Posts filed under 'AKTIVITAS ANAK'
Lindungi Si Kecil Ketika Beraktivitas di Luar Rumah
SUMBER : http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/pda/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|1543
Mother And Baby
Ketika usia anak-anak semakin bertambah, biasanya mereka lebih suka melakukan aktivitas dan bepergian seorang diri. Saat melakukan kegiatan yang berhubungan dengan sekolah, seperti les, renang ataupun ekstrakurikuler lainnya, mereka akan lebih memilih pergi dengan mengendarai sepeda atau berjalan bersama teman-temannya.
Namun jangan pernah melepaskan mereka keluar rumah begitu saja, tanpa memberikan beberapa nasehat khususnya padanya. Karena usia 9-12 tahun, adalah usia yang masih terlalu dini untuk mereka memproteksi dirinya sendiri. Sudah selayaknya, Anda sebagai orangtua menjelaskan dan memberitahukan mengenai apa saja yang harus dilakukan dan dihindari saat mereka berada di luar rumah.
Semakin meningkatnya tindakan kejahatan yang terjadi terhadap anak-anak serta rawannya kecelakaan, bisa saja membahayakan keselamatan si kecil.
Agar si kecil terhindar dari kedua bahaya tersebut, pesankan padanya beberapa hal berikut :
1. Untuk tetap selalu berada di area yang ramai dan dikelilingi banyak orang dewasa. Jangan pernah memotong jalan melewati gang yang sempit atau tempat-tempat sepi yang jauh dari keramaian.
2. Jangan pernah pergi seorang diri. Akan lebih baik jika dia pergi dengan ditemani seseorang atau sekelompok temannya.
3. Selalulah waspada dan memperhatikan keadaan di sekitarnya. Kenali dan perhatikan setiap orang yang berjalan berdekatan dengannya. Dan perhatikan juga tempat-tempat yang mungkin bisa si kecil datangi ketika dia memerlukan bantuan orang dewasa.
4. Hindari pergi ke toilet umum seorang diri. Ajaklah seorang teman untuk menemani. Namun jika tidak memungkinkan, carilah toilet umum yang dekat dengan toko, warung atau tempat keramaian. Lalu segeralah keluar dari toilet begitu selesai.
5. Jangan pernah berbicara dengan orang yang tidak dikenal. Orang dewasa tidak akan meminta bantuan kepada anak kecil. Minta dia untuk selalu jaga jarak jika ada orang asing yang menegurnya, sehingga dia bisa bereaksi dengan cepat apablia terjadi sesuatu di luar kehendak.
6. Jangan berjalan atau mengendarai sepeda berdekatan dengan mobil yang sedang parkir di tengah jalan atau di area parkir. Ini untuk menghindari terjadinya kecelakaan.
7. Percayai kata hati. Apabila si kecil merasa ada sesuatu yang salah dan aneh, jangan tunggu lama sampai katakutan dan kekawatiran itu terbukti. Segera pergi secepatnya dan cari tempat yang lebih aman dimana banyak orang dewasa yang dapat membantunya.
Sumber: conectique.com
Add comment November 14, 2009
Kompak bermain dengan si kecil
SUMBER : http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/pda/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|1563
Mother And Baby
Sepertinya tidak ada yang paling menyenangkan kecuali melihat buah hati bermain dengan senangnya. Rasa lelah sepulang bekerja bisa hilang melihat tawa mereka. Namun coba ingat-ingat, kapan terakhir Anda kompak bermain dengan si kecil?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi jangan salah, tidak sedikit para profesional yang kehabisan waktu untuk pekerjaan sehingga tidak bisa lagi mengingat kapan terakhir mereka meluangkan saat-saat bersama untuk bermain dengan anak.
Devi Novianti, salah satu manager di perusahaan jasa logistik di Jakarta, mengaku sering merasa bersalah kepada Vina dan Deska, dua buah hatinya yang masih balita. Pasalnya, pekerjaan menuntutnya untuk sering bepergian pada akhir pekan sekalipun.
“Biasanya saya menggantinya dengan mengambil cuti. Kadang-kadang kalau anak terlalu lama ditinggal, kesehariannya juga kita akan merasa dia mengacuhkan kita. Kalau sudah begitu, saya buru-buru ambil cuti untuk engage mereka kembali.”
Tidak tanggung-tanggung, Devi bisa membawa putra-putrinya itu berlibur ke luar kota atau ke luar negeri. Sementara setiap harinya dia berusaha tetap menyambangi kamar anak-anaknya sepulang kerja meski mereka sudah terlelap tidur.
Lain halnya dengan Andy. Semburat wajahnya mengesankan kegembiraan yang meluap. Beda dengan hari-hari biasa selama ini. “Aku senang sekali, bisa bermain dan bercanda bersama ibu, dekat dengan ibu dalam waktu lama,” celoteh anak laki-laki berusia 9 tahun itu.
Rupanya selama ini dia jarang bermain bersama ibunya karena kesibukan orangtuanya. Selama liburan Lebaran kemarin, Andy terus bersama ibunya. Mereka berjalan-jalan ke Monas, melihat diorama dan sejarah bangsa ini, sembari mencatat. Setelah pulang, dia pun menulis tentang kisah perjalanannya hari itu.
Si ibu kaget bercampur senang melihat ulah anak semata wayangnya itu. “Anakku gembira sekali, sampai-sampai dia menulis sebuah cerita menarik,” ungkap Anita, ibu Andy terharu.
Alifah Abdullah, psikolog, menuturkan orangtua hendaknya tetap memiliki waktu khusus untuk bersama anaknya setiap hari meski mereka sibuk bekerja. Yang paling sederhana adalah hendaknya para orangtua tidak membawa pekerjaannya dari kantor ke rumah.
Dia menyarankan meluangkan waktu dengan anak tidak harus dengan mengisi liburan ke luar kota atau ke luar negeri. “Cukup dengan keterampilan atau permainan sederhana yang bisa sekaligus mengasah otak anak yang bisa dilakukan di rumah.”
