Homemade Baby Food

source : The BIG secret: It takes less than 30 minutes per week
By Cheryl Tallman and Joan Ahlers

Making baby food can be healthier for your baby, and offers your baby an introduction to foods rich in variety, flavor, color, taste and smell. All of your friends (and your mother-in-law) will think you are a super parent for making your baby’s food. The big secret — it is super easy and takes less than 30 minutes per week.

A common approach to making baby food is called the “ice cube tray” method. The concept is simple: make large quantities of basic food purees using a standard blender or food processor and freeze it in single servings (1 ounce) in ice cube trays. With this method, you only need to make baby food once, maybe twice, per week. Over time you build up a large variety of single-serving baby food cubes in the freezer.

Here are the four basic steps of making baby food with the ice cube tray method:
Step 1: Prep – Depending on the type of baby food you are preparing, you will need to wash, chop and peel the fruits and vegetables. You should not use detergent or bleach when washing fruits and vegetables because these chemicals can leave a residue that will be absorbed by porous food like produce. If you are using frozen produce, simply open the package.

Step 2: Cook – Cook the food in the microwave or use a stovetop method of steaming. We prefer microwave cooking for several reasons: saves time because foods cook faster; retains more nutrients than other cooking methods; and it is easier clean up. If you prefer the stovetop method of cooking foods, you must use a steamer basket. DO NOT boil food, boiling food reduces nutrient content. Foods must be cooked well. They are done when the can be pierced or mashed easily with a fork.
Step 3: Puree – Pour the food and cooking juices into a food processor or a blender and puree. Food consistency is created during this step. You want your baby to have food that is soft and velvety in texture. You may need to add water to some foods to get the right consistency. Although water will slightly dilute the food’s nutritional value, the difference is not significant enough to worry about.

Step 4: Freeze – Pour the food puree into ice cube trays. Cover and place them in the freezer for eight to 10 hours or overnight. Pop the baby food cubes from the freezer trays. Place the cubes in a freezer storage bags or stackable containers (Label the bag/containers with the date and the type of food), and return them immediately to the freezer. Baby food cubes stay fresh for up to two months.

Sample Recipe: Apple Puree
6 medium golden delicious apples

Step 1: Prep – Wash, peel, core and cut apples into one-inch (3 cm) slices.

Step 2: Cook – Place apples in a microwave safe dish. Cover. Cook 5 minutes and let stand for 5 minutes. Cook an additional 5 minutes. The apples are done when they can be pierced easily with a fork.

Step 3: Puree – Place apples and cooking juices into a blender or a food processor. Puree to a smooth texture.

Step 4: Freeze – Spoon into So Easy Baby Food Trays or ice cube trays. Cover. Place in freezer eight to 10 hours or overnight. Remove cubes from trays, place in storage container or freezer bag, and return immediately to the freezer.

Makes 24 1-ounce servings. Stays fresh for two months in the freezer.
To serve, select frozen apple cubes from the freezer, defrost and warm, check the temperature and feed.

Age to introduce: About 6 months

Serving Homemade Baby Food
Using the ice cube tray method of making baby food makes it is easy to create a large variety of food cubes in your freezer. When it is time for feeding, simply select the food cubes from the freezer, thaw them and feed them to your baby. You may want to warm the food first. Baby food can be served cold, at room temperature or slightly warm. Never serve hot food to your baby, and always check the temperature of food or drinks before feeding them to your baby.

Baby food should have soft, velvety consistency. If you are just starting solids, thinner food is better than thicker food. If you defrost the food and see that it is too thick, you can easily thin it by adding some breast milk or formula. This also adds a little extra nutrition too. If the opposite happens, and the food is too thin, you can easily thicken the food by adding a little baby cereal, mashed banana or plain yogurt.

After your baby has been introduced to a variety of single flavor foods and he is a little older, you can begin making meal time more interesting and introduce your baby to array of tastes, by combining different foods to create medleys.

Here are some examples of foods cubes that taste great together:
• Green peas and sweet potatoes
• Green beans and white potatoes
• Broccoli, cauliflower and melted cheese
• Butternut squash, corn and mashed tofu
• Peaches, pears and rice cereal
• Mango, Papaya and banana
• Raspberries, apples, yogurt and ground walnuts

Kenali Gejala Kurang Gizi

sumber : http://www.jurnalbogor.com

Bogor – Bayi atau balita kurus mungkin sering diidentikkan sebagai gejala kurang makan. Padahal belum tentu begitu, karena bisa jadi anak tersebut mengalami permasalahan yang lebih besar yaitu malnutrisi. Malnutrisi itu sendiri terbagi menjadi tiga yaitu kurang gizi, baik itu ringan, sedang, atau parah. Terlalu banyak gizi atau overnutrition yang ditandai dengan kelebihan berat badan atau obesitas, serta kurang salah satu zat gizi, seperti zat besi, yodium, atau terlalu banyak mengkonsumsi vitamin.
Dokter Umum dari Klinik Tanah Sareal Bogor, dr. Bambang M. Raharja mengatakan, gejala malnutrisi datang secara perlahan bahkan mungkin tanpa disadari. Namun jika semua pihak memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang pemberian nutrisi yang baik untuk kesehatan anak, maka kematian anak akibat malnutrisi dapat dicegah.
”Caranya dengan memperhatikan benar asupan seluruh zat gizi yang dibutuhkan oleh si anak seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, serta mineral. Apabila ada salah satu jenis zat gizi saja berkurang, maka anak pun telah masuk kategori mengalami malnutrisi,” ujar Bambang kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Setelah itu, lanjut Bambang, orangtua harus aktif memonitor pertumbuhan anak-anak mereka dengan membawanya ke pos pelayanan terpadu (posyandu) atau puskesmas untuk diketahui jika ada penurunan status gizi. Selain itu, ada baiknya juga melakukan pendidikan dan pelatihan terkait bagaimana memberikan makanan yang baik bagi bayi. ”Dalam hal ini pemerintah dan seluruh pihak terkait harus mau bekerjasama. Saat ini kan sudah banyak program pemerintah yang bertujuan meminimalis risiko terjadinya malnutrisi,” tegasnya.
Menurut Bambang, gejala dari malnutrisi ini berbeda-beda. Bagi anak-anak yang menderita marasmus atau penyakit kurang energi dan protein, maka pertumbuhannya akan terlambat, anak tampak kurus tinggal kulit pembalut tulang, terlihat tua, kulit keriput, serta perut cekung. Sedangkan kwashiokor, yaitu penyakit kekurangan protein dengan gejala utama pertumbuhan terlambat, tangan, kaki, wajah tampak bengkak, serta pandangan mata agak sayu.
”Tak hanya secara fisik, malnutrisi juga memiliki pengaruh besar pada menurunnya tingkat kecerdasan karena terjadi gangguan pada otak. Berbeda lagi bila anak dengan malnutrisi jenis terlalu banyak gizi, dapat mengganggu perkembangan saraf otak pernapasan, jantung, lambung, sampai bentuk tulang dan otot. Bahkan penyakit-penyakit yang rentan muncul ialah obesitas, jantung, dan diabetes,” katanya.
Setidaknya sebanyak 53 persen kematian anak di negara-negara berkembang disebabkan karena kurang gizi. Sedangkan untuk dunia, kurang gizi bertanggungjawab secara langsung atau pun tidak langsung untuk 60 persen dari 10.9 juta kematian pertahun pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Dari angka kematian anak akibat kurang gizi di dunia, dua per tiga penyebabnya sering diasosiasikan dengan pola makan yang tidak tepat, yang biasa terjadi pada tahun pertama kehidupan anak.
Nasia Freemeta

