Anak Terlambat Bicara


sumber : http://groups.yahoo.com/group/berita-dunia-ibu/message/120

Buletin Mingguan http://www.dunia-ibu.org
Edisi No: 106-02-01-2004
——————————————–

Buletin kali ini memfokuskan pada masalah anak yang terlambat bicara.
Di sini diulas berbagai pengalaman ibu-ibu dan juga tersedia banyak
informasi mengenai pencegahan maupun terapinya. [Qn]

JIKA ANAK ANDA TERLAMBAT BICARA

TANYA:
Anak adik saya, lelaki umur 2 tahun 3 bulan sampai saat ini masih
belum bisa bicara, kosa kata yang bisa diucapkan tidak lebih dari 5
kata : Mama, Ayah, Diii (nama kakak-nya), Ya dan Cu (minta susu).
Mama dan ayahnya berusaha tiap hari untuk menambah perbendaharaan
kata-kata namun sangat sulit bagi dia untuk menghafal maupun
mengucapkannya.

Apakah diantara Ibu ada yang punya kasus serupa? Apakah ini
berhubungan dengan apa yang disebut orang “autis’? (not sure yet).
Menurut DSA keponakan saya, untuk umur segitu masih wajar jika susah
bicara dan cuma diberi vitamin saja. Tapi kalau melihat teman-teman
sebayanya kayaknya kok saya ngenes ya karena dia diam saja, tidak
pernah ngoceh kayak yang lain. Please sharingnya, apakah kiranya
perlu dibawa ke psikolog anak? Jika perlu, tolong referensinya. (Y)

Jangan panik dulu, karena perkembangan setiap anak itu berbeda. Untuk
kasus terlambat ngomong perlu hati-hati untuk menganalisanya. Coba
cari tahu ada tidak riwayat terlambat ngomong di keluarga, kalau
memang tidak ada coba perhatikan dulu:
1. kesehatan fisik anak, apakah dia sehat atau sering sakit-
sakitan
2. bagaimana perilaku anak, apakah dia punya perhatian terhadap
sekelilingnya atau hanya sibuk dengan diri sendiri
3. apakah dia ada alergi thd sesuatu (makanan, udara dll)

Ini perlu sekali supaya kita tidak salah menangani masalah
keterlambatan bicara ini dikemudian hari. Kalau perlu jangan ragu deh
pergi ke psikolog untuk berdiskusi dan observasi, jangan sampai si
anak diberi label yang salah. Coba ke Lembaga Psikologi Terapan UI,
disana psikolognya cukup bagus dan tidak terlalu mahal.
Ini cuma berdasarkan pengalaman pribadiku saja, karena aku punya
seorang anak yang dulu cuma didiagnosa terlambat ngomong, karena
katanya biasalah anak laki-laki terlambat ngomong. Seandainya waktu
bisa diputar kembali. Tapi sudahlah yang penting kedepannya bagaimana
menjaga anak-anak kita tetap sehat dan bisa berkembang sesuai dengan
kemampuannya. (DN)

Referensi ke Klinik Anakku.
1. Kelapa Gading Boulevard Blok LA 6 no. 34-35. Kelapa Gading
Permai (depan mal Kelapa Gading) – Jakarta Utara (450 2355-56)
2. Jl . Raya Manggis Blok A no. 2B-C. Komplek Ruko Cinere (depan
mal Cinere) – Jakarta Selatan (754 5400)
3. Komplek Green Ville Blok BG no. 14-15 – Jakarta Barat (566
9211)
4. Jl. Ahmad Yani –Bekasi. Pusat Niaga kalimalang Blok A-6 no. 1-
2 (885 4001-02)

TANYA:
Anak saya usianya hampir 2 tahun (tepatnya 21 bulan), tapi sampai
saat ini bicaranya masih payah banget. Pernah bisa ngomong mamam,
minyum, syusyu, kakak, tapi terus hilang lagi. Ngocehnya masih tidak
bisa kita mengerti.saya lihat pendengarannya baik, dan tingkahnya sih
sudah kayak anak gede. motorik kasarnya bagus sekali. Kita sudah coba
ngajak ngomong terus, tapi kayaknya dia cuek banget. Tetap saja
ngomong sesuai dengan maunya dia. apakah mungkin karena kita tinggal
di lingkungan beda-beda bahasa (saya tinggal di negara berbahasa
perancis, di rumah kita berbahasa indonesia, tapi TV umumnya bahasa
perancis atau inggris). Bisa minta sharingnya, bagi yang pernah
mengalami pengalaman serupa.

JAWAB:
Memasuki usia dua tahun, anak sedang memasuki tahap awal tumbuh
kembang kognitif yaitu tahap pra-operasional, yaitu pemahaman
berdasarkan hal2 konkret saja. Jadi dia mengerti apa yang bisa dia
lihat saja. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang bersifat
bawaan, yakni dengan sendirinya anak akan mengerti akan bahasa selama
organ2 fungsi bicaranya berkembang baik. Namun, tidak dapat diabaikan
juga adalah faktor lingkungan dan pengalaman. Jika anak tidak diberi
rangsangan secara verbal, anak tidak akan bisa belajar bahasa. Jadi,
yang terpenting adalah rangsangan yang anda berikan dan hasratnya
berbicara. Berikan saja perkenalan bahasa, baik indonesia, prancis,
atau inggris. hal ini sangat baik untuk pembiasaan pendengarannya.
Misalnya, dia sudah paham bahwa ketika mau minum, maka anda berkata
minum, lalu dalam bahasa prancis, besoknya dalam bahasa inggris,
sambil memberikan keterangan yang mudah dimengerti, bahwa lingkungan
memang mengkondisikan harus menggunakan banyak bahasa. Jangan dipaksa
atau dianggap tidak mampu berbahasa ketika anak menunjukkan sikap
cuek, kemungkinan dia sedang memprosesnya sesuai atau tidak dengan
memori yang dimilikinya.

KEMUNGKINAN AUTIS:
CATATAN DARI Dr Rudy Sutadi SpA, Wakil Ketua Yayasan Autisme
Indonesia:
Penyandang autisme memiliki gangguan/ masalah pada bidang komunikasi,
interaksi sosial, dan minat yang terbatas serta berulang-ulang.
Mungkin juga terdapat masalah pada bidang sensasi (indera), dan
fungsi adaptif. Hal-hal tersebut menyebabkan tingkat
perkembangan/kemampuan penyandang autisme semakin lama akan semakin
jauh tertinggal dari anak seusianya. Dalam talk show ini, Dr. Rudy
memberi contoh sebagai berikut: Masalah pada komunikasi, misalnya
anak tidak bisa bicara, terlambat bicara, bicara hanya mengeluarkan
suara-suara/suku-suku kata yang tidak mempunyai arti
(babling/bahasa “planit”), hanya menarik tangan orang dewasa bila
menginginkan sesuatu. Pada yang mulai bisa bicara, mungkin hanya
sekedar mengulangi kata-kata orang lain (membeo/echoing/ echolaly)
atau pada usia 18-24 bulan tiba-tiba bicaranya menghilang (berhenti
bicara).

