Asma

sumber : http://www.sehatgroup.web.id/?p=547

Asma adalah penyakit saluran napas kronik/menahun. Pada keadaan ini, batang paru-paru (bronkus) menjadi sempit, akibat dindingnya mengalami pembengkakan dan peradangan (inflamasi). Anak yang mengalami asma sensitif terhadap banyak iritan, seperti infeksi virus, asap rokok, udara dingin, dan partikel atau bahan kimia di udara. Alergi terhadap debu, bulu binatang, dan pollen (serbuk sari) bisa menjadi pencetus asma.

Penyempitan dan peradangan (inflamasi) jalan napas menyebabkan sesak napas dan batuk. Batuk seringkali merupakan tanda pertama, dan kadang satu-satunya gejala awal asma. Gejala asma lainnya adalah mengi (wheezing), napas cepat, dan kesulitan bernapas, sehingga penderitanya menggunakan otot napas tambahan di leher, perut, dan dada. Seringkali asma dikenali dengan wheezing saja, sehingga tanda-tanda lainnya kurang diperhatikan, atau bahkan dianggap sekedar flu/common cold. Dokter juga bisa salah mendiagnosisnya sebagai infeksi semisal bronkitis (meskipun bronkitis tidak selamanya akibat infeksi).

Tanda mengi sulit dikenali pada anak khususnya di bawah usia 18-24 bulan. Sehingga perlu diperhatikan tanda lain seperti batuk berdahak, napas cepat, dan flu berulang. Seorang bayi dengan asma dapat menjadi kurang responsif terhadap rangsangan, menangis lemah, dan mengalami kesulitan makan.

Anak yang lebih besar bisa mengeluhkan keadaannya seperti “dadaku sakit” atau “aku batuk terus”. Tanda-tanda ketidaknyamanan seperti ini dapat menjadikan seorang anak rewel tanpa alasan. Batuk mungkin timbul setelah aktivitas fisik seperti berlari. Atau anak mengalami batuk malam hari atau saat tidur. Batuk, mengi, dan napas yang pendek dapat juga menyertai tangisan, teriakan, atau tawa. Meskipun tidak tepat bahwa emosi seperti kemarahan dan kecemasan mencetuskan asma, hal-hal seperti ini secara tidak langsung bisa memperberat gejala.

Pada anak usia sekolah, asma bisa saja tidak terdiagnosis akibat tersamarkan oleh aktivitas belajar dan kegiatan fisik lain. Anak mengeluhkan batuk dan sesak napas membuatnya sukar tidur di malam hari. Kelelahan yang diakibatkan menjadikan gangguan konsentrasi dalam belajar.

Pencegahan dan penanganan dini asma dapat membantu mengurangi jumlah hari anak absen sekolah, atau dari perawatan di rumah sakit.

Hal-hal penting yang harus dipahami orangtua adalah:

bagaimana cara mencegah atau mengurangi gejala asma, yakni dengan cara menghindari pencetus. Untuk itu kenalilah pencetus asma pada anak Anda
bagaimana mengenali gejala asma, khususnya asma yang mengalami perburukan (dibahas lebih lanjut di bawah dan dalam Guideline)
penanganan apa yang harus dilakukan pertama kali, dan apa yang harus dilakukan jika asma memburuk (dibahas lebih lanjut dalam Guideline)
apa yang harus dilakukan dalam keadaan gawat darurat (dibahas lebih lanjut dalam Guideline)

Tanda-tanda seorang anak dengan kecurigaan asma harus dibawa ke dokter, antara lain:

batuk terus-menerus dan berkepanjangan (dapat dilihat dalam kategori derajat asma persisten dalam Guideline)
mengi atau wheezing ketika anak menghembuskan/membuang napas
napas pendek atau napas cepat yang tampaknya tidak berhubungan dengan aktivitas
gerak otot napas tambahan di dada
infeksi saluran napas berulang seperti pneumonia atau bronkitis

Mengenali ‘Serangan’ Asma

Seorang anak yang belum terdiagnosis asma, namun mengalami serangan asma (asthma ‘attack’), harus memperoleh penanganan yang tepat. Serangan asma umumnya bermula dengan batuk dan berkembang menjadi mengi dan napas cepat. Semakin memberat, otot-otot bantu napas di dada, perut, dan leher tampak bergerak. Anak menjadi sulit atau tidak dapat berbicara, denyut jantung meningkat, berkeringat banyak, sampai nyeri dada.

