SESUAIKAH TUMBUH KEMBANG ANAK ANDA

sumber : http://www.infoibu.com

Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita .
Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan bagi perkembangan selanjutnya.

Perkembangan yang optimal sangat dipengaruhi oleh peranan lingkungan dan interaksi antara anak dan orang tua / orang dewasa lainnya. Interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan, bahkan sejak bayi dalam kandungan.
Kebutuhan dasar seorang anak adalah
– ASUH ( kebutuhan biomedis)
Menyangkut asupan gizi anak selama dalam kandungan dan sesudahnya, kebutuhan akan tempat tinggal, pakaian yang layak dan aman , perawatan kesehatan dini berupa imunisasi dan deteksi dan intervensi dini akan timbulnya gejal penyakit.
– ASIH ( kebutuhan emosianal)
Penting menimbulkan rasa aman (emotional security) dengan kontak fisik dan psikis sedini mungkin dengan ibu. Kebutuhan anak akan kasih sayang, diperhatikan dan dihargai, ,pengalaman baru, , pujian, tanggung jawab untuk kemandirian sangatlah penting untuk diberikan. Tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan , tetapi lebih banyak memberikan contoh – contoh penuh kasih sayang adalah salah satunya.
– ASAH ( kebutuhan akan stimulasi mental dini)
Cikal bakal proses pembelajaran , pendidikan , dan pelatihan yang diberikan sedini dan sesuai mungkin. Terutama pada usia 4 – 5 tahun pertama ( golden year) sehingga akan terwujud etika, kepribadian yang mantap, arif, dengan kecerdasan, kemandirian ,ketrampilan dan produktivitas yang baik.
Beberapa tingkat perkembangan yang harus dicapai pada anak umur tertentu ;
– 4-6 minggu : tersenyum spontan , dapat mengeluarkan suara 1-2 minggu kemudian
– 12-16 minggu : menegakkan kepala, tengkurap sendiri , menoleh ke arah suara , memegang benda yang ditaruh ditanggannya , bermain cilukba.
– 20 minggu : meraih benda yang didekatkan kepadanya
– 26 minggu : dapat memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya , duduk dengan bantuan kedua tangannya ke depan , makan biskuit sendiri.
– 9 – 10 bulan : menunjuk dengan jari , memegang benda dengan ibu jari dan jari telunjuk, merangkak , bersuara da… da…. .
– 13 – 15 bulan : berjalan tanpa bantuan , mengucapkan kata – kata tungggal , memasukkan mainan ke dalam cangkir , bermain dengan orang lain , minum dari gelas , dan mencoret – coret.

© Dr. SuriViana -www.infoibu.com

SESUAIKAH TUMBUH KEMBANG ANAK ANDA 1

sumber : http://www.infoibu.com

Pertumbuhan ( growth) berkaitan dengan dengan masalah perubahan dalam ukuran fisik seseorang. Sedangkan perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan (skill) fungsi organ atau individu. Kedua proses ini terjadi secara sinkron pada setiap individu.

