jumlah sebagaimana direkomendasikan, namun jika anda dapat menyediakan bermacam-macam jenis makanan sehat, anak ada tetap akan mendapat apa yang ia butuhkan dalam periode yang lebih panjang, misalnya satu atau dua minggu.

Berapa besar porsi anak-anak?
Berdasarkan panduan makanan berdasarkan kebutuhan kalori untuk setiap kelompok usia yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian Amerika (USDA), anak usia 2 sampai 3 tahun direkomendasikan untuk mengkonsumsi 1000-1400 kalori tergantung pada tingkat kegiatannya. Untuk usia 4 tahun, kalori yang dibutuhkan meningkat menjadi 1200 sampai 2000 kalori per hari.
Di bawah ini adalah contoh berapa banyak anak-anak bisa memperoleh nutrisinya dari kelima kelompok makanan.

Biji-bijian (grains)
Biji-bijian mengandung serat yang bisa membantu pencernaan serta karbohidrat kompleks yang memberikan energi. Selain itu, grains juga merupakan sumber vitamin B yang baik.

Contoh Kebutuhan Harian Grain
Anak aktif usia 2-3 tahun
Roti 5 potong
Biskuit whole wheat 25 buah
Nasi atau pasta rebus 2 ½ mangkuk
Oatmeal yang sudah dimasak 2 ½ mangkuk

Anak aktif usia 4 tahun
Roti 6 potong
Biskuit whole wheat 30 buah
Nasi atau pasta rebus 3 mangkuk
Oatmeal yang sudah dimasak 3 mangkuk

Sayur-sayuran
Sayuran memberikan serat, vitamin C, A dan potassium. Selain itu, sebagian besar sayur merupakan antioksidan yang membantu menurukan resiko kanker dan penyakit jantung dalam usia dewasa. Contohnya :

Contoh Kebutuhan Harian Sayuran
Anak aktif usia 2-3 tahun
Brokoli yg sudah dimasak 1 ½ mangkuk
Saus tomat murni 1 ½ mangkuk

Anak aktif usia 4 tahun
Brokoli yg sudah dimasak 2 ½ mangkuk
Saus tomat murni 2 ½ mangkuk

Buah-buahan
Buah-buahan juga merupakan sumber serat, vitamin C dan A serta potassium. Selain itu, sebagian besar sayur merupakan antioksidan yang membantu menurukan resiko kanker dan penyakit jantung dalam usia dewasa

Contoh Kebutuhan Harian Buah
Anak usia 2-3 tahun yang aktif
Blueberri segar 1 ½ mangkuk
Jus jeruk murni 1 ½ mangkuk
Pisang yang besar 1 buah

Anak usia 4 tahun yang aktif
Blueberri segar 2 mangkuk
Jus jeruk murni 2 mangkuk
Pisang yang besar 2 buah

Susu (Kalsium)
Sebagian besar produk susu merupakan sumber kalsium yang baik, yang mendukung kuatnya tulang dan gigi. Produk susu juga merupakan sumber protein yang baik jika anak anda tidak suka makan daging.

Contoh Kebutuhan Harian Susu (Kalsium)
Anak aktif usia 2-3 tahun
Susu 2 gelas
Yogurt 2 gelas
Keju yg belum diproses 4 lembar
Pudding 2 mangkuk

Anak aktif usia 4 tahun
Susu 3 gelas
Yogurt 3 gelas
Keju yg belum diproses 6 lembar
Pudding 3 mangkuk

Daging dan Kacang-kacangan
Kategori ini termasuk semua jenis makan yang merupakan sumber protein, termasuk daging dan kacang-kacangan, serta ikan dan telur. Jenis makana ini memberikan zat besi, seng dan beberapa jenis vitamin B.

Contoh Kebutuhan Harian Daging dan Kacang-kacangan Anak aktif usia 2-3 tahun
Telur 4 buah
Selai kacang 4 sendok makan
Daging 12 potong
Kacang yang sudah dimasak 1 mangkuk

Anak aktif usia 4 tahun
Telur 5 ½ buah
Selai kacang 5 ½ sendok makan
Daging 16 potong
Kacang yang sudah dimasak 4 ¾ mangkuk

Lemak dan gula (permen)
Sama seperti orang dewasa, hanya maksimum 35 persen kalori harian anak-anak yang boleh berasal dari lemak.

Sumber : http://www.parentcenter.com

Agar Sarapan tak Jadi Masalah

sumber :http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1210566672,4606,

Agar Sarapan tak Jadi Masalah
Gizi.net – Sarapan kerap menjadi ‘tugas’ di pagi hari yang amat berat. Tak hanya anak-anak Indonesia. Di Amerika Serikat pun, menurut American Dietetic Association, lebih dari 40 persen anak perempuan dan 32 persen laki-laki melewatkan sarapan setiap harinya.

Meski menyuruh anak-anaknya sarapan, banyak juga orangtua yang bertanya-tanya: mengapa sih tidak sarapan jadi masalah? ”Kan waktu istirahat sekolah bisa makan camilan?” komentar seorang ibu.

Para ahli gizi memberi jawaban sederhana. Anak yang tak sarapan tidak mengonsumsi nutrien yang diperlukan tubuhnya untuk memproduksi energi yang diperlukan. Padahal, di sekolah anak membutuhkan energi untuk konsentrasi dan menyelesaikan tanggung jawab belajarnya.

Negara bagian Minnesota, AS, pernah mengadakan penelitian tentang korelasi antara makan pagi dan performa anak di sekolah. Hasilnya, ”anak-anak yang sarapan sebelum berangkat sekolah memiliki performa lebih baik dalam matematika dan membaca, meningkatkan rentang perhatian mereka, dan meningkatkan perilaku mereka secara keseluruhan.’

Ikut ayah dan ibu
Bagaimana cara sarapan bisa memengaruhi performa anak di sekolah? Para dokter anak di Boys Town Pediatrics melihat dengan sarapan maka energi yang cukup untuk memulai hari pun tersedia. Sarapan, kata mereka, akan menghilangkan gejala kelaparan seperti sakit kepala, letih, mengantuk, gelisah; membantu anak berpikir lebih cepat saat mengerjakan tugas sekolah dan merespons lebih jelas atas pertanyaan guru.

Sarapan, kata para dokter anak itu, juga memengaruhi performa mental anak, membuat mereka tak gampang kesal, membantu membuat mereka lebih tenang dan tak mudah cemas.

Secara fisik, anak yang rajin sarapan pun lebih fit. Menurut Boys Town Pediatrics, anak-anak itu cenderung makan nutrien penting untuk tumbuh sehat, termasuk zat besi, kalsium, serat, fosfor dan magnesium, juga vitamin-vitamin seperti riboflavin, vitamin A, C, dan B12. Mereka lebih bisa mengendalikan berat badan; memiliki tingkat kolesterol darah yang lebih rendah, jarang sakit perut di sekolah, dan jarang kena flu.

