Diare : Diare Karena Antibiotik

sumber : http://www.sehatgroup.web.id/?p=1304

Diare karena antibiotik terjadi ketika antibiotik mengganggu keseimbangan antara bakteri “baik” dan “buruk” dalam saluran pencernaan,sehingga menyebabkan bakteri yang berbahaya dapat tumbuh melebihi jumlah seharusnya sehingga menyebabkan diare.

Sebagian besar diare karena antibiotik tidak berat dan berheti setelah anda menghentikan pemakaian antibiotik. Tetapi kadang-kadang Anda dapat mengalami colitis, radang usus besar, atau bentuk kolitis yang lebih berat yaitu kolitis pseudomembranosa. Keduanya dapat menyebabkan sakit perut, demam dan diare berdarah.

Terdapat tatalaksana yang efektif untuk diare ringa karena antibiotik dan kolitis karena antibiotik. . Selain itu dengan mengonsumsi suplemen bakteri baik atau makan yoghurt dapat mengurangi gejala atau membantu mencegah diare karena antibiotik.

Gejala

Diare karena antibiotik memberikan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi dari ringan sampai berat. Umumnya Anda hanya akan mengalami sedikit perubahan jumlah bakteri dalam saluran pencernaan Anda, yang dapat menyebabkan tinja menjadi lunak atau frekuensi BAB lebih sering dari biasanya.

Gejala ini umumnya muncul dalam waktu lima sampai 10 hari setelah Anda memulai terapi antibiotik dan berakhir dalam waktu dua minggu setelah anda berhenti minum antibiotik.
Ketika pertumbuhan bakteri berbahaya berlebih maka Anda dapat mengalami tanda dan gejala kolitis atau kolitis pseudomembranosa, seperti:

* diare berair
* sakit perut dan kram
* Demam, sering lebih tinggi dari 101 F (38,3 C)
* nanah di tinja
* darah di tinja
* Mual
* Dehidrasi

Sebagian besar orang mengalami perbaikan dalam dua minggu setelah memulai pengobatan untuk kolitis atau kolitis pseudomembranosa. Namun, bila gejal muncul kembali dalam waktu satu bulan setelah pengobatan awal maka Anda mungkin perlu mendapat pengobatan kembali.

Penyebab

Saluran pencernaan Anda adalah rumah bagi jutaan mikroorganisme (flora usus), termasuk lebih dari 500 jenis bakteri. Banyak bakteri ini bermanfaat bagi tubuh, melakukan fungsi-fungsi penting, seperti menghasilkan vitamin tertentu, merangsang sistem kekebalan tubuh, dan membantu melindungi Anda dari virus dan bakteri berbahaya.

Tapi beberapa bakteri yang biasanya menghuni saluran pencernaan Anda ada yang berpotensi berbahaya. Namun jumlah mereka biasanya dikontrol oleh jumlah bakteri lain yang menguntungkan di usus. Keseimbangan diantara keduanya dapat terganggu oleh penyakit, obat atau faktor lainnya.

Antibiotik dapat sangat mengganggu flora usus, bakteri yang biasanya hidup di usus besar, karena mereka menghancurkan bakteri yang menguntungkan bersama bakteri yang potensial berbahaya. Tanpa jumlah yang cukup dari bakteri yang “baik” maka bakteri yang “buruk” yang resisten terhadap antibiotik yang Anda minum dapat tumbuh di luar kendali, menghasilkan racun yang dapat merusak dinding usus dan memicu peradangan.

Antibiotik telah menyelamatkan jutaan nyawa. Namun seperti semua obat-obatan, antibiotik juga memiliki efek samping. Dan salah satu yang paling umum adalah diare karena antibiotik, yang mengenai hingga satu dari lima orang yang menerima terapi antibiotik.

Penyebab tersering
Bakteri bertanggung jawab untuk hampir semua kasus kolitis pseudomembranosa dan diare karena antibiotik yang berat adalah Clostridium difficile. Sebagian besar orang memperoleh infeksi selama dirawat di rumah sakit atau tempat perawatan setelah menerima antibiotik.

Sebetulnya sebagian besar orang yang dirawat di rumah sakit terkena C. difficile, tetapi bakteri ini hanya menyebabkan masalah pada orang yang mendapat pengobatan dengan antibiotik. Bakteri ini kemudian tumbuh di luar kendali dan menyebabkan diare yang berat serta dapat berisiko megnakibatkan komplikasi yang mengancam jiwa.

Antibiotik yang menyebabkan diare?
Hampir semua antibiotik dapat menyebabkan diare karena antibiotik, kolitis atau kolitis pseudomembranosa. Penyebab yang paling sering adalah ampisilin, klindamisin dan cephalosporins seperti cefpodoxime.

Kadang-kadang erythromycin, quinolones (Ciprofoxacin, Floxin) dan tetrasiklin juga dapat menyebabkan diare karena antibiotik. Diare karena antibiotik tetap dapat terjadi baik anda menggunakan antibiotik minum atau suntik.

Efek lain antibiotik
Selain mengganggu keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan Anda, antibiotik juga dapat mempengaruhi :

* kecepatan pencernaan. Antibiotik, seperti eritromisin, dapat menyebabkan makanan terlalu cepat untuk meninggalkan lambung, sehingga menyebabkan mual dan muntah. Antibiotik lain dapat meningkatkan kontraksi usus, mempercepat laju makanan melalui usus halus sehingga berperan terhadap diare.
* pemecahan makanan. Antibiotik dapat mempengaruhi cara tubuh memetabolisme asam lemak.

Faktor risiko

Siapa pun yang menjalani terapi antibiotik berisiko mengalami diare karena antibiotik. Tetapi yang lebih berisio adalah :

* orang lanjut tua
* memiliki riwayat operasi pada saluran pencernaan
* riwayat baru dirawat di rumah sakit atau panti jompo
* memiliki penyakit yang serius, seperti kanker atau penyakit peradangan usus (inflammatory bowel disease)

Kapan harus menghubungi dokter

Hubungi dokter segera jika Anda mengalami tanda-tanda dan gejala berikut:

* Demam
* sakit perut yang berat
* Nanah atau darah dalam tinja

Tanda dan gejala ini dapat menunjukkan beberapa kondisi, mulai dari virus, bakteri atau infeksi parasit sampai inflammatory bowel diasese, seperti kolitis ulserativa atau penyakit Crohn
Namun, jika Anda sedang minum antibiotik atau baru saja selesai terapi antibiotik, mungkin Anda mengalami diare karena antibiotik. Dokter Anda dapat melakukan tes untuk menentukan penyebab pasti masalah Anda.

Tes dan diagnosis

Untuk membantu mendiagnosis terkait antibiotik diare, dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan Anda, termasuk apakah Anda sudah dirawat di rumah sakit baru-baru ini atau terapi antibiotik. Jika gejala yang anda alami cukup berat, kemungkinan Anda juga akan diminta meakukan pemeriksaan tinja.

Tinja diperiksa di laboratorium ada tidaknya C. difficile. Dalam beberapa kasus, hasil tes laboratorium adalah negatif palsu. Ini berarti bahwa meskipun sebenarnya terdapat C. difficile dalam saluran pencernaan Anda,namun tidak terdeteksi oleh tes. Tes dapat diulang untuk memberikan hasil yang lebih akurat.

Komplikasi

Diare karena Antibiotik yang ringan cenderung tidak menimbulkan masalah. Tetapi kolitis pseudomembranosa dapat mengakibatkan komplikasi yang berbahaya, termasuk:

* lubang di usus (perforasi usus). Ini hasil dari kerusakan pada lapisan usus besar Anda. Risiko terbesar dari perforasi usus adalah bahwa bakteri dari usus Anda selanjutnya akan menginfeksi rongga perut (peritonitis).
* Toxic megacolon. Dalam keadaan ini, usus besar Anda tidak mampu untuk mengeluarkan gas dan tinja, sehingga menjadi sangat buncit (megacolon). Tanda dan gejala toxic megacolon meliputi sakit perut dan membesar, demam dan kelemahan. Jika tidak diobati, usus besar Anda dapat pecah, menyebabkan bakteri dari usus besar anda memasuki rongga perut Anda. Usus besar yang pecah memerlukan operasi darurat dan dapat menyebabkan kematian.
* Dehidrasi. Diare berat dapat menyebabkan hilangnya cairan dan elektrolit. Dehidrasi berat dapat menyebabkan kejang-kejang dan syok. Tanda dan gejala dari dehidrasi adalah mulut sangat kering, haus, buang air kecil sedikit atau tidak sama sekali, dan kelemahan.

