Keluarga Sehat Keluarga Bahagia

Icon

Dengan memberi asi exclusive sampai 6 bulan dan MPASI home made serta menerapkan Rational Use Of Medicine maka keluarga kita pasti akan menjadi keluarga sehat dan keluarga bahagia

Study links breastfeeding to high grades, college entry

source : Reuters

NEW YORK (Reuters Life!) – Breastfed babies seem more likely to do well at
high school and to go on to attend college than infants raised on a bottle,
according to a new U.S. study.

Professors Joseph Sabia from the American University and Daniel Rees from
the University of Colorado Denver based their research on 126 children from
59 families, comparing siblings who were breastfed as infants to others who
were not.

By comparing siblings, the study was able to account for the influence of a
variety of difficult-to-measure factors such as maternal intelligence and
the quality of the home environment.

The study, published in the Journal of Human Capital, found that an
additional month of breastfeeding was associated with an increase in high
school grade point averages of 0.019 points and an increase in the
probability of college attendance of 0.014.

“The results of our study suggest that the cognitive and health benefits of
breastfeeding may lead to important long-run educational benefits for
children,” Sabia, a professor of public policy who focuses on health
economics, said in a statement.

“But this is just a start. Much work remains to be done to establish a
definitive causal link.”

Sabia said the study, using data from the National Longitudinal Study of
Adolescent Health, was the first to use sibling data in order to examine the
effect of breastfeeding on high school completion and college attendance.

“By focusing on differences between siblings, we can rule out the
possibility that family-level factors such as socioeconomic status are
driving the relationship between having been breastfed and educational
attainment,” said Rees, an economics professor.

(Editing by Belinda Goldsmith)

Filed under: ASI ,

A NEW THREAT TO YOUR HEALTH ANTIBIOTIC RESISTANCE

SUMBER : MILIS SEHAT

by Dr. Purnamawati SpAK MMPed

Antibiotik merupakan salah satu obat terpenting yang pernah diciptakan manusia. Mengapa? Antibiotik membantu kita berperang melawan infeksi kuman/bakteri, oleh karena itu, antibiotik bisa menjadi penyelamat jiwa. Namun dengan berjalannya waktu, keampuhan antibiotik semakin memudar. Apa yang telah terjadi dengan antibiotik? Ternyata, penggunaan antibiotik yang membabi buta menyebabkan antibiotik kehilangan pamornya sebagai obat istimewa”. Saat ini, di seluruh belahan dunia, sebagian besar kuman penyebab infeksi serius sudah resisten (kebal) terhadap antibiotik. Kuman yang resisten ini disebut sebagai “superbugs”. Besarnya permasalahan yang ditimbulkan oleh “superbugs” ini merupakan keprihatinan seluruh dunia.

Pada tahum 1995, berdasarkan penelitian bakteri resisten antibiotik, The American Medical Association (AMA mengeluarkan pernyataan yang keras. “The global increase in resistance to antimicrobial drugs, including the emergence of bacterial strains that are resistant to all available antibacterial agents, has created a public health problem of
potentially crisis proportions”. Bakteri resisten antibiotik memang telah menimbulkan masalah kesehatan yang sangat serius di komunitas. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional bukan hanya “merugikan” individu yang bersangkutan (pasien yang memperoleh terapi antibiotik), melainkan juga merugikan lingkungan sekitarnya. Bila anggota masyarakat di suatu lingkungan mengkonsumsi antibiotik secara berlebihan (tidak rasional) maka lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik.

Tidak sedikit konsumen kesehatan maupun dokter yang masih menganggap bahwa
antibiotik itu “obat dewa” alias “magic savers”. Konsep keliru ini segeralah tanggalkan. Hampir semua kondisi kesehatan diterapi dengan antibiotik termasuk infeksi virus seperti flu. Padahal, antibiotik “impoten” terhadap virus. Celakanya, justru anak-anak sangat sering memperoleh antibiotik. Hal ini sangat memprihatinkan, karena cepat atau
lambat, kita akan “terpental” kembali ke era kegelapan, era pra antibiotik.

