Salah Kaprah Gizi Anak

sumber : http://www.lucianasutanto.com/index.php?option=com_content&task=view&id=56&Itemid=53

Pemahaman orang bisa berbeda-beda. Yang sudah dianggap “benar” pun ternyata belum tentu benar.

Anak gemuk berarti sehat

Sering terjadi ibu-ibu yang masuk ke kamar praktik Dr. Luciana B. Sutanto MS. SpGK. mengeluh, “Dok, anak saya tidak mau makan.” Padahal, anaknya sudah tampak bulat. Menurut Dr. Luciana, masih banyak kaum ibu yang paling suka kalau anaknya gemuk. Gemuk atau kurus memang dapat bersifat subyektif sehingga yang aman adalah taat mengikuti petunjuk pola peningkatan tinggi dan berat badan. Anak kegemukan bisa berakibat macam-macam. ia tidak akan lincah bergerak. Barangkali ia juga akan diolok-olok kawannya. Lagi pula anak gemuk cenderung lebih sering berkeringat yang akan mengakibatkan tumbuh jamur pada lipatan-lipatan di tubuhnya. Yang paling aman adalah orang tua belajar memberikan gizi yang baik kepada anak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan makannya.

Susu murni itu menyehatkan

Sebetulnya yang dimaksud di sini adalah susu sapi murni. Tentu saja baik untuk bayi sapi tapi tidak untuk bayi manusia. Susu sapi kandungan kalorinya tinggi supaya anak sapi lekas tumbuh besar. Komponennya berbeda dari ASI. Susu sapi lebih sulit diserap oleh bayi manusia sehingga dapat menyebabkan diare. Beda dengan susu sapi yang sudah dikemas dan beredar dipasaran, biasanya sudah dimodifikasi agar makin menyerupai susu ASI. Jadi tidak tepat kalau dikatakan susu sapi murni itu pasti akan baik bagi bayi. Kalau diberikan kepada bayi, akibat terburuk yang dapat terjadi adalah bayi bisa terkena alergi, kegemukan, atau ya itu tadi, diare.

Telur itu bergizi, jadi anak harus banyak makan telur
Dr. Luciana menceritakan, ada ibu yang datang ke kamar praktiknya membanggakan bahwa anaknya demikian menyukai telur sampai bisa menghabiskan 10 butir dalam sehari. Telur itu sumber protein yang mendekati sempurna namun tidak berarti kita harus mengasupnya banyak-banyak. Soalnya, dalam sebutir telur yang besar kandungan 95 kalori, 10 g protein dan 6 g lemak. Pertimbangkan dulu kebutuhan gizi anak yang tergantung pada usia dan aktivitasnya. Kalau dalam sehari sampai mengonsumsi 10 butir, kalori dari telur saja sudah 950 kalori. Belum dari sumber makanan yang lain. Seyogyanya makanan untuk anak dipilihkan yang bergizi seimbang dari pelbagai sumber bahan makanan.
Dr. Luciana yang berbicara dalam acara talkshow “Sehat Bersama Menu Sehat” di Radio Sonora FM 92,0 Jakarta 2 maret 2007 itu menitip pesan: berikan ASI ekskulsif selama 6 bulan, ikuti dengan sabar perkembangan kemampuan makan anak dan bekali diri dengan pengetahuan gizi yang baik. Niscaya anak-anak anda akan tumbuh sehat dan cerdas.

(Menu Sehat Edisi 6/111/07)

Ibu dan Anak Sehat berkat Vitamin A

sumber : Gizi.net

Jumat, 17 September, 2004 oleh: Siswono
Gizi.net – Selama krisis ekonomi melanda Indonesia, insiden kurang
vitamin A (KVA) pada ibu dan balita di daerah miskin perkotaan
meningkat. Beberapa data menunjukkan hampir 10 juta balita menderita
KVA sub klinis, 60.000 di antaranya disertai dengan bercak bitot yang
terancam buta. Selain itu, di beberapa provinsi di Indonesia,
ditemukan kasus-kasus baru KVA yang terjadi pada balita bergizi buruk.

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), misalnya, pada tahun 2000
ditemukan beberapa kasus kekurangan vitamin A tingkat berat (X3).
Kondisi ini berbeda dengan Survei Nasional Xeroftalmia tahun 1978-
1980 yang tidak banyak menemukan kasus tersebut. Terlebih lagi pada
1994 Pemerintah Indonesia memperoleh piagam Helen Keller Award karena
dinilai berhasil menurunkan angka xeroftalmia dari 1,34 persen atau
sekitar tiga kali lebih tinggi dari ambang batas yang ditetapkan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1978 menjadi 0,33 persen
pada tahun 1992.

