Amankah Mengonsumsi Obat saat Hamil


Chrisdiono M Achadiat

SALAH satu masalah yang sangat menarik dalam dunia kedokteran hingga saat ini ialah mengenai obat apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi pada saat hamil, khususnya ketika hamil muda. Sebagaimana diketahui, masa hamil muda adalah saat mulai terbentuknya pelbagai organ tubuh (sering disebut periode organogenesis). Bahkan, dikatakan bahwa sejak dua minggu setelah implantasi hasil konsepsi, pembentukan dan perkembangan pelbagai organ juga telah berlangsung. Karena itu, masuk akal kalau banyak mitos yang bercampur fakta ilmiah seputar hamil muda ini, mengingat kaitannya yang erat sekali dengan cacat maupun kelainan pada janin.

DI pihak lain, para dokter yang menangani wanita hamil harus menyadari dan memahami mekanisme kerja suatu obat serta dampaknya terhadap janin. Dengan demikian, ia dapat memberikan obat yang benar-benar diyakini aman bagi ibu sekaligus janinnya. Pemberian obat kepada wanita hamil harus dengan pertimbangan yang matang dan ilmiah, mengingat sangat mungkin obat-obat itu melewati sawar ari-ari (placental barrier) lalu memasuki tubuh janin. Biotransformasi (yakni perubahan kimiawi yang kemudian menyebabkan obat itu dapat berkhasiat) dapat terjadi di ari-ari/plasenta, di mana hal tersebut bisa bersifat protektif (menguntungkan), namun bisa pula menghasilkan suatu substrat yang bersifat teratogenik ataupun dismorfogenik (kedua terminologi tersebut digunakan untuk sifat suatu obat/bahan yang “merusak” fetus atau janin).

Dahulu, Teratology adalah suatu terminologi atau kajian tentang malaformasi kongenital (cacat janin/bayi yang secara kasat mata dapat terlihat saat dilahirkan), yang dipicu atau disebabkan oleh suatu bahan/obat yang masuk ke tubuh ibu pada masa pembentukan organ-organ tubuh janin (organogenetic period). Belakangan, hal ini diperluas sehingga dalam pengertian ini termasuk setiap kelainan (morfologi, biokimiawi, perilaku, dan sebagainya) yang terjadi dalam kehidupan janin dalam rahim ketika dilahirkan maupun sesudahnya. Sementara itu, Dysmorphisme menyangkut pengertian yang luas, yakni abnormalitas janin secara fungsional maupun struktural.

Tragedi Thalidomide

Suatu obat untuk mengurangi/menghilangkan mual, muntah, serta kecemasan, yakni Thalidomide, pada tahun 1950-an sampai awal tahun 1960 dinyatakan aman ( bahkan direkomendasikan) untuk diberikan kepada wanita hamil muda. Ternyata obat ini telah secara sembrono dipasarkan, padahal belum pernah diteliti secara cermat dan memadai pada hewan percobaan! Ketika pemberian obat ini kepada wanita hamil muda dikaitkan dengan pelbagai kelainan/cacat (berat hanya berupa suatu “tonjolan” belaka), anomali jantung, dan cacat pada mata, dunia kedokteran menjadi gempar dan dimulailah era baru yang selalu mempertimbangkan keamanan obat terhadap janin dalam rahim.

Konsep lama yang menyatakan bahwa plasenta sanggup dan selalu “menyaring” bahan-bahan yang dapat mempengaruhi janin dalam rahim, berubah total dengan suatu paradigma baru bahwa setiap obat yang diberikan kepada ibu hamil harus secara meyakinkan terbukti aman terhadap janinnya pula. Bukti itu berupa serangkaian penelitian yang akurat, memadai, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan statistik. Sebelum direkomendasikan dapat diberikan kepada ibu hamil, suatu obat harus melalui suatu trial yang adekuat pada hewan percobaan yang paling “mirip” dengan manusia, seperti mencit. Pada tahun 1971, Food and Drug Administration (FDA), yang merupakan Ditjen POM-nya Amerika Serikat, juga mencabut rekomendasi atas obat Diethylstilbestrol (DES), yakni sejenis preparat hormon estrogen sintetik yang sejak tahun 1940 direkomendasikan untuk mengatasi abortus imminens (sering disebut juga abortus mengancam). Dalam kurun waktu tersebut, sekitar 10 juta pasien telah mendapat DES untuk mempertahankan kehamilannya. Dari penelitian retrospektif, terbukti bahwa paparan (exposure) DES pada seorang ibu hamil muda meningkatkan risiko kanker (small cell carcinoma) vagina pada bayi wanita yang sedang dikandungnya, sedangkan pada bayi laki-laki mengakibatkan kelainan pada saluran genital (epidydimis) serta kemandulan.

