Bayi prematur berisiko alami gangguan retina

sumber : http://www.motherandbaby.co.id/index.php?mod=vcontent&tokenid=f74909ace68e51891440e4da0b65a70c

Sebuah penelitian dari Uppsala Hospital University di Swedia dan Trondheim University Hospital di Norwegia, menemukan bahwa bayi yang lahir secara prematur memiliki risiko yang sangat tinggi mengalami gangguan penglihatan. Hal tersebut disebabkan karena terganggunya aliran darah menuju retina. Aliran darah tersebut mengalami gangguan karena belum sempurnanya organ pembuluh darah, termasuk pembuluh darah besar yang berasal dari jantung menuju retina mata.

Para peneliti asal Swedia menganalisis 506 bayi yang lahir sebelum usia kandungannya mencapai 30 minggu, dan mampu bertahan ketika dilahirikan. Ternyata, 368 bayi diantaranya (72,7%) mengalami masalah pada retina matanya. Dari 368 bayi tersebut, 34,8% nya hanya mengalami gangguan sederhana, dan 19,6% lainnya harus diberikan pemeriksaan intensif oleh dokter spesialis mata karena mengalami masalah serius pada retina dan korneanya.

Para peneliti pun menegaskan bahwa kelahiran prematur ini merupakan risiko penyebab tertinggi bagi munculnya gangguan retina mata dibandingkan dengan kelebihan berat badan saat bayi dilahirkan. Hasil studi sebelumnya di beberapa negara mendapatkan bahwa gangguan retina mata pada bayi baru lahir prematur di wilayah Skandinavia hanya sebesar 34,8% dari jumlah bayi yang lahir secara prematur (sebelum 30 minggu), 25,2% di Belgia, dan 16% yang terjadi di Asutria. “Pada tahun 80-90an, bayi yang lahir secara prematur cukup berisiko pada kematian saat dilahirkan, namun sekarang, bayi prematur yang usia kandungannya kurang dari 30 minggu dan mampu bertahan saat dilahirkan, namun memiliko risiko besar mengalami gangguan pada retina matanya,” ujar salah satu anggota peneliti.

Prematur dan Keterlambatan Berbahasa

SUMBER :http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/pda/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|1554

Mother And Baby

Jika seorang anak lahir prematur, besar kemungkinan ia akan mengalami keterlambatan perkembangan menurut standar usia yang ditetapkan. Pada kenyataannya, bayi prematur memang membutuhkan satu hingga dua tahun pertama untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat, mengejar ketinggalannya dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Untuk evaluasi keterlambatan bahasa bayi premature, seringkali para ahli perkembangan bahasa dan bicara melakukannya berdasarkan adjusted age (terhitung sejak tanggal kelahiran) hingga si kecil berusia 2 tahun.

Laura Dyer, seorang ahli perkembangan bahasa anak memaparkan bahwa keterlambatan dalam berbahasa juga bisa terjadi pada anak yang sakit dan membutuhkan perawatan yang cukup lama di rumah sakit. Anak-anak ini menurutnya tidak memiliki energi ataupun kesempatan untuk berinteraksi secara normal dengan orang lain. Beberapa kasus bahkan menunjukkan kalau mereka mengalami prosedur khusus yang dapat membatasi perkembangan bicara dan/atau bahasa mereka, misalnya prosedur tracheotomy. Alasan lain yang menurutnya dapat turut mempengaruhi keterlambatan berbahasa seorang anak antara lain adalah temperamen, kepribadian dan gaya belajar setiap individu. Selain itu, riset juga menunjukkan kalau faktor genetik juga bisa menjadi alasan keterlambatan berbahasa.

Laura memaparkan, umumnya para ahli menunggu sampai anak mencapai usia 18-24 bulan sebelum benar-benar dilakukan evaluasi formal terhadap kemampuan berbahasa dan bicaranya. Laura mencatat sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa bagaimana pun ahli perkembangan bahasa dan bicara dapat mengidentifikasi anak yang berisiko tinggi melalui perilaku preverbalnya. Misalnya, dengan mengamati apakah si kecil bisa menggunakan mata dan bahasa tubuhnya untuk menyampaikan keinginannya atau bisa mengoceh atau mengeluarkan suara lainnya. Hal-hal tersebut dapat digunakan untuk melakukan identifikasi awal keterlambatan berbahasa dan bicara yang mungkin terjadi pada si kecil.

Secara rinci Laura membuat sebuah panduan untuk membantu Anda mengindentifikasi apakah si kecil memiliki kemungkinan mengalami keterlambatan bahasa atau tidak. Perhatikanlah beberapa tanda berikut :

* Bisakah si kecil melakukan kontak mata?
* Tersenyum?
* Bermain dengan mainannya?
* berinteraksi dengan orang lain?
* mengerti apa yang dikatakan padanya?
* secara teratur menggunakan bahasa tubuh atau suara untuk mengkomunikasikan keinginan dan perasaannya?

Jika si kecil tidak bisa melakukan hal-hal di atas, Anda perlu waspada karena kemungkinan besar si kecil memiliki risiko tinggi mengalami keterlambatan berbahasa dan bicara. Tetapi jika tidak, Anda tak perlu terlalu khawatir. Karena riset mengenai keterlambatan bicara mengindikasikan bahwa anak-anak yang dapat mengerti kata-kata, menggunakan mata, bahasa tubuh dan suara, memiliki kecenderungan untuk dapat mengejar ketinggalannya tanpa perlu dilakukan banyak intervensi.