Permainan seperti melukis, memasak, kegiatan menulis, olahraga, dan role play (bermain peran/pura-pura) bisa dimainkan di rumah. Orangtua yang kreatif tentu bisa mengajak anaknya dengan permainan yang kreatif tanpa harus keluar rumah.
Ekspresif
Selain mendekatkan emosional anak dengan orangtuanya, keterlibatan orangtua dengan bermain bersama anak juga akan merangsang anak untuk lebih ekspresif.
Salah satu ajang bermain yang bisa kompak dilakukan orangtua dan anak sekaligus memiliki bobot tinggi untuk menumbuhkan kreativitas anak adalah menulis. Kegiatan sederhana ini bisa membangun permainan, kreativitas bahkan komunikasi anak dengan orangtuanya.
Menurut Clara Ng, novelis dan penulis buku anak-anak, salah satu cara menggali potensi anak adalah dengan membiarkan si anak menumpahkan segala imajinasinya dalam cerita yang mereka ciptakan.
Orangtua dan lingkungan sekitar bisa menjadi sumber simulasi atau ransangan kepada anak agar mereka mendapatkan beragam informasi yang bias dituangkan ke dalam tulisan.
“Dengan menulis, anak bisa mengekspresikan dirinya dari apa yang ia alami di lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat menumbuhkan kecerdasan EQ [emosional] dan SQ [spiritual],” ujar Clara yang memperoleh penghargaan Adikarya Ikapi 2007 untuk bukunya Melukis Cinta dalam serial Sejuta Warna Pelangi.
Menurut penulis buku serial anak-anak ini, anak dapat menuangkan idenya secara bebas dengan menulis karena setiap anak mempunyai potensi untuk bisa menulis, tinggal bagaimana orangtua menggali potensi tersebut dan mengembangkannya.
Dalam acara talkshow Suka Menulis Bisa Menumbuhkan Kreativitas Anak dan Membentuk Karakteristik Anak, Clara mengatakan sebaiknya sejak dini anak sudah dibiasakan menulis atau diajak membaca buku-buku cerita.
Jadi, tidak perlu khawatir untuk berhitung cuti dari pekerjaan kantor. Cukup tinggalkan secarik kertas untuk si kecil menuliskan kegiatan sehari-harinya sebelum Anda berangkat kerja.
Lalu di kantor sebelum pulang, tuliskan cerita singkat untuk si kecil tentang kegiatan Anda hari itu. Sesampainya di rumah, Anda cukup saling bertukar cerita dan biarkan si kecil bertualang dengan imajinasinya tentang kesibukan ayah ibunya. Asyik kan? (yuli.saleh@bisnis.co.id/aprika.hernanda@bisnis.co.id)
Rahmayulis Saleh & Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia
Add comment November 14, 2009
Aku Bisa Nari, Lho!
Sumber : http://cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby
Menari dapat membangkitkan energi dan kreativitas balita. Orangtua bisa mendorongnya dengan langkah-langkah sederhana.
Deti (5 tahun) meloncat kesana kemari. Tangannya meliuk-liuk. Sesekali kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tubuh kecilnya berputar. Hentakan kakinya sesuai irama yang keluar bersama suara merdu penyanyi cilik idolanya, Sherina, yang melantunkan Dua Ballerina. Gadis balita itu makin bersemangat menari saat ayahnya memberikan tepuk tangan dan pujian.
Menari adalah kegiatan yang biasa dilakukan anak-anak. Apalagi di usia balita kemampuan motorik anak sudah semakin berkembang. Melalui instingnya dan wawasan yang dipunyainya, balita kerap menyalurkan energi yang dimilikinya dengan menari. Ia menari sesuka hati dengan gerakan-gerakan yang indah. Kita mungkin akan kagum betapa anak tiba-tiba menjadi koreografer bagi dirinya sendiri, meski kita tak pernah mengajari mereka menari atau memasukkannya ke les privat menari.
Banyak manfaat fisik yang akan didapat anak saat ia menari. Di antaranya, kekuatan, ketahanan, kelenturan, keseimbangan, keterampilan, koordinasi, perasaan, dan refleks yang baik. Menurut psikolog perkembangan anak Drs. E. Enjun Junaedi, M.Psi, “Semua dampak positif itu akan membuat si kecil tumbuh menjadi anak yang lebih sehat dan cerdas baik secara emosi maupun intelegensia.”
Karena itu, menurut Enjun sangat penting orangtua untuk mendukung anak untuk mau menggerakkan tubuhnya melalui tari. “Tidak harus memasukkannya ke sebuah les privat menari. Orangtua cukup memberikan dukungan dengan mendorong semangat anak, serta memberikan fasilitas sederhana.” Berikut beberapa hal yang Enjun sarankan untuk dilakukan orangtua:
Tambahkan Suara-suara Riang
Gerakan lembut dan anggun balita saat menari mungkin sudah cukup membuat anda bangga. Tapi ada keinginan lain yang diharapkan si kecil. Coba perhatikan anak begitu menikmati gerakan meloncat-loncat karena gerakan itu dapat menghasilkan suara yang berirama. Ia senang jika sepatu yang dikenakannya menimbulkan nada-nada. Bu, Pak, kebisingan menghentak-hetakkan kaki merupakan gerakan kinestetis yang menimbulkan sensasi yang menyenangkan, terutama pada sendi dan otot.
Supaya si kecil lebih bersemangat lagi, mungkin ia memerlukan sepatu yang suaranya lebih nyaring. Tapi anda tidak harus membelikannya sepatu tanggo. Bisa saja, ajak si kecil untuk lebih kreatif. Berikan ia sepasang sepatu biasa sesuai ukurannya, beberapa uang recehan, dan lem super. Bantu si kecil menempelkan uang logam pada sol sepatunya. Setelah merekat dan benar-benar kering, biarkan anak menggunakan sepatu itu dan lihatlah! Ia akan tampak lebih bersemangat menari dengan suara yang keluar dari sepatunya.
Beri Hiasan untuk Menari
Ada banyak cara untuk mendorong anak-anak mencoba menari. Yang penting mereka sudah mengenal gagasan dasarnya. Supaya mereka bertambah semangat menari, anda perlu memberikan hiasan untuk menari.