TANYA:
Mohon info seperti apa/prosesnya bagaimana untuk pemeriksaan Autisme?
(apakah dengan tes-tes tertentu, ada tahap-2nya, pemeriksaan lab
dll?) Apakah di dokter anak sudah cukup? Dan berdasarkan apa
nantinya kesimpulan diambil? Kalaupun ada ciri-ciri yang mengarah ke
penyakit Autisme dan anak mengalami salah satu gejalanya, bisa
dicurigai mengidap penyakit ybs? Apakah Yayasan Autisme ((waktu itu
saya pernah melihat tayangan di Metro TV yang menampilkan dokter Rudy
(kalau tidak salah) sebagai wakil ketua Yayasan tsb))sudah mempunyai
situs sendiri di Internet ?

JAWAB:
Gangguan autisme merupakan suatu jenis gangguan perkembangan pervasif
pada anak. Untuk menegakkan diagnosa gangguan autisme ini tidaklah
memerlukan suatu pemeriksaan yang canggih-canggih seperti MRI, brain
mapping atau CT scan, kecuali ada indikasi lain yang bermakna. Oleh
karena akhir-akhir ini gangguan autisme sering dikaitkan dengan
keracunan logam berat dan pertumbuhan jamur yang pesat di usus, maka
beberapa pemeriksaan yang berkaitan dengan hal tsb sering dilakukan
(dengan catatan sesuai indikasi yang berlaku). Untuk menegakkan
diagnosis gangguan autisme biasanya didasarkan dari gejala gejala
klinis yang tampak dan jelas menunjukkan pola penyimpangan dari
perkembangan normal anak seusianya. Kriteria yang digunakan pada saat
ini adalah dari pedoman kriteria diagnosis berdasarkan DSM-IV
(Diagnostic & Statistic Manual of Mental Disorder IV) atau ICD-10
(International Classification of Disease 10).

Kriteria Diagnostik gangguan autisme berdasarkan DSM IV adalah:

A. Harus ada sedikitnya gejala dari (1), (2), dan (3) dengan minimal
2 gejala dari (1) dan masing-masing satu gejala dari (2) dan (3) :

(1). Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.
Minimal harus ada 2 gejala dari gejala di bawah ini:
a. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai, kontak
mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang
kurang tertuju.
b. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya (sesuai dengan usia anak)
c. Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.
d. Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.

(2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, seperti ditunjukkan
minimal satu dari gejala-gejala di bawah ini :
a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang (tak ada
usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara)
b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi.
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa
meniru.

(3) Ada suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam
perilaku, minat dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala
di bawah ini:
a. mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas
dan berlebih-lebihan.
b. terpaku pada satu kegiatan ritualistik atau rutinitas yang tak ada
gunanya.
c. ada gerakan-gerakan yang aneh yang khas dan diulang-ulang.
d. seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

B. Gejala-gejala di atas timbul sebelum usia 3 tahun dan adanya
keterlambatan / gangguan dalam bidang:
(1) interaksi sosial,
(2) bicara/berbahasa,
(3) cara bermain baik simbolik atau imajinatif

C. Tidak disebabkan oleh sindroma RCH / gangguan disintegrasi masa
kanak. Dengan mempelajari gejala-gejala tsb di atas maka para orang
tua dapat menduga apakah anak tsb termasuk anak dengan autisme atau
bukan.

TANYA:
Anak saya perempuan usia 1 tahun 8 bulan, sampai saat ini anak saya
masih belum bisa ngomong seperti anak seusianya, ngomongnya masih
belum terarah (semaunya saja ngomongnya). Dan kalau diajarin untuk
berbicara dia cuek saja, apalagi kalau sudah asyik nonton tv di
panggil saja tidak noleh. Anak saya berat badannya kira2 11 kg dan
dia termaksud anak yang lincah, pro aktif dan suka bercanda,cuman
satu saja sampai sekarang belum bisa ngomong. Yang ingin saya
tanyakan apakah anak saya termasuk lambat berbicara atau autisme?

JAWAB:
Tolong anaknya dibawa saja untuk diperiksa. Tentunya saya tidak bisa
memastikan apakah autis atau bukan dengan data yang terbatas. Umur 1
tahun 8 bulan belum bicara harus diperiksa dengan teliti. Jangan
menunggu, tolong diperiksakan saja.

Kebetulan sama dulu juga mengalami kegelisahan seperti itu. Anak saya
yang besar waktu umur 2 tahun, kosakata yang jelas masih sedikit,
sebagian besar bahasa planet yang hanya dia yang tahu artinya. Jadi
seringnya komunikasi kita seperti satu arah, kita tidak ngerti apa
yang diucapkan dan kalau ditanya, seringnya diam saja, atau dijawab
pakai isyarat, tapi sepertinya dia mengerti apa yang kita bicarakan,
Padahal di rumah eyangnya, banyak orang (om-om-nya) dan semuanya
cerewet, seneng ngajak ngobrol anakku, jadi tidak mungkin karena
kurang stimulasi. Saya juga konsultasikan ke DSA, karena patokan
saya, anak harusnya mulai lancar bicara, start 2 tahun, tapi kok
anakku telaat, Tadinya saya sampai pengen ikut terapi bicara, tapi
menurut DSA-ku, anakku masih wajar, dan disarankan untuk dimasukkan
kelompok bermain dulu, saya sampai minta vitamin, khususnya vit.
untuk perkembangan otak, karena saya takut, anakku khan suka jatuh
pas belajar jalan, jadi was-was saja, Akhirnya pas anakku 2 th 4
bulan aku masukkan ke kelompok bermain, yang seminggu sekali, memang
awal mulanya dia, masih penyesuaian diri dan lebih banyak diam, tapi
seiring waktu, banyak kemajuan pesat dari anakku. Mungkin karena
banyak teman sebaya, dll, anakku mulai banyak bicara, dan lebih
kritis, pokoknya, jadi cerewet deh sekarang, apa saja dikomentarin,

Sekarang anakku sudah 2 thn 10 bulan, alhamdulillah, sudah banyak
bicaranya, malah sudah bisa cerita atau ngadu, jadi pengasuhnya tidak
bisa macam2, karena sudah bisa laporan sich, Mungkin dicoba dulu
dimasukkan ke Kelompok bermain mbak? setahu saya kalau anak autis,
tanda-tandanya bukan hanya telat bicara, banyak faktor atau ciri2
lain yang mungkin ibu lain bisa tambahin, (DS)