Proses tumbuh kembang seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling terkait, yaitu ; faktor genetik / keturunan , lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku. Proses ini bersifat individual dan unik sehingga memberikan hasil akhir yang berbeda dan ciri tersendiri pada setiap anak.
Penilaian terhadap pertumbuhan seorang anak dapat dinilai melalui pertambahan berat dan tinggi badan dan sampai anak berusia 2 tahun masih dapat digunakan penilaian melalui lingkar kepala yang biasanya dibandingkan dengan usia anak. Beberapa cara penilaian melalui pemeriksaan fisik atau klinikal , pemeriksaan antropometri ( membandingkan tinggi badan terhadap umur, berat badan terhadap umur, lingkaran kepala terhadap umur, lingkar lengan atas terhadap umur ) , contohnya KMS (kartu menuju sehat ) yang membandingkan berat badan terhadap umur , pemeriksaan radiologis, laboratorium, dan analisa diet.
Beberapa faktor yang mempegaruhi pertumbuhan anak :
 Faktor heredo konstitusional ; tergantung ras, genetic, jenis kelamin dan kelainan bawaan
 Faktor hormonal ; insulin , tiroid, hormon sex dan steroid.
 Faktor lingkungan selama dan sesudah lahir ; gizi, trauma, sosio – ekonomi, iklim, aktivitas fisik, penyakit, dll.
Perkiraan berat badan yang dapat mudah dilakukan dalam kilogram adalah berat badan waktu lahir bayi cukup bulan akan kembali pada hari ke 10.Berat badan menjadi 2 kali berat waktu lahir saat usia 5 bulan, menjadi 3 kali berat lahir saat usia satu tahun, dan menjadi 4 kali berat waktu lahir saat usia 2 tahun. Pada masa prasekolah kenaikan berat badan rata– rata 2 kg/ tahun.
Perkiraan tinggi badan dapat pula dilakukan dalam sentimeter yaitu usia 1 tahun 1,5 kali tinggi badan lahir, usia 4 tahun 2 kali tinggi badan lahir, 6 tahun 1,5 kali tinggi badan 1 tahun,.
Kita dapat pula mePrediksikan tinggi akhir anak sesuai potensi genetic berdasarkan tinggi badan orang tua dengan asumsi bahwa semuanya tumbuh optimal sesuai potensinya. Rumus yang digunakan ;

TB anak perempuan = ( TB ayah – 13 cm ) + TB ibu
_________________________ ± 8,5 cm
2
TB anak laki-laki = ( TB ibu +13 cm ) + TB ayah
_________________________ ± 8,5 cm
2
© Dr. SuriViana -www.infoibu.com

Growth Chart Bayi ASI

sumber : milist ASI for Baby (mia sutanto)

Dahulu kala, memang Growth Chart (GC) seperti yang standar digunakan dalam KMS kita adalah GC yang dibuat dengan demografi anak2 di Amerika Serikat yang diberikan susu formula. Jadi gak heran ya kalau anak2 ASIX yang keturanan Asia rata2 selalu berada dibawah kurva “average” atau persentil bawah dari GC tersebut.

Tapi, sejak tahun 2006, WHO telah menerbitkan GC versi terbaru, yang demografinya diambil dari anak di seluruh dunia, dengan ras keturanan yang berbeda2 (asia, eropa, afrika, dll)…dan, yang paling penting…GC tersebut dibuat berdasar patokan bahwa ASI adalah sumber nutrisi yang terbaik bagi bayi (“…breastfed child as the norm for growth and development.”). Untuk jelasnya, moms bisa lihat disini: http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2006/pr21/en/index.html, dan disini: http://www.who.int/nutrition/media_page/backgrounders_1_en.pdf.

Oleh karena itu, kami sarankan bagi para moms untuk selalu cek ke DSA apakah GC yang digunakan untuk mengukur perkembangan bayi/balita moms disini adalah GC yang versi terbaru dari WHO…karena, the International Pediatric Association (IPA) juga sudah menyarankan agar digunakan GC yang versi terbaru ini (http://www.who.int/childgrowth/Endorsement_IPA.pdf).

Atau, kalau memang bukan, maka para moms bisa cek sendiri perkembangan bayi/balita dengan menggunakan indikator2 yang ada disini: http://www.who.int/childgrowth/standards/en/.

Masalah Berat Badan Bayi ASIX

sumber : ditulis oleh sari intan kailaku – milist asi for baby
Peningkatan BB bayi ASIX memang sering jadi masalah, buktinya ini
topik yang selalu ada di milis :)
Tapi, seringnya masalah ini terjadi juga merupakan bukti bahwa bayi
ASIX punya trend pertumbuhan (khususnya BB) yang khas dan tidak bisa
dibandingkan mentah-mentah dengan bayi sufor.
Dan perlu digarisbawahi bahwa : “gemuk belum tentu sehat, dan sehat
tidak mesti gemuk”