Selama serangan asma, saluran napas semakin menyempit dan aliran udara berkurang. Penanganan pada anak berdasarkan beratnya gejala asma dan derajat obstruksi udara. Klasifikasi serangan asma antara lain:
Serangan Ringan Serangan Sedang Serangan Berat
Bernapas Sedikit kesulitan dan hanya sedikit lebih cepat dibandingkan biasanya Lumayan kesulitan dan lebih cepat dibandingkan biasa Sangat kesulitan dan dapat sangat cepat atau dipaksa
Berbicara Mampu menyelesaikan kalimat dengan mudah Hanya mampu mengucapkan frase atau sebagian kalimat Hanya mampu membisikkan kata tunggal atau kalimat singkat
Keluhan Mengi ringan, batuk, napas pendek, perasaan sempit di dada Mengi sedang, batuk, napas pendek, perasaan sempit di dada Mengi berat, batuk, napas pendek, perasaan sempit di dada
Warna kulit Normal seperti biasa Normal atau pucat Pucat atau biru
Otot pernapasan Bergerak normal Otot dada bergerak masuk sedikit Pergerakan otot dada ke dalam-ke luar, juga otot leher dan perut
Kesadaran terhadap sekeliling Normal dan terjaga Normal dan terjaga Berkurang, dapat disertai mengantuk

Salah satu cara untuk mencegah dan mengurangi beratnya asma adalah mengetahui apakah anak mendapatkan cukup udara (oksigen). Jumlah udara yang dihirup masuk dan dihembuskan keluar dapat mudah diketahui dengan alat peak flow meter . Alat ini dapat membantu mengukur jumlah udara yang berasal dari paru-paru. Pengukuran ini biasanya digunakan pada anak berusia di atas 5 atau 6 tahun.

Terdapat dua jenis pengobatan asma: obat-obatan bronkodilator (melebarkan bronkus/batang paru-paru) dan anti inflamasi/anti peradangan.

Bronkodilator melebarkan jalan napas yang menyempit. Membantu mengurangi perasaan sesak di dada, mengi, dan sukar bernapas.

Obat-obatan anti inflamasi membantu mencegah pembengkakan dan inflamasi (peradangan) di saluran napas, dan bisa meningkatkan pembuangan sekret/lendir dari jalan napas. Obat-obatan ini dapat diberikan dengan ditelan, melalui suntikan, atau dihirup dalam bentuk aerosol (obat semprot).
Cara Menggunakan Peak Flow Meter

Peak Flow Meter (PFM) mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas. Peak Flow Rate (PFR) adalah kecepatan (laju) aliran udara ketika seseorang menarik napas penuh, dan mengeluarkannya secepat mungkin. Agar uji (tes) ini menjadi bermakna, orang yang melakukan uji ini harus mampu mengulangnya dalam kelajuan yang sama, minimal sebanyak tiga kali.

Terdapat beberapa jenis alat PFM. Alat yang sama harus senantiasa digunakan, agar perubahan dalam aliran udara dapat diukur secara tepat. Pengukuran PFR membantu menentukan apakah jalan napas tebuka atau tertutup.

PFR menurun (angka dalam skala turun ke bawah) jika asma pada anak memburuk. PFR meningkat (angka dalam skala naik ke atas) jika penanganan asma tepat, dan jalan napas menjadi terbuka. Pengukuran PFR dapat membantu mengetahui apakah jalan napas menyempit, sehingga penanganan asma dapat dilakukan dini, juga membantu mengenali pemicu (penyebab) asma pada anak, sehingga dapat dihindari.

Terdapat perbedaan nilai pengukuran (siklus) PFR dalam satu harinya. Dengan mengukur nilai PFR dua kali dalam sehari menunjukkan gambaran PFR sepanjang hari. Anak yang berbeda usia dan ukuran badan memiliki nilai PFR yang berbeda.
Bagaimana Cara Mengukur Peak Flow Rate

Mintalah anak untuk mengambil napas sedalam mungkin.
Perintahkan anak untuk menghembuskan napasnya ke dalam PFM sedalam dan sekuat mungkin.
Bacalah angka yang tertera dalam skala PFM, dan tuliskan pada secarik kertas.
Ukur PFR kembali (minta anak melakukan langkah pertama dan kedua) sampai total sebanyak tiga kali.
Tandai saat anak Anda nilai melakukan langkahnya yang terbaik (dari tiga kali pengukuran). Inilah nilai yang diambil. Angka ini dapat berubah ketika gejala asma membaik, atau anak bertambah besar.

