Buy Nothing Day

Irit Duit di Buy Nothing Day
Nurvita Indarini – detikcom

Jakarta – Berapa kali Anda belanja dalam sebulan? Berapa banyak uang yang Anda habiskan untuk belanja? Apakah belanjaan Anda benar-benar barang yang dibutuhkan?

Belanja adalah aktivitas yang kerap membutuhkan uang banyak. Tak jarang, kantong pun terkuras habis. Belanja diidentikkan sebagian kalangan sebagai pola hidup konsumerisme. Kegiatan ini bahkan menjadi hobi beberapa orang.

Tahukah Anda Buy Nothing Day alias hari tanpa belanja? Buy Nothing Day bukan istilah baru. Namun belum banyak orang yang tahu dan berniat menjalani hari tanpa belanja ini.

Di berbagai belahan bumi, hari tanpa belanja tidak dirayakan seragam. Di Amerika Serikat dan Kanada biasanya dirayakan pada sehari setelah perayaan Thanksgiving. Pada 2007 ini, AS merayakan pada 28 November 2007. Menurut wikipedia, Hari Tanpa Belanja di Indonesia biasa dirayakan pada Sabtu
pekan terakhir bulan November.

Hari Tanpa Belanja ini telah dirayakan secara internasional di lebih dari 30 negara. Perayaannya dipilih berdasarkan hari yang paling memungkinkan orang-orang menghabiskan waktu untuk berbelanja.

Kegiatan ini pertama kali dicetuskan oleh seniman dari Vancouver bernama Ted Dave yang kemudian dipromosikan oleh majalah Adbusters Kanada pada 1993. Orang-orang yang merayakan hari tersebut tidak akan bertransaksi jual-beli selama 24 jam. Lalu biasanya partisipan melakukan kampanye menyerukan bahaya konsumerisme kepada publik, dan mengajak mereka untuk berpartisipasi.

Mengutip dari wikipedia, tujuan Hari Tanpa Belanja adalah untuk memberikan kesadaran publik agar lebih peka terhadap apa yang dibeli, dan seharusnya mempertanyakan produk-produk yang dibeli dan perusahaan-perusahaan yang membuatnya. Selain iti juga membuat orang berhenti dan berpikir tentang
apa dan seberapa banyak yang mereka beli telah berpengaruh pada lingkungan dan negara-negara berkembang.

Anda adalah apa yang Anda Beli. Memang tidak berlebihan bila kegiatan belanja sedikit direm. Sebab di sudut lain Bumi ini masih banyak kaum papa yang sulit mendapat makan dan mengakses pendidikan.
(nvt/ana)

Tips Berhemat

Tips Berhemat

Dalam mengelola keuangan keluarga tentunya tidak lepas dari biaya, dari sekian banyak biaya, sebenarnya banyak yngg bisa ditekan apabila kita bisa menyadarinya. Masalahnya seringkali kita tidak sadar atau mengabaikannya karena menganggap biaya tersebut kecil. Di saat keuangan keluarga menjadi kritis barulah kita melakukan penghematan besar besaran dan penghematan yg terlalu drastis bisa memicu konflik dalam keluarga tersebut. Berikut ini ada sebagian tips untuk menghindarinya, dan sudah barang tentu memerlukan komitmen dari anda sekeluarga.

Selain masalah gaji, bersaing dengan rekan pegawai yg lebih muda adalah masalah lain yg anda hadapi selain gaji. Dengan ilmunya lebih ‘CANGGIH’, dengan ide yg baru, motivasi kerja lebih tinggi, dan bersedia dibayar dengan gaji lebih rendah. Sudah barang tentu atasan anda atau pemilik perusahaan akan ‘melirik’ ke rekan anda tersebut, dan lambat laun anda akan semakin tenggelam.

Hutang Adalah Biaya

Jika anda punya hutang, entah itu itu hutang kepada bank, hutang kepada kreditor, maka anda diharusnya membayar bunga. Misalkan anda berhutang ke Bank senilai 100jt kepada bank dengan bunga 18%/thn, maka anda akan dibebani biaya sebesar 1.5juta setiap bulannya. Jadi hutang adalah biaya, semakin lama anda melunasinya, semakin besar biaya yg anda tanggung. Coba hitung apabila anda berhutang dengan janga waktu 3 tahun, biaya yg anda tanggung adalah 1.5jt x36 = 54jt, lebih dari 50% dari pokok pinjaman. Jika anda punya hutang, segera lunasi hutang anda. Jika belum punya janganlah coba coba berhutang.

Orang Yg Kita Cintai Bisa Menjadi Biaya

Jika suami/istri atau anak kita berulang tahun, kita selalu ingin memerikan hadiah ulang tahun yg spesial, seperti arloji baru, mainan barru, baju yang mahal, dsb. Padahal belum tentu mereka memerlukannya dan menginginkannya. Jika anda membelikan anda (pria) membelikan 1 set peralatan make up yg mahal kepada istri anda, sudah barang tentu biaya dalam keluarga anda bertambah, akan tetapi apabila membelikan istri anda sebuah kalung emas lengkap dengan liontinnya, sebenarnya anda telah melakukan INVESTASI. Jika keluarga anda di kemudian hari mengalami krisis keuangan kalung itu masih bisa dijual dengan harga tinggi, bahkan harganya sudah naik. Jadi apa yg akan anda belikan kepada istri anda? Perhiasan dari emas? Atau peralatan kosmetik yg mahal?

