“ATURAN” MAIN AIR Agar Lebih Asyik

sumber : tabloidnakita.com

Ada triknya agar si kecil tak protes saat disuruh berhenti main air!
Hampir semua anak batita senang bermain air. Lihat saja, saat mandi, si kecil akan bersemangat menyulap shower menjadi sumber hujan. Ia pun betah berendam di bathtub dan berlaku selayaknya berada di kolam renang; jebyur sana, jebyur sini. Di halaman, selang untuk cuci mobil malah dijadikan ajang semprot-semprotan. Istilahnya, si kecil enggak boleh lihat air nganggur sedikit saja!
Kenapa ya anak begitu senang main air? Air memiliki bentuk berbeda dari benda lainnya. Si kecil bisa merasakan sensasinya; bila terkena tubuh akan jadi basah, dingin, dan segar. Ketika anak mulai bisa duduk sendiri di bak mandi, saat itu jugalah sang buah hati sudah “jatuh cinta” pada air.
Sebetulnya, hampir tak ada hal negatif dari bermain air. Hanya saja memang ada syarat yang perlu dipersiapkan ketika anak main air yaitu:
* Kondisi anak sedang sehat dan tidak sakit.
* Perut anak sudah terisi makanan. Hal ini untuk mencegah daya tahan tubuhnya menurun karena kelamaan bermain air.
* Buat kesepakatan bersama anak mengenai lamanya bermain air. Misal, “Kalau jarum pendek jam ini sampai di angka 4 (tunjuk atau tandai angka 4 dengan stiker), berenang selesai, oke?” (Memang tak ada batasan yang pasti untuk itu. Selama fisiknya siap, si kecil tampak happy dan tubuhnya belum kedinginan, atau kulitnya (telapak tangan dan jari jemarinya) belum berkerut-kerut, tak masalah. Tetapi umumnya kalau kondisi/situasinya dinginmisal di daerah pegunungan atau hari sedang hujan15 menit bermain air saja, anak sudah kedinginan. Sementara di udara panas, (umpama, anak bermain air di halaman rumah) paling tidak sekitar 30 menit. Jika di kolam renang mungkin bisa lebih lama lagi sampai 1 jam atau lebih.
* Setelah ada kesepakatan bersama, pasang timer atau gunakan jam weker. Timer akan berbunyi di waktu yang sudah ditentukan bersama.
* Sebelum waktu selesai, orangtua sudah memberikan kode atau sinyal agar anak bersiap-siap untuk menyudahi aktivitasnya. Misal, “Ayo, 10 menit lagi kita selesai. Wekernya akan berbunyi. Siap-siap ya bereskan mainanmu.”
* Jika sudah waktunya anak menolak untuk selesai, ingatkan kembali pada kesepakatan awal. Untuk anak usia 1 tahunan yang umumnya masih belum bisa mengerti mungkin bisa diangkat saja oleh orangtua untuk menyudahinya. Kemudian ajak ia bersih-bersih dan mengganti baju. Sementara pada anak yang lebih besar bisa kita katakan, “Kalau Adek masih ingin main silakan main sendiri. Ayah dan Ibu sudah selesai. Kalau Adek seperti ini, lain kali Ayah dan Ibu enggak mengizinkan main air seperti itu lagi lo.”

BELAJAR ANEKA KONSEP
Dengan bermain air ada banyak pelajaran yang bisa didapat anak:
* Anak akan mudah diarahkan untuk menjaga kebersihan diri semisal mandi dan gosok gigi.
* Bermain air di kolam (berenang) bisa melatih kekuatan otot paha, lengan, leher dan lainnya.
* Bisa mengenalkan konsep waktu. Karena anak diajak membuat kesepakatan mengenai lama waktunya bermain air dan kapan harus selesai.
* Melatih disiplin dengan mengajari anak untuk mematuhi kesepakatan dalam bermain air.
* Melatih anak menepati janji. Jika waktu bermain air habis, maka anak harus belajar menepatinya. Begitu pun orangtua, harus melaksanakan komitmen yang dibuat.
* Melatih motorik kasar dan halus. Contoh, saat bermain air di kolam renang dia akan berjalan di air dan ini melatih keseimbangannya. Atau kala anak main air dengan memegang gayung, menciduk air dalam ember dan memasukkan air ke dalam wadah, semua itu melatih segala kemampuan motoriknya.
* Anak belajar banyak konsep seperti konsep penuh, setengah, kosong, dingin, hangat, tumpah, basah, kering, dan sebagainya.
Namun perhatikan faktor keamanan lingkungan di sekitarnya, seperti:
* Bermain di kolam perlu kelengkapan seperti jaket pelampung untuk menghindari kecelakaan tenggelam.
* Orangtua pun perlu mencium aroma air kolam renang apakah kandungan kaporitnya cukup aman, tidak terlalu menyengat. Kaporit yang kelewat pekat bisa membuat mata anak jadi merah dan kulit jadi kering.
* Perhatikan lantai tempat anak bermain air. Usahakan lantainya tidak licin. Kalau bisa beri alas karet yang tak mudah bergeser.
* Dampingi anak selalu saat main air, agar dapat dihindar dari terjadinya kecelakaan. Kalaupun terjadi sesuatu maka bisa segera mendapatkan pertolongan.

ADA Yang Tak Suka MAIN AIR?
Hal ini jarang terjadi. Kalaupun ada, ketidaksukaan anak umumnya berkaitan dengan aktivitas mandi atau keterbatasan kemampuannya di kolam renang. Jadi bukannya karena ia enggak suka ciprat-cipratan main air. Kalau memang si kecil takut air, orangtua mesti mencari tahu penyebabnya. Apakah saat mandi ia pernah terkena semprotan shower yang membuatnya jadi gelagapan, terpeleset di bathtub, terkena siraman air dingin, atau tenggelam di kolam. Bisa juga karena anak pernah melihat atau menonton hal yang mengerikan berkaitan dengan air, seperti tsunami.
Jika anak sampai takut mandi atau berenang maka orangtua bisa mengatasinya dengan cara bertahap. Antara lain:
* Gunakan air hangat saat anak mandi.
* Basahi tubuhnya dengan air sedikit demi sedikit atau dibasuh. Jangan asal main guyur atau memasukkan anak ke dalam bak mandi.
* Jika menggunakan shower, atur siraman air agar mengenai bagian belakang tubuhnya sehingga si kecil tidak gelagapan atau kehilangan kontrol dirinya saat tersiram air.
* Ajak anak berkomunikasi. Beri penjelasan bahwa dengan bermain air tubuh memang menjadi basah tetapi terasa menyegarkan.
* Bagi anak yang pernah tenggelam, lakukan pula proses yang sama secara bertahap. Misalnya, isi bak mandi setinggi tumit. Kemudian ajak anak masuk ke dalam bathtub. Setelah itu tambahkan airnya sedikit demi sedikit namun jangan sampai terlalu penuh.
* Jika anak takut karena suatu hal yang pernah ditontonnya, orangtua bisa menggali penyebabnya dari cerita anak. Bila perlu tonton apa yang pernah dilihatnya dan beri penjelasan dengan tepat.
* Ajak anak ke kolam renang. Awalnya bisa dengan hanya duduk-duduk di pinggiran kolam sambil merendam dan memainkan kaki-kakinya. Setelah itu, ajak ia dengan digandeng atau digendong masuk ke tengah kolam meski kolamnya berukuran kecil.