ANEMIA: GEJALA DAN PENCEGAHANNYA

Sumber : http://youthmessengers.blog.friendster.com

Dalam kondisi normal, butir-butir darah merah mengandung hemoglobin, yaitu sel darah merah yang bertugas membawa oksigen serta nutrisi ke otak dan ke berbagai jaringan dan organ tubuh.
Saat seseorang menderita anemia, maka jumlah sel darah merah secara keseluruhan atau jumlah hemoglobin dalam darah merah berkurang. Kondisi ini berdampak pada penurunan kemampuan sel darah merah membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh kurang mendapat pasokan oksigen, yang menyebabkan tubuh lemas dan cepat lelah.
Penyebab
••Penyebab utama seseorang mengalami anemia, adalah kekurangan zat besi. Kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui beberapa tahapan. Mula-mula, simpanan zat besi dalam tubuh menurun, hingga mengurangi produksi hemoglobin dan sel darah merah secara perlahan.
••Pada anak-anak, anemia terjadi akibat infeksi cacing tambang, malaria, atau pun disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.
Selain kekurangan zat besi, masih ada 2 jenis lagi anemia yang sering terjadi pada anak-anak:
1. Aplastic anemia terjadi bila sel yang memproduksi butir darah merah (pada sumsum tulang belakang) tidak berfungsi baik. Hal ini dapat terjadi karena infeksi virus, radiasi, kemoterapi, atau sebagai dampak dari penggunaan obat tertentu.
2. Haemolytic anemia, yang terjadi ketika sel darah merah hancur secara dini, lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk memperbaruinya. Penyebab haemolytic anemia ini bermacam-macam, bisa bawaan seperti thalasemia sickle cell anemia. Pada kasus lain, seperti misalnya reaksi atas infeksi atau obat-obatan tertentu, sel darah merah dirusak oleh antibodi tubuh.
Gejala Anemia
• Keletihan, mudah lelah bila berolahraga, sulit konsentrasi, atau mudah lupa.
• Warna kulit dan bagian putih kornea mata tampak kekuning-kuningan, dan nyeri tulang.
Pencegahan
Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh dengan cara mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan.
Perlu kita perhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi.

Pertahanan Terbaik Melawan Kanker Payudara

Sumber : http://www.radiopelitakasih.com

Pertahanan terbaik Anda melawan kanker adalah melalui makanan. Semakin cepat Anda mulai mengkonsumsi makanan sehat, semakin kecil kemungkinan Anda terkena kanker payudara. Mengkonsumsi beragam buah dan sayuran serta membatasi asupan lemak jenuh dan alkohol akan membantu mencegah pengembangan tumor. Ubahlah pola makan Anda segera untuk mencegah datangnya penyakit.

1. Konsumsilah buah dan sayuran
Antioksidan yang terdapat pada buah dan sayuran dapat mencegah kanker. Karotenoid (seperti betakaroten pada wortel, ubi dan tomat) terbukti menurunkan risiko kanker sebanyak 30%. Wanita dengan tingkat karoten yang rendah dalam darahnya lebih mudah terkena kanker payudara. Sementara itu, phytochemical seperti quercetin (pada bawang dan apel) dan resveratrol (pada anggur) akan menghalangi pertumbuhan enzim penyebab kanker.

2. Dapatkan protein kedelai dari makanan
Kacang kedelai mengandung zat bernama isoflavon yang dapat mengurangi produksi estrogen dan mencegah pertumbuhan kanker. Namun, terlalu banyak mengkonsumsi protein kedelai dalam bentuk pil atau suplemen lainnya justru akan meningkatkan risiko kanker payudara. Tidak demikian halnya dengan makanan dari kedelai (tahu, tempe, dan susu). Mengkonsumsi kedelai beberapa kali seminggu akan membantu mengurangi asupan lemak jenuh.

3. Kurangi lemak
Mengurangi asupan lemak dapat mengurangi risiko segala penyakit. Namun, mengkonsumsi lemak sehat akan memberi perlindungan ekstra. Asam lemak omega 3 yang dapat ditemukan pada ikan salmon atau makarel membuktikan dapat melambatkan pertumbuhan tumor. Pilihlah lemak tak jenuh tunggal (avokad, buah dan minyak zaitun, kacang dan biji-bijian).

4. Hindari alkohol
Dua gelas minuman beralkohol sehari akan meningkatkan risiko kanker sampai 25%. Risiko akan semakin meningkat jika kebutuhan akan asam folik di tubuh tidak terpenuhi. Beberapa gelas minuman beralkohol dalam seminggu akan meningkatkan risiko kanker payudara. Jika minum minuman beralkohol, konsumsilah kacang-kacangan dan jeruk yang banyak mengandung asam folik.

