RSS

Arsip Harian: April 16, 2008

Hindari Anak Dari Junkfood

Hindarkan Anak dari Junk Food!

Getty ImagesRabu, 16 April 2008 | 15:09 WIB
MENGONSUMSI makanan redah kadar gizi atau junk food tampaknya sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat terutama di kota-kota besar. Bahkan tak jarang para orang tua malah mengenalkan makanan tidak sehat ini kepada anak-anaknya sejak dini.

Ketika mengajak jalan-jalan ke mall atau pusat perbelanjaan, banyak orang tua membelikan anak mereka junk food. Begitu perut lapar, anak-anak langsung diajak menyantap paket menu yang terdiri dari nasi plus ayam goreng, atau burger bersusun tiga ditambah sekantong kentang goreng plus segelas soda.

Padahal dari sisi kesehatan sudah diketahui dengan jelas betapa besar risiko kesehatan yang dihadapi bila mengonsumsi makanan junk food secara rutin.

Seperi dipaparkan DR. Dr Saptawati Bardasono, MSc, Sekjen Pengurus Pusat Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), junk food dapat dikonotasikan sebagai makanan yang kualitas gizinya rendah atau juga makanan sampah. Makanan ini biasanya dikemas sebagai menu cepat saji dengan menawarkan rasa yang lezat dan membuat ketagihan.

¨Junk food biasanya mengandung padat kalori, lemak dan bumbu-bumbu dengan kadar garam tinggi sehingga menimbulkan sensasi rasa yang sangat lezat di lidah. Ini jelas tidak sehat karena lemak, kalori dan zat-zat lain yang dikandungnya melebihi batas yang ditentukan. Padahal, komposisi makanan sehat itu kan harus seimbang,,¨ terang DR. Saptawati saat ditemui di sebuah hotel Jakarta, Rabu (16/4).

Bila junk food sudah merambah anak anak dan menjadi bagian dari gaya hidup mereka, lanjut Saptawati, maka dikhawatirkan risiko mengidap berbagai penyakit akan mengintai sejak usia dini.

¨Mereka sudah dari awal akan memiliki risiko mengidap berbagai penyakit seperti obesitas. Belum lagi penyakit degeneratif yang akan menyerang ketika dewasa seperti jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, atau jenis penyakit berat lainnya. Oleh sebab itu, anak-anak sebaiknya dihindarkan atau jangan sering-sering mengonsumsinya. Yang lebih baik tetap makanan dengan kandungan gizi dan nutrisi seimbang,¨ tambahnya.

Kalori berlebih
Bila ditelaah, junk food memang layak disebut makanan sampah karena dihitung dari nilai gizi, makanan ini tidaklah seimbang. Sebungkus kentang goreng porsi normal misalnya dapat mengandung 500 kalori, hamburger sekitar 500 kalori, belum lagi bila ditambah minuman soda total kalori satu hidangan bisa melebihi total 2000 kalori.

Rata-rata kebutuhan kalori untuk pria dewasa saja rata-rata hanya 1.900 kalori, sedangkan anak-anak sekitar 1500-1900 . Berarti, makan sekali sajian, belum termasuk minumnya, sudah melewati lebih dari separuh kebutuhan kalori untuk anak-anak.

Junk food juga dapat mengandung kolesterol dan gula yang tinggi. Sementara kandungan nutrisi penting seperti protein, vitamin, dan mineral justru terabaikan. Yang dikhawatirkan, junk food kemungkinan mengandung zat berbahaya lain seperti bahan pengawet dan zat aditif yang membuat anak ketagihan. Jadi sebaiknya hindarkan anak Anda dari junk food!

Sumber : Kompas

 
Leave a comment

Posted by pada April 16, 2008 in POLA MAKAN

 

Suplemen Merusak Tubuh

Jangan Biarkan Suplemen Merusak Anda
LONDON, RABU – Fenomena penggunaan vitamin dan suplemen kesehatan akhir-akhir ini semakin marak saja. Dalam setahun, konsumen bisa menghabiskan kocek hingga ratusan juta rupiah untuk membeli vitamin atau suplemen demi menjaga kesehatan. Bahkan di Inggris, biaya belanja suplemen dapat mencapai 300 juta poundsterling atau sekitar Rp.540 miliar dalam setahun.

Namun siapa sangka, di balik penggunaan vitamin dan suplemen ternyata ada risiko yang mengintai. Beberapa riset kerap mengaitkan penggunaan suplemen dengan risiko mengidap kanker dan stroke. Sejumlah beberapa lembaga pengawas obat dan produk perawatan kesehatan juga memperingatkan bahaya akan residu obat ilegal.

Glukosamin yang banyak dipakai untuk mengobati sakit sendi atau otot, juga mendapat sorotan. Pengadilan di Skotlandia misalnya, saat ini masih terus melakukan investigasi untuk membuktikan apakah obat ini menjadi penyebab meninggalnya pasien yang mengalami kegagalan liver. Sementara itu, vitamin E yang kerap diklaim sebagai antioksidan pencegah kanker, menurut sebuah riset di AS justru dapat meningkatkan risiko tumor paru.

Tanaman obat bernama ginkgo biloba yang disebut-sebut berkhasiat mengobati kepikunan, pun menurut sebuah riset yang dipublikasikan jurnal Neurology pekan lalu diduga berpotensi memicu stroke. Sedangkan Foods Standards Agency di Inggris pekan lalu meragukan royal jelly sebagai makanan yang mampu meningkatkan kekebalan tubuh.

Untuk memperoleh manfaat maksimal dari vitamin atau suplemen, ada baiknya Anda mengonsumsinya secara bijaksama. Akan lebih baik lagi bila mengonsultasikannya lebih dulu dengan dokter kepercayaan Anda.

Tetapi sebagai informasi, Anda juga patut mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan yang dimiliki suatu jenis vitamin atau suplemen. Dengan begitu, Anda akan lebih waspada dalam menggunakannya.

Berikut adalah delapan jenis vitamin atau suplemen paling populer yang dinilai memiliki kelebihan dan kekurangannya.

VITAMIN E
+ : Berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi sel-sel dari kerusakan, vitamin E banyak ditemukan dalam kacang-kacangan dan biji-bijian. Banyak sekali penelitian yang menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan mengandung vitamin E mampu menekan risiko penyakit jantung dan kanker.

- : Sejaun ini belum ada bukti signifikan akan manfaat suplementasi vitamin E. Faktanya, riset yang dilakukan peneliti di John Hopkins University AS mengindikasikan bahwa vitamin E berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 10 persen. Pekan lalu, sebuah riset juga mengindikasikan peningkatan risiko kanker paru-paru hingga 28 persen.

Vitamin B6
+ : British Medical Journal melaporkan bahwa dosis 100 mg vitamin B6 mampu meringankan gejala-gejala sindrom premenstrual. Sejumlah riset juga mengaitkan asupan asal folat dan vit B8 , yang banyak ditemukan dalam telur daging dan ikan, dengan penurunan risiko penyakit jantung dan kanker perut.

- : Meskipun konsumsi makanan berkadar vit B6 tinggi dikaitkan dengan rendahnya risiko penyakit jantung, belum ada bukti bahwa meminum pil vit B6 memiliki efek yang sama. Studi berskala besar di Norwegia menunjukkan meminum vit B6 dan folat justru meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke hingga 20 persen. Dosis tinggi juga dapat menyebabkan kerusakan syaraf.