Kesimpulannya, lakukan pemeriksaan PFR menggunakan PFM dua kali sehari, pada pagi dan malam hari, juga pada saat serangan asma. Nilai mana PFR yang tertinggi.
Sumber

Understanding Asthma. http://www.aap.org
Recognizing Childhood Asthma: An Interview with a Mayo Clinic Specialist. http://www.mayoclinic.com
Recognizing an Asthma Attack. http://www.aap.org

n/a

Asma (Pemicu dan Penanganan)

SUMBER : http://www.sehatgroup.web.id/?p=551

Asma adalah kondisi yang disebabkan oleh penyempitan saluran pernapasan kecil (bronchi) di paru-paru yang terjadi karena dinding saluran mengalami pembengkakan dan peradangan. Udara menjadi lebih sulit untuk lewat dan hal ini menyebabkan terjadinya mengi (wheezing), batuk, serta masalah lain dalam pernapasan. Mengi akan dialami 1 dari 4 anak selama masa kanak-kanaknya. Dengan penanganan yang tepat, hampir semua anak dengan asma dapat ikut serta dalam aktivitas olah raga dan menjalani hidup yang aktif.
Gejala

Beberapa gejala asma yang paling umum adalah:

Batuk. Batuk umumnya terjadi di malam hari, dini hari, saat cuaca dingin, dan saat beraktivitas fisik.
Mengi (napas yang terdengar seperti bunyi peluit)
Kesulitan bernapas

Gejala asma akan berlangsung selama 2-3 hari, atau bahkan lebih. Setelah serangan asma membaik, anak akan membutuhkan pereda serangan (reliever) 3-4 kali per hari hingga batuk dan mengi menghilang.
Pemicu

Penyebab asma seringkali tidak diketahui. Asma umum ditemui menurun dalam keluarga. Dan asma dapat berhubungan dengan kondisi lain seperti eksim (eczema) dan alergi. Beberapa pemicu serangan asma adalah sebagai berikut:

Flu. Pemicu asma paling umum adalah infeksi saluran napas yang disebabkan virus. Infeksi virus umum terjadi pada anak-anak sekitar 6-8 kali dalam setahun. Jika seorang anak rentan terhadap asma, ia akan mengalami mengi dan batuk-batuk pada waktu-waktu tersebut. Virus tidak dapat dibunuh dengan antibiotik, karena itu antibiotik tidak dibutuhkan pada serangan asma ini.
Aktivitas fisik
Perubahan cuaca
Asap rokok
Kutu yang ditemukan pada debu rumah
Serbuk sari bunga
Hewan peliharaan

Serangan asma dapat dicegah dengan menghindari pemicunya. Karena itu, jika pemicu diketahui, pemicu tersebut sedapat mungkin harus dihindari.
Penanganan

Pada sebagian besar anak, asma dapat dikontrol dengan obat yang tepat. Dua tipe obat yang digunakan pada anak-anak adalah:

Pereda serangan (reliever). Jenis obat ini bekerja cepat dan bermanfaat dalam serangan akut. Contohnya adalah Ventolin. Jenis obat ini disebut bronchodilator (broncho-: saluran napas, dilator: yang membuat lebar). Sesuai namanya, obat ini melebarkan saluran napas yang sempit sehingga udara lebih mudah lewat. Obat ini memberi efek optimal dengan inhalasi (dihirup melalui hidung). Pada serangan akut, anak akan membutuhkan Ventolin setiap 2-4 jam. Jika anak Anda membutuhkan lebih dari dosis tersebut, Anda harus menghubungi dokter anak Anda.
Prednisolone. Obat ini adalah sejenis steroid yang mengurangi pembengkakan dan peradangan dinding saluran napas, dan membantu membuat saluran napas lebih reaktif terhadap bronchodilator. Prednisolone memebutuhkan 6-8 jam untuk mulai bekerja. Jenis obat ini diberikan dalam bentuk sirup atau tablet selama 2-4 hari. Penggunaan jangka pendek ini tidak akan menyebabkan terjadinya efek samping prednisolone atau steroid secara umum.
Pencegah serangan (preventer). Tidak setiap anak dengan asma membutuhkan jenis obat ini. Pencegah serangan juga dikonsumsi dengan cara inhalasi dan harus dikonsumsi setiap hari. Anak dengan asma yang membutuhkan pencegah serangan perlu melakukan kunjungan rutin ke dokter untuk penilaian apakah jenis obat yang diberikan bekerja dan penyesuaian dosis.