BAIK Bagi Anak HIPERAKTIF
Main air di dalam kolam baik bagi anak dengan gangguan hiperaktivitas. Air akan menarik tubuhnya sehingga kakinya akan tetap menjejak dasar kolam. Melangkah dalam air pun memerlukan energi yang lebih besar karena adanya berat air. Jadi, ketika ia naik dari kolam, energinya sudah banyak terkuras. Hal ini yang mengurangi hiperaktifnya.
Main HUJAN-HUJANAN
Banyak yang mesti dipertimbangkan sebelum membolehkan si kecil bermain hujan-hujanan. Antara lain kondisi udara yang terpolusi sehingga berdampak pada air hujan dan kesehatan anak. Adanya petir dan kondisi lingkungan becek penuh kuman juga perlu menjadi kekhawatiran tersendiri.
Jika kehujanan segera mandikan anak dengan air hangat dan bersihkan tubuhnya. Pakaikan baju yang agak hangat dan beri minuman yang hangat-hangat untuk mengembalikan daya tahan tubuhnya.
HINDARI Genangan AIR
Si kecil tengah bermain genangan air kotor? Jangan langsung bereaksi marah pada anak. Ia pasti tidak suka disikapi seperti itu dan bisa membuatnya melawan. Sebaiknya, ajak anak pergi dari tempat tersebut dengan mengalihkan perhatiannya. Bawa si kecil untuk mencuci tangan, kaki dan membersihkan tubuhnya dengan sabun dan kemudian berganti pakaian. Setelah selesai, ajak sang buah hati bicara dengan memberi penjelasan agar ia tidak mengulangi lagi main di air kotor.
Ceritakan bahwa di dalam genangan air tersembunyi berbagai sumber penyakit seperti air pipis tikus, cacing, dan kuman yang tidak kelihatan oleh mata. Beri tahu akibat yang akan ditimbulkan bila kuman tersebut masuk ke dalam tubuh. Penjelasan yang diberikan oleh orangtua bisa diceritakan kembali di lain waktu lewat cerita-cerita sebelum tidur, misalnya.
Dedeh Kurniasih.
Narasumber:
Dra. Karmila Wardana, M.Psi,
dari Empati Development Center, Jakarta

Manfaat Main Kolase Untuk Anak

sumber : tabloidnakita.com

Tempel, tempel, dan tempel…wah hasilnya bagus, lo.
Pulang “sekolah” Julia langsung membuka tasnya. Dikeluarkannya beberapa stiker warna-warni dan lembar untuk menempelkannya. “Asyik, aku akan menempelnya satu per satu,” ucap Julia senang. Dilepasnya satu per satu stiker warna-warninya, ada yang berbentuk segitiga, lingkaran, bintang, persegi panjang, dan lainnya. Kemudian ditempelnya di sebuah gambar yang masih berupa garis (outline). Tak berapa lama gambar yang tadinya polos kini menjadi indah. “Bagus kan, Ma?” ucap Julia meminta persetujuan mamanya. “Wah, kolase buatanmu bagus sekali. Anak Mama sudah pintar mencocokkan bentuk dan menempelkan stiker!” puji mama.
Ya, kolase adalah permainan keterampilan melengkapi gambar menggunakan stiker warna. Anak diminta menempelkannya pada bidang yang tepat seperti yang diperintahkan atau di mana pun ia menyukainya. Tinggal melepas dan menempelnya di media gambar. Sebagian bahkan mengharuskan anak menggunting stikernya sesuai kebutuhan. Tak rugi mengenalkannya karena anak bisa menarik banyak manfaat positif dari permainan ini.
9 Manfaat
1. Melatih Motorik Halus
Saat bermain kolase, anak harus melepas satu per satu stiker. Sebagian anak mungkin agak kesulitan melakukannya karena butuh gerakan-gerakan halus dari jari-jemari untuk melepas stiker dan menempelnya di bidang gambar. Nah, latihan melalui permainan ini secara langsung menstimulasi kemampuan motorik halusnya. Jari-jemarinya akan siap untuk diajak belajar menulis.
Kemampuan motorik halus yang baik sangat penting karena berpengaruh terhadap aktivitas anak sehari-hari. Misal, anak bisa menjumput kacang lalu menyuapnya, memegang pensil lebih baik, atau memegang benda kecil lainnya dengan baik.
2. Meningkatkan Kreativitas
Pilihlah permainan kolase yang juga memancing kreativitas. Salah satunya yang menyediakan pilihan, baik warna, bidang tempel, karakter, atau lainnya yang memenuhi selera.
3. Melatih Konsentrasi
Butuh konsentrasi cukup tinggi bagi anak saat melepas dan menempel stiker. Lambat-laun kemampuan konsentrasinya akan semakin terasah.
Pada saat berkonsentrasi melepas dan menempel dibutuhkan pula koordinasi pergerakan tangan dan mata. Koordinasi ini sangat baik untuk merangsang pertumbuhan otak di masa yang sangat pesat.
4. Mengenal Warna
Kolase terdiri atas banyak sekali warna; merah, hijau, kuning, biru, dan lainnya. Anak dapat belajar mengenal warna agar wawasan dan kosakatanya bertambah.
5. Mengenal Bentuk
Selain warna, beragam bentuk pun ada pada kolase. Ada segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang, busur, dan gambar-gambar bukan geometris. Pengenalan bentuk geometri dasar yang baik, kelak membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya, dia akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah berbentuk segitiga, dan sebagainya. Pemahaman ini membuat kerja otak lebih aktif sehingga kecerdasan anak tumbuh lebih maksimal.
6. Melatih Memecahkan Masalah
Kolase merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan anak. Tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar sebenarnya sedang dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak untuk keluar dari permasalahan. Ketika sedang menalikan sepatu, umpamanya, dia akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikannya hingga tuntas.
7. Mengasah Kecerdasan Spasial
Kecerdasan spasial adalah kemampuan seseorang untuk mengenal dan memahami ruang. Nah, kemampuan spasial akan ikut terasah dalam permainan ini. Pasalnya, terdapat banyak bentuk stiker yang ukurannya berbeda-beda dan anak harus berusaha menyesuaikan stikernya dengan ruang yang ada di outline gambar. Supaya tepat, anak harus benar-benar saat mengukurnya. Lewat hal inilah kecerdasan spasialnya terasah.
8. Melatih Ketekunan
Tak mudah menyelesaikan kolase dalam waktu cepat. Butuh ketekunan dan kesabaran saat mengerjakannya mengingat setiap bentuk harus dilepas dan ditempel satu per satu. Tak heran bila permainan ini pun dapat melatih ketekunan dan kesabaran anak.
9. Meningkatkan Kepercayaan Diri.
Bila anak mampu menyelesaikannya, dia akan mendapatkan kepuasan tersendiri. Dalam dirinya tumbuh kepercayaan diri kalau dia mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Kepercayaan diri sangat positif untuk menambah daya kreativitas anak karena mereka tidak takut atau malu saat mengerjakan sesuatu.
Kepercayaan diri anak biasanya akan tumbuh lebih besar bila dia ternyata berhasil menyusun kolase lebih cepat daripada teman-temannya. Namun, kepercayaan diri ini sebaiknya dijaga agar tidak berubah menjadi kesombongan.
5 HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
1. Beri Penjelasan
Banyak anak yang belum tahu cara memainkan kolase sehingga kita perlu menjelaskan dengan baik mengenai langkah-langkah yang harus anak lakukan. Dari melepas stiker, mengenali bentuk stiker, cara menempel yang baik, memilih stiker, dan seterusnya. Bila anak belum memahami dengan baik, ulangi lagi penjelasannya sampai dia benar-benar memahami. Biasanya kalau sudah paham, anak akan dengan mudah mengerjakan kolase sendiri.
2. Kenali Kemampuan Anak
Setiap anak punya kemampuan yang berbeda. Ada anak yang kemampuan motoriknya bagus sehingga dengan mudah dia bisa melepas dan menempel stiker. Sebaliknya ada pula anak yang kemampuan motoriknya belum cukup baik, sehingga dia sulit melakukannya. Nah, sesuaikan jenis kolase dengan tingkat kemampuannya sebelum memilih bentuk yang lebih rumit.
3. Ajarkan Menggunting
Ada kolase yang stikernya belum dipotong dan mengharuskan anak menggunting dahulu sebelum menempel. Nah, beri contoh cara memegang gunting yang aman dan cara menggunting yang benar. Mulailah dengan mengunting bentuk yang paling sederhana seperti segi empat atau segitiga. Berikan contoh sampai anak benar-benar memahaminya.
Pahami pula kemampuan setiap anak dalam menggunting. Biasanya usia 3-4 tahun dapat dilatih memegang gunting dan dapat menggunting dengan cara yang benar namun belum bisa mengikuti panduan. Lalu di usia 4-5 tahun anak mampu menggunting dengan mengikuti garis lurus atau melengkung. Selanjutnya di usia 5-6 tahun anak bisa menggunting bentuk lingkaran, segi- tiga, atau segiempat. Dengan memahami perkembangan kemampuan ini, akan lebih mudah bagi kita mengarahkannya.
4. Gunakan Seluruh Jari
Minta anak menggunakan kelima jarinya saat mengelupas stiker maupun menempelkannya supaya kemampuan semua jemari anak terstimulasi. Sangat baik bila anak menggunakan kedua tangannya secara bergantian agar terjadi keseimbangan antara otak kiri dan kanan.
5. Beri Support dan Reward
Biar saja jika hasil pekerjaannya belum memuaskan. Jangan malah berkomentar negatif. Komentar negatif bukannya membangun semangat anak tetapi malah akan membuatnya merasa terpojok dan enggan berusaha lagi. Begitu pula jika anak berhasil mengerjakannya dengan baik, hargai dengan pujian dan ungkapan sayang.
Irfan Hasuki.
Narasumber:
Laila Fadhilah, S.Pd.,
pengajar di TK Bunayya, Jakarta Selatan