Orangtua bisa mendorong sang buah hati untuk membiasakan diri sarapan dengan memberikan contoh yang baik. Contoh terbaik adalah, selalu sarapan. Lihatlah keluarga presenter kondang, Erwin Parengkuan.

Sudah sejak lama Erwin, istrinya, Jana, dan anak mereka, Julio membiasakan hidup dengan selalu melakukan sarapan pagi. Dengan sarapan, Erwin bisa lebih fokus dalam melaksanakan semua aktivitasnya. Mereka terbiasa melakukan sarapan pada pukul 05.00 WIB.

”Memang itu waktu yang sangat tepat untuk melakukan sarapan. Karena aktivitas saya selalu dimulai pada pagi hari. Jadi, saya harus mencari waktu sepagi mungkin untuk melakukan sarapan,” ujar Erwin.

Biasanya saat sarapan, Erwin, Jana serta anaknya berkumpul di meja makan. Sembari sarapan, pagi itu biasanya didiskusikan juga rencana-rencana yang akan dilaksanakan pada hari itu.

Duduk bersama keluarga untuk sarapan setiap pagi adalah teladan yang baik bagi anak. Agar sarapan menjadi kegiatan tak terlewatkan, para dokter anak menyarankan orangtua untuk meletakkan makanan mudah dijangkau setiap pagi. Dalam keadaan tergesa-gesa sekalipun anak-anak tetap bisa menyambar makanannya.

Dan, agar kebiasaan sarapan lebih ‘meresap’ lagi para ayah bunda bisa melibatkan anak lebih jauh. Misalnya, meminta bantuan anak untuk merencanakan menu sarapan setiap pekan.

Cepat dan sehat
Sebagai seorang istri dan ibu, Jana terbilang sangat cekatan. Biasanya, untuk mengantisipasi keluarganya malas sarapan, ia membuat menu makanan yang bervariasi. ”Bisa dari keju, roti, telur atau mi,”ucap Jana. Menurut pakar gizi dan kuliner, Toeti Soenardi, cara yang dilakukan Jana tersebut sangat tepat. Karena biasanya, anggota keluarga akan malas melakukan sarapan karena berbagai alasan. ”Di antaranya karena waktu yang terbatas dan menu yang monoton,”ungkap Toeti.

Orang bilang, makan empat sehat lima sempurna sudah cukup dalam memenuhi kriteria gizi yang banyak. Namun, kata Toeti, metode itu saja tidak akan cukup ampuh untuk membawa anak pada kebiasaan hidup sehat. ”Biasakanlah anak dan keluarga untuk melakukan sarapan di pagi hari. Biasakan pula untuk membuat menu yang enak, cepat namun tetap sehat,” ungkap Toeti. Beberapa menu kombinasi yang bisa digunakan untuk meracik sarapan, adalah keju dan roti.

Dua makanan tersebut, menurut Toeti, sangat bagus karena di dalamnya sudah terkandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Beberapa contoh makanan olahan yang bisa dimakan saat waktu sarapan sangat terbatas di antaranya roti meises keju, sandwich keju, mi rebus, dan roti pisang keju.

Keempat jenis makanan itu, kata Toeti, adalah makanan yang paling sering dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja pada saat sarapan. Terutama, mereka yang tinggal di kota besar atau menengah. ”Makanan itu pula yang paling mudah diterima perut manusia saat pagi hari,”tutur dia.

Suplai lengkap
Jika memang menu roti dan keju masih dianggap asing dan cukup susah mencarinya, Toeti memberikan solusi lain. Menurut dia, sarapan dengan nasi putih goreng atau mi rebus pun, masih sama bagusnya. Asalkan, disertai dengan lauk pauk yang bisa memenuhi standar gizi.

Meski jarang dikonsumsi, menurut Toeti, sarapan dengan mi rebus pun cukup memberikan asupan gizi yang banyak. Dalam seporsi mi rebus komplet, sedikitnya terkandung 314 kalori dan 259 mg kalsium.

Gambaran lain tentang kandungan gizi bisa dilihat dari menu roti meises keju. Menurut Toeti, dalam menu tersebut sedikitnya terkandung 310 kalori dan 210 mg kalsium. ”Kandungan gizi seperti itu sudah cukup untuk menopang tingginya aktivitas anak kecil,”jelas dia.

Anda yang memiliki keluarga dan anak, sebaiknya memang harus membiasakan untuk memasok kebutuhan gizi keluarga melalui sarapan pagi. Untuk diketahui, sarapan yang baik dan memenuhi kriteria gizi adalah dengan menyuplai karbohidrat (55-65 %), protein (12-15 %), lemak (24-30 %), vitamin, dan mineral yang bisa diperoleh dari sayur atau buah.

Bagaimana menerapkan kandungan gizi itu? Menurut Toeti, itu dibutuhkan pemahaman yang cukup. Yang mungkin agak mudah diikuti adalah dengan memberikan suplai sayuran dan buah saat sarapan pagi.

”Untuk kandungan protein, karbohidrat, lemak dan vitamin, itu bisa didapat dari telur, nasi, daging, ikan, dan susu.” Karenanya, tinggal diramu saja kira-kira berapa kebutuhan sarapan pagi yang harus mengandung gizi di atas.

Satu hal yang biasanya selalu dilakukan oleh anak-anak dan orangtua pada saat sarapan pagi, yakni tidak menghabiskan makanan. Menurut Toeti, sarapan sangat penting untuk mengisi energi tubuh yang sudah terkuras habis pada saat tidur semalaman.”Biasakan untuk menghabiskan jatah sarapan pagi. Karena itu untuk menopang kebutuhan energi tubuh sepanjang hari,” tegas dia.

Melewatkan Sarapan? No, Way!
Ini alasan yang sering terlontar dari mulut anak saat melewatkan sarapannya: * ”Aku ketiduran” –Pasang alarm 15 menit lebih awal.
* ”Aku nggak lapar kalau pagi” — Minumlah susu, bisa juga dicampur buah, sebagai pengganti makan.
* ”Terburu-buru sih, nggak ada waktu makan” –Siapkan semua keperluan sekolah –seragam, buku-buku– pada malam hari.
* ”Aku nggak suka sarapan” –Makanlah sesuatu yang tidak biasa jadi menu sarapan di rumah, misalnya, pizza lebihan semalam dengan tambahan topping, sandwich, ayam goreng.
* ”Aku ingin langsing” –Melewati sarapan tak membuat tubuh kita jadi langsing. Kenyataannya, anak yang tidak sarapan cenderung makan lebih banyak kalori di siang hari karena itu akan menambah berat badannya.