Anak saya dulupun demikian sewaktu umurnya 2 tahun plus namun yang
perlu diperhatikan : Bila diajak bicara apakah si anak mengerti apa
yang dikatakan? Atau ditest dengan cara menyuruh si anak buang sampah
misalnya. Bila diajak bicara apakah mata si anak menatap pembicara???
Bila hal diatas sudah dilakukan kemungkinan besar hanya kurang
interaksi internal, bukannya autis. Akhirnya pada waktu itu si anak
saya sekolahkan padahal umurnya baru 2 tahunan dan PRT dirumah saya
tambah menjadi 2 orang sehingga si anak banyak mendengar orang bicara
dan sianakpun berintraksi dengan banyak orang. Dan alhamdullilah
lambat laun terlihat perkembangannya. Semoga saja anak adik mbak
demikian seperti anak saya yang pertama (sekarang umurnya sudah 5
tahun 5 bulan dan sudah cerewet). (URI)

Soal ini yang juga bikin aku cemas. Anakku, 20 bulan, sampai sekarang
belum bisa bicara lho ibu. Kata yang fasih diucapkan cuma 1 kata
yaitu “udah”. Selain itu tidak ada yang jelas. Cuma eh, aa, uu, mba’
(bukan manggil mbak lho tapi kalau’ minta perhatian bapaknya),
manggil akunya dengan ah ah / eh. Mau minum susu cuma tunjuk botol
sambil bicara eh, eh, eh, Kadang mau minum putih saja sambil nangis
karena kita tidak ngerti maksud bahasa dia. Hal yang agak melegakan
hati adalah dia selalu merespons dengan baik apa yang kami sampaikan,
seperti meletakkan gelas di cucian, mematikan lampu mobil, mengambil
barang-barang (gelas dll). Tiap makan dia akan berinisiatif
bilang “a'” kalau’ dirasa mulutnya sudah kosong sementara dia belum
disuap lagi. Bermain bersama dilakukan dengan gembira jadi
sosialisasi kayaknya tidak masalah deh, disuruh salim dia akan
langsung mengulurkan tangan meski dengan orang asing. Penjelasan ibu
sekalian memang cukup menenangkan tapi aku apa perlu periksa juga ke
DSA yang lain ya, soalnya kalau’ dengan Dr Bambang, menurut beliau
anakku tidak masalah. Cuma sering tercetus takutnya terjadi aku
terlambat merespons. (A)

Anakku juga termasuk agak telat ngomongnya, umur 15 bulan ngomongnya
masih pakai bahasa planet, padahal sepupu2-nya umur 12 bulan sudah
bisa panggil mama papa. Kata DSA tidak masalah wong anaknya dia saja
baru ngomong umur 2 thn, tapi kalau mau second opinion ke dr lain ya
silakan, akhirnya dirujuk ke Prof. Taslim di Hermina Jtn. Waktu
diperiksa dia bilang tidak ada masalah dan tidak autis (legaaaa
rasanya), cuman dibilangin kurang banyak latihan/ diajak ngobrol,
(padahal kurang gimana lagi ya cerewetnya kita), dikasih obat racikan
untuk 1 bulan plus tugas untuk lebih intensif lagi ngajarin/ngajak
ngomong, eh baru seminggu minum obat anakku sudah mulai panggil mama,
mama, juju (susu) sudah, dan beberapa kata pendek lainnya. Berhubung
aku merasa tidak urgent lagi akhirnya aku tidak balik lagi ke si
Prof, padahal DSAnya bilang silakan saja diteruskan, Tapi keponakanku
juga baru ngomong umur 3,5 tahun lho !! Gara2 awalnya sering
ditinggal didepan TV nonton sendirian, karena ibunya sibuk ngurusin
rumah, sudah di terapi wicara bolak-balik tidak ada kemajuan,
akhirnya dimasukin play group baru deh mulai ngomong, Sekarang sudah
4,5 tahun dan cerewet!!(IT)

Mungkin yang harus kita lakukan bukan cuma ‘cerewet’ sendiri. Tapi,
berusaha ngerangsang si anak untuk ngejawab omongan2 kita. Mungkin
kalau ‘cerewet’ yang satu arah, si anak malah bingung kali
yach. “Ibuku kok tidak kasih kesempatan aku buat ngomong ya???”.
Soalnya beberapa sodara saya yang anak2nya pada telat ngomong,
kejadiannya sama seperti itu. Si ortu asyik sajacerewet sendiri,
sementara si anak asyik saja ngedengerinnya dan tidak bisa nanggepin
kecerewetan si ortu ini, (R)

Keponakanku sampai ultahnya yang ke-2 bicaranya sama, yang keluar
cuma ah uh eh doang. Persis, kalau mendengar perkataan orang dia bisa
mengerti. Seperti disuruh salam, atau diminta mengambilkan mainannya
gitu dia bisa mengerti. Waktu itu seisi rumah juga cemas melihat
keadaan ini sementara badannya bongsor, diusia 2 tahun sudah seperti
anak usia 3-4 tahun tapi ngomongnya masih bahasa planet, kan lucu
jadinya. Padahal bundanya, tantenya dan orang2 disekelilingnya adalah
orang2 yang cerewet alias doyan ngomong. Lalu pola bicara kita orang2
disekelilingnya mulai sedikit diperhatikan. Kita sepakat kalau bicara
sama dia, bicaranya sesedikit mungkin. Tapi dipraktekin dan minta dia
bicara berulang2. Misalnya kita baca buku sama2 lalu kita bilang “Ini
burung” lalu tanya apa ini? Begitu lama2 dia bisa walaupun hanya
ujung katanya saja. Lalu kalau dia minta sesuatu misalnya dia minta
susu, kita biarin dulu sampai dia mencoba bilang susu atau dia
berusaha menunjukan bahwa yang diinginkannya itu susu. Dulu dia suka
nunjuk tempat bikin susunya terus kita bilang “oh mau susu ya” “Mau
apa dik?” “susu” gitu terus diulang2. Kadang secara tidak sadar
lingkungan memenuhi kebutuhan anak sedemikian rupa sehingga tanpa
sianak harus bicarapun lingkungan sudah mengeri dan memberikan
kebutuhan dia. Si anak jadi tidak terlatih untuk mengemukakan
apa.yang diinginkannya. Tapi kita harus waspada juga jangan sampai
sianak jadi frustasi karena dia mencoba mengemukakan bahwa dia pengen
susu tapi kita terus cuekin karena dia belum bener ngomong susu.
Dengan memperbanyak anak bersosialisasi dengan anak sebayanya juga
bisa merangsang anak untuk berkomunikasi. karena dengan teman sebaya
mau tahu mau dia harus mencoba mengemukakan apa yang dipikirkannya.
Misalnya kalau dengan orang tua dia mengatakan “mau su” kita sudah
ngerti kalau dia mau susu. Tapi dengan anak lain belum tentu.
Situasinya membuat sianak memang harus bicara, tapi dalam keadaan
yang tidak tertekan karena situasinya bermain. Usia hampir 2 tahun 6
bulan, dia terus bisa bicara, bahkan tidak bisa berenti kalau sudah
nanya. Kata neneknya, ayahnya dulu juga baru bica bicara lancar
diusia 2 tahun, jadi barangkali ada kaitannya juga ya? (SK)