ASAH OTAK Lewat TEKA-TEKI

sumber : tabloidnakita.com

Tak hanya mengasah kreativitas, tapi juga kemampuan menganalisis.
“Aku buah-buahan, rasanya manis, rambutku banyak dan warnaku merah, apa hayo?” tanya Dika, bocah 4;6 tahun, kepada tiga teman mainnya. Di saat dua temannya mengernyitkan dahi, berpikir mencari jawaban tepat, tiba-tiba seorang temannya yang lain menjawab, “Buah rambutan!”
“Betul!” ucap Dika sambil menepuk bahu temannya itu.
Anak prasekolah, tepatnya mulai 4 sampai 6 tahun, memang senang bermain teka-teki. Kesenangan ini muncul karena pengaruh lingkungan ketika anak sudah bersosialisasi dengan teman-temannya, entah yang sebaya atau berumur di atasnya. “Nah, dari interaksi itu, mungkin saja anak mendengar atau mengamati teman-temannya bermain teka-teki,” ujar Efriyani Djuwita, M.Si.
Bisa juga, main tebak-tebakan ini datang dari orangtua atau pengasuhnya. Saat senggang, beberapa orangtua sangat senang menggunakan permainan ini. Pengaruh lainnya bisa lewat media, entah televisi atau media cetak. Bahkan, beberapa majalah anak menyediakan kolom khusus teka-teki beserta hadiah bagi pengirim jawaban yang benar. Apalagi, tambah psikolog perkembangan anak yang akrab dipanggil Ita ini, kosakata, pengalaman, dan kemampuan kognitif anak juga sudah berkembang. “Mereka sudah bisa mencari jawaban dari potongan-potongan informasi yang di-namakan petunjuk. Jawaban itu diperoleh dari pengalamannya sehari-hari. Semakin kaya wawasan anak semakin mudah dia menjawab.”
Selain itu, usia ini juga dikenal dengan usia cerewet. Anak senang bertanya dan menanyakan sesuatu. Nah, dengan permainan teka-teki, keterampilan berbahasanya seakan tersalurkan. Bahkan, beberapa anak yang cerdas sangat senang bila bisa membuat teka-teki sendiri.
TEKA-TEKI PORNO
Tentunya, anak tidak ujug-ujug bisa bermain teka-teki yang rumit, melainkan dimulai dari soal-soal sederhana. Awalnya sangat mungkin anak hanya bertanya-jawab tentang persamaan dan perbedaan dari sebuah kata atau benda. Umpama, “Apa persamaan bemo dan bajaj?”, “Apa beda ikan dan kodok?”, dan seterusnya. Dari situ anak belajar mengotak-atik kata-kata menjadi sebuah teka-teki.
Jadi, sesuai kemampuan kognisinya, teka-teki anak prasekolah umumnya cukup sederhana. Misal, di awal pertanyaan, anak akan menyebutkan kategori seperti, “Aku binatang.”, “Aku buah-buahan….”, dan sebagainya. Petunjuknya pun, biasanya cukup lengkap sehingga memudahkan mereka untuk menjawab. Beberapa teka-teki favorit, umumnya tak jauh dari dunia anak-anak, seperti tokoh jagoannya, binatang, mobil, buah-buahan, dan lainnya. Mereka senang mengenali ciri sesuatu benda, lalu mengubahnya menjadi teka-teki seru.
Yang jelas, permainan teka-teki dapat mengasah kreativitas dan memperkaya wawasan anak. Karenanya, Ita menyarankan orangtua agar menanggapi pertanyaan teka-teki anak. “Berpikirlah dan jawablah dengan serius, sehingga anak merasa dihargai. Hindari jawaban asal-asalan yang membuat anak malas dan ogah-ogahan memberikan soal teka-teki lagi,” kata pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.
Jika anak kehabisan ide, cobalah orangtua gantian memberikan pertanyaan kepada anak. Mulailah dari hal-hal yang dekat dengan anak. Jika anak sedang gandrung dengan Spiderman, misal, cobalah membuat soal teka-teki tentang jagoannya itu. Jika anak kesulitan menjawab, cobalah untuk memberikan petunjuk lebih banyak. Atau, anak bisa berpikir untuk beberapa lama sampai menemukan jawaban tepat. Boleh jadi orangtua memberikan teka-teki di malam hari, tetapi baru dijawab keesokan harinya oleh anak sepulang sekolah. Tak masalah. Kemudian, jika anak menemukan teka-teki di majalah dan kesulitan menjawabnya, sebaiknya orangtua bersama anak memecahkan soal teka-teki itu.
Namun, orangtua tetap harus melakukan pembatasan atau pengawasan. Tak semua teka-teki positif dan menghibur. Ada beberapa teka-teki yang berkonotasi negatif, jorok, berbau pornografi, atau pelecehan terhadap seseorang dan golongan tertentu. Jadi, orangtua harus memilah, teka-teki mana yang cocok dan tidak buat anak. Selamat berteka-teki bersama si buah hati!
4 MANFAAT MAIN TEKA-TEKI
1. Mengasah Daya Ingat
Saat teka-teki diluncurkan, anak akan menyisir semua arsip yang ada di kepalanya, untuk kemudian dicocokkan dengan petunjuk yang ada. Karenanya, permainan ini sangat baik untuk menjaga daya ingat anak. Selain itu, sangat mungkin anak menemukan kosakata baru yang belum dikuasainya. Dengan begitu, wawasan anak semakin kaya, kosakatanya pun bertambah banyak.
2. Belajar Klasifikasi
Anak belajar mengklasifikasikan, mana yang termasuk kategori buah-buahan, binatang, kendaraan, dan sebagainya. Saat disebutkan buah-buahan, pikiran anak akan melayang kepada jeruk, pepaya, rambutan, dan sebagainya. Demikian juga ketika pertanyaan itu merujuk kepada binatang, maka gajah, monyet, kodok, dan lainnya, akan segera melintas dalam pikirannya. Dengan keterampilan klasifikasi ini, anak akan mudah menata ribuan kosakata yang dikuasainya.
3. Mengembangkan Kemampuan Analisis
Anak belajar menganalisis jawaban yang tepat dari berbagai petunjuk yang ada. Dia belajar menggabungkan informasi itu dan menemukan jawabannya. Kemampuan analisis ini sangat berguna, khususnya saat anak masuk usia sekolah. Banyak sekali pertanyaan yang membutuhkan analisis, utamanya soal-soal yang memakai penggunaan cerita.
4. Menghibur
Permainan teka-teki sangat menghibur. Ini jelas permainan yang menyenangkan dan bisa mengakrabkan hubungan anak dengan orangtua, maupun antarteman sebaya. Bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun, baik dalam perjalanan, di rumah, sekolah, maupun di saat-saat santai lainnya.
BEBERAPA CONTOH TEKA-TEKI ANAK
Orangtua bisa membuat beberapa soal teka-teki yang kreatif. Mulailah dari hal-hal yang dekat dengan keseharian anak. Sangat mungkin jawaban dari teka-teki itu lebih dari satu. Berikut beberapa contohnya:
* Buah-buahan
– Aku buah-buahan. Warna kulitku hijau. Warna dagingku merah. Rasaku manis. (Jawaban: semangka)
– Aku buah-buahan. Aku memiliki banyak duri tajam. Bauku harum dan rasaku manis. (Jawaban: durian)
* Binatang
– Aku binatang berkaki empat. Aku berbadan besar dan memiliki belalai panjang. (Jawaban: gajah)
– Aku binatang berkaki empat. Leherku panjaaangng… sekali. Aku memiliki banyak bintik di tubuhku. (Jawaban: jerapah)
– Aku binatang tanpa kaki dan tangan. Badanku panjang dan lentur. Gigiku tajam dan aku memiliki racun berbahaya. (Jawaban: ular)
* Jagoan
– Aku bisa memanjat gedung seperti laba-laba. Warna bajuku merah. Aku bisa mengeluarkan jala yang mampu menjerat lawan. (Jawaban: Spiderman)
– Aku seorang jagoan yang memiliki jubah. Aku bisa terbang dan di dadaku terdapat huruf S. Siapakah aku? (Jawaban: Superman)