Tatalaksana

Diare ringan
Jika Anda mengalami diare ringan, gejala yang Anda alami akan hilang dalam beberapa hari sampai dua minggu setelah penggunaan antibiotik selesai. Sementara itu, dokter anda dapat merekomendasikan minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi dan menghindari makanan yang dapat memperparah gejala anda. Bila diare lebih parah, maka dokter mungkin menghentikan terapi antibiotik dan menunggu diare menghilang.

Diare berat
Dalam kasus-kasus diare karena antibiotik yang sangat berat, kolitis atau kolitis pseudomembranosa, kemungkinan Anda akan tatalaksana dengan obat metronidazol (flagyl), dalam bentuk tablet selama 10 hari. Jika metronidazol tidak efektif, atau Anda sedang hamil atau menyusui, Anda akan menerima obat lain, vankomisin (Vancocin).

Vankomisin dan metronidazol adalah antibiotik yang efektif terhadap C. difficile. Vankomisin pernah menjadi obat pilihan pertama untuk mengobati diare karena antibiotik, tetapi sangat mahal dan sekarang disimpan untuk kasus-kasus yang paling resisten. Namun, vankomisin dianjurkan untuk ibu hamil dan menyusui karena metronidazol tidak terbukti aman pada janin dan bayi.

Pencegahan

Saran berikut dapat membantu mencegah diare karena antibiotik atau mengurangi keparahannya:

* Gunakan antibiotik hanya bila Anda dan dokter Anda merasa itu benar-benar diperlukan. Perlu diketahui bahwa antibiotik tidak akan membantu infeksi virus, seperti pilek dan flu.
* Gunakan antibiotik sesuai yang diresepkan. Tidak meningkatkan dosis, menggandakan dosis saat dosis terlewat atau menggunakan obat lebih lama daripada yang dokter instruksikan.

Tindakan di rumah

Jika Anda mengalami diare karena antibiotik, kolitis atau kolitis pseudomembranosa, perubahan pola makan ini dapat membantu meringankan gejala:

* Minum banyak cairan. Air adalah yang terbaik, cairan dengan natrium dan kalium (elektrolit) dapat bermanfaat juga (cairan rehidrasi oral). Hindari minuman berkarbonasi, jus jeruk, alkohol dan minuman berkafein, seperti kopi, teh dan cola, yang dapat memperparah gejala anda.
* Utamakan makanan yang lembut, lunak, mudah dicerna. Ini termasuk beras, kentang panggang, yoghurt dan pisang. Hal terbaik untuk menghindari jus serta produk turunan susu karena mereka bisa membuat diare lebih buruk.
* Cobalah makan beberapa makanan kecil. makan cemilan beberapa kali dibandingkan hanya dua atau tiga kali makan besar. Porsi yang lebih kecil lebih mudah dicerna.
* Hindari makanan tertentu. Hindari makanaan pedas, berlemak, atau makanan yang digoreng dan makanan lainnya yang membuat gejala lebih buruk.

Juga, hubungi dokter Anda terlebih dahulu sebelum mengambil obat anti diare, yang dapat mengganggu kemampuan tubuh Anda untuk menghilangkan racun dan mengakibatkan komplikasi serius.(YSK)

Bahan bacaan :

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/diarrhea.html

Diare : Shigella

SUMBER : http://www.sehatgroup.web.id/?p=1311

Shigella adalah bakteri yang dapat menginfeksi saluran pencernaan dan menyebabkan gejala mulai dari diare, nyeri perut, muntah, dan mual, sampai komplikasi yang lebih serius. Infeksi ini disebut Shigellosis, terkadang dapat menghilang dalam perjalanan penyakitnya, antibiotik dapat mempersingkat perjalanan penyakit.

Shigellosis, yang paling umum terjadi dalam musim panas, umumnya mengenai anak-anak usia 2-4 tahun, dan jarang menginfeksi bayi kurang dari 6 bulan.

Infeksi ini sangat menular dan dapat dicegah dengan cuci tangan yang baik.

Tanda dan Gejala
Bakteri Shigella menghasilkan racun yang dapat menyerang permukaan usus besar, menyebabkan pembengkakan, luka pada dinding usus, dan diare berdarah.

Keparahan diare pada Shigellosis berbeda dari diare biasa. Pada anak-anak dengan Shigellosis, pertama kali buang air besar besar sering dan berair. Kemudian buang air besar mungkin lebih sedikit, tetapi terdapat darah dan lendir di dalamnya.

Gejala lain Shigellosis termasuk:

* Nyeri perut
* Demam tinggi
* Hilangnya nafsu makan
* Mual dan muntah
* nyeri saat buang air besar

Dalam kasus Shigellosis yang sangat parah, seseorang mungkin mengalami kejang, kaku kuduk, sakit kepala, kelelahan, dan kebingungan. Shigellosis juga dapat menyebabkan dehidrasi dan komplikasi lain yang jarang terjadi, seperti radang sendi, ruam kulit, dan gagal ginjal.

Beberapa anak dengan kasus Shigellosis yang berat mungkin perlu dirawat di rumah sakit.

Penularan

Shigellosis sangat menular. Seseorang dapat terinfeksi melalui kontak dengan sesuatu yang terkontaminasi oleh tinja dari orang yang terinfeksi. Ini termasuk mainan, permukaan di toilet, dan bahkan makanan yang disiapkan oleh seseorang yang terinfeksi. Misalnya, anak-anak yang menyentuh permukaan yang terkontaminasi oleh shigella seperti toilet atau mainan dan kemudian memasukkan jari-jari mereka di mulut maka mereka bisa menjadi terinfeksi. Shigella bahkan dapat dibawa dan disebarkan oleh lalat yang kontak dengan tinja yang terinfeksi.

Karena tidak membutuhkan banyak bakteri Shigella untuk menyebabkan infeksi maka penyakit dapat menyebar dengan mudah dalam keluarga dan penampungan anak. Bakteri mungkin juga tersebar di sumber air di daerahdengan sanitasi yang buruk. Shigella masih dapat disebarkan dalam 4 minggu setelah gejala penyakit selesai (walaupun pengobatan antibiotik dapat mengurangi pengeluaran bakteri Shigella di tinja).

Pencegahan

Cara terbaik untuk mencegah penyebaran Shigella adalah dengan sering mencuci tangan yang bersih dengan sabun, terutama setelah menggunakan toilet dan sebelum mereka makan. Hal ini terutama penting dalam perawatan anak.

Jika Anda merawat anak yang mengalami diare, cuci tangan sebelum menyentuh orang lain dan sebelum memegang makanan. (Siapa pun dengan diare sebaiknya tidak menyiapkan makanan bagi orang lain.) Pastikan untuk sering membersihkan dan membersihkan toilet yang digunakan oleh seseorang dengan Shigellosis.

Popok anak dengan Shigellosis harus dibuang dalam tong sampah yang tertutup, dan bekas popok harus dibersihkan dengan disinfektan setelah digunakan. Anak-anak (terutama mereka yang masih menggunakan popok) dengan Shigellosis atau dengan diare dari setiap penyebab harus dijauhkan dari anak-anak lain.

Penanganan, penyimpanan, dan persiapan makanan juga dapat membantu mencegah infeksi Shigella. Makanan dingin harus disimpan dingin dan makanan panas harus disimpan panas untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

Diagnosis dan Pengobatan

Untuk mengkonfirmasi diagnosis Shigellosis, dokter akan mengambil sampel tinja dari anak Anda yang akan diuji untuk bakteri Shigella. Tes darah dan tes lainnya juga dapat menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari gejala, terutama jika anak Anda memiliki sejumlah besar darah dalam tinja.

Beberapa kasus Shigellosis tidak memerlukan pengobatan, tetapi antibiotik akan diberikan untuk memperpendek penyakit dan untuk mencegah penyebaran bakteri kepada orang lain.