Sebagai kilas balik, dalam kurun waktu 1964-1965 dan pada tahun 1970-
an, Indonesia pernah dijuluki sebagai “home of xerophthalmia” karena
insiden xeroftalmia pada balita yang cukup tinggi. Menurut ahli gizi
Prof Dr Muhilal, saat itu dari 1.574 anak laki-laki berusia kurang
dari 8 tahun yang mengunjungi Rumah Sakit Undaan Surabaya, 497 anak
diantaranya (31,6 persen) menderita xeroftalmia. Di samping itu,
penelitian di lima desa di Kabupaten Semarang oleh Oey menemukan
insiden xeroftalmia berkisar 1,4 sampai 7,3 persen.

Xeroftalmia adalah suatu keadaan selaput ikat mata yang kering karena
kekurangan vitamin A, terkadang sampai jaringan selaput bening pada
mata rusak. Penyakit ini oleh Oey disebutkan sebagai penyebab utama
kebutaan pada anak-anak terutama pada anak prasekolah. Xeroftalmia
hanya salah satu dari wujud KVA. Ada konsekuensi lain yang terjadi
pada orang yang KVA, seperti buta senja (hemarofia), sel epitel
conjuctiva yang abnormal, tingginya kesakitan terutama diare dan
ISPA, tingginya kematian pada balita, rendahnya respons imun tubuh
dan pertumbuhan terganggu.

Hubungan antara vitamin A dan mortalitas anak balita sudah diteliti
di Aceh oleh Sommer dan kawan-kawan, yang dipublikasi “Lancet” pada
1986. Di situ diungkapkan bahwa pemberian vitamin A dosis tinggi
200.000 International unit (IU) setiap 6 bulan dapat menurunkan angka
kematian anak balita sekitar 36 persen. Penelitian tentang pemberian
vitamin A yang difortifikasi pada monosodium glutamat (MSG), kata
Muhilal, menunjukkan penurunan angka kematian balita sebesar 45
persen.

“Dua penelitian itu mengungkapkan bahwa penurunan angka kematian
balita karena intervensi vitamin A dapat dilakukan melalui dosis
tinggi setiap enam bulan maupun dosis rendah yang diberikan setiap
hari,” kata Muhilal.

Lalu, ada pula penelitian tentang pengaruh vitamin A terhadap sistem
imunitas tubuh yang dilakukan oleh Pulitbang Gizi, Rumah Sakit Mata
Cicendo Bandung, dan John Hopkins University. Pada penelitian ini
penderita xeroftalmia dan yang bukan penderita dibagi dalam dua
kelompok dan satu kelompok diberi vitamin A dosis tinggi, sedangkan
kelompok yang lain diberi placebo. Hasilnya, pemberian vitamin A
dosis 100.000 IU pada bayi berusia 6 bulan dapat mengurangi respons
imun terhadap campak bila bayi masih mempunyai imunitas maternal
(kekebalan yang diperoleh dari ibu). Karena itu dianjurkan memberi
vitamin A dosis 100.000 IU pada usia 8-9 bulan di mana imunitas
maternal terhadap campak sudah sangat kecil.

Kesehatan Ibu

Sekalipun manfaat pemberian vitamin A sangat besar untuk kesehatan
anak, tidak semua pihak memberi perhatian yang cukup. Misalnya di
Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengelola Program Gizi Dinas
Kesehatan Kota Kupang I Gusti Agung Ngurah Suarnawa SKM, menuturkan
untuk tahun 2004, belum ada bantuan dari donor internasional semacam
HKI maupun Unicef dalam pengadaan kapsul vitamin A. Pihak Dinas
Kesehatan Kota Kupang sudah mengusulkan 6.000 kapsul vitamin A ke
pemerintah kota tetapi belum disetujui karena pemerintah kota untuk
tahun 2004 tidak mengalokasikan dana untuk hal itu.

Program vitamin A di kota itu mengandalkan bantuan dari Helen Keller
Indonesia (HKI) dan Unicef. Kapsul vitamin A yang diperoleh dari
kedua lembaga itu didistribusikan secara gratis pada bulan Februari
dan Agustus. Kapsul vitamin A yang dibagikan di puskesmas dan
posyandu terdiri dari kapsul vitamin A berwarna biru dengan dosis
100.000 IU dan kapsul berwarna merah dengan dosis 200.000 IU. Pada
bulan itu juga dilakukan penyuluhan makanan bergizi kaya vitamin A
melalui radio dan penyuluhan keliling. Sasaran program, kata Gusti
Agung, adalah balita, bayi, ibu nifas. Kapsul berwarna merah untuk
balita dan ibu nifas, sedangkan kapsul berwarna biru untuk anak
berusia 6-11 bulan.

“Di Kupang belum ditemukan penderita xeroftalmia, karena memang tidak
ada surveilan. Surveilan hanya dilakukan pada penyakit malaria dan
diare. Cakupan kapsul vitamin A di Kota Kupang belum 100 persen
menjangkau balita, pada bulan Februari tahun 2003 saja cakupan
vitamin A 86,2 persen dan bulan Agustus cakupannya 83,6 persen,” ujar
Gusti Agung.