Iya betul ya. Ini juga berlaku baik bagi anak normal maupun yang
bermasalah ya? Soalnya temenku yang terapi-in anaknya itu juga
disuruh begitu sama terapistnya. Anak jangan langsung dilayani kalau
misalnya cuma bilang,”Uh,uh,”, sambil nunjuk botol susu-nya. Kita
harus rangsang supaya dia ‘berbicara’ dulu baru dikasih susunya. Juga
kadang kita tidak sabar nunggu anak ngomong sampai selesai. Jadi dia
lagi bilang, “Mau minum… minum…”, kadang ada yang nyambung :”Susu
ya?”. Sebaiknya sih ditungguin si anak selesai berpikir dan
mengutarakan pikirannya. Sebab kadang anak lebih cepet di otak
daripada di bibir. Otaknya sudah mikirin apa, yang nyampe bibir baru
apa gitu. (R)

Nah kalau yang kayak gini kejadiannya sama ponakanku satu lagi. Jadi
malas bicara karena kalau dia ngomong sesuatu trus agak lama kan
kadang lingkungan jadi tidak sabar, ini anak mau ngomong apa sih?
lalu kalau dia ngomong lingkungan jadi suka memotong omongannya.
Misalnya dia bilang Bu kaka mau itu, mau itu, mau itu bu, Ibunya
langsung bilang “oh mau coklat dari toko kemaren ya? Kadang
lingkungan bermaksud membantu sianak menuntaskan perkataannya, tapi
kadang hal itu malah jadi menghambat si anak untuk berbicara. Kita
bisa saja terus tanya, mau apa? kaka mau apa ya? Ibu kok belum
ngerti? sampai sianak bisa mengemukakan apa yang ada dipikirannya
Kakak sekarang suka curhat sama aku (waktu dia usia 10tahun) katanya
ibunya suka nuduh dia. Aku tidak ngerti kenapa dia bisa punya pikiran
seperti itu setelah ditanya tanya, rupanya dia sebel karena katanya
kalau dia ngomong belum selesai ibunya sudah motong pembicaraan
dia. “padahal bukan itu loh tante yang mau kakak bilang sama
Ibu”. “Ah kakak jadi males ngomong katanya kalau orang ngomong kita
tidak boleh motong omongan orang. Tapi kalau kakak ngomong kok suka
dipotong”. Untung cepet ketahuan kalau dia punya pikiran seperti itu.
Kalau keterusan? bukan tidak mungkin akan muncul masalah yang lebih
serius lagi. (SK)

Usulan ini sudah aku terapin berulang untuk si kecil. Sudah
uh..uh..uh.. sambil nunjuk botol. Aku tanya “adik mau apa”,
uh..uh..uh.. keukeuh nunjuk botol. Aku tanya “mau apa dik”, sambil
nunggu dia mau ngomong apa keluarnya uh..uh..uh.. lagi sambil nunjuk
botolnya. Berapa kali masih begitu akhirnya aku ambil botol susu dia
sambil bilang : adik mau minum susu ? Dia tuh uh, uh, uh, lagi sambil
jalan balik ke dispenser tempet biasanya susu dibuatin, nungguin di
situ. Kalau’ ditanya lagi adik mau apa, waduh bisa langsung ngamuk.
Mungkin pikirnya Ibuku ini sudah ngerti maksud aku masih tanya-tanya
saja.

Aku sih masih berusaha terus nih, pengasuhnya juga aku ingatin terus
supaya tetap merangsang adik untuk mau ngomong. Kakaknya, padahal
cerewet betul, ngajakin ngomong adiknya. Semoga juga cuma masalah
waktu saja ya, bukan yang lain-lain. (A)

Mungkin dicoba kata per kata. Jadi misalnya ditanya mau apa, tetap
masih uh-uh-uh lagi, kitanya bilang, susu? Adik mau susu? Susu yang
ini? S, u, s, u, coba dik, Berkali-kali-kali seperti gitu, lama2
lengket di otaknya, itu SUSU. Sembari terus melatih, kita juga tetap
memperhatikan, juga mengingat2, apa ayah/ibu/sepupu2nya dulu juga ada
yang begitu? Sebab anak tetatidaku, sudah 2 tahun lebih (dulu) belum
bisa ngomong juga, ternyata dirunut2, sepupu2nya dari garis bapaknya
semua rata2 begitu. Rata2 lancar bicara umur 3 tahun. Ya bener saja,
memang dia umur 3 tahun baru lancar bicaranya (R).

Kalau menuruntuku adik itu sudah ada usahanya untuk mengemukakan apa
yang dia inginkan. Adik kalau mau susu nunjuk botol laau ngajak
ketempat dispenser, itu salah satu bentuk usahanya dia. Barangkali
memang masih susah buat adik untuk bicara, tapi kita teruskan saja
usahanya kalau sudah diambil susu dibilang oh adik mau susu ya? Susu,
gitu terus, Insya Allah kalau berulang2 dan konsisten dilakukan oleh
lingkungannya akan diinget terus sama sianak. Memang sebaiknya jangan
sampai sianak ngamuk, takutnya menimbulkan frustasi yang
berkepanjangan. (SK)

Kalau aku punya pengalaman dari kedua saudaraku yang pertama anaknya
sampai 3,5 tahun susah ngomongnya pakaui bahasa planet, naah ibunya
terus saja melatih dia untuk bicara ngikutin kata ibunya, dan katanya
kakeknya tuh anak (bapaknya si ibu) dulu waktu kecilnya juga lama
baru bisa bicara lancar sekitar umur 4 tahunan makannya si ibu santai
saja, soalnya dikaitkan dengan cerita keturunan itu, kalau yang satu
lagi anaknya mengalami autis ini terlihat dengan dia sering bicara
planet dengan dunianya sendiri dimana dia ngoceh saja tanpa ketahuan
ngomong apaan, akhirnya ibunya menemui ahli wicara apa ya pokonya
dokter anak di warung buncit untuk terapi bicara, dan alhamdullillah
kata dokternya sajaran ibunya dalam melatih anaknya bicara sudah
benar, anak dilatih untuk bicara keinginannya dengan dibantu,
Akhirnya si autis bisa bicara walaupun belum jelas sekarang sudah
kelas satu SD,(N)

Waktu itu aku sudah curiga abis karena anakku tidak bisa ngomong, ada
sih mama, papa, tapi hiperaktif nya itu lho. Jadi sudah niat, 24
bulan tidak ngomong, bawa ke dokter, dulu di Malaysia dokternya
bilang bukan autis. Masalahnya dibilangnya, speech and comm.
disorder, Kemudian aku cek ke 3 dokter, idem dito, bukan autis, tapi
pas di Jakarta, positif dibilang autis. Tapinya, terapi yang disuruh
sama dengan yang dibilang dr. di Malaysia. Aku inget daftar
pertanyaan dari Dr. Hardyono di KG itu ya, bisa dicek:

(1) Suka ketawa sendiri tidak
(2) Suka pegang2 penis
(3) Suka lihat & maenin benda berputar
(4) Usia satu tahun belum bisa menunjuk sesuatu yang dia mau/maksud
(5) Suka jingjit
(6) Suka berputar-putar
(7) Suka mengamuk kalau tidak dituruti (bisa membenturkan kepala ke
tembok, atau tiduran di lantai, atau tahan nafas)
(8) tidak nengok kalau dipanggil
(9) Lebih suka main sendiri
(10)Suka menyusun mobil2an berderet2
(11)Kontak mata yang jarang dengan lawan bicara

Kalau 2 tahun belum bicara, atau ada ciri2 di atas, takutnya nyesel
bawa saja dicek ke dokter, Aku ingetin begini, soalnya ada temenku
sekarang nyesel banget telat bawa anaknya, 5 tahun baru ketahuan
asperges. (IE)

Aku mau cerita ya, ibu, tentang anakku, dari umur 12-16 bulanan, aku
sudah was-was karena anakku belum juga bicara, rasa khawatir ini
timbul karena aku punya 2 temen dimana anak2 kita lahir hanya selang
10 hari dan anakku yang paling tua, kedua anak temanku itu umur 12-13
thn sudah bisa bilang num susu, bis, motor, bil-mobil, mama, papa,
eyang, sudah lumayan jelas, smtr dia jauhhh, banget, deh dari mereka,
kalau kita tanya andung, mana, dia tidak nunjuk ke ibuku, tapi cukup
melemparkan pandang kearah ibuku dengan senyum, kesannya seolah2 dia
bilang itu andung, setiap ditanya matanya mana; kakinya mana, lagi2
Cuma senyum2, sambil tetap ngeluarin suara2 bayi-nya, dirumah,
rasanya jugan ditanya deh, gimana ramenya kita, hampir yang ibu semua
lakukin buat anak2 ibu itu juga yang kita lakuin dirumah, bacain
cerita, nyanyi, sampai untuk mengenalkan warna aku pakai dengan cara,
kamu pakai baju putih ya, gitu deh, waktu aku baca postingan ibu,
ternyata F juga melakukan hal ini, dari waktu ke waktu kita tetap
usaha terus, kalau tanya ke dsa-nya, beliau cuma bilang, tetap saja
bu dilatih, belum 2 thn kan? Tapi selama itu juga banyak pemahaman
dan pengertian yang diterimanya, kalau dikasih perintah yang mudah2
dia bisa lakukan, spt ambil handuk buat mandi, pakai sepatu, bisa
pakai sandal sendiri, buang sampah, semacam itu deh.

Antara umur 18-24 bulan, tiba2 aku surprise, waktu pulang, dia bisa
bilang ‘allahu akbar’ dengan jelas tapi tanpa huruf ‘r’, rupanya
sesiangan dia diajarin oleh kakeknya, tidak lama kmdn kata ‘amin’
karena dia sering lihat kita2 stelah shalat berdoa, terus waktu itu
juga dia lagi getol2nya niruin gaya org shalat. Terus tidak berapa
lama ibu DI ngomongin soal vcd iqra, wah, aku langsung beli, hampir
tiap pagi slbm aku berangkat knt (kadang juga sore, tergantung maunya
ayra juga) stel vcd ini, tidak nyangka dia nyimak, kata ibuku lagi
dia juga mulai ikut2an berdendang kalau kita nyanyi. Sepanjang
desember kemarin (pas 2 thn) banyak banget deh, ibu yang dia sudah
bisa, sekali2, aku tanya lagi, mata kamu mana? dia tunjuk matanya,
aku tanya lengkap dia bisa kasih tahu lengkap anggota badannya, dia
juga sudah bisa nyebut panggilan2 org2 rumah, (kecuali mama/ayah dr
dulu dia memang bisa), terus aku tanyain juga iqra alif, dia bisa,
juga, aku tanya secara acak, ia juga bisa, (mis;dal diatas,nanti dia
nyahut ‘da’, ) sudah bisa nyanyi lagu favoritnya ‘topi saya bundar’,
sudah bisa bilang mamam(makan), o, iya, aku juga udah masukkin ke
tempat bermain, tapi kayaknya belum efek deh, ke dia untuk bicara,
karena dia sendiri masih cuek dan masih lebih banyak sama kitanya,
ketimbang teman2nya, meskipun ditempatnya bermain itu, sudah lumayan
banyak juga anak yang sudah bisa bicara, lihat dia saat ini paling
tidak bisa mengurangi sedikit kekhawatiranku (aku sempet kepikiran
juga siapa tahu dia autis), mudah2an dari bulan ke bulan nantinya ada
kemajuan, demikian juga buat anak2 ibu, o, iya, aku seneng juga baca
sharingnya ibu tentang ini, siapa tahu ada input tambahan buatku spy
bisa merangsangnya bicara. (R)

Iya, aku dibilanginnya juga jangan bersedih dulu kalau baru bisa
ngomong SSSS doang buat susu, sudah harus dikasih reward tu kalau
bilang “SSsss…” pas mau susu. Anakku dulu baru bisa ngomong umur 5
tahun lho, sampai sekarang kalau ngomong masih irrrriiit banget. (IE)

Kalau menurut pendapatku, beda anak, beda kasus, beda penanganan. Ada
late talkers karna lingkungannya pendiem. Ada yang justru karna
lingkungan terlalu bawel. Ada yang terbantu dengan ‘dipaksa’
menyelesaikan kalimat. Tapi ada yang justru jadi frustrasi banget
trus takut omong (karena dia merasa tidak ada org yang mau ngertiin
dia, lha dia mana tahu bahwa kita sedang nunggu dia ngucapin kata
yang benerkalau buat dia kan itu kata sudah bener. Jangan kecil hati
karena ngelihat suatu metode berhasil di org lain dan tidak di kita
dan kalau kita mau jadiin usia sebagai indikasi normal / tidaknya
tumbuh kembang anak kita, hati-hatilah, yakin dulu bahwa kita memang
tahu ilmunya jadi was-was itu manusiawi sekali, tapi kalau saking
waswasnya trus berdasarkan cerita org lain kita memastikan kasusnya
anak kita, apalagi trus kita taruh label tertentu pada si anak dan
memilih sendiri penanganannya ini yang bahaya. Yang jelas, sebagai
orgtua insya Allah kita punya deh insting kalau emang kita rasa ada
yang tidak beres cari, cari, cari pendapat dari yang kompeten dokter
anak, psikolog, kalau bisa tim sih lebih bagus yang penting bisa
diajak diskusi sampai ngelotok sampai semua pertanyaan & keraguan
terjawab kalau masih ada yang dirasa tidak puas, cari lagi pendapat
lain, untuk bisa tegakkan diagnosa apapun, butuh pemeriksaan dan
analisa detil yang didasarkan sejarah tumbuh kembang si anak dan
observasi langsung! ini yang terpenting. Karena sekali lagi, tiap
anak beda, tiap anak super istimewa, (H)