Jika dokter memberikan resep antibiotik sesuai diagnosis maka berikan mereka sesuai dosis. Hindari pemberian obat bebas untuk muntah-muntah atau diare, karena mereka dapat memperpanjang penyakit. Acetaminophen (parasetamol) dapat diberikan untuk mengurangi demam dan membuat anak Anda lebih nyaman.

Untuk mencegah dehidrasi, ikuti petunjuk dokter Anda tentang apa yang anak Anda harus makan dan minum. Dokter anda dapat merekomendasikan minuman khusus yang disebut cairan rehidrasi oral, atau CRO (seperti Pedialyte) untuk menggantikan cairan tubuh dengan cepat, terutama jika diare telah berlangsung selama 2 atau 3 hari atau lebih.

Anak-anak yang mengalami dehidrasi sedang-berat atau yang memiliki penyakit lain yang lebih serius mungkin perlu dirawat di rumah sakit untuk dipantau dan mendapat tatalaksana seperti cairan infus atau antibiotik.

Kapan Harus Menghubungi Dokter

Hubungi dokter jika anak Anda mempunyai tanda-tanda infeksi Shigella, termasuk diare dengan darah atau lendir, disertai dengan sakit perut, mual dan muntah, atau demam tinggi.

Anak-anak dengan diare dapat dengan cepat mengalami dehidrasi, yang dapat mengakibatkan komplikasi yang serius. Tanda-tanda dehidrasi meliputi:

* Haus
* rewel
* gelisah
* penurunan kesadaran (sulit dibangunkan)
* Mulut,lidah, dan bibir kering
* Mata cekung
* Popok kering selama beberapa jam pada bayi atau jarang BAK

Jika Anda melihat tanda-tanda ini, hubungi dokter segera. (YSK)

Bahan bacaan : Shigellosis; Joel Klein, MD

http://kidshealth.org/PageManager.jsp?dn=KidsHealth&lic=1&ps=107&cat_id=20048&article_set=23014

Diare : Amebiasis

SUMBER : http://www.sehatgroup.web.id/?p=1314

Apa Amebiasis?

Amebiasis adalah penyakit di saluran cerna yang biasanya ditularkan ketika seseorang makan atau minum sesuatu yang terkontaminasi dengan parasit yang disebut Entamoeba histolytica (E. histolytica). Parasit ini adalah amuba, sebuah organisme bersel tunggal. Untuk itu penyakit ini disebut amebiasis.

Dalam banyak kasus, parasit tinggal di usus besar seseorang tanpa menyebabkan gejala apapun. Tapi terkadang parasit ini menyerang permukaan usus besar sehingga menyebabkan diare berdarah, sakit perut, kram, mual, kehilangan nafsu makan, atau demam. Dalam kasus yang jarang terjadi, parasit ini dapat menyebar ke organ-organ lain seperti hati, paru-paru, dan otak.

Amebiasis umumnya terjadi di daerah yang padat dengan sanitasi yang tidak memadai. Penyakit ini umum terjadi di negara berkembang, termasuk Afrika, Amerika Latin, India, dan Asia Tenggara.

Tanda dan Gejala

Sebagian besar anak-anak yang mengalami amebiasis memiliki gejala minimal atau tanpa gejala. Ketika anak-anak menjadi sakit, mereka merasakan nyeri perut yang mulai perlahan-lahan, bersamaan dengan buang air besar yang lebih sering dengan tinja lunak atau cair, kram, mual, dan hilangnya nafsu makan. Dapat pula demam dan tinja berdarah.

Pada beberapa orang, gejala amebiasis dapat dimulai dalam beberapa hari sampai minggu setelah menelan makanan atau air yang tercemar oleh amoeba. Pada orang lainnya, gejala amebiasis dapat memerlukan waktu berbulan-bulan untuk muncul atau tidak pernah muncul sama sekali.

Penularan
Amebiasis merupakan penyakit menular. Pada keadaan lingkungan yang tidak sehat dan kebersihan yang buruk maka infeksi menular dari satu orang ke lainnya sangat mungkin terjadi.
Seseorang yang membawa amoeba di ususnya (carier) dapat menularkan infeksi kepada orang lain melalui tinja. Ketika tinja yang terinfeksi mengkontaminasi makanan atau persediaan air, amebiasis dapat menyebar dengan cepat ke banyak orang sekaligus. Hal ini terutama berlaku di negara-negara berkembang di mana sumber air minum dapat terkontaminasi.

Amebiasis juga dapat menyebar karena cuci tangan yang tidak bersih.

Pencegahan

Tidak ada vaksin untuk mencegah amebiasis.
Karena amoebas dapat mengkontaminasi makanan dan air maka Anda dapat membantu mencegah dengan bersikap hati-hati tentang apa yang Anda makan dan minum. Aturan yang baik tentang makanan adalah dengan memasaknya, merebusnya, mengupasnya, atau bila tidak mungkin maka lupakan makanan tersebut sama sekali.
Perawatan

Jika dokter Anda mencurigai bahwa anak Anda telah amebiasis, Anda mungkin diminta untuk mengumpulkan sampel tinja.

Kapan Harus Menghubungi Dokter

Hubungi dokter jika anak Anda mempunyai tanda-tanda atau gejala amebiasis, termasuk:

* Diare dengan darah atau lendir
* Sakit perut
* Demam
* perut membuncit
* Rasa sakit atau nyeri di daerah hati (di bawah iga di sebelah kanan)
(YSK)

Bahan bacaan : Amebiasis; Joel Klein, MD

http://kidshealth.org/PageManager.jsp?dn=KidsHealth&lic=1&ps=107&cat_id=20045&article_set=22744

Diet BRATY, mitos atau bukan?

sumber : http://milissehat.web.id/?p=1862

Diet BRAT dikenal sebagai bagian dari tatalaksana diare. Anak-anak dengan diare tidak dianjurkan makanan lain selain BRAT (Banana = pisang, Rice= nasi, Applesauce = saus apel, Toast = Roti). Apakah diet BRAT ini masih digunakan hingga sekarang?
Pisang mengandung tinggi kalium dan serat yang tahan terhadap enzim amilase. Pada saat diare, tubuh banyak mengeluarkan cairan dan elektrolit terutama kalium. Kekurangan kalium sering menjadi komplikasi pada diare. Nasi (kadang diberikan dalam bentuk air tajin) dan roti mengandung karbohidrat kompleks dengan daya tarik air yang rendah sehingga tidak menyebabkan tinja menjadi encer. Nasi dianggap memiliki zat anti sekretorik (mencegah pengeluaran air dari usus besar). Apel lebih terkenal di Negara empat musim, mengandung pectin yang dapat mengeraskan tinja.
Saat ini istilah BRAT diet sering ditambahkan dengan Yoghurt, menjadi BRATY diet. Yoghurt dianggap mengandung probiotik yaitu bakteri yang dapat menguntungkan saluran cerna. Bakteri ini akan berkompetisi dengan mikroorganisme pathogen (penyebab penyakit) dan mempercepat kesembuhan diare. Rasionalisasi penggunaan probiotik dapat dibaca pada artikel terpisah.
Diet BRAT terbukti menurunkan frekuensi diare dan mengentalkan tinja, parameter ini dipakai untuk menilai kesembuhan diare tanpa memperhitungkan status dehidrasi. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, tatalaksana diare saat ini tidak lagi bertujuan untuk mengurangi frekuensi diare ataupun mengentalkan tinja, tetapi untuk mencegah dehidrasi.
Sejak ditelitinya mekanisme penyerapan elektrolit dan air dalam saluran cerna pada anak diare , cairan rehidrasi oral dikembangkan (sekitar tahun 1940an), dan menjadi terapi utama pada diare. Saat ini, tatalaksana nutrisi yang dianjurkan AAP dan WHO pada anak diare adalah “early feeding” yaitu tidak memuasakan anak, memberikan makan seperti biasa. Pembatasan makanan saat diare dan hanya memberikan BRAT saja dinilai tidak efektif karena diet BRAT memiliki kalori yang rendah.
Berikut adalah panduan pemberian nutrisi pada anak diare:
– Jangan puasakan anak
– Jika anak masih menyusu, lanjutkan ASI.
– Jika muntah, tunggu 10 menit lalu berikan makan/minum sedikit-sedikit tapi lebih sering (setiap 2-3 jam)
– Tidak perlu mengganti susu dengan susu rendah/bebas laktosa, susu dapat dicampur dengan sereal atau makanan lain.
– Lanjutkan makan seperti biasa sesuai dengan usia (feeding of age-appropriate diet), makan dapat diinterupsi untuk pemberian oralit. Utamakan pemberian oralit pada anak diare.
– Pada anak dengan diare hebat disertai dehidrasi berat, modifikasi diet perlu dilakukan dibawah pengawasan tenaga medis.
– Hindari rehidrasi dengan cairan tinggi gula dan soda.
Sebagai kesimpulan, anak dengan diare sangat rentan terhadap dehidrasi dan kekurangan zat gizi. Pemberian makan dan minum sangat penting untuk mencegah dehidrasi, malnutrisi dan mempercepat pemulihan. Pisang, apel, nasi, roti adalah bagian dalam makanan sehari-hari, semuanya dapat diberikan kepada anak, namun jangan membatasi makan anak. Tidak ada anjuran khusus diet pada anak diare, berikan makan seperti biasa sesuai usia. (win)
Sumber :
– BRAT diet, Emergency Medicine News.
– Managing acute gastroenteritis among children, CDC
– The BRAT diet for acute diarrhea in children: should it be used? Pediatric Gastroenterology.
– Hospital care in children, WHO

