Perlukah Susu Ibu Menyusui?


sumber :

http://republika.co.id/berita/10217.html
By Republika Contributor
Senin, 27 Oktober 2008 pukul 15:40:00

JAKARTA– Kebutuhan wanita saat hamil hingga masa menyusui sebenarnya sama yaitu asupan gizi berimbang. Selama ibu yang sedang menyusui mampu memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari berupa karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin dan cairan tercukupi maka kondisi sang ibu, kuantitas dan kualitas air susu ibu (ASI) dapat tetap terjaga.

”Hamil, melahirkan dan menyusui merupakan satu paket yang alami. Tidak ada kebutuhan spesifik seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui,” ujar dr Dhely Lesthama A SpOG, dari YPR Hospitalm Jakarta.
Kuantitas ASI sebenarnya sangat dipengaruhi oleh pikiran atau sugesti seorang ibu. “Apabila seorang ibu yakin bahwa air susunya pasti mencukupi kebutuhan bayinya, Insya Allah ASI-nya benar-benar akan cukup,” kata Nia Umar, wakil ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Secara umum kualitas ASI sebenarnya sama. Di dalam ASI terdapat antibodi yang berguna sebagai kekebalan alami bagi tubuh daaan semua kandungan gizi yang diperlukan oleh bayi. “Sehingga ASI merupakan satusatunya makanan terbaik bagi bayi hingga usia 6 bulan,” lanjut Nia.

Menurut Prof Rulina Suradi MD IBCLC, konsultan bidang Neonatalogi dan Laktasi dari Universitas Indonesia, ibu yang selalu makan daging dengan ibu yang selalu makan tempe sama saja kualitas ASI-nya. Perbedaannya hanya terdapat pada jumlah kadar lemaknya.

Bila seorang ibu kekurangan zat tertentu, pemenuhannya boleh dilakukan dari luar. Pada kasus demikian, sang bayi perlu mendapat asupan B12 dari luar.

“Seorang ibu yang vegetarian, misalnya, biasanya akan kekurangan vitamin B12 yang banyak terdapat dalam daging,” ujar Rulina, yang mengajar di Fakultas Kedokteran UI itu.

Bagaimana dengan susu? Menurut Dhely, konsumsi susu yang ditujukan khusus bagi ibu menyusui boleh saja diberikan. Tapi, sifatnya hanya suplemen tambahan. Apabila tidak mengonsumsi itu pun sebenarnya tidak apa-apa.

“Kalau tidak ada pun tidak perlu memaksakan diri harus membeli susu. Yang terpenting tetap makan makanan yang bergizi dan yang juga harus diperhatikan asupan cairan yang masuk dan keluar harus seimbang,” katanya berpesan.

Senada dengan Dhely, Rulina juga mengatakan, ibu yang sedang dalam masa menyusui sebenarnya tidak memerlukan susu. Bahkan, menurutnya, konsumsi susu pada saat ibu menyusui dapat berisiko alergi pada bayi berupa alergi dan menutup antibodi.

Pasalnya, pada bayi yang berusia 0-6 bulan, segala sesuatu yang dikonsumsi langsung diserap oleh tubuh sehingga zat-zat yang dapat merugikan si bayi pun ikut terserap. Lebih dari usia 6 bulan daya serap sel tubuh bayi sudah mulai berkurang.

Hal sama juga disampaikan oleh Nia. Menurutnya, cukup dengananyak memakan sayuran hijau dan selalu yakin memberikan ASI yang dengan kualitas terbaik, maka kualitas ASI akan memberikan segala kebutuhan gizi yang dibutuhkan oleh sang bayi.

“Mengonsumsi daun katuk boleh-boleh saja selama dengan begitu kita yakin ASI kita akan bertambah banyak,” ujar Nia.

Meskipun belum terdapat sebuah studi yang membuktikan khasiat dari daun katuk, namun sayuran yang banyak mengandung vitamin dan mineral itu tetap baik untuk dikonsumsi.

“Silakan saja mengkonsumsi daun katuk. Toh daun katuk merupak sayuran yang kaya serat dan kaya gizi,” ujar Dhely. (ci2/ri)


About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s