SALAH ANTIBIOTIK MEMBUAT BAYI SERING SAKIT


http://www.tabloid-nakita.com/

Masalahnya, antibiotik bisa menimbulkan resistensi kuman dan mengurangi
imunitas.

“Dok, saya bingung, bayi saya ini, kok, sering sekali bolak-balik berobat
karena penyakit yang sama, flu dan flu dan flu,” kata seorang ayah di
ruang
praktik dokter spesialis anak, yang segera dilanjutkan oleh istrinya,
“Iya, Dok. Padahal bayi saya ini sudah diperlakukan sesuai dengan apa
yang
dokter
sarankan, diberi ASI eksklusif, saya makannya sudah 4 sehat 5 sempurna
yang dimasak matang, kebersihan kamar dan rumah oke, begitu juga dengan
ventilasi udara dan cahaya, sudah sesuai standar kesehatan internasional,
deh.”

Sebelum si dokter sempat menjawab, si ibu kembali berkata, “Oh, ya, Dok,
di rumah saya tidak ada perokok, pendingin udara di kamar dipatok pada
suhu 25 derajat celcius, setiap pagi AC dimatikan dan membuka jendela
lebar-lebar. Juga tak hanya antibiotik, semua obat yang diberikan dokter
selalu
dihabiskan seperti apa kata dokter.”

Sambil menulis resep, si dokter menanggapi, “Bu-Pak, kita semua ini
manusia yang masih sedikit sekali ilmunya. Jadi pertahankan apa yang
telah
disebutkan Bapak dan Ibu tadi. Sekarang kita coba dulu dengan obat yang
ini, mudah-mudahan berhasil.”

“Basi!” Mungkin pernyataan ini yang akan keluar dari mulut si bapak dan
ibu tadi. Mungkin juga kita akan mengucapkan hal yang sama, jika hal
itu-itu
saja yang dikemukakan dokter setiap kali kita mempertanyakan kenapa si
kecil harus sakit saban minggu.

GARA-GARA ANTIBIOTIK

Menurut Prof. Iwan Darmansjah, MD, SpFK., bayi seharusnya ditakuti oleh
penyakit alias jarang sakit. Mengapa? “Karena bayi masih dibentengi
imunitas tinggi yang dibawanya dari dalam kandungan, juga diperoleh dari
air susu ibunya. Jadi, penyakit sehari-hari seperti flu ├║yang ditandai

panas, batuk, pilek-, penyakit virus lain, atau bahkan infeksi kuman,
seharusnya dapat ditolak bayi dengan baik,” papar senior konsultan Pusat
Uji Klinik Obat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (PUKO FKUI) ini.

Karenanya, jika bayi hampir saban minggu atau sebulan bisa dua kali
bahkan
lebih berobat ke dokter, lanjut Iwan, “Tentu akan timbul pertanyaan
besar.
Apakah ada yang salah dari lingkungan, apakah ada yang salah pada
tubuh si
bayi, ataukah dokter yang salah mendiagnosa.”

Iwan berpendapat, jika bayi berobat ke dokter karena flu hanya sesekali
dalam kurun waktu 6-12 bulan, masih terbilang wajar. Tetapi kalau sudah
setiap 2-3 minggu sekali harus pergi berobat ke dokter, maka tak bisa
dikatakan wajar lagi. “Kondisi ini bisa terjadi ├║jika tak ada faktor
penyulit serta sudah menghindari faktor pencetusnya-, kemungkinan besar
karena si bayi selalu mengonsumsi antibiotik yang diresepkan dokter
setiap
dia sakit,” ungkapnya.

Padahal, tidak semua penyakit yang dialami bayi, apalagi flu, harus
diobati dengan antibiotik. Sekalipun antibiotiknya itu dalam dosis,
takaran, atau ukuran yang sudah disesuaikan dengan usia, berat dan tinggi
badan si bayi.