Menurut Laura, intervensi awal memang sangat diperlukan apalagi kapasitas anak untuk mempelajari kemampuan bahasa tertentu sangat dipengaruhi oleh kematangan otak, yang akan terus berkembang hingga si kecil berusia 3 tahun. Tiga tahun pertama adalah tahapan yang sangat penting baginya karena pada masa inilah terjadi banyak sinapsis (hubungan syaraf pada otak) yang terjadi dengan sangat pesat. Stimulasi yang diberikan akan makin memperkuat sinapsis. Sebaliknya, jika stimulasi jarang diberikan, biasanya perkembangan otak pun tak akan optimal. Itu sebabnya, anak-anak, apalagi bayi prematur, memerlukan stimulasi emosi, fisik, kognitif dan bahasa yang konsisten sejak lahir.

Meliana Simarmata

Sumber: Majalah Inspire Kids

Mengenali Masalah Umum pada Bayi Prematur

SUMBER : http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/pda/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|1557

Mother And Baby

Setiap tahun, tercatat sekitar 10-15% bayi lahir prematur atau sebelum waktunya. Dan umumnya bayi yang lahir prematur akan memiliki banyak masalah setelah lahir. Menurut dr Rudy Firmansyah SpA, bayi prematur yang masa di kandungannya hanya 36-37 minggu memunyai angka kematian 5 kali lebih tinggi daripada bayi cukup bulan. Sedangkan bayi yang usia kandungannya hanya/di bawah 32 minggu memiliki angka kematian lebih tinggi lagi, yaitu 45 kali lebih tinggi daripada bayi cukup umur.

Menurut dr. Toto Wisnu Hendarto, dibanding bayi yang lahir normal, bayi prematur memang cenderung bermasalah. Belum matangnya masa gestasi menyebabkan ketidakmatangan pada semua sistem organnya, misalnya pada sistem pernapasan (organ paru-paru), sistem peredaran darah (jantung), sistem pencernaan dan penyerapan (usus), dan sistem saraf pusat (otak). Ketidakmatangan pada sistem-sistem organ itulah yang membuat bayi prematur cenderung mengalami kelainan-kelainan dibanding bayi normal.

Berikut risiko gangguan yang mungkin dialami bayi prematur pasca lahir:

Gangguan Pernafasan
Kelainan ini terjadi karena kurang matangnya paru-paru sehingga kekurangan surfaktan (cairan pelapis paru-paru) yang berfungsi mempertahankan mengembangnya gelumbung paru. Kurangnya jumlah surfaktan ini mengakibatkan pertukaran udara tidak berjalan baik dan membuat bayi akan mengalami sesak napas atau sindroma gangguan nafas (SGN). Tindakan yang diberikan biasanya berupa pemakaian alat bantu napas mekanik atau pemberian surfaktan eksternal, bergantung pada tingkat kematangan paru.

Hipoksia Perinatal (kekurangan oksigen)
Biasanya gangguan ini sudah mulai terjadi sejak bayi berada dalam kandungan dan dapat membuat bayi mengalami kegagalan bernafas spontan dan teratur pada menit-menit pertama setelah kelahiran. Untuk mengatasinya, umumnya dokter akan melakukan usaha bernapas kembali dengan pernapasan buatan atau pijat dan rangsang jantung.

Perdarahan Otak
Pendarahan otak terutama terjadi pada bayi prematur yang lahir kurang dari 34 minggu pada minggu pertama kelahiran. Gangguan inilah yang kemudian bisa menyebabkan bayi prematur menjadi kurang cerdas dibandingkan dengan bayi yang lahir cukup umur.

Kelainan Jantung.
Kelainan yang sering terjadi adalah Patent Ductus Arteriosus, yaitu adanya hubungan antara aorta dengan pembuluh darah jantung yang menuju ke paru-paru. Saluran/duktus ini mengalirkan darah keluar dari paru yang belum berfungsi dan ia tetap terbuka selama kehamilan. Saat masih dalam kandungan, pembuluh darah ini digunakan untuk bernapas. Ketika lahir, bayi akan bernapas secara normal, sehingga pembuluh darah itu akan menutup. Tapi karena gagal napas maka pembuluh darah ini tak menutup.

Masalah Pendengaran
Pada bayi prematur risiko gangguan pendengaran pun jadi lebih tinggi. Kurang lebih 5% bayi prematuryang lahir kurang dari 32 minggu masa kehamilan akan mengalami kehilangan pendengaran pada usia 5 tahun.

Masalah Usus
Ketidakmatangan usus dapat menyebabkan bayi mengalami masalah dalam menerima dan menyerap nutrisi.

Mata Juling
Masalah mata juling juga kerap terjadi pada bayi yang lahir prematur. Karena itu, pemeriksaan mata secara intensif sangat perlu dilakukan untuk mencari kemungkinan gangguan mata sedini mungkin.

Kuning
Fungsi hati yang belum belum sempurna dan infeksi yang dialami ibu semasa hamil membuat bayi berpotensi mengalami kuning ketika lahir. Pada kasus ringan, dokter akan melakukan terapi sinar biru untuk mengatasi kuning pada bayi.

Cedera Kedinginan
Karena pengaturan suhu tubuh bayi yang belum sempurna bayi dapat mengalami cedera pada kulitnya. Dengan memasukkan bayi ke dalam inkubator atau melakukan gendong kangguru ( menggendong bayi tanpa baju menempel pada dada/kulit ibu kemudian menutupinya dengan selimut), bayi akan merasa hangat dan terhindar dari kedinginan.

Tidak Dapat Minum
Kurang sempurnanya sistem menghisapnya dapat membuat bayi mengalami kesulitan saat minum. Karena itu, diperlukan perawatan khusus untuk membantunya mengasup nutrisi.

Meliana Simarmata

Sumber: Majalah Inspire Kids