Penanganan di antara serangan

Sebagian besar anak dengan asma yang mengalami mengi saat sedang terinfeksi virus tidak membutuhkan terapi apapun di antara serangan
Jika anak mengalami batuk atau mengi lebih dari sekali seminggu di malam hari atau saat beraktivitas fisik, anak tersebut mungkin membutuhkan obat pencegah serangan (preventer)
Inhalasi adalah cara terbaik untuk menggunakan sebagian besar obat asma. Untuk mengoptimalkan penyerapan obat, spacer bekerja sama baiknya dengan pompa nebulisasi (nebuliser pump) dan jauh lebih murah.
Perawatan di Rumah

Jika anak Anda menderita asma, akan sangat bijaksana untuk meminta dokter anak Anda menuliskan Panduan Penanganan Asma (Asthma Action Plan). Panduan ini akan membantu Anda mencegah serangan asma dan menangani serangan asma di rumah. Pastikan bahwa panduan ini diletakkan di tempat yang mudah terlihat. Selain itu, pastikan bahwa anak Anda selalu membawa obat asmanya ke manapun ia pergi. Dan pastikan bahwa orang yang mengasuh anak Anda tahu bahwa anak Anda menderita asma dan tahu apa yang harus dilakukan jika serangan terjadi.
Panduan 4 langkah:

Dudukkan anak Anda dan tetap tenang.
Segera kocok reliever puffer dan berikan 4 semprotan melalui spacer. Berikan semprotan tersebut satu persatu dan perintahkan anak Anda untuk menarik napas 4 kali dari spacer setelah tiap semprotan.
Tunggu 4 menit, jika tidak ada perbaikan, ulangi langkah 2.
Jika tetap tidak ada perbaikan setelah 4 menit kedua, segera hubungi ambulans. Katakan bahwa anak Anda mengalami serangan asma akut. Sementara menunggu ambulans, terus ulangi langkah 2 dan 3.

Beberapa Pertanyaan Umum

T: Haruskah saya membangunkan anak saya yang sedang tidur untuk mengkonsumsi obat?
J: Umumnya tidak, jika Anda tidak mendengar batuk atau mengi, maka biarkan anak Anda tidur.

T: Kapankah saya harus membawa anak ke dokter?
J: Jika Anda khawatir akan keadaan anak Anda, atau jika obat yang diberikan di rumah tidak bekerja.

T: Kapankah saya harus membawa anak saya ke Unit Gawat Darurat?
J: Jika anak Anda sulit bernapas atau sulit berbicara.

T: Seberapa banyak aktivitas fisik yang dapat dilakukan anak saya?
J: Jika asma anak Anda terkontrol, tidak diperlukan batasan untuk aktivitas fisiknya.

T: Akankah anak saya sembuh dari asmanya?
J: Banyak anak membaik seiring dengan meningkatnya usia. Diskusikan hal in ilebih lanjut dengan dokter Anda.

T: Apa yang memicu serangan asma?
J: Pemicu paling umum adalah infeksi virus. Sebagian besar anak mengalami hal ini 6-8 kali per tahun.
Sumber

Crying – excessive (0-6 months). Available from http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003023.htm
Colic and Crying. Available from http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000978.htm
Colic: Learning How to Deal with Your Baby’s Crying. Available from http://familydoctor.org/036.xml
Your Colicky Baby. Available from http://kidshealth.org/PageManager.jsp?dn=KidsHealth&lic=1&article_set=21354&cat_id=20049&
Sondergaard C, Henriksen TB, Obel C, Wisborg K. Smoking during Pregnancy and Infantile Colic. PEDIATRICS Vol. 108 No. 2 August 2001, pp. 342-346. Available from http://pediatrics.aappublications.org/cgi/content/full/108/2/342
Soy Protein-based Formulas: Recommendations for Use in Infant Feeding. PEDIATRICS Vol. 101 No. 1 January 1998, pp. 148-153. Available from http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/full/pediatrics;101/1/148
Taubman B. Parental counseling compared with elimination of cow’s milk or soy milk protein for the treatment of infant colic syndrome: a randomized trial. Pediatrics Volume 81, Issue 6, pp. 756-761, 06/01/1988 .
The Use and Misuse of Fruit Juice in Pediatrics. PEDIATRICS Vol. 107 No. 5 May 2001, pp. 1210-1213. Available from http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/full/pediatrics;107/5/1210

(NIH)

Asma Ganggu Kehamilan

sumber :http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1196

Wanita penderita asma khawatir jika ia hamil. Sebab ini erat kaitan dengan persalinan kelak. Obat-obatan yang selalu dikonsumsi penderita asma pun, dikhawatirkan akan berpengaruh pada janin.

