BAB Bayi ASI Exclusive

sumber : milist asiforbaby
penulist : mia sutanto (konselor laktasi, ketua AIMI)

mengenai pup bayi ASIX memang sudah sangat sering sekali dibahas dimilis ini, tapi saya gak bosen2nya ngingetin terus supaya para moms gak panik…soalnya tidak semua dsa paham betul mengenai karakteristik BAB bayi ASIX:

1. Tampilan
tidak pernah keras dan berbentuk bulatan2 kecil dan hitam
2. Warna
sangat bervariasi dari warna hitam pekat (meconium hari pertama), hijau gelap dan pekat (masa transisi, hari ke-2/3) dan berbagai macam warna kuning – tua, muda, terang, gelap, kehijauan, dll
3. Bau
hampir tidak pernah berbau busuk, cenderung bau seperti susu masam/basi
4. Bentuk/Tekstur
sangat bervariasi – cair dan berbiji, seperti pasta gigi (lengket), padat tapi tidak keras (seperti ampas tahu), dll
5. Frekuensi
sangat bervariasi: setiap kali menyusu – 10 hari sekali

Kapan harus waspada:
– warna BAB hijau, dengan lendir (virus), dengan busa (foremilk inbalance), dengan gejala alergi (intoleransi/alergi makanan ibu)
– warna BAB merah — merah terdapat pada bagian luar BAB dan tampak seperti noda-noda kecil (luka pada anus/usus besar)

Kapan harus khawatir:
– bayi ASIX hampir tidak pernah sembelit, ciri2 sembelit adalah: BAB berbentuk bulatan2 kecil dan sangat keras, kadang disertai dengan darah dan lendir
– BAB lebih sering dari biasanya, contoh: biasanya sehari BAB 5x, nah ini bisa sampai 10x (menyimpang dari yang normal) disertai dengan perubahan tekstur dan warna
– BAB berwarna hitam, tanpa/dengan disertai sembelit
– BAB berwarna merah — darah sudah bercampur dengan BAB, warna merah tua, coklat tua, merah maroon, hitam — gangguan berasal dari saluran pencernaan bagian atas
– BAB terus menerus berdarah dan bercampur lendir — segera hubungi dokter..!!

Sekali lagi moms, kenali bayi anda…apabila terjadi perubahan pola BAB yang harus diwaspadai ataupun dicemasi disertai dengan gejala demam, rewel, menangis, kesakitan, alergi, dll — segera ambil tindakan.

Tapi, kalau anaknya memang BAB normal adalah sehari 5x (bukan berarti diare), ataupun sebaliknya, normalnya adalah 5 hari sekali…gak usah buru2 khawatir deh moms…asal anaknya tetap ceria, lahap minum ASI, tampak fisiknya sehat, responsif, dll. Salah2 udah panik duluan ke dokter, terus dsa-nya gak ngerti soal bayi ASIX di diagnosa diare dan harus minum AB, atau didiagnosa sembelit dan harus dikasih dulcolax…weleh2, malah salah kaprah.

Silahkan kenali berbagai rupa dan warna BAB bayi ASI di kelas edukasi AIMI: common problems in breastfeeding.

Warna pipis bayi

sumber : sehatgroup.web.id

18/02/2005
Q : Selamat pagi Ibu Purnamawati yth,Saya ingin menanyakan warna pipis bayi saya (4bl) belakangan kok warnanya ke-orange2-an ya bu? apakah ini normal? saya kuatir jika ada yang sakit dibagian dalam perutnya.
Terimakasih
Ulin
A : Dear UlinThanks ya atas emailnya.Bayimu minum ASI atau formula? Bayimu minum vitamin atau obat tertentu?Kadang formula yg disuplemen dengan vitamin memang bisa megubah warna urin, demikian juga sediaan vitamin. Saran saya, coba kamu periksa urin rutinnya dan lihat ada kelainan tidak?
Kedua… seandainya bayimu makan vitamin, gak usah aja deh, kan sudah dicukupi dari ASI, formula dan tabungan saat ia masih dalam kandunganOk kabari lagi ya.
wati

Mengatasi Sembelit Pada Anak

sumber : http://www.resep.web.id/indonesia/mengatasi-sembelit-pada-anak.htm

http://hanifalazhar.wordpress.com/2008/03/13/mengatasi-sembelit-pada-anak/

Oleh : Audrey Luize

Salah satu penyakit anak yang banyak dikeluhkan kaum ibu adalah sembelit, yaitu anak mengalami keterlambatan atau kesukaran dalam membuang kotorannya. Pada anak yang masih dalam usia bayi, sembelit memang sering kali membuat orangtua khawatir. Adapun pada anak usia di atas dua tahun, sembelit cenderung dianggap ringan.