Cara Mengatasi Diare Dengan Tepat

sumber : http://www.kalbe.co.id/health-news/20415/cara-mengatasi-diare-dengan-tepat.html

Kalbe.co.id – Biasanya diare pada anak-anak dianggap suatu hal yang enteng ,sehingga ketika datang kedokter sudah terlambat anak kekurangan cairan, lemas, hingga dehidrasi berat. Padahal masalah diare sebetulnya dapat diatasi dirumah.

Diare dapat menyerang semua kalangan baik kaya ataupun miskin. Pada umumnya bayi berumur kurang dari 1 bulan sudah dinyatakan diare jika frekuensi ‘pup”-nya lebih dari empat kali sehari. Kebanyakan penyebab diare adalah rotavirus. Virus tersebut masuk melalui mulut dan penularannya melalui kontaminasi tangan, botol, alat makan. Orang tua harus mulai mewaspadai jika anak mulai ‘pup’-nya tidak normal, karena diare anak mulai lemas kemudian ditandai dengan demam misal suhu lebih 39,55 0C. Ciri-ciri diare rotavirus biasanya bau pup-nya lebih asam, berair, anus kadang ikut memerah, BAB berbusa, kentut lebih banyak, karena gas tinggi.

Stop memberikan antibiotika, kerena virus tidak membutuhkan antibiotika karena justru akan memperburuk keseimbangan bakteri usus.

Yang paling penting adalah rehidrasi, dengan memberikan cairan secukupnya yaitu oralit atau pedialit. Metode pemberian dengan small frekuensi, misalnya pemberian dua sendok untuk tiap dua menit, air tajin juga ampuh untuk mengatasi diare.

Anak yang diare tetap diberikan asupan makanan, seperti hari biasanya dan jangan lupa susu yang tidak mengandung laktosa ,hanya perlu dihindari makanan berserat dan manis seperti buah melon, pepaya, jeruk dan sayur. Berikan saja buah pisang.Makanan penting karena untuk pembentukan tubuh dan memperbaiki jaringan usus agar bisa pulih.

Pemberian ASI tetap diberikan, karena pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, sangat jarang, bahkan tidak terkena diare.

Yoghurt juga dapat menjadi alternatif mengatasi diare ,yang perlu diperhatikan adalah kualitas yoghurt. Menurut standar internasional harus mengandung maksimum 10 koliform per gram dan 100 kapang atau khamir per gram, selain itu tidak boleh mengandung lebih dari 2% senyawa pembentuk tekstur (penstabil, pembentuk gel, pengental atau pengemulsi), asam sitrat, pewarna makanan, pengawet makanan yang diizinkan. Bakteri baik atau probiotik akan menghasilkan antibiotika alami, yang membantu keutuhan usus, proses metabolisme, dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Diare

sumber : http://milissehat.web.id/

APA ITU DIARE

Diare atau gastroenteritis (GE) adalah suatu infeksi usus yang menyebabkan keadaan feses bayi encer dan/atau berair, dengan frekuensi lebih dari 3 kali perhari, dan kadang disertai muntah. Muntah dapat berlangsung singkat, namun diare bisa berlanjut sampai sepuluh hari.Pada banyak kasus, pengobatan tidak diperlukan. Bayi usia sampai enam bulan dengan diare dapat terlihat sangat sakit, akibat terlalu banyak cairan yang dikeluarkannya.

JENIS DIARE

Penatalaksanaan diare bergantung pada jenis klinis penyakitnya, yang dengan mudah ditentukan saat anak pertama kali sakit. Pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan. Empat jenis klinis diare antara lain:

a. Diare akut bercampur air (termasuk kolera) yang berlangsung selama beberapa jam/hari: bahaya utamanya adalah dehidrasi, juga penurunan berat badan jika tidak diberikan makan/minum

b. Diare akut bercampur darah (disentri): bahaya utama adalah kerusakan usus halus (intestinum), sepsis (infeksi bakteri dalam darah) dan malnutrisi (kurang gizi), dan komplikasi lain termasuk dehidrasi.

c. Diare persisten (berlangsung selama 14 hari atau lebih lama): bahaya utama adalah malnutrisi (kurang gizi) dan infeksi serius di luar usus halus, dehidrasi juga bisa terjadi.

d. Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor): bahaya utama adalah infeksi sistemik (menyeluruh) berat, dehidrasi, gagal jantung, serta defisiensi (kekurangan) vitamin dan mineral.
MENGAPA DIARE BERBAHAYA?

Diare menyebabkan kehilangan garam (natrium) dan air secara cepat, yang sangat penting untuk hidup. Jika air dan garam tidak digantikan cepat, tubuh akan mengalami dehidrasi. Kematian terjadi jika kehilangan sampai 10% cairan tubuh. Diare berat dapat menyebabkan kematian.

PENATALAKSANAAN

Anak dengan diare ringan dapat dirawat di rumah. Penatalaksanaan yang utama adalah menjaga agar asupan cairannya tercukupi, yaitu dengan memastikan anak tetap minum. Cairan ini dibutuhkan untuk menggantikan cairan yang hilang lewat muntah ataupun diare. Cairan sangat penting untuk diberikan, bahkan bila diare bertambah buruk.

Jangan berikan obat yang dapat mengurangi muntah atau diare. Obat-obatan itu tidak berguna dan berbahaya.

Berikan sedikit cairan namun sering. Berikan cairan semulut penuh setiap 15 menit sekali, hal ini baik diberikan untuk anak anda yang sering muntah.

HAL PENTING YANG HARUS DIINGAT

* Bayi dan anak kecil mudah mengalami dehidrasi, oleh karena itu mereka butuh cairan yang diberikan sedikit namun sering.
* Bayi berusia di bawah enam bulan dengan diare perlu diperiksa oleh dokter setelah 6-12 jam penanganan diare.
* Beri minum setiap kali bayi muntah. Tetap berikan ASI untuk bayi yang masih menyusui. Bagi bayi yang minum susu formula, susu tetap diberikan sampai lebih dari 12-24 jam.
* Berikan anak yang lebih besar satu cangkir (150-200 ml) cairan untuk setiap muntah banyak atau diare.
* Teruskan pemberian makanan jika anak anda masih mau makan. Jangan sampai anak tidak mendapat asupan makanan sama sekali dalam 24 jam.
* Bayi atau anak anda sangat infeksius, jadi cuci tangan sampai bersih dengan sabun dan air hangat, khususnya sebelum memberi makan dan sesudah mengganti popok atau celana.
* Pisahkan anak atau bayi yang terkena diare dari anak atau bayi lain sebisa mungkin, sampai diare berhenti.

TANDA-TANDA DEHIDRASI

Derajat dehidrasi dinilai dari tanda dan gejala yang menggambarkan kehilangan cairan tubuh.

Pada tahap awal, yang ada hanya mulut kering dan rasa haus. Seiring meningkatnya dehidrasi, muncul tanda-tanda seperti: meningkatnya rasa haus, gelisah, elastisitas (turgor) kulit berkurang, membran mukosa kering, mata tampak cekung, ubun-ubun mencekung (pada bayi), dan tidak adanya air mata sekalipun menangis keras.