Ambilah barang-barang bekas, seperti selendang tua yang bisa dikibar-kibarkan, topi, atau topeng. Sebotol cairan busa dan sebatang tongkat tukang sulap bisa membentuk garis-garis gerakan. Gelembung bisa membantu anak-anak menciptakan tarian baru saat mereka melompat, berlari, merentang, lalu memukul pecah gelembung-gelembung tadi.
Pasang Cermin Besar
Dalam seni, tubuh merupakan alat sekaligus mahakarya. Itu sebabnya mengapa di studio tari dipenuhi dengan cermin. Saat menari, tentu kita ingin melihat gerakan yang mampu kita lakukan. Anda bisa melakukan hal itu untuk si kecil. Cobalah cari dinding yang kosong dan pasang cermin yang cukup besar di sana. Sesuaikan dengan ukuran tubuh anak. Dengan melihat gerakan tubuhnya saat menari, anak akan mengamati, menilai hasil karyanya sendiri. Bahkan bayangan dirinya di cermin bisa membantunya menciptkan gerakan-gerakan lain yang lebih banyak lagi.
Bikin Panggung, Yuk!
Setiap tempat bisa dijadikan panggung menari buat anak: emper belakang rumah, beranda, atau halaman depan. Tidak penting di mana tempatnya. Yang terpenting si kecil memiliki tempat di mana ia bisa menari di tempat yang sedikit khusus.
Buatlah panggung semeriah mungkin. Tapi anda tak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk mewujudkannya. Dua meja besar berkaki rendah yang ditutupi karpet, sudah cukup. Anda bisa meredupkan lampu di sekitar panggung, menghiasi panggung dengan gantungan barang-barang bekas, dan mengumpukan beberapa anggota rumah untuk menjadi penonton bagi si kecil. Akan lebih meriah bila anda menyediakan makanan ringan bagi penonton dan bagi balita yang sudah selesai menari. Saat si kecil selesai dengan ‘pertunjukannya’, berikan ia aplaus meriah!
Mila Meiliasari
Add comment Agustus 5, 2009
TV Free Ideas for Your Toddler
Source : parenting.ivillage.com
Not turning on the TV in the early hours of the day may feel next to impossible to the exhausted parent. Here are some suggestions for active pursuits, and while they do take parental energy, they result in more engaged parent/child interactions (and who knows, perhaps, your child will learn to sleep longer if the excitement of the tube is no longer available).
1. Work on age-appropriate puzzles. If you can, you may want to purchase new puzzles for this week.
2. Make a puzzle. Help your child make a puzzle by cutting an old photo, greeting card, or calendar picture into large pieces. Let him or her put the pieces back together on a sheet of paper.
3. Read aloud. Get new books out of the library. Read familiar favorites. Help your child make an indoor fort using a sheet, blanket, or towel. “Build” it over chairs. Let your child read books with a flashlight inside the fort.
4. Read a map. Take a look at any map, and, depending on the type of map, point out major roads, highways, exits, mountains, bridges, bodies of water.
5. Organize photo albums. Put photos into albums. This depends on your child’s age. (If your child is too young you may end up with scattered, chewed on photos — so be careful.)
6. Write letters. Compose letters to friends and family, detailing your week’s past activities. Little children can be encouraged to write or use stickers to help spell out words.
7. Dance to Music. Let your child draw a flag on a piece of paper. Attach a stick to one end, turn on the radio to lively music, and let your child march around the house carrying the flag.
8. Organize closets. Have younger children help you sort and older children can be assigned a particular closet to do by themselves.
9. Play trains, blocks, or arts and crafts. Challenge your imaginations. Here are two quick ideas:
1. Make a bouquet of flowers out of opened-up cupcake liners. Write a message at the center of each flower for someone special. Glue or tape a straw or popsicle stick for a stem. Tie the flowers together with a ribbon.
2. Make a collage by cutting out pictures of healthy foods from magazines and glueing them on construction paper. Then try to eat those healthy foods throughout the day.
10. Plan the night before. Take a few minutes to discuss the routine with your child before bed the night before. For example, “In the morning, we aren’t going to watch TV. When we wake up, we’ll get washed and dressed, eat breakfast and then do x, y or z.”
1 comment Juni 17, 2009
Kebugaran dan Anak-anak Usia 2-3 tahun
sumber : www.sehatgroup.web.id
Anak-anak usia 2-3 tahun belajar berbagai macam gerakan dasar seperti berjalan, berlari, menendang, dan melempar. Anak-anak di usia ini sangat aktif secara alami, jadi berikanlah mereka kesempatan untuk terus berlatih dan membangun keahlian ini. Dengan mendukung anak anda untuk terlibat dalam kegiatan bermain, anda juga membantu anak anda tetap fit di masa kini dan di masa yang akan datang.
Seberapa banyak yang diperlukan? Berdasarkan National Association of Sports and Physical Education, setiap balita harus :
• mendapatkan paling sedikit 30 menit kegiatan fisik terstruktur (dengan pengawasan orang dewasa)
• mendapatkan paling sedikit 60 menit kegiatan fisik tidak terstruktur (bermain bebas)
• tidak non aktif selama 1 jam dalam 1 waktu (kecuali untuk tidur)
Apa yang Anakku Lakukan
(lagi…)
Add comment November 17, 2008
Ayo Renang
Memperkenalkan anak dengan air memang terkadang tidak mudah. Rasa enggan basah atau takut seringkali kita temui pada si kecil. Namun adapula anak-anak yang telah mengenal air justru menemukan bahwa kegiatan ini sungguh menyenangkan. Dan dari banyak pengamatan bisa disimpulkan, anak-anak sebenarnya sangat menyenangi air selain pasir. Tinggal kemudian bagaimana orangtua melatih anak untuk terampil dalam air atau berenang. Bagaimana cara memulainya serta apakah yang harus diperhatikan? Yuk, ajak anak bermain air sesuai dengan tahap usianya.