St John Wort (Hypericum perforatum)
+ : Kepercayaan tradisi mengatakan herbal ini mampu melawan ilmu sihir. Lazimnya, herbal ini digunakan untuk memelihara sistem saraf dan melindungi sel-sel saraf dalam tubuh. Herbal ini biasa digunakan untuk meredakan hipertensi dan melancarkan peredaran darah.

- : Salah seorang ahli pengobatan alternatif Inggris, Profesor Edzard Ernst, dari Plymouth Peninsula Medical School memperingatkan bahwa St John Wort dapat mengurangi efektivitas obat resep seperti warfarin atau obat pengencer darah lainnya, pil anti kanker atau obat-obat pembedahan . Hindari herbal ini jika Anda mengidap epilepsi atau asma.

Royal Jelly
+ : Cairan kental yang dihasilkan lebah muda sebagai bahan makanan Larva Lebah dan makanan khusus Ratu lebah ini telah terbukti mampu membunuh bakteri dalam tes laboratorium. Zat ini juga mengandung protein dan vitamin C dan diklaim mampu meningkatkan kekebalan tubuh meski belum ada bukti yang solid.

- : Ada sejarah tentang masalah yang ditimbulkan residu obat-obatan yang dibuat dari royal jelly. Pemberian obat-obatan dengan dosis berlebihan pada hewan yang produknya akan dikonsumsi manusia berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Zat ini juga diduga berpotensi menimbulkan reaksi mematikan. Di Australia, kemasan suplemen royal jelly wajib disertai label peringatan menyusul adanya kasus anak berusia 11 tahun yang mengonsumsinya kemudan meninggal akibat asma.

Glukosamin
+ : Dua penelitian besar menunjukkan glukosamin mampu meringankan rasa sakit dan memperbaiki mobilitas pada pasien penderita osteoarthtritis. Bukti ini begitu meyakinkan sehingga US National Institutes Of Health berencana menggelar riset lanjutan.

- : Kualitas dan kekuatan produk glukosamin bervariasi. Tampaknya glukosamin juga hanya efektif jika dikombinasikan dengan sejenis senyawa disebut condroitin.

Ginkgo Biloba
+ : Walaupun beberapa riset menunjukkan adanya efek negatif, Prof Ernst percaya bahwa ginkgo tetap berkhasiat. Ia menekankan, ketika peneliti mencoret partisipan yang tidak mengonsumsinya secara teratur, ada sekitar 68 persen penurunan risiko gangguan ingatan setelah mengonsumsi ginkgo.

- : Prof Ernst mengatakan bahwa studi lanjutan perlu dilakukan mengingat kasus stroke dalam penelitian diakibatkan pembekuan, bukannya pendarahan – yang mungkin disebabkan peran ginkgo dalam mengencerkan darah. Untuk alasan tersebut, suplemen ginkgo seharusnya tidak diminum bersama aspirin, warfarin atau obat anti pembekuan darah lainnya. Hindari pula sebelum menjalani operasi.

Kava Kava
+ : Minuman yang dibuat dari sari akar Kava-kava telah dikenal sejak berabad-abad lampau sebagai obat penenang alami. Sejumlah riset, termasuk yang dilakukan Prof Ernst, terbukti efektif mengatasi kecemasan.

- : Menyusul adanya kasus kematian akibat kerusakan liver di antara pasien peminum suplemen kava, herbal ini dilarang di wilayah Inggris, namun suplemen dalam bentuk pil masih bisa diperoleh lewat internet.

Black Cohosh (Cimicifuga racemosa)
+ : Black Cohosh adalah sejenis tanaman liar mirip semak yang selalu hijau sepanjang tahun. Bagian tanaman yang digunakan sebagai tanaman obat adalah akar dan rimpangnya yang dikeringkan. Walaupun penelitian yang mendukung manfaat herba ini masih sedikit, secara historis, orang-orang Indian Amerika sudah sejak dulu menggunakannya untuk berbagai kondisi, mulai dari masalah-masalah kewanitaan sampai gigitan ular berbisa. Peneliti dari AS yang melakukan tinjauan sejumlah riset menyatakan ada bukti yang cukup bahwa ekstrak herbal ini mampu meringankan gejala-gejala menopause. Sebuah riset terbaru di Prancis juga menemukan bahwa ekstrak black cohosh mampu menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker payudara.

- : Menyusul adanya laporan kerusakan liver, Badan Pengawas Obat dan Produk Perawatan Kesehatan Inggris (MHRA) telah meminta produsen untuk mencantumkan label peringatan akan adanya ancaman risiko penggunaan suplemen jenis ini.

Sumber : Kompas

 
Leave a comment

Posted by pada April 16, 2008 in RUD

 

Jangan Takut Demam

Jangan Takut Demam

Demam setelah imunisasi dengan vaksin hidup adalah wajar. Sama halnya dengan demam saat ada infeksi mikroorganisme yang mampir ke tubuh. Tak perlu cemas dan panik.

Upaya menangani demam bukan prioritas utama. Tindakan pertama adalah mengidentifikasi adanya infeksi bakteri, dan kalau perlu merujuk ke rumah sakit untuk tindakan selanjutnya.

Jangan langsung meminum/kan obat pereda demam pada saat demam. Usaha meredakan demam lebih ditujukan untuk mengatasi ketidaknyamanan (jika memang signifikan), bukan untuk menurunkan suhu tubuh.

APA itu Demam?

Demam biasanya terjadi akibat tubuh terpapar infeksi mikroorganisme (virus, bakteri, parasit). Demam juga bisa disebabkan oleh faktor non-infeksi seperti kompleks imun atau peradangan lainnya.

Ketika virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, berbagai jenis sel darah putih (leukosit) melepaskan pirogen endogen yang memicu produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior (pusat pengatur suhu di otak). Hipotalamus anterior kemudian meningkatkan nilai-ambang temperatur dan terjadilah demam.

Singkatnya, demam adalah efek dari beredarnya pirogen (zat penyebab demam) yang dilepas oleh leukosit dalam fungsinya sebagai anggota sistem pertahanan tubuh.

PENGUKURAN Suhu

Suhu di daerah dubur paling mendekati suhu tubuh sebenarnya (core body temperature). Suhu di daerah mulut atau ketiak sekitar 0,5-0,8 derajat lebih rendah dari suhu rektal, dengan catatan setelah pengukuran selama minimal 1 menit.

Ukurlah suhu dengan termometer, bukan dengan tangan. Dan lebih baik gunakan termometer digital (terserah jenisnya, mau yang mahal pakai infra merah atau buatan Cina yang hanya Rp. 25 ribu), sebab resiko yang harus dialami jika termometer raksa pecah terlalu tinggi dibandingkan harganya yang Rp. 10 ribu.

Demam Akibat INFEKSI

Demam pada Infeksi Virus

Demam pada bayi dan anak-anak umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Demam akibat infeksi virus biasanya disertai gejala lain seperti sariawan, ruam cacar (dan ruam lain yang mudah dikenali), batuk-pilek (selesma common colds), dan peradangan saluran cerna.

Penyakit yang disebabkan oleh virus akan sembuh dengan sendirinya.