6 HAL BARU YANG DIPAHAMI SI BATITA

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Melalui pengamatan, pembiasaan dan peniruan, anak memahami satu per satu hal-hal yang bersinggungan dengan kehidupannya.
Perkembangan batita selalu menarik untuk diikuti. Di usia ini selalu saja ada kemampuan baru yang dikuasainya setiap hari. Mungkin juga salah satu di antara 6 hal berikut ini adalah kemampuan yang baru dikuasai batita Anda. Apa sajakah itu? Ikuti penjelasan yang disampaikan Vera Itabiliana, Psi., dari Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma, Jakarta.
1. MELAMBAIKAN TANGAN SAAT ADA YANG MENGATAKAN, “DAAHH….”
Saat ada orang yang melambaikan tangan sambil mengatakan, “Daahh…”, batita sudah bisa membalas melambaikan tangan. Beberapa juga bisa mengatakan, “Daahh…,” bahkan ada yang sudah bisa menirukan gerakan kiss bye alias mencium tangannya sebelum dilambaikan.
* Bagaimana batita memahami perintah ini?
Dengan melihat pengulangan aksi ini sehari-hari, batita bisa memahami kemudian menirukannya karena cara belajar batita adalah dengan meniru selain bereksplorasi. Ia bisa meniru suatu aksi jika melihatnya berulang kali. Terkadang ada yang sekali melihat, langsung meniru gerakan tangannya saja. Tapi biasanya untuk dikaitkan dengan kata, “Daahh…,” perlu pengulangan beberapa kali.
Menurut tokoh psikologi perkembangan kognitif, Jean Piaget, sejak usia 8 bulan ke atas, anak sudah mengembangkan perilaku yang memiliki maksud tertentu atau goal directed behavior. Jadi, anak sudah paham bahwa perilaku tertentu akan mengakibatkan reaksi tertentu. Contoh, ia tahu kalau ia menunjuk gelas, ibu akan mengambilkan air minum untuknya. Begitu juga dengan melambaikan tangan. Anak sudah paham jika saatnya berpisah, maka lambaikan tangan.
* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Cukup dengan pembiasaan saja. Setiap kali akan berpisah, tunjukkan lambaian tangan dan katakan, “Daahh….” Tunjukkan secara jelas pada anak bagaimana telapak tangan membuka dan lalu ucapkan, “Daahh…,” secara perlahan agar jelas terdengar oleh anak dan mudah ditirukannya. Anak juga dapat dibantu dengan mengangkatkan tangannya lalu melambaikannya. Tapi jangan dengan paksaan. Karena jika dipaksa, anak malah menolak dan semakin tidak mau melakukannya.
* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Anak belum bisa melakukannya karena beberapa sebab, di antaranya:
– Merasa dipaksa
Solusi: Jadikan kegiatan ini sebagai suatu hal yang menyenangkan. Kalau anak tidak mau, jangan memaksanya. Cukup lakukan di hadapannya sebagai contoh sampai terjadi pembiasaan.
– Malu
Solusi: Lakukan bersama-sama sehingga anak tidak merasa “aneh sendiri” saat melakukannya.
– Ada hambatan pada otot tangan.
Solusi: Untuk yang terakhir ini, orangtua dapat membantu anak dengan mengajak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan motoriknya seperti mengelap kaca sambil bermain, mencuci mobil sambil bermain, membelai boneka (agar telapak tangannya membuka), dan sebagainya.
Tapi umumnya melambaikan tangan sambil mengatakan, “Daahh…” adalah kemampuan yang mudah dikuasai semua anak sehingga jarang sekali perlu perlakuan khusus untuk melatihnya.
2. MEMAHAMI PERINTAH SATU LANGKAH
Di usia ini anak sudah bisa memahami perintah satu langkah. Umpama, “Ambil bolanya,” “Letakkan piringnya,” “Minum susunya,” dan perintah satu langkah lainnya.
* Bagaimana batita memahami perintah satu langkah ini?
Dengan semakin berkembangnya kemampuan komunikasi khususnya perkembangan bahasa, anak dapat melakukan komunikasi dua arah atau interaktif. Dengan demikian ia mampu memahami bahwa ada sesuatu yang harus ia lakukan di balik instruksi yang ia dengar. Ketika orangtua mengatakan, “Ambil bolanya,” anak akan mengambil bola dan memberikannya kepada orangtua. Anak batita tanpa gangguan pendengaran atau gangguan perkembangan lainnya, seperti ADHD dan autisma selayaknya dapat mengikuti perintah tunggal tanpa kesulitan.
* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Dengan mengajaknya bermain bersama, ada banyak rangsangan berupa instruksi yang dapat diberikan kepada anak. Orangtua juga bisa berganti peran dengan anak sehingga dapat memberikan contoh bagaimana cara melaksanakan instruksi. Mengikutsertakan anak dalam aktivitas “sekolah” atau kelompok bermain juga bermanfaat untuk melatih kemampuan ini.
* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Karena kemampuan ini terkait dengan kemampuan bahasa, maka orangtua harus terus memberikan stimulasi yang merangsang anak menambah database kosakatanya. Caranya dengan terus mengajaknya ngobrol, membacakan dongeng, mengajaknya bernyanyi, dan sebagainya. Sedangkan anak-anak yang memiliki gangguan pendengaran, gangguan konsenstrasi, dan autisma harus segera mendapat intervensi berupa penanganan yang komprehensif dari ahlinya.
3. PAHAM KEABADIAN OBJEK
Anak batita tahu bahwa kucing yang menghilang di balik pintu bukan benar-benar “lenyap” ditelan bumi, melainkan tetap ada meski tak terlihat lagi olehnya.