Dehidrasi minimal atau tanpa dehidrasi (kehilangan 9% cairan tubuh)

* Status mental: lesu, sampai tidak sadar
* Rasa haus: minum sangat sedikit, sampai tidak bisa minum
* Denyut nadi: meningkat, sampai melemah pada keadaan berat
* Kualitas kecukupan isi nadi: lemah, sampai tidak teraba
* Pernapasan: dalam
* Mata: sangat cekung
* Air mata: tidak ada
* Mulut dan lidah: pecah-pecah
* Elastisitas kulit: kembali setelah 2 detik
* Pengisian kapiler darah: memanjang (lama), minimal
* Suhu lengan dan tungkai: dingin, biru
* Produksi urin: minimal (sangat sedikit)

PENANGANAN DI RUMAH

a. Pemberian makanan bayi

Jika ibu menyusui, ASI terus diberikan dan diberikan lebih sering. Bayi dengan susu formula boleh diberikan cairan rehidrasi oral selama 12 jam pertama, setelah itu dilanjutkan dengan pemberian susu formula lebih sedikit dari jumlah yang biasa diberikan, namun diberikan lebih sering.

b. Cairan Rehidrasi Oral (CRO)/Clear fluid

Anak dengan diare harus terus minum CRO atau clear fluid. CRO yang kita kenal bisanya oralit (dalam bentuk kantung sachet dengan atau tanpa rasa tambahan) atau CRO khusus anak (yang tersedia dalam kemasan botol plastik dengan aneka rasa). Cairan tersebut dapat dibeli di apotek atau toko obat, tapi bila tidak tersedia dapat diberikan CRO lain seperti yang disebutkan di bawah ini. Untuk bayi hingga usia sembilan bulan, pembuatan CRO harus menggunakan air mendidih yang telah didinginkan.

MAKANAN

Anak awalnya akan menolak bila diberi makan. Hal ini bukan masalah selama CRO tetap diberikan. Anak dapat diberikan makanan apa saja yang mereka suka, dan berikan setiap kali mereka ingin makan, dan jenis makanan tidak dibatasi. Anak tidak boleh berhenti makan lebih dari 24 jam.

KE RUMAH SAKIT BILA

* Anak tidak mau minum dan tetap muntah dan diare.
* Anak dengan diare yang sangat banyak (8-10 kali atau 2-3 kali diare dalam jumlah yang banyak), atau diare berlangsung lebih dari sepuluh hari.
* Anak muntah terus-menerus dan tidak bisa menerima asupan cairan.
* Anak dengan gejala dehidrasi yaitu TIDAK/JARANG KENCING, PUCAT, BERAT BADAN TURUN, KAKI DAN TANGAN DINGIN, MATA CEKUNG, ATAU SUSAH BANGUN.
* Anak dengan sakit perut hebat.

atau

* Orangtua khawatir dengan alasan apapun.

DIARE DAN MENYUSUI

Meningkatkan upaya menyusui dengan ASI pada bayi sampai usia 6 bulan dapat menyelamatkan kurang-lebih 1,5 juta bayi setiap tahunnya. Sampai dengan 55% kematian pada bayi akibat penyakit diare dan infeksi saluran napas akut terjadi akibat upaya menyusui yang tidak tepat. Upaya menyusui optimal bagi kesehatan anak dan pertumbuhannya adalah memberikan ASI dalam beberapa jam setelah melahirkan, ASI eksklusif selama enam bulan, memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) pada waktunya dengan makanan yang tepat, serta meneruskan memberikan ASI sampai umur dua tahun atau lebih.

Selama enam bulan pertama, bayi harus diberikan ASI eksklusif. Hal ini berarti bahwa bayi yang sehat hanya menerima ASI, dan tidak ada cairan lain termasuk air putih, teh, jus, dan susu formula. Bayi yang diberikan ASI secara eksklusif lebih jarang mengalami diare atau mengalami kematian akibatnya, dibandingkan bayi yang tdak mendapatkan ASI, atau mendapatkan ASI tidak eksklusif. Memberikan ASI juga melindungi bayi dari risiko alergi, dan infeksi lain seperti penumonia.

Jika tidak memungkinkan memberikan ASI, susu sapi atau susu formula sebaiknya diberikan menggunakan cangkir. Hal ini mungkin sekalipun terhadap bayi kecil. Botol susu jangan digunakan karena sukar dibersihkan dan dengan mudah membawa organisme yang menyebabkan diare.

Risiko lain juga terjadi pada bayi yang mulai mendapatkan MPASI. Hal ini dikarenakan potensi kuman yang terdapat dalam makanan, dan kehilangan perlindungan dari ASI yang memiliki potensi anti infeksi. Untuk itu perlu mempersiapkan makanan bergizi, dan higienis dalam penyajiannya.
Farian Sakinah (Ian) dan Arifianto (Apin)/NIH

Dikutip dari guideline Royal Children Hospital Australia:

http://www.rch.org.au/kidsinfo/factsheet.cfm?doc_id=5353

Dan referensi dari WHO, juga http://www.guideline.gov
Untuk berbagai informasi penting mengenai diare dari WHO (Badan Kesehatan Dunia), dapatkan di:

http://www.rehydrate.org

http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5216a1.htm

http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5216a1.htm#tab1

Informasi lainnya;

http://www.med.umich.edu/1libr/pa/pa_diarrhbr_hhg.htm

Diare

source : http://www.diskes.jabarprov.go.id/index.php?mod=pubInformasiPenyakit&idMenuKiri=56&idSelected=1&idInfo=32&page=

DIARE

PENDAHULUAN

Diare akut didefinisikan sebagai suatu kondisi tiba-tiba dimana terdapat kadar air tinggi dalam kotoran (lebih dari jumlah normal 10 mL/kg/hari). Kondisi ini biasanya meningkatkan pergerakan usus, hingga 4 – 20 kali lebih cepat. Jumlah yang banyak cairan dalam kotoran disebabkan oleh gangguan dari usus halus dan usus besar dalam proses penyerapan elektrolit, sari pati makanan, dan cairan. Diare akut pada anak-anak biasanya disebabkan oleh infeksi, tetapi beberapa kondisi lain dapat menyebabkan diare yang kronis. Diare akut bersifat menghilang sendiri, tetapi bahaya yang harus dihindari adalah kekurangan cairan (dehidrasi).
Definisi “gastroenteritis akut” biasanya sering digunakan untuk mendiagnosa “diare akut”, tetapi ini merupakan konsep yang salah, karena pada gastroenteritis, terdapat infeksi pada usus dan lambung, sedangkan pada diare akut hampir tidak pernah terdapat gangguan pada lambung, dan juga pada beberapa penyebab diare tidak terjadi suatu peradangan dari usus.
Berdasarkan episode waktu, diare dapat dibagi menjadi akut dan kronis (terus-menerus) . Diare akut didefinisikan sebagai kondisi akut diare yang berlangsung tidak lebih lama dari 14 hari, diare kronis didefinisikan sebagai diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Perbedaan ini penting karena tidak hanya berdasarkan waktu, tetapi penyebabnya pun berbeda sehingga penatalaksanaanpun akan berbeda.

PROSES TERJADI DIARE

Diare merupakan kondisi terbalik dari fungsi normal penyerapan (absorbsi) dan pembuangan (sekresi) dari elektrolit dan air. Perubahan ini dapat disebabkan oleh gangguan tekanan osmotik pada lumen usus yang menyebabkan air dari dalam sel keluar, dan masuk ke dalam usus. Proses ini paling sering menyebabkan diare, yang terjadi akibat konsumsi bahan-bahan yang tidak dapat diserap(laktulosa). Pada diare jenis ini kotoran akan mengeluarkan bahan-bahan yang tidak dapat diserap, sifat diare biasanya tidak hebat. Diare akan berkurang dengan tidak mengkonsumsi bahan-bahan tersebut.
Pada diare sekresi, sel-sel usus merubah sistem transport menjadi aktif sekresi. Penyebab yang paling sering adalah infeksi bakteri pada usus. Beberapa kondisi yang memungkinkan adalah, setelah bakteri berkembang dalam usus, bakteri akan menginvasi sel-sel epitel, dan menghasilkan racun (entero, cytotoxin). Bakteri juga dapat merangsang untuk dikeluarkannya zat-zat perantara untuk terjadinya peradangan pada usus. Kedua mekanisme tersebut pada akhirnya akan menyebabkan sel menjadi aktif untuk mensekresi cairan ke dalam lumen usus. Gambaran diare sekresi yaitu diare yang hebat, tidak berubah dengan puasa, tidak terdapat gangguan ion dalam kotoran (menandakan bahwa nutrisi tetap di penyerapan dengan baik).