Demam pada Infeksi Bakteri

Salah satu infeksi bakteri yang paling sering ditemukan pada anak adalah infeksi saluran kemih (ISK). Umumnya tidak disertai gejala lain alias hanya demam. Resiko paling besar dimiliki bayi yang berusia di bawah 6 bulan.

Infeksi yang lebih serius seperti pneumonia atau meningitis (radang selaput otak) juga dapat menimbulkan gejala demam. Dari bayi > 3 bulan dan anak 1-3 tahun dengan demam > 39C, hanya sekitar 2persen saja yang bakterinya sudah memasuki peredaran darah (bakteremia). Pada golongan usia ini, program imunisasi HiB berhasil menurunkan resiko meningitis bakterial secara signifikan.

Usia yang menuntut kewaspadaan tinggi orangtua dan dokter adalah usia . Bayi harus menjalani pemeriksaan yang lebih teliti karena 10 persen-nya dapat mengalami infeksi bakteri yang serius, dan salah satunya adalah meningitis.

Walaupun sebagian besar penyebab demam adalah infeksi virus, data menunjukkan bahwa justru sebagian besar tenaga medis mendiagnosisnya sebagai infeksi bakteri. Ini menyebabkan pemberian antibiotik yang salah sasaran.

DAMPAK Demam

Dampak Menguntungkan

Fungsi pertahanan tubuh manusia bekerja lebih baik pada suhu demam dibandingkan suhu normal. Pelepasan pirogen endogen akan memicu pertambahan jumlah leukosit, meningkatkan aktivitas mereka dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme serta meningkatkan produksi fungsi interferon (zat yang membantu leukosit memerangi mikroorganisme).

Dampak Negatif

Pertama, kemungkinan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Ketika mengalami demam, terjadi peningkatan penguapan cairan tubuh sehingga anak bisa kekurangan cairan.

Kedua, kekurangan oksigen. Saat demam, anak dengan penyakit paru-paru atau penyakit jantung-pembuluh darah (kardiovaskuler) bisa mengalami kekurangan oksigen sehingga penyakit paru-paru atau kelainan jantungnya akan semakin berat.

Ketiga, demam > 42C bisa menyebabkan kerusakan neurologis (saraf), meskipun sangat jarang terjadi. Tidak ada bukti penelitian yang menunjukkan terjadinya kerusakan neurologis bila demam

Terakhir, anak berusia , terutama antara 6 bulan-3 tahun, beresiko kejang demam (febrile convulsions), khususnya pada temperatur rektal > 40C. Kejang demam biasanya hilang dengan sendirinya, dan tidak menyebabkan gangguan neurologis (kerusakan saraf).

PENGOBATAN dengan Antipiretik (pereda demam)

Mekanisme Kerja: menghambat produksi prostaglandin. Parasetamol, aspirin, dan obat anti inflamasi (peradangan) non-steroid (OAINS) lainnya adalah antipiretik yang efektif.

Parasetamol

Parasetamol adalah obat pilihan utama untuk anak-anak karena lebih aman hampir tanpa efek samping (bila diminum sesuai aturan).

Sebagian kecil parasetamol direaksikan oleh tubuh membentuk intermediet (turunan, berupa senyawa antara) aril yang hepatotoksik (menjadi racun untuk hati). Karena itu tidak boleh digunakan terus menerus dalam waktu yang lama (hitungan bulan, misalnya).

Aspirin

Merupakan antipiretik yang efektif namun penggunaannya pada anak dapat menimbulkan efek samping yang serius. Aspirin bersifat iritatif terhadap lambung sehingga meningkatkan resiko luka pada lambung, perdarahan (akibat dihambatnya aktivitas trombosit), hingga perforasi (terbentuknya lubang di dinding lambung).

Pemberian aspirin pada anak dengan infeksi virus terbukti meningkatkan resiko Sindrom Reye, yang ditandai dengan kerusakan hati dan ginjal. Oleh karena itu, tidak dianjurkan untuk anak berusia .

Obat Anti Inflamasi Non-Steroid (OAINS)

Jenis OAINS yang paling sering digunakan pada anak adalah ibuprofen. Dosis sebesar 5-10 mg per kg per kali mempunyai efektifitas antipiretik yang setara dengan aspirin atau parasetamol.

OAINS dan aspirin memiliki kesamaan, yaitu bisa menyebabkan luka lambung, perdarahan, dan perforasi, meskipun komplikasi ini jarang pada anak-anak. Ibuprofen juga tidak direkomendasikan untuk anak demam yang mengalami diare dengan atau tanpa muntah.

Jenis lainnya

Turunan pirazolon seperti fenilbutazon dan dipiron, efektif sebagai antipiretik tetapi jauh lebih beracun.

Sampai di sini, banyak sekali disebut senyawa-senyawa kimia ya? Inilah -salah satunya- mengapa kita wajib mengetahui nama generik obat yang -akan- kita konsumsi. Keterangan tentang kata-kata sulit mohon pelajari sendiri di halaman statis yang ditautkan.

TERAPI pendukung

Terapi yang Direkomendasikan

Tingkatkan asupan cairan (ASI dan hanya ASI untuk bayi Minum banyak juga mampu menjadi pelega saluran napas dengan mengurangi produksi lendir di saluran napas.

Jarang terjadi dehidrasi berat tanpa adanya diare dan muntah terus-menerus. Hindari makanan berlemak atau yang sulit dicerna karena demam menurunkan aktivitas lambung.

Kenakan pakaian tipis dalam ruangan yang ventilasi udaranya baik. Tidak harus terus berbaring di tempat tidur, tetapi jangan melakukan aktivitas berlebihan.

Mengompres dengan air hangat dapat dilakukan jika anak rewel (karena merasa sangat tidak nyaman), umumnya pada suhu sekitar 40C. Umumnya demam akan turun dalam 30-45 menit. Namun jika anak merasa semakin tidak nyaman dengan berendam, jangan lakukan hal ini.

Terapi yang Tidak Direkomendasikan

Upaya mendinginkan badan dengan melepas pakaian, mandi atau berbasuh air dingin, atau mengompres dengan alkohol. Jika nilai-ambang hipotalamus sudah direndahkan dengan antipiretik, upaya tersebut akan membuat tubuh menggigil sebagai usaha untuk menjaga temperatur pusat berada pada nilai-ambang yang telah disesuaikan. Selain itu alkohol dapat pula diserap melalui kulit masuk ke dalam peredaran darah dan beresiko keracunan.

Disusun oleh dr. Arifianto dan dr. Nurul Itqiyah Hariadi dan saya tulis kembali secara bebas

 
Leave a comment

Posted by pada April 16, 2008 in DEMAM

 

Kaitkata:

Kejang Demam Anak

Kejang Demam

Pada beberapa anak, demam dapat menimbulkan kejang. Kejang demam terjadi pada 2-5% anak antara usia 6 bulan sampai 5 tahun. Kejang merupakan hal yang menakutkan tetapi biasanya tidak membahayakan. Informasi dari brosur ini akan membantu anda untuk mengerti kejang demam dan apa yang terjadi jika hal ini terjadi pada anak anda.

Apakah kejang demam?

Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.

Kejang demam jarang terjadi lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Kejang karena sebab lain (kejang yang tidak disebabkan oleh demam) akan berlangsung lebih lama, dapat terjadi pada salah satu bagian tubuh saja dan dapat terjadi berulang.