Berhemat Yg Salah Bisa Jadi Biaya

Mungkin anda sering melihat iklan di televisi/radio yg menyaran anda membeli lampu neon daripada lampu pijar. Memang benar apa yg disarankan iklan tersebut, jangan asal membeli lampu neon dengan harga yg murah dan berumur pendek, cobalah beralih ke lampu neon yg harganya sedikit lebih mahal dengan usia yg jauh lebih lama.

Rasa Malas Juga Biaya

Malas mematikan lampu, komputer, maupun peralatan listrik lainnya jika sedang tidak dipergunakan adalah biaya biaya yg harus ditanggung oleh anda sekeluarga, seindonesia bahkan sedunia. Sebagian besar listrik di dunia saat ini adalah masih menggunakan solar yg diolah dari bahan tambang dan kita semua sudah mengetahui bahwa jumlah bahan tambang ini terbatas, semakin lama akan semakin menipis, dan harganya tiap tahun pasti akan naik, dengan naiknya permintaan naik pula harganya. Dan sudah barang tentu tarif listrik akan naik. Oleh sebab itu biasakanlah anda sendiri, dan keluarga anda untuk menggunakan listrik sehemat mungkin.

Semoga tips-tips diatas bisa bermanfaat untuk anda dan keluarga, lalukanlah secara bertahap, karena merubah kebiasaan ada hal yg tidak mudahm tapi hal itu tetap mungkin dilakukan. Selamat mencoba.

kontributor artikel: AF

BELANJA TAKTIS DI MASA KRISIS

Saat inflasi mencapai dua digit seperti sekarang, rakyat juga yang menderita. Harga barang melonjak-lonjak, tapi pendapatannya tetap. Akibatnya, penghasilan tidak lagi cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Bagaimana menyiasatinya?

Anda termasuk kategori orang yang mudah tergoda untuk berbelanja? Dalam salah satu makalah yang dimuat Jurnal Riset Pemasaran Kualitatif, diungkapkan fenomena dorongan berbelanja yang impulsif, dadakan.

Ada empat jenis pembelanja dadakan ini. Pertama, tipe kompensatif. Contohnya, orang yang punya selemari penuh pakaian yang belum dipakai dan jajaran sepatu baru. Semua barang itu dibeli untuk meningkatkan rasa harga diri, pelarian dari masalah pekerjaan, rumah, dan keluarga.

Tipe kedua adalah yang selalu tergoda untuk belanja di musim obral, meski barang baru akan dipakai beberapa bulan lagi. Kelompok akseleratif ini terlalu bersemangat mengantisipasi kebutuhan di masa depan.

Bagaimana dengan orang yang semula cuma jalan-jalan ke mal, begitu pulang sudah menandatangani kontrak pembelian rumah atau mobil baru? Ini kelompok terobosan, yang membeli barang mahal tanpa rencana. Biasanya, tindakan membeli itu melambangkan dimulainya suatu babak baru dalam kehidupannya. Walau diakui, hasrat memiliki barang itu sudah lama ada.

Tipe terakhir – ini yang paling sulit dimengerti – adalah kelompok jenis pembeli buta, yang membeli tanpa pertimbangan sama sekali.
Meski semua pembeli tipe dadakan ini selalu akan merasa bersalah, namun ada juga yang kemudian mencoba menemukan alasan rasional di balik ulahnya. Alasan rasional itulah yang sering dimanfaatkan oleh penjual, yang tidak jarang cukup ampuh untuk membangkitkan dorongan membeli, demi kepuasan diri belaka.

Rayuan sekaligus tekanan
Salah satu kiat pedagang membujuk konsumen secara efektif adalah dengan iklan. Namun, besar jugakah manfaat iklan bagi konsumen? Sangat diragukan, sebab sedikit sekali iklan berisi informasi yang benar dan tepat. Padahal iklan berakibat langsung pada naiknya harga.

Kunci tindakan ekonomis adalah jangan memperhatikan iklan, kecuali berisi informasi yang berguna, misalnya kandungan bahan dan harga. Tetaplah berpatokan pada harga dan kualitas yang telah kita tentukan.

Calon konsumen harus memahami, salah satu trik iklan adalah bahasa rayuan. Ada yang memancing untuk membahagiakan diri sendiri. Misalnya, “Manjakan diri Anda setelah lelah dengan berbagai urusan kantor, pekerjaan rumah tangga, dan anak”. Contoh lain, membandingkan belanja seseorang dengan pengeluaran pasangannya, “Bila pasangan Anda memakai uang untuk pakaian, kosmetika, dan merawat rambut, bagaimana dengan Anda?”