FATAL AKIBATNYA

Penting diketahui, antibiotik baru ampuh dan berkhasiat jika berhadapan
dengan bakteri atau kuman. Antibiotik tak akan mampu membunuh virus juga
parasit. “Nah, kejadian demam karena flu itu, kan, sekitar 90%, bahkan
95%
disebabkan oleh virus. Jadi, salah kaprah sekali jika bayi flu harus minum
antibiotik karena tak akan menyelesaikan masalah, apalagi menyembuhkan
penyakit si bayi,” bilang Iwan.

Kesalahkaprahan pemberian antibiotik ini akan ditebus mahal oleh bayi,
yakni menurunkan imunitas tubuh si bayi. Makanya tak heran jika bayi yang
setiap sakit demam selalu minum antibiotik, tidak akan lebih dari satu
bulan pasti sakit kembali.

Lebih jauh lagi, antibiotik tak memperlihatkan efektivitasnya langsung
terhadap tubuh manusia seperti obat lain, tetapi melalui kemampuannya
untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan kuman. Nah, kalau tidak ada
kuman jahat untuk dibunuh ia justru membunuh kuman yang baik, dan ini
merupakan efek sampingnya. Selain itu antibiotik bisa menimbulkan
resistensi kuman dan mengurangi imunitas anak terhadap virus dan kuman.

Meski resistensi kuman merupakan fenomena yang logis alamiah, tapi
menurut
Iwan, pemakaian antibiotik yang berlebihan dan tidak rasional bisa
mempercepat resistensi kuman pada tubuh pasien.

Reaksi lain yang bisa dilihat karena pemberian antibiotik adalah timbul
demam, reaksi alergi, syok, hingga yang terparah yaitu kematian,
karena si
bayi tak tahan terhadap antibiotik yang dikonsumsinya. “Jangankan bayi,
orang dewasa saja bisa meninggal jika dia tidak tahan antibiotik yang
diminumnya,” tambah Iwan.

PENGGUNAANNYA HARUS TEPAT

Lain ceritanya, lanjut Iwan, jika bayi terkena penyakit yang disebabkan
kuman atau bakteri. Sekalipun tidak wajib, bayi boleh saja menjalani
terapi antibiotik untuk kesembuhannya. “Tentu harus dengan antibiotik
yang
sesuai untuk penyakit yang dideritanya.” Jadi, antibiotik yang diberikan
harus
tepat dengan jenis mikroorganisme penyebab penyakit. Kalau tidak, maka
penyakit tak akan sembuh.

Sebagai contoh, seperti dipaparkan Iwan, untuk mengobati bisul bisa
digunakan Dicloxacillin, Flucloxacillin atau Eritromisin, Spiramisin,
Roxithromisin, dan sejenisnya. Untuk mengobati radang paru-paru dapat
digunakan antibiotik Penicillin G (injection) dan seturunan
Eritromisin di
atas. “Tetapi bayi dan anak tak boleh mengonsumsi antibiotik Moxifloxacin
untuk mengobati radang paru-parunya, kecuali orang dewasa.” Sedangkan
untuk mengobati tifus bisa menggunakan Kloramfenicol atau Ciprofloxacin.
Khusus untuk bayi dan anak, jika tak tahan Kloramfenicol, maka dapat
diberikan Ciprofloxacin.

Selain itu, pemberian antibiotik juga harus tepat dosisnya, tak boleh
lebih ataupun kurang. Untuk ukuran dosis, tiap bayi berbeda-beda,
tergantung seberapa parah penyakitnya, riwayat kesehatannya, hingga berat
dan panjang badan si bayi. Terakhir, harus tepat pula kapan antibiotik
itu
diminumkan
pada si bayi, berapa jam sekali, biasanya sebelum makan, dan boleh
dicampur obat lain atau tidak. Yang perlu diperhatikan, penggunaan
antibiotik tak
melulu dengan cara diminum (per oral), tetapi ada pula yang lewat jalur
injeksi.

Karena itu, jangan sekali-kali memberi antibiotik sendiri tanpa
sepengetahuan dan resep dari dokter. “Ingat itu berbahaya dan percuma,
karena hanya dokter yang tahu antibiotik A adalah untuk mengobati kuman
yang peka terhadap A,” tandas Iwan.