6 Bulan-1 Tahun
Bila Anda mulai berpikir untuk mengenalkan air di usia ini, maka itu adalah tindakan pintar, karena si kecil sudah cukup umur untuk berenang. The American Association of Pediatrics merekomendasikan para orangtua untuk mengikutsertakan anaknya dalam les berenang setelah ulang tahunnya yang ke-4, disaat anak telah berkembang dan mampu untuk belajar mengambang. Sebelum itu pelajaran akan lebih fokus untuk melakukan permainan air, dasar-dasar berenang, serta keselamatan di dalam air. Sejalan dengan pertambahan usianya, ajak anak untuk berpengalaman dan merasa nyaman di dalam air. “Tanpa les anak akan menjadi tidak mahir, tetapi dengan mengikuti program berenang maka anak akan menguasai keahlian renang yang akan berlangsung selamanya,” ujar Connie Harvey, pakar National Health and safety dari American Red Cross.
Pelajaran:
a.. Ajak anak masuk ke dalam air, bukan belajar bagaimana berenang.
b.. Tunjukkan bagaimana mencipratkan air.
c.. Bernyanyi bersama sambil mengajaknya berkeliling kolam berenang.
d.. Atau memainkan mainan air.
Tips aman:
a.. Pastikan bayi selalu dalam rengkuhan Anda.
b.. Jangan merendamkan anak di bawah usia 3 tahun, karena pada usia ini anak mampu meneguk banyak air dan dapat menyebabkan masuknya zat-zat kimia dalam darahnya.
c.. Gunakan popok khusus untuk berenang.
d.. Jika kolam renang berada di rumah, pastikan bahwa si kecil tidak akan mampu menjangkaunya.
2-3 Tahun
Pelajaran:
a.. Gunakan pelampung pada lengan atau perutnya, lalu ajak si kecil untuk melakukan permainan air yang memungkinkan Ia menggerakan tangan atau kakinya. Contoh, melempar bola lalu ajak Ia untuk mengambilnya.
a.. Tunjukan bagaimana membuat gelembung dalam air, sehingga anak belajar untuk mendekatkan wajahnya ke air tanpa harus menyelam.
Tips aman:
a.. Meski memakai pelampung pastikan agar Anda tidak lengah, jangan biarkan Anak bermain sendiri.
b.. Tetap pastikan anak tidak dapat menjangkau kolam sendiri.
c.. Ajarkan dan tekankan agar anak tidak pergi ke kolam tanpa orangtua.
d.. Jangan tinggalkan mainan apapun dalam kolam, karena dikhawatirkan anak akan berusaha untuk mengambilnya.
4-5 Tahun
Pelajaran:
a.. Anak Anda telah siap untuk mengikuti kursus berenang.
b.. Anda dapat ikut serta dalam kelas pertamanya agar anak merasa nyaman.
c.. Mulai pelajaran dengan mengajarkan bagaimana menyelupkan kepala dan tahan selama 5-10 hitungan.
d.. Coba meluncur tanpa asisten.
e.. Gerakan tangan dan kaki ketika berenang.
f.. Serta memberitahukan bagaimana cara mengambang dalam air.
Tips aman:
a.. Meski tidak harus selalu memeganginya, namun pastikan pelatih selalu siap meraihnya bila terjadi apa-apa.
b.. Bersabarlah, jangan paksa anak pada satu aktivitas bila ia belum siap.
c.. Jangan mengharapkan orang akan mengawasi anak, meski lifeguard.
d.. Tidak semua anak mau membiarkan wajahnya terkena air, latihlah dengan membiasakan di bawah shower ketika mandi.
6 tahun ke atas
Pelajaran:
a.. Pada usia ini anak sudah mampu menahan nafas lebih lama di dalam air, berenang, serta meraih benda di bawah kolam.
b.. Anak telah mampu untuk melompat dari daratan ke dalam air.
c.. Anda sudah dapat mengajarkan berbagai gaya renang, seperti gaya dada dan gaya punggung.
d.. Latihlah untuk memperjauh jarak renangnya sedikit demi sedikit.
Tips aman:
a.. Tetaplah mengawasi anak meski Anda tidak harus berenang bersamanya. Meski anak telah menguasai gerakan ia tetap bisa kelelahan.
b.. Tekankan bahwa anak diizinkan berenang hanya jika ada orang dewasa yang mengawasi.
c.. Waspadai perbedaan berenang di kolam renang dan di pantai. Pengawasan Anda sangat dibutuhkan bila anak berenang di alam.
d.. Pastikan anak menggunakan jaket pelampung ketika naik kapal atau waterskiing, meski Ia telah mahir berenang.
sumber : sahabat nestle
1 comment September 10, 2008
Q & A Sunblock Untuk Bayi
sumber : www.sehatgroup.web.id
Question : Dear All,
Pls inform me, sun block utk anak balita yg recommended apa ya? Saya udahcoba N***A for child, tp putri saya ngga cocok.
Thanks in advance.
Salam,
Nilu Nilawati
Answer 1 : Mbak Nilu,
Kalo irgen sun Blocknya merknya Banana Boat yg khususbaby, namanya Baby Block (water resistant, HypoAllergenic, and SPF 50, UVA & UVB protection), danIrgen cocok, biasanya dijual di Sport store, or kalogak salah sih di Sogo Dept Store jg ada…, and MetroPI yang bagian sport storenya, kalo aku sih beli disupermarket di Abu Dhabi sini, tapi dulu aku pernahliat di JKT.
Happy Hunting,Tasya-Mamanya Irgen
Answer 2 : Mbak Nilu,
COba pake Sun Block ROC deh mbak…rada mahal tapi hypoallergenic, kebetulandireferensiin sama dr kulitnya. Karena anak saya kulitnya sensitif bangetjadi cocoknya pake merek seba med, kebetulan cari sun block-nya susah jadideh pake ROC.