Bila bayi dalam dua atau tiga hari tidak membuang kotorannya dan terus menangis, biasanya orangtua bingung sendiri karena bayi memang belum bisa diajak berbicara apa yang
Baca lebih lanjut

Anak Anda Mengalami Sembelit?

Oleh Dr.suriviana

Anak Anda Mengalami Sembelit? Sering kali seorang ibu menanyakan ke dokter dengan keluhan anaknya mengalami kesulitan membuang kotorannya selama beberapa hari dan apa yang dapat dilakukan dengan pemberian makannya, atau adakah kelainan yang serius pada anaknya….jawabnya

Sering kali seorang ibu menanyakan ke dokter dengan keluhan anaknya mengalami kesulitan membuang kotorannya selama beberapa hari dan mengeluhkan apa ada yang salah dalam pemberian makannya, atau adakah kelainan yang serius pada anaknya.

Anak-anak yang mengalami kesulitan buang air besar kemungkinan mengalami konstipasi atau sembelit jika sifat tinja abnormal atau apabila frekuensi ke belakangnya abnormal. Definisi sembelit adalah kesulitan atau kelambatan pasase tinja. Pada umumnya, sembelit atau konstipasi akan timbul jika tinja keras, jarang keluar dan terasa nyeri jika keluar.

Buang air besar adalah suatu reflek ; gerak peristaltik usus yang disertai relaksasi otot sfingter anus bagian dalam dan luar , dan dikendalikan secara sadar oleh otot sfingter anus bagian luar sehingga menimbulkan defekasi atau keingginan untuk buang air besar.

Pola defekasi normal berbeda-beda tergantung pada umur dan diet seseorang. Seperti pada bayi , selama 3-4 hari pertama lazimnya mengeluarkan mekonium kental warna hitam kehijauan tidak berbau, kemudian perlahan-lahan berubah jadi coklat-hijau dan berjumlah sedikit dengan frekuensi samapi 8 kali sehari, meskipin bebrapa bayi dapat tidak mengeluarkan tinja selam 24 jam. Tinja susu mulai keluar setelah satu minggu, bayi dengan ASI mengeluarkan tinja lembek warna kuning muda, sedang yang mendapat susu formula memiliki tinja yang padat warna kuning. Frekuensi dan bentuk tinja anak yang lebih besar mencerminkan kebiasaan makan dan jenis diet.

Dalam keadaan normal , mereka ada yang jarang BAB , adakalanya Cuma sekali dalam 3-4 hari sekali. Masalah yang sering kali dikeluhkan jika timbul nyeri dan rasa tidak enak waktu BAB.

Penyebab sembelit dapat disebabkan karena kesalahan dalam diet ( kurang serat, asupan susu formula berlabihan) , kelainan bawaan ( pada usus atau persarafan ) , keracunan obat, kelainan metabolik, atau gangguan pada psikologisnya ( kesukaran toilet training )

Yang perlu diperhatikan pada sembelit anak :.
o Frekuensi, konsistensi, warna, bau dan pola BAB sebelumnya, riwayat sembelit dalam keluarga.
o Gangguan yang menyertai seperti nyeri perut, kram usus, anoreksia.
o Adakah gangguan emosi, masalah di sekolah atau di rumah, konflik dengan saudara atau orang tua, dan juga hubungan ayah-ibu-anak.
o Penggalian tentang kebiasaan dan cara pemberian makan , pemberian serat pada anak.
o Penggunaan obat-obatan pencahar dan antihistamin, diuretic, opiat yang berlebihan.
o Pengenalan dan penolakan terhadap toilet training .
o Pola BAB bayi baru lahir ( frekuensi, warna, konsistensi)

Hal-hal yang perlu diwaspadai dan segera dikonsultasikan ke dokter anda , jika;
o BAB terasa sakit dan berdarah
o Tidak BAB selama 5 hari
o Nyeri perut lebih dari satu jam
o Robekan atau luka atau peradangan di sekitar anus.