* Bagaimana batita memahami keabadian objek ini?
Menurut Piaget, di usia 8-12 bulan, anak sudah paham tentang object permanence, yaitu benda tak akan hilang meskipun hilang dari pandangan mata. Di usia ini anak mulai mengembangkan skema perilakunya yang terjadi melalui pengalaman yang dialaminya sendiri. Dengan mengeksplorasi dan mengamati, dia akan tahu bahwa benda itu masih ada. Tapi jika benda tersebut dipindahkan dari tempat persembunyiannya ke tempat kedua, anak masih terus akan mencari di tempat pertama. Kemampuan ini terus berkembang sampai anak bisa paham permainan petak umpet di usia selanjutnya.
* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Melalui permainan cilukba atau menyembunyikan suatu benda dengan saputangan, anak belajar keabadian objek. Tunjukkan pada anak begitu saputangan dibuka, ternyata bendanya masih ada.
* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Bila tak ada gangguan khusus, pemahaman ini pasti bisa dikuasai anak dengan sendirinya. Jarang sekali perlu perlakuan khusus untuk melatihnya.
4. PAHAM BEBERAPA EKSPRESI EMOSI
Di usia batita, anak paham beberapa ekspresi emosi sederhana, seperti marah, sedih, senang, antusias, terkejut.
* Bagaimana batita memahami ekspresi emosi ini?
Pemahaman ini didapat sejalan dengan perkembangan sistem saraf otak, pengalaman emosi dalam kehidupannya, reaksi/respons emosi dari orang-orang terdekatnya.
* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Tunjukkan ekspresi emosi yang tepat untuk setiap kejadian dan sebutkan label emosinya. Misal, “Wow, Mama senang sekali karena kamu makan sampai habis!” Katakan ini dengan ekspresi muka berseri di hadapan anak. Bantu anak memahami perasaannya dengan menyebutkan label emosinya. Contoh, anak menangis karena mainannya rusak, orangtua bisa mengatakan, “Kamu sedih ya karena mainanmu rusak….”
Orangtua juga bisa menstimulasi kemampuan ini melalui bahasa gambar. Sediakan beberapa gambar yang menunjukkan ekspresi sedih, senang, marah, antusias, terkejut. Minta anak untuk memilih gambar yang sesuai dengan apa yang dirasakannya saat itu.
* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Orangtua juga harus ekspresif terhadap emosinya sendiri, tapi tentu saja dengan ekspresi yang tepat dan tidak berlebihan. Orangtua juga harus jeli menangkap sinyal emosi anak lalu bantu ia memahami emosinya. Dengarkan keluhannya lalu identifikasikan emosi yang sedang ia rasakan dan beri masukan bagaimana reaksi/ekspresi yang tepat untuk emosi yang sedang ia rasakan.
5. MEMAHAMI ADA SESUATU DI DALAM
Anak tahu bahwa dalam lemarinya tersimpan pakaian-pakaiannya, di dalam boks mainan ada mainan-mainannya, di dalam kulkas ada makanan dan sebagainya.
* Bagaimana batita bisa memahami ada sesuatu dalam sesuatu?
Melalui pengalaman dan pengamatan sehari-hari, anak paham bahwa di dalam sesuatu mungkin ada sesuatu. Setiap hari ia melihat ibu atau pengasuhnya membuka kulkas lalu mengambil makanan dari dalamnya, atau membuka lemari dan mengambilkan pakaian untuknya. Itu semua membuatnya mengerti bahwa di dalam wadah tertutup ada ruang untuk menyimpan sesuatu.
* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Sambil membuka kulkas, orangtua bisa mengatakan, “Mama mau mengambil keju dari dalam kulkas, Adek mau?” Jelaskan dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak apa yang tengah dilakukan supaya ia lebih mudah mengerti. Bisa juga melalui latihan, umpamanya, “Ayo, Adek buka lemarinya, biar Mama ambilkan bajunya.” Atau, “Yuk, kita masukkan mainan yang sudah selesai digunakan ini ke dalam boksnya.”
* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Ulang-ulang terus stimulasi di atas setiap ada kesempatan. Bisa juga saat membacakan dongeng, orangtua menjelaskan bahwa
dalam sesuatu yang tertutup bisa jadi ada sesuatu yang tersimpan di dalamnya.
6. PAHAM FUNGSI SUATU BENDA
Batita paham beberapa fungsi benda, semisal sepatu untuk alas kaki, bantal untuk tidur, piring untuk makan dan sebagainya.
* Bagaimana batita bisa memahami fungsi suatu benda?
Semua benda yang bersinggungan atau digunakan dalam aktivitas sehari-harinya, seperti saat makan, mandi, tidur, bermain, satu per satu akan dipahami fungsinya. Hal ini terjadi melalui pengamatan, pembiasaan dan peniruan. Ia melihat sebelum pergi orangtuanya selalu mengenakan sepatu, ia jadi paham bahwa sepatu adalah alas kaki yang harus digunakannya untuk bepergian, begitu juga dengan benda-benda lainnya.
* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Sambil mengenalkan benda yang digunakan sehari-hari, sebutkan fungsinya dan peragakan cara menggunakannya. Lakukan ini ketika anak mulai belajar bicara, sekaligus untuk menambah kosakatanya. Umpamanya waktu mandi, “Mana sabun mandinya? Oh, ini ya? Yuk, Mama sabuni dulu supaya badan Adek jadi bersih dan wangi.”
* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Secara umum anak pasti akan memahami benda-benda yang digunakannya dalam keseharian. Lakukan terus stimulasi di atas bila anak belum juga paham.