Berbeda dengan orang yang tidak menderita asma, pada penderita asma terjadi peradangan kronik yang menyebabkan pipa saluran napas menjadi sensitif. Asma merupakan penyakit kronik yang dapat dikendalikan. Untuk mengendalikan serangan asma, maka faktor pencetusnya harus dihindari. Faktor pencetus asma antara lain alergi (biasanya debu rumah), kelelahan dan influenza.
Sedangkan ketegangan jiwa dapat memperberat serangan asma.

Serangan asma dapat muncul sewaktu-waktu jika dipicu oleh faktor pencetusnya. Ketika sedang hamil pun serangan asma bisa saja muncul. Tapi tidak perlu dikhawatirkan. Karena timbulnya serangan asma tidak sama tiap penderita. Bahkan pada seorang penderita asma pun serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan berikutnya.

Kurang dari sepertiga penderita asma akan membaik pada saat hamil, lebih dari sepertiga akan menetap, serta kurang dari sepertiga lagi akan memburuk atau serangannya bertambah ketika hamil. Biasanya serangan akan timbul pada usia kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu. Justru pada akhir kehamilan, serangan asma jarang terjadi.

Namun bagaimana pun juga wanita penderita asma berisiko saat ia hamil. Karena si ibu akan kekurangan oksigen. Maka jika tidak segera diatasi janin pun dapat kekurangan oksigen yang dapat berakibat keguguran, persalinan prematur, berat janin tidak sesuai dengan kehamilan atau pertumbuhan janin terhambat.

Perjalanan asma pada ibu hamil dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron yang terus meningkat. Padahal berbagai teori justru menunjukkan kedua hormon tersebut mestinya dapat memperbaiki kondisi asma. Sebab memiliki efek melemaskan otot polos dan merilekskan bronkus. Selain itu meningkatnya kadar hormon protasiklin (PG12) ditambah prostaglandin (PGE) juga dapat memperbaiki asma. Namun di sisi lain bertambahnya hormon lain seperti PGF2 saat kehamilan, bisa memperburuk asma.

Ada yang kondisinya semakin buruk setelah hamil, ada pula yang tidak mempengaruhi kehamilannya. Ini semua tergantung dari status imunologi dan reaksi imunologi pada tubuh si ibu. Namun, ibu penderita asma dapat melahirkan normal, jika saat persalinan tidak terjadi serangan asma. Tetapi bila terjadi serangan asma, persalinan dapat dibantu dengan vakum atau forsep. Bahkan jika perlu saat melahirkan ibu didampingi dokter spesialis paru.

Pengaruh Obat

Asma yang tidak dikendalikan dengan baik pada keadaan hamil dapat berpengaruh buruk pada ibu maupun janin. Pada kehamilan muda memang seharusnya obat-obatan ini perlu dihindari. Namun jika diperlukan penggunaanya juga mesti hati-hati. Sebab berbagai obat dapat menimbulkan efek samping pada janin atau pun ibu. Misalnya, abortus, kematian janin, kelainan kongenital terutama pada trimester pertama, efek terhadap pertumbuhan janin dan gangguan fungsi organ seperti sistem saraf serta otot polos uterus.

Banyak wanita penderita asma saat awal kehamilannya menghentikan penggunaan obat asma, mereka mengkhawatirkan efek samping bagi ibu dan janinnya, dilaporkan dalam berita edisi Juli dari American Journal of Obstetrics and Gynecology. Meski sebenarnya standar terapi yang ditetapkan adalah tetap melanjutkan penggunaan obat-obatan tersebut, karena obat tersebut dapat mempertahankan kehidupan dari penderitanya.

Banyak wanita berasumsi bahwa mengkonsumsi obat asma saat hamil tidak baik, karena obat tersebut akan masuk dan mempengaruhi perkembangan dari janin yang dikandungnya, Dr.Tina V. Hartert dari Vanderbilt University School of Medicine, Nashville, Tennessee menjelaskan kepada Reuters Health.