Apa yang harus saya lakukan jika anak saya mengalami kejang demam?

Jika anak anda mengalami kejang demam, cepat bertindak untuk mencegah luka.

  • Letakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan jauhkan dari benda yang keras atau tajam
  • Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat mengalir keluar dari mulut
  • Jangan menaruh apapun di mulut pasien. Anak anda tidak akan menelan lidahnya sendiri.
  • Hubungi dokter anak anda

Apakah anak saya akan mengalami kejang lagi?

Kejang demam tampaknya timbul secara familial. Risiko terjadinya kejang pada episode demam yang lain tergantung dari usia anak anda. Anak yang berumur kurang dari 1 tahun pada saat kejang pertama memiliki risiko 50% untuk mengalami kejang demam lagi. Anak yang berusia lebih dari 1 tahun pada saat kejang pertama hanya memiliki risiko 30% untuk mengalami kejang demam lagi.

Akankah anak saya menderita epilepsi?

Epilepsi diartikan sebagai kejang berulang dan multipel. Kejang epilepsi tidak disebabkan oleh demam. Anak dengan riwayat kejang demam mempunyai risiko sedikit lebih tinggi menderita epilepsi pada usia 7 tahun dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mengalami kejang demam.

Apakah kejang demam membahayakan?

Kejang demam mungkin menakutkan tetapi tidak membahayakan untuk anak anda. Kejang demam tidak menyebabkan kerusakan otak, masalah sistem saraf, kelumpuhan, retardasi mental atau kematian.

Bagaimana menangani kejang demam?

Jika anak anda mengalami kejang demam, hubungi segera dokter anak anda. Dokter anda akan segera memeriksa anak anda untuk menentukan penyebab demamnya. Lebih penting untuk mencari penyebab demam dan mengobatinya dibandingkan kejangnya sendiri. Pengambilan cairan otak mungkin dilakukan untuk memastikan anak anda tidak mengalami infeksi serius seperti meningitis, terutama pada anak yang berusia kurang dari 1 tahun.

Secara umum, dokter tidak akan menyarankan untuk mengobati kejang demam sederhana dengan obat-obat preventif (pencegah). Akan tetapi hal ini tetap harus didiskusikan dengan dokter anak anda. Jika terjadi kejang lama atau kejang berulang, pengobatan mungkin akan berbeda.

Obat pereda demam seperti acetaminophen dan ibuprofen dapat menolong menurunkan demam, tetapi tidak mencegah kejang demam. Dokter anak anda akan memberitahu anda mengenai cara terbaik mengatasi demam anak anda.

Jika anak anda mengalami kejang demam, jangan takut akan hal yang buruk. Kejang ini tidak membahayakan anak anda dan tidak mengganggu kesehatan jangka panjang. Jika anda tertarik dengan masalah ini atau hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan anak, bicarakan dengan dokter anak anda.

Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia Online

 
Leave a comment

Posted by pada April 16, 2008 in DEMAM

 

Kaitkata:

Kejang Demam

Kejang Demam (Febris Konvulsi)

Saat duduk di depan lobi sebuah rumah sakit negeri di Denpasar, saya melihat seorang bapak dengan tergopoh gopoh menggendong anaknya menuju ke ruang UGD. Penasaran, saya beranikan diri menanyakan ke bapak itu apa yang terjadi
dengan anaknya, dengan suara yang masih terengah engah bapak itu menceritakan bahwa anaknya terkena *step*.

*Step* atau Kejang Demam masih sangat umum terjadi pada anak anak. Menurut
IDAI, kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun hampir 2 -
5%. Kejang merupakan hal yang menakutkan tetapi biasanya tidak membahayakan.
Orang tua akan panik begitu mendapatkan anaknya menderita kejang demam.

Apa yang dimaksud dengan Kejang Demam?, Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi
sistem saraf pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan
terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.

Secara umum, Kejang Demam dapat dibagi dalam dua jenis yaitu :
- *Simple febrile seizures* (Kejang Demam Sederhana) : kejang menyeluruh
yang berlangsung < 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam.
- *Complex febrile seizures / complex partial seizures* (Kejang Demam
Kompleks) : kejang fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung > 15 menit, dan atau berulang dalam waktu singkat (selama demam berlangsung).

Lalu apa yang membedakan kejang demam ini dengan epilepsi? Walaupun gejalanya sama yaitu kejang dan berulang, namun pada anak yang menderita epilepsi, episode kejang tidak disertai dengan demam.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara lain:
- Usia < 15 bulan saat kejang demam pertama
- Riwayat kejang demam dalam keluarga
- Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif normal
- Riwayat demam yang sering
- Kejang pertama adalah *complex febrile seizure*

Jika kejang terjadi segera setelah demam atau jika suhu tubuh relatif rendah, maka besar kemungkinannya akan terjadi kembali kejang demam. Risiko berulangnya kejang demam adalah 10% tanpa faktor risiko, 25% dengan 1 faktor risiko, 50% dengan 2 faktor risiko, dan dapat mencapai 100% dengan = 3 faktor risiko.

Bagaimana jika anak anda demam yang disebabkan oleh imunisasi?Walaupun imunisasi dapat menimbulkan demam, namun imunisasi jarang diikuti kejang demam. Suatu penelitian yang dilakukan memperlihatkan risiko kejang demam pada beberapa jenis imunisasi sebagai berikut :

· DTP : 6-9 per 100.000 imunisasi. Risiko ini tinggi pada hari imunisasi,dan menurun setelahnya.
· MMR : 25-34 per 100.000 imunisasi. Risiko meningkat pada hari 8-14 setelah
imunisasi.

Kejang demam pasca imunisasi tidak memiliki kecenderungan berulang yang lebih besar daripada kejang demam pada umumnya. Dan kejang demam pasca imunisasi kemungkinan besar tidak akan berulang pada imunisasi berikutnya. Jadi kejang demam bukan merupakan kontra indikasi imunisasi.

Sebenarnya, apa sih yang terjadi dalam tubuh saat anak mengalami kejang demam? Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10% – 15% dan kebutuhan oksigen 20%. Akibatnya terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel otak dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, sehingga terjadi lepasnya muatan listrik.

Lepasnya muatan listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh sel/membran
sel di dekatnya dengan bantuan neurotransmiter, sehingga terjadi kejang Kejang tersebut kebanyakan terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis (peradangan pada amandel), infeksi pada telinga, dan infeksi saluran pernafasan lainnya.

Kejang umumnya berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti, anak tidak memberi
reaksi apapun untuk sejenak, tetapi beberapa detik/menit kemudian anak akan
terbangun dan sadar kembali tanpa kelainan saraf. Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama (> 15 menit) sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan permanen dari otak.

Melihat paparan kejadian dalam tubuh diatas, saya tarik benang merah gejala yang bisa anda lihat saat anak mengalami Kejang Demam antara lain : anak mengalami demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba), kejang tonik-klonik atau grand mal, pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam).

Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung selama 10-20 detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya berlangsung selama 1-2 menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau rahangnya terkatup rapat, inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadarannya), gangguan pernafasan, apneu (henti nafas), dan kulitnya kebiruan.

