Gangguan Otak Penyebab Gangguan Perkembangan


SUMBER : Mother And Baby

Akibat gangguan di bagian otak, berbagai gangguan perkembangan bisa terjadi pada anak, yang dikenal dengan istilah autisme. Di Indonesia sendiri, menurut Yayasan Autisme, tahun 1999 ada sekitar 60.000 anak menderita autisme. Dan anak laki-laki empat kali lipat berisiko terserang dibanding anak perempuan.

Apa Saja Ciri-cirinya?
Autisme adalah gangguan otak yang menyebabkan gangguan perkembangan pada anak. Ciri-ciri serta gejalanya biasanya mulai terlihat pada usia tiga tahun. Umumnya, anak yang mengalami autisme terlihat normal di bulan-bulan pertama kehidupannya. Namun, lama-kelamaan, anak menjadi kurang berrespons kepada orang lain saat diajak berinteraksi. Misalnya tak berrespons saat dipanggil namanya, menghindari kontak mata, dan lebih senang bermain sendiri. Selain itu mereka juga terkadang tak bisa diam, mondar-mandir sendiri tanpa alasan jelas.

Namun, yang terjadi bisa juga kebalikannya, tahan duduk diam di pojok sendirian. Semasa bayi, mereka juga amat sulit dipegang atau dipeluk. Selain itu, anak anak yang menderita autisme biasanya juga mengalami kelambatan dalam kemampuan bicara. Mereka tidak dapat mengucapkan kata-kata atau kalimat dengan baik dan tidak dapat memulai percakapan serta amat senang mengulang-ulang kata-kata yang ia dengar.

Dalam hal tingkah laku muncul pula gangguan, seperti gerakan-gerakan repetitif (pengulangan), misalnya menggerak-gerakkan tangan berulang-ulang atau memukul-mukul pipi. Mereka juga sering membuat semacam ritual, misalnya menjejer-jejerkan gelas atau botol-botol dan merasa amat terganggu jika rutinitas itu diubah. Yang juga mengkhawatirkan adalah jika muncul tindakan menyakiti diri sendiri, seperti kebiasaan menggigit-gigit tangan atau membenturkan kepala ke tembok.

Gejala lainnya adalah gangguan emosi. Mereka bisa menangis atau tertawa sendiri tanpa sebab yang jelas. Pada beberapa anak autis, semua gejala tersebut biasanya bisa teratasi saat mereka dewasa, terutama jika gejalanya tidak terlalu parah. Anak-anak autis ini bisa saja punya kemunduran mental, sehingga mengalami kesulitan belajar. Namun, tidak menutup kemungkinan, sebagian dari mereka punya inteligensi yang normal hingga tinggi.

Apa Penyebabnya?

Terjadinya autisme tidak hanya karena satu faktor dan setiap anak autisme punya penyebab yang berbeda. Yang jelas, beberapa penelitian menemukan kalau sel-sel saraf di beberapa daerah otak terlihat lebih kecil daripada ukuran normalnya. Penelitian lain juga menunjukkan adanya pengaruh polusi udara terhadap tingginya kasus autisme. Kemungkinan terjadinya autisme juga semakin besar jika si ibu menderita rubela atau toksoplasmosis saat hamil.

Bagaimana Penanganannya?

Gangguan autisme sayangnya belum ada penyembuhnya. Namun, dengan pemberian terapi atau penanganan khusus, beberapa gejala yang muncul bisa berkurang. Keberhasilan terapi itu pun amat tergantung pada seberapa parah gejala yang muncul. Yahg jelas, terlepas dari parah atau tidaknya gejala yang ada, penanganan sedini mungkin yang dilakukan secara teratur akan sangat membantu. Paling tidak sekitar 40 jam per minggu diperlukan bagi anak autis untuk mempelajari berbagai keterampilan dan terapi yang dapat membantu mereka untuk kontak dengan dunia luar.

Beberapa terapi yang dilakukan adalah terapi modifikasi tingkah laku, fisioterapi, terapi kemampuan motorik, sensorik, dan aktivitas sehari-hari, terapi bicara dan komunikasi, serta latihan relaksasi dan sensori. Pemberian obat juga perlu dilakukan untuk membantu mereka untuk lebih bisa berkonsentrasi, walaupun hanya diberikan dalam masa tertentu saja.

Terlaksananya semua program tersebut jelas membutuhkan kerjasama antara dokter, psikolog dan terapis profesional. Satu hal yang perlu diketahui orangtua yang anaknya menderita autisme adalah mereka sebaiknya tidak berharap terlalu tinggi seperti halnya pada anak normal. Sebab, dapat mengurus dirinya sendiri serta memahami berbagai konsep sederhana saja
sudah cukup baik bagi anak autis.

Dua pusat terapi berikut ini bisa dijadikan alternatif bagi orangtua yang anaknya menderita autisme dan ingin menjalani terapi: Atira Treatment Centre, Gedung Fuyinto-Sentra Mampang Lt 3, JI. Mampang Prapatan Raya No.28, Jakarta. Selatan, telepon (021 ) 791-91271 atau 79191272; Avanti Treatment Center, Wisma Bayuadji Jl. GandariaTengah III No. 44, Jakarta Selatan, Telepon (021)739-7616. Bimala

Lisa, 37/III/16-22 September 2002

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s