Apa yang dapat kita lakukan ;
o Perubahan diet , pemberian sari buah atau sumber serat dari buah-buahan dan sayuran , cukupi dalam kebutuhan cairan perhari. Hindari produk susu, pisang , dan apel karena dapat menimbulkan sembelit.
o Perawatan anus dengan melunakan tinja dan menjaga daerah tersebut agar tetap kering. Berikan krem setelah mengganti popok untuk memberikan rasa sejuk.
o Mengajari secara perlahan-;ahan dan sesuai dengan langkah anak sendiri dalam toilet training.
o Mengatasi masalah psikologis yang menyebabkan sembelit
o Dianjurkan untuk BAB setiap hari atau secara teratur dua kali sehari ke toilet
o Posisi yang dapat membantu mempermudah BAB ; menekuk paha kea rah perut sehingga menaikkan tekanan dalam rongga perut.

(c)Dr.suriViana -www.infoibu.com

Mendeteksi Feses

FESES IDENTIK DENGAN KESEHATAN

Feses berwarna abu-abu menandakan bayi terlalu banyak mengonsumsi zat besi.

Kondisi feses bayi tidak selalu sama setiap harinya. Perubahan ini tergantung pada kondisi dan kesehatan si kecil. Karena itu saat mendapati feses bayi yang “mencurigakan”, salah satu hal yang bisa dilakukan orangtua adalah melakukan observasi menu makanan yang dikonsumsi bayi, tak hanya dalam satu hari tapi juga 2 hari sebelumnya. Kenapa? Sebab gerak usus pada bayi yang normal adalah selama 24 sampai 36 jam. Jadi, makanan yang dikonsumsi bayi sekarang akan keluar 24 atau 36 jam kemudian.

Nah, menurut dr. Eva J. Soelaeman, SpA., normal tidaknya feses dapat dilihat dari warna, bentuk, dan bau. Berikut penjelasannya:

Mendeteksi feses dari warna

Normal: warnanya kuning tua.

Tidak normal:

- Abu-abu atau abu-abu kehitam-hitaman bisa terjadi kalau si kecil terlalu banyak mengonsumsi makanan dengan kandungan zat besi yang terlalu tinggi. Solusi: Tetap berikan ASI atau pilih susu formula dengan kandungan zat besi yang standar, tidak berlebih.

- Merah. Penyebabnya: (1) terlalu banyak mengonsumsi makanan berwarna merah, (2) pengaruh obat (3) pertanda adanya darah. Penyebab ketiga inilah yang patut diwaspadai. Untuk itu bila yakin darah yang terlihat, segera bawa bayi ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut.

Mendeteksi feses dari bentuk

Normal:

Feses bayi yang berbuih/bercampur buih sekali dua kali adalah wajar. Penyebabnya bisa makanan ibu menyusui yang terlalu banyak mengonsumsi makanan yang merangsang, seperti pedas. Tapi jika sudah lebih dari tiga kali dan berat badannya turun, itu pertanda si kecil mengalami dehidrasi dan ada infeksi di ususnya. Kondisi seperti ini perlu penanganan dokter.

Tidak normal:

- Seperti dempul dengan warna putih/putih kekuning-kuningan. Bisa dipastikan si kecil mengalami kelainan liver/hati. Segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

- Hitam dan dibarengi sakit perut. Kemungkinan besar si kecil mengalami perdarahan. Segera bawa si kecil ke dokter dan bawa sampel feses untuk dicek ke laboratorium guna mencari penyebabnya.

Mendeteksi feses dari bau

Normal:

- Beraroma khas, bukan bau busuk.

Tidak normal:

- Baunya sangat busuk. Dicurigai, ada pembusukan yang tidak normal oleh bakteri di usus.

- Bau sangat asam. Biasanya pertanda ada gangguan penyerapan gula atau istilahnya malabsorbsi karbohidrat laktosa karena bayi tidak dapat mengonsumsi susu sapi. Coba, gantilah susu si kecil dengan susu kedelai.

- Bau amis. Kemungkinan infeksi amuba atau jamur. Kondisi ini perlu penanganan dokter.