(mus)
Republika Online – Minggu, 11 Mei 2008

Nutrisi Cukup, Anak pun Sehat dan Bahagia

sumber : http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1119847763,98411,

Nutrisi Cukup, Anak pun Sehat dan Bahagia
Gizi.net – KONVENSI Hak Anak (KHA) yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia sejak tahun 1990 menyatakan sehat adalah hak anak. Sehat di sini tidak hanya dalam pengertian fisik semata, melainkan juga kesehatan mental-sosial. Kebutuhan untuk menjadi bahagia, dalam hal ini sehat mental dan sosial, juga merupakan hak anak.

Bagaimana orangtua merespon kebutuhan ini? Perlu pengetahuan dan keterampilan orangtua agar anak tumbuh dan berkembang dengan sehat dan bahagia.

Anak yang bahagia, ujar, dr Tinuk Agung Meilany dari RSAB Harapan Kita, adalah anak yang bisa bernyanyi, tertawa, bebas berekspresi, serta tumbuh wajar sesuai kebutuhan dan minatnya. Menurutnya, untuk menjadi anak yang bahagia dan merasa puas pada dirinya sendiri perlu rangsangan yang cukup. Rangsangan ini akan diterima dengan optimal bila tubuh sehat dan hal ini perlu didukung nutrisi yang cukup dan seimbang.

Anak yang sehat, antara lain ditandai dengan aktif, ceria, memiliki selera makan yang baik, serta bisa bermain dan belajar. Berat badan naik setiap bulan dan perkembangan anak sesuai dengan usianya. Tinuk menyebut, agar seorang anak mampu menerima rangsangan dengan optimal, kebutuhan nutrisi atau zat gizi anak harus sejajar dengan pertumbuhan, aktivitas fisik, ukuran badan, energi yang dikeluarkan dan fase sakit.

“Keseimbangan zat gizi yang dikandung dalam komposisi, macam, maupun jumlahnya, harus sesuai dengan kebutuhan menurut berat badan ideal,” katanya.

Empat Golongan

Ada empat golongan makanan yang harus terdapat pada makanan anak sehari-hari. Keempat golongan itu adalah: makanan pokok, da ging dan telur, sayur dan buah, serta susu. Makanan pokok merupakan sumber karbohidrat, protein nabati, mineral serat, dan vitamin B. Daging dan telur mengandung protein, zat besi, vitamin A dan B. Dari sayur dan buah, kata Tinuk, diperoleh vitamin E, provitamin, serat. Sedangkan dari susu, anak akan mendapatkan berbagai zat gizi, antara lain kalsium, fosfor, vitamin A, B, dan D.

Selain keempat golongan makanan itu, anak juga memerlukan makanan tambahan yang kaya gizi. Menurut Tinuk, orangtua hendaknya mengatur jadwal makan anak. Artinya, orangtua jangan menunggu anaknya meminta makan. Namun tidak mudah membuat anak patuh terhadap jadwal makan yang sudah ditetapkan. Untuk mengatasi hal ini, perlu diciptakan suasana makan yang menyenangkan. Agar suasana menyenangkan, dari sisi fisik yang perlu diperhatikan adalah jadwal makan teratur, serta makanan tambahan diberikan dua jam sebelum atau sesudah makan. Peralatan makan seperti sendok dan gelas disesuaikan dengan anak. Demikian juga dengan meja dan kursi makan.

Di samping itu, emosi sosial pun perlu diperhatikan, seperti menu baru agar anak tidak merasa bosan, tidak mendikte atau memarahi anak, serta menu berbeda setiap hari. Tak kalah penting adalah orangtua mengajak dan mendampingi anak di meja makan.

Zat Gizi

Dijelaskan, beberapa zat gizi berperan dalam kerja otak, seperti asam aspartat yang terdapat pada kacang, kentang, telur, gandum. Kolin yang terdapat pada telur, hati, kedelai. Asam glutamat terdapat pada terigu dan kentang. Fenilalanin terdapat pada kedelai, almond, telur dan daging. Triptofan terdapat pada telur, daging, susu skim, pisang, susu, keju, serta, zat gizi tirosin yang banyak terdapat pada susu, daging, ikan, dan kacang-kacangan.

“Otak memerlukan glukosa, asam amino, lemak, vitamin dan mineral, yang diperoleh dari makanan. Bila kekurangan atau kelebihan akan berdampak pada sistem saraf,” kata Tinuk.

Dicontohkan, asam lemak esensial (omega oil) mempengaruhi fungsi otak berupa perilaku dan mood, kognitif, pergerakan, dan sensasi pada anak. Kekurangan asam lemak omega 3 menimbulkan masalah penglihatan, belajar, motivasi, serta motorik. Kekurangan omega 6 berdampak pada produksi neurotransmiter dan kemampuan sel saraf menggunakan glukosa. Sedangkan kekurangan zat besi menimbulkan gangguan pada selaput otak yang menyebabkan pendengaran terganggu, bicara terlambat, perilaku anak berubah dan penglihatan terganggu. Tinuk menegaskan, kecukupan gizi hendaknya dimulai dari masa kehamilan (janin).

Keterampilan

Agar anak sehat dan bahagia, gizi yang seimbang perlu didukung keterampilan orangtua menciptakan suasana supaya mental si anak pun sehat. Menurut psikolog Agustina Hendriati Psi MSc, ada lima keterampilan yang harus dimiliki orangtua agar hal itu tercapai. Pertama, orangtua mengenali ciri anak yang sehat dan bahagia. Kedua, orangtua mendorong anak mengekspresikan diri secara verbal. Ketiga, orangtua memberi kesempatan anak memilih, sambil mengajarkan anak membuat pilihan yang terbaik baginya.

Keempat, orangtua menyampaikan dan menerapkan batasan perilaku. Kelima, orangtua berjaga dan bekerja saat anak berperilaku positif.

Dikatakan, orangtua di kawasan Asia cenderung santai ketika anaknya “baik-baik” saja. Padahal, ketika itulah seharusnya orangtua harus bekerja, yakni menunjukkan penghargaan tulus dan mendorong agar si anak terus mempertahankan perilaku tersebut.

“Pada dasarnya semua orang ingin dihargai. Oleh karena itu mengembangkan anak yang sehat dan bahagia akan lebih mudah dilakukan dengan fokus pada perilaku positifnya,” kata Agustina.

Lebih jauh dikatakan, orangtua hendaknya menunjukkan atau menyampaikan harapannya yang realistis terhadap perilaku anak. Tidak hanya itu, orangtua juga harus menerapkan batasan perilaku mana yang dapat diterima dan yang tidak. Semakin dini orangtua memberlakukan hal ini dan konsisten, semakin mudah terlihat hasilnya.

Globalisasi berdampak pada perkembangan anak dan hubungan antara orangtua dan anak. Ada banyak rangsangan di dalam dan luar rumah yang diterima anak, misalnya, melalui televisi, radio, media cetak dan internet. Oleh karena itu, ujarnya, sangat baik jika sejak anak masih kecil, orangtua terbiasa menunjukkan adanya pilihan dan menjelaskan alasan dibalik keputusan yang dibuat orangtua.