Aku bahas ya…

1. Sangat sedikit sekali alasan untuk menghentikan pemberian ASIX pada
bayi atau untuk memberi sufor pada bayi. Hanya ibu yg sakit berat
(dalam pengobatan kanker, ibu HIV positif yg putingnya luka, dll).
Pada bayi yg sakit, ASI justru akan menyelamatkan hidupnya. Jadi, kalo
ada yg menyarankan menstop ASIX dan memberi sufor, refleks kita
harusnya kasih tanda tanya besar dan segera cari orang yang lebih ahli
(orang yg memberi saran kontra ASI sudah jelas bukan ahli laktasi,
peace..)

2. Menilai pertumbuhan anak tidak bisa berdasarkan satu parameter (BB)
saja. Nilai juga pertumbuhan TB, LK, motorik, sensorik, bahasa,
dll-nya. Apakah kita hanya berharap anak kita melebar? Tidak
memanjang, otak tidak berkembang? Tidak lincah, tidak berkomunikasi?
Dan penilaian ini tidak bisa pada satu waktu tertentu saja. Harus
dipantau tiap bulan pada semua parameter dengan di plot pada growth
chart. Cara baca GC ada di file milis, silahkan cek ya…
Untuk BB, TB, dan LK bisa donlod growth chart di :
http://www.who.int/childgrowth/standards/en/

3. Menimbang bayi juga harus dgn cara yg benar. Penimbangan harus
dilakukan dengan timbangan yg sama tiap bulannya. Trus harus pada
waktu yg kurang lebih sama, dan harusnya tanpa memakai pakaian atau
diaper. Pada bayi masih kecil, perbedaan-perbedaan di atas bisa
pengaruh banget, karena beda 100-200 gram aja udah signifikan, kan?

4. Salah satu faktor yang paling pengaruh pada postur anak adalah
genetik. Kalo orangtuanya langsing pada saat bayi, kemungkinan anaknya
akan langsing juga.

5. ASI tidak pernah kurang, dan bayi tidak pernah membiarkan dirinya
kelaparan. Tapi, bayi bisa menyusu secara tidak efektif. Jadi, dia
menghisap tapi tidak berhasil mengeluarkan cukup ASI dari PD. Kunci
utamanya pelekatan dan posisi menyusui yg baik.
Ciri-ciri pelekatan yang baik : areola masuk maksimal (bag atas lbh
keliatan drpd bag. bwh), mulut terbuka lebar, bibir terpuntir keluar
(memble), dagu bayi menempel pd PD ibu, pipi menggembung.
Posisi yg tepat : ibu menopang seluruh badan bayi, telinga dan bahu
bayi berada pd garis lurus, kepala hingga badan bayi menghadap badan
ibu, dada bayi menempel dada ibu (rapat).
Setelah menyusu, PD ibu terasa lbh kempis, bayi terlihat puas.

6. Indikasi awal kurang ASI bisa dilihat dari BAK. Jika bayi cukup
minum ASI, BAK lebih dari 6x per hari, tidak berbau tajam dan tidak
berwarna pekat.

Coba diobservasi selama 3 bulan. Setelah memastikan sudah menyusui
secara efektif, indikasi kurang minum gak ada, tapi ketika plot di GC
tren kenaikan BBnya tidak oke (ada penurunan BB tanpa alasan yg jelas
(sakit) atau tidak naik sama sekali), baru perlu diperiksa secara
medis (bukan segera diberi sufor).
Misalnya apakah ada kelainan gestasi, daya serap, atau ada penyakit
infeksi (TBC, ISK). Tapi, jangan kuatir, karena kalo memang ada
kelainan atau penyakit, gejalanya pasti lebih dari satu, bukan dari BB
saja.

Satu lagi, ASI kandungannya paling lengkap dan paling mudah
dicerna&diserap. Ibu yg kurang gizi pun bisa menghasilkan ASI yg jauh
lebih berkualitas dibandingkan sufor. Jadi, jangan pernah ragu pada
ASI kita.
Hasil penelitian bilang, bayi sufor tekanan darahnya lebih tinggi
daripada bayi ASI (sejak bayi). Resiko diabetes bayi sufor puluhan
persen lebih tinggi daripada bayi ASI.