Tips Melawan Rambut Rontok

Sumber : http://www.radiopelitakasih.com

Rambut sehat tidak selalu didapatkan dengan perawatan mahal di salon. Penelitian kesehatan menujukkan rambut sehat dan bersinar sangat tergantung dari lancarnya sirkulasi darah dan asupan gizi. Kondisi kesehatan rambut juga berhubungan dengan keadaan kelenjar tiroid, liver dan tingkat stres. Jadi, jika Anda ingin memiliki rambut indah perhatikan juga asupan gizi.

Kontrol asupan makanan Anda. Banyak konsumsi banyak sayur dan buah-buahan segar, serta kurangi konsumsi makanan cepat saji. Ingatlah kalau asupan gizi tidak hanya berdampak positif pada kesehatan tubuh tetapi juga membuat rambut dan kulit kelapa menjadi lebih sehat. Mengonsumsi sayur dan buah segar juga sangat efektif membuat rambut lebih sehat dan bersinar.

Konsumsi juga makanan yang mengandung sulphur seperti bawang merah, bawang putih, sayuran hijau dan telur. Sulphur, seringkali disebut “mineral kecantikan”. Sulphur ini banyak ditemukan di rambut, kulit dan kuku yang sehat, fungsinya untuk meningkatkan sirkulasi darah.

Beberapa teori sulphur bisa memicu pertumbuhan rambut meskipun sudah dalam keadaan botak. Makanan yang mengandung banyak iodin dan kalsium, juga bisa merangsang pertumbuhan rambut baru. Jadi, saat rambut Anda sedang banyak rontok, konsumsilah susu dan produk olahannya, seperti keju dan yogurt.

Mengurangi konsumsi kopi dan makanan manis juga bisa membuat rambut Anda lebih sehat. Ganti kopi dengan jus segar atau air mineral. Kekurangan air bisa membuat rambut terlihat kusam dan bisa memicu degradasi sel.

Menyoal Bahaya Pakai Sandal Jepit

Sumber : http://www.radiopelitakasih.com

Banyak orang yang suka mengenakan sandal jepit karena sangat nyaman. Modelnya yang sederhana dan tersedia dengan berbagai warna serta hiasan membuat para wanita sering menggunakannya saat bersantai.

Di balik rasa nyaman menggunakan sandal jepit, ternyata kenyamanan itu menyimpan bahaya. Tim peneliti dari Auburn University, Alabama, Amerika Serikat mengungkapkan sering menggunakan sandal jepit akan berdampak negatif pada kesehatan kaki. Hal itu diketahui dengan meneliti gerakan kaki 390 orang yang sering menggunakan sandal jepit.
Dari rekaman gerakan kaki responden, terlihat perubahan drastis dalam cara berjalannya. Langkahnya menjadi lebih pendek dan terlihat lekukan di bagian pergelangan kaki. Hal itu menunjukkan kalau otot kaki tidak normal dan juga akan berpengaruh pada otot pinggul.

Dengan menggunakan sandal jepit, ibu jari dapat tertekan, yang akan berefek negatif pada jaringan otot kaki. Pembengkakan, nyeri, dan ngilu adalah beberapa efek yang ditimbulkan jika seseorang sering menggunakan sandal jepit. Meskipun sandal jepit nyaman dan membuat kaki mendapatkan cukup udara tetapi sebaiknya Anda jangan terlalu sering menggunakannya.
Peneliti menyarankan untuk menggunakan sandal jepit yang yang memiliki tali penyangga di bagian pergelangannya. Tali tersebut bisa menyangga otot kaki Anda dan mencegah terjadinya cedera.

Konsumsi Susu berlebihan penyebab anemia pada anak

SUMBER : beginnewlife.blogspot.com

Susu, sejak dulu dipandang sebagai salah satu makanan pokok bagi bayi dan anak-anak untuk menyerap gizi, namun seorang ahli memperingatkan, bahwa kelewat batas mengonsumsi susu bukan saja tidak baik terhadap pertumbuhan kesehatan anak-anak, sebaliknya dapat mengakibatkan anemia.
Menurut rekomendasi ahli gizi anak-anak, ketua dokter dari pusat kesehatan wanita dan anak-anak Kota Tianjin, dr. Liu Rong Nian, dalam pengobatan klinik ditemukan, sejumlah besar bayi dan anak-anak karena terlalu bergantung pada susu mengakibatkan kekurangan zat besi dalam tubuh dan kekurangan vitamin.
Zat besi adalah unsur dasar menghasilkan darah, dan vitamin tertentu adalah zat yang mendorong penyerapan zat besi, jika zat besi tidak cukup dapat mengakibatkan tubuh anak-anak menjadi lemah, mudah mengantuk dan lelah, terjadi anemia kekurangan zat besi. Namun, jumlah kandungan zat besi pada susu agak kurang, lagi pula terhadap penyerapan zat besi dalam susu prosentasenya hanya 10%. Saat ini di China kurang lebih ada 1/3 bayi dan anak-anak menderita kekurangan zat besi atau anemia.
Ketika bayi baru lahir dapat memperoleh jumlah zat besi yang cukup dari tubuh sang ibu, dalam proses menyusui, rasio penyerapan zat besi dalam kandungan susu ibu dapat mencapai 50%, namun setelah genap 6 bulan, maka perlu penambahan zat besi melalui makanan. Saat ini cara utama sebagian besar bayi mencukupi gizinya adalah minum susu. Susu, meskipun kaya akan gizi, namun jumlah kandungan zat besi rendah, susu yang dijual di pasar atau supermarket, dalam 1.000 cc mengandung 0,5-2 mg zat besi, sedangkan bayi yang berusia 1 tahun setiap hari harus menyerap kurang lebih 6 mg zat besi dari makanan. Lagi pula zat besi dalam susu mudah mendapat pengaruh fosfor dan kalsium tinggi dalam susu membentuk kandungan zat besi senyawa yang tidak melarut, tidak dapat diserap tubuh dan dimanfaatkan. Selain itu, kandungan Vitamin C dalam susu yang dapat meningkatkan rasio penggunaan dan penyerapan zat besi agak sedikit, lagi pula saat ini sebagian besar keluarga menggunakan perkakas dari metal untuk merebus susu, mudah menyebabkan Vitamin C dalam susu teroksidasi. Dan selain itu, masa bayi dan kanak-kanak asam lambung memang kurang, untuk penyerapan Vitamin C tidak baik, dengan demikian bisa menurunkan lagi rasio penyerapan zat besi dalam susu.
Dokter Liu Rongnian menganjurkan, di bawah kondisi ibunya tidak dapat menyusui bayi atau setelah bayi tidak menyusui lagi, seyogianya secara layak memberi tambahan makanan pelengkap, serta keanekaragaman makanan. Setelah usia 4-5 bulan, seyogianya secara berangsur-angsur ditambah dengan kuning telur, daging, sayur mayur hijau, buah-buahan serta makanan yang kandungan zat besi tinggi dan makanan yang kaya vitamin, melalui makanan mencukupi zat besi.