Marfuah Panji Astuti.

5 PERMAINAN MOTORIK HALUS

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Tak hanya motorik kasar, motorik halus pun perlu distimulasi. Supaya menyenangkan, lakukan sambil bermain.
MENGISI, MENUANG, MENCETAK
Bermain pasir bisa digunakan untuk menstimulasi motorik halus anak. Lakukan di pantai atau sediakan pasir bersih di sepetak bidang di halaman rumah. Jangan takut kotor, kenakan saja pakaian rumah yang tidak sayang untuk dikotori.
Manfaat:
Melatih kekuatan/keluwesan pergelangan tangan serta presisi.
Alat yang dibutuhkan:
Pasir bersih, sekop, ember, corong, aneka wadah.
Cara bermain:
* Biarkan anak mengisi embernya dengan pasir sampai penuh kemudian menuangnya dengan cara membalikkan ember. Lakukan sambil berseru, “Isi, isi embernya…lalu tuang…”
* Dengan pasir yang tersedia biarkan anak mencetak bentuk atau membentuk sendiri imajinasinya. Apakah itu gunung, benteng, dan sebagainya.
* Sambil mencetak, orangtua bisa menjelaskan pada anak nama-nama bentuk yang sedang dicetak, misalnya kura-kura, kotak, bunga dan sebagainya. Latihan ini sekaligus untuk menambah perbendaharaan katanya.
Yang harus diperhatikan:
* Pastikan kebersihan pasir. Serangga kecil, kotoran binatang atau benda-benda tajam seperti pecahan kaca bisa membahayakan anak.
* Ingatkan anak untuk tidak mengelap tangannya yang penuh pasir ke mulut, hidung atau mata. Karena dikhawatirkan pasir akan masuk ke bagian-bagian tersebut.
Setelah selesai bermain, cuci tangan hingga bersih dengan sabun, atau lebih baik lagi kalau langsung mandi sehingga badan lebih segar.
Selama tak digunakan, pasir di rumah harus ditutup agar tidak menjadi tempat kucing, anjing, atau ayam membuang kotoran.
MEMAKAI DAN MELEPAS PAKAIAN
Tanpa belajar pun sepertinya semua orang pada akhirnya bisa memakai/melepas pakaiannya sendiri. Meski demikian bukan berarti orangtua tak perlu melatih keterampilan ini. Selain mengasah motorik halus, memakai/melepas pakaian sendiri merupakan salah satu bentuk kemandirian anak.
Manfaat:
Melatih kemampuan jari-jemari, koordinasi mata dan tangan.
Alat yang dibutuhkan:
Baju berkancing besar, rok/celana karet, sepatu berperekat velcro, boneka dan pakaian perlengkapannya.
Cara bermain:
* Setelah mandi, biarkan anak mencoba memakai pakaiannya sendiri. Mulai dengan yang paling mudah seperti menaikkan/menurunkan celana/rok dengan ban karet.
* Setelah itu biarkan ia mencoba mengancingkan sendiri pakaiannya. Mulai dengan kancing yang besar-besar kemudian makin kecil.
* Bila kemampuan memakai pakaian sendiri sudah dikuasai, lanjutkan dengan memakai sepatu sendiri. Mulai dengan sepatu berperekat velcro.
* Latihan ini juga bisa dilakukan dengan menggunakan boneka besar yang pakaian/perlengkapannya bisa dilepas-pasang. Biarkan anak coba memakai dan melepaskannya. Untuk mudahnya berikan contoh terlebih dahulu bagaimana melakukannya.
Yang harus diperhatikan:
* Sebagai latihan awal berikan pakaian yang mudah dipakai/dilepas, seperti kaos longgar, celana/rok dengan ban karet.
* Di usia ini memakai/melepas pakaian sendiri termasuk belajar tahap awal. Jadi jangan terlalu memaksa anak, kalaupun belum bisa, biarkan ia terus mencoba.
MENYUSUN DAN MENYORTIR
Kegiatan menyusun dan menyortir selain melatih kemampuan motorik halus anak juga mengasah kepekaan dan fokus perhatian pada satu hal.
Manfaat:
Mengembangkan imajinasi, melatih kecerdasan logis-matematis, melatih presisi, melatih kemampuan mengelompokkan.
Alat yang dibutuhkan:
Balok kayu warna-warni dan bermacam bentuk.
Cara bermain:
* Minta anak menyusun balok berbentuk kubus ke atas, dari dari dua susun, lalu tiga susun dan seterusnya.
* Selanjutnya minta anak memasangkan balok berbentuk segitiga atau setengah lingkaran di bagian paling atas. Kalau masih berantakan dan balok yang disusun jatuh lagi, tetap semangati supaya mau terus mencoba.
* Setelah kemampuannya makin bertambah, biarkan anak berimajinasi membangun gedung, rumah, jembatan dan sebagainya.
* Minta anak menyortir/memisahkan balok berdasarkan bentuknya, misalnya kubus dengan kubus, segitiga dengan segitiga, dan seterusnya.
* Minta anak memisahkan/menyortir balok berdasarkan kelompok warna.
* Kegiatan menyortir juga bisa dilakukan dengan memberikan berbagai macam benda, seperti kancing baju, sendok, kayu, tutup gelas dan sebagainya. Ajari anak untuk mengelompokkannya/menyortir berdasar kriteria tertentu.
Yang harus diperhatikan:
Di usia ini kemampuan berjalan anak belum sempurna, untuk itu orangtua/pengasuh harus terus memantaunya. Jangan sampai anak menginjak/terpeleset salah satu balok yang sedang digunakan untuk bermain hingga jatuh.