Soal anak belum bisa ngomong emang bikin kita cemas ya. Aku kalau
berdo’a berharap perkembangan bayiku dalam perut kelak akan selancar
kakaknya, jadi kalau kakaknya ngoceh aku suka berdo’a dalam hati agar
adiknya pun lancar perkembangannya, padahal kalau dipikir saat hamil
pertama itu aku merasa lumayan tertekan lho, maksudku saat itu
kebetulan aku lagi ada masalah rumah tangga, makanya kalau lihat dia
lari2 trus ngoceh nanya ini itu aku cuman bisa bilang Subhanallah
kalau inget saat hamil dia betapa “mandiri” nya aku,
betapa “pendiam”nya aku, dulu saat hamil dia aku juga suka makan junk
food, kalau tidak bisa keluar rumah aku punya daftar delivery service
masing2 restoran junk food, hehehe, aku tahu itu tidak bagus, habis
daripada tidak ada yang masuk perut, sekarang Z sudah 2 th,aku juga
tunda dulu imunisasi MMRnya,meski blom sekolah skrg dia sudah bisa
bilang one sampai ten,yang penting kalau ngajarin ke anak kita jugan
cemas, anak mungkin ikut merasakan ketegangan kita,ikhlas dengan
kondisi anak & rileks saja sambil jalan, toh tiap anak itu unik &
perkembangannya tidak selalu sama, aku selalu bicara saat melakukan
kegiatan bersama anakku sejak dia bayi, apapun itu,lagi ganti
popok,mandiin,bahkan sabun jatuhpun kuungkapkan seolah dia ngerti
sabun itu licin, kebetulan pbt-ku juga full comment kalau nonton
TV,oh ya ada yang bilang TV juga merangsang anak cepat bicara, asal
tepat yach tontonannya,VCD juga membantu, dulu anakku kalau nanya
suka bilangm?,hm?, hm?, jadi kita jawabnya berulang2, ternyata dia
niru pbt-ku kalau diajak ngobrol temennya suka bilang gitu, akhirnya
aku tegur jangan ‘hm”,tapi “apa bunda?”, atau “apa Mbak?”, itu
kukatakan berulang2 tiap kali dia ber hm-hm-ria, skrg sudah tidak
lagi,malah suka ngeledek,”apa bunda?,hm?,hm?,hm?”, kemudian dia
terkekeh. (C)

WHAT DOES IT MEAN WHEN A CHILD IS LATE TALKING?
Stephen Camarata John F. Kennedy Center on Development and
Disabilities

Talking is one of the most salient developmental milestones in early
childhood. To a parent’s delight, most children start talking about
the time their first birthday is celebrated. Over 90% of children
begin using words by 18 months of age. But what about the remaining
10%? Is the late onset of words simply normal developmental variation
without any long-term impact or is it an indication that something is
wrong? The answer is that late talking can be either and it is
important to determine whether this is a passing phase or a condition
requiring intervention. What is late talking? A parent once contacted
me and was concerned that her child was not using words at 13 months
of age. She had read that first words come in by 12 months and was
rather distraught that her son hadn’t met this milestone. Like many
developmental milestones, talking has a rather variable onset, with a
normal distribution of approximately 9-18 months. That is, according
to a large normative study (Fenson et al, 1992) a majority of
typically developing children will begin using first words somewhere
within this age range. In terms of age-equivalency, this is a huge
span! Consider that an age deviation (age of onset minus median
divided by median) would yield a “50% delay” for a child who in
actuality has normal onset of first words at 18 months. In the
absence of a more general developmental condition (e.g, Down
Syndrome), this would simply be normal variation.

If a child is late talking
The first thing to be said about all late talking cases is that a
medical evaluation should be completed to rule out any medical
factors contributing to the late onset of language. In addition, an
audiological examination should be performed to ensure that a major
risk factor, hearing loss, is not the cause of the late talking. If a
child is not using true words by 18 months of age, this would be
considered a form of late talking. But is this a stage of development
or a symptom of a broader clinical condition, such as autism, that
will require treatment? A number of clinical conditions include late
talking as a symptom. The fourth edition of the diagnostic and
statistical manual of the American Psychiatric Association (DSM-IV,
APA 1994) lists a number of conditions “first appearing in childhood”
that include late talking. The most prevalent include expressive
language disorder, mixed expressive-receptive language disorder,
phonological disorder, mental retardation, and some of the pervasive
developmental disorders, including autism, Rhett’s syndrome and PDD-
NOS (not otherwise specified). Note that Asberger’s syndrome is
characterized in the DSM-IV as normal onset of language, indicating
that late talking is not a symptom of this condition. It is also true
that many children who talk late are “nonclinical” in that they may
not begin talking until two, three, or even four years of age, yet
when talking begins they quickly catch up and have none of the
clinical conditions mentioned above. But how can a parent know what
is happening with their own child two or three year old child who
isn’t talking yet? The uncertainty can be quite difficult.

Differential Diagnosis of Late Talking
Here at the Kennedy Center, many researchers are studying ways to
differentially diagnose developmental disabilities. For example,
Wendy Stone is researching methods of accurately identifying autism
in young children, a process that historically has been difficult to
identify with a high degree of certainty until a child is a bit older
(e.g, five years of age). In addition, she is working with KC
investigators Paul Yoder and Mark Wolery to study treatment for
preschoolers with autism. But the broader question is how one can
tell if a child has mental retardation, autism or other PDD, language
disorder or will simply “grow out” of the problem. Basically, the
process of differential diagnosis requires careful observation of the
child and the evaluation process should include a detailed
examination of the risk factors. In general, the fewer risk factors
evident, the more likely the late talking is a developmental
variation rather than a clinical condition.
For example, several studies over the past decade have indicated that
if the only trait evident in the child is late onset of words at age
two, there is a very high probability that the vocabulary size will
be within the normal range at the age of four (Paul, 1993, 2000;
Whitehurst et al. 1992). But, Paul (1994) reported that a child with
phonological (speech sound disorders) was more likely to continue to
have language difficulty beyond age four. This suggests that a
diagnostic model should provide a systematic analysis of risk factors
when recommending treatment for late talking.

