Homemade Baby Food

source : The BIG secret: It takes less than 30 minutes per week
By Cheryl Tallman and Joan Ahlers

Making baby food can be healthier for your baby, and offers your baby an introduction to foods rich in variety, flavor, color, taste and smell. All of your friends (and your mother-in-law) will think you are a super parent for making your baby’s food. The big secret — it is super easy and takes less than 30 minutes per week.

A common approach to making baby food is called the “ice cube tray” method. The concept is simple: make large quantities of basic food purees using a standard blender or food processor and freeze it in single servings (1 ounce) in ice cube trays. With this method, you only need to make baby food once, maybe twice, per week. Over time you build up a large variety of single-serving baby food cubes in the freezer.

Here are the four basic steps of making baby food with the ice cube tray method:
Step 1: Prep – Depending on the type of baby food you are preparing, you will need to wash, chop and peel the fruits and vegetables. You should not use detergent or bleach when washing fruits and vegetables because these chemicals can leave a residue that will be absorbed by porous food like produce. If you are using frozen produce, simply open the package.

Step 2: Cook – Cook the food in the microwave or use a stovetop method of steaming. We prefer microwave cooking for several reasons: saves time because foods cook faster; retains more nutrients than other cooking methods; and it is easier clean up. If you prefer the stovetop method of cooking foods, you must use a steamer basket. DO NOT boil food, boiling food reduces nutrient content. Foods must be cooked well. They are done when the can be pierced or mashed easily with a fork.
Step 3: Puree – Pour the food and cooking juices into a food processor or a blender and puree. Food consistency is created during this step. You want your baby to have food that is soft and velvety in texture. You may need to add water to some foods to get the right consistency. Although water will slightly dilute the food’s nutritional value, the difference is not significant enough to worry about.

Step 4: Freeze – Pour the food puree into ice cube trays. Cover and place them in the freezer for eight to 10 hours or overnight. Pop the baby food cubes from the freezer trays. Place the cubes in a freezer storage bags or stackable containers (Label the bag/containers with the date and the type of food), and return them immediately to the freezer. Baby food cubes stay fresh for up to two months.

Sample Recipe: Apple Puree
6 medium golden delicious apples

Step 1: Prep – Wash, peel, core and cut apples into one-inch (3 cm) slices.

Step 2: Cook – Place apples in a microwave safe dish. Cover. Cook 5 minutes and let stand for 5 minutes. Cook an additional 5 minutes. The apples are done when they can be pierced easily with a fork.

Step 3: Puree – Place apples and cooking juices into a blender or a food processor. Puree to a smooth texture.

Step 4: Freeze – Spoon into So Easy Baby Food Trays or ice cube trays. Cover. Place in freezer eight to 10 hours or overnight. Remove cubes from trays, place in storage container or freezer bag, and return immediately to the freezer.

Makes 24 1-ounce servings. Stays fresh for two months in the freezer.
To serve, select frozen apple cubes from the freezer, defrost and warm, check the temperature and feed.

Age to introduce: About 6 months

Serving Homemade Baby Food
Using the ice cube tray method of making baby food makes it is easy to create a large variety of food cubes in your freezer. When it is time for feeding, simply select the food cubes from the freezer, thaw them and feed them to your baby. You may want to warm the food first. Baby food can be served cold, at room temperature or slightly warm. Never serve hot food to your baby, and always check the temperature of food or drinks before feeding them to your baby.

Baby food should have soft, velvety consistency. If you are just starting solids, thinner food is better than thicker food. If you defrost the food and see that it is too thick, you can easily thin it by adding some breast milk or formula. This also adds a little extra nutrition too. If the opposite happens, and the food is too thin, you can easily thicken the food by adding a little baby cereal, mashed banana or plain yogurt.

After your baby has been introduced to a variety of single flavor foods and he is a little older, you can begin making meal time more interesting and introduce your baby to array of tastes, by combining different foods to create medleys.