MERONCE
Meronce merupakan salah satu stimulasi untuk mengasah kemampuan motorik halus anak.
Manfaat:
Melatih kemampuan jari-jemari. Latihan ini sekaligus bermanfaat sebagai dasar kemampuan memegang pensil.
Alat yang dibutuhkan:
Mainan ronce, tali sepatu/tali yang agak besar, roll bekas tisu.
Cara bermain:
* Kalau di rumah tersedia mainan ronce, ajari anak bagaimana cara memainkannya.
* Kalau tidak ada mainan ronce, gunakan tali sepatu/tali yang agak besar lalu masukkan ke dalam rol bekas gulungan tisu yang sudah dipotong-potong menggunakan cutter. Ronce sampai beberapa rol tersambung. Ikat kedua ujung tali, kalungkan di leher anak.
Yang harus diperhatikan:
* Supaya menarik, gambari/cat warna-warni rol bekas tisu.
* Setelah berhasil meronce rol bekas tisu yang besar, lanjutkan dengan meronce benda-benda yang lebih kecil.
MEMULUNG DAN MENJUMPUT
Anak pasti senang, saat orangtuanya memasak kue, ia ikut membantu menaburkan meises, kacang atau hiasan lainnya.
Manfaat:
Melatih kemampuan/kekuatan mengambil sesuatu hanya dengan dua jari.
Alat yang dibutuhkan:
Adonan kue, kismis, meises, kacang atau hiasan lainnya.
Cara bermain:
* Berikan sedikit sisa adonan kue untuk anak. Biarkan ia memulungnya dengan dua tangan.
* Setelah adonan dipulung, ajarkan menjumput kismis, meises, gula halus atau hiasan lainnya dan menaburkannya ke atas adonan.
* Kalau hiasan kue agak besar, seperti potongan kacang almond/mede, anak sekaligus bisa diajarkan berhitung dengan meletakkan masing-masing dua buah kacang pada tiap adonan.
* Setelah selesai, panggang kue hasil kreasinya dan biarkan anak menikmati.
Yang harus diperhatikan:
* Supaya mudah membersihkannya, alasi dengan plastik arena yang digunakan anak untuk memulung dan menghias kue.
* Kenakan celemek yang agak besar supaya bajunya tidak kotor.
* Pastikan bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi anak-anak.
Marfuah Panji Astuti/berbagai sumber.

Merangsang Kreativitas Pra Sekolah

sumber :http://episentrum.com/artikel/merangsang-kreativitas-prasekolah/

Seimbangkan fungsi otak kiri dan kanan serta optimalkan seluruh aspek penunjang.

Sesungguhnya, setiap anak terlahir sebagai sosok yang memiliki kreativitas. Akan tetapi jangan salah, potensi kreatif tidak terberikan begitu saja, melainkan perlu pengembangan, hingga membuahkan sesuatu. Nah, dalam hal ini, peran orang tua begitu dominan, bagaimana anak dapat mengembangkan potensi kreatifnya?

Menurut Prof. Dr. Sukarni Catur Utami Munandar, Dipl-Psych., anak berumur 3-5 tahun, memerlukan pengasuhan dan bimbingan yang baik agar muatan kreativitasnya dapat diberdayakan secara optimal. Pada skala umur ini, anak mudah menyerap segala informasi yang ada di sekitarnya.

Sistem belajar sambil bermain merupakan cara terbaik yang dapat diberikan kepada anak usia 3-5 tahun. Tentu saja harus disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan masing-masing anak. Inilah beberapa pokok yang bisa dijadikan pembelajaran bagi mereka:

* Belajar mengembangkan dan mengasah keterampilan fisik yang diperlukan untuk melakukan berbagai permainan.

* Belajar menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungannya.

* Belajar mengembangkan berbagai keterampilan dasar, termasuk “membaca”, “menulis” dan “menghitung”.

MENGAPA BELAJAR SAMBIL BERMAIN

Dengan bermain, anak akan belajar mengenal aturan, disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian serta belajar menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Terlebih, di usia ini anak-anak sudah bisa mengikuti kegiatan di kelompok bermain dan taman kanak-kanak. Dengan belajar sambil bermain, maka secara otomatis daya pikir, imajinasi, emosi, dan sosialnya akan terstimulasi. Di situ, terbuka kesempatan bagi anak untuk menciptakan karya-karya nyata dengan kemampuannya sendiri. Ia akan mengalami banyak hal sendiri, berkomunikasi aktif dengan teman-temannya, dan mengekspresikan pengalamannya baik secara lisan maupun gambar/tulisan.

MEMILIH ALAT BELAJAR DAN BERMAIN

Alat-alat peraga yang digunakan selama bermain mesti bisa menstimulasi pengembangan kreativitas anak. Gunakan alat bermain edukatif yang memiliki fungsi mendidik dan juga menghibur. Dengan begitu anak bisa terstimulasi untuk menyenangi proses belajar, hingga imajinasinya pun berkembang.

Alat permainan edukatif ini banyak macamnya, seperti puzzle dan lego yang dapat melatih kemampuan kreatif. Anak juga bisa membuat mainan sendiri, umpamanya kapal-kapalan dari kertas atau pelepah pisang. Selain itu, sediakan juga alat peraga lain seperti gambar, poster, papan permainan, alat-alat kesenian dan sebagainya.