Hartert dan timnya menggunakan data yang diambil lebih dari 8.000 wanita hamil yang menderita asma, mereka diteliti apakah tetap menggunakan obat asma selama mereka hamil.

Pada minggu ke-13 kehamilan penggunaan obat inhalasi anti inflamasi menurun hingga 22,9 persen. Penggunaan obat beta agonis short acting seperti albuterol yang bermanfaat meredakan gejala mengalami penurunan hingga 13,2 persen dan penggunaan kortikosteroid mengalami penurunan hingga 54,3 persen, mereka melaporkan.

Penggunaan semua kelompok obat asma mengalami peningkatan kembali dari Minggu ke 6-13, dan dari Minggu ke 13-26 usia kehamilan, catatan para ahli, namun hanya penggunaan beta agonis short acting yang menunjukkan perbaikan secara bermakna pada minggu ke 26 usia kehamilan.

Hasil studi ini menyimpulkan bahwa wanita penderita asma mengalami penurunan dan/atau berhenti menggunakan obat asma selama awal masa kehamilan, meskipun rekomendasi yang ditetapkan adalah tetap menggunakan obat tersebut, mereka menyebutkan.

Diperlukan suatu perhatian khusus yang diberikan kepada ibu hamil terutama yang menderita asma. Seharusnya para ibu tersebut mendapatkan pengetahuan tentang penyakitnya, serta secara rutin melakukan kontrol terhadap kondisi asmanya dan tentunya menjamin mereka tetap menggunakan obat selama kehamilan, Hartert menjelaskan.

“Wanita hamil selalu menyebutkan bahwa mereka makan untuk dua orang, gunakan juga istilah tersebut untuk menyebutkan bahwa mereka bernapas untuk dua orang pula”.

Asma? Apakah anak saya mengidap asma?

SUMBER : http://www.pediatrik.com/

Anda mungkin mendengar anak anda mengeluarkan suara seperti siulan saat ia menghembuskan nafasnya. Atau mungkin anak anda terlihat cepat lelah bila ia berolah raga. Mungkin ia mengalami batuk terus menerus. Anda mungkin bertanya-tanya � apakah ia mengidap asma? Asma adalah suatu istilah yang sering anda dengar tetapi mungkin anda kurang mengerti apa sebenarnya asma itu.
Asma merupakan gangguan menahun yang paling sering dikeluhkan pada anak dan remaja, yang menyerang sekitar lima juta anak berusia dibawah 18 tahun, termasuk diantaranya 1,3 juta anak berusia dibawah lima tahun. Lima puluh sampai 80 persen anak yang mengidap asma menunjukkan gejala-gejalanya sebelum usia lima tahun.
Asma merupakan penyakit yang serius karena asma mempengaruhi kemampuan pernafasan seseorang dan jumlah oksigen yang berada dalam darah. Dengan disgnosa yang tepat, perawatan yang terencana, dan bimbingan dari orang tua, anak pengidap asma dapat menjalani kegiatan mereka sehari-hari sama seperti anak lain yang tidak mengidap asma. Pendidikan dan komitmen merupakan kunci penting dalam menghadapi asma.

Apakah asma itu?
Asma adalah gangguan keradangan menahun saluran pernafasan. Artinya, tabung yang dilalui udara untuk mecapai paru-paru sering membengkak dan meradang. Pembengkakan ini menyebabkan udara sulit keluar masuk dengan bebas. Saluran pernafasan tersebut juga sensitif terhadap pemicu tertentu, dimana pemicu ini bervariasi dari satu orang ke orang lain. Banyak anak pengidap asma mengalami apa yang disebut asma alergi, artinya bahan alergen tertentu dapat memperburuk asma. Bagi anak-anak ini, paparan terhadap alergen seperti debu, binatang-binatang kecil, jamur, bulu binatang atau kecoak dapat mengiritasi saluran pernafasannya yang sensitif sehingga terjadi penyempitan saluran lebih lanjut, produksi cairan lendir yang berlebihan dan kontraksi otot sekitar saluran pernafasan.