Awas Anemia Defisiensi Besi

Sumber : http://www.jawapos.com

SEMARANG – Waspadai bila perilaku anak sering terlihat mangantuk dan malas belajar. Sebab, bisa jadi perilaku ini merupakan ciri khas seorang anak yang mengalami defisiensi besi.

Dokter Indrayani Ps Msi Med SpPK, spesialis gizi dan laboratorium RS Telogorejo Semarang mengungkapkan hal itu. Menurutnya, survei kesehatan rumah tangga pada 2001 menunjukkan para penderita gangguan ADB (anemia defisiensi besi) sebagian besar adalah anak balita dan usia anak sekolah. “Persentasenya, sebesar 40,5 persen ada anak balita dan 47,3 persen lagi adalah usia anak sekolah,” terang Indrayani dalam seminar “Pengaruh Anemia Defisiensi Besi pada Tumbuh Kembang Anak” kemarin.

Dijelaskan, ADB sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak. Dan usia pertumbuhan merupakan masa terpenting dalam kehidupan seseorang. Pada masa ini pembentukan beberapa bagian organ tubuh terjadi. “Yang jelas ADB bisa berpengaruh pada postur tubuh dan kecerdasan anak,” tuturnya.

Ditambahkan, ADB pada anak usia sekolah menyebabkan perkembangan otak dan otot anak menjadi tidak optimal. Sehingga gangguan itu bisa menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kekurangan zat besi ini biasanya sudah dimulai sejak dalam kandungan. Ibu hamil yang mengalami kekurangan zat besi, maka secara otomatis akan berdampak pada si anaknya.

“Hingga saat ini penyakit anemia defesiensi besi (ADB), khususnya pada anak, masih menjadi persoalan serius dan memberikan andil cukup besar atas rendahnya kualitas SDM,” papar Indrayani.

Dikatakan, zat besi sangat penting dalam peningkatan kualitas SDM. Sebab, zat besi memacu pertumbuhan sel, juga berfungsi sebagai profilerasi dan deferensi sel termasuk sel syaraf, otot dan tulang.

Indrayani mengungkapkan kekurangan zat besi dapat mengganggu perkembangan fungsi kognitif yang akan berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Jika perkembangan otak terganggu maka kecerdasan anak tidak akan tumbuh optimal.

Ciri-ciri yang terlihat pada penderita ADB antara lain balita gemuk tapi empuk (ngglombyor). “Gemuk tapi tidak kencang ini sebagai akibat kurang zat besi yang berpengaruh pada pembentukan sel otot kurang,” ungkapnya.

Selain itu, daya tahan tubuh anak juga berkurang, jantung berdebar, perut sering kembung, mual, kulit dan selaput lendir pucat di kelopak mata, bibir, telapak tangan, lidah halus dan sering sariawan. Penyebab utama ADB adalah kurangnya masukan zat besi dari makanan atau minuman, kehilangan darah, cadangan besi di sumsum tulang habis karena infeksi cacing tambang.

ADB dapat diobati dengan pemenuhan gizi yang cukup pada makanan yaitu daging, hati dan ikan. Buah yang banyak mengandung vitamin C sehingga sangat bagus untuk penyerapan zat besi di usus. Lainnya, yaitu mengubah kebiasaan minum teh dengan susu tinggi kalsium, pengobatan untuk infeksi cacing dan mengkonsumsi suplemen zat besi.

Selain itu, ketika bayi lahir harus diberi ASI (air susu ibu) karena ASI merupakan sumber utama zat besi. Dan baru pada usia 4 bulan, anak dapat diberi suplemen zat besi. (eny/jpnn)

Kekurangan Zat Besi Pengaruhi Anak

Sumber : http://www.kesrepro.info

Air susu ibu merupakan salah satu sumber yang kaya akan zat besi, dimana kekurangan zat besi ini akan mempengaruhi perkembangan anak meski mereka kemudian diberikan sejumlah suplemen pengganti. Pendapat itu disampaikan oleh para ilmuwan dari University of Michigan AS.
Kekurangan zat besi itulah yang dkuatirkan oleh para peneliti pada pertemuan tahunan the US Pediatric Academic Societies.
Anemia merupakan salah satu efek buruk kekurangan zat besi dimana banyak bayi yang lahir disejumlah negara didunia seperempatnya mengalami kekurangan zat besi ini.
Zat besi didapat oleh sang bayi dari sang ibu selama masa kehamilan berlangsung dan ketika lahir zat besi itu diperoleh dari air susu ibu dan sejumlah makanan sereal.
Zat besi juga disebut-sebut sebagai salah satu kunci perkembangan otak pada anak-anak.
Gejala kekurangan zat besi ini bisa terlihat pada fatigo, nafsu kurang, terlambatnya perkkembangan mental dan meningkatnya resiko infeksi.
Para periset dari University of Michigan melakukan kepastian itu setelah melakukanm monitoring atas anak-anak Costa Rica yang terdiagnosa mengalami kekurangan zat besi dan kepada mereka diberikan suplemen zat besi ketika berusia satu atau dua tahun.
Semua 191 anak-anak yang dilibatkan dalam penelitian ini berasal dari keluaraga kelas menengah.
Hasilnya para periset meneliti kemampuan motorik dan pengertian pada anak-anak berusia lima tahun, 11-14 tahun dan 15-17 tahun.
Kepada mereka juga diberikan tes kemampuan IQ dan hasilnya dibandingkan dengan anak-anak yang mengakami kenormalan kandungan zat besi.
Anak-anak yang tidak mengalami kekurangan zat besi akan mendapatkan nilai tinggi dari hasil tes IQ itu.
Latar belakang kehidupan sosial anak tidak terlalu berpengaruh pada tes kemampuan kognitif itu.