SLIDE 2. HISTORICAL PERSPECTIVES
Antibiotik an pertamakali diketemukan secara kebetulan di awal abad 20.
Sejak itu, telah ditemukan berbagai antibiotik baru yang lebih kuat, lebih
canggih. Namun demikian, sejak tahun 1998, praktis tidak ada lagi penemuan
antibiotik baru. Padahal saat ini, para dokter sudah seperti berkejaran di
“treadmill” (berlari – tetapi pada dasarnya jalan di tempat), terus
mencari dan mempergunakan antibiotik yang lebih baru dan lebih kuat.
Padahal, kalau perilaku penggunaan antibiotik tidak berubah menjadi
rasional, dalam waktu singkat antibiotik baru tersebut (kalaupun
ditemukan) juga menjadi “impoten”.

SLIDE 3. BACTERIA AND VIRUS – organisme yang sangat kecil
(mikro-organisme)
Bakteri. Banyak sekali bakteri di dalam tubuh kita. Bahkan, salah satu
kandungan di ASI adalah bakteri. Alam semesta pun penuh dengan bakteri.
Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri – tidak “jahat”, bahkan
menguntungkan. Kita dan tubuh kita justru membutuhkan bakteri ini, mereka
membantu kesehatan kita.
Berdasarkan sifat fisiknya di laboratorium, secara garis besar bakteri
dapat digolongkan sebagai bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif.
Virus. Virus jauh lebih kecil daripada bakteri. Mereka berkembangbiak
dengan mempergunakan sel tubuh kita. Oleh karena itu, diluar tubuh kita,
virus tidak berkembang biak. Virus tidak dapat dibunuh oleh obat,
antibiotik samasekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa
dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita.

SLIDE 4. LIVING WITH BACTERIA
Di dalam tubuh kita ditemukan banyak bakteri terutama di saluran cerna
(mulai dari mulut sampai usus dan anus). Usus kita dipenuhi oleh kurang
lebih 500 jenis bakteri dan berat bakteri di usus orang dewasa normal bisa
mencapai 1.5 kg. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri memegang peran penting
dalam sistem pencernaan kita. Apa gunanya usus kita dipenuhi bakteri?

1. Bakteri mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang
dibutuhkan tubuh
2. Memproduksi vitamin B & vitamin K,
3. Memperbaiki sel dinding usus yang tua dan sudah rusak
4. Merangsang gerak usus (peristaltis) sehingga kitatidak mudah
mengalami konstipasi
5. Menghambat berkembang biaknya bakteri jahat dan secara tidak
langsung, mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat.

Nah, antibiotik yang kita makan, otomatis akan membunuh bakteri “baik”
tersebut.

SLIDE 5. WHAT ARE ANTIBIOTICS?
Antibiotics are compounds isolated from one living organism that kill or
inhibit the growth of other organisms. Antibiotik dibuat dari Molds/jamur;
Bakteri, atau sintetik/semisintetik yang akan membunuh atau menghambat
pertumbuhan bakteri yang menyerang tubuh.
Antibiotik tidak dapat membasmi semua infeksi. Infeksi yang disebabkan
virus (pilek-flu, sebagian besar radang tenggorokan, kebanyakan batuk)
tidak dapat di”basmi” oleh antibiotik.

SLIDE 6. HOW DO I KNOW WHEN I NEED ANTIBIOTICS
When they can and can’t help?

Konsumen harus mengetahui kapan mereka memerlukan antibiotik dan kapan
mereka tidak perlu mengkonsumsi antibiotik. Kesadaran seperti ini akan
sangat membantu dokter karena tidak jarang, justru pasien yang minta
diberi antibiotik. Penelitian menunjukkan, paling tidak, ada tiga kondisi
yang umumnya diterapi dengan antibiotik:

• Demam
• Radang tenggorokan/Sore throat
• Diare

Penggunaan antibiotik yang berlebihan, tidak akan menguntungkan, bahkan
dapat merugikan/membahayakan. Manusia dikaruniai Tuhan anugrah berupa
antibiotik untuk membunuh infeksi bakteri, namun demikian, manusia jugalah
yang merusak karunia tersebut dengan pola penggunaan antibiotik yang tidak
bijaksana. Marilah kita jaga dan lindungi karunia ini. Antibiotics save us
– we have to save antibiotics.

