Ada 13 SOP dalam Pelayanan Rumah Sakit


source : http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/ada-13-sop-dalam-pelayanan-rumah-sakit/

Berikut wawancara SH dengan Komisaris Rumah Sakit Krakatau Medika,
Serang, Banten, DR Dr H Tb Rachmat Sentika Sp.A, MARS.
Berkaca dari kasus Prita Mulyasari versus Rumah Sakit Omni Internasional
Alam Sutera, Tangerang, sebenarnya Standar Operasional Prosedur (SOP)
sebuah rumah sakit dalam menangani pasien itu seperti apa?
Sebuah rumah sakit wajib menyusun standard operating procedure.
Setidaknya ada 13 jenis standar yang diperlukan. Di antaranya adalah
untuk pelayanan medis, penunjang medis, keperawatan, sumber daya
manusia, keuangan dan adminitrasi, pelayanan umum, pemasaran, manajemen
infus, QUMR, kebersihan dan keselamatan kerja, perinasia/kamar bayi, dan
penyebaran bahan-bahan berbahaya dari rumah sakit. Jadi rumah sakit yang
tidak punya standar seperti ini tidak bisa keluar surat izin sementaranya.

Penjelasannya seperti apa?
Ada pula untuk pelayanan medis bagaimana penerimaan pasien di UGD,
penerimaan pasien di poliklinik dan unit rawat jalan, bagaimana
menangani pasien di rawat inap. Untuk penunjang medis ada farmasi,
laboratorium, radiologi, instalasi medik. Sementara untuk laboratorium
medis ada beberapa tindakan, cara memilih kreagen, kesesuaian hasil,
ketidaksesuaian hasil bagaimana cara penanganannya.

Apakah pihak rumah sakit sudah memberi tahu pasien tentang hak-haknya?
Ada Undang-Undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, dalam
Pasal 47 dikatakan bahwa setiap pasien berhak untuk menerima informasi
mengenai penyakitnya, hasil pemeriksaan dirinya, dan rencana
pengobatannya. Setiap kejadian ditulis di medical record. Medical record
kepunyaan rumah sakit, tapi isinya kepunyaan pasien. Dan pihak yang
berhak mengetahui hanya dokter dan pasien itu sendiri, bahkan pihak
manajemen rumah sakit tidak boleh mengetahuinya. Selanjutnya, hak-hak
pasien lainnya ialah berhak mendapat informasi dari ahli/dokter lainnya.
Setiap pasien berhak mengemukakan pendapatnya, tetapi dokter tidak boleh.

Tetapi pasien sering tidak tahu hak-haknya?
Rumah sakit yang memiliki penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit
(PKMRS) wajib memberitahukan mengenai hak-hak pasien. Di setiap rumah
sakit pasti ada tulisan mengenai hak-hak pasien. Untuk itu, diperlukan
SOP di setiap rumah sakit, yang setidaknya ada 13 standar itu.

Bagaimana dengan rumah sakit yang tidak memberi tahu hak-hak pasien?
Sekarang yang diperlukan ialah kepercayan pasien dan dokter, begitu pula
sebaliknya. Ketika dia menyerahkan jiwa raganya kepada dokter, memang
terkadang ada dominasi dari pihak rumah sakit yang kadang membuat pasien
menderita. Untuk menghilangkan hal seperti itu, kami di rumah sakit
dilatih bagaimana supaya bukan pasien yang membutuhkan kami, tetapi kami
yang membutuhkan mereka. Kalau falsafah ini diterapkan, maka tidak akan
ada masalah di kemudian hari.

Apakah setiap rumah sakit harus memiliki falsafah seperti itu?
Rumah sakit yang memberikan pelayan prima bukanlah mengatur. Seperti
yang tertulis di UU Praktik Kedokteran, setiap dokter harus menjunjung
tinggi sifat humanitas. Jika tidak memiliki sifat seperti itu, jangan
menjadi dokter. Dan rumah sakit harus menganggap setiap pasien yang
datang untuk berobat adalah mitra rumah sakit, karena secara tidak
langsung pasien akan mengeluarkan uang untuk sembuh, kenapa kami tolak?

Dalam kasus Prita Mulyasari, bagaimana dengan soal rekaman medis itu?
Prita meminta rekaman medisnya dari dokter di gawat darurat (emergency),
padahal dia harusnya meminta rekaman medis pada dokter penyakit dalam
yang memeriksanya. Prita memang tidak diberikan hasil rekaman medis yang
pertama karena hasilnya belum valid.
Hasil pemeriksaan trombosit belum bisa dijadikan alat diagnostik yang
menunjukkan seseorang menderita demam berdarah dengue (DBD). Berdasarkan
WHO, ada enam substansi yang bisa dijadikan alat diagnostik seseorang
terserang DBD, di antaranya adalah panas tubuh 39 derajat Celcius selama
tiga hari berturut-turut, ada rasa nyeri di ulu hati, disertai dengan
bintik-bintik merah dan pendarahan, pembesaran hati dan limpa, ada
pengentalan hemotoklit serta trombosit.
Namun orang selalu mengartikan kalau trobositnya kurang dari normal,
langsung mencap dia terserang DBD. Itu tidak bisa serta merta dijadikan
alat diagnostik. Dalam kasus Prita ini, terjadi kesalahan komunikasi
antara dokter dengan pasiennya.
(heru guntoro /
stevani elisabeth)

About these ads

One thought on “Ada 13 SOP dalam Pelayanan Rumah Sakit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s