The Registry for Research on Hormonal Transplacental Carcinogenesis (RRHTC) melaporkan, pada tahun 1987 tercatat 50 persen dari 384 pasien kanker yang terpapar DES sebelum usia kehamilan 12 minggu dan 70 persen sebelum 17 minggu. Dengan demikian, DES sebenarnya menimbulkan risiko rendah terhadap kanker (khususnya pada janin/bayi perempuan), yakni dengan kemungkinan satu dari 1.000 bayi perempuan yang terpapar DES, bahkan banyak kalangan menyebutnya sebagai incomplete carcinogen, namun akibat yang terjadi nyata-nyata sangat baik, yaitu kanker!

Walaupun tragedi DES tidaklah sedahsyat Thalidomide (karena memang penggunaan DES yang lebih terbatas), namun kedua tragedi itu memberikan pemahaman baru tentang obat atau bahan yang dapat diberikan atau direkomendasikan untuk ibu hamil. Pelajaran yang dapat dipetik ialah bahwa setiap waktu harus dilakukan pengkajian dan penelitian terhadap obat yang dapat diberikan kepada ibu hamil, artinya, pada saat sekarang dapat direkomendasikan, tetapi bila suatu obat terbukti memang mengandung risiko yang merugikan, rekomendasi itu dapat direvisi atau dicabut.

Mekanisme cacat janin

Suatu bahan atau obat dapat menimbulkan cacat fungsional atau struktural (pada janin dalam rahim) melalui beberapa mekanisme, yaitu:

1. Efek obat langsung terhadap janin, di mana access obat ke janin ditentukan oleh beberapa faktor seperti jumlah/kadar obat yang melewati sawar ari-ari, struktur biokimiawi (sistem enzimatik) dari plasenta, dan struktur kimiawi dari obat itu sendiri (berat molekul, terionisasi atau tidak, larut dalam lemak atau tidak).

2. Efek obat terhadap fungsi plasenta, di mana fungsi plasenta yang sangat rumit adalah untuk kehidupan dan perkembangan dari janin, atau dengan kata lain, plasenta sebenarnya berfungsi sebagai paru-paru, ginjal, usus, hati, maupun sistem endokrin janin sebelum terbentuknya organ-organ itu secara sempurna. Dengan begitu, suatu obat/bahan yang dapat mengganggu fungsi plasenta tersebut juga mengakibatkan gangguan pada janin.

3. Efek obat terhadap metabolisme atau fungsi tubuh ibu, misalnya terjadinya tekanan darah tinggi pada saat kehamilan.

4. Tahap perkembangan janin dalam rahim, artinya efek obat berbeda terhadap tahap-tahap perkembangan janin. Misalnya, pada kehamilan yang sangat dini (sebelum tahap diferensiasi), sel-sel embrionik bersifat omnipotent (berkembang menjadi pelbagai bentuk organ) dan setiap gangguan pada tahap ini cenderung berefek all or none, artinya terjadi kerusakan sel secara total atau justru tidak ada efek sama sekali karena sifat multipotent dari sel-sel itu.

5. Kerentanan genetik atau genetic susceptibility, di mana masing-masing ras atau suku diketahui memiliki kecenderungan yang berbeda terhadap efek suatu obat. Pada binatang sangat jelas terlihat bahwa kerentanan ini berbeda untuk setiap spesies maupun strain, sehingga diasumsikan manusia juga memiliki kecenderungan yang sama.

6. Metabolisme substrat/obat yang telah dipahami melalui mekanisme yang cukup rumit. Contohnya, suatu substrat enzim yang dikenal sebagai Cytochrome P450 diketahui memegang peranan penting dalam pembentukan serta perkembangan sel-sel maupun organ tubuh janin.