Hati-hati juga dengan iklan yang menyebut konsumennya ekonomis dan rasional bila membeli produknya. Perhatikan saja, bujukan ini biasanya justru mematok harga yang lebih mahal.

Namun, trik yang paling banyak dipakai dan efektif memancing konsumen adalah permainan harga. Salah satunya mematok harga dengan angka ekor 99 atau 88, misalnya Rp 999,- atau Rp 988,-. Konsumen jadi berpikir, harga barang cuma Rp 900,- bukan Rp 1000,-. Padahal, nilainya lebih dekat ke Rp 1000,-.

Permainan lain adalah jumlah ganda. Sering pengecer mengemas produk yang harganya Rp 2.000,-/buah menjadi Rp 20.000,-/kemasan berisi 10 buah, bahkan didiskon 5% menjadi Rp 19.000,-. Tujuannya, agar perputaran stok jadi lebih cepat. Konsumen yang cuma perlu 1 – 2 buah terdorong membeli 10 buah. Jika tidak perlu sebanyak itu, jangan membeli meski harganya sedikit lebih murah. Selain itu, orang cenderung boros bila banyak persediaan di rumah.

Sedangkan harga kombinasi yang sering dipakai berupa paket di restoran. Misalnya, satu paket berisi burger, kentang goreng, dan minuman. Kalau dihitung, harganya sering tidak jauh lebih murah dibanding kalau membeli per satuan. Terlebih kalau yang diperlukan cuma burger dan minuman. Jadi, sebaiknya membeli per satuan sesuai kebutuhan. Hal yang sama berlaku pula untuk kampanye “Beli 1 Gratis 1″.

Waspadai tawaran harga murah yang sering dipakai untuk memancing calon pembeli. Begitu konsumen datang, penjual menjawab, produk itu sudah habis, atau mutunya buruk. Lalu ditawarkan produk lain yang lebih mahal.

Pernahkah Anda kerepotan menghadapi cecaran pramuniaga? Hal itu sengaja dilakukan agar konsumen tidak sempat berpikir panjang sehingga batal membeli. Sebelum menyesal karena membeli barang yang kurang penting atau membuang uang secara percuma, sisihkan waktu untuk bertanya pada diri sendiri, seberapa perlu produk itu. Pertimbangkan juga layanan purnajual serta kualitas.

Cara demikian banyak diterapkan berupa penjualan langsung ke rumah (direct marketing). Kelebihannya, selain penjual lebih mudah memperagakan, suasananya pun santai karena bebas gangguan dari pramuniaga atau pengunjung lain. Calon konsumen pun mudah terbujuk setelah melihat langsung kelebihan produk; hal yang tak mungkin dilakukan dalam penjualan via katalog, media TV, dan iklan komersial.

Lain lagi dengan toko eceran (ritel). Mereka memaksimalkan tata ruang sebagai iklan, khususnya untuk produk pakaian, peralatan, dan toko diskon. Tata ruang yang menarik membuat konsumen menghabiskan lebih banyak waktu di toko, melihat makin banyak barang, memperhatikan barang-barang murah (meski kurang dibutuhkan), dan akhirnya membeli secara impulsif.

Agar mencolok, produk biasanya ditata dekat pintu masuk – misalnya minuman ringan yang disusun membentuk piramida di tengah jalan – atau meletakkan produk setinggi pandangan mata. Cara lain dengan menaruh rak berisi permen karet, rokok, permen, dan majalah di pintu kasir dengan harapan konsumen serta merta mengambil. Sedangkan barang obral biasa dipasang di dekat jalan keluar dengan harapan konsumen akan membeli satu dua buah, selagi murah. Itulah sebabnya susu, daging, dan sayur-mayur dipajang di belakang.

Alternatif pilihan
Banyak orang membelanjakan uang tanpa menimbang hal lain apa yang didapat dengan uang itu. Banyak konsumen cepat memutuskan ingin sesuatu dan langsung membeli, meski berhutang.

Ekonom menyebutnya opportunity cost. Misalnya, kita punya tiket gratis untuk menonton sirkus, tapi di saat bersamaan kita bisa menonton pertandingan sepakbola di TV. Jika memilih menonton sirkus, kita akan kehilangan kesempatan nonton sepakbola plus biaya transportasi ke sirkus. Pilihan lain, bila menonton TV di rumah, maka terbuang kesempatan nonton sirkus.

Konsep mempertimbangkan opportunity cost bisa juga diterapkan dalam manajemen keuangan pribadi. Dengan menyusun anggaran belanja, faktor opportunity cost ini mau tak mau kita perhitungkan.

Kalau ingin menyekolahkan anak ke perguruan tinggi, menyelesaikan kredit rumah, atau membeli mobil baru, hitunglah berapa banyak uang harus disisihkan, berapa lama tabungan terkumpul, kenikmatan apa yang bakal harus dikurangi.