Agustina menambahkan, orangtua juga perlu mendorong anak berekspresi secara verbal (berbicara), sekalipun anak bisa bereskpresi secara nonverbal, seperti menangis atau menunjuk. Orangtua yang terlalu sering mengatakan jangan atau tidak, akan menghambat ekspresi anak. (N-4)

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/

Gizi dan Pertumbuhan

Sumber : http://www.diskes.jabarprov.go.id/?mod=pubArtikel&idMenuKiri=10&idArtikel=139

Penyebab kurang gizi antara lain adalah pola makan yang salah, anak sering sakit, perhatian yang kurang.
Kurang gizi mengakibatkan daya tahan tubuh anak rendah, mudah terkena penyakit dan lebih lanjut lagi dapat menyebabkan kematian.

Apa yang harus diketahui oleh setipa keluarga dan warga masyarakat tentang gizi dan pertumbuhan ?

1. Anak harus tumbuh dengan baik dan mengalami pertambahan berat badan yang cukup. Berat badan anak harus ditimbang setiap bulan dari sejak lahir sampai dengan berusia 2 tahun. Apabila seorang anak tidak mengalami pertambahan berat yang cukup setiap bulannya, berarti ada sesuatu yang tidak benar telah menimpa anak tersebut.
2. Sampai dengan usia 6 bulan seorang anak hanya memerlukan ASI saja. Setelah berusia 6 bulan anak memerlukan makanan tambahan disamping ASI.
3. Anak memerlukan vitamin A untuk mencegah terkena penyakit dan kerusakan penglihatan. Vitamin A dapat diperoleh dari buah-buahan, sayur-mayur, telur, hasil peternakan, makanan yang diperkaya, ASI atau tambahan vitamin A sendiri.
4. Anak memerlukan makanan yang kaya akan zat besi untuk melindungi ketahanan fisik dan mentalnya. Sumber zat gizi besi adalah hati, daging, ikan, telur, dan makanan yang diperkaya zat besi atau vitamin zat besi.
5. Garam beryodium perlu dikonsumsi untuk mencegah anak dari masalah ketidakmampuan belajar dan gangguan perkembangan.
6. Selama sakit, anaka perlu diperhatikan keteraturan makannya. Setelah sembuh, perlu diberi makan satu porsi lebih banyak.

Apabila berat badan anak tidak cukup bertambah dalam setiap bulan, berarti :
– Anak perlu mendapatkan makanan yang lebih banyak dan bergizi
– Anak sakit
– Anak memerlukan perhatian dan perawatan

Anemia – kekurangan zat besi – dapat mengganggu perkembangan fisik dan mental. Beberapa ciri anemia antara lain :
– Pucat pada lidah, telapak tangan dan bibir bagian dalam.
– Kelelahan dan kesulitan bernafas.

Anemia merupakan gangguan gizi.

- Anemia pada bayi dan anak kecil dapat merusak intelektual.
– Anemia pada anak berusia dibawah 2 tahun dapat menyebabkan gangguan keseimbangan sehingga anak menjadi pendiam dan ragu-ragu. Hal ini akan membatasi kemampuan anak untuk bergaul dan memperlambat perkembangan intelektual anak.

Anemia terjadi pada saat kehamlan,
– Dapat meningkatkan kegawatan pendarahan,
– Meningkatkan risiko untuk terkena infeksi pada saat melahirkan dan
– Merupakan penyebab utama kematian ibu.

Zat Gizi untuk Pertumbuhan Fisik & Mental

sumber : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby

Makanan mempunyai pengaruh pada perkembangan fisik maupun mental anak. Susunan makanan seimbang yang baik untuk perkembangan fisik dan mental anak adalah yang mengandung zat – zat gizi berikut.

Karbohidrat atau hidrat arang
Sebagai sumber energi terdiri dari dua jenis, yaitu karbohidrat kompleks (beras, jagung, roti, makaroni, kentang, tepung beras, tepung maizena, tepung kacang hijau, havermut). Susu merupakan sumber karbohidrat di samping sumber utama protein.

Protein
Merupakan gizi utama untuk tumbuh secara normal. Protein didapat dari sumber makanan hewani, seperti susu, daging, ikan, ayam, keju, hati, dan telur. Juga bisa diperoleh dari sumber protein nabati seperti tahu, tempe, kacang kedelai, kacang hijau, dan kacang-kacangan lain. Sumber protein utama dalam makanan bayi adalah ASI dan susu.

Lemak
Merupakan sumber kalori yang penting dan menyediakan berbagai vitamin, seperti A,D,E,K. Air susu ibu (ASI) merupakan bahan makanan dengan komposisi asam lemak terbaik di antara bahan-bahan makanan yang lainnya, antara kain mengandung asam lemak omega-3 dan omega-6 yang dibutuhkan untuk perkembangan kecerdasan anak.

Vitamin
Diperlukan untuk mempertahankan kesehatan dan tumbuh kembang yang optimal. Vitamin A atau provitamin A banyak terdapat dalam susu, telur, ikan, tomat, wortel, labu kuning, bayam, kangkung dan sayuran berdaun hijau lainnya. Vitamin D terdapat antara lain dalam susu, telur dan minyak ikan. Vitamin E terdapat dalam serealia, minyak tumbuh-tumbuhan (minyak bunga matahari, minyak jagung), dan minyak ikan. Sedangkan vitamin B kompleks terdapat dalam roti, susu, daging, dan makanan hasil fregmentasi, seperti tempe. Vitamin C banyak terdapat dalam sayuran berdaun hijau, buah jeruk, limau, tomat, dan buah-buahan lain. Kepada bayi tidak perlu diberikan suplemen (tambahan) vitamin, kecuali kalau terjadi kelainan dan atas rekomendasi dokter.

Mineral
Berguna untuk pertumbuhan, mempertahankan jaringan serta mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Dua jenis mineral yang perlu dipenuhi dengan baik kecukupannya adalah zat besi dan kalsium. Sumber zat besi yang baik sekali adalah ASI, karena penyerapan zat besi adalah 5-10 kali lebih baik dari makanan lainnya. Sumber zat besi yang lain adalah, daging, ikan, hati ayam, serta dalam jumlah sedikit dari sayur-sayuran. Sedangkan sumber kalsium adalah ASI, susu sapi, dan hasil produk yang dihasilkan dari susu.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

TIADA PRESTASI TANPA GIZI”

SUMBER : http://agribisnews.com/opini/46-tiada-prestasi-tanpa-gizi.html

Written by rochadi tawaf

Merebaknya kasus gizi buruk atau mal-nutrisi pasca krisis ekonomi tahun 1997 yang lalu hingga kini, hampir setiap hari masih dapat kita baca dan saksikan di berbagai media masa. Menurut Depkes (2004) bahwa pada tahun 2003 terdapat sekitar 5 juta Balita kurang gizi, 3,5 juta anak dalam tingkat kurang gizi, dan 1,5 juta anak status gizi buruk Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian Unicef yang dipublikasikan tahun 1999, oleh perwakilan PBB/UNICEF untuk Indonesia dan Malaysia, menyatakan bahwa akibat gizi buruk di Indonesia setiap 2 menit seorang Balita meninggal, setiap 40 detik lahir seorang Balita abnormal dan setiap 20 menit seorang ibu meninggal sewaktu persalinan dengan indikator IQ turun 10 point, fisik lemah, penyakit jantung dan kencing manis (Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bandung, 2002).