Klasifikasi

Semenjak terjadinya tragedi Thalidomide dan DES tadi, dunia kedokteran menaruh perhatian yang sangat serius terhadap pemberian obat dan bahan-bahan lainnya selama masa kehamilan.

Dalam FDA Drug Bulletin tahun 1980, dipaparkan mengenai seluk beluk obat maupun bahan yang boleh dan tidak boleh diberikan ketika hamil, di mana uraian tersebut sampai saat ini masih dipakai sebagai “rujukan” atau “anutan/acuan” di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia (Williams Obstetrics edisi 21 tahun 2001, halaman 1009). Di situ FDA membuat klasifikasi obat/bahan menurut tingkat bahayanya terhadap janin, yakni:

1. Kategori A, di mana kajian kendali (controlled studies) pada manusia tidak menunjukkan terjadinya risiko terhadap janin. Beberapa jenis vitamin dan multivitamin yang diberikan semasa hamil termasuk dalam kategori ini, tapi “megavitamins” tak termasuk kategori ini.

2. Kategori B, yang juga tidak menunjukkan risiko pada janin, namun belum/tidak ada penelitian yang memadai pada manusia. Atau, efek tak diharapkan dapat diperlihatkn pada binatang percobaan, tetapi belum bisa dibuktikan pada manusia. Beberapa antibiotika seperti penisilin termasuk kategori ini.

3. Kategori C, di mana belum ada penelitian yang adekuat pada manusia maupun binatang percobaan. Atau, telah dijumpai efek merugikan pada binatang, tetapi tidak diperoleh data yang cukup meyakinkan/valid pada manusia. Kebanyakan obat atau bahan lainnya yang sering diminum selama kehamilan sekarang termasuk dalam kategori ini.

4. Kategori D, di mana telah ditemukan bukti-bukti adanya risiko pada janin, namun keuntungan pemberiannya dipandang lebih besar dibandingkan risiko tersebut. Contohnya, Carbamazepine dan Phenytoin (sejenis obat untuk epilepsi) serta beberapa obat antikanker atau kemoterapi.

5. Kategori X, di mana risiko pada janin jauh lebih besar dibandingkan keuntungannya. Dengan kata lain, obat dalam kategori ini tidak boleh diberikan pada kehamilan (istilahnya: kontraindikasi mutlak). Contohnya adalah sejenis obat untuk jerawat yang dikenal sebagai isotretinoin, yang dapat menyebabkan kelainan multipel pada sistem syaraf, wajah, maupun kardiovaskuler. Selengkapnya obat-obat yang termasuk kategori ini beserta keterangannya dapat dilihat pada tabel.

Kecuali yang benar-benar aman dan dibutuhkan dalam kehamilan, maka segala jenis obat sebaiknya dihindari, terutama pada masa pembentukan organ janin (embrio/organogenesis). Penggunaan obat yang tanpa pertimbangan matang selama kehamilan dapat berakhir dengan bencana yang tak terpikirkan sebelumnya, yakni risiko cacat atau menderita kanker pada janin/bayi.

Maka, konsultasi dengan dokter yang merawat selama kehamilan merupakan salah satu langkah bijaksana untuk menjaga dan mengoptimalkan hasil kehamilan tersebut. Di pihak lain, para dokter juga seyogianya memiliki pengetahuan yang memadai dan up to date tentang obat-obatan yang boleh dan tidak boleh diberikan kepada ibu hamil.

Sebab tidak jarang para dokter memberikan atau menganjurkan obat tertentu pada pasien hamil bukanlah berdasarkan pertimbangan ilmiah, melainkan karena sugesti belaka akibat “termakan” iklan/promosi. Bukankah sekarang ini sangat gencar diiklankan pelbagai jenis obat atau suplemen yang konon dapat mencerdaskan janin/bayi jika dikonsumsi ketika ibu hamil? Apakah memang demikian halnya!
Chrisdiono M Achadiat Dokter spesialis kebidanan, tinggal dan bekerja di Kediri, Jawa Timur.
Diambil dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0301/13/iptek/77553.htm

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s