ANGKA KEJADIAN DIARE

Di negara berkembang, angka kejadian diare berkisar antara 3 kali per anak pertahun, pada anak dibawah 5 tahun, tetapi pada beberapa negara melaporkan hingga 6 – 8 kali peranak pertahun. Dalam kondisi ini malnutrisi merupakan akibat lain yang paling sering ditemukan pada anak-anak penderita diare, selain itu akan disertai dengan terhambatnya pertumbuhan anak. Angka kematian yang diakibatkan oleh diare sudah jauh menurun pada dua dekade terakhir, sebagian besar diakibatkan oleh penggunaan cairan elektrolit pengganti yang sudah banyak di pergunakan dan di perjual belikan.
Diare yang disebabkan oleh infeksi virus memiliki angka yang tinggi. Rotavirus dan adenovirus terutama tejradi pada anak kurang dari 2 tahun. Astrovirus dan norovirus biasanya mengenai anak kurang dari 5 tahun. Yersenia enterocolitis paling sering mengenai anak kurang dari 1 tahun, dan Aeromonas sp, paling sering mengenai balita. Penyebab utama dari diare secara mendunia adalah retrovirus, sehingga pengembangan vaksin, dan pentingnya kesehatan tubuh bagi anak, akan mengurangi insidensi ini pada masa yang akan datang.
Pada bayi yang mengalami diare paling sering terjadi dehidrasi dan gangguan penyerapan nutrisi. Usia dan status nutrisi menjadi faktor penting dari penderita untuk menentukan berat dan durasi dari diare. Semakin muda anak dan ketidakmampuan tubuh anak untuk mengkompensasi kehilangan cairan, akan meningkatkan resiko kematian akibat diare.
Kematian yang disebabkan oleh diare secara mendunia masih tinggi, penyebab kematian kedua pada anak-anak, dengan 10,6 juta kematian pertahun (18%) pada anak usia kurang dari 5 tahun.

SEJARAH

Diare akut pada negara berkembang sebagian besar bersifat ringan, sembuh sendiri, dan membaik dalam beberapa hari. Gejala yang timbul bergantung pada penyebab diare dan kondisi pasien. Sebagai contoh rotavirus sering disertai muntah, dan demam. Suatu penelitian di Amerika Serikat pada anak usia 3 – 36 bulan menemukan bahwa angka kejadian diare sangat meningkat pada bulan Januari dan Agustus, dengan angka kejadian keseluruhan insidensi 2,21 episoede perorang pertahun, dengan 90% berupa diare akut

Kapan disebut sebagai diare ?

Diare merupakan peningkatan jumlah disertai hilangnya konsistensi kotoran. Pada anak usia dibawah 2 tahun, dianggap suatu diare apabila jumlah kotoran lebih dari 10 mL/kg. Pada anak lebih dari 2 tahun, diare didefinisikan sebagai volum kotoran perhari lebih dari 200 gr, lebih mudahnya adanya kotoran dengan lebih banyak dari biasanya, dengan konsistensi cairan, lebih dari 4 kali perhari. Tetapi yang harus lebih diperhatikan adalah jumlah dan frekuensi buang kotoran sehari-hari, karena pada anak yang masih menyusui, normal buang kotoran sampai 5 – 6 kali perhari. Kotoran yang mengambang dan disertai dengan bau yang sangat tidak enak bisa dicurigai adanya gangguan penyerapan lemak, yang dapat pula disebabkan oleh infeksi Giardia Lamblia.
Mengetahui karakteristik kotoran pada saat normal dibandingkan pada saat sakit, seperti konsistensi, warna, volume dan frekuensi akan sangat membantu memperkirakan penyebab gangguan ini.

Penyebab apa saja yang dapat menyebabkan diare?

Diare akut dapat disebabkan oleh :
• Infeksi : Enteric infection (keracunan makanan), ekstraintestinal
• Disebabkan oleh obat-obatan : antibiotik, laxative, antasida mengandung Mg, opiat
• Alergi makanan dan intoleransi lainnya : alergi protein susu sapi, susu kedelai, alergi beberapa makanan,
• Kelainan sistem pencernaan : alergi laktulosa
• Kemoterapi atau radiasi
• Kondisi bedah : infeksi usus buntu, jeratan usus
• Defisiensi vitamin : B kompleks, vitamin C
• Terkonsumsi logam berat, racun, atau tanaman bukan untuk konsumsi

Indikasi untuk dilakukan pengawasan oleh tenaga kesehatan pada pasien dengan diare yaitu :
• Usia lebih dari 3 bulan
• Berat badan lebih dari 8 kg
• Riwayat lahir prematur, penyakit kronis, atau bersamaan dengan penyakit lain
• Demam lebih dari 38C pada bayi kurang dari 3 bulan, atau lebih dari 39C pada anak usia 3 – 36 bulan
• Tampak darah pada kotoran
• Diare dengan jumlah yang besar
• Muntah yang terus menerus
• Tanda-tanda dehidrasi, perubahan kondisi mental
• Tindakan rehidrasi awal (melalui mulut) tidak mencukupi atau tidak dapat dilakukan

Komplikasi apa saja yang dapat terjadi ?
1. Dehidrasi.
Dehidrasi merupakan penyebab utama dari kematian dan kerusakan tubuh lainnya. Penatalaksanaan segera apabila ditemukan tanda-tanda dehidrasi yaitu : mengantuk, penurunan kesadaran, ubun-ubun kecil mencekung, mukosa mulut kering, mata terlihat cekung kedalam, tidak ada air mata, kelenturan kulit menurun, pengisian pembuluh jari distal memanjang.
2. Gangguan tumbuh dan malnutrisi
Penurunan jumlah otot dan lemak atau adanya bengkak di kaki-tangan merupakan pertanda adanya gangguan penyerapan karbohidrat, lemak dan protein. Infeksi yang disebabkan oleh Giardia dapat menyebabkan diare dan gangguan penyerapan lemak.
3. Nyeri perut
Nyeri yang tidak jelas dapat terjadi pada kondisi infeksi usus. Apabila nyeri perut semakin bertambah dengan tekanan, atau adanya nyeri perut hebat, harus berhati-hati kemungkinan komplikasi paling berat yaitu kebocoran usus.
4. Kemerahan sekitar anus
Gangguan penyerapan karbohidrat akan menyebabkan bakteri memproduksi asam dari karbohidrat yang tidak terabsorbsi, sehingga apabila kotoran mengenai kulit disekitar anus akan menyebabkan kemerahan dan nyeri. Selain itu terdapat gangguan penyerapan dari asam empedu yang menyebabkan kotoran bertambah asam.

Bagaimana mengetahui dehidrasi

Bagiamana penatalaksanaan dehidrasi?
• Rehidrasi ringan :
Pemberian cairan setiap diare atau muntah :
– Berat badan 10 kg : 120 – 140 mL
• Rehidrasi sedang :
Penggantian cairan yang sebelumnya telah hilang : 50 -100 mL/kg berat badan, selama 3 – 4 jam.
Pemberian cairan setiap diare atau muntah :
– Berat badan 10 kg : 120 – 140 mL
• Rehidrasi berat : Tindakan harus dilakukan dalam pengawasan tenaga kesehatan
Cairan yang diberikan berupa cairan pengganti elektrolit (Oralit, dan sejenis yang bermerk) atau bila tidak dengan menggunakan cairan gula garam = 3 : 1 ( dalam 250 ml air bening diberikan 1 sendok teh gula dan 1/3 sendok teh garam.