Apakah anak saya mengidap asma?
Asma merupakan penyakit yang dapat menyerupai penyakit pernafasan lain sehingga cukup sulit untuk diketahui. Selain itu beberapa anak dapat mengalami suatu masa bebas gejala selama waktu yang cukup lama kemudian mengalami serangan asma berulang.
Gejala-gejala yang perlu dikonsultasikan ke dokter bila anda mencurigai anak anda mengidap asma antara lain:
� Batuk. Dapat terus menerus atau berulang. Tidak semua anak yang mengidap asma menunjukkan gejala ini setiap saat.
� Suara seperti siulan (wheezing/mengi) yang terdengar saat anak menghembuskan nafas.
� Nafas yang pendek atau cepat. Ini dapat terjadi baik setelah olah raga atau tidak berkaitan dengan olah raga.
� Rasa sesak di dada.
Gejala-gejala lain termasuk:
� Rasa lelah � anak dapat menjadi kurang tangkas, berhenti bermain atau menjadi mudah rewel.
� Anak yang lebih kecil mungki menyatakan dadanya sakit atau terasa tidak enak.
� Bayi mungkin mengalami kesulitan makan.
� Anak yang lebih tua mungkin menghindari aktivitas fisik berat seperti oalh raga.
� Anak mungkin mengalami gangguan tidur karena batuk malam hari atau kesulitan bernafas.

Siapa saja yang dapat mengidap asma?
Tidak ada petanda yang jelas untuk meramal apakah seseorang akan mengidap asama atau tidak, tetapi ada beberapa penelitian yang menunjukkan beberapa faktor yang berkaitan dengan mula terjadinya asma pada anak antara lain:
� Bayi atau anak kecil yang mengeluarkan suara seperti siulan bila mengalami infeksi saluran pernafasan bagian atas yang disebabkan oleh virus.
� Alergi. Hubungan antara asma dan alergi sangat erat. Jika anak anda mempunyai alergi tertentu, waspadalah terhadap kemungkinan anak anda mengidap asma.
� Riwayat keluarga terhadap asma dan/atau alergi.
� Paparan terhadap asap rokok dan alergen saat di dalam kandungan.

Tidak ada dua orang yang memiliki gejala atau hasil akhir asma yang sama persis. Asma merupakan penyakit yang sangat pribadi yang tidak terjadi dalam bentuk yang sama pada setiap orang. Ingatlah bahwa anda harus selalu memperhatikan anak anda dan mendengarkan keluhan0keluhannya yang mungkin berkaitan dengan asma. Jika anda curiga anak anda mengidap asma, bawa anak anda ke dokter untuk diperiksa dan diuji. Tindakan yang tepat dapat memberi hasil yang memuaskan. (cfs/aaaai.org)

Asthma dan Bronchopneumonia,Bukan Batuk Biasa

sumber : http://klinik-sehat.com/2009/04/24/asthma-dan-bronchopneumoniabukan-batuk-biasa/comment-page-1/

Batuk dan pilek mungkin merupakan gejala penyakit yang paling sering kita alami. Bahkan karena seringnya,batuk pilek ini sering disepelekan dan dibiarkan begitu saja tanpa pengobatan. Penderita sering dibawa ke rumah sakit atau dokter dalam kondisi yang memprihatinkan.

Ada beberapa penyakit dengan gejala batuk pilek yang perlu mendapatkan perhatian lebih,terutama pada anak,antara lain bronchopneumonia dan asthma bronchiale. Lalu kapan sebaiknya kita waspada? Sejak dari hari pertama seorang anak mengalami batuk,kita sebagai orang tua sudah harus waspada. Kapan kita konsultasi ke dokter? Jika batuk berlanjut lebih dari tigfa hari,ada baiknya kita membawa anak ke dokter untuk mendapatkan terapi lebih lanjut.

Batuk pilek seringkali disebabkan oleh virus,sehingga tidak memerlukan antibiotika dan bisa sembuh sendiri (self limited). tetapi pada tahap selanjutnya bisa terjadi infeksi bakterial juga,sehingga perlu tambahan antibiotika selain obat simtomatik. Namun tidak berarti penyakit yang disebabkan oleh virus ini tidak berbahaya.

Selain itu,kita perlu waspada jika gejala memberat,misalnya sesak napas,terdengar suara mengi (wheezing),napas cuping hidung,adanya tarikan otot dinding dada saat bernafas atau muncul komplikasi keperti kejang dan lain-lain.

Asthma bronchiale merupakan penyakit gangguan pernapasan yang terjadi karena sensitivitas yang berlebihan pada saluran pernapasan sehingga karena rangsang tertentu mengalami penyempitan (konstriksi bronkus),produksi lendir berlebihan dan pembengkakan mukosa bronkus.