Cara paling sederhana adalah membuat dua lajur, lajur pertama: penghasilan dan simpanan, dan lajur kedua: pengeluaran. Kurangkan lajur kedua dengan lajur pertama. Bandingkan hasilnya dengan aset mula-mula. Apakah tetap, bertambah, atau malah berkurang? Bila aset tetap, bahkan cenderung menyusut, amati tiap pos pengeluaran; bila mungkin lakukan pemangkasan pos yang tak perlu.

Benarkah ada harga ada mutu?
Kunci keberhasilan anggaran belanja adalah tidak berbelanja barang yang kurang bermanfaat.

Saat menyusun anggaran belanja, susun pula daftar barang yang dibutuhkan setiap bulan. Perhatikan bahwa barang yang akan dibeli benar-benar yang dibutuhkan, tentukan juga merek, mutu, dan harganya. Jadikan daftar itu acuan saat berbelanja.

Carilah informasi tentang berbagai harga barang, baik dalam koran, majalah, maupun teman-teman. Paling tepat adalah melanggan koran lokal yang sering memuat iklan barang murah. Tak hanya harga, Anda bisa mendapat hasil uji barang konsumen dalam majalah khusus untuk konsumen, seperti yang diterbitkan oleh YLKI. Informasi serupa kadang juga dimuat di koran atau majalah.

Informasi terakhir akan sangat berguna bila Anda berniat membeli barang yang tidak murah. Apakah semakin mahal itu semakin bermutu? Meski sudah membayar jauh lebih mahal, barang yang didapat tidak selalu jauh lebih baik. Sering bedanya sangat kecil, malah tidak ada. Bayangkan, ada produsen menjual dua barang yang sama persis yang diiklankan dengan merek dan harga yang berbeda.

Sebaliknya, harga mahal bisa jadi indikasi produksi yang tidak efisien, biaya iklan dan promosi tinggi, serta mark up yang besar pada pengecer. Padahal, meningkatnya kualitas jarang berakibat pada kenaikan harga.

Maka, jadilah konsumen yang cerdik. Untuk barang mahal cara paling tepat mencari informasi adalah dengan mengacu pada hasil uji lembaga konsumen atau pengalaman orang yang pernah memakai.

Sedangkan untuk produk sehari-hari, tidak salah bila mencoba sepotong produk pesaing yang lebih murah, lalu bandingkan dengan produk yang dipakai selama ini. Kecuali memang ada bukti mutu buruknya, lebih bijak berasumsi, “Barang murah dengan mutu baik juga ada, kok!”

Rencana belanja
Pernahkah Anda kehabisan sampo dan terpaksa membeli di toko terdekat dengan harga yang lebih mahal? Semua barang bisa jadi lebih mahal bila terburu-buru.

Belajar dari pengalaman itu, sebelum berbelanja buatlah daftar. Berbelanjalah secara sistematis agar tidak banyak waktu terbuang untuk mencari-cari barang belanjaan. Orang yang lelah dan terlalu lama belanja cenderung menghabiskan lebih banyak uang untuk barang yang tak perlu. Agar sistematis, kelompokkan daftar belanjaan, misalnya kelompok sayuran, macam-macam daging dan ikan, alat kebersihan, dll.

Yang perlu dibeli adalah bahan sehari-hari, seperti gula, garam, susu. Juga bahan yang seharusnya dibeli di pertengahan minggu ini – namun tidak bisa ditunda hingga minggu depan – misalnya daging, buah-buahan, saus, sabun cuci, sampo, dll.

Tahap selanjutnya, memilih toko atau pasar yang menjual murah atau dengan potongan barang-barang itu. Pastikan bahwa letak toko terjangkau, agar biaya transpor tidak jadi lebih mahal dibandingkan potongan harga yang didapat. Pertimbangkan juga berbelanja di pasar tradisional, dengan syarat harus pandai memilih barang dan menawar.

Perhatikan barang apa yang sedang mendapat potongan harga khusus, sehingga berlaku prinsip, sesuaikan menu dengan bahan-bahan yang sedang murah. Pilihlah hasil bumi yang sedang melimpah.

Bila berbelanja dalam jumlah banyak, perhatikan saat kasir menghitung. Apalagi kalau di pasar swalayan dengan deretan panjang orang mengantre di belakang Anda. Bisa saja kasir salah hitung karena terburu-buru. Maka, susunlah barang belanjaan dengan rapi, sehingga Anda tahu persis berapa jenis barang belanjaan dan berapa bungkus.

Biasakan pula membawa kalkulator kecil (jangan takut dicap orang pelit). Selain untuk mengecek jumlah total belanja, juga menghitung perbandingan harga, produk mana yang paling murah. Apakah yang dalam kantung kecil, sedang, atau besar.

Salah satu cara bijak belanja adalah mengurangi pemakaian kartu kredit dan lebih mengutamakan uang tunai. Usahakan tidak menggunakan kartu kredit kecuali terpaksa, serta dalam jumlah yang terjangkau. Menurut ahli manajemen keuangan, belanja maksimal dengan kartu kredit setiap bulan hanya 30% dari penghasilan. Selebihnya, pasti kesulitan untuk melunasi tagihan.