Here are some examples of foods cubes that taste great together:
• Green peas and sweet potatoes
• Green beans and white potatoes
• Broccoli, cauliflower and melted cheese
• Butternut squash, corn and mashed tofu
• Peaches, pears and rice cereal
• Mango, Papaya and banana
• Raspberries, apples, yogurt and ground walnuts

Kenali Gejala Kurang Gizi

sumber : http://www.jurnalbogor.com

Bogor – Bayi atau balita kurus mungkin sering diidentikkan sebagai gejala kurang makan. Padahal belum tentu begitu, karena bisa jadi anak tersebut mengalami permasalahan yang lebih besar yaitu malnutrisi. Malnutrisi itu sendiri terbagi menjadi tiga yaitu kurang gizi, baik itu ringan, sedang, atau parah. Terlalu banyak gizi atau overnutrition yang ditandai dengan kelebihan berat badan atau obesitas, serta kurang salah satu zat gizi, seperti zat besi, yodium, atau terlalu banyak mengkonsumsi vitamin.
Dokter Umum dari Klinik Tanah Sareal Bogor, dr. Bambang M. Raharja mengatakan, gejala malnutrisi datang secara perlahan bahkan mungkin tanpa disadari. Namun jika semua pihak memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang pemberian nutrisi yang baik untuk kesehatan anak, maka kematian anak akibat malnutrisi dapat dicegah.
”Caranya dengan memperhatikan benar asupan seluruh zat gizi yang dibutuhkan oleh si anak seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, serta mineral. Apabila ada salah satu jenis zat gizi saja berkurang, maka anak pun telah masuk kategori mengalami malnutrisi,” ujar Bambang kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Setelah itu, lanjut Bambang, orangtua harus aktif memonitor pertumbuhan anak-anak mereka dengan membawanya ke pos pelayanan terpadu (posyandu) atau puskesmas untuk diketahui jika ada penurunan status gizi. Selain itu, ada baiknya juga melakukan pendidikan dan pelatihan terkait bagaimana memberikan makanan yang baik bagi bayi. ”Dalam hal ini pemerintah dan seluruh pihak terkait harus mau bekerjasama. Saat ini kan sudah banyak program pemerintah yang bertujuan meminimalis risiko terjadinya malnutrisi,” tegasnya.
Menurut Bambang, gejala dari malnutrisi ini berbeda-beda. Bagi anak-anak yang menderita marasmus atau penyakit kurang energi dan protein, maka pertumbuhannya akan terlambat, anak tampak kurus tinggal kulit pembalut tulang, terlihat tua, kulit keriput, serta perut cekung. Sedangkan kwashiokor, yaitu penyakit kekurangan protein dengan gejala utama pertumbuhan terlambat, tangan, kaki, wajah tampak bengkak, serta pandangan mata agak sayu.
”Tak hanya secara fisik, malnutrisi juga memiliki pengaruh besar pada menurunnya tingkat kecerdasan karena terjadi gangguan pada otak. Berbeda lagi bila anak dengan malnutrisi jenis terlalu banyak gizi, dapat mengganggu perkembangan saraf otak pernapasan, jantung, lambung, sampai bentuk tulang dan otot. Bahkan penyakit-penyakit yang rentan muncul ialah obesitas, jantung, dan diabetes,” katanya.
Setidaknya sebanyak 53 persen kematian anak di negara-negara berkembang disebabkan karena kurang gizi. Sedangkan untuk dunia, kurang gizi bertanggungjawab secara langsung atau pun tidak langsung untuk 60 persen dari 10.9 juta kematian pertahun pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Dari angka kematian anak akibat kurang gizi di dunia, dua per tiga penyebabnya sering diasosiasikan dengan pola makan yang tidak tepat, yang biasa terjadi pada tahun pertama kehidupan anak.
Nasia Freemeta