Ketiga hal tersebut menyebabkan penderitaannya mengalami sesak napas,mengi,napas cuping hidung,dan tarikan dinding dada. Pada kasusu yang berat,pasien bisa mengalami asidosis karena tidak efektifnya paru untuk menghirup O2 dan mengeluarkan Co2. Hal inilah yang sangat berbahaya bagi keselamatan penderita.

Karena itu,penderita astham sebaiknya selalu menyimpan obat untuk mengatasi jika terjadi serangan sewaktu-waktu. Perlu diketahui,asthma merupakan penyakit yang terkait genetik (keturunan). Namun tidak berarti anak yang memilik penyakit asthma selalu dilahirkan dari orang tua yang asthma juga,bisa jadi orang tua atau nenek moyangnya memiliki penyakit atopik yang lain,seperti dermatitis atopik (ruam pipi),terutama pada anak,sering juga disebut ruam karena alergi susu atau obat/makanan tertentu.

Serangan asthma biasanya terjadi jika penderita terpapar pencetus tertentu misalnya udara dingin,makanan tertentu,kecapaian atau stress. Karena itu seorang penderita asthma hendaknya mengetahui apa saja faktor pencetus serangannya dan sedapat mungkin menghindarinya,karena semakin sering kekambuhan serangan asthma,semakin rumit pengobatannya dan semakin buruk prognosisnya.

Sedang bronchopneumonia adalah infeksi yang terjadi pada bronkus dan jaringan paru. Infeksi biasanya berawal dari nfeksi saluran napas bagian atas (proximal) yang menjalar kebawah. Penyakit ini memiliki beberapa gejala dan tanda,antara lain demam,batuk,pilek sesak napas. Komplikasi lebih lanjut dari bronchopneumonia yang tidak tertangani dengan baik bisa berupa infeksi saluran tengah,radang selaput otak,kejang,dan penurunan kesadaran. Karena keterlambatan,dan ketidak tepatan terapi seringkali menyebabkan penderita jatuh pada kondisi yang buruk dan sering berakibat kematian. Pneumonia sampai saat ini masuk dalam lima besar penyebab tersering kematian balita.

Karena itu,ada baiknya jika anak mengalami batuk dan pilek,kita cermati apakan ditemukan gejala yang lain misalnya dema. Pada 2-3 hari pertama,kita mungkin cukup memberikan obat untuk mengatasi gejalanya. Tetapi jika hari ke 4 gejala masih menetap atau jika gejala bertambah berat,tampak sesak napas,napas cuping hidung (terlihat cuping hidung yang kembang kempis),tarikan pada dinding dada,terdengar mengi,grok-grok (ngorok),kejang atau penurunan kesadaran,segera bawa anak ke dokter atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Juga harus diingat,bahwa saat sakit tubuh memerlukan asupan gizi dan cairan yang lebih dari biasanya. Meskipun pada waktu sakit seringkali nafsu makan menurun,terus upayakan pemberian makanan ini. Tetap berikan air susu ibu (ASI) dan minuman lain untuk mencegah dehidrasi. Sebagai orangtua,kita harus sabar dan lebih telaten untuk memastikan putra-putri kita tidak mengalami dehidrasi. Pada jenis sakit apapun,jika si anak memang sudah tidak mau makan dan minum,segera bawa kedokter dan jangan ditunda-tunda lagi. Semoga dengan antisipasi dini,hal-hal yang tidak diharapkan dapat dicegah.

Asma? Makan Sayur Saja!

SOURCE : cybermed.cbn.net

Sayur tak hanya berguna sebagai serat untuk memperlancar saluran pencernaan Anda. Menurut penelitian, sayuran juga dapat membuat Anda terhindar dari penyakit asma.

Sebuah penelitian dilakukan Universitas Nottingham. Para peneliti mengawasi anak-anak yang menderita asma dari tahun 1980 sampai 2007. Dari hasil pengamatan mereka yang detikhot kutip dari The independent, Senin (27/4/2009), kebanyakan anak-anak yang menderita asma kekurangan vitamin A dan C.

Para peneliti belum menemukan apa yang membuat para penderita asma kekurangan vitamin A dan C. Yang pasti para peneliti itu menyarankan agar para penderita asma banyak-banyak makan sayur sehingga kebutuhan vitaminnya menjadi terpenuhi.

Selain itu kedua vitamin tadi diduga dapat menjaga kondisi tubuh agar tetap fit, sehingga asma yang diderita tidak sering kambuh. Jadi ayo perbanyak konsumsi sayur!
(kee/kee)

Sumber: detikcom