Saat anak mengalami Kejang Demam, hal hal penting yang harus kita lakukan
antara lain :
- Jika anak anda mengalami kejang demam, cepat bertindak untuk mencegah luka.
- Letakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan jauhkan dari benda yang keras atau tajam
- Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat mengalir keluar dari mulut
- Jangan menaruh apapun di mulut pasien. Anak anda tidak akan menelan lidahnya sendiri.
- Hubungi dokter anak anda
Akhirnya timbul pertanyaan bagaimana cara mencegah agar anak tidak mengalami Kejang Demam, seperti yang saya tulis diatas kejang bisa terjadi jika suhu tubuh naik atau turun dengan cepat. Pada sebagian besar kasus, kejang terjadi tanpa terduga atau tidak dapat dicegah. Dulu digunakan obat anti kejang sebagai tindakan pencegahan pada anak-anak yang sering mengalami kejang demam, tetapi hal ini sekarang sudah jarang dilakukan.

Pada anak-anak yang cenderung mengalami kejang demam, pada saat mereka menderita demam bisa diberikan diazepam (baik yang melalui mulut maupun melalui rektal).

Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, perjalanan penyakitnya baik dan tidak menimbulkan kematian.

 
Leave a comment

Posted by pada April 16, 2008 in DEMAM

 

Kaitkata:

Understanding Fever

Fever — Understanding a Fever


Source :

http://www.aap.org/pubed/ZZZKJSIR25D.htm?&sub_cat=1

A fever is a body temperature that is higher than normal. Your child’s normal body temperature varies with his age, general health, activity level, the time of day and how much clothing he is wearing. Everyone’s temperature tends to be lower early in the morning and higher between late afternoon and early evening. Body temperature also will be slightly higher with strenuous exercise.

Most pediatricians consider any thermometer reading above 100.4 degrees Fahrenheit (38 degrees Celsius) a sign of a fever. This number may vary depending on the method used for taking your child’s temperature. If you call your pediatrician, say which method you used.

If your child has a fever, it is probably a sign that her body is fighting an infection. When your child becomes ill because of a virus or bacteria, her body may respond by increasing body temperature. It is important to remember that, except in the case of heat stroke, fever itself is not an illness — only a symptom of one. Fever itself also is not a sign that your child needs an antibiotic.

Many conditions, such as an ear infection, a common cold, the flu, a urinary tract infection or pneumonia, may cause a child to develop a fever. In some cases, medication, injury, poison or an extreme level of overactivity may produce a fever. An environment that is too hot may result in heat stroke, a potentially dangerous rise in body temperature. It is important to look for the cause of the fever.

Fevers are generally harmless and help your child fight infection. They can be considered a good sign that your child’s immune system is working and the body is trying to rid itself of the infection.

If your child has a fever, her heart and breathing rates naturally will speed up. You may notice that your child feels warm. She may appear flushed or perspire more than usual. Her body also will require more fluids.

Some children feel fine when they have a fever. However, most will have symptoms of the illness that is causing the fever. Your child may have an earache, a sore throat, a rash or a stomachache. These signs can provide important clues as to the cause of your child’s fever.

Related Articles

 
Leave a comment

Posted by pada April 16, 2008 in DEMAM

 

Kaitkata:

Fever Management

Fever Management

Department of Pediatrics
Children’s Hospital of Iowa
Peer Review Status: Internally Peer Reviewed
First Published: 1996
Last Revised: 2000



Fever

  • Fever is a rise in the body temperature to 101° Fahrenheit or greater
  • Fever is the body’s natural response to a viral or bacterial infection
  • Fever is considered beneficial to help the body fight infection and usually not dangerous
  • Feeling your child’s forehead, face, or stomach may help to decide if he has a fever, but is not very accurate unless the fever is fairly high
  • Taking a temperature is the only sure way to know if your child has a fever I Normal body temperatures may go up in the late afternoon or early morning

Call the clinic

  • If your baby less than 6 months of age has a temperature 101° F or higher
  • If your child’s fever is 104° or higher
  • If your child has other signs of illness (see When to Call the clinic)

Treating a Fever

Without medications

  • If your child has a fever yet is content, eating, drinking, or playing he may not need medication
  • Dress him in lightweight clothing or remove clothing to allow heat loss through the skin
  • Use a lightweight blanket if he feels cold or is shivering
  • Try to keep your child quiet – activity increases body temperature
  • Give your child extra fluids to prevent dehydration or extra loss of water (water, iced drinks, popsicles, Jello, juices, or whatever he will drink)

With medications

  • Medication is only needed to make your child more comfortable
  • Give Acetaminophen (Tylenol/Tempra/Liquiprin/Panedol) every 4 hours
  • If your health care provider orders lbuprofen (Pediaprofen/Motrin /Advil), give it every 6-8 hours
  • Do not use Aspirin for fever (it has been related to a serious illness, Reye’s Syndrome)
  • Always give your child medication for fever if he has had febrile seizure (seizures when your child has a fever)
  • Give your child a sponge bath with lukewarm water only (no cold water) if fever is higher than 104° F and fever is not decreased 30-60 minutes after medication is given– NEVER LEAVE HIM ALONE IN THE TUB
  • Stop the sponge bath if your child starts to shiver I Never use rubbing alcohol for baths or sponging
  • Alcohol can cool your child too quickly and can be absorbed through the skin causing alcohol poisoning

Age

0-3 months

4-11 months

1-2 years

2-3 years

4-5 years

Weight (lbs)

7-15 lbs

16-23 lbs

24-28 lbs

29-40 lbs

41-50 lbs

Acetaminophen
(Tylenol/Tempra/
Lipuiprin/Panedol)
dose in mg

40 mg

60-80 mg

100-120 mg

120-160 mg

240 mg

Drops
(1 dropperful = 80 mg/0.8 ml)

0.4

0.6-0.8

1-1.2

1.6

Elixir
(160 mg/5 ml or 1 teaspoon

2.5 ml
or 1/2 tsp

3.75 ml
or 3/4 tsp

5 ml
or 1 tsp

7.5 ml
or 1 1/2 tsp

Chewable Tablets
(80 mg each)

1 1/2

2

3

Ibuprofen *
(Pediaprofen/Motrin/Advil)
dose in mg

50-75 mg

100 mg

150 mg

150-200 mg

Ibuprofen
(100 mg/5 ml or 1 teaspoon)

2.5-3.75 ml
or 1/2-3/4 tsp

5 ml
or 1 tsp

7.5 ml
or 1 1/2 tsp

7.5-10 ml
or
1 1/2-2 tsp


* prescription medication

Temperature Conversion

Celsius* or Centigrade*

Graphic

Temperature Conversion

Fahrenheit (F) to Centigrade (C)