Rotavirus Pembawa Maut

http://www.motherandbaby.co.id/index.php?mod=vcontent&tokenid=03c6b06952c750899bb03d998e631860

Rotavirus adalah kuman diare pembawa maut yang berbahaya. Jadi, jangan anggap sepele penyakit diare, karena nyatanya, 18% penyebab kematian pada bayi dan balita di Indonesia disebabkan oleh virus yang membawa penyakit ini.

Suasana duka masih menggantung di rumah pasangan Laila, 27 tahun dan Dandy, 35 tahun. Aurel, putri mereka yang belum genap berumur 10 bulan, sekitar dua bulan lalu telah berpulang pada Tuhan. “Saya menyesal karena tak menganggap serius penyakit Aurel. Karena saya pikir Aurel hanya diare biasa, saya tidak segera membawanya ke rumah sakit dan hanya memberinya oralit. Tapi Aurel tak kunjung berhenti muntah dan buang air, sehingga ia kemudian dehidrasi dan kemudian kehilangan kesadaran. Saat kami membawanya ke rumah sakit, semuanya sudah terlambat,” kisah Laila dengan wajah muram.

Memang belum banyak orang tahu bahwa ada bahaya mengintai di balik penyakit diare yang diderita bayi dan balita, khususnya bayi usia 6 bulan sampai 2 tahun. Rotavirus, nama si kuman berbahaya ini, ditemukan pertama kali tahun 1973 oleh profesor Ruth Bishop, Director of the World Health Organization (WHO) Collaborating Laboratory for Research on Human Rotavirus dan Director of the National Rotavirus Surveillance Centre, Australia. “Ruth yang menangani wabah diare sempat melihat, bahwa dari sekian banyak anak yang terkena diare, sebagian tidak dapat sembuh dan akhirnya meninggal. Beliau kemudian melakukan penelitian pada para balita tersebut, dan ternyata 38% anak ditemukan meninggal akibat kuman Rotavirus yang terdapat pada feses mereka,” jelas profesor Yati Soenarto, dokter anak serta konsultan untuk Gastroenterelogy dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Gejala dan Penanganannya
Menurut prof. Yati, diare akibat kuman Rotavirus memang sulit dibedakan dengan diare biasa. Tapi, Anda sebaiknya langsung curiga dan segera membawa si kecil ke rumah sakit, jika diare yang diderita si kecil memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Muntah-muntah
• Feses cair (mencret, tapi tanpa darah)
• Dehidrasi
• Sakit perut
• Sebagian anak juga mengalami demam saat terinfeksi virus ini
Sebanyak 70% bayi dan balita yang mengalami gejala di atas positif terinfeksi kuman Rotavirus. Dokter di rumah sakit akan memberikan zinc dalam bentuk tablet sebagai langkah pengobatan, dan bukan antibiotik, karena antibiotik justru akan membuat kuman menjadi persistance/kebal, sehingga diare malah tidak kunjung sembuh. Namun sebelum Anda membawa si kecil ke rumah sakit, ada baiknya beri dulu anak Anda oralit atau cairan rumah tangga seperti air garam, air gula, atau sup sebagai tindakan pertolongan pertama untuknya. “Si kecil juga tetap harus mengonsumsi makanan supaya usus-usus yang rusak membaik- karena virus merusak usus- selain untuk memberikan daya tahan pada tubuh. Satu hal yang harus diingat, jangan sekali-kali memberikan obat anti diare atau anti muntah, karena diare adalah mekanisme pertahanan tubuh. Obat anti diare/muntah hanya akan menghambat pengeluaran cairan dan mengakibatkan kuman-kuman tak bisa terbuang dan akan kembali terserap tubuh, sehingga bisa terjadi keracunan. Jadi biarkan saja feses keluar secara alami,” papar prof. Yati.

Penyebaran Kuman dan Tindakan Preventifnya
Lalu, apakah Rotavirus bisa dicegah? Jawabnya: Ya, dengan beberapa cara. Pertama, dengan pemberian ASI eksklusif, karena air susu ibu terbukti memiliki zat anti Rotavirus. Kedua, dengan memperhatikan hieginitas si kecil, misalnya dengan mencuci bersih semua alat makan dan minum bayi dan balita Anda, dan bagi si kecil Anda yang sudah bisa makan sendiri, pastikan ia sudah cuci tangan sebelum makan. Kuman ini memang sangat mudah menular dari satu anak ke anak lain. Cara penularan yang pertama adalah melalui makanan yang terkontaminasi kuman Rotavirus yang lalu masuk dalam mulut anak, dan yang kedua penularan secara person to person, atau kontak langsung antara penderita dengan yang sehat.

Tindakan pencegahan yang ketiga, yang sebetulnya bisa menjadi pencegah Rotavirus yang utama adalah dengan pemberian vaksinasi. Pemberian vaksin dilakukan mulai dari anak usia 12 minggu sampai lebih dari 6 bulan, sebanyak 2-3 kali. “Sebetulnya saya bersama beberapa staf medis di Indonesia sudah lama melakukan penelitian bersama Ruth Bishop dalam rangka pembuatan vaksin ini, tapi kami terpentok masalah biaya yang sangat besar,” kata prof. Yati. “Dua vaksin rotavirus yang sudah beredar sejak tahun 1990-an di negara maju saat ini masih dalam proses perizinan untuk masuk ke Indonesia. Saya harap nantinya vaksin ini akan semakin banyak dibuat sehingga harganya pun semakin murah. Dengan demikian, vaksin ini dapat masuk daftar imunisasi wajib di Indonesia dan semua lapisan masyarakat bisa mendapatkannya.”

Jadi, Anda tak perlu khawatir. Selama vaksin Rotavirus belum ada di sini, Anda tetap bisa melakukan dua tindakan preventif yang telah disebutkan di atas untuk mencegah penyakit ini. Keduanya relatif mudah untuk dilakukan, dan tentunya, tidak membutuhkan banyak biaya, dibanding risiko yang harus ditanggung dalam proses penyembuhan jika si kecil sampai “tersentuh” si Rotavirus.

Asia-Pacific Rotavirus Metaforum
Memenuhi undangan Family Health International (FHI), Mother & Baby Indonesia turut berkumpul di Bangkok, Thailand, bersama para pakar kesehatan yang meliputi para profesor, dokter, badan pemerintah, serta kalangan industri di bidang medis dari 16 negara se-Asia Pasifik, untuk melakukan diskusi dalam Asia-Pacific Rotavirus Metaforum, tanggal 13-14 November 2007 lalu. Dampak dari Rotavirus memang luar biasa. Data yang dimiliki FHI menunjukkan, setiap tahun, sebanyak 171.000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal akibat infeksi ini, 1, 9 juta anak-anak dirawat di rumah sakit akibat diare yang disebabkan Rotavirus, 13,5 juta anak-anak datang ke klinik rawat jalan, dan total biaya yang dihabiskan untuk penyakit ini per tahunnya adalah sebesar $US 191 juta! “Itulah mengapa forum ini menjadi sangat penting, karena tugas kita di sini adalah mengidentifikasi dan menentukan langkah-langkah apa selanjutnya yang perlu diambil guna menanggulangi penyebaran wabah ini,” kata Janet Robinson, Director of Research for FHI’s Asia Pacific Region, Bangkok.

Kesimpulan akhir dari diskusi panjang yang berjalan interaktif dan sangat menarik ini adalah, bahwa Rotavirus adalah penyakit yang harus menjadi prioritas pemerintah untuk segera ditangani, yang pencegahannya dapat dilakukan dengan pemberian vaksinasi wajib. “Program vaksinasi sangat potensial untuk mencegah kematian yang terjadi di setiap negara bagian ini, di luar kerugian lain yang ditimbulkannya, seperti biaya yang sangat besar dan turunnya kondisi fisik dan mental orang tua dan keluarga penderita,” kata profesor Lulu Bravo, moderator sekaligus salah satu pembicara ahli dari Filipina dalam forum ini. Dua vaksin yang telah diakui secara internasional adalah Rotarik dan Rotatek, yang belum masuk ke Indonesia dan bilamana ada pun masih mahal harganya. Tapi janji Prof. Yati tentu cukup melegakan hati, karena Prof. Yati bersama kalangan medis di Indonesia masih terus mengusahakan hadirkan vaksin ini untuk para bayi dan balita di Indonesia

Diare = Reaksi Alami

sumber : purnamawati.wordpress.com

Hanya diare plus darah yang harus diobati.
Boleh dibilang hampir semua orang pernah merasakan derita akibat buang air besar berkali-kali alias diare. Biasanya, yang terpikir dalam benak setiap orang adalah obat untuk memampatkannya alias yang beraksi stop diare. Solusi seperti itu diperkuat oleh tayangan komersial yang menyarankan untuk menghentikan gejala tersebut dengan cara menelan obat pemampat. Pada orang dewasa, kondisi ini sudah bisa membuat orang menderita, apalagi pada anak-anak. Lazimnya, jalan keluarnya pun sama.