Cara termudah untuk mengatasinya, kunci kartu kredit di laci lemari atau masukkan ke kompartemen dompet paling dalam. Sebenarnya, tidak sulit hidup tanpa kartu kredit.

Penghematan di sana-sini
Salah satu cara berhemat adalah dengan memanfaatkan musim obral. Obral sering diadakan menjelang akhir perayaan hari raya. Jadi, belilah barang yang awet yang bisa disimpan untuk perayaan berikutnya. Misalnya pohon Natal, kartu ucapan, kopiah, sarung, dsb.

Menyangkut makanan, cara berhemat adalah dengan mengurangi kebiasaan makan di restoran. Benarkah lebih nyaman, hemat waktu, bahkan lebih murah? Alasan menghemat waktu paling mudah ditolak. Mari dihitung, berapa lama waktu diperlukan untuk menuju tempat makan dan menunggu makanan disajikan. Murah? Bandingkan, jika untuk berempat perlu biaya Rp 50.000,- sekali makan di restoran, sedangkan makan di rumah paling Rp 10.000,-. Selisih Rp 40.000,- besar bukan? Ini bukan menafikan kegiatan makan di luar. Tips ini hanya mengingatkan untuk berpikir rasional di masa krisis, mana yang perlu dan tidak perlu.

Mengurangi belanja makan siang bagi yang bekerja di luar rumah juga mampu mengurangi pengeluaran. Sebagai gantinya, bawalah makan siang dari rumah. Jumlah yang dihemat tergantung letak tempat kerja dan jenis makanan yang dijual di sekitarnya.

Agar tak membosankan, makan siang cukup bervariasi. Selain itu, juga tidak merepotkan untuk dibuat dan disiapkan. Tak cuma hemat, makanan dari rumah relatif lebih bersih dan gizinya terjamin. Tidak tertutup kemungkinan untuk makan siang bersama teman sekantor dengan masing-masing membawa menu rumah.

Yang modern tak ekonomis
Melihat kebutuhan menjadi kunci utama bila berencana membeli rumah atau mobil. Sebuah keluarga kecil tidak perlu memaksakan untuk memiliki rumah besar dengan banyak ruangan atau mobil besar. Rumah besar perlu biaya pembangunan mahal, perawatan yang tinggi, pajak yang tinggi, dan mebel yang lebih banyak. Selain itu, rumah besar lebih sulit dijual lagi. Jika ada uang lebih, carilah rumah di lokasi yang lebih baik atau model rumah yang lebih hemat energi.

Sebelum membeli mobil baru, hitung untung-rugi memiliki mobil baru dan tua. Berapa biaya untuk memperbaiki mobil tua Anda. Sedangkan mobil baru akan memberikan masalah berupa nilai penyusutan dan pajak yang tinggi.

Serupa dengan mobil, orang cenderung membeli alat elektronik penuh tombol otomatis. Dari segi ekonomis, hal itu tidak tepat. Selain lebih mahal, akibat tambahan tombol otomatis, produk demikian biasanya gampang rusak. Jadi, model yang terlalu “modern” selain lebih mahal, juga perlu biaya perawatan lebih besar. Maka, pilihlah produk dengan model sederhana, yang juga lebih murah.

Selain yang digerakkan tenaga listrik, ada alat-alat yang dijalankan secara manual. Selain hemat biaya listrik atau baterai, peralatan itu juga mudah diperbaiki. Contohnya pencukur jenggot, kocokan telur, dll.
Belajarlah merawat sendiri barang-barang Anda. Seperti mengganti sendiri oli mobil dan saringannya. Inilah gunanya menyimpan baik-baik buku manual mobil. Kalau buku itu sudah tidak ada, perhatikan yang dilakukan mekanik di bengkel saat mengganti oli.

Menjaga kesehatan juga berhemat. Misalnya, dengan berolahraga. Carilah olahraga yang murah seperti lari atau senam yang bisa dilakukan di berbagai tempat. Selain itu hentikan – atau jangan mulai – kebiasaan yang merusak kesehatan, misalnya merokok. Merokok adalah “hobi” yang mahal, bila pengeluarannya dihitung secara akumulasi dalam 1 – 5 tahun. Kalaupun jatuh sakit, cobalah minta resep obat generik.

Masih banyak tindakan penghematan lain. Tak salah bila Anda amati dan praktikkan. Seperti tutur sebuah iklan – yang ini boleh ditiru – hemat (bukan pelit) itu nikmat. (Dari pelbagai sumber/Sht)

Berhemat Yang Benar

Buat yang mau belajar berhemat)
Deni adalah seorang copywriter di sebuah biro iklan lokal. Teman- temannya mengatakan bahwa Deni sedang kesulitan keuangan. Kok tahu?
Ya taulah. Karena setiap kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk meminjam uang sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia hampir selalu meminjam uang.

Memang, setelah gajian utangnya pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa yang dapat meminjamkan uangnya.

Akhirnya Deni mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman seorang office boy. Sebenarnya Deni malu. Uangnya sudah habis padahal baru tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik taxi ke kantor dan untuk biaya makan.

Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba office boy menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Deni kesulitan. Deni tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam uang dari office boy?

Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin membantunya, sehingga akhirnya Deni menerima bantuannya.

Dalam hati kecilnya Deni merasa sangat malu. Malu sekali!. Tapi Deni terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang. Keesokan harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya berbincang-bincang.

Deni penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa punya uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Deni? Bukankah gaji Deni lebih besar? Mereka sama-sama masih bujangan, belum menikah. Tapi, mengapa office boy tersebut bisa menyimpan uang sedangkan Deni selalu kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya?

Siangnya Deni baru mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dan bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat istimewa. Dia paling rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua tugasnya. Tidak pernah terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat penampilannya sepertinya biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, tapi tidak terkesan menjilat.

Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Deni mulai menggali kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy tersebut. “Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji saya selalu habis setelah tengah bulan.” Deni membuka percakapan.

Office boy tersebut mulai bercerita. “Saya dulu juga begitu, mas. Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya gaji saya semakin tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus mengembalikan uang yang saya pinjam di bulan sebelumnya.

Jadi uang gaji saya berkurang. Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja tidak cukup, apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin berkurang lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak”

Benar juga, pikir Deni. Pikiran yang sederhana tapi mengandung kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. “Jadi bagaimana caranya melepaskan diri dari lilitan utang?” tanya Deni.

“Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah pulang kampung tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi wejangan oleh beliau.” katanya.

Nenek saya berkata: “Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung, maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai bertambah banyak.”

Hidup prihatin

Waktu itu saya bertanya: “Bagaimana cara membendungnya? ” Nenek saya menjawab tegas:”Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi.”

“Tapi nanti kurang nek.”

“Tidak”, kata nenek. “Begini caranya. Begitu terima gaji, segera lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang. Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup.” Lalu saya diajak menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan lain-lain.

Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin. Saya tidak boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki ke jalan raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan untuk hidup ngirit seperti itu. Tapi memang cukup sih.”

“Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan hidup seperti itu. Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang bisa saya sisihkan untuk ditabung.

Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi menjaga kondisi tubuh saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan hidup sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas. Sampai sekarang.”

Deni bertanya:”Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab.”

“Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam juta rupiah. Saya ingin menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas.”

Deni hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Deni cukup besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Deni cenderung memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik taxi. Makan siang selalu di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan dari rumah. Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya.

Rasa haru campur malu membuat Deni bertekad mengubah cara hidupnya. Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera dibendung. Mulai kapan? Hari ini! Change! Start today! Start now!
sumber : http://nurkireina82.multiply.com/

Avoiding Polypharmacy Pitfalls

http://www.pharmacytimes.com/issues/articles/2006-01_2981.asp

Avoiding Polypharmacy Pitfalls: It’s All in Your Approach

Jeannette Yeznach Wick, RPh, MBA, FASCP

*Polypharmacy*—which technically translates to “many drugs”—has many
meanings. The Health Alliance Plan, a subsidiary of the Henry Ford Health
System, defines *polypharmacy* as “the unwanted duplication of drugs that
often results when patients go to multiple physicians or pharmacies.”1 Other
researchers implicate anywhere from 5 to 10 drugs as a signal of
polypharmacy.2-5

Pharmacists have legitimate concerns about polypharmacy (Table 1) and
frequently try to address it. Nonetheless, the vague definition of
polypharmacy contributes to prescribers’ eye-rolling when well-meaning
pharmacists try to intervene. What pitfalls can pharmacists avoid to improve
communication?
Table 1.
Possible Negative Outcomes of Polypharmacy
- Non adherence, especiallu with complex drug regimens
- Adverse drug reactions
- Drug-drug interactions
- Increased risk of hospitalizations
- Medications error
- Increased medication or treatment costs

*Pitfall #1: An Inflexible Definition*

Defining *polypharmacy *with a strict number may deny patients access to
necessary drugs. Prescribers may find pharmacists who use number-driven
definitions less credible than those who broaden the definition to an
outcomes-based assessment. This broader definition involves the question,
“Is every drug clinically indicated for this unique patient and prescribed
at its lowest effective dose?” If the answer is no, polypharmacy is a
problem.8

*Pitfall #2: Failure to Acknowledge* *Legitimate Polypharmacy*

Some conditions create complex care needs. They cannot be treated with
simple regimens. Evidence-based treatment regimens for heart failure, for
example, recommend an angiotensin-converting enzyme inhibitor, a
betablocker, an aldosterone antagonist, =1 antihypertensives, a diuretic,
digoxin, and an anticoagulant.9 Diabetic patients need additional drugs. A
diagnosis of heart failure has been linked to an increased risk of
nonadherence because of the number of drugs needed.10

Other conditions that frequently require polypharmacy are cancer, mental
illness, and hypertension. Polypharmacy is so frequent among the mentally
ill that the National Association of State Mental Health Program Directors
has identified 5 subtypes11:

(1) Same-class polypharmacy (eg, the use of paroxetine and fluoxetine; this
type of polypharmacy is almost always inappropriate)

(2) Multiclass polypharmacy (eg, the use of full doses of drugs from
different medication classes to treat the same symptom cluster)

(3) Adjunctive polypharmacy (eg, the use of =1 drugs to treat side effects
of another)

(4) Augmentation (eg, the use of a medication at a low dose to augment
another, or adding a medication that would not be used alone to treat a
symptom cluster)

(5) Total polypharmacy

Legitimate polypharmacy usually is supported by guidelines or treatment
algorithms developed by leaders in the field.