SLIDE 7. THE TROUBLE WITH ANTIBIOTICS
Long-term damage to individual & community

F Pemberian antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan kuman2 yang
tidak terbunuh mengalami perubahan diri (mutasi) menjadi kuman yang tidak
mempan dilawan antibiotik. Kuman ini disebut “superbugs”. Selain itu,
“superbugs” juga sering lolos dari serangan sistem imun tubuh karena
perubahan diri tersebut menyebabkan sistem imun tidak dapat lagi mengenali
si kuman. Superbugs memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat, pasien
harus dirawat di rumah sakit karena antibiotiknya harus diberikan melalui
selang infus. Antibiotik super kuat ini berisiko menimbulkan efek samping
yang lebih berat. Selain itu, dalam waktu cepat, bakterinya juga menjadi
kebal terhadap antibiotik yang superkuat tadi.
F Dampak negatif kedua pemberian antibiotik yang berlebihan dan
tidak bijaksana adalah terbunuhnya “kuman baik” yang ada di dalam tubuh
kita. Tempat yang semula ditempati mereka menjadi vakum dan kekosongan ini
diisi oleh kuman “jahat” atau oleh jamur. Kondisi ini disebut sebagai
“superinfection”.
Antibiotik adalah sumber alam, karunia Tuhan yang harus dipergunakan
dengan bijaksana. Pemberian antibiotik yang berlebihan menyebabkan infeksi
yang semula dapat dibasmi, kini justru semakin subur karena kumannya telah
kebal.

SLIDE 8. WHY OVERUSE OF ANTIBIOTICS IS DANGEROUS?

Bakteri jahat akan menjadi resisten bila ANTIBIOTIK terlalu sering
dipergunakan. Mengapa pemakaian antibiotik yang berlebihan berbahaya?
Karena, yang akan dirugikan bukan saja pasien/individu yang memperoleh
antibiotik – tetapi juga lingkungan sekitarnya (komunitas). Oleh karena
itu antibiotik adalah satu2nya obat komunitas, obat yang berdampak
terhadap lingkungan (ANTIBIOTICS are SOCIETAL MEDICINE).
Dampak negatif individual.
Antibiotik tidak lagi dapat membantu anda saat anda mengkonsumsinya di
kemudian hari.
Dampak negatif komunitas.

Kelompok bakteri yang resisten tersebut selanjutnya juga menginfeksi
seluruh populasi tetapi TIDAK ADA ANTIBIOTIK yang MEMPAN – meskipun
sebagian orangdi populasi tersebut baru pertamakali itu memakai antibiotik
yang bersangkutan

SLIDE 9. QONSEQUENCES OF RESISTANCE
Dr. Richard Novick membuat pernyataan seperti di bawah ini:
Antibiotics are given for everything from headaches to ingrown toenails;
they are swallowed, sucked, injected and smeared; they are painted on
cuts, dumped into wounds; fed to chickens-pigs spread on the floors of
the hospital wards
Memang itulah kenyataan yang terjadi sehari-hari. Kita terlalu BOROS dalam
penggunaan antibiotik yang bisa berdampak buruk sebagai berikut (CDC,
Atlanta):

• Prolonged illnesses, increased risk of death
• Increased cost
• More toxic drugs
• Longer periods in which a person is contagious & able to spread the
resistant bugs to the community

SLIDE 10. Antimicrobial Use and Antimicrobial Resistance in Europe

SLIDE 11. Principles of Appropriate Antimicrobial Use:
The Common Cold – Key Message

SLIDE 12. Antibiotics for The Common Cold. Benefit on Day 5?

SLIDE 13. Appropriate Antimicrobial Use: Sinusitis – Key Message

Sinusitis umumnya terjadi akibat infeksi virus flu atau pilek. Oleh karena
itu, umumnya tidak memerlukan antibiotik. Terapi antibiotik hanya perlu
diberikan bila:

- Sinusitis berkepanjangan lebih dari 10 – 14 hari atau,
- Sinusitis semakin berat (
demam > 39.0 C, bengkak di muka sekitar hidung dan mata/facial swelling,
rasa nyeri di daerah muka/facial pain)

SLIDE 14. Duration of Symptoms in 139 Rhinovirus Colds

SLIDE 15. Antibiotic Treatment of Sinusitis

SLIDE 16. Principles of Appropriate Antimicrobial Use:
Bronchitis – Key Message

Bronkitis adalah ITIS atau radang di saluran napas. Penyebabnya
macam-nacam. Penyebab tersering adalah alergi (Allergic rhinitis, asthma,
environmental exposures), bisa juga karena sinusitis, reflux, reaksi obat,
kelainan bawaan saluran napas, tersedak “benda asing”, pneumonia (virus,
jamur). Mohon diingat – pneumonia belum tentu karena infeksi bakteria jadi
belum tentu perlu antibiotik. Prinsip managemennya sama dengan batuk pada
umumnya.