Mendeteksi feses dari asupan yang didapat bayi:

- Bayi yang mendapat ASI eksklusif:

Fesesnya akan encer/tak berbentuk dan berwarna kuning.

- Bayi yang hanya mendapat susu formula:

Jika susunya cocok maka bentuk fesesnya cenderung liat dan berwarna kuning. Namun bila tidak cocok, fesesnya bisa berwana abu-abu karena kemungkinan komposisi zat besi dalam susu formula tersebut terlalu tinggi untuk si bayi. Feses bayi yang berwarna hijau atau kehijau-hijauan menandakan lemak dalam susu formula yang diminumnya terlalu tinggi.

- Bayi yang mendapat asupan campur (ASI dan susu formula):

* Feses berwarna kuning dan tak berbentuk merupakan tanda si kecil lebih banyak mendapat ASI ketimbang susu formula. Di luar itu pertanda si kecil terlalu banyak mendapatkan susu formula.

* Di atas usia enam bulan, bila bayi sudah mendapatkan makanan lebih padat, fesesnya akan berbentuk seperti bubur dan menyerupai feses anak di atas usianya.

- Bayi yang dipengaruhi obat:

* Akibat pengaruh obat yang sedang dikonsumsinya , frekuensi BAB bisa berkurang dan feses bayi menjadi keras. Di antaranya pengaruh obat batuk yang mengandung zat antitusif. Pantaulah selalu fesesnya. Bila perlu konsultasikan kembali tentang hal ini pada dokter.

Gazali Solahuddin. Ilustraor: Pugoeh

BAB dan BAK Bayi

Seberapa Sering Bayi Pup dan Pipis ?

Jika terlalu sering atau kelewat jarang berarti ada sesuatu yang tak beres.

Frekuensi buang air besar (BAB) dan kecil (BAK) bayi berkaitan erat dengan asupan yang masuk. Buktinya, antara bayi yang mendapat ASI dan tidak berbeda pula frekuensi pup dan pipisnya. Kok bisa seperti itu? Lalu, bagaimana frekuensi yang normal? Simaklah penjelasan dari dr. Eva J. Soelaeman, SpA.

BAYI YANG MENYUSU ASI:

Usia 0-6 Bulan:

Frekuensi BAB normal:

Sehari 1-7 kali atau bahkan hanya 1-2 hari sekali. Dengan catatan berat badan bayi terus bertambah sesuai grafik normal yang tertera pada Kartu Menuju Sehat/KMS. Jika yang terjadi sebaliknya, si kecil harus menjalani pemeriksaan dokter.

Frekuensi BAB tidak normal:

* Setelah 2 hari tidak BAB atau BAB tiga hari 1 kali. Kondisi ini perlu dikonsultasikan pada dokter. Biasanya dokter akan melihat kondisi perut bayi, kembung atau tidak, keadaan feses, berat badan, dan tumbuh kembang bayi. Beberapa kemungkinan penyebab bayi jarang BAB adalah:

* Faktor makanan ibu. Misal, ibu menyusui sedang mengonsumsi obat-obatan/jamu. Akibatnya bayi yang memperoleh asupan makanan dari ASI ibu ikut “merasakan” dampak obat itu. Asal tahu saja, beberapa obat/jamu bisa membuat gerak/kerja usus menjadi lambat. Kondisi ini yang pada akhirnya membuat bayi mengalami sembelit.

* Masalah pada sistem pencernaan bayi. Misal, ususnya tersumbat atau melintir.

* Lebih dari 7 kali sehari. Frekuensi BAB yang lebih sering dari biasanya dapat disebabkan faktor makanan ibu. Contoh, ibu menyusui yang mengonsumi makanan pedas atau makan yang mengandung serat tinggi dapat membuat bayinya jadi lebih sering pup.

BAYI YANG TIDAK MENYUSU ASI

Usia Usia 0-6 bulan

Frekuensi BAB yang normal:

Sekitar 3-4 kali sehari sampai hanya 1-2 hari sekali. Kenapa frekuensi BAB-nya lebih jarang dari bayi yang menyusu ASI? ASI

seperti diketahui sangat mudah dicerna oleh bayi. Namun tidak begitu dengan susu formula yang lebih sulit dicerna dan diserap oleh sistem pencernaan bayi. Inilah yang menyebabkan kenapa

bayi yang menyusu ASI jarang mengalami kegemukan, sementara “bayi susu formula” kerap kelebihan berat badan.