*Pitfall #3: Ignoring the Patient*

A complete assessment for polypharmacy must include a medication history
from the patient or the patient’s proxy. Using open-ended questions and
wellplaced prompts, pharmacists should ask patients about their prescription
and nonprescription medication use. One of the most troublesome sequels to
polypharmacy is nonadherence. Some key questions to ask are listed in Table
2.
Table 2
Polypharmacy Questions for Pharmacists to Ask Patients
- What dietary supplements, vitamins, or OTC drugs do you take?
- What pharmacies have you used to fill your prescriptions in the last 2
years?
- Who are your doctors? What medications does dr. (Name) prescribe for you?
- What types of bottle or packages do you find difficult to open?
- How would you describe your eyesight and your hearing? (Ask the patient to
read a prescription bottle label to you)
- When do you take your medications? Of those times, when are you more
likely to forget? How often do you happen to forget?
- What concerns or questions do you have about your medication regimen?

After querying patients, pharmacists should do the following:

- Encourage patients to read all labels carefully and to use only one
pharmacy
- Help patients make a comprehensive list of their prescription and OTC
medications—including the strength, dose, and duration of therapy
- Indicate to patients that they should carry the list to every physician
appointment and update it as medication use changes
- Educate patients that nonadherence often leads to unnecessary
medication changes

*Pitfall #4: Believing That 2 + 2 = 4*

Concomitant use of common and relatively benign drugs often looks fairly
harmless. Unfortunately, such is not always the case. Consider a woman who
takes calcium for osteoporosis prevention and also takes a proton pump
inhibitor (PPI). She takes her whole dose of calcium—1500 mg—with her PPI at
bedtime. Taking the 2 substances this way produces suboptimal therapy. The
calcium should be split into doses of =500 mg and should not be taken at the
same time as the PPI, because calcium works best in an acid stomach. The PPI
is best scheduled in the morning. The patient’s new regimen should be 500 mg
of calcium tid with meals and the PPI every morning.

*Pitfall #5: Saving Money on* *Supplies*

After patients have seen the doctor, had prescriptions filled, and been
counseled at the pharmacy, adequate prescription bottles and labels will be
the most important reminder of what they were told. Pharmacists should use
the best-quality product available. “Quality” in this case means that the
bottle must be easy to open, yet safe, and be legible for the average
reader. (The national retailer Target’s redesigned prescription vial, the
ClearRx system, is an example of a system that enhances patient safety and
compliance.) Including the prescription’s indication on the label helps
patients, too.

*Pitfall #6: Focusing Only on the* *Elderly*

It is common knowledge that elderly people use more drugs than younger
people and often require multiple medications. Thus they have an increased
potential for adverse reactions, drug interactions, and self-medication
errors.

Children who have chronic or serious acute conditions are equally at risk.
Although one might think that parental supervision and concern would make
adherence in this population excellent, such is not the case. Approximately
one third of children and adolescents with serious cancer diagnoses are
seriously or occasionally nonadherent.12,13 The greater the number of
children in the family, the less likely total adherence becomes.12 Similar
findings have been documented for children with diabetes,14 asthma,15 and *
Helicobacter* *pylori *gastritis.16,17 Adolescents tend to consider
themselves indestructible or bend to peer pressure. They need more attention
and education. Also, pharmacists should remind parents that many OTC
preparations for children are combination products. They should encourage
parents to call with questions.

*Pitfall #7: Not Noticing Red Flags*

Certain red flags should prompt clinicians to suspect iatrogenic origin.
Conditions that may occur as a result of polypharmacy are listed in Table 3.
Table 3.
Conditions That May Occur as a Result of Polypharmacy
- Arrhythmia
- Balance disturbances
- Cognition changes
- Confusion
- Constipation
- Deppression
- Gastric ulcers
- Hyper- or hypotension
- Pseudoparkinsonism
- Rash
- Suicidal ideation
- Unexpected treatment failure

*Pitfall #8: Fixing It All at Once*

It is human nature to want to fix something that looks broken immediately.
In the case of true polypharmacy, however, correcting problems requires
thoughtful consideration and cannot necessarily be done “today.”
Discontinuing several drugs at once may have adverse consequences. Some
drugs (ie, benzodiazepines, anticonvulsants, heavily anticholinergic agents)
should be tapered to prevent withdrawal symptoms. Discontinuing other drugs
that interact with necessary drugs, thus increasing the serum levels of the
latter drugs, can precipitate problems. Polypharmacy usually occurs over
time, and correcting it may take weeks to months.