Anak-anak dengan batuk yang akut atau bronkitis, SELAMA TIDAK MENDERITA
PENYAKIT PARU-PARU KRONIS, UMUMNYA TIDAK MEMERLUKAN ANTIBIOTIK. Antibiotik
HANYA diperlukan bila anak menderita infeksi bakteri seperti pertussis
(batuk rejan/batuk 100 hari) atau infeksi mycoplasma (memberikan gambaran
foto ronsen yang khas).

SLIDE 17. Appropriate Antimicrobial Use: Otitis Media – Key Message

Otitis media adalah itis di telinga (otic) tengah (media), radang telinga
tengah. Penyebabnya umumnya adalah Virus, pasca infeksi hidung atau radang
tenggorokan seperti cold/flu, atau masalah gigi

Serangan atau episode otitis media dapat digolongkan atas:
- Acute otitis media (AOM) atau radang telinga tengah akut
- Otitis media with effusion (OME) atau radang telinga tengah dengan
cairan
Terapi awal OME tidak memerlukan
Antibiotik

SLIDE 18. Appropriate Antimicrobial Use: Otitis Media – Key Message

Pada umumnya, sebagian besar atau mayoritas anak dengan serangan AOM akan
sembuh sendiri (self-limited).
• Pada AOM, terapi antibiotik (5 – 7 hari) dapat dipertimbangkan bila anak
tidak tergolong berisiko tinggi mengalami kegagalan terapi antibiotik.
Risiko kegagalan antibiotik pada AOM sebagai berikut:
– Berusia < 24 bulan
– Sehari-hari, anak ditipkan di tempat penitipan anak (seperti kita
ketahui, karena “kepadatan” suatu TPA, maka anak-anak yang berada di TPA,
berisiko mengalami infeksi berulang terutama pilek dan batuk).
– Dalam 3 bulan terakhir telah mempergunakan antibiotik (disini kita
lihat, bahwa penggunaan antibiotik yang sering justru akan mengurangi
keberhasilan terapi antibiotik)
• Pasca terapi AOM, sudah dapat dipastikan bahwa cairan di ruang telinga
tengah tidak akan langsung menghilang. Kondisi ini disebut sebagai OME
yang menetap (persistent middle ear effusion) dan kondisi ini tidak
berarti bahwa terapi antibiotik harus diulang.

SLIDE 19. Persistent Middle Ear Effusion (MEE) after Treatment of 1st
Episode of AOM (Cairan di ruang telinga tengah yang menetap pasca
pengobatan AOM)

SLIDE 20. Causes of Febrile Exudative Pharyngitis (Penyebab faringitis
atau radang tenggorokan yang disertai dengan demam dan nanah – di
tonsil/amandel
SLIDE 21. Appropriate Antibiotic Use
Berjuta-juta resep ditulis yang mencantumkan antibiotik untuk infeksi
virus. Penelitian menunjukkan bahwa alasan yang dikemukakan para dokter
ada 3 seperti yang sudah dikemukakan di slide 2. yaitu:
• Diagnostic uncertainty
• Time pressure
• Patient demand

SLIDE 22. HOW CAN PEOPLE HELP?

• Jangan sedikit-sedikit meminta dokter untuk memberikan antibiotik.
Jangan mengkonsumsi antibiotik untuk infeksi virus seperti flu/pilek,
batuk, atau radang tenggorokan. Kalau merasa tidak nyaman akibat infeksi
virus tersebut, tanya doikter bagaimana cara meringankan gejala tetapi
bukan dengan antibiotik
• DESINFEKTANT sebaiknya hanya dipergunakan di rumah sakit. Sehari-hari di
rumah, kita tidak perlu mempergunakannya karena kuman di rumah umumnya
adalah kuman baik. Di rumah – “Good water and soap are sufficient”
Desinfektan mungkin hanya diperlukan bila di rumah ada orang sakit yang
daya tahan tubuhnya memang rendah (pasca transplantasi, anak penyakit
kronis yang memperoleh steroid, dan lain-lain).