Vitamin A tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan anak saja. Vitamin A
juga berperan penting untuk kesehatan ibu yang baru melahirkan. Pada
ibu hamil dan menyusui vitamin A berperan penting. Karena, hal ini
terkait erat dengan kejadian anemia pada ibu, berat badan kurang,
kurang gizi, meningkatnya risiko infeksi dan penyakit reproduksi.
Serta, menurunkan kelangsungan hidup ibu sampai dua tahun setelah
melahirkan. Angka kecukupan gizi vitamin A di Indonesia untuk ibu
hamil menurut Buletin Kesehatan & Gizi edisi 1 Juni 2004 yang
diterbitkan HKI, adalah 500 retinol equivalent (RE) per hari.

Jumlah ini meningkat menjadi 700 RE per hari pada ibu hamil dan 850
RE pada saat si ibu menyusui. Berdasarkan data terbaru NSS, median
asupan vitamin A untuk ibu di Indonesia hanya 150 RE untuk ibu yang
berada di daerah kumuh perkotaan dan hanya 200 RE untuk ibu yang
tinggal di pedesaan. Dengan menghitung rata-rata masa menyusui 18-20
bulan untuk setiap anak dan tingkat fertilitas saat ini, diperkirakan
seorang ibu akan membutuhkan vitamin A yang tinggi pada 1/3 kurun
waktu masa usia subur. Hal ini terkait dengan air susu ibu (ASI),
yang merupakan sumber vitamin A yang terbaik untuk bayi. Oleh karena
itu, sangatlah penting bagi seorang ibu untuk meningkatkan asupan
makanan yang mengandung vitamin A agar kandungan vitamin itu pada ASI
meningkat.

PEMBARUAN/NANCY NAINGGOLAN

Panduan Kecukupan Gizi Harian Anak-anak

sumber : beingmom.org

Bagaimana saya tahu anak saya gizinya cukup?
Hal terbaik yang bisa anda lakukan adalah memberikannya makanan yang mencakup kelima kelompok makanan (biji-bijian, buah-buahan, sayuran, susu serta daging dan kacang-kacangan) setiap kali waktu makan. Mungkin anda tidak bisa memberikan jumlah sebagaimana direkomendasikan, namun jika anda dapat menyediakan bermacam-macam jenis makanan sehat, anak ada tetap akan mendapat apa yang ia butuhkan dalam periode yang lebih panjang, misalnya satu atau dua minggu.

Berapa besar porsi anak-anak?
Berdasarkan panduan makanan berdasarkan kebutuhan kalori untuk setiap kelompok usia yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian Amerika (USDA), anak usia 2 sampai 3 tahun direkomendasikan untuk mengkonsumsi 1000-1400 kalori tergantung pada tingkat kegiatannya. Untuk usia 4 tahun, kalori yang dibutuhkan meningkat menjadi 1200 sampai 2000 kalori per hari.
Di bawah ini adalah contoh berapa banyak anak-anak bisa memperoleh nutrisinya dari kelima kelompok makanan.

Biji-bijian (grains)
Biji-bijian mengandung serat yang bisa membantu pencernaan serta karbohidrat kompleks yang memberikan energi. Selain itu, grains juga merupakan sumber vitamin B yang baik.

Contoh Kebutuhan Harian Grain
Anak aktif usia 2-3 tahun
Roti 5 potong
Biskuit whole wheat 25 buah
Nasi atau pasta rebus 2 ½ mangkuk
Oatmeal yang sudah dimasak 2 ½ mangkuk

Anak aktif usia 4 tahun
Roti 6 potong
Biskuit whole wheat 30 buah
Nasi atau pasta rebus 3 mangkuk
Oatmeal yang sudah dimasak 3 mangkuk

Sayur-sayuran
Sayuran memberikan serat, vitamin C, A dan potassium. Selain itu, sebagian besar sayur merupakan antioksidan yang membantu menurukan resiko kanker dan penyakit jantung dalam usia dewasa. Contohnya :

Contoh Kebutuhan Harian Sayuran
Anak aktif usia 2-3 tahun
Brokoli yg sudah dimasak 1 ½ mangkuk
Saus tomat murni 1 ½ mangkuk

Anak aktif usia 4 tahun
Brokoli yg sudah dimasak 2 ½ mangkuk
Saus tomat murni 2 ½ mangkuk

Buah-buahan
Buah-buahan juga merupakan sumber serat, vitamin C dan A serta potassium. Selain itu, sebagian besar sayur merupakan antioksidan yang membantu menurukan resiko kanker dan penyakit jantung dalam usia dewasa

Contoh Kebutuhan Harian Buah
Anak usia 2-3 tahun yang aktif
Blueberri segar 1 ½ mangkuk
Jus jeruk murni 1 ½ mangkuk
Pisang yang besar 1 buah

Anak usia 4 tahun yang aktif
Blueberri segar 2 mangkuk
Jus jeruk murni 2 mangkuk
Pisang yang besar 2 buah

Susu (Kalsium)
Sebagian besar produk susu merupakan sumber kalsium yang baik, yang mendukung kuatnya tulang dan gigi. Produk susu juga merupakan sumber protein yang baik jika anak anda tidak suka makan daging.