Jadi, banyak yg perlu diobservasi dan dipertimbangkan sebelum
mengambil keputusan memberi sufor. Karena, kalopun ada “masalah”
dengan bayi kita, jarang sekali jawaban/solusinya adalah sufor.

Sehatkah Berat Badan Anak Anda?

Anak yang sehat itu tidak kurus, tidak juga gemuk. Pola dan gaya makan zaman sekarang menjadikan anak kelebihan berat badan. Berat badan berlebih menyimpan sejumlah penyakit kelak setelah anak dewasa. Bagaimana membaca berat badan anak?
Kebanyakan anak sekarang bernasib kelebihan berat badan. Mitos bahwa anak montok itu lucu dan sehat harus hilang dari benak para ibu. Ibu tidak lagi bijak kalau memberi anaknya makan lebih banyak dari yang tubuh anak butuhkan.
Dahulu dianggap lazim kalau di akhir resep dokter hampir selalu ibu minta vitamin atau obat supaya anaknya bertambah gendut. Ibu perlu tahu kalau sikap demikian bagi anak, tidaklah arif. Kita tak boleh lupa kalau gemuk itu penyakit.
Lebih separuh remaja Amerika sekarang tercatat sudah berisiko kena penyakit jantung pada usia lebih muda dari rata-rata orang dulu, yang baru menyerang pada kelompok usia kakeknya. Penyebabnya, lantaran sejak kecil anak Amerika dibesarkan dengan kelebihan berat badan.
Bila sejak kecil anak sudah kelebihan berat badan, bukan saja jumlah sel lemak yang terbentuk akan berlebih, melainkan ukurannya pun lebih besar dari sel lemak anak yang tidak gemuk. Ukuran sel lemak yang terlanjur besar tak mungkin dikempiskan lagi inilah yang menjadikan pola tubuh anak terus saja gemuk sampai dewasa. Paling kurang penyakit jantung koroner, stroke, kencing manis, perlemakan hati, kanker, akan terus menghantui mereka yang bertubuh tambun.
Anak dinilai kelebihan berat badan bila melebihi berat badan standard (lihat Tabel). Growth Chart (Peta pertumbuhan), dan KMS (Kartu Menuju Sehat, standard Harvard) memperlihatkan apakah sesuai dengan umurnya, berat badan anak tergolong ideal, kurang, atau malah berlebih.
Untuk menilai berat badan kita mengenal formula 8+2 (umur) kg, selain formula BMI (Body Mass Index). Kelemahan estimasi BMI tidak bisa membedakan apakah kelebihan berat badan itu disebabkan oleh timbunan gajih (adipositas), besarnya otot, atau pembengkakan jaringan (oedema). Itu sebab BMI lebih lazim digunakan untuk populasi usia dewasa pada masa proses pertumbuhan sudah terhenti.
Berat dan anak menjadi berlebih, selain sebab asupan nutrisi harian melebihi kebutuhan, juga sebab kompisisi gizinya tidak seimbang. Rata-rata anak lebih banyak asupan menu lemak dan karbohidrat yang diperolehnya dari memilih menu junkfood yang boros gula, royal lemak, serta tinggi kalori. Kelebihan kalori harian dengan pola makan semacam itu yang berpotensi melahirkan generasi anak dengan dagu berlipat, yang sudah terantisipasi tergolong tidak sehat.
Menu sehat agar anak tidak gemuk berprinsip cukup kalori dan tinggi protein. Untuk bertumbuh dan pembentukan otak selain nutrisi perlu lengkap, anak membutuhkan lebih banyak protein, kalsium (Ca), dan zinc (Zn). Bahkan sejak anak masih di rahim ibu.
Secara alami pengaturan kecukupan nutrisi tubuh dipandu oleh rasa lapar dan rasa kenyang. Itu sebab perlunya membentuk kebiasaan makan anak yang hanya makan kalau lagi merasa lapar (gula darah rendah) saja, dan tidak makan lagi kalau sudah kenyang. Waktu makan tertib dan teratur, jauhkan camilan berlebihan, junkfood, dan pilihan menu alami ketimbang menu olahan (refined diet) di meja makan ibu, sejak anak kecil mula.
Masih makan padahal tidak lapar yang acap menambah berat badan. Terapi penurunan berat badan sekarang tak cukup hanya dengan pantang rendah kalori. Tak jarang perlu upaya mengubah perilaku makan akibat telanjur “lapar mata”:ikut makan kalau melihat ada orang makan, kendati tidak lapar.
Namun efek terapi penurunan berat badan dengan cara apa pun niscaya gagal sebab tidak mungkin bisa mengempiskan sel-sel lemak yang sudah terbentuk, kecuali dengan bantuan dokter ahli bedah, bila sejak kecil sel-sel lemak tubuh anak sudah telanjur terbentuk besar. Memang nasib anak menjadi sehat atau tidak, dapat ditentukan oleh apa isi lemari makan ibu.