ANEMIA: GEJALA DAN PENCEGAHANNYA

Sumber : http://youthmessengers.blog.friendster.com

Dalam kondisi normal, butir-butir darah merah mengandung hemoglobin, yaitu sel darah merah yang bertugas membawa oksigen serta nutrisi ke otak dan ke berbagai jaringan dan organ tubuh.
Saat seseorang menderita anemia, maka jumlah sel darah merah secara keseluruhan atau jumlah hemoglobin dalam darah merah berkurang. Kondisi ini berdampak pada penurunan kemampuan sel darah merah membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh kurang mendapat pasokan oksigen, yang menyebabkan tubuh lemas dan cepat lelah.
Penyebab
••Penyebab utama seseorang mengalami anemia, adalah kekurangan zat besi. Kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui beberapa tahapan. Mula-mula, simpanan zat besi dalam tubuh menurun, hingga mengurangi produksi hemoglobin dan sel darah merah secara perlahan.
••Pada anak-anak, anemia terjadi akibat infeksi cacing tambang, malaria, atau pun disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.
Selain kekurangan zat besi, masih ada 2 jenis lagi anemia yang sering terjadi pada anak-anak:
1. Aplastic anemia terjadi bila sel yang memproduksi butir darah merah (pada sumsum tulang belakang) tidak berfungsi baik. Hal ini dapat terjadi karena infeksi virus, radiasi, kemoterapi, atau sebagai dampak dari penggunaan obat tertentu.
2. Haemolytic anemia, yang terjadi ketika sel darah merah hancur secara dini, lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk memperbaruinya. Penyebab haemolytic anemia ini bermacam-macam, bisa bawaan seperti thalasemia sickle cell anemia. Pada kasus lain, seperti misalnya reaksi atas infeksi atau obat-obatan tertentu, sel darah merah dirusak oleh antibodi tubuh.
Gejala Anemia
• Keletihan, mudah lelah bila berolahraga, sulit konsentrasi, atau mudah lupa.
• Warna kulit dan bagian putih kornea mata tampak kekuning-kuningan, dan nyeri tulang.
Pencegahan
Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh dengan cara mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan.
Perlu kita perhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi.

Pertahanan Terbaik Melawan Kanker Payudara

Sumber : http://www.radiopelitakasih.com

Pertahanan terbaik Anda melawan kanker adalah melalui makanan. Semakin cepat Anda mulai mengkonsumsi makanan sehat, semakin kecil kemungkinan Anda terkena kanker payudara. Mengkonsumsi beragam buah dan sayuran serta membatasi asupan lemak jenuh dan alkohol akan membantu mencegah pengembangan tumor. Ubahlah pola makan Anda segera untuk mencegah datangnya penyakit.

1. Konsumsilah buah dan sayuran
Antioksidan yang terdapat pada buah dan sayuran dapat mencegah kanker. Karotenoid (seperti betakaroten pada wortel, ubi dan tomat) terbukti menurunkan risiko kanker sebanyak 30%. Wanita dengan tingkat karoten yang rendah dalam darahnya lebih mudah terkena kanker payudara. Sementara itu, phytochemical seperti quercetin (pada bawang dan apel) dan resveratrol (pada anggur) akan menghalangi pertumbuhan enzim penyebab kanker.

2. Dapatkan protein kedelai dari makanan
Kacang kedelai mengandung zat bernama isoflavon yang dapat mengurangi produksi estrogen dan mencegah pertumbuhan kanker. Namun, terlalu banyak mengkonsumsi protein kedelai dalam bentuk pil atau suplemen lainnya justru akan meningkatkan risiko kanker payudara. Tidak demikian halnya dengan makanan dari kedelai (tahu, tempe, dan susu). Mengkonsumsi kedelai beberapa kali seminggu akan membantu mengurangi asupan lemak jenuh.