Contoh Kebutuhan Harian Susu (Kalsium)
Anak aktif usia 2-3 tahun
Susu 2 gelas
Yogurt 2 gelas
Keju yg belum diproses 4 lembar
Pudding 2 mangkuk

Anak aktif usia 4 tahun
Susu 3 gelas
Yogurt 3 gelas
Keju yg belum diproses 6 lembar
Pudding 3 mangkuk

Daging dan Kacang-kacangan
Kategori ini termasuk semua jenis makan yang merupakan sumber protein, termasuk daging dan kacang-kacangan, serta ikan dan telur. Jenis makana ini memberikan zat besi, seng dan beberapa jenis vitamin B.

Contoh Kebutuhan Harian Daging dan Kacang-kacangan Anak aktif usia 2-3 tahun
Telur 4 buah
Selai kacang 4 sendok makan
Daging 12 potong
Kacang yang sudah dimasak 1 mangkuk

Anak aktif usia 4 tahun
Telur 5 ½ buah
Selai kacang 5 ½ sendok makan
Daging 16 potong
Kacang yang sudah dimasak 4 ¾ mangkuk

Lemak dan gula (permen)
Sama seperti orang dewasa, hanya maksimum 35 persen kalori harian anak-anak yang boleh berasal dari lemak.

Sumber : http://www.parentcenter.com

Agar Sarapan tak Jadi Masalah

sumber :http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1210566672,4606,

Agar Sarapan tak Jadi Masalah
Gizi.net – Sarapan kerap menjadi ‘tugas’ di pagi hari yang amat berat. Tak hanya anak-anak Indonesia. Di Amerika Serikat pun, menurut American Dietetic Association, lebih dari 40 persen anak perempuan dan 32 persen laki-laki melewatkan sarapan setiap harinya.

Meski menyuruh anak-anaknya sarapan, banyak juga orangtua yang bertanya-tanya: mengapa sih tidak sarapan jadi masalah? ”Kan waktu istirahat sekolah bisa makan camilan?” komentar seorang ibu.

Para ahli gizi memberi jawaban sederhana. Anak yang tak sarapan tidak mengonsumsi nutrien yang diperlukan tubuhnya untuk memproduksi energi yang diperlukan. Padahal, di sekolah anak membutuhkan energi untuk konsentrasi dan menyelesaikan tanggung jawab belajarnya.

Negara bagian Minnesota, AS, pernah mengadakan penelitian tentang korelasi antara makan pagi dan performa anak di sekolah. Hasilnya, ”anak-anak yang sarapan sebelum berangkat sekolah memiliki performa lebih baik dalam matematika dan membaca, meningkatkan rentang perhatian mereka, dan meningkatkan perilaku mereka secara keseluruhan.’

Ikut ayah dan ibu
Bagaimana cara sarapan bisa memengaruhi performa anak di sekolah? Para dokter anak di Boys Town Pediatrics melihat dengan sarapan maka energi yang cukup untuk memulai hari pun tersedia. Sarapan, kata mereka, akan menghilangkan gejala kelaparan seperti sakit kepala, letih, mengantuk, gelisah; membantu anak berpikir lebih cepat saat mengerjakan tugas sekolah dan merespons lebih jelas atas pertanyaan guru.

Sarapan, kata para dokter anak itu, juga memengaruhi performa mental anak, membuat mereka tak gampang kesal, membantu membuat mereka lebih tenang dan tak mudah cemas.

Secara fisik, anak yang rajin sarapan pun lebih fit. Menurut Boys Town Pediatrics, anak-anak itu cenderung makan nutrien penting untuk tumbuh sehat, termasuk zat besi, kalsium, serat, fosfor dan magnesium, juga vitamin-vitamin seperti riboflavin, vitamin A, C, dan B12. Mereka lebih bisa mengendalikan berat badan; memiliki tingkat kolesterol darah yang lebih rendah, jarang sakit perut di sekolah, dan jarang kena flu.

Orangtua bisa mendorong sang buah hati untuk membiasakan diri sarapan dengan memberikan contoh yang baik. Contoh terbaik adalah, selalu sarapan. Lihatlah keluarga presenter kondang, Erwin Parengkuan.

Sudah sejak lama Erwin, istrinya, Jana, dan anak mereka, Julio membiasakan hidup dengan selalu melakukan sarapan pagi. Dengan sarapan, Erwin bisa lebih fokus dalam melaksanakan semua aktivitasnya. Mereka terbiasa melakukan sarapan pada pukul 05.00 WIB.