Frekuensi BAB yang tidak normal:

Bila feses bayi encer dan frekuensinya lebih dari 10 kali per hari disertai penurunan berat badan.

Usia 6 bulan ke atas

Frekuensi BAB normal:

Biasanya 3-4 kali sehari atau 2 hari sekali. Setelah anak menginjak 4 tahun, frekuensi BAB-nya sudah seperti orangtuanya, yakni satu sampai dua kali sehari.

Frekuensi BAB tidak normal:

  • Lebih dari 4 kali sehari disertai gejala-gejala lain. Misalnya, bayi BAB sampai 6 kali sehari. Ini bisa dijadikan alarm bagi orangtua bahwa kondisi si kecil sedang tidak sehat. Coba perhatikan apakah bayi juga rewel atau gelisah? Jika ya, kemungkinan ada sesuatu yang tidak beres pada pencernaannya. Untuk menelusuri penyebabnya, ingat-ingat apa menu makanannya hari itu hingga 2 hari sebelumnya; apakah terlalu banyak serat? Terlalu banyak diberi buah/sayuran mungkin. Bayi yang terlalu banyak mengonsumsi serat berpotensi untuk lebih sering BAB dan akhirnya menjadi kurus. Sebab apa yang dikonsumsinya lebih banyak yang dikeluarkan ketimbang yang diserap. Dua kali dalam kurun waktu tujuh hari atau kurang. Kemungkinan bayi mengalami konstipasi/sembelit atau pemampatan feses di usus besar. Hati-hati, jika feses yang keras membuat anusnya luka dan si kecil mengalami trauma sehingga enggan untuk buang air besar yang berikutnya.

Penyebab konstipasi:

* Bisa jadi bayi terlalu banyak minum susu dan kurang mendapat makanan padat serta kurang minum air putih.

* Kurang serat/kurang mengonsumsi sayuran atau buah-buahan.
Cara mengatasinya, penyebab pertama bisa diatasi dengan mengurangi asupan susu formula pada bayi dan menggantikannnya dengan memperbanyak asupan makanan padat sesuai usianya. Sementara yang kedua, tentu bayi harus lebih banyak diberi makan buah-buahan, sayuran, dan tak lupa banyak minum air putih. Bila kondisi ini tidak mengalami perbaikan, amat bijak bila si kecil diperiksakan ke dokter.

FREKUENSI BAK

Dalam sehari, normalnya bayi buang air kecil sekitar 3-4 kali. Namun, sebetulnya frekuensi BAK tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Jika lebih dari itu oke-oke saja. Kecuali bila pipisnya sangat sering (lebih dari 10 kali/hari) atau jarang sama sekali. Dalam artian selama tidak ada tanda-tanda dehidrasi atau bayi menjadi lesu dan rewel, tak perlu terlalu mempermasalahkannya. Apalagi sampai khawatir bayi terkena diabetes militus karena DM pada anak, apalagi bayi sangat jarang terjadi. Namun waspadai bila frekuensi BAK bayi jarang/menjadi jarang. Misalnya, satu hari hanya sekali padahal biasanya bisa 4 kali. Atau sejak lahir si kecil memang jarang pipis padahal asupan cairannya mencukupi. Beberapa penyebab frekuensi BAK yang jarang adalah:

1. Bayi mengalami kekurangan cairan. Ini bisa karena ibu yang menyusui kurang banyak minum atau bayi sedang mengalami muntah-muntah atau berkeringat berlebihan. Kondisi seperti ini dapat diatasi dengan banyak memberi asupan cairan pada bayi. Ibu menyusui, misalnya, mesti banyak minum. Namun untuk kasus muntah-muntah, sebaiknya bayi segera dibawa ke dokter untuk mencari penyebabnya dan mencegahnya dari dehidrasi.

2. Pada bayi laki-laki, coba perhatikan ujung kulupnya apakah terlihat kecil atau tidak. Bila ya, bisa jadi ia mengalami phymosis (ujung kulup kecil) sehingga menyebabkannya jarang BAK. Sebagai solusi biasanya dokter akan melakukan pembesaran dengan cara sunat. Kondisi ini perlu diatasi segera karena jika dibiarkan bisa menimbulkan infeksi pada saluran kencing bayi.