BERBOBOT LEBIH BELUM TENTU SEHAT

Kondisi bayi yang lahir dengan bobot berlebih justru harus lebih dipantau demi menghindari risiko di kemudian hari.
Sebenarnya siapa sih yang disebut bayi berat lahir berlebih itu? Ada dua kelompok. Pertama, bayi yang begitu lahir memiliki bobot lebih dari 3.900 gram. Padahal normalnya, sekitar 2.500-3.800 gram. Kondisi yang dikenal sebagai giant baby ini dapat terbawa sampai anak tumbuh dewasa.
Yang kedua, bobot si kecil sewaktu lahir tergolong normal tapi pada masa pertumbuhannya naik cukup banyak hingga melebihi ambang batas grafik pertambahan berat badan. Nah, bayi seperti ini diistilahkan sebagai bayi dengan berat badan di atas rata-rata. Kondisi ini umumnya disebabkan pola makan bayi yang berlebihan dan asupan gizi yang tidak seimbang. Obesitas pada anak diklasifikasikan berdasarkan hasil pengukuran berat badan dibandingkan panjang badannya. Dikatakan obesitas ringan bila perbandingan berat terhadap panjang badan antara 120-135%, sedangkan disebut obesitas berat bila perbandingan berat terhadap panjang badannya antara 150-200%.
MENGAPA JANIN BISA KELEBIHAN BERAT?
* Ibu menderita kencing manis (Diabetes Melitus/DM)
Kadar gula darah ibu hamil penderita DM tergolong tinggi. Kondisi inilah yang memberi peluang janin untuk tumbuh melebihi ukuran rata-rata. Jika fungsi plasenta dan tali pusat baik, maka si calon bayi dapat tumbuh makin “subur”.
* Ibu memiliki riwayat melahirkan bayi besar
Ibu yang pada kehamilan pertama melahirkan giant baby berpeluang besar melahirkan anak kedua dan seterusnya dengan kondisi yang sama pada kehamilan berikutnya.
* Faktor genetik
Obesitas dan overweight yang dialami ayah atau ibu dapat menurun pada bayi.
* Pengaruh kecukupan gizi
Porsi makanan yang dikonsumsi ibu hamil akan berpengaruh terhadap bobot janin. Asupan gizi yang berlebih bisa mengakibatkan bayi lahir dengan berat di atas rata-rata normal.
* Bukan kehamilan pertama
Ada kecenderungan berat badan lahir anak kedua dan seterusnya lebih besar ketimbang anak pertama. Jika anak pertama lahir dengan bobot 3,8 kg, umpamanya, tidak mustahil anak kedua dilahirkan dengan berat 4 kg. Toh, ini bukan patokan pasti. Adakalanya justru anak kedua dan seterusnya dilahirkan dengan berat badan lebih kecil. Hal ini juga tergantung pada asupan nutrisi, faktor genetik, dan sebagainya.
RISIKO APA SAJA YANG DIHADAPI?
Seperti yang dikatakan tadi, bayi montok memang imut-imut tapi belum tentu sehat. Ada beberapa risiko yang mesti diwaspadai, berikut di antaranya:
* Rendah kadar gula darah
Bayi dengan berat lahir lebih dari 3,9 kilogram yang dilahirkan dari ibu penderita DM akan diperiksa kondisi gula darahnya. Antisipasi ini dilakukan agar kadar gula darah bayi tidak drop begitu ia lahir akibat terhentinya suplai makanan dari sang ibu melalui plasenta. Kalau kadar gulanya memang rendah, bayi akan diberi cairan yang mengandung kadar gula tertentu. Umumnya dalam waktu 24 jam kondisinya akan kembali normal.
* Obesitas