”Memang itu waktu yang sangat tepat untuk melakukan sarapan. Karena aktivitas saya selalu dimulai pada pagi hari. Jadi, saya harus mencari waktu sepagi mungkin untuk melakukan sarapan,” ujar Erwin.

Biasanya saat sarapan, Erwin, Jana serta anaknya berkumpul di meja makan. Sembari sarapan, pagi itu biasanya didiskusikan juga rencana-rencana yang akan dilaksanakan pada hari itu.

Duduk bersama keluarga untuk sarapan setiap pagi adalah teladan yang baik bagi anak. Agar sarapan menjadi kegiatan tak terlewatkan, para dokter anak menyarankan orangtua untuk meletakkan makanan mudah dijangkau setiap pagi. Dalam keadaan tergesa-gesa sekalipun anak-anak tetap bisa menyambar makanannya.

Dan, agar kebiasaan sarapan lebih ‘meresap’ lagi para ayah bunda bisa melibatkan anak lebih jauh. Misalnya, meminta bantuan anak untuk merencanakan menu sarapan setiap pekan.

Cepat dan sehat
Sebagai seorang istri dan ibu, Jana terbilang sangat cekatan. Biasanya, untuk mengantisipasi keluarganya malas sarapan, ia membuat menu makanan yang bervariasi. ”Bisa dari keju, roti, telur atau mi,”ucap Jana. Menurut pakar gizi dan kuliner, Toeti Soenardi, cara yang dilakukan Jana tersebut sangat tepat. Karena biasanya, anggota keluarga akan malas melakukan sarapan karena berbagai alasan. ”Di antaranya karena waktu yang terbatas dan menu yang monoton,”ungkap Toeti.

Orang bilang, makan empat sehat lima sempurna sudah cukup dalam memenuhi kriteria gizi yang banyak. Namun, kata Toeti, metode itu saja tidak akan cukup ampuh untuk membawa anak pada kebiasaan hidup sehat. ”Biasakanlah anak dan keluarga untuk melakukan sarapan di pagi hari. Biasakan pula untuk membuat menu yang enak, cepat namun tetap sehat,” ungkap Toeti. Beberapa menu kombinasi yang bisa digunakan untuk meracik sarapan, adalah keju dan roti.

Dua makanan tersebut, menurut Toeti, sangat bagus karena di dalamnya sudah terkandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Beberapa contoh makanan olahan yang bisa dimakan saat waktu sarapan sangat terbatas di antaranya roti meises keju, sandwich keju, mi rebus, dan roti pisang keju.

Keempat jenis makanan itu, kata Toeti, adalah makanan yang paling sering dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja pada saat sarapan. Terutama, mereka yang tinggal di kota besar atau menengah. ”Makanan itu pula yang paling mudah diterima perut manusia saat pagi hari,”tutur dia.

Suplai lengkap
Jika memang menu roti dan keju masih dianggap asing dan cukup susah mencarinya, Toeti memberikan solusi lain. Menurut dia, sarapan dengan nasi putih goreng atau mi rebus pun, masih sama bagusnya. Asalkan, disertai dengan lauk pauk yang bisa memenuhi standar gizi.

Meski jarang dikonsumsi, menurut Toeti, sarapan dengan mi rebus pun cukup memberikan asupan gizi yang banyak. Dalam seporsi mi rebus komplet, sedikitnya terkandung 314 kalori dan 259 mg kalsium.

Gambaran lain tentang kandungan gizi bisa dilihat dari menu roti meises keju. Menurut Toeti, dalam menu tersebut sedikitnya terkandung 310 kalori dan 210 mg kalsium. ”Kandungan gizi seperti itu sudah cukup untuk menopang tingginya aktivitas anak kecil,”jelas dia.

Anda yang memiliki keluarga dan anak, sebaiknya memang harus membiasakan untuk memasok kebutuhan gizi keluarga melalui sarapan pagi. Untuk diketahui, sarapan yang baik dan memenuhi kriteria gizi adalah dengan menyuplai karbohidrat (55-65 %), protein (12-15 %), lemak (24-30 %), vitamin, dan mineral yang bisa diperoleh dari sayur atau buah.

Bagaimana menerapkan kandungan gizi itu? Menurut Toeti, itu dibutuhkan pemahaman yang cukup. Yang mungkin agak mudah diikuti adalah dengan memberikan suplai sayuran dan buah saat sarapan pagi.

”Untuk kandungan protein, karbohidrat, lemak dan vitamin, itu bisa didapat dari telur, nasi, daging, ikan, dan susu.” Karenanya, tinggal diramu saja kira-kira berapa kebutuhan sarapan pagi yang harus mengandung gizi di atas.

Satu hal yang biasanya selalu dilakukan oleh anak-anak dan orangtua pada saat sarapan pagi, yakni tidak menghabiskan makanan. Menurut Toeti, sarapan sangat penting untuk mengisi energi tubuh yang sudah terkuras habis pada saat tidur semalaman.”Biasakan untuk menghabiskan jatah sarapan pagi. Karena itu untuk menopang kebutuhan energi tubuh sepanjang hari,” tegas dia.