3 Sukar pipis pada bayi perempuan bisa disebabkan infeksi pada organ intimnya meski bisa juga BAK-nya justru jadi lebih sering. Sebagai pecegahan, sehabis BAK, lubang kencing dan daerah sekitarnya mesti langsung dibersihkan. Sisa air seni bisa mengendap di lipatan-lipatan sekitar kelaminnya dan menimbulkan infeksi. Perha-tikan juga teknik menceboki. Jangan menceboki dari arah belakang ke depan namun dari depan kebelakang. Ini dimaksudkan agar kotoran dari anus tidak terbawa ke vagina.

FESES IDENTIK DENGAN KESEHATAN

Feses berwarna abu-abu menandakan bayi terlalu banyak mengonsumsi zat besi.

Kondisi feses bayi tidak selalu sama setiap harinya. Perubahan ini tergantung pada kondisi dan kesehatan si kecil. Karena itu saat mendapati feses bayi yang “mencurigakan”, salah satu hal yang bisa dilakukan orangtua adalah melakukan observasi menu makanan yang dikonsumsi bayi, tak hanya dalam satu hari tapi juga 2 hari sebelumnya. Kenapa? Sebab gerak usus pada bayi yang normal adalah selama 24 sampai 36 jam. Jadi, makanan yang dikonsumsi bayi sekarang akan keluar 24 atau 36 jam kemudian. Nah, menurut dr. Eva J. Soelaeman, SpA., normal tidaknya feses dapat dilihat dari warna, bentuk, dan bau. Berikut penjelasannya:

Mendeteksi feses dari warna

Normal: warnanya kuning tua.

Tidak normal:

- Abu-abu atau abu-abu kehitam-hitaman bisa terjadi kalau si kecil terlalu banyak mengonsumsi makanan dengan kandungan zat besi yang terlalu tinggi. Solusi: Tetap berikan ASI atau pilih susu formula dengan kandungan zat besi yang standar, tidak berlebih.

- Merah. Penyebabnya: (1) terlalu banyak mengonsumsi makanan berwarna merah, (2) pengaruh obat (3) pertanda adanya darah. Penyebab ketiga inilah yang patut diwaspadai. Untuk itu bila yakin darah yang terlihat, segera bawa bayi ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut.

Mendeteksi feses dari bentuk

Normal:

Feses bayi yang berbuih/bercampur buih sekali dua kali adalah wajar. Penyebabnya bisa makanan ibu menyusui yang terlalu banyak mengonsumsi makanan yang merangsang, seperti pedas. Tapi jika sudah lebih dari tiga kali dan berat badannya turun, itu pertanda si kecil mengalami dehidrasi dan ada infeksi di ususnya. Kondisi seperti ini perlu penanganan dokter.

Tidak normal:

- Seperti dempul dengan warna putih/putih kekuning-kuningan. Bisa dipastikan si kecil mengalami kelainan liver/hati. Segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

- Hitam dan dibarengi sakit perut. Kemungkinan besar si kecil mengalami perdarahan. Segera bawa si kecil ke dokter dan bawa sampel feses untuk dicek ke laboratorium guna mencari penyebabnya.

Mendeteksi feses dari bau

Normal:

- Beraroma khas, bukan bau busuk.

Tidak normal:

- Baunya sangat busuk. Dicurigai, ada pembusukan yang tidak normal oleh bakteri di usus.

- Bau sangat asam. Biasanya pertanda ada gangguan penyerapan gula atau istilahnya malabsorbsi karbohidrat laktosa karena bayi tidak dapat mengonsumsi susu sapi. Coba, gantilah susu si kecil dengan susu kedelai.

- Bau amis. Kemungkinan infeksi amuba atau jamur. Kondisi ini perlu penanganan dokter.

Mendeteksi feses dari asupan yang didapat bayi:

- Bayi yang mendapat ASI eksklusif:
Fesesnya akan encer/tak berbentuk dan berwarna kuning.

- Bayi yang hanya mendapat susu formula:
Jika susunya cocok maka bentuk fesesnya cenderung liat dan berwarna kuning. Namun bila tidak cocok, fesesnya bisa berwana abu-abu karena kemungkinan komposisi zat besi dalam susu formula tersebut terlalu tinggi untuk si bayi. Feses bayi yang berwarna hijau atau kehijau-hijauan menandakan lemak dalam susu formula yang diminumnya terlalu tinggi.