Bayi gemuk kelak berisiko mengalami obesitas. Hal ini akan berdampak kurang baik terhadap fungsi-fungsi organ tubuhnya. Jika ayah/ibu mengalami obesitas maka si kecil berpeluang 50% mengalami kondisi yang sama. Meski begitu, tidak semua bayi overweight pasti tumbuh menjadi anak obesitas. Ada yang berat badannya justru jadi normal atau malah jadi kurus. Semua ini bergantung pada pola makan dan banyaknya aktivitas yang dijalani.
* Keterlambatan kemampuan bergerak
Tubuh bayi yang gemuk dapat menghambat gerakan/aktivitasnya. Karena itu tak jarang, bayi-bayi gemuk mengalami keterlambatan perkembangan. Misalnya, di usia 7 bulan yang seharusnya sudah bisa duduk belum dapat dilakukan. Untuk itu, ia mesti rajin-rajin distimulasi. Bentuk stimulasi yang diberikan sama dengan bayi-bayi lain, hanya harus lebih sering.
TAK BOLEH DIET
Yang jelas, walau si kecil tergolong “kelas berat”, ia tidak dianjurkan menjalani diet. Ini artinya, makanan yang dikonsumsi tak boleh dikurangi atau bahkan dihentikan. Mengencerkan susu bayi pun tak diperkenankan karena sama-sama akan berdampak negatif. Salah satunya, kebutuhan kelori bayi jaditidak terpenuhi sehingga daya tahan tubuhnya menurun dan berisiko jatuh sakit.
Orang tua hanya perlu memodifikasi pola konsumsi si kecil. Umpamanya, jika setelah berusia 6 bulan bayi lebih banyak mengonsumsi susu, selingi dengan makanan pendam-ping ASI yang kandungan gizinya memadai tapi tidak berlebihan. Untuk bayi di bawah 6 bulan, berikan ASI eksklusif untuk mencegah terjadinya obesitas.
Cara lain adalah mengonsumsi lebih banyak buah-buahan. Contohnya, bila sebelumnya dalam satu hari si kecil hanya mengonsumsi satu kali asupan buah-buahan sekarang bisa ditambah menjadi dua atau tiga kali pemberian menggantikan bubur beras atau bubur tepung lainnya. Alhasil, asupan karbohidratnya tidak terlalu banyak.
Perkembangan status gizi bayi dapat dipantau berkala setiap bulan dengan cara menimbang berat badan dan mengukur panjang badannya. Pemantauan ini perlu untuk mencegah kemungkinan terjadinya obesitas. Bila berat badan naik berlebihan dalam kurun waktu 1-3 bulan di atas rata-rata penambahan berat badan, orang tua harus berkonsultasi lebih intensif ke dokter.
TAK PERLU MEMBANDINGKAN
Idealnya, berat badan bayi berada di garis normal pada grafik pertumbuhan. Ini artinya, pertambahan berat badannya seimbang dengan pertambahan tinggi badan dan usia. Untuk itulah, orang tua dianjurkan untuk selalu memantau berat badan bayinya secara berkala dengan membawa si kecil kontrol ke dokter/posyandu sebulan sekali.
Masalahnya, orang tua kerap membanding-bandingkan berat badan si kecil dengan bayi lain. Kalau ia tidak semontok yang lain, ayah/ibu langsung mengambil kesimpulan kalau bayinya kekurangan gizi, kurang sehat, dan sebagainya. Tentu hal ini tidak benar. Fisik si kecil yang kurus tak mesti menandakan dia bermasalah selama BB-nya masih dalam range normal pada grafik pertumbuhan. Adakalanya badan si kecil bertambah panjang sehingga kelihatan kurus padahal berat badannya tetap naik. Ini yang penting.
Jangan lupa, bahwa setiap anak itu unik, berbeda, dan memiliki ciri khas tersendiri. Bahkan, dibandingkan kakak ataupun adiknya. Jadi tentu tidak bijaksana untuk membanding-bandingkan mereka.