Melewatkan Sarapan? No, Way!
Ini alasan yang sering terlontar dari mulut anak saat melewatkan sarapannya: * ”Aku ketiduran” –Pasang alarm 15 menit lebih awal.
* ”Aku nggak lapar kalau pagi” — Minumlah susu, bisa juga dicampur buah, sebagai pengganti makan.
* ”Terburu-buru sih, nggak ada waktu makan” –Siapkan semua keperluan sekolah –seragam, buku-buku– pada malam hari.
* ”Aku nggak suka sarapan” –Makanlah sesuatu yang tidak biasa jadi menu sarapan di rumah, misalnya, pizza lebihan semalam dengan tambahan topping, sandwich, ayam goreng.
* ”Aku ingin langsing” –Melewati sarapan tak membuat tubuh kita jadi langsing. Kenyataannya, anak yang tidak sarapan cenderung makan lebih banyak kalori di siang hari karena itu akan menambah berat badannya.

(mus)
Republika Online – Minggu, 11 Mei 2008

Nutrisi Cukup, Anak pun Sehat dan Bahagia

sumber : http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1119847763,98411,

Nutrisi Cukup, Anak pun Sehat dan Bahagia
Gizi.net – KONVENSI Hak Anak (KHA) yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia sejak tahun 1990 menyatakan sehat adalah hak anak. Sehat di sini tidak hanya dalam pengertian fisik semata, melainkan juga kesehatan mental-sosial. Kebutuhan untuk menjadi bahagia, dalam hal ini sehat mental dan sosial, juga merupakan hak anak.

Bagaimana orangtua merespon kebutuhan ini? Perlu pengetahuan dan keterampilan orangtua agar anak tumbuh dan berkembang dengan sehat dan bahagia.

Anak yang bahagia, ujar, dr Tinuk Agung Meilany dari RSAB Harapan Kita, adalah anak yang bisa bernyanyi, tertawa, bebas berekspresi, serta tumbuh wajar sesuai kebutuhan dan minatnya. Menurutnya, untuk menjadi anak yang bahagia dan merasa puas pada dirinya sendiri perlu rangsangan yang cukup. Rangsangan ini akan diterima dengan optimal bila tubuh sehat dan hal ini perlu didukung nutrisi yang cukup dan seimbang.

Anak yang sehat, antara lain ditandai dengan aktif, ceria, memiliki selera makan yang baik, serta bisa bermain dan belajar. Berat badan naik setiap bulan dan perkembangan anak sesuai dengan usianya. Tinuk menyebut, agar seorang anak mampu menerima rangsangan dengan optimal, kebutuhan nutrisi atau zat gizi anak harus sejajar dengan pertumbuhan, aktivitas fisik, ukuran badan, energi yang dikeluarkan dan fase sakit.

“Keseimbangan zat gizi yang dikandung dalam komposisi, macam, maupun jumlahnya, harus sesuai dengan kebutuhan menurut berat badan ideal,” katanya.

Empat Golongan

Ada empat golongan makanan yang harus terdapat pada makanan anak sehari-hari. Keempat golongan itu adalah: makanan pokok, da ging dan telur, sayur dan buah, serta susu. Makanan pokok merupakan sumber karbohidrat, protein nabati, mineral serat, dan vitamin B. Daging dan telur mengandung protein, zat besi, vitamin A dan B. Dari sayur dan buah, kata Tinuk, diperoleh vitamin E, provitamin, serat. Sedangkan dari susu, anak akan mendapatkan berbagai zat gizi, antara lain kalsium, fosfor, vitamin A, B, dan D.

Selain keempat golongan makanan itu, anak juga memerlukan makanan tambahan yang kaya gizi. Menurut Tinuk, orangtua hendaknya mengatur jadwal makan anak. Artinya, orangtua jangan menunggu anaknya meminta makan. Namun tidak mudah membuat anak patuh terhadap jadwal makan yang sudah ditetapkan. Untuk mengatasi hal ini, perlu diciptakan suasana makan yang menyenangkan. Agar suasana menyenangkan, dari sisi fisik yang perlu diperhatikan adalah jadwal makan teratur, serta makanan tambahan diberikan dua jam sebelum atau sesudah makan. Peralatan makan seperti sendok dan gelas disesuaikan dengan anak. Demikian juga dengan meja dan kursi makan.

Di samping itu, emosi sosial pun perlu diperhatikan, seperti menu baru agar anak tidak merasa bosan, tidak mendikte atau memarahi anak, serta menu berbeda setiap hari. Tak kalah penting adalah orangtua mengajak dan mendampingi anak di meja makan.