Risk Factors
If a child is not talking, what skills are also important? As
mentioned above, the quality of the child’s vocalizations (e.g, are a
variety of sounds used in babbling?) is predictive of late growth. In
addition, the child’s receptive language skills are important. The
children who normalized in the Whitehurst et al. report had normal
(age appropriate) comprehension and our own baseline data on late
talkers suggests that those with normal comprehension are much more
likely to normalize than those with significant comprehension
deficits. Another important domain is the nature and quality of the
child’s nonverbal social interactions. Child with serious problems
such as autism are less likely to initiate nonverbal social
interactions than are children who are likely to normalize. Indeed,
reduced social interaction that can not be accounted for by the late
talking itself is a hallmark characteristic of autism or other forms
of PDD (DSM-IV). Finally, a child’s nonlinguistic cognitive abilities
are an important factor. It is not surprising that late talkers often
fall below expected levels on verbally based intelligence tests.
After all, how many of us could do well on a test given in a language
we don’t understand? But, late talkers who are otherwise unimpaired
should fall within the normal range on tests that examine nonverbal
cognitive abilities (e.g, the revised Leiter International
Performance Scale, Roid & Miller, 1997). If the late talker is below
expected levels on nonverbal tests (in addition to verbal tests),
this suggests a more comprehensive disability. In simple terms, these
kinds of tests predict a child’s rate of learning and if cognitive
abilities are below expected levels, it is likely that the child will
learn more slowly and require more attention than peers.
Treatment for Late Talking
The language skills of any late talker, regardless of diagnosis, and
typically developing children as well, can be accelerated by applying
focused stimulation on words, word endings, sentences, and speech
sounds. Researchers at the Kennedy Center have a long and impressive
history of developing ever more effective treatments and this work
continues. If the only factor in the late talking is the late onset
of words, there is a very high likelihood that the child will
normalize within a relatively short time. All children with
disabilities can learn, so more serious problems can be improved with
appropriate treatment. It is comforting to know that the overwhelming
of people with disabilities learn to talk. An important challenge in
these more serious conditions such as autism, is making sure that the
focus of language intervention is on truly functional skills (e.g,
useful words) and making sure that the goals are coordinated among
the special educators, preschool teachers, speech-pathologists, and
parents as these children will likely benefit from learning the same
words in each context. Unfortunately, there are many unproven (and
often expensive) treatments being offered to families that do not
directly improve talking. At this time, unlike the research to
support directly teaching a child to talk, there is not scientific
evidence to support the use of special diets, massage, muscle
exercises, non-language auditory training, or chelation to treat late
talking. Moreover as Paul (2000) notes, late talking may simply be a
developmental stage or it may be a symptom of a more severe
condition. Many late talkers will normalize without treatment and
many others will normalize with an appropriate treatment program, but
regardless of whether the late talking is a stage or a symptom, all
can learn. It is important to have an accurate diagnosis, and if
needed, appropriate treatment. Future Studies Because a general
condition, lat talking, is a behavioral trait for many different
clinical conditions as well as a variation on nonclinical
development, we hypothesize that this is a very interesting group for
developing neural, genetic, and auditory perceptual signatures that
will yield useful diagnostic information and perhaps provide
important prognostic indictors for treatment. Here at the Kennedy
Center at Vanderbilt University, teams of researchers have begun to
study these questions in more detail. We believe that it will
ultimately be possible to provide more accurate diagnoses and, if
needed, more effective treatment to improve on what Paul (2000) has
characterized as a relatively low accuracy rate in predicting later
development in lat talking two year olds.

Wah, aku telat baca topik ini, sehari cuti saja email sudah buanyak
banget. Anakku yang besar (now 25 mos), termasuk yang lambat mulai
bicara. Sempat juga kita khawatir dengan autis, speech delay atau
penyakit lainnya. Padahal orang di rumah cerewetnya bukan main,
bingung kan Akhirnya mulai umur 20 bulanan, aku coba salah satu cara
yang disarankan ibu DI yang pinter-pinter ini. Aku belikan VCD lagu-
lagu anak banyak sekali (beli di sojong, murmer dan kumplit) Setiap
hari bangun tidur langsung setel VCD, malam pulang kantor, setel VCD
sampai tertidur. Lalu dari VCD itu beberapa lagu favorit kita rekam
di kaset, nah kaset itu diputar berulang- ulang, ya di jalan, ya
waktu makan siang pokoknya setiap ada waktu. Hasilnya dalam waktu
tidak terlalu lama, anakku bisa menyanyikan lagu lengkap Misalnya
nina bobo, cicak didinding, naik-naik kepuncak gunung etc sekarang
malahan lagu-lagi yang lumayan susah/panjang dia sudah bisa.
Kesimpulanku sih, dia bukan belum bisa ngomong, tapi memang dia belum
pengen/stimulusnya kurang tepat. Kalau kata-kata, herannya malahan
baru bisa merangkai dua kata spt “mau berenang” (nah ini fasih
banget), “mau mandi” yah pokoknya dua kata saja, aku belum pernah
denger dia ngomong 3 kata.Kalau kosa katanya sih sudah lumayan
banyak, semua benda di rumah dia tahu namanya. Lumayan, aku sudah
agak lega (V)

TANYA:
Ibu, kenapa ya kok banyak anak yang autis dan hiperaktif sudah berapa
temen dan saudara yang anaknya autis dan hiperaktif ini akibat dari
apa ya? Kata temen karena banyaknya mengkonsumsi junk food tapi masa’
iya sih? Kalau ada yang tahu sharing dong, (Nt)

Kalau aku dibilanginnya karena turunan, ada yang karena rubela pas
hamil, ada yang curiga karena MMR.Tapi bisa jadi juga, karena
sekarang sudah banyak informasi tentang autis, jadi baru ketahuan deh
anak autis. Soalnya dulu suamiku tidak dibilang autis, pdhl dari
cerita mertua, curiga banget dia autis karena ciri2nya ada semua.
Dokterku sendiri di tempat yang lama, tidak mau nge-cap pasiennya
autis sebelum 5 tahun, sementara banyak juga kan dokter yang begitu
lihat langsung yakin pasiennya autis. Aku inget dulu selalu di
saranin second opinion, ya ? Biar lebih yakin, Kalau junkfood sih aku
tidak tahu bisa jadi penyebab, cuma fyi, anak autis tidak boleh makan
junkfood and msg, (IE)

Kalau aku sih sudah bukannya second opinion lagi, sampai fourth,
five, sixth opinion. Tidak percaya ahli-ahli disini pakai ahli negeri
seberang juga,, dan hasilnya sama, dengan begini aku (mudah-mudahan)
tidak salah menanganinya. Jadi aku tidak sekedar “ikut-ikutan”
atau “latah” therapy ini dan itu, mana jaman aku 5 thn yang lalu itu
susah cari info karena belum banyak yang tahu. Seperti yang sudah aku
share sebelumnya yang terpenting, cari dulu akar permasalahannya,
kemudian cari ahli yang tepat dan temukan penanganan yang cocok
sesuai saran ahli dan hati nurani masing-masing. (DN)