3. Kurangi lemak
Mengurangi asupan lemak dapat mengurangi risiko segala penyakit. Namun, mengkonsumsi lemak sehat akan memberi perlindungan ekstra. Asam lemak omega 3 yang dapat ditemukan pada ikan salmon atau makarel membuktikan dapat melambatkan pertumbuhan tumor. Pilihlah lemak tak jenuh tunggal (avokad, buah dan minyak zaitun, kacang dan biji-bijian).

4. Hindari alkohol
Dua gelas minuman beralkohol sehari akan meningkatkan risiko kanker sampai 25%. Risiko akan semakin meningkat jika kebutuhan akan asam folik di tubuh tidak terpenuhi. Beberapa gelas minuman beralkohol dalam seminggu akan meningkatkan risiko kanker payudara. Jika minum minuman beralkohol, konsumsilah kacang-kacangan dan jeruk yang banyak mengandung asam folik.

Tips Melawan Rambut Rontok

Sumber : http://www.radiopelitakasih.com

Rambut sehat tidak selalu didapatkan dengan perawatan mahal di salon. Penelitian kesehatan menujukkan rambut sehat dan bersinar sangat tergantung dari lancarnya sirkulasi darah dan asupan gizi. Kondisi kesehatan rambut juga berhubungan dengan keadaan kelenjar tiroid, liver dan tingkat stres. Jadi, jika Anda ingin memiliki rambut indah perhatikan juga asupan gizi.

Kontrol asupan makanan Anda. Banyak konsumsi banyak sayur dan buah-buahan segar, serta kurangi konsumsi makanan cepat saji. Ingatlah kalau asupan gizi tidak hanya berdampak positif pada kesehatan tubuh tetapi juga membuat rambut dan kulit kelapa menjadi lebih sehat. Mengonsumsi sayur dan buah segar juga sangat efektif membuat rambut lebih sehat dan bersinar.

Konsumsi juga makanan yang mengandung sulphur seperti bawang merah, bawang putih, sayuran hijau dan telur. Sulphur, seringkali disebut “mineral kecantikan”. Sulphur ini banyak ditemukan di rambut, kulit dan kuku yang sehat, fungsinya untuk meningkatkan sirkulasi darah.

Beberapa teori sulphur bisa memicu pertumbuhan rambut meskipun sudah dalam keadaan botak. Makanan yang mengandung banyak iodin dan kalsium, juga bisa merangsang pertumbuhan rambut baru. Jadi, saat rambut Anda sedang banyak rontok, konsumsilah susu dan produk olahannya, seperti keju dan yogurt.

Mengurangi konsumsi kopi dan makanan manis juga bisa membuat rambut Anda lebih sehat. Ganti kopi dengan jus segar atau air mineral. Kekurangan air bisa membuat rambut terlihat kusam dan bisa memicu degradasi sel.

Menyoal Bahaya Pakai Sandal Jepit

Sumber : http://www.radiopelitakasih.com

Banyak orang yang suka mengenakan sandal jepit karena sangat nyaman. Modelnya yang sederhana dan tersedia dengan berbagai warna serta hiasan membuat para wanita sering menggunakannya saat bersantai.

Di balik rasa nyaman menggunakan sandal jepit, ternyata kenyamanan itu menyimpan bahaya. Tim peneliti dari Auburn University, Alabama, Amerika Serikat mengungkapkan sering menggunakan sandal jepit akan berdampak negatif pada kesehatan kaki. Hal itu diketahui dengan meneliti gerakan kaki 390 orang yang sering menggunakan sandal jepit.
Dari rekaman gerakan kaki responden, terlihat perubahan drastis dalam cara berjalannya. Langkahnya menjadi lebih pendek dan terlihat lekukan di bagian pergelangan kaki. Hal itu menunjukkan kalau otot kaki tidak normal dan juga akan berpengaruh pada otot pinggul.