Oleh karenanya, indikator konsumsi protein hewani suatu bangsa dapat pula dijadikan salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan bangsa itu. Hal ini disebabkan antara konsumsi gizi dengan prestasi manusia sangatlah erat hubungannya. Salah satu komponen gizi yang menjadi sangat penting adalah protein hewani. Protein ini, berasal dari hasil produksi ternak dan ikan, memiliki karakteristik asam-asam amino yang tidak dimiliki oleh protein dari sumber lainnya (nabati).

Konsumsi Protein

Saat ini, konsumsi protein hewani masyarakat kita masih jauh dari norma gizi yang disarankan oleh FAO. Menurut Ditjen Peternakan (2004) bahwa konsumsi pangan hewani sebesar 86,9 gr/kapita/hari dari target 150 gr/kapita/hari, yang berasal dari komoditi peternakan sebesar 36,5 gr/kapita/hari (42 %). Oleh karenanya, untuk konsumsi pangan hewani yang masih di bawah standar Pola Pangan Harapan (PPH) perlu terus ditingkatkan. Tidak jauh berbeda, dari sisi produksi (suplai) yaitu berdasarkan analisis dari Pola Pangan Harapan (PPH) menunjukkan bahwa saat ini tingkat pencapaian konsumsi masyarakat Indonesia akan protein hewani asal ternak baru mencapai setara daging 5,9 kg/kapita/tahun; telur 5,4 kg/kapita/tahun dan susu 1,2 kg/kapita/tahun (Susenas 2003) dari standar minimum norma gizi 6 gram/kapita/hari (yang setara dengan daging 10,1 kg/kapita/tahun, telur 3,5 kg/kapita/tahun dan susu 6,4 kg/kapita/tahun).

Menurut Data dari berbagai sumber, ternyata konsumsi Pangan asal hewani di beberapa negara tetangga, jauh lebih tinggi ketimbang di Indonesia. Seperti; Konsumsi daging di Malaysia pada tahun 2003 (46,87 kg/Kapita/tahun), Thailand (25 kg/Kapita/tahun), Fhilipina (24,96 kg/Kapita/tahun), China (39 kg/Kapita/tahun) dan Jepang (25,97 kg/Kapita/tahun). Konsumsi telur di Malaysia tahun 2003 (17,62 kg/Kapita/tahun), Thailand (9,15 kg/Kapita/tahun) dan Filipina (4,51 kg/Kapita/tahun), China (10,10 kg/Kapita/tahun) dan Jepang (20,54 kg/Kapita/tahun). Sedangkan konsumsi susu cair per tahun di Cina 6.345 juta liter, Pakistan 28.671 juta liter, Thailand dan Vietnam tidak jauh dengan Indonesia, sebanyak 58 juta liter (Indonesia, 62 juta liter/tahun)

Dampak Konsumsi Protein

Selanjutnya Ahmad Rusfidra (2005) menyatakan bahwa Konsumsi protein hewani yang rendah banyak terjadi pada anak usia bawah lima tahun (balita), terlihat pada merebaknya kasus busung lapar dan mal-nutrisi. Usia balita disebut juga sebagai periode “the golden age” (periode emas pertumbuhan) dimana sel-sel otak anak manusia sedang berkembang pesat. Pada fase ini, otak membutuhkan suplai protein hewani yang cukup agar berkembang optimal. Asupan kalori-protein yang rendah pada anak balita berpotensi menyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya risiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan performa mereka di sekolah dan menurunkan produktivitas tenaga kerja setelah dewasa. Namun, sebenarnya pembentukan sel otak manusia terjadi sejak dalam kandungan. Oleh karenanya, bagi ibu hamil dan menyusui sangat dianjurkan untuk mengonsumsi protein hewani (daging, telur dan susu) yang cukup bagi kesehatan dirinya maupun bayinya.

Selain itu, berdasarkan berbagai analisa para ahli, ternyata pula bahwa untuk kecerdasan seseorang, protein hewani sangat dibutuhkan bagi daya tahan tubuh. Lebih jauh Shiraki et al. (1972) yang disitasi oleh Ahmad Rusfidra, telah membuktikan peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya anemia pada orang yang menggunakan otot untuk bekerja keras, seperti bagi para pekerja fisik dan olahragawan. Gejala anemia tersebut dikenal dengan istilah “sport anemia”. Penyakit ini dapat dicegah dengan mengonsumsi protein yang tinggi, yaitu 50 % harus berasal dari hewani (daging, telur dan susu). Mengingat pentingnya protein hewani bagi segala lapisan usia, maka konsumsi produk hasil peternakan semestinya dipacu terus menuju tingkat konsumsi ideal. Jika tidak, sangat beresiko akan terbentuknya masyarakat yang tidak sehat.

Berdasarkan uraian tersebut, wajar jika terpuruknya olah raga di negeri ini (lihat hasil SEA Games yang lalu, ternyata Indonesia hanya menduduki Peringkat V) merupakan salah satu manifestasi dari rendahnya konsumsi gizi masyarakat, khususnya protein hewani asal ternak (daging, telur dan susu) dibanding dengan negara tetangga. Karena itu, konsumsi protein hewani harus dipacu untuk terus ditingkatkan guna mewujudkan SDM yang cerdas, kreatif, produktif dan sehat serta berprestasi. Ibarat kata pepatah “tiada prestasi tanpa gizi yang cukup” bagi keberhasilan pembangunan suatu bangsa.

Susu sapi

Diantara berbagai sumber protein hewani, yang menarik dikaji untuk diketahui adalah susu. Dalam kajian ini, yang disebut susu adalah susu yang diproduksi oleh sapi perah. Susu sapi ternyata merupakan komoditi yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat di dunia. Hal tersebut beralasan, karena susu sapi memiliki zat-zat gizi yang hampir sama kualitasnya dengan Air Susu Ibu (ASI) seperti tampak pada Tabel di bawah. Susu juga merupakan sumber kalsium, riboflavin, dan vitamin A, sementara itu susu yang sudah difortifikasi (diperkaya) juga banyak mengandung vitamin D. Sehingga para ahli sangat merekomendasikan, bahwa susu dapat digunakan sebagai pengganti ASI bagi anak balita khususnya.

Tabel : Perbandingan Kandungan Gizi Susu Sapi dengan ASI

No.

Zat-Zat Gizi

ASI

Susu Sapi

1.

2.

3.

4.

5.