Hal penting lainnya, antibiotik harus dikonsumsi hingga habis supaya
mikroorganisme yang menjadi sasaran antibiotik dapat dimusnahkan secara
tuntas. Bila tak dihabiskan, kemungkinannya mikroorganisme tersebut akan
menjadi kebal terhadap pemberian antibiotik sehingga penyakit tidak sembuh
tuntas.

MENGGANGGU FUNGSI GINJAL

Penggunaan antibiotik yang tak perlu, ujar Dr. rer. nat. Budiawan dari
Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan (PUSKA RKL) Universitas
Indonesia, bisa menyebabkan timbulnya kekebalan mikroorganisme terhadap
antibiotik yang diberikan tersebut. Sehingga, jika timbul penyakit akibat
mikroorganisme yang sudah kebal tersebut, pemberian antibiotik biasa tak
akan mampu menyembuhkan penyakit tersebut sehingga harus dicari antibiotik
yang lebih ampuh.

Selain itu, mengonsumsi antibiotik yang tidak tepat bisa membunuh bakteri
yang justru diperlukan tubuh, dan bisa terjadi gangguan sistem biokimia
dalam tubuh. Efek lainya, bisa mengganggu sistem ekskresi tubuh, “Dalam
hal ini gangguan terhadap fungsi ginjal, mengingat bahan aktif utama
senyawa antibiotik tertentu bersifat nefrotoksik atau racun bagi fungsi
sistem ginjal.”

KENAPA DOKTER “MENGOBRAL” ANTIBIOTIK?

Sekalipun dampaknya sudah jelas merugikan pasien, namun tetap saja masih
banyak dokter meresepkan antibiotik padahal jelas-jelas penyakit yang
diderita si bayi bukan lantaran kuman. Menurut Iwan, hal ini dikarenakan
perasaan tidak secure seorang dokter dalam mengobati pasiennya.

Walau begitu, Iwan tetap tak setuju. “Kalau boleh terus terang, hingga
sekarang saya juga bingung dan tak bisa mengerti, kenapa banyak sekali
dokter yang berbuat sebodoh itu, pada anak-anak lagi,” katanya sambil
menggeleng-gelengkan kepala.

Bohong besar, tambah Iwan, jika dokter mengatakan kepada pasienya,
penyakit flu atau pilek yang dideritanya akan bertambah parah jika tak
diobati
dengan antibiotik. Karena itu, sebagai pasien atau orang tua pasien harus
berani dengan tegas menolak, “No antibiotik, jika penyakit yang kita
derita
bukan karena bakteri.” Penolakan seperti ini adalah hak pasien, lo.

APA, SIH, SEBENARNYA ANTIBIOTIK ITU?
Antibiotik dibuat sebagai obat derivat yang berasal dari makhluk hidup
atau mikroorganisme, yang dapat mencegah pertumbuhan atau membunuh
mikroorganisme lain. “Antibiotik diperoleh dari hasil isolasi senyawa
kimia tertentu yang berasal dari mikroorganisme seperti jamur,
actinomycetes, bakteri. Hasil isolasi tersebut dikembangkan secara
sintetik kimia dalam skala industri,” kata Budi.

Akan tetapi, tidak semua makhluk hidup dapat dijadikan antibiotik, karena
antibiotik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Harus efektif pada konsentrasi rendah.

2. Harus dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh satu atau lebih jenis
mikroorganisme.

3. Tidak boleh memiliki efek samping bersifat toksik yang signifikan.

4. Harus efektif melawan patogen.

5. Harus dapat disimpan dalam jangka waktu lama tanpa kehilangan
aktivitasnya.

6. Harus dapat dieliminasi dari tubuh secara sempurna setelah pemberian
dihentikan.

7. Harus bersifat sangat stabil agar dapat diisolasi dan diproses dalam
dosis yang sesuai, sehingga segera dapat diserap tubuh.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s