Zat Gizi

Dijelaskan, beberapa zat gizi berperan dalam kerja otak, seperti asam aspartat yang terdapat pada kacang, kentang, telur, gandum. Kolin yang terdapat pada telur, hati, kedelai. Asam glutamat terdapat pada terigu dan kentang. Fenilalanin terdapat pada kedelai, almond, telur dan daging. Triptofan terdapat pada telur, daging, susu skim, pisang, susu, keju, serta, zat gizi tirosin yang banyak terdapat pada susu, daging, ikan, dan kacang-kacangan.

“Otak memerlukan glukosa, asam amino, lemak, vitamin dan mineral, yang diperoleh dari makanan. Bila kekurangan atau kelebihan akan berdampak pada sistem saraf,” kata Tinuk.

Dicontohkan, asam lemak esensial (omega oil) mempengaruhi fungsi otak berupa perilaku dan mood, kognitif, pergerakan, dan sensasi pada anak. Kekurangan asam lemak omega 3 menimbulkan masalah penglihatan, belajar, motivasi, serta motorik. Kekurangan omega 6 berdampak pada produksi neurotransmiter dan kemampuan sel saraf menggunakan glukosa. Sedangkan kekurangan zat besi menimbulkan gangguan pada selaput otak yang menyebabkan pendengaran terganggu, bicara terlambat, perilaku anak berubah dan penglihatan terganggu. Tinuk menegaskan, kecukupan gizi hendaknya dimulai dari masa kehamilan (janin).

Keterampilan

Agar anak sehat dan bahagia, gizi yang seimbang perlu didukung keterampilan orangtua menciptakan suasana supaya mental si anak pun sehat. Menurut psikolog Agustina Hendriati Psi MSc, ada lima keterampilan yang harus dimiliki orangtua agar hal itu tercapai. Pertama, orangtua mengenali ciri anak yang sehat dan bahagia. Kedua, orangtua mendorong anak mengekspresikan diri secara verbal. Ketiga, orangtua memberi kesempatan anak memilih, sambil mengajarkan anak membuat pilihan yang terbaik baginya.

Keempat, orangtua menyampaikan dan menerapkan batasan perilaku. Kelima, orangtua berjaga dan bekerja saat anak berperilaku positif.

Dikatakan, orangtua di kawasan Asia cenderung santai ketika anaknya “baik-baik” saja. Padahal, ketika itulah seharusnya orangtua harus bekerja, yakni menunjukkan penghargaan tulus dan mendorong agar si anak terus mempertahankan perilaku tersebut.

“Pada dasarnya semua orang ingin dihargai. Oleh karena itu mengembangkan anak yang sehat dan bahagia akan lebih mudah dilakukan dengan fokus pada perilaku positifnya,” kata Agustina.

Lebih jauh dikatakan, orangtua hendaknya menunjukkan atau menyampaikan harapannya yang realistis terhadap perilaku anak. Tidak hanya itu, orangtua juga harus menerapkan batasan perilaku mana yang dapat diterima dan yang tidak. Semakin dini orangtua memberlakukan hal ini dan konsisten, semakin mudah terlihat hasilnya.

Globalisasi berdampak pada perkembangan anak dan hubungan antara orangtua dan anak. Ada banyak rangsangan di dalam dan luar rumah yang diterima anak, misalnya, melalui televisi, radio, media cetak dan internet. Oleh karena itu, ujarnya, sangat baik jika sejak anak masih kecil, orangtua terbiasa menunjukkan adanya pilihan dan menjelaskan alasan dibalik keputusan yang dibuat orangtua.

Agustina menambahkan, orangtua juga perlu mendorong anak berekspresi secara verbal (berbicara), sekalipun anak bisa bereskpresi secara nonverbal, seperti menangis atau menunjuk. Orangtua yang terlalu sering mengatakan jangan atau tidak, akan menghambat ekspresi anak. (N-4)

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/

Gizi dan Pertumbuhan

Sumber : http://www.diskes.jabarprov.go.id/?mod=pubArtikel&idMenuKiri=10&idArtikel=139

Penyebab kurang gizi antara lain adalah pola makan yang salah, anak sering sakit, perhatian yang kurang.
Kurang gizi mengakibatkan daya tahan tubuh anak rendah, mudah terkena penyakit dan lebih lanjut lagi dapat menyebabkan kematian.

Apa yang harus diketahui oleh setipa keluarga dan warga masyarakat tentang gizi dan pertumbuhan ?