Cheers,
Arie Indra
sumber : www.sehatgroup.web.id
1 comment September 10, 2008
Q & A Kapan bayi bisa diajak berenang
sumber : www.sehatgroup.web.id
Question : Dear SP’sMaaf agak OOT nih. Saya dan bapaknya anak saya gak sabaran pengen ngajak dia berenang. Umurnya 7 bulanan lewat bb 7.5 kg tb 69 cm. Kira2 umur berapa ya dia boleh diajak berenang. Dan dengan kondisi kolam renang seperti apa? (karena saya kepikiran sama kolam renang yang kebanyakan rada jorse…..) Maaf ya kalau tidak berkenanNelsi
Answer 1 : mbak nelsi,umur 7 bln udah blh diajak berenang kok, tapi jgn lama2 jgn habis makan, paling tidak ya 1 jam setelah makan.Di folder file milis sehat juga ada artikel soalrenang ini,komplit, malah ada petunjuknya ngajarin renang baby, thanks ya mbak sherren….heni
Answer 2 : Mbak Nelsi, Gak papa kok diajak berenang umur segitu…jangan lupa tata laksana berenang diikuti, misal harus bilas dulu sebelum masuk kolam, jangan berenang langsung setelah makan. Anak saya dari usia 5 bulan sudah berenang dan dia suka. Usia 6 bulan dan sudah bisa duduk sendiri, saya belikan pelampung trainee yg ada dudukannya. Kebetulan saya seringnya bawa berenang ke PI kolam arus jadi dia bisa muter2 sendiri dipelampungnya, bapaknya tinggalngekor aja.Sekarang 19 bln, tidak mau lagi berenang pake pelampung hehehe. Maunya’terjun’ sendiri di kolam yang 40 cm itu (untuk anak2). So do not worry…Selamat bersenang2.Cheers,Ari Indra
Answer 3 : Mba Heni,Aku tertarik banget mba sama artikel renang yang komplit itu.. tapi aku gak bisa buka foldernya.. kalau gak ngerepotin… please japriin artikelnya ke aku..many thanks,ummina hisyam
Answer 4 : Dear Mbak Nelsi,Sama saya jg kepengen ajak anak saya berenang, usianya sih udah 11 bln, tp masih blum berani nunggu dia bisa berjalan..alhamdullillah usia 10 bln dah jalan skrg saya ada rencana ajak renang. Berdasarkan pengalaman waktu kponakanku msh 9 bln renang, menurut saya pilih kolam renang yg ada air hangatnya biar gak kaget khan msh bayi biar gak kedinginan.Selama ini mandinya khan masih air hangat. Trus jangan dikolam renang umum, pilih kolam renang hotel ato club house meskipun agak mahal tp gak rame, gak berjubel kyk jendol gitu klo lagi turun semua.Kalo di club house gitu biasanya ada kolam renang khusus anak2 yg gak dalem trus landasannya menurun dari gak dalem turun turun agak dalem..tp msh dijangkau anak2 usia 10 thn.Segitu dulu,semoga membantu ya…thx/rgdsIndah, mamanya Rania
Add comment September 10, 2008
Q & A Bayi Berenang
sumber : www.sehatgroup.web.id
Question : Dear dr Wati & SP..
Mo tanya, kalo balita itu boleh berenang mulai umur berapa ya ?Kemarin anak saya ( 13 bln ) saya ajak berenang, dia senang banget.Cuma kata rekan saya, bagaimana kalo telinganya kemasukan air, khan usia segitu belum bisa cerita .Jika telinga anak kemasukan air , terapinya bagaimana ya ?
rgds,
samsul
Answer 1 : Pak, kalau usia tepat diperkenalkan berenang pada bayi, saya kurang paham,tetapi untuk usia 13 bl, udah boleh kok diajak berenang.
Bryan malah saat 6 bl udah saya ajak berenang, dan menikmati sekali tuh…Mengenai kemasukan air, sepertinya kita bisa kok menjaganya, khan berenaguntuk bayi tidak seperti orang dewasa sampe nyelem. Mereka tetap kita pegangatau gunakan pelampung di tangan atau dibadan.Jadi kebanyakan bagian atas (leher sampai kepala) tidak terendam air.Kayaknya kemungkinan kecil kok kemasukan air.Cuman untuk awal berenang, jangan terlalu lama dan kalau bisa, air masih agahangat.
Berenang adalah acara menyenangkan buat mereka lho, pak…
Salam
lenny, mama bryan
Answer 2 : Pak Samsul, mengenai balita berenang coba lihat diposting2 beberapa minggu lalu, sudah banyak kalidibahas. Anyway, kalau saya sudah memperkenalkan airke anak, nino (sekarang 2.11) saya sejak dia 5 bulan,ngga pa-pa tuh sampe sekarang.
Met berenang!
Restu
Answer 3 : Pak Samsul,
Audrey ku dari usia 6bulan udah aku kenalin renang sampe sekarang , wah,,, jangan ditanya, diaseneng banget, biasanya teriak-teriak di kolam renang,,,mengenai kemasukan air ke telinga, klo kata guru renangku dulu gak usahkhawatir, nanti juga keluar sendiri. hal sama ke anakku, klo renang dan diarasa kemasukan air, palingan aku suruh goyang-goyang kepalanya ,,,,
maaf jika tdk banyak membantu, mungkin moms lain bisa share
Henny
[Ibunya Audrey]
Answer 4 : Pak Samsul,Mamatku aku ajarin berenang sejak usia 6 bulan, puji Tuhan sekarang usia 2 tahun 8 bulan udah bisa ngambang/berenang sendiri tanpa pelampung. Gak usah takut airnya masuk ke telinga, kalo sampai kemasukan nanti keluar sendiri koq… , suruh godeg-godegin kepalanya aja… (duhh bahasa Indonya godeg2 apa yah?? digeleng-gelengin??? ):o)) apa bedanya sama mandi diguyur kepalanya kayak keramas, basah juga toh??…;o))Yang terpenting harus diingat sebelum berenang badan diguyur dulu sebelum nyemplung dikolam supaya suhu tubuh gak kagok, trus jangan berenang dengan perut yang baru diisi (abis makan langsung nyemplung) kasih waktu 1 jam setelah makan baru nyemplung karena kalo habis makan berenang bisa mengakibatkan kram (ini yang bisa bikin tenggelam).Coba lihat postingan files. Trus kalo sampe matanya kena air kolam, biasanya anak akan spontan kucek2 tuh, jangan dikasih kucek2, kita “lap” pake tangan aja airnya trus suruh kedip2, kalo dikucek-kucek itu yang bisa bikin mata jadi iritasi, apalagi kolam di Indo kaporitnya cukup tinggi yah?, kalo gak dipakein kaca mata berenang buat protect matanya kalo si anak betah.Jangan lupa pake sun screen yah kalo berenang out door…
Semoga ini bisa ngebantu…
Regards,
Shereen – bundanya si Mamat.