Sumber: JAKNEWS.COM-

Anak Pun Terkena Anemia

sumber : http://www.inspiredkidsmagazine.com

Mita Zoe

Jangan sekali-sekali meremehkan kebutuhan zat besi bagi tubuh. Terutama pada masa tumbuh kembang usia 0-7 tahun yang dikenal sebagai usia emas anak. Pada usia tersebut pasokan gizi termasuk zat besi tak bisa ditawar lagi bagi anak. Kekurangan zat besi pada anak dapat menyebabkannya terkena anemia yang bisa mempengaruhi kecerdasan dan kesehatan fisiknya. Akibatnya, anak dapat mengalami keterlambatan tumbuh kembang dan tak dapat memanfaatkan usia emasnya sebaik mungkin.
Dr. Drupadi HS Dillon, Phd, dosen dari Departemen Ilmu gizi FKUI, memaparkan, faktor utama penyebab anemia pada anak karena masalah asupan gizi yang tak seimbang dalam menu keluarga sehari-hari. “Gizi merupakan hal yang sangat berperan dalam mencegah anemia melalui pencapaian keadaan gizi yang baik. Namun sayangnya, masih banyak keluarga Indonesia yang kurang memperhatikan menu harian keluarganya,’’ katanya. Bahkan kata Drupadi, dari hasil penelitian terbaru yang dilakukan timnya menunjukkan terdapat 47 persen siswa Sekolah Dasar di Indonesia yang menderita anemia. ‘’Ini merupakan angka rata-rata nasional di Indonesia,’’ ujarnya.
Pakar kesehatan masyarakat, dr. Adi Sasongko MA, dari Yayasan Kusuma Buana menjelaskan bahwa anemia pada anak akan membawa dampak negatif pada pertumbuhan dan kecerdasannya. ‘’Pengaturan pola makan sehari-hari di dalam menu keluarga menjadi cara penanggulangan paling tepat,’’ katanya. Menurutnya, kecukupan zat gizi dalam makanan, terutama suplemen besi amat penting karena salah satu penyebab terbesar anemia karena kekurangan zat besi, sehingga penyakit ini umumnya disebut dengan Anemia Defisiensi Besi atau Adebe,” jelas Adi.
Menurut Adi, Adebe terjadi akibat adanya penurunan volume sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin di bawah nilai normal yang disebabkan oleh kekurangan zat besi. “ Penyebab utamanya karena kurangnya zat besi dalam asupan gizi sehari-hari. Dan ironisnya ini merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang paling banyak dialami anak-anak, remaja, dan ibu hamil,” paparnya. Dia menjelaskan, zat besi berperan dalam pembentukan sel darah merah, diantaranya dapat mengikat oksigen untuk diberikan ke seluruh tubuh, pada berbagai reaksi biokimiawi tubuh, pembentukan energi, dan enzim.
Terdapat pula beberapa faktor lain penyebab anemia pada anak. Antara lain, Adi menyebutkan, adalah akibat pendarahan, cacingan, gangguan pencernaan, atau diteruskan dari ibunya yang menderita anemia saat hamil. “Pendarahan yang banyak dapat menyebabkan seorang anak menderita anemia, terutama pada anak gadis yang telah haid. Mereka setiap bulannya akan kehilangan darah, dan harus diganti, bila tidak mendapat asupan zat besi yang cukup maka ia akan menderita anemia,” jelasnya.
Bukan penyakit keturunan
Ibu hamil yang menderita anemia akan berisiko meneruskan penyakit tersebut kepada anaknya. “Anemia bukan penyakit genetik yang diturunkan, tapi bisa diteruskan,’’ kata Adi. Contohnya, bila ibu hamil kekurangan zat besi, maka makanan yang masuk ke dalam janin juga akan sama seperti yang dimakan ibunya. Karenanya, anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan bayi yang baru lahir ikut menderita anemia.
Drupadi menjelaskan, anak yang menderita cacingan memiliki potensi besar menderita anemia, terutama bila dia memiliki cacing gelang dan cacing tambang di dalam ususnya. “Cacing gelang akan merebut makanan anak di dalam usus. Sementara itu cacing tambang akan mengerogoti dinding usus besar, sehingga akan menimbulkan pendarahan pada usus. Adanya pendarahan ini membuat hemoglobin darah menurun dan menyebabkan anemia pada anak,’’ terangnya.
Gejala seorang anak menderita anemia dikenal dengan sebutan 5 L. Yaitu, lesu, lemah, lelah, letih, dan lalai. Namun, umumnya gejala ini terabaikan, karena anak maupun orangtua telah menganggap biasa gejala ini, khususnya pada penderita anemia ringan. Menurut Drupadi, anak yang menderita anemia ringan tak hanya cenderung tak bergairah, namun juga cenderung tak peduli pada lingkungan. “Biasanya kecenderungan tersebut tidak cepat terdeteksi. Namun orangtua dapat mengetahuinya dari pengamatan dan perhatian yang baik terhadap pola dan tingkah laku anak. Contohnya dapat dilihat secara fisik, saat pelajaran olahraga, anak yang menderita anemia memiliki kemampuan olahraga terbatas dan tak setangkas anak lain yang tak menderita anemia,” katanya.
Drupadi menjelaskan, anemia memiliki tiga tingkatan, yaitu ringan, sedang dan berat. Tiap tingkatan menunjukkan gejala dan pengaruhnya sendiri. ‘’Banyak orangtua yang baru memeriksakan kesehatan anaknya bila anemianya sudah lanjut atau telah mengalami pendarahan,” ujarnya. Drupadi menyarankan agar orangtua melakukan pemeriksaan kesehatan anak setiap enam bulan sekali atau paling tidak setahun sekali. ‘’Orangtua kurang perhatian terhadap hal ini karena menganggap anaknya tidak sakit. Jadi tak usah diperiksa kesehatannya, apalagi sampai harus melakukan pemeriksaan darah di laboratorium. Padahal selain gejala 5 L, pemeriksaan darah adalah cara klinis mengetahui sejauh mana anak telah menderita anemia,” katanya.
Bukan penyakit darah
Adi menjelaskan, anemia merupakan penyakit kekurangan darah dan berbeda dengan penyakit darah lainnya, seperti hipertensi atau hipotensi. “Bila darah tinggi atau darah rendah itu berhubungan dengan tekanan darah dan tak ada kaitannya dengan anemia. Hanya saja, orang yang menderita darah tinggi bisa terkena anemia dan bisa juga tidak,” katanya.
Adi dan Drupadi mengatakan, anemia berat mungkin saja dapat menyebabkan komplikasi gagal jantung pada anak. “Aliran darah dipompa oleh jantung, bila jumlah sel darah berkurang akibat anemia berat, maka jantung harus bekerja lebih cepat untuk menutupi kekurangan hemoglobin dalam tubuh. Bila kondisi ini terus menerus, maka jantung pun akan lelah dan menjadi lemah jantung, sehingga kemungkinan untuk gagal jantung menjadi besar,” jelas Adi.
Adi menambahkan, dampak dari anemia bukan hanya berujung pada komplikasi berupa gagal jantung saja, namun pada penurunan produktivitas kerja otak dan otot. “Bila anak terserang anemia, maka dia akan mengalami kesulitan belajar dan mengeksplorasi diri secara bebas. Pemberian asupan suplemen besi pada anak dapat membantu proses peredaran darah dan mencegah terjadinya kekurangan hemoglobin pada anak. Tapi jangan lupa tetap mengonsumsi makanan yang bergizi tinggi tentunya,” paparnya. Drupadi menambahkan, suplemen hanya dibutuhkan bila asupan gizi memang tidak bisa mencukupi kebutuhan anak. ‘’Jadi hanya sebagai pelengkap, bukan hal utama,” ujarnya.
Pencegahan merupakan upaya terbaik dan itu dilakukan dengan menyediakan zat besi yang cukup dalam menu sehari-hari. Menurut Adi, beberapa jenis zat besi yang dibutuhkan tubuh, yaitu sayuran hijau seperti bayam, daging, ikan, dan telur. Drupadi menambahkan, beberapa macam zat gizi yang diperlukan pada proses pembentukan sel darah merah, diantaranya protein, vitamin A, E, C, B2, B6, B12 dan asam folat, serta kuprum yang dapat mengubah zat besi yang diserap tubuh. Dia menjelaskan, zat besi berperan dalam pembentukan sel darah merah, diantaranya dapat mengikat oksigen untuk diberikan ke seluruh tubuh, pada berbagai reaksi biokimiawi tubuh, pembentukan energi, dan enzim.