Perkembangan bicara anak pertamaku bukan main cepetnya kalau tidak
mau dibilang kecepetan. Tapi anak kedua lain sama sekali, sudah 2 th
sekarang tapi belum terlalu lancar bicaranya, kadang yang denger
masih tidak ngerti. Padahal kalau dipikir, dulu anak pertamaku kan
kalau aku ke kantor cuma ditinggal ama BSnya, sementara anak kedua
sekarang lebih banyak temennya, ada kakaknya, BSnya, mbaknya
kakaknya, mamiku, dll, logikanya anak kedua harusnya bisa lebih
lancar berbicara. Tapi kenyataannya lain. Aku sih cuma mikir, yah
anak adalah individu yang unik, selama secara keseluruhan
perkembangannya baik, aku tenang-tenang saja. (SM)

Apa anak ke dua begitu ya??
Anakku memang baru 8,5 bulan. Actually dia sudah mulai ngoceh. Cuma
herannya dia banyak ngoceh pas jam 4 pagi saat dia bangun karena pup.
Atau jam2 Abangnya tidur. Aku perhatiin sih begitu. Mungkin kalau
Abangnya sudah bangun, adiknya merasa kalah suara kali ya?? Soalnya
si Abang anaknya bener2 heboh gitu. Aku sekarang rada2 cemas gitu,
kasian juga lihat Arei tidak banyak omong saat ada Zaldi. Paling dia
cuma senyum2 dan ketawa saja. Padahal aku sudah pancing2 supaya dia
ngoceh. Tapi memang dia lebih banyak silent. Tapi memang dia tetep
aktif ngikutin becandanya Abang. Sampai Embah-Abahnya bilang “ini
anak idep (tidak banyak tingkah)”. Tapi aku kok jadi worry ya? Jadi
kalau jam 4 dia bangun, aku seneng banget, ngocehnya tidak brenti2.
Ada tidak ibu yang pengalaman begini? Atau ada ide gimana supaya si
adik tidak kalah suara sama Abangnya? (S)

Waktu bayi, kakanya pendidam, tidak pernah ngoceh, tp umur 1 th tahu-
tahu saja dia ngomong, jelas dan nyambung. Sementara adiknya, waktu
bayi malah cerewet sekali, ngoceh terus, aku kirain bakalan cepet
ngomong, tahunya… salah aku. (SM)

Kok yang sering aku temui tentang anak ke-2 begitu ya? Ibunya rata2
bilang, anak pertama bicaranya cepet, anak kedua lebih lambat. Apa
kira2 karena terlalu ramai gitu, maka si anak lebih asyik
mendengarkan daripada berlatih bicara ? (R)

Kalau kasus keponakanku karena anak pertama dominan di rumah dan
seringnya sibuk dengan dirinya sendiri/main sendiri dan setiap
adiknya mau ngomong sering dipotong dan ortunya secara tidak sengaja
jadinya lebih sering ngobrol dan dengerin ngomongnya si kakak yang
jelas daripada dengan si adik yang ngomongnya tidak jelas maksudnya,
mungkin itu bikin si adik frustasi ya? Menurut DSA anakku biasanya
anak ke 2 ngomongnya cepet juga karena meniru kakaknya apalagi kalau
kakaknya banyak ngomong kecuali kasus tadi dan kebanyakan anak yang
lambat bicaranya anak laki2 mungkin anak perempuan lebih cerewet kali
ya? (Nt)

Adikku pernah cerita kalau dia ketemu seorang ibu yang lagi terapi
bicara anaknya di Klinik Anakku Bekasi. Menurut ibu ini setelah
konsul beberapa kali dengan psikolog ketahuan anaknya telat bicara
karena terbebani oleh kondisi kakak yang nota bene jadi “benchmark”
si adek. Si adek pengen sekali seperti si Abang kesekolah, punya
teman,main sepeda dst, sementara jarak umur membuatnya tidak bisa dan
frustasi. Solusinya selain terapi si Ibu memberikan fasiltas sama
dengan si Abang spt memasukkan ke PG membelikan sepeda dst. Aku juga
baru tahu kalau hal seperti itu bisa juga membuat si adek mogok
bicara. Aku juga harus waspada nih, dengan perkembangan anak keduaku
(masih 6 bulan) karena si kakak super aktif untuk semua kegiatan
termasuk bicara.(Es)

Anakku yang ke dua (N) juga gitu, sampai sekarang sudah 16 bulan
masih pakai bahasa planet, dia baru bisa bilang ‘mama’ dan ‘udah’.
Lain banget sama N (anak I) yang usia 14 bulan sudah mulai banyak
mengucapkan kata2 walaupun hanya belakangnya saja. Tapi dari bayinya
N memang banyak ngoceh, kebalikannya N tidak suka ngoceh, seingatku
dulu pernah dibilang kalau anak bayi suka ngoceh ngomongnya lama,
tapi kalau diem ngomongnya cepat. Hal ini terbukti untuk kedua
anakku, tapi kalau interaksi dengan kita biasa2 saja, anaknya normal2
saja kan ibu? (YA)

About these ads

4 thoughts on “Anak Terlambat Bicara

  1. Untuk ibu-ibu sekalian, numpang lewat yachh ada yang cowok mau nanya neh, sy pengen minta tolong ibu_ibu sekalian bisa memberikan beberapa petunjuk buat saya, anak sy skrg sdh berumur 2,5 thn dan belum bisa berbicara, terakhir sy konsultasi ke ahli anak, dan hendak sy masukkan ke therapy wicara skrg, yg ingin sy tanyakan bagaimana memberikan semangat ya buat istri saya untuk bisa bener2 merawat anaknya dengan disiplin dan teratur? soalnya sifat istri sy orangnya agak temperamen, baru jaga bentar aja si anak, kdg dah emosian, pdhal sdh sy jelaskan berkali2 jika anak kita mmg ada masalah,hiperaktif dan telat bicara. Perlu diketahui anak kita dititipkan pada mertua saya, karena kita berdua bekerja pada pagi harinya, sy bahkan pernah memikirnkan untuk membiarkan istri sy dirmh saja untuk merawat si kecil, tp sptnya juga percuma, krn istri sy sptnya tdk bisa lama jika merawat si kecil, malah kadang suka emosian. Terkadang sy suka stress sendiri, mengapa istri saya tidak bisa bertindak spt ibu2 lainnya yang dengan sabar merawat anaknya, terkadang kl sy bicarakan ini baik2 dengan istriku, eh malah terakhir jadinya kita yang bertengkar. Bantu dong gimana caranya agar istri saya bisa lebih sabar merawat anak? thx

  2. Pusat Terapi dan Tumbuh Kembang Anak (PTTKA) Rumah Sahabat Yogyakarta melayani deteksi dini anak berkebutuhan khusus dengan psikolog, terapi wicara, sensori integrasi, fisioterapi, behavior terapi, Renang& musik untuk anak berkebutuhan khusus, terapi terpadu untuk autism, ADD, ADHD, home visit terapi & program pendampingan ke sekolah umum. informasi lebih lanjut hubungi 0274 8267882

  3. semua jawaban isinya hanya membuat drop, haduwh sebegitu parahnya orang buat nipu orang supaya mau berobat t4 dia. Lebay kata sule…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s