°F

95.0

95.2

95.4

95.6

95.8

°C

35.0

35.1

35.2

35.3

35.4



°F

96.0

96.2

96.4

96.6

96.8

°C

35.6

35.7

35.8

35.9

36.0



°F

97.0

97.2

97.4

97.6

97.8

°C

36.1

36.2

36.3

36.4

36.5



°F

98.0

98.2

98.4

98.6

98.8

°C

36.7

36.8

36.9

37.0

37.1



°F

99.0

99.2

99.4

99.6

99.8

°C

37.2

37.3

37.4

37.6

37.7



°F

100.0

100.2

100.4

100.6

100.8

°C

37.8

37.9

38.0

38.1

38.2



°F

101.0

101.2

101.4

101.6

101.8

°C

38.3

38.4

38.6

38.7

38.8



°F

102.0

102.2

102.4

102.6

102.8

°C

38.9

39.0

39.1

39.2

39.3



°F

103.0

103.2

103.4

103.6

103.8

°C

39.4

39.6

39.7

39.8

39.9



°F

104.0

104.2

104.4

104.6

104.8

°C

40.0

40.1

40.2

40.3

40.4



°F

105.0

105.2

105.4

105.6

105.8

°C

40.6

40.7

40.8

40.9

41.0



°F

106.0

106.2

106.4

106.6

106.8

°C

41.1

41.2

41.3

41.5

41.6

Body Temperatures

Normal

Fever

High fever

Axillary

98.0°F 36.7°C

99.4°F 37.5°C

104.4°F 40.8°C

Oral

98.6°F 37.0°C

100.0°F 37.8°C

105.0°F 41.1°C

Taking a Temperature

  • Do not use devices such as temperature strips placed on your child’s forehead or pacifier thermometers since they are not accurate
  • Take your baby or young child’s temperature under the arm (axillary)
  • Rectal temperatures are not recommended because they are more difficult to take safely
  • Never leave your child alone while taking his temperature

Types of Thermometers and Temperature Taking

Glass thermometer with mercury

  • Most common thermometer
  • Available as a rectal (shorter bulb) or oral (longer bulb) thermometer
  • Shake the mercury down past where the numbers start on the thermometer before and after each use
  • Always wash the thermometer after use with warm (not hot) soapy water or swab with rubbing alcohol
  • Rinse with cool water and dry after each use
  • Store thermometer in a safe place out of the reach of children in a container to prevent it from breaking
  • Pros – less expensive, very accurate
  • Cons – Fragile, numbers are hard to read, fussy children may not stay still for use of this type of thermometer

Axillary temperature

  • Hold tip of thermometer in the middle of the armpit with one hand
  • Use your other hand to hold your child’s arm snugly against his side
  • Hold the thermometer in place 3 to 4 minutes

Thermometer under childs arm

Oral temperature

  • Take an oral temperature only if your child is cooperative, and is 5 years of age or older
  • Younger children may bite and break the thermometer
  • Wait at least 10 minutes after your child drinks hot or cold liquids before taking temperature
  • Have your child sit or lie down
  • Put the tip of the thermometer under your child’s tongue
  • Tell your child to close his lips tightly but not to bite the thermometer
  • Keep the thermometer in place for 2 to 3 minutes
  • Never leave your child alone with the thermometer in his mouth

Thermometer in the mouth

Mercury Thermometer

Reading a mercury thermometer

  • Use your thumb and first 2 fingers to hold the thermometer by the end opposite the bulb
  • Hold the thermometer horizontally at eye level
  • Slowly turn the thermometer until the mercury column can be clearly seen
  • Compare the mercury column against the row of numbers along the side
  • The space between the longer lines is 1󠨯ne degree)
  • The space between each short line is 0.2󠨴wo-tenths of a degree) read the short lines as two-tenths, four-tenths, six-tenths, eight-tenths
  • Read the long line just to the left (toward the bulb end). of the mercury, count the short lines past the long line you just read, to the end of the mercury

Oral Thermometer and Rectal Thermometer

  • If your thermometer is in the Fahrenheit scale, the numbers will read 95..96..97..etc.
  • I If your thermometer is in the Centigrade scale, the numbers will read 35..36..37..etc.

Digital thermometer

  • Wipe with soapy water or rubbing alcohol and rinse with cool water
  • Turn on the switch
  • Place the sensor under your child’s armpit or under his tongue
  • Hold in place until it beeps when the highest temperature is reached
  • Pros – easy to read, beeps when ready, faster (about one minute)
  • Cons – more expensive, needs batteries, need to be careful to hold thermometer in place if your child is fussy

Digital Thermometer

Tympanic (ear) thermometer

  • Indicate if oral or rectal equivalent with a switch near top of the thermometer
  • Put tip of thermometer gently into your child’s ear canal
  • Press the start button
  • After one second, a digital reading appears in the small window
  • Pros – very fast reading, easier to use with a fussy child
  • Cons – most expensive (about $100), needs batteries, needs to be placed in the ear canal correctly for an accurate reading

Tympanic Thermometer

References

Gunderson Clinic, Ltd. (1987). The baby book. (pp. 39-41) La Crosse WI: Author McCormick, R., Gilson-Parkevich, T. (Eds.). (1979). Taking a temperature. In Patient and family education: Tools, techniques, and theory (pp. 272-273). Now York: John Wiley & Sons.
McCormick, R., Gilson- Parkevich, T. (Eds.). (1979). How to reduce a fever. in Patient and family education: Tools, techniques, and theory. (pp. 250-251). Now York: John Wiley & Sons.
Moss, J., The ups and downs of fever management. Small Talk, 5 (1) 1-7.
UIHC Department of Nursing (1991). Normal newborn instructions
UIHC Department of Nursing (1992). Fever telephone protocol
Weinstock, C., (1994). Focus on your child’s fever. Healthy Kids, 1(3) 26-30.
Whaley, L., & Wong, D. (1983). Nursing care of infants and children (pp. 417-627). St. Louis: C. V. Mosby Co.

 
Leave a comment

Posted by pada April 16, 2008 in DEMAM

 

Kaitkata:

Fever in Childrean

Fever in Children

Purnamawati S Pujiarto, Dr SpAK, MMPed

Demam merupakan masalah yang sering menimpa anak kita dan tidak sedikit kita2 sebagai orang tua mudah panik sehingga langsung ke dokter anak dan berharap agar cepat sembuh. Sebenarnya kalau kita tahu apa itu demam dan cara mengatasinya, tidak selalu kita harus ke dokter loh…

Lalu apa sih demam itu?
Demam adalah kondisi ketika suhu tubuh anak mencapai lebih dari 38C dan prosesnya terdiri dari 3 fase, yaitu (1) menggigil sampai suhu tubuh mencapai puncaknya (2) suhu menetap dan (3) suhu menurun.
Demam juga merupakan mekanisme tubuh untuk melawan penyakit, karena suhu tubuh yang tinggi dapat membunuh virus (yang bisa meningkat jumlahnya pada suhu tubuh rendah). So better not to treat low grade fever.

Bagaimana bisa timbul demam?
Peningkatan suhu tubuh ditimbulkan oleh beredarnya molekul kecil didalam tubuh kita yang disebut PIROGEN (zat pencetus panas). Zat ini juga berguna untuk mengerahkan sel darah putih ke lokasi infeksi dan terjadinya peningkatan pirogen ini bisa disebabkan karena;

  1. Infeksi
  2. Non Infeksi, seperti alergi, tumbuh gigi, keganasan, autoimun (adanya kesalahan “program” di dalam tubuh dimana organ tubuh kita disangka sebagai “musuh” dan diserang oleh sistem kekebalan tubuh kita sendiri) dan lain2.

Diantara kedua penyebab diatas, demam lebih sering disebabkan karena infeksi, bisa oleh bakteri atau virus and in most cases (more than 75%), infeksi ini disebabkan oleh virus , terutama pada bayi dan anak .