Anemia Hambat Perkembangan Otak

SUMBER : Mother And Baby

Dampak anemia bisa lebih buruk dari yang kita duga. Padahal pencegahannya mudah.

Si kecil sulit konsentrasi? Bisa saja, ia bosan dengan pelajaran di sekolah. Namun problem utamanya mungkin anemia.

Kekurangan zat besi (Fe) dalam tubuh merupakan penyebab utama anemia. Sekitar 50-80% anak mengalami anemia. Dampaknya tak cuma rewel, lesu, atau sulit konsentrasi. Perkembangan otak pun bisa terhambat. Dalam banyak kasus, kekurangan zat gizi lain dalam tahap sub-klinis -yang tidak menghasilkan gejala-gejala tertentu- tidak akan berakibat serius, kecuali dibiarkan terus berkembang. Namun dalam kasus zat besi, kekurangan di tahap ini pun memberi efek nyata terhadap perilaku dan perkembangan anak, bahkan jika tak diiringi gejala-gejala lainnya.

Zat besi salah satu unsur terpenting dalam makanan bayi dan anak, dan terdapat pada makanan yang mengandung mineral atau protein tinggi, terutama pada bahan makanan hewani seperti ikan, unggas, dan daging. Zat besi juga komponen penting dalam hemoglobin dalam sel darah merah, mioglobin (zat warna merah daging), dan proses-proses yang berkaitan dengan pernafasan sel.

Kebutuhan zat besi pada bayi dan anak hanya sekitar 1 mg saja. Namun, kebutuhan ini bisa terganggu karena tidak semua zat besi dalam makanan dapat diserap tubuh. Besi jenis haem pada makanan hewani lebih mudah diserap (10-20%), dibanding besi non-haem pada makanan nabati (1-5%).

Kebutuhan Zat Besi Pada Bayi

Bayi normal yang baru lahir punya cadangan zat besi sebesar 250-300 mg. Namun sebelum beranjak dewasa, jumlah cadangan zat besi yang diperlukannya harus menjadi 4-5 gram, kalau tidak ingin kekurangan zat besi. Pada periode pertumbuhan yang sangat cepat, seperti masa bayi, kebutuhan zat besi menjadi sangat tinggi akibat pertumbuhan jaringan yang cepat.

Menurut Prof. DR. Dr. Solichin Pudjiadi, DSAK., dalam bukunya Ilmu Gizi Klinis pada Anak, ASI maupun susu sapi tidak mengandung cukup zat besi untuk memenuhi kebutuhan bayi tersebut. Namun, bayi yang mendapat ASI tak cepat kekurangan zat besi, karena 48% kadar besi dalam ASI bisa diserap bayi. Bayi yang tak mendapatkan ASI hanya akan mendapat 5-10% zat besi dari bahan makanan lainnya. Jumlah ini tidak mencukupi kebutuhan zat besi dalam tubuh bayi yang tengah berkembang pesat.

Gangguan Otak
Kekurangan zat besi menyebabkan berkurangnya kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah merah, sehingga bayi atau anak akan mengalami anemia zat besi. Di negara-negara berkembang, anemia zat besi sangat sering dijumpai pada anak maupun wanita. Bahkan menjadi salah satu dari 4 penyakit gangguan gizi utama di Indonesia. Diperkirakan, 50-80% anak Asia kekurangan zat besi. Bahkan di negara Barat yang maju, kekurangan zat besi bisa mencapai 20% pada anak dan orang dewasa.