Answer 5 : Di outdoor atau indoor mbak?
Kalau dioutdoor seh, kayaknya kurang lebih sama ya, cuman paginya itu jamberapa?
Jangan terlalu pagi, karena air kolam masih dingin.Cuman kalo udah aga siangan, kali panasnya matahari aga menyengat ya?Saya biasanya ngajak bryan berenang saat 15.30-16.00, dimana matahari udahga terik dan air juga hangat. Jadi baby cukup menikmati.Tapi tetap kembali ke keadaan lingkungan sekitar.Yang penting, matahari ga terik dan suhu air ga panas banget/dingin.Jangan terlalu lama ya, maks, 30′ aja.Tapi kalo diawal mencoba 15′-20′ kayaknya cukup.Jadi senyum sendiri inget ngajak bryan renang.. selalu pas mo mentasdiiringi dengan protes keras… karena masih kerasan diair…
selamat mencoba, mbak
salam,
lenny, mama bryan
Answer 6 : Mau ikutan sharing, dulu Gerdan juga udah dari 6 bulanan diajak berenang. Sama seperti Bryan, kalau sudah sekitar 15-20 menit (kalau tangannya sudah keriput) saya ajak naik, wah langsung protes ….. Biasanya sih sekitar jam 16.30 sore biar airnya masih anget, tapi mataharinya ga terlalu panas. Tapi tetep aja dikasih suncream khusus buat anak sebelumnya. Awalnya pakai ban yang buat bayi, jadi dia bisa duduk, sekarang dah umur 22 bulan pakainya ban yang di lengan.Sebagai tambahan, berikut ada artikel dari nakita tentang berenang. Kalau di situ sih disebutkan asal anak sudah bisa mengangkat kepalanya dan badannya sehat, sudah bisa dari 3 bulan. Sama di bawahnya ada kiat/tips supaya anak berenang dengan aman dan nyaman. Mudah-mudahan membantu.
Selamat berenang ya……
Nina – bundanya Gerdan
Answer 7 : mau ikutan sharing,
daffa juga dulu mulai berenang usia 6 bulan.saya lebih sering bawa ke ancol, sabtu, minggu ketimbang ke kolam renang.berangkat dari rumah pagi, yachh jam 6-an udah sampai di sana lah.enak, hawanya bersih, semilir2..hehehe…bisa sekalian main pasir … kita bisa sewa tenda di sana, kalo gak mau sewa, bisa bawa sendiri.biasanya cuma sampe jam 9-an di sana, jam 10-an udah sampe lagi di rumah.kalo sekarang, daffa udah 3 tahun, dia udah bisa kejaran di pasir dan di air, bisa puas berenang, bisa bawa sepeda sekalian, komplit ..hehehe…
salam,
ani
sumber : www.sehat.web.id
4 comments September 10, 2008
365 TV-free activities for Toddlers
sumber : http://www.sehatgroup.web.id/artikel/231.asp?FNM=231
1. Detergent Box Block (1+, indoor activities, adult participation)
Junk materials often make the best play toys for young children and by recycling packaging you are saving money and the environment
What you need:
- Square laundry detergent cartons
- Masking tape
- Coloured or patterned adhesive plastic
What to do:
Many laundry detergents now come in clock shape cartons. They make ideal building blocks for your children. After wiping them out, tape the lids closed with masking tape and then cover with coloured or patterned plastic.
Store the blocks neatly in the largest basket you can buy and add to the supply as you wash! My son uses his for building towers, making cities to go with his train set, making castles and so on.
Challenge your children to a competition to see who can built the highest tower before it falls down. If you have toddlers they will love it if older children built towers for them to knock down.
2. Magazine Picture Puzzles (1+, indoor activities, adult participation)
Create simple jigsaw puzzles with your children from large magazine picture
What you need:
- Large magazine pictures
- Scissors
- Glue
- Thick pieces of cardboard
What to do:
Look through magazines with your children and let them choose some pictures they would like to make into puzzles. Help them cut out the pictures, then use a strong glue to stick the pictures onto thick pieces of cardboard.
When the glue is dry, cut the pieces into puzzle shapes. With younger children begin with four or five puzzle pieces. As they master the skill, cut the pictures into more pieces.
Store and label the puzzles in plastic bags in a shoebox.
3. Story Time
Teach your children the joys of reading from an early age and they will thank you for it in later life
What you need:
- Books
- Time
What to do:
It is never too early to interest your children in books and reading. Literacy is a vital skill and an appreciation of books from an early age can give your children a great start to learning, and be a lifetime source of pleasure.
There is a huge variety of excellent children’s literature available, either to buy or borrow for your local library. Set aside time each day to sit with your children and read them a story. Younger children enjoy looking at books with large, bright images. Older children will enjoy memorising simple stories and rhymes, and will follow along as you read together, often repeating parts of the story.
Have patience with very young children when they ask you to read the same book over and over again. Take time to show them the words, as well as the pictures.
4. Bash a Bag (2+, outdoor/indoor activities, adult participation)
Let your young children use up some energy with this simple activity
What you need:
- A bag made of strong paper, plastic or fabric
- String
- Newspaper
- Wooden spoon
What to do:
Your children will love helping you tear up the newspaper and roll it into balls to fill the punching bag. When the bag’s full, tie it tightly with string. Hang the bag from a hook or doorway. (Make sure it will not hit anything precious)
Your children will have a great time bashing away at the bag with a wooden spoon. Make sure they take it turns and don’t hit each other by accident!
5. Bottles and Lids (3+, indoor)
This activity will help develop your children’s power of prediction as they guess which lid fits which bottle. It’s also a good way to develop the muscles in their hands and fingers
What you need:
· Bottles of different shape and sizes with screw-top lids
What to do:
Put out a selection of jars (at least ten) with lids with different circumstances. See if your children can find the correct lid for each jar and screw it on.