- Bayi yang mendapat asupan campur (ASI dan susu formula):
* Feses berwarna kuning dan tak berbentuk merupakan tanda si kecil lebih banyak mendapat ASI ketimbang susu formula. Di luar itu pertanda si kecil terlalu banyak mendapatkan susu formula.
* Di atas usia enam bulan, bila bayi sudah mendapatkan makanan lebih padat, fesesnya akan berbentuk seperti bubur dan menyerupai feses anak di atas usianya.

- Bayi yang dipengaruhi obat:
* Akibat pengaruh obat yang sedang dikonsumsinya , frekuensi BAB bisa berkurang dan feses bayi menjadi keras. Di antaranya pengaruh obat batuk yang mengandung zat antitusif. Pantaulah selalu fesesnya. Bila perlu konsultasikan kembali tentang hal ini pada dokter.

Arti Warna Feces Bayi

ARTI WARNA PADA FESES BAYI

dr.Waldi Nurhamzah, Sp.A.
Umumnya warna tinja pada bayi dapat dibedakan menjadi kuning, coklet, hijau, merah dan putih/keabu-abuan. Untuk mengetahui normal atau tidaknya sistem pencernaan bayi kita, dapat dideteksi dari warna-warna tinja tersebut.

KUNING
Warna Kuning dapat diindikasikan sebagai fases normal untuk bayi, apabila bayi mendapat ASI yang penuh, tanpa campuran susu formula, warna kuning dari fases yang dihasilkan lebih cerah dan cemerlang(didominasi warna kuning. Yang berarti sibayi mendapat ASI penuh dari foremik (ASI depan) dan hindmilk(ASI belakang).

HIJAU
Warna Hijau pada fases bayi masih dikategorikan normal, tapi warna ini tidak boleh terus-menerus muncul karena hal tersebut berarti cara ibu memberikan ASI kurang tepat/belum benar (yang terhisap oleh bayi hanya foremik saja, kasus tersebut tejadi kalau produksi ASI melimpah.dimana sibayi selalu mengisap ASI depan terlebih dahulu yang mempunyai kandungan gula & laktosa tapi rendah lemak yang membuat bayi cepat lapar kembali & ASI belakang yang mengandung banyak lemak akan terhisap setelah foremik habis, padahal hidmik (ASI belakang) inilah yang membuat tinja menjadi kuning.

MERAH
Warna Merah pada fases bayi bisa disebabkan adanya tetesan darah yang menyertainya, darah tersebut bisa berasal dari tubuh bayi atau dari ibunya yang terisap pada saat proses persalinan,jika darah tersebut berasal dari ibunya, maka fasesnya akan ditemukan bercak hitam & berlangsung 1 s/d 2 hari. Apabila darah tersebut bukan berasal dari 2 hal tersebut kemungkinan lainnya bisa karena alergi susu formula atau penyumbatan pada usus & hal tersebut perlu penanganan cepat danh segera berkonsultasi pada dokter.

PUTIH/KEABU-ABUAN
Jika warna Putih/keabu-abuan pada kotoran bayi terjadi, maka hal tersebut harus segera diwaspadai. karena warna putih menunjukan gangguan yang cukup riskan yang mungkin disebabkan gangguan pada hatu/penyumbatan saluran empedu pada bayi. yang berarti cairan empedunya tidak dapat mewarnai tinjanya, yang berarti sibayi harus segera dibawa kedokter.

BENTUK FASES
Feses bayi di dua hari pertama setelah dilahirkan berbentuk aspal lembek setelah itu akan bergumpal seperti jeli, padat, berbiji & berupa cairan. Fases bayi yang diberi ASI ekslusif akan berbentuk pasta/kream, berbiji & cair seperti menceret

FREKUENSI BAB
Frekuensi BAB pada bayi berbeda-beda khususnya diminggu keempat & keliam yang pertama, dalam sehari bisa lima kali.bayi yang minum ASI ekslusif bisa gak BAB sampai empat hari bahkan sampai tujuh hari, jangan kawatir itu normal selama perkembangannya tidak terganggu.