“Bila sel darah merah kekurangan zat besi, kemampuan hemoglobin untuk mengangkut oksigen berkurang, sehingga mengganggu metabolisme tubuh,” jelas Dr. Syarif Rohimi, Sp.A. dari Klinik Anakku, Bekasi. Anemia zat besi menimbulkan dampak merugikan. Meski kadar hemoglobin tubuh belum menurun, kekurangan zat besi bisa mengubah metabolisme sel dan fungsi jaringan dengan menurunnya kadar enzim-enzim yang membutuhkan zat besi untuk aktivitasnya.

Kekurangan zat besi menurunkan jumlah oksigen untuk jaringan otot dan menyebabkan kekurangan tenaga. Zat besi juga diperlukan untuk menghasilkan energi dari makanan, sehingga jika jumlahnya kurang dapat menyebabkan kelelahan dan kurang energi.

Penelitian pada anak usia 6-18 bulan menunjukkan, anemia zat besi pada masa bayi bisa menjadi salah satu sebab gangguan fungsi otak permanen. Kekurangan zat besi pada masa ini harus menjadi perhatian serius karena dapat mempengaruhi kecerdasan dan perkembangan psikomotorik. “Penelitian yang membandingkan anak-anak yang kurang zat besi dengan yang zat besinya normal menunjukkan, ada gangguan nyata pada anak yang kekurangan zat besi,” kata Prof. Geoff Cleghorn, Univesity of Queensland, Australia. Juga ada bukti bahwa gangguan intelektual dan psikomotorik akibat kekurangan zat besi tidak selalu dapat balik kembali meski tingkat zat besinya diperbaiki.

Kekurangan zat besi dapat mengurangi fungsi sistem kekebalan tubuh dan dapat menyebabkan kehilangan nafsu makan. Pada sebagian kasus, anak yang kekurangan zat besi akan makan tanah liat, lempung, atau makanan lain yang aneh (yang dikenal sebagai pica).

Gejala Anemia Besi

Menurut Syarif, tingkat anemia bermacam-macam, dari ringan sampai berat. “Anemia zat besi yang ringan dan sedang biasanya menimbulkan gejala pucat, lesu, lelah, dan pusing. Untuk anak usia sekolah, anak menjadi kurang mampu belajar dan kurang berprestasi.” Sedangkan anemia tingkat berat, akan mengganggu fungsi jantung dan menimbulkan gejala sesak nafas, berdebar-debar, bengkak di kedua kaki, hingga gagal jantung.

Bila gejala anemia berlangsung dalam jangka waktu relatif lama dapat mengakibatkan berbagai gangguan organ dan sistem pada tubuh anak. Misal, gangguan pertumbuhan organ, yang membuat tubuh anak tampak kecil dibanding usianya. Lalu gangguan kulit dan selaput lendir, gangguan sistem pencernaan karena berkurangnya asam lambung sehingga selaput tipis di ususnya jadi kecil-kecil atau tak berkembang (atrofi mukosa lambung), gangguan otot gerak sehingga anak cepat lelah dan lesu, gangguan sistem kekebalan tubuh sehingga anak mudah sakit, dan gangguan jantung, yakni berkurangnya kemampuan jantung untuk memompa darah. Terakhir gangguan fungsi kognitif, antara lain kurang mampu belajar dan kemampuan intelektualnya kurang.

Bahkan, jika defisiensi zat besi berlangsung lama, misal, terjadi sejak usia bayi dan tak dilakukan koreksi sampai anak usia 2 tahun, bisa menyebabkan gangguan mental. “Bila anak sampai mengalami gangguan mental, sifatnya akan menetap atau tak bisa diubah, meski anemianya sudah teratasi,” papar Syarif.

Tiga Tahap

Pada stadium dini atau satu, jelas Syarif, bila anak kekurangan zat besi, maka cadangan zat besi di tubuhnya akan dipakai. Karena cadangan zat besinya dipakai, lama-lama zat besinya habis. Tapi anak belum menunjukkan gejala semisal pucat. Karena masih ada cadangan zat besi dalam darah, yaitu serum iron dan transferin. Inilah yang dipakai. Pada kondisi ini disebut stadium dua. Stadium tiga baru timbul gejala anemia seperti kadar HB-nya turun dan dalam pemeriksaan darah akan timbul gambaran sel darah merah lebih kecil dan pucat daripada yang normal.

Lama berlangsungnya dari stadium satu ke berikutnya tergantung derajat ringan-berat kekurangan zat besinya. Misal, bayi yang lahir prematur dari ibu yang kekurangan zat besi dalam darahnya, relatif berisiko kekurangan zat besi dibanding bayi normal. “Bisa dibilang, bayi ini lebih cepat kekurangan zat besi karena bayi prematur belum mampu menimbun zat besi dalam tubuhnya. Selain itu, ia juga butuh banyak zat besi untuk mengejar kebutuhannya. Belum lagi kalau ada infeksi, misal. Jadi, banyak faktornya.”

Lakukan Pengobatan

Pengobatan anemia tergantung berat-ringannya. Untuk yang ringan, terang Syarif, bisa dilakukan dengan pemberian suplementasi atau preparat besi yaitu sulfas ferosus. Pemberiannya berlangsung sampai kadar hemoglobinnya kembali normal. Namun bila sudah mengganggu seperti anak pucat sekali dan kadar HB-nya turun sampai menimbulkan gangguan jantung, misal, harus dilakukan transfusi darah.

Tentu saja, penyebab kekurangan zat besinya pun harus dicari. Apakah karena pertumbuhan yang cepat, penyakit infeksi, pola makan tak tepat, atau lainnya. Bila sudah diketahui, maka penyebabnya itulah yang diatasi. Misal, akibat penyakit infeksi, maka penyakitnya diobati. Bila karena pola makan, maka pola makannya harus diperbaiki. Bila tak dicari penyebabnya dan anak hanya diberi obat-obatan, tentu anemianya akan kembali berulang.