Later they might like to time themselves with an egg timer to see how fast they can do it.
They could also put the jars in order from the smallest lid to the largest.
Hint!: remain them to take a great care with the glass bottles.
6. Dressing Fast (3+, indoor, adult participation)
This game will give your children practice dressing themselves.
What you need:
· Dressing-up clothes
What to do:
Set up two piles of similar clothes – maybe a shirt, a pair of long pants, socks and a hat each.
Pick two children to stand beside you. When you say “GO” they must each run to a pile of clothes and put them on over their own clothes, and do up the buttons and fasteners. Then they run back to you.
Don’t forget to have a camera handy! This game is lots of fun a t birthday parties as well as being terrific practice for doing up buttons, clips and zips.
If you are playing with your children on their own, they can try to beat the clock, or use an egg timer.
7. Memory (3+, indoor activity, adult participation)
A fun way to develop your children memories
What you need:
- Assortment of small items such as a pencil, rubber, scissors, pen, small toys, hair brush, cutlery
- Tray
- Tea towel
- Paper and pencil (for older children who can write)
What to do:
For younger children – place a few item on the tray and let your children look at them for a minute. Have your children turn their backs while you remove a couple of items from the tray and cover them with a tea towel. Ask your children to turn around and look ant the tray and tell you what’s missing.
For older children – place up to twenty items on the tray and cover them up. Uncover them in front of your children and give them a minute to try and memorise the items, then cover them up again. Your children then write down as many items as possible.
Have a turn yourself and see if your memory is better than your children’s. You may be unpleasantly surprised.
8. Odd one out (3+, inside activity, adult participation)
Help your children understand the meaning of same and different
What you need:
- Pairs of matching objects, such as a pair of socks, a pair of shoes, two matching mugs, two matching forks
What to do:
Mix up the items and have your children find the two that are the same. Then ask them to cover their eyes. Put a pair of matching objects together with one that is different. Your children have to find the odd and tell you why it doesn’t belong.
Make this game more difficult by making the differences subtler.
9. Rice Maracas (3+, inside activity, adult participation)
Children love making music. Make some simple maracas with them and they will love playing them and following the beat of their favourite songs
What you need:
- Paper cups (or you also can use clear plastic bottle)
- Uncooked rice
- Masking or insulating tape
- Felt pens
What to do:
Fill a paper cup about half full of uncooked rice and then place an empty cup on the top. Your children can help hold the cups firmly and steadily in place while you join them together with tape. Now they can use their felt pens to decorate the maracas in bright colour.
Make maracas with different amounts of rice. For different sound effects you could use dried pasta, beans or split peas.
Shake out same different rhythms and see if they can copy them.
10. Edible playdough (1+, indoor activity, adult participation)
Make some edible playdough that younger children will enjoy playing with
What you need:
- Peanut paste
- Milk powder
- Sugar
- Edible food colouring
What to do:
Younger children often want to eat regular playdough. If this happening with your younger children, put away the regular playdough until they are older and can understand not to eat it, and make them a batch of edible playdough.
Simply mix one part of peanut paste to one part of milk powder and half part of sugar. Double or triple the quantities depending on how much you want. Add some food colouring if desired.
11. Box Cars (2+, outdoor/indoor activity, adult participation)
Making cheap play props like this helps develop your child’s imagination
What you need:
- Cardboard box
- Scissors
- Acrylic paint
- Glue
- Paper plates, piece of cardboard, aluminium pie plates
- Felt pens
- Rope
What to do:
Make a box car for your children. Cut the flaps off the top and bottom of a cardboard box, except for the flap at the front. Your children can paint the box at this stage – maybe racy red, or British racing green! When it’s done, stick paper plates on the side for wheels and aluminium pie dishes on the front for headlights. Make straps out of rope. The children step inside their box cars and slip the straps over their shoulders. Now they are off and racing!
12. Breakfast-cereal threadings (2+, indoor activity, adult participation)
Breakfast cereal loops can make pretty necklaces and bracelets, and children love to make them. Threading is also an excellent had-eye coordination activity
What you need:
- Bodkin or a large tapestry needle
- Wool
- Breakfast-cereal loops (eg. Froot loops)
What to do:
Help your children thread their needles or bodkins with wool and tie a cereal loop at the end of the wool to secure. If you don’t want your younger children using needles, wrap some sticky tape around the end of the wool to make a firm threading and they can thread with that.
Older children will enjoy making colourful patterns as they thread. Younger ones will enjoy eating their creations at the end!
13. Colourful Playdough (2+, indoor activity, adult participation)
Make up a batch of simple cooked playdough for your children. It will keep them occupied for ages and provide a great outlet for their creativity
What you need:
· 1 cup plain flour
· 1 cup water
· ½ cup cooking salt
· 1 tablespoon cream of tartar
· 1 tablespoon cooking oil
· Food colouring or powder paints
· Wooden spoon
· Saucepan
· Breadboard
· Plastic container
What to do:
With a wooden spoon, mix the flour, water, salt and cream of tartar in a saucepan over a medium heat until thick. When it has cooled, add the oil and knead well on a floured board.
Divide the dough into at least six balls and add a different colour to each ball until you have a blue, red, yellow, green, purple and orange playdough. (If you want plain playdough, omit the colouring)
Put each colour into a separate container and encourage your children to create playdough pictures or dioramas. When they have finished, help them start out the colours to put back in their containers for another day, rather than mixing them all together. Happy modelling!
14. Finger painting (2+, outdoor activity, adult participation)
Finger painting provides a wonderful sensory experience for children of all ages.
What you need:
· 2 tablespoon cornflour
· Cold water
· 1 cup boiling water
· Food colouring
· Saucepan
· Wooden spoon
· Large sheet of plastic or plastic tablecloth
What to do:
Blend the cornflour with a little cold water and mix to a smooth paste. Add the boiling water and sit over a low heat until the mixture thickens. Add some food colouring and mix thoroughly.