Jadi bisa disimpulkan bahwa demam bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu gejala….dan gejala tidak akan hilang apabila penyebabnya tidak ditangani. Makanya ketika anak diberikan obat penurun panas (tempra, panadol), dalam beberapa jam panasnya naik lagi, ini terjadi karena obat penurun panas tidak menyembuhkan penyakitnya.

Lalu apa dong gunanya minum obat penurun panas? gunanya adalah supaya menurunkan suhu tubuh, agar suhu tubuh tidak terus meningkat dan supaya anak merasa nyaman (pain killer), tetapi bukan untuk menormalkan suhu tubuh!
Sekali lagi mohon di ingat – demam bukan penyakit – demam adalah gejala & yang terpenting – cari penyebabnya.

Kalau penyebabnya infeksi virus seperti pilek atau flu, obatnya hanya waktu dan beberapa pegangan di bawah ini. Jangan berikan antibiotik karena antibiotik tidak dapat membunuh virus

Cara mengatasi demam

  1. Minum Banyak karena demam dapat menimbulkan dehidrasi (baca “kerugian yg dapat terjadi karena demam”).
  2. Kompres anak dengan air hangat.
    Kok bukan dengan air dingin? karena apabila diberi air dingin, otak kita akan menyangka bahwa suhu diluar tubuh dingin sehingga otak akan memerintahkan tubuh untuk menaikkan suhunya dengan cara menggigil sehingga memproduksi panas. Akibatnya suhu tubuh anak bukannya turun, melainkan tambah panas.
  3. Beri obat penurun panas, acetaminophen atau paracetamol seperti tempra, panadol, atau paracetol, tylenol, sesuai dosis. Kapan obat penurun panas diberikan? Bila suhu di atas 38.5C, atau bila anak uncomfortable. Sebaiknya jangan berikan obat demam apabila panasnya tidak terlalu tinggi (dibawah 38.5C).

Note: Baca attachment slide 3 & 4: Mekanisme Pengaturan Suhu Tubuh.

Ingat:

  • Sebaiknya kompres dilakukan ketika: anak merasa uncomfortable, suhu mencapai 40C, pernah kejang demam/keluarga dekat pernah menderita kejang demam atau anak muntah2 sehingga obat tidak bisa masuk.
  • Cara melakukan kompres: taruh anak di bath tub mandi dengan air hangat (30-32C) atau usapkan air hangat disekujur tubuh anak. Kalau anak menolak, duduk di bath tub beri mainan & ajak bermain.

Kerugian yang dapat terjadi karena demam

1. Dehidrasi
Tanda2nya: ubun2 cekung, kencingnya sedikit dan apabila punggung tangannya dicubit, kulitnya lambat kembali.
Yang harus dilakukan: beri minum yang banyak, jus buah, es batu atau es krim. Apabila anak muntah atau diare, berikan oralit, pedialite, atau kalau sudah di atas usia 1 tahun tetapi tidak menyukai pedialit atau oralit, dapat diberikan pocari sweat atau gatorade (yang penting minuman yg mengandung elektrolit).

2. Kejang Demam(Febrile convulsion)
Jarang terjadi, terutama pada anak usia antara 6 bulan – 3 tahun. Tanda2nya: hilang kesadaran, kedua tangan kakinya bergerak dalam waktu yang sebentar (istilah nya kejang yg menyeluruh atau generalized, tidak hanya satu sisi saja atau tangan saja atau kaki saja), biasanya berlangsung beberapa detik dan tidak lebih dari 5 menit.
Berbeda dgn kejang yg disebabkan epilepsi (kejang nya lama, tidak harus seluruh anggota tubuh yang mengalami kejang, dan setelah kejang tidak sadar) or radang otak akibat herpes simplex yg tanda2nya: hanya sebelah tangan kakinya yg bergerak dan terjadi dlm waktu lama, lebih dr 10 menit, dan setelah kejang pasien tidak sadar.

Walau nampak menakutkan, kejang demam umumnya tidak berbahaya, namun begitu apabila anak mengalami kejang, sebaiknya dibawa ke dokter.
Ada obat yang dapat mengurangi kejangnya, seperti diazepam atau valium yang berguna untuk merelaksasi otot. Tapi harus diberikan ketika terjadi kejang, tidak berguna apabila diberikan sebelum atau sesudah kejang.
Note:
Baca attachment slide 8: Complications dan slide 13; Management of Febrile Convulsion

Obat demam

Tabel dibawah menunjukkan beberapa obat demam yang tersedia di Indonesia.

Ibuprophen

Acetaminophen

Acetosal

Metamizole

Untuk mengobati

nyeri, demam, peradangan.

demam, nyeri.

nyeri, demam, peradangan.

nyeri, demam, peradangan.

Merk Dagang

Proris, Fenris, Motrin

Tempra, Panadol

Aspilet, Aspirin, Aseptosal

Novalgin

Efek Samping

Iritasi lambung, pendarahan saluran pencernaan. Jgn diberikan bila anak muntah/diare.

Paling aman, bila sesuai dosis. Overdose menyebabkan kerusakan hati.

Gangguan otak dan hati, iritasi lambung. Tidak untuk anak dibawah 12 tahun.

Alergi (contoh: muka bengkak)



Note:
Baca slide14 Fever medication. The best medication for our children is look for the safety, not the efficacy. And remember drugs carry the potentiiality to be
toxic, so - be sensible of using/consuming drugs.

Prinsip dalam menangani demam
Dibawah ini merupakan hal2 yg harus kita lakukan apabila anak demam as recommended by Mayo Clinic USA dan AAP )American Academy of Pediatrics):
- Cari tahu penyebab panasnya.
- Don’t panic! umumnya demam tidak membahayakan jiwa.
- Amati perilaku anak. Bila pada suhu tidak terlalu tinggi anak masih riang, aktif dan mau main, maka kita tidak perlu panik.
- Jangan memberikan obat penurun panas bila demam tidak tinggi.
- Mengetahui kapan harus cemas dan menghubungi dokter (lihat dibawah).

Kapan harus menghubungi dokter?

Dibawah adalah panduan yang dibuat oleh American Academy of Pediatrics:
- Bila bayi berusia kurang dr 3 bln dgn suhu tubuh mencapai 38C atau lebih.
- Bila bayi berusia 3-6 bln dgn suhu tubuh mencapai 38.3C atau lebih.
- Bila bayi & anak berusia lebih 6 bln dgn suhu tubuh mencapai 40C atau lebih.
- Tidak mau minum/ telah mengalami dehidrasi.
- Menangis terus menerus.
- Tidur terus menerus.
- Kejang
- Sesak nafas, gelisah, muntah or diare.

Diatas adalah ringkasan (ma’af yah rada panjang) dari seminar 1/2 hari mengenai “Demam Pada Anak” oleh Dr. Purnamawati SpAK MMPed pada tanggal 24 januari 2004, Jakarta Selatan. Untuk lebih jelasnya, mohon dibaca attachmentnya.

 
1 Comment

Posted by pada April 16, 2008 in DEMAM

 

Kaitkata:

Kupas Tuntas Stuip

sumber : http://www.parents.co.id/dsp_content.php?kat=3&pg=hns&emonth=12&eyear=2005

Kupas Tuntas Stuip

Stuip atau Step adalah salah satu gangguan yang kadang muncul pada anak. Bukan gangguan berbahaya. Tapi bila berlangsung lama segera beri pertolongan.