1. Anak harus tumbuh dengan baik dan mengalami pertambahan berat badan yang cukup. Berat badan anak harus ditimbang setiap bulan dari sejak lahir sampai dengan berusia 2 tahun. Apabila seorang anak tidak mengalami pertambahan berat yang cukup setiap bulannya, berarti ada sesuatu yang tidak benar telah menimpa anak tersebut.
2. Sampai dengan usia 6 bulan seorang anak hanya memerlukan ASI saja. Setelah berusia 6 bulan anak memerlukan makanan tambahan disamping ASI.
3. Anak memerlukan vitamin A untuk mencegah terkena penyakit dan kerusakan penglihatan. Vitamin A dapat diperoleh dari buah-buahan, sayur-mayur, telur, hasil peternakan, makanan yang diperkaya, ASI atau tambahan vitamin A sendiri.
4. Anak memerlukan makanan yang kaya akan zat besi untuk melindungi ketahanan fisik dan mentalnya. Sumber zat gizi besi adalah hati, daging, ikan, telur, dan makanan yang diperkaya zat besi atau vitamin zat besi.
5. Garam beryodium perlu dikonsumsi untuk mencegah anak dari masalah ketidakmampuan belajar dan gangguan perkembangan.
6. Selama sakit, anaka perlu diperhatikan keteraturan makannya. Setelah sembuh, perlu diberi makan satu porsi lebih banyak.

Apabila berat badan anak tidak cukup bertambah dalam setiap bulan, berarti :
– Anak perlu mendapatkan makanan yang lebih banyak dan bergizi
– Anak sakit
– Anak memerlukan perhatian dan perawatan

Anemia – kekurangan zat besi – dapat mengganggu perkembangan fisik dan mental. Beberapa ciri anemia antara lain :
– Pucat pada lidah, telapak tangan dan bibir bagian dalam.
– Kelelahan dan kesulitan bernafas.

Anemia merupakan gangguan gizi.

- Anemia pada bayi dan anak kecil dapat merusak intelektual.
– Anemia pada anak berusia dibawah 2 tahun dapat menyebabkan gangguan keseimbangan sehingga anak menjadi pendiam dan ragu-ragu. Hal ini akan membatasi kemampuan anak untuk bergaul dan memperlambat perkembangan intelektual anak.

Anemia terjadi pada saat kehamlan,
– Dapat meningkatkan kegawatan pendarahan,
– Meningkatkan risiko untuk terkena infeksi pada saat melahirkan dan
– Merupakan penyebab utama kematian ibu.

Zat Gizi untuk Pertumbuhan Fisik & Mental

sumber : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby

Makanan mempunyai pengaruh pada perkembangan fisik maupun mental anak. Susunan makanan seimbang yang baik untuk perkembangan fisik dan mental anak adalah yang mengandung zat – zat gizi berikut.

Karbohidrat atau hidrat arang
Sebagai sumber energi terdiri dari dua jenis, yaitu karbohidrat kompleks (beras, jagung, roti, makaroni, kentang, tepung beras, tepung maizena, tepung kacang hijau, havermut). Susu merupakan sumber karbohidrat di samping sumber utama protein.

Protein
Merupakan gizi utama untuk tumbuh secara normal. Protein didapat dari sumber makanan hewani, seperti susu, daging, ikan, ayam, keju, hati, dan telur. Juga bisa diperoleh dari sumber protein nabati seperti tahu, tempe, kacang kedelai, kacang hijau, dan kacang-kacangan lain. Sumber protein utama dalam makanan bayi adalah ASI dan susu.

Lemak
Merupakan sumber kalori yang penting dan menyediakan berbagai vitamin, seperti A,D,E,K. Air susu ibu (ASI) merupakan bahan makanan dengan komposisi asam lemak terbaik di antara bahan-bahan makanan yang lainnya, antara kain mengandung asam lemak omega-3 dan omega-6 yang dibutuhkan untuk perkembangan kecerdasan anak.

Vitamin
Diperlukan untuk mempertahankan kesehatan dan tumbuh kembang yang optimal. Vitamin A atau provitamin A banyak terdapat dalam susu, telur, ikan, tomat, wortel, labu kuning, bayam, kangkung dan sayuran berdaun hijau lainnya. Vitamin D terdapat antara lain dalam susu, telur dan minyak ikan. Vitamin E terdapat dalam serealia, minyak tumbuh-tumbuhan (minyak bunga matahari, minyak jagung), dan minyak ikan. Sedangkan vitamin B kompleks terdapat dalam roti, susu, daging, dan makanan hasil fregmentasi, seperti tempe. Vitamin C banyak terdapat dalam sayuran berdaun hijau, buah jeruk, limau, tomat, dan buah-buahan lain. Kepada bayi tidak perlu diberikan suplemen (tambahan) vitamin, kecuali kalau terjadi kelainan dan atas rekomendasi dokter.

Mineral
Berguna untuk pertumbuhan, mempertahankan jaringan serta mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Dua jenis mineral yang perlu dipenuhi dengan baik kecukupannya adalah zat besi dan kalsium. Sumber zat besi yang baik sekali adalah ASI, karena penyerapan zat besi adalah 5-10 kali lebih baik dari makanan lainnya. Sumber zat besi yang lain adalah, daging, ikan, hati ayam, serta dalam jumlah sedikit dari sayur-sayuran. Sedangkan sumber kalsium adalah ASI, susu sapi, dan hasil produk yang dihasilkan dari susu.

Sumber: Tabloid Ibu Anak