Cover an outdoor table with a large sheet of plastic or a plastic tablecloth, or use a table that can be hosed or washed down. Alternatively, spread the plastic on the grass or on pavers and the children can finger paint there.
Younger children will enjoy just drawing pictures in the paint and will love the squishy feeling of the finger paint. Older children might enjoy using some combs, grout scrapers or thick cardboard cut into comb shapes to make interesting patterns.
If they want to keep a finger-painting picture, you can take a print by carefully pushing a piece of paper onto the picture and then lifting it off slowly.
Add comment September 6, 2008
Your Child Too Busy
Is Your Child Too Busy
Source : kidshealth.org/parent/growth/growing/child_too_busy.html
She’s not really good at soccer and she doesn’t really like it, but all her friends are doing it,” reports the mother of a 9-year-old.
“If I miss a practice, even for a doctor’s appointment, I get benched,” a 13-year-old says.
“If my son didn’t have an after-school activity every day of the week, he’d sit around eating junk and playing video games,” the father of a 10-year-old says worriedly.
“I don’t really like lacrosse, but I have to do it because it’ll look good on my college transcript,” a 16-year-old explains.
“She wants to take gymnastics, art, dance, and cooking, and she goes to afternoon religious school twice a week. I’m not pushing her. She has to eliminate something!” exclaims the mother of a 7-year-old.
“I don’t have anything scheduled on Sunday afternoons. That’s when I have my life,” a 14-year-old reasons.
Clearly, some kids have too much to do and not enough time to do it. And it’s hard to tell if it’s the parents pushing or the kids trying to keep up with their peers. Whatever the culprit, one thing’s for sure – something’s got to give for some kids. Is your child too busy?
Why Are Kids So Busy?
For some families, kids may be driving the schedule because they don’t want to feel left out. Teens may feel pressure to boost their roster of activities to get into the college of their choice.
Some parents may feel that they have to keep their kids constantly occupied, rather than give them a chance to play, explore, and learn on their own. Parents may also feel the need to sign their kids up for one more class or team for fear that their children may be missing something the other kids are getting.
Parents usually just want whatever seems best for their kids. Even when intentions are good, though, a child can easily become overscheduled. The pressure to participate in a handful of activities all the time and to “keep up with the Joneses” can be physically and emotionally exhausting, for parents and kids alike.
Of course, organized activities and sports are beneficial for kids for a number of reasons. They foster social skills and provide opportunities for play and exercise. They promote cultural enrichment and teach sportsmanship, self-discipline, and conflict resolution. Most of all, they’re fun! The key is keeping them that way, and making sure that kids – and their parents – aren’t becoming overwhelmed.
How Can I Tell if My Child Is Too Busy?
Sooner or later, too-busy children will begin to show signs of being overscheduled. Every child is different, but overscheduled kids may:
- feel tired, anxious, or depressed
- complain of headaches and stomachaches, which may be due to stress, missed meals, or lack of sleep
- fall behind on their schoolwork, causing their grades to drop
Overscheduling can also take a toll on kids’ friendships and social lives. Family life also can suffer when too many people are running in too many directions. When one parent is driving to basketball practice and the other is carpooling to dance class, meals are missed. As a result, some families rarely eat dinner together and parents and kids may not be taking the time to stay connected. Plus, the weekly grind of chauffeuring kids all over the place and getting to one class, game, or practice after another can be downright tiresome and stressful for parents.
Tips for Busy Families
Even those parents who try to help their children cut back on some activities can run up against coaches who won’t tolerate absences and kids who want to keep up with their friends. However, it’s important for parents to step back and make sure that their children aren’t experiencing activity overload.
The key is to schedule things in moderation and choose activities with your child’s age, temperament, interests, and abilities in mind. If something’s too advanced, the experience may be frustrating. If it isn’t engaging, your child will probably be bored. And if your child doesn’t want to do it in the first place, he or she may do it only to please you, which defeats the whole purpose.
Depending on the age and interests of your child, you can set reasonable limits on extracurricular activities and help make them more enjoyable for both you and your child. Here are some simple suggestions:
- Agree on some ground rules before you sign up for too much. For instance, plan to play one sport per season, or limit activities to two afternoons or evenings during the school week.
- Before you say yes, make sure your child knows how much time is required for an activity. For example, will there be time to practice between lessons? Does your child realize that soccer practice is twice a week, right after school until dinnertime? Then there’s the weekly game, too. Will his or her homework suffer?
- Keep a calendar to stay organized. Display it on the refrigerator or other prominent spot in the home so that the whole family can stay up-to-date. And if you find an empty space on the calendar, leave it alone!
- Even if your child’s signed up for the season, let him or her miss one or two sessions. Sometimes taking the opportunity to hang out on a beautiful day is more important than going to one more activity, even if you’ve already paid for it.
- Try to carpool with other parents to make life easier.
- Try to balance activities for all of your children – and yourself. It hardly seems fair to expend time and energy carting one kid to activities, leaving little time for the other. And don’t forget to take time for yourself, to do the things you enjoy, and to spend time together as a family.
- Create family time. If it seems like you’re eating pizza on the run every night, make a plan so that everyone can be home for dinner at the same time – even if it means eating a little later. Make sure to schedule family fun time too, whether it’s playing a board game together or going on bike ride or hike.
- Set priorities. School should come first. If your child is having a hard time keeping up academically, your child may need to drop an activity.
- Know when to draw the line and say no. If your child is already doing a lot and really wants to participate in another activity, talk about what other activity or activities need to be dropped to make the desired one happen.
- Don’t underestimate the importance of downtime. Everyone needs a chance to relax, reflect on the day, or just do nothing.
Slowing It Down
Take a moment and think about your child’s life. If you think your child is overscheduled, sit down together and decide where you can cut back. If it’s very structured, with school, after-school activities, and homework being the weekday norm, consider helping your child create time to blow off some steam.
Riding a bike, taking a walk, playing a game, listening to music, or just doing nothing for a while will give your child some much-needed rest. And never forget how important it is for kids to simply get together to play. Kids just need time to be kids.
Updated and reviewed by: Mary L. Gavin, MD
Add comment April 3, 2008