Total Solid (%)

Casein (%)

Laktosa (%)

Lemak (%)

Enersi (Kkal/Kg)

12,9

0,4

7,1

4,5

720,0

12,7

2,6

4,6

3,9

660,0

Keterangan : dari berbagai sumber (Jannes and Sloan, 1970)

Berdasarkan data tersebut, tidak diragukan lagi bahwa fungsi dan peran susu dapat menggantikan ASI sehingga akan berdampak bagi peningkatan dan pembentukan kecerdasan bangsa. Rendahnya konsumsi susu di dalam negeri, selain disebabkan oleh kemampuan ekonomi (daya beli) dan tingkat pendidikan masyarakat juga terutama disebabkan oleh faktor “lactose intolerance”, yaitu kemampuan adaptasi perut orang Indonesia yang rendah terhadap lactose(gula susu). Untuk itu perlu diatasi dengan membiasakannya mengonsumsi; susu pasteurisasi atau sterilisasi (susu cup, susu kotak atau susu bantal) hasil olahan yang kadar lemaknya telah disesuaikan dengan kemampuan adaptasi perut orang Indonesia. Setelah terbiasa, baru kemudian mengonsumsi susu segar.

Mengapa Fresh Milk ?

Pengertian fresh milk, selain susu segar termasuk didalamnya susu pasteurisasi dan sterilisasi. Membiasakan masyarakat untuk mengonsumsi fresh milk, akan jauh lebih baik dan bermanfaat bagi berbagai pihak ketimbang mengonsumsi susu olahan lainnya. SKM dengan kandungan gula sekitar (40) % yang berfungsi sebagai bahan pengawet, diproses dengan cara evaporasi. Sedangkan susu bubuk, diproses dengan temperatur sangat tinggi, akan mengurai zat-zat gizi yang ada pada susu murni. Sesuai pendapat ahli gizi Prof Dr. Ir. Made Astawan MS mengatakan, bahwa susu bubuk, yang diolah melalui proses pengeringan dengan suhu tinggi memiliki kadar dan mutu gizi lebih rendah daripada susu cair. Proses fortifikasi yakni penambahan zat-zat gizi ke dalam susu bubuk tidak akan sepenuhnya seperti semula. Menurut kajian Profil konsumsi susu di Indonesia (Ali Khomsan, 2004) menunjukkan, bahwa susu segar hanya memberikan kontribusi 17,9 persen dari total konsumsi susu. Sisanya, sebesar 82,1 persen merupakan konsumsi susu bubuk, berarti mayoritas konsumen susu di Indonesia memilih susu bubuk dibandingkan dengan susu cair.

Berdasarkan fenomena tersebut, tentu akan berdampak terhadap semakin membesarnya impor bahan bakunya (milk powder). Jika saja konsumen beralih mengonsumsi fresh milk, maka produksi susu peternakan sapi perah rakyat akan meningkat. Sebab bahan bakunya berasal susu segar yang diproduksi dari peternakan rakyat, tentu pula akan menghemat devisa. Dengan kata lain, jika konsumen mengonsumsi fresh milk, dengan harga yang jauh lebih murah, kualitasnya lebih baik daripada susu bubuk dan SKM, juga akan membantu meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah rakyat di dalam negeri…. semoga.