Dengan menggunakan sandal jepit, ibu jari dapat tertekan, yang akan berefek negatif pada jaringan otot kaki. Pembengkakan, nyeri, dan ngilu adalah beberapa efek yang ditimbulkan jika seseorang sering menggunakan sandal jepit. Meskipun sandal jepit nyaman dan membuat kaki mendapatkan cukup udara tetapi sebaiknya Anda jangan terlalu sering menggunakannya.
Peneliti menyarankan untuk menggunakan sandal jepit yang yang memiliki tali penyangga di bagian pergelangannya. Tali tersebut bisa menyangga otot kaki Anda dan mencegah terjadinya cedera.

Konsumsi Susu berlebihan penyebab anemia pada anak

SUMBER : beginnewlife.blogspot.com

Susu, sejak dulu dipandang sebagai salah satu makanan pokok bagi bayi dan anak-anak untuk menyerap gizi, namun seorang ahli memperingatkan, bahwa kelewat batas mengonsumsi susu bukan saja tidak baik terhadap pertumbuhan kesehatan anak-anak, sebaliknya dapat mengakibatkan anemia.
Menurut rekomendasi ahli gizi anak-anak, ketua dokter dari pusat kesehatan wanita dan anak-anak Kota Tianjin, dr. Liu Rong Nian, dalam pengobatan klinik ditemukan, sejumlah besar bayi dan anak-anak karena terlalu bergantung pada susu mengakibatkan kekurangan zat besi dalam tubuh dan kekurangan vitamin.
Zat besi adalah unsur dasar menghasilkan darah, dan vitamin tertentu adalah zat yang mendorong penyerapan zat besi, jika zat besi tidak cukup dapat mengakibatkan tubuh anak-anak menjadi lemah, mudah mengantuk dan lelah, terjadi anemia kekurangan zat besi. Namun, jumlah kandungan zat besi pada susu agak kurang, lagi pula terhadap penyerapan zat besi dalam susu prosentasenya hanya 10%. Saat ini di China kurang lebih ada 1/3 bayi dan anak-anak menderita kekurangan zat besi atau anemia.
Ketika bayi baru lahir dapat memperoleh jumlah zat besi yang cukup dari tubuh sang ibu, dalam proses menyusui, rasio penyerapan zat besi dalam kandungan susu ibu dapat mencapai 50%, namun setelah genap 6 bulan, maka perlu penambahan zat besi melalui makanan. Saat ini cara utama sebagian besar bayi mencukupi gizinya adalah minum susu. Susu, meskipun kaya akan gizi, namun jumlah kandungan zat besi rendah, susu yang dijual di pasar atau supermarket, dalam 1.000 cc mengandung 0,5-2 mg zat besi, sedangkan bayi yang berusia 1 tahun setiap hari harus menyerap kurang lebih 6 mg zat besi dari makanan. Lagi pula zat besi dalam susu mudah mendapat pengaruh fosfor dan kalsium tinggi dalam susu membentuk kandungan zat besi senyawa yang tidak melarut, tidak dapat diserap tubuh dan dimanfaatkan. Selain itu, kandungan Vitamin C dalam susu yang dapat meningkatkan rasio penggunaan dan penyerapan zat besi agak sedikit, lagi pula saat ini sebagian besar keluarga menggunakan perkakas dari metal untuk merebus susu, mudah menyebabkan Vitamin C dalam susu teroksidasi. Dan selain itu, masa bayi dan kanak-kanak asam lambung memang kurang, untuk penyerapan Vitamin C tidak baik, dengan demikian bisa menurunkan lagi rasio penyerapan zat besi dalam susu.
Dokter Liu Rongnian menganjurkan, di bawah kondisi ibunya tidak dapat menyusui bayi atau setelah bayi tidak menyusui lagi, seyogianya secara layak memberi tambahan makanan pelengkap, serta keanekaragaman makanan. Setelah usia 4-5 bulan, seyogianya secara berangsur-angsur ditambah dengan kuning telur, daging, sayur mayur hijau, buah-buahan serta makanan yang kandungan zat besi tinggi dan makanan yang kaya vitamin, melalui makanan mencukupi zat besi.