Sebetulnya, kata Syarif, anemia termasuk penyakit ringan dan disembuhkan. Hanya saja, karena tak dideteksi dini dan tak dikoreksi bisa berdampak besar bagi tumbuh kembang anak. Padahal, sejak bayi lahir, anemia sudah bisa dideteksi. Soalnya, pada hari pertama atau ketiga setelah kelahiran, biasanya dilakukan pemeriksaan darah untuk dilihat kadar hemoglobin, bilirubin, dan golongan darahnya.

“Selain itu, juga bisa diprediksi dengan melihat faktor ibunya, apakah si ibu menderita anemia, kekurangan gizi hingga mempengaruhi pemberian nutrisi pada bayinya, perdarahan waktu persalinan, atau melahirkan anak kurang bulan. Bila demikian tentu anak yang dilahirkan akan berisiko untuk anemia.” Pencegahan anemia sendiri perlu dilakukan secara holistik, dalam arti menyeluruh. Orangtua dan dokter harus memonitor secara rutin tiap bulannya dengan melihat berat badan dan tinggi badan anak, melakukan imunisasi, serta melihat kondisi kesehatan anak secara umum.

5 Penyebab Kekurangan Zat Besi

1. Pertumbuhan anak yang cepat sekali

Pada tahun-tahun pertama kehidupan, pertumbuhan anak terjadi cepat sekali. Normalnya, kenaikan berat badan rata-rata pada usia bayi setiap bulannya adalah 1 kg. Namun, ada juga bayi yang tumbuhnya cepat sekali, misal, usia 3 bulan berat badannya sudah 8 kg.
“Pertumbuhan anak yang cepat sebetulnya baik. Diharapkan tumbuh kembangnya juga bagus. Hanya saja hati-hati, apakah si anak kurang zat besi atau tidak. Jadi, harus dideteksi dan diantisipasi. Sebab, pertumbuhan anak yang terjadi dengan cepat, memerlukan zat besi yang lebih banyak,” jelas Syarif.

2. Pola makan kurang tepat

Misal, bayi usia 7 bulan hanya mengkonsumsi ASI. Padahal, waktu bayi lahir, sumber zat besi yang ada di organ hatinya hanya cukup sampai usia 4-6 bulan. Jadi, setelah usia 6 bulan, bayi harus diberi makanan tambahan yang mengandung cukup zat besi.

Itu sebab, pemberian AS Eksklusif pun cuma 6 bulan. Untuk bayi yang oleh suatu sebab tak mendapat ASI Eksklusif, pemberian makanan tambahan dimulai usia 4 bulan. Selanjutnya bayi harus dikenalkan makanan tambahan semisal bubur susu dan buah-buahan. Lalu bubur nasi yang dilanjutkan nasi tim. Setelah satu tahun, makanannya seperti makanan orang dewasa. Makanan tersebut harus bergizi seimbang, beragam, dan bervariasi.

3. Ada penyakit infeksi

Misal, anak terkena penyakit saluran nafas. “Kuman pada anak yang menderita penyakit infeksi akan menggunakan zat besi di dalam tubuh anak untuk tumbuh dan berkembang biak. Inilah yang menyebabkan anak mudah menderita anemia defisiensi zat besi,” terang Syarif.

Gangguan penyerapan zat besi
Penyerapan zat besi terjadi di usus. Gangguan penyerapan zat besi bisa terjadi lantaran ada penyakit di selaput lendir usus yang lama-lama menimbulkan diare, atau ada zat yang mengganggu penyerapan zat besi. Otomatis hal ini menyebabkan difisiensi zat besi.

Ada perdarahan di saluran cerna
Ini bisa terjadi bila ada penyakit kelainan usus ataupun penyakit infeksi cacing tambang atau parasit lainnya. Biasanya pada daerah tertentu di mana anak bermain kotor-kotor, cacing tambang bisa masuk lewat kakinya dan menyebabkan anak mengeluarkan darah saat buang air besar.

Tak Semua Zat Besi Sama

Meski buat Popeye bayam adalah makanan ajaib, namun sebenarnya zat besi dalam bayam tidak sebaik yang orang kira, karena kebanyakan tidak bisa diserap oleh tubuh. Ada dua jenis zat besi dalam makanan: zat besi haem dan non haem. Zat besi haem ditemukan dalam makanan hewani seperti daging, ikan, telur, dan daging ayam. Zat besi non-haem ditemukan dalam makanan nabati seperti roti, sereal, sayuran, kacang-kacangan, serta suplemen zat besi.

Zat besi haem jauh lebih mudah diserap tubuh, karena penyerapannya 10 kali lipat lebih mudah dibanding zat ebsi dari sumber non-haem. Jadi meskipun makanan seperti bayam dan kacang mempunyai kandungan zat besi yang tinggi, jumlah zat besi yang diserap tubuh jauh lebih rendah dibanding dari daging. Daging warna merah yang rendah lemak merupakan sumber terbaik zat besi.

Mencegah Kekurangan Zat Besi
* Pastikan makanan mengandung cukup zat besi, khususnya zat besi haem. Makanan yang tinggi zat besi haem sebaiknya dikonsumsi sekurangnya 4x seminggu

* Pastikan sereal atau susu formula yang dikonsumsi setelah si kecil mulai makan makanan padat diperkaya zat besi

* Hindari mengkonsumsi makanan yang dapat menghalangi penyerapan zat besi non-haem, misalnya kopi, teh, dan banyak serat

* Tingkatkan penyerapan zat besi non-haem dari bahan pangan nabati dengan menambahkan sejumlah kecil zat besi haem seperti daging, ikan, atau ayam. Ini dapat meningkatkan penyerapan zat besi dari sayuran sebanyak 4x lipat

* Makanan dan minuman yang tinggi vitamin C seperti buah atau jus jeruk dapat meningkatkan penyerapan zat besi non-haem. Minum segelas jus jeruk dengan sereal sarapan pagi atau tambahkan seiris jeruk lemon pada segelas teh

* Kalau si kecil vegetarian, mintalah ahli gizi mengitung status zat besi dari makanannya. Supkementasi zat besi mungkin diperlukan.TG

Sumber: Tabloid Ibu Anak