Jangan Remehkan Radang Gusi dan Sariawan

sumber :http://www.pdgi-online.com/

Tanpa disadari, sebagian orang kadang menganggap “enteng” sariawan dan penyakit rongga mulut lain, seperti bau napas tak sedap hingga gusi berdarah dan gigi ompong.
Jangan Remehkan Radang Gusi dan Sariawan!
Rien Kuntari
Tanpa disadari, sebagian orang kadang menganggap “enteng” sariawan dan penyakit rongga mulut lain, seperti bau napas tak sedap hingga gusi berdarah dan gigi ompong. Padahal, penelitian terakhir menunjukkan adanya kaitan erat antara bertumpuknya bakteri di rongga mulut dengan penyakit berat lain, seperti diabetes, serangan jantung, infeksi darah, hingga soal bayi dengan berat tidak memadai….
Radang gusi diakui menjadi faktor utama kasus gigi tanggal dan kerusakan jaringan penyangga gigi. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperkirakan 30 persen warga AS mengidap radang gusi pada tingkat periodontitis, sedangkan satu dari lima orang menderita sariawan atau radang gusi ringan.
Tidak mengherankan jika pada tahun 2005 sebanyak 500 juta warga AS rutin ke dokter gigi. Berarti, diperlukan dana sekitar 84 miliar dollar AS setahun. Itu menurut perkiraan Asosiasi Dental Amerika (ADA). Lebih dari itu, setiap tahun, sebanyak 28.000 warga AS terkena kanker mulut dan tenggorokan. Sekitar 7.200 di antaranya meninggal dunia.
Masalah itu mengusik Dr Jean Connor, ahli kesehatan gigi dari Cambridge, Massachusettes, yang baru terpilih sebagai Ketua Asosiasi Kesehatan Gigi AS. Menurut dia, radang gusi dicurigai memberi kontribusi cukup signifikan pada “rusaknya” kondisi kesehatan keseluruhan melalui aliran darah.
“Jadi, jika jari Anda infeksi dan Anda diamkan saja, lama-lama (infeksi itu) akan berpengaruh ke seluruh tubuh. Begitu juga dengan mulut,” kata Dr Connor kepada media kesehatan Health Day, Sabtu (14/10). “Penyakit gusi atau rongga mulut memproduksi bakteri yang luar biasa banyak. Jadi, jika ada masalah di katup jantung Anda, bakteri-bakteri itu akan menyerbu dan menyebabkan infeksi jantung,” katanya.
Meningkat
Penelitian terakhir CDC menunjukkan, risiko serangan jantung dan stroke meningkat pada penderita radang gusi dan rongga mulut, dengan tingkat keakutanyang berbeda.Selain itu, kaitan antara penyakit gusi dan diabetes pun semakin nyata. Umumnya penderita diabetes terjangkit radang gusi pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu periodontal. Karena itu, CDC sedang meneliti kemungkinan adanya timbal balik dari kasus ini. Artinya, sedang dicari kemungkinan merawat penderita diabetes dengan lebih mengendalikan radang gusi.
Pendapat itu diperkuat Dr Diann Bomkamp, ahli kesehatan gigi dari St Louis, AS, yang juga Wakil Ketua Asosiasi Kesehatan Gigi AS. Infeksi darah yang disebabkan oleh radang gusi bisa pula menyebabkan kegagalan operasi “penggabungan”. Dalam arti, infeksi darah akan memperkuat upaya tubuh untuk menolak penggabungan implan artifisial.
Ia menekankan, wanita yang bermasalah dengan radang gusi dua kali lebih besar kemungkinannya melahirkan bayi prematur. Khususnya, dari kasus kurang berat badan hingga bayi terinfeksi. “Jika Anda kebetulan sedang hamil dan menderita radang gusi, ada kemungkinan kehamilan dan kelahiran bayi Anda nanti bermasalah,” ujarnya.
Sariawan oleh banyak orang dikenal sebagai luka pada selaput lendir di daerah mulut. Umumnya luka di daerah mulut tidaklah dalam. Jika tidak dibarengi dengan komplikasi karena infeksi oleh kuman yang lebih ganas, sariawan akan sembuh sendiritanpa bekas(Kompas 5 Juni 1994). Infeksi ini biasanya dimulai dengan munculnya gelembung berisi cairan di mulut. Gelembung ini bisa pecah dan membentuk luka yang akan terasa nyeri.
Pada kasus tertentu, sariawan bisa pula dianggap sebagai salah satu indikasi kanker mulut, sejauh tidak pernah sembuh dan tidak pernah hilangdari mulut(Kompas 21 November 2004). Walau begitu, kepastian itu bergantung pada hasil biopsi yang dilakukan para dokter.
Penuh bakteri
Data di Institut Kesehatan Nasional AS menunjukkan, penyakit radang gusi dipicu oleh bertumpuknya bakteri di mulut akibat terabaikannya kesehatan dan kebersihan mulut. Bersama dengan lendir dan partikel lain, bakteri-bakteri ini terus membentuk plak yang lengket dan tidak berwarna di seputar gigi. Jika tidak dibersihkan secara rutin, plak ini lama-lama akan berkembang menjadi “tartar” yang tidak akan hilang hanya dengan gosok gigi.
Semakin lama plak dan “tartar” bersemayam di gigi, bakteri-bakteri itu akan menyebabkan radang gusi ringan yang disebut ginggivitis. Gusi akan berwarna kemerahan, bengkak, dan mudah berdarah, tetapi tidak merusak tulang gigi atau jaringan penyangga gigi. Pada tingkat ini, pengobatan cukup dengan dibersihkan secara teratur dan menyeluruh.
Walau begitu, jika dibiarkan, radang ringan ini bisa berkembang menjadi “periodontitis”. Artinya, radang di sekitar gigi. Pada tahap ini gusi terkelupas dari gigi dan membentuk kantung infeksi. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh harus berjuang keras melawan para bakteri busuk seiring meluas dan tumbuhnya plak di sekitar gusi.
Toksin bakteri dan enzim tubuh akan terus berusaha menghambat infeksi yang sebenarnya sudah mulai menghancurkan tulang dan jaringan penyangga gigi. Jika tidak segera diatasi, tulang gigi, gusi, dan jaringan penyangga gigi akan hancur. Gigi-gigi pun akan segera tanggal atau harus dicabut.
Radang gusi biasanya baru muncul pada usia 30-an hingga 40-an tahun. Umumnya radang gusi pada tingkat periodontitis lebih banyak menyerang kaum pria. Meski remaja jarang terkena radang gusi, banyak pula yang menderita ginggivitis.
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan radang gusi. Antara lain, rokok, perubahan hormon pada wanita, diabetes, stres, kanker, AIDS, faktor genetika, kurang gizi, dan obat. Beberapa obat, seperti antidepresan dan sebagian obat jantung, bisa menyebabkan radang gusi karena mengurangi aliran air liur yang sebenarnya memiliki efek protektif pada gigi dan gusi. Nah!
Air soda dan sikat gigi
Selain faktor cukup berat seperti stres, perubahan hormon, diabetes, dan genetika, radang gusi bisa terjadi oleh sebab ringan, seperti makanan manis, air soda, dan tembakau. Dan tak ada cara lain yang lebih jitu untuk menyelesaikan kasus radang gusi dan sariawan, kecuali menyikat gigi secara benar, rutin, dan menyeluruh….

Karena itu, tidak ada cara lebih baik kecuali mencegah terjadinya sariawan atau radang gusi. Setidaknya itu saran dari Dr Diann Bomkamp, pakar kesehatan gigi dari St Louis, AS. Pencegahan harus segera dilakukan ketika seseorang mendapati gusinya berwarna kemerahan, bengkak, dan terasa sedikit lunak. Hal itu ditambah dengan gigi yang mulai terasa ngilu, bau mulut yang tak sedap, serta gusi mudah berdarah ketika disikat.
Menurut Bomkamp, merawat dan membersihkan gigi secara teratur dan benar harus diimbangi dengan menghindari atau membatasi konsumsi makanan manis dan air soda. “Kami sering melihat orang yang mengonsumsi minuman ringan atau air soda sebagai sarapan pagi, kemudian meminumnya sepanjang hari. Meski ’diet soda’, soda tetap saja mengandung asam yang bisa merusak gigi dan gusi,” kata Bomkamp.
Mengutip data dari CDC, ia menekankan pentingnya setiap orang membatasi jumlah asupan makanan manis. “Mereka juga harus terus ingat bahwa rekomendasi lima hari untuk buah dan sayur yang mengandung serat tinggi juga sangat baik bagi kesehatan mulut dan gigi. Menurut dia, mengonsumsi buah dan sayur berserat tinggi akan memperlancar peredaran air liur. Akibatnya, remineralisasi permukaan gigi akan sangat terbantu sehingga bisa mencegah pengeroposan awal gigi.”
Lebih dari itu, Bomkamp dengan tegas menekankan pentingnya orangtua tidak berbagi minuman dengan anak kecil, terutama jika si orangtua menderita radang gusi. “Bahkan, ketika kita meniup makanan agar cepat dingin di depan si kecil, itu bisa menyalurkan bakteri mulut orangtua kepada anak,” ujarnya.
Hal lain yang harus dihindari, lanjut Bomkamp, adalah tembakau. “Perokok tujuh kali lebih besar kemungkinannya terkena radang gusi ringan hingga periodontitis,” katanya. “Menghindari tembakau adalah jalan terbaik,” ujar Bomkamp.
Selain faktor diet seperti anjuran Bomkamp serta pengobatan melalui medis, beberapa pihak menggarisbawahi pentingnya sistem pengobatan herbal. Dalam catatan Kompas, ada beberapa jenis tanaman dan dedaunan di Indonesia yang umum digunakan untuk mengatasi sariawan atau radang gusi tersebut, misalnya daun sirih (Piper betle), daun saga telik (Abrus precatorius), jambu mede (Anacardium occidentale), mentimun (Cucumis sativus), dan nira aren (Arenga pinnata Mer).

Walau begitu, sikat gigi tetap menjadi unsur terpenting. Dalam arti, menggosok gigi cukup dua kali sehari karena menggosok gigi terlalu sering justru akan merusak email gigi. Disarankan pula menggunakan sikat gigi berbulu halus dan menggosok gigi secara hati-hati, tidak serampangan dan singkat.
Selain itu, gunakan sikat yang sesuai dengan ukuran mulut sehingga memungkinkan pembersihan hingga ke seluruh sudut mulut dan gigi. Selamat mencoba!