Saat ini, ada sederet obat diare untuk anak yang kerap diberikan kepada para bocah. Sebut saja kaolin, smectite (Smecta), LactoB, atau obat jamur dan antibiotik. Bertolak belakang dengan saran iklan di layer televisi, obat stop diare justru tidak diperlukan. Dr Zakiudin Munasi, SpA(K) menyebutkan diare adalah reaksi alami ketika ada “benda asing” yang masuk ke tubuh. Ia menjelaskan, ketika ada racun menerobos ke dalam tubuh, otomatis ada respons dari tubuh. Nah, aksi yang muncul adalah mengeluarkan racun tersebut dengan cara buang air besar. Sering kali harus berkali-kali.

Spesialis anak dari Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ini menjelaskan bahwa hal tersebut natural dan tak perlu distop dengan obat-obatan. “Dengan menelan obat pemampat, racunnya berarti tak keluar alias mengendap dalam tubuh,” ia menuturkan beberapa waktu lalu dalam peluncuran sebuah produk susu untuk anak. Hal senada juga dilontarkan oleh spesialis anak lain, dr Purnamawati Sujud Pujiarto, dalam kesempatan terpisah. Dokter Wati, demikian biasa ia disapa, menyatakan bahkan dalam SOP, diare dengan atau tanpa muntah hanyalah gejala, bukan penyakit. Karena itu, yang terpenting adalah mencari penyebabnya.

Wati menyebutkan penyebab utama diare adalah infeksi virus, maka obatnya adalah cairan rehidrasi oral (oralit) dan air susu ibu (ASI) untuk mencegah dehidrasi. Orang, terutama yang tinggal di kota-kota besar, saat ini sudah menganggap remeh peran oralit. Dianggapnya sebagai obat kampung. Padahal, di dunia medis, jelas-jelas bahwa diare akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. “Tidak ada obat yang diperlukan selain cairan dehidrasi oral,” Wati menegaskan.

Walhasil, Wati menyebutkan, ketika terserang diare, konsultasi ke dokter pun tak perlu berakhir dengan secarik kertas resep, apalagi dengan catatan nan panjang. “Pemberian obat-obat tersebut tidak ada SOP tata laksana diare dan muntah, juga tidak ada evidence-nya,” ia menegaskan. Ia pun menjelaskan satu per satu obat yang disebut sebagai “penyembuh” diare itu. Misal, kaolin. Dalam informasi di situs Badan Kesehatan Dunia (WHO), tidak ditemukan soal obat ini. “Obat ini memang tidak dipakai di negeri lain,” ujarnya.

Bahkan, Wati menyebutkan produsen obat ini menyatakan dengan jelas bahwa obat ini justru tidak boleh diberikan pada infeksi E coli, salmonella, shigella, juga diare plus darah serta bila ada kecurigaan obstruksi usus dan berbagai kasus bedah lain. Ia mengingatkan, kaolin dapat menimbulkan efek samping yang disebut toxic megacolon, yakni terkumpul dan terperangkapnya tinja di usus besar sehingga racun-racun yang seharusnya dikeluarkan tubuh akan meracuni tubuh. “Selain itu, ada warning untuk tidak memberikan Kaopectate karena ada kandung aspirin di dalamnya,” ujarnya.

Diare pada orang normal tidak memerlukan antijamur. “Obat antijamur justru dapat menimbulkan gangguan pencernaan karena obat tersebut membunuh jamur ‘baik’ yang ada dalam usus kita,” kata Wati. Perlukah antibiotik? Ia menyebutkan hanya diare akibat parasit yang umumnya ditandai darah dalam tinja yang perlu antibiotik. Memang hanya jenis diare plus darah ini yang harus dikonsultasikan dengan dokter. Namun, bila disebabkan kuman tidak perlu obat jenis itu karena pemberian antibiotik akan mengganggu flora normal di usus hingga memicu gangguan pencernaan termasuk diare berkepanjangan.

Wati memaparkan bahwa antibiotik juga menyebabkan kolitis pseudomembranosa, yaitu suatu kondisi ketika usus besar dilapisi selaput akibat banyaknya kuman–yang aslinya bukan kuman jahat–sehingga proses penyerapan air di usus besar terganggu dan terjadilah diare berkepanjangan.

Bila balita mengalami diare plus muntah, dokter pun sering meresepkan antimuntah. Wati menjelaskan, muntah ada dua jenis, yakni karena kelainan usus yang memerlukan pembedahan dan muntah karena infeksi. “Sebagian besar muntah pada bayi dan anak disebabkan oleh virus gastroenteritis,” ujarnya. Walhasil pemberian obat muntah sangat melawan proses fisiologis tubuh untuk membuang racun. Pada kasus muntah yang perlu tindakan bedah pun, pemberian antimuntah bisa menyesatkan. “Belum lagi antimuntah juga menimbulkan efek samping,” Wati mewanti-wanti. RITA NARISWARI

Sumber : Koran Tempo

Cara Menolong Bayi Diare

Apakah diare itu ?
Diare merupakan keadaan di mana seseorang menderita mencret-mencret.
Penderita buang air berkali-kali, tinjanya encer dan kadang-kadang muntah.
Diare disebut juga muntahber (muntah berak), muntah menceret atau muntah bocor.
Kadang-kadang tinjanya juga mengandung darah atau lendir.
Diare menyebabkan cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja.

Apakah Diare Dapat menyebabkan kematian ?
Bila penderita diare banyak sekali kehilangan cairan tubuh maka hal ini dapat menyebabkan kematian, terutama pada bayi dan anak-anak di bawah umur lima tahun.

Apa yang menyebabkan Diare ?
Penyebab diare yang terpenting adalah :

- Karena peradangan usus, misalnya : kholera, disentri, bakteri-bakteri lain, virus dsb.
– Karena kekurangan gizi misalnya : kelaparan, kekurangan zat putih telur.
– Karena keracunan makanan.
– Karena tak tahan terhadap makanan tertentu, misalnya : si anak tak tahan meminum susu yang mengandung lemak atau laktosa.

Bagaimana terjadinya diare ?
Diare dapat ditularkan melalui tinja yang mengandung kuman penyebab diare.
Tinja tersebut dikeluarkan oleh orang sakit atau pembawa kuman yang berak di sembarang tempat.
Tinja tadi mencemari lingkungan misalnya tanah, sungai, air sumur.
Orang sehat yang menggunakan air sumur atau air sungai yang sudah tercemari, kemudian menderita diare.

Bagaimana cara menolong diare ?
Minumlah garam ORALIT untuk mencegah terjadinya kekurangan cairan tubuh sebagai akibat diare.
Minumkanlah cairan oralit sebanyak mungkin penderita mau.
1 bungkus kecil oralit dilarutkan ke dalam 1 gelas air masak (200 cc)
Kalau oralit tidak ada buatlah : LARUTAN GARAM GULA.
Ambillah air teh (masak) 1 gelas.
Masukkan dua sendok teh peres gula pasir, dan seujung sendok teh garam dapur.
Diaduk rata dan diberikan kepada penderita sebanyak mungkin ia mau minum.
Bila diare tak terhenti dalam sehari atau penderita lemas sekali bawalah segera ke Puskesmas.

Bagaimana cara mencegah diare ?
Berak di kakus, tidak di kali, pantai, sawah atau sembarang tempat.
Cuci tangan sebelum makan, dan sesudah buang air besar.
Minum air dan makanan yang sudah dimasak
Susui anak anda selama mungkin, di samping makanan lainnya sesuai umur.
Bayi yang minum susu botol lebih mudah diserang diare dari pada bayi yang disusui ibunya.
Tetaplah anak disusui walaupun anak menderita diare.