Body Mass Index

Body Mass Index

Regular checkups help the doctor monitor your child’s growth and development. For years, doctors have used height and weight measurements as their primary tools for assessing a child’s physical growth in relation to other children of the same age.

Now they have another tool: body mass index (BMI). Why is this new measurement so helpful?

What Is BMI?

BMI is a calculation that uses a child’s height and weight to estimate how much body fat he or she has. Doctors use BMI to determine how appropriate a child’s weight is for a certain height and age.

Calculating BMI

The best way to determine your child’s BMI is to have your child’s doctor do it. That way, you’ll know the number is accurate and your child’s doctor can discuss the result with you. If you’re interested, you also can figure out your BMI by using this calculator:

Starting when your child is 2 years old, the doctor will probably determine his or her BMI at every routine checkup. The doctor will likely plot this measurement on a chart against those of other children who are the same age. Because what is normal changes with age, doctors must plot children’s BMI measurements on standard growth charts rather than using a universal normal range for BMI as is done with adults. They also use separate charts for boys and girls to account for differences in growth rates and amounts of body fat as the two genders mature.

That information is recorded in your child’s medical record, and over several visits, the pattern of measurements allows the doctor to track your child’s growth.

BMI is particularly helpful for identifying children and adolescents who are at risk for becoming significantly overweight as they get older. In older children and teens, there is a strong correlation between BMI and the amount of body fat. Therefore, those with high BMI readings – and probably high levels of fat – are most likely to have weight problems when they are older. If doctors can identify these at-risk children early on, they can monitor their body fat more carefully and potentially prevent adult obesity through changes in eating and exercise habits.

What Do These Figures Mean?

A child’s BMI percentile is a way of showing how his or her measurements compare to kids who are the same gender and age. For example, if a child has a BMI in the 60th percentile, 60% of kids of the same gender and age have a lower BMI.

BMI is not perfect. For example, it’s very common for kids to gain weight quickly – and see the BMI go up – during puberty. Your child’s doctor can help you figure out whether this weight gain is a normal part of development or whether it’s something to be concerned about. If you think your child may be gaining or losing weight too fast, talk to your child’s doctor. A child can also have a high BMI because he or she has a large frame or a lot of muscle, not excess fat. By the same token, a person with a small frame may have a normal BMI but might have too much body fat.

Although BMI is not a direct or perfect measure of body fat, a child above the 95th percentile is considered overweight because 95% of the population has a BMI less than he or she does. A child whose BMI is at the 50th percentile is close to the average of the population. A child below the 5th percentile is considered underweight because 95% of the population has a higher BMI.

Also, it’s important to look at the BMI numbers as a trend instead of focusing on individual numbers. Any one measurement, taken out of context, might give you the wrong impression of your child’s growth. The real value of BMI measurements lies in viewing them as a pattern over time. That allows both doctor and parents to watch the child’s growth and determine whether it’s normal compared with that of other children the same age. BMI is an important additional tool that can be used as an indicator that your child is growing and developing in a healthy way.

Reviewed by: Steven Dowshen, MD