*Pitfall #9: Forgetting Care* *Continuity*

Once patients’ polypharmacy issues are resolved, pharmacists need to
evaluate them periodically in case unnecessary or inappropriate drugs “sneak
back” onto the profile. Patients often forget why they stopped taking a drug
and start using it again. Pharmacists have to be tenacious and vigilant.

*Ms. Wick is a senior clinical research* *pharmacist at the National Cancer*
*Institute, National Institutes of Health,* *Bethesda, Md. Views expressed
in this* *article are those of the author and not* *those of any government
agency.*

*For a list of references, send a* *stamped, self-addressed envelope
to:* *References
Department, Attn. A. Stahl,* *Pharmacy Times, 241 Forsgate Drive,* *Jamesburg,
NJ 08831; or send an e-mail* *request to: astahl@ascendmedia.com.*

Thermometer

http://www.mayoclinic.com/health/thermometer/HQ01481

Thermometers: Taking your child’s temperature Thermometers differ in
accuracy and ease of use. The best way to take your child’s temperature
depends on his or her age and ability to cooperate.

A fever is nothing to take casually in young children. If your child feels
warm or seems under the weather, you probably should take his or her
temperature. Sounds simple enough, but if you’re new to it, you probably
have a few questions. What kind of thermometer should you use? Should you
take a baby’s temperature the same way you take the temperature of a
5-year-old? What’s best for your child?
New thermometer options

If you grew up before the 1980s, your parents probably took your temperature
with a glass mercury thermometer — a skinny tube containing the silvery
liquid metal. Such thermometers are scarce these days because of the health
and environmental concerns surrounding mercury.

If you still have an old mercury thermometer, recycle it appropriately
during a household hazardous waste collection sponsored by your local health
department. Your doctor may know of other ways to safely dispose of mercury
thermometers.

Thermometers with newer designs are often easier to use than mercury
thermometers. And, all the better for your child, they give you a quick
result. Make sure you read the instructions that came with your thermometer,
and never leave your child unattended while you are taking his or her
temperature.
Insert it where?

While ear thermometers and pacifier thermometers are designed for use in a
specific part of your child, regular digital thermometers can be used in the
mouth, under the arm or in the rectum. Here are some temperature-taking tips
for these locations.

- *Rectum.* Lubricate the tip of the thermometer with petroleum jelly.
Lay your child facedown across your lap, or on his or her side in the fetal
position on the bed. Insert the thermometer no more than an inch into the
rectum. Stop if you feel any resistance. Hold the thermometer in place until
you hear the beeping signal.
- *Mouth.* Wait 20 or 30 minutes after your child finishes eating or
drinking. Place the tip of the thermometer under the tongue, and ask your
child to keep his or her lips closed and to breathe through the nose. Remove
at beeping signal.
- *Armpit (axillary).* Remove your child’s clothing above the waist
and place the thermometer under your child’s armpit. The thermometer must be
touching skin, not clothing. It may help to hold your child sideways on your
lap, thermometer arm closest to you, and then hug your child close until you
hear the thermometer beep.

Match method to age

The best place to insert the thermometer depends on the child’s age.

- *Newborns.* For babies less than 3 months old, start with an armpit
(axillary) temperature. If it’s higher than 99 F (37.2 C), take a second
measurement rectally. Rectal temperatures higher than 100.4 F (38 C) in
newborns and infants up to 3 months of age require immediate medical
attention.
- *3 months old to 4 years old.* For this age group, you can check
your child’s temperature rectally, or with an electronic pacifier
thermometer or an ear thermometer.
- *Older than 4 years.* After age 4, most children are able to hold an
oral digital thermometer under the tongue for the short time it takes to get
a temperature reading.

Accuracy varies

A rectal temperature is the most accurate, although temperatures measured by
mouth and ear are accurate if done properly. Armpit (axillary) temperatures
are the least accurate, but are better than nothing.

Whatever the method, make sure you know exactly how to use your thermometer.
Read the instructions that came with your thermometer. For safety — and to
make sure the thermometer stays in place — never leave your child unattended
while you are taking his or her temperature.
Children’s temperatures higher

After the age of 3 months, children’s normal body temperatures are higher
than those of adults — primarily because young children have a greater
surface area to body weight ratio and a higher metabolic rate than older
children and adults. One study showed the rectal temperatures of healthy
18-month-olds were around 100 F (37.8 C).

A simple cold can sometimes cause a fever over 102 F (38.9 C) in young
children. It would take a much more serious disease to produce that kind of
fever in an adult.
When to seek medical help

Call your doctor if you have an infant younger than 3 months with a
temperature of 100.4 F (38 C) or an older child with a fever higher than 104
F (40 C).

Most children tolerate a fever amazingly well. Low-grade fevers may actually
help the body rid itself of viral infections. If your child is responding to
you normally, drinking fluids and continuing to play, there’s no reason to
lower the temperature with medication.

On the other hand, if your child is listless, vomiting persistently, or
complaining of a headache or stomachache, contact the doctor or go to an
emergency department immediately. Also seek medical attention if your
child’s fever does not respond to fever-reducing medication or if a febrile
seizure occurs.