Usahakan agar kegiatan yang dilakukan tidak monoton. Oleh karena itu orang tua dan guru didik perlu menghidupkan cara-cara yang dapat mengembangkan aktivitas anak. Tujuannya agar tercipta kegiatan belajar yang menyenangkan dan mengasyikkan.

BELAJAR DI ALAM

Kegiatan yang merangsang kreativitas dan kecerdasan emosional anak sebetulnya akan lebih efektif bila dilakukan di alam terbuka. Lakukanlah permainan atau aktivitas yang tidak biasa karena di TK, anak biasanya melakukan kegiatan yang relatif sama, hingga dikhawatirkan membuatnya bosan dan jenuh. Pilih kegiatan berupa permainan atau pembelajaran yang menyangkut kehidupan sehari-hari.

Di usia prasekolah ini anak hendaknya dibiasakan mengenal lingkungan sekitar. Kalau biasanya anak hanya melihat pantai di televisi atau buku saja, ajaklah ia berekreasi ke sana. Tunjukkan bagaimana bentuk pasir dan indahnya ombak yang bergulung-gulung. Ajak pula dirinya menikmati segarnya udara dan indahnya peman dangan di pegunungan.

BELAJAR SENDIRI

Di sekolah, anak pastilah belajar bermain secara berkelompok dengan teman-teman sebaya. Dia akan belajar berinteraksi, bekerja sama, dan mematuhi aturan-aturan kelompok. Namun, adakalanya anak juga ingin bermain sendirian. Kesendirian seperti itulah yang akan memunculkan berbagai imajinasinya. Sedangkan ide-ide kreatif takkan timbul jika selalu main bersama.

Untuk itu, orang tua harusnya mengupayakan agar anak bisa bermain berselang-seling antara sendirian dan bersama-sama. Jika memang memungkinkan, ayah-ibu perlu mengusahakan ruangan atau pojok di rumah untuk anak. Biarkan anak memiliki privasinya dan bebas melakukan apa yang disukainya. Di tempat tersebut biarkan anak menyimpan buku, mainan dan mengerjakan sesuatu yang disenangi untuk merangsang imajinasinya.

* Imajinasi

Imajinasi jangan ditafsirkan sebagai sesuatu yang bersifat lamunan atau khayalan semata. Berilah kesempatan pada anak-anak untuk mengembangkan daya imajinasinya. Dengan demikian dia akan mengeksplorasi potensi kreativitasnya. Orang tua perlu membimbing anak untuk mengungkapkan hasil imajinasinya itu melalui cerita, gambar atau tulisan.

* Kreasi

Biarkan anak berkreasi sekehendak hatinya. Orang tua jangan memberikan batasan atau mengekang daya kreatif anak. Biarlah anak-anak belajar melalui caranya sendiri. Bagaimanapun, setiap aktivitas yang dilakukan anak merupakan proses belajar, dan kemampuan kreativitas itu harus dilihat dari prosesnya, bukan hanya hasil.

SEIMBANGKAN OTAK KIRI DAN KANAN

Utami menyebutkan, belahan otak kiri dan otak kanan haruslah dirangsang secara seimbang. Sayangnya, sistem pembelajaran untuk anak-anak di sini masih lebih difokuskan pada pengembangan otak kiri, yang mengasah kemampuan logika, analisis, dan penalaran. Sementara belahan otak kanan yang merangsang kreativitas, imajinasi, intuisi, dan seni kurang dirangsang.

Di negara-negara Eropa, upaya mengembangkan otak kanan dilakukan dengan kegiatan menari, menyanyi, melukis dan sebagainya. Mereka yakin dengan merangsang seni, kreativitas dan imajinasi lebih dulu, maka kemampuan matematis anak justru bisa berkembang lebih baik. Pandangan ini agaknya berlaku terbalik di kebanyakan lembaga pendidikan diIndonesia. Anak didik lebih banyak dirangsang menggunakan belahan otak kiri, sedangkan otak kanan sangat jarang digunakan. Misalnya, mereka ditekankan untuk secepatnya menerima pelajaran menulis, membaca, menghitung dan menghapal semata yang justru menyebabkan anak jadi tidak kreatif. Artinya, kita cenderung melalaikan pengembangan kreativitas dan imajinasi anak, padahal mestinya rangsangan itu dilakukan secara seimbang, agar fungsi otak kanan dan otak kiri berjalan optimal.

Belahan otak kiri dan kanan, asal tahu saja, bekerja saling bergantung satu sama lain. Apabila tidak terbiasa menggunakannya secara seimbang, salah satu dari belahan otak yang jarang digunakan akan mengalami hambatan-hambatan dalam menjalankan fungsinya. Hal ini pula yang menimbulkan kemiskinan kreativitas pada anak-anak.

SELEKTIF PILIH PLAYGROUP/TK

Bukan kelengkapan sarana permainan dan peraga saja yang perlu diperhatikan orang tua saat memilih “sekolah”, tapi juga kualitas guru-gurunya. Mereka harus paham perkembangan psikologi anak usia prasekolah. Mereka juga harus tahu bagaimana menstimulasinya dengan kegiatan yang menarik sekaligus memberikan pengajaran.

Ingat, dunia anak adalah dunia bermain. Melalui bermain, anak memperoleh pelajaran yang mengandung aspek perkembangan kognitif, sosial, emosi dan perkembangan fisik. Melalui kegiatan bermain, anak dirangsang untuk berkembang secara umum, baik perkembangan berpikir, emosi maupun sosial.

Pada rentang umur ini pula, orang tua sudah bisa melihat bakat atau minat anak. Cobalah beri kesempatan kepadanya untuk mencoba berbagai aktivitas, semisal melukis, menari, menyanyi, atau main piano.

Jika pada anak sudah terlihat minat yang dominan, pupuklah terus. Namun, minat itu tidak perlu langsung diarahkan/ditunjukkan pada satu bidang tertentu. Biarkan saja anak memiliki kebebasan. Utami menambahkan, jika orang tua kurang menstimulasi anak, dikhawatirkan perkembangan mentalnya akan berjalan sangat lambat.

Pengaruh Permainan Pada Perkembangan Anak

Sumber : http://www.resep.web.id/ibu-anak/pengaruh-permainan-pada-perkembangan-anak.htm

Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Adaorang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak:

1. Kesehatan
Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.

2. Intelegensi
Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.

3. Jenis kelamin
Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.

4. Lingkungan
Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.

5. Status sosial ekonomi
Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.

Pengaruh bermain bagi perkembangan anak
Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak
Bermain dapat digunakan sebagai terapi
Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak
Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak
Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak
Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak

Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak

A. Permainan Aktif

1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.

2. Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.

3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.

4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.

5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Permainan Pasif

1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.

2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya.(iis)