SLIDE 23. APPROPRIATE TARGETED AGENT
Rule of thumb perihal pemakaian antibiotik yang lebih rasional:
1. Seandainya anak kita membutuhkan antibiotik, pilihlah antibiotik
yang hanya bekerja terhadap bakteri yang dituju. Dalam hal ini, antibiotik
yang narrow spectrum.
2. Untuk infeksi bakteri yang “ringan” (infeksi saluran napas atas
atau infeksi telinga dan infeksi sinus) yang memang perlu antibiotik
(seperti dikemukakan di slide sebelumnya), maka pilihlah yang bekerja
terhadap bakteri Gram positif.
3. Untuk infeksi kuman yang berat, seperti infeksi di bawah daerah
diafragma (infeksi ginjal/saluran kemih, apendisitis, tifus, dll) pilihlah
antibiotik yang membunuh kuman Gram negatif.
4. Hindarkan pemakaian lebih dari satu antibiotik kecuali TBC atau
infeksi berat di rumah sakit.
5. Hindarkan pemakaian salep antibiotik kecuali untuk infeksi mata.

SLIDE 24. Antimicrobial Resistance Among Hospitalized Patients

(Bakteri resisten antibiotik pada pasien rawat inap di rumah sakit)

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh di rumah sakit dan
penyebabnya adalah kuman/bakteri rumah sakit. Bakteri di rumah sakit
umumnya sudah resisten terhadap berbagai antibiotik dan kalaupun masih ada
antibiotik yang bisa membunuhnya, maka antibiotik tersebut adalah
antibiotik yang sangat kuat. Sebagai contoh, anak kita dirawat karena
dehidrasi berat akibat diare. Kebanyakan diare pada bayi disebabkan oleh
virus. Tetapi saat dirawat, anak kita memperoleh infeksi tambahan yaitu
infeksi nosokomial, yang memerlukan antibiotik super canggih.
Pusat penyakit menular di Atlanta (CDC) Amerika Serikat menyatakan bahwa
setiap tahunnya sampai dengan 2 juta pasien mengalami infeksi nosokomial
saat dirawat di rumah sakit. Kondisi ini menyebabkan sejumlah 90,000
kematian.

SLIDE 25. Battle of the Bugs: Fighting antibiotic resistance
Sudah sejak beberapa dekade terakhir ini, dunia kedokteran “mencanangkan”
PERANG TERHADAP BAKTERI RESISTEN ANTIBIOTIK. Caranya? (1) Kurangi
pemakaian antibiotik, jangan mempergunakan antibiotik untuk infeksi virus.
(2) Pergunakan antibiotik hanya bila memang benar-benar diperlukan dan
mulailah dengan antibiotik yang “ringan” atau narrow spectrum. (4)
Kampanye penggunaan antibiotik yang rasional harus semakin dikumandangkan,
termasuk pengaturan pemakaian antibiotik di bidang agrikultur.
Mengapa kita harus “hemat” dalam penggunaan antibiotik?

• Increasing antibiotic resistance threatens success of antibiotic
treatment for common infections
• Antibiotic overuse drives the spread of resistance

SLIDE 26. ANTIBIOTIC MISUSE. Our window of opportunity is closing

• Saat ini, bertambah satu lagi krisis yang dihadapi kehidupan dan
manusianya. Penyakit-penyakit yang semula dapat disembuhkan (TBC,
Gonorrhoea, typhoid/tifus) – saat ini sudah tidak lagi dapat “DITEMBUS” –
akibat kondisi antibiotic resistance.
• Suatu kondisi yang sangat serius – yang diperparah oleh perilaku overuse
of ANTIBIOTICS
• Oleh karena itu, masalah ANTIBIOTIC RESISTANCE bukan masalah dokter dan
ilmuwan saja, MELAINKAN – MERUPAKAN MASALAH KITA BERSAMA. Everybody needs
to help deal with this

SLIDE 27. Lessons Learned
Prescribers (docotrs) and patients are all part of the problem

Dokter dan pasien – SAMA-SAMA “BERSALAH” perihal antibiotic resistance
ini.