Kenali Gejala Kurang Gizi

sumber : http://www.jurnalbogor.com

Bogor – Bayi atau balita kurus mungkin sering diidentikkan sebagai gejala kurang makan. Padahal belum tentu begitu, karena bisa jadi anak tersebut mengalami permasalahan yang lebih besar yaitu malnutrisi. Malnutrisi itu sendiri terbagi menjadi tiga yaitu kurang gizi, baik itu ringan, sedang, atau parah. Terlalu banyak gizi atau overnutrition yang ditandai dengan kelebihan berat badan atau obesitas, serta kurang salah satu zat gizi, seperti zat besi, yodium, atau terlalu banyak mengkonsumsi vitamin.
Dokter Umum dari Klinik Tanah Sareal Bogor, dr. Bambang M. Raharja mengatakan, gejala malnutrisi datang secara perlahan bahkan mungkin tanpa disadari. Namun jika semua pihak memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang pemberian nutrisi yang baik untuk kesehatan anak, maka kematian anak akibat malnutrisi dapat dicegah.
”Caranya dengan memperhatikan benar asupan seluruh zat gizi yang dibutuhkan oleh si anak seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, serta mineral. Apabila ada salah satu jenis zat gizi saja berkurang, maka anak pun telah masuk kategori mengalami malnutrisi,” ujar Bambang kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Setelah itu, lanjut Bambang, orangtua harus aktif memonitor pertumbuhan anak-anak mereka dengan membawanya ke pos pelayanan terpadu (posyandu) atau puskesmas untuk diketahui jika ada penurunan status gizi. Selain itu, ada baiknya juga melakukan pendidikan dan pelatihan terkait bagaimana memberikan makanan yang baik bagi bayi. ”Dalam hal ini pemerintah dan seluruh pihak terkait harus mau bekerjasama. Saat ini kan sudah banyak program pemerintah yang bertujuan meminimalis risiko terjadinya malnutrisi,” tegasnya.
Menurut Bambang, gejala dari malnutrisi ini berbeda-beda. Bagi anak-anak yang menderita marasmus atau penyakit kurang energi dan protein, maka pertumbuhannya akan terlambat, anak tampak kurus tinggal kulit pembalut tulang, terlihat tua, kulit keriput, serta perut cekung. Sedangkan kwashiokor, yaitu penyakit kekurangan protein dengan gejala utama pertumbuhan terlambat, tangan, kaki, wajah tampak bengkak, serta pandangan mata agak sayu.
”Tak hanya secara fisik, malnutrisi juga memiliki pengaruh besar pada menurunnya tingkat kecerdasan karena terjadi gangguan pada otak. Berbeda lagi bila anak dengan malnutrisi jenis terlalu banyak gizi, dapat mengganggu perkembangan saraf otak pernapasan, jantung, lambung, sampai bentuk tulang dan otot. Bahkan penyakit-penyakit yang rentan muncul ialah obesitas, jantung, dan diabetes,” katanya.
Setidaknya sebanyak 53 persen kematian anak di negara-negara berkembang disebabkan karena kurang gizi. Sedangkan untuk dunia, kurang gizi bertanggungjawab secara langsung atau pun tidak langsung untuk 60 persen dari 10.9 juta kematian pertahun pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Dari angka kematian anak akibat kurang gizi di dunia, dua per tiga penyebabnya sering diasosiasikan dengan pola makan yang tidak tepat, yang biasa terjadi pada tahun pertama kehidupan anak.
Nasia Freemeta

Konsumsi Susu berlebihan penyebab anemia pada anak

SUMBER : beginnewlife.blogspot.com

Susu, sejak dulu dipandang sebagai salah satu makanan pokok bagi bayi dan anak-anak untuk menyerap gizi, namun seorang ahli memperingatkan, bahwa kelewat batas mengonsumsi susu bukan saja tidak baik terhadap pertumbuhan kesehatan anak-anak, sebaliknya dapat mengakibatkan anemia.
Menurut rekomendasi ahli gizi anak-anak, ketua dokter dari pusat kesehatan wanita dan anak-anak Kota Tianjin, dr. Liu Rong Nian, dalam pengobatan klinik ditemukan, sejumlah besar bayi dan anak-anak karena terlalu bergantung pada susu mengakibatkan kekurangan zat besi dalam tubuh dan kekurangan vitamin.
Zat besi adalah unsur dasar menghasilkan darah, dan vitamin tertentu adalah zat yang mendorong penyerapan zat besi, jika zat besi tidak cukup dapat mengakibatkan tubuh anak-anak menjadi lemah, mudah mengantuk dan lelah, terjadi anemia kekurangan zat besi. Namun, jumlah kandungan zat besi pada susu agak kurang, lagi pula terhadap penyerapan zat besi dalam susu prosentasenya hanya 10%. Saat ini di China kurang lebih ada 1/3 bayi dan anak-anak menderita kekurangan zat besi atau anemia.
Ketika bayi baru lahir dapat memperoleh jumlah zat besi yang cukup dari tubuh sang ibu, dalam proses menyusui, rasio penyerapan zat besi dalam kandungan susu ibu dapat mencapai 50%, namun setelah genap 6 bulan, maka perlu penambahan zat besi melalui makanan. Saat ini cara utama sebagian besar bayi mencukupi gizinya adalah minum susu. Susu, meskipun kaya akan gizi, namun jumlah kandungan zat besi rendah, susu yang dijual di pasar atau supermarket, dalam 1.000 cc mengandung 0,5-2 mg zat besi, sedangkan bayi yang berusia 1 tahun setiap hari harus menyerap kurang lebih 6 mg zat besi dari makanan. Lagi pula zat besi dalam susu mudah mendapat pengaruh fosfor dan kalsium tinggi dalam susu membentuk kandungan zat besi senyawa yang tidak melarut, tidak dapat diserap tubuh dan dimanfaatkan. Selain itu, kandungan Vitamin C dalam susu yang dapat meningkatkan rasio penggunaan dan penyerapan zat besi agak sedikit, lagi pula saat ini sebagian besar keluarga menggunakan perkakas dari metal untuk merebus susu, mudah menyebabkan Vitamin C dalam susu teroksidasi. Dan selain itu, masa bayi dan kanak-kanak asam lambung memang kurang, untuk penyerapan Vitamin C tidak baik, dengan demikian bisa menurunkan lagi rasio penyerapan zat besi dalam susu.
Dokter Liu Rongnian menganjurkan, di bawah kondisi ibunya tidak dapat menyusui bayi atau setelah bayi tidak menyusui lagi, seyogianya secara layak memberi tambahan makanan pelengkap, serta keanekaragaman makanan. Setelah usia 4-5 bulan, seyogianya secara berangsur-angsur ditambah dengan kuning telur, daging, sayur mayur hijau, buah-buahan serta makanan yang kandungan zat besi tinggi dan makanan yang kaya vitamin, melalui makanan mencukupi zat besi.