SLIDE 28. FINAL MESSAGE.
BE SMART AND CRITICAL CONSUMERS
Drugs are much too serious a thing to be left to the medical profession
and the pharmaceutical industry
Kata-kata di atas ditulis oleh seorang pakar ahli farmakologi klinik (ahli
obat) di Australia. Memang benar, obat dan praktek pemberian obat,
seyogyanya jangan sepenuhnya diserahkan ke tangan seorang dokter dan ahli
farmasi. Sebagai konsumen kesehatan yang “bertanggung jawab”, kita harus
berperan aktif “melindungi diri kita dan keluarga kita” dengan cara,
menggali dan mencari pengetahuan kedokteran serta belajar memahami kondisi
yang kita alami. Dengan berbekal pengetahuan dasar ilmu kesehatan, maka
Insya Allah, kita akan menjadi konsumen kesehatan yang “smart and
critical”.

Filed under: ANTIBIOTIK ,

TV Free Ideas for Your Toddler

Source : parenting.ivillage.com

Not turning on the TV in the early hours of the day may feel next to impossible to the exhausted parent. Here are some suggestions for active pursuits, and while they do take parental energy, they result in more engaged parent/child interactions (and who knows, perhaps, your child will learn to sleep longer if the excitement of the tube is no longer available).
1. Work on age-appropriate puzzles. If you can, you may want to purchase new puzzles for this week.
2. Make a puzzle. Help your child make a puzzle by cutting an old photo, greeting card, or calendar picture into large pieces. Let him or her put the pieces back together on a sheet of paper.
3. Read aloud. Get new books out of the library. Read familiar favorites. Help your child make an indoor fort using a sheet, blanket, or towel. “Build” it over chairs. Let your child read books with a flashlight inside the fort.
4. Read a map. Take a look at any map, and, depending on the type of map, point out major roads, highways, exits, mountains, bridges, bodies of water.
5. Organize photo albums. Put photos into albums. This depends on your child’s age. (If your child is too young you may end up with scattered, chewed on photos — so be careful.)
6. Write letters. Compose letters to friends and family, detailing your week’s past activities. Little children can be encouraged to write or use stickers to help spell out words.
7. Dance to Music. Let your child draw a flag on a piece of paper. Attach a stick to one end, turn on the radio to lively music, and let your child march around the house carrying the flag.
8. Organize closets. Have younger children help you sort and older children can be assigned a particular closet to do by themselves.
9. Play trains, blocks, or arts and crafts. Challenge your imaginations. Here are two quick ideas:
1. Make a bouquet of flowers out of opened-up cupcake liners. Write a message at the center of each flower for someone special. Glue or tape a straw or popsicle stick for a stem. Tie the flowers together with a ribbon.
2. Make a collage by cutting out pictures of healthy foods from magazines and glueing them on construction paper. Then try to eat those healthy foods throughout the day.
10. Plan the night before. Take a few minutes to discuss the routine with your child before bed the night before. For example, “In the morning, we aren’t going to watch TV. When we wake up, we’ll get washed and dressed, eat breakfast and then do x, y or z.”

Filed under: AKTIVITAS ANAK ,

Dapurku..

Jurnalku

Pembaca Terhormat Saya Bukan Dokter

Artikel-artikel ini hanya untuk keperluan saya pribadi dari hasil browsing sana dan sini dan untuk referensi saya sendiri dalam mengasuh anak saya. jangan dijadikan patokan yaaaa

Quote Of The Day

Bayi tidak perlu computer atau mainan bagus-bagus. Yang mereka butuhkan adalah orang dewasa yang mengerti apa yang mereka rasakan dari waktu ke waktu. dan orang dewasa itu adalah kedua orang tuanya

Anda Pengunjung Ke :

Page Rank

Kalendar

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Top Rated

YMku Online Ga Ya?

My Son Birthday

Lilypie

My Honey

Image019

Image017

Image016

Image015

Image013z

Image013

Image012z

More Photos

Isi Buku Tamu ya..