Ika (29 tahun) sedang bingung. Pasalnya, anak pertamanya baru saja terserang step. “Kata orang kalau anak mengalami step, otaknya jadi terganggu. Raka akan begitu nggak ya?” tanyanya pada dokter langggananya. Pertanyaan Ika beralasan, sebab kata Mama-nya, anak-anak yang terserang step biasanya akan terganngu kesehatannya. Ya, Mamanya memang ‘orang dulu’, tapi apakah di jaman serba maju begini step masih jadi momok menakutkan?

Kejang, Kontraksi Otot

Stuip atau ‘step’ adalah kejang yang diakibatkan karena anak mengalami demam tinggi. Terjadinya kejang, menurut dr. Debbie Latupeirissa, Sp.A(K), adalah karena akibat kontraksi otot berlebihan di luar kehendak. Kejang demam dialami 2%-3% anak-anak, dan dapat berlangsung secara singkat dan tidak berbahaya. Tapi bila kejang berlangsung hingga 15 menit, inilah kejang yang harus diwaspadai. Step jenis ini dapat membahayakan si kecil karena bisa menyebabkan kerusakan otak. Kerusakan otak pada gilirannya dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan retardasi mental.

Kejang atau step dapat terjadi karena adanya kelainan di otak atau oleh sebab gangguan lain di luar otak. Misalnya, kejang karena muntah atau diare yang biasanya disebabkan oleh gangguan elektrolit darah. Selain itu, kejang juga dapat timbul karena mengejangnya otot-otot pangkal tenggorok sebagai akibat menyempitnya jalan napas yang disebut kejang laring (laryngospasm). Tak hanya itu, epilepsi atau TBC otak juga dapat menyebabkan kejang pada anak. Kejang akibat kelainan di otak ini dapat disertai dengan atau tanpa demam.

Simpleks dan Kompleks

Jenis kejang sendiri ada dua ; kejang demam sederhana (simpleks) dan kejang demam kompleks. Pembagian ini berdasarkan pada usia saat timbulnya kejang pertama kali, jenis kejang, lamanya kejang dan ada tidaknya kelainan neurologist (saraf) yang sudah ada sebelumnya. Pada kejang demam sederhana, kejang terjadi disertai demam lebih dari 38,5 derajat Celcius atau dalam 16 jam demam pertama. Pada saat kejang, akan tampak gerakan berulang-ulang pada keempat anggota gerak (kaki dan tangan) ”Lamanya kejang tidak lebih dari lima belas menit, tapi dapat disertai wajah kebiruan, mata mendelik ke atas dan pada saat itu anak tidak sadarkan diri,” papar Debbie.

Kejang seperti ini biasanya takkan menyebabkan kerusakan pada otak. Kejang simpleks umumnya disebabkan oleh kelainan di luar otak, misalnya karena panas tinggi akibat penyakit infeksi saluran pernapasan atas atau lainnya. Saraf di otak merespon panas tubuh berlebih itu dengan memerintahkan kejang. Tingkat kepekaan saraf ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor keturunan atau kelainan saraf. Bila anak lahir dari orangtua atau keluarga terdekat pernah mengalami kejang maka kemungkinan besar kejang dapat menimpa anak. Sementara bila sebelumnya anak sudah menderita kelainan saraf seperti lumpuh atau adanya gerakan tidak normal, maka kejang berulang mungkin terjadi.

Hanya saja, anak dengan kejang simpleks berisiko terkena kejang kembali bila ia mengalami demam tinggi (kembali) sampai usia 4 tahun. Frekuensi kejang sendiri dapat berlangsung kurang dari 4 kali dalam setahun. Penyebabnya, karena ambang kejang terhadap suhu tinggi masih rendah. “Karena itu, bila di atas usia 4 tahun masih kejang demam, perlu dicurigai penyebab di dalam otak,” saran Debbie.

Sementara pada kejang demam kompleks, kejang dapat terjadi dengan atau tanpa demam, kejang lebih dari 15 menit dalam 1 episode. Kejang kompleks akan dialami oleh seluruh seluruh tubuh atau sebagian tubuh. ”Kejang kompleks umumnya karena ada kelainan neurologis atau saraf di otak.”

Hindari Kopi

Banyak mitos seputar step yang beredar di masyarakat. Diantaranya adalah minum kopi dicampur daging cicak yang sudah digoreng dan ditumbuk halus. ”Itu mitos!” tegas Debbie. Sebab, kejang simpleks akan berhenti sendiri (tanpa pengobatan) dalam waktu kurang dari 15 menit. Pemberian kopi tidak ada gunanya. “Sebaiknya orangtua juga tidak memberi apa-apa lewat mulut pada saat anak kejang. Tindakan begitu justru dapat membuat anak tersedak atau pernapasannya tersumbat. Akibatnya? Anda tahu sendiri,” jelas Debbie.

Seperti dijelaskan di atas, agar anak tak mengalami kejang berulang kelak kemudian hari, demam tinggi itu harus segera diturunkan dengan obat pereda panas. Obat pencegah kejang juga biasanya akan diberikan, bila dokter tahu riwayat si kecil. Kejang demam biasanya diobati dengan antiperik (penurun panas) seperti Diazepam. Sedangkan kejang akibat epilepsi ditangani dengan obat anti-epilepsi.

Jika seorang anak pernah mengalami serangan kejang yang lama–lebih dari 15 menit— atau terjadi berulang dengan jeda waktu yang singkat, di kemudian hari anak akan gampang mengalami kejang kembali. Sekalipun hanya menderita panas ringan. Itulah sebabnya dokter sering menganjurkan pada anak yang gejala kejangnya seperti itu untuk dicek lebih lanjut. Pengecekan ini untuk melihat apakah ada kelainan serius di otak atau mungkin memerlukan obat rutin seperti pada anak berpenyakit epilepsi. ”Karena itu, sebaiknya segera pergi ke dokter bila anak Anda mengalami kejang yang tidak berhenti,” saran Debbie. N PG

Cegah Sebelum Terlambat

Anak yang menderita kejang demam kemudian diikuti dengan kejang tanpa demam, erisiko lima kali lebih besar menderita retardasi mental. Bila Anda mendapati si kecil mengalami step, cobalah untuk :

  • Tidak panik
  • Longgarkan pakaian dan jalan napas (kerah baju) anak, lalu baringkan anak dalam posisi miring untuk mencegah masuknya cairan muntahan ke dalam paru-paru.
  • Ganjal rongga mulut dengan gagang sendok yang sudah dilapisi kain kasa atau kain bersih lainnya
  • Hindari melakukan pengkompresan dengan lap yang dingin, karena dapat menyebabkan korslet di otak. Suhu panas tubuh bertemu suhu dingin lap akan mengakibatkan ’benturan kuat’ di otak.
  • Kompres anak dengan air hangat atau alkohol 70% pada kedua ketiak dan selangkangan selama kurang lebih 15 menit. Bisa juga kain ini dilapkan ke anak dari kepala sampai ke ujung kaki selama sekitar 10 menit.
  • Kenakan baju tipis pada anak. Kalau anak dalam kondisi menggigil, boleh diselimuti, tapi setelah menggigilnya hilang langsung buka selimutnya.
  • Beri obat pereda yang dapat dimasukkan lewat dubur. Saat ini sudah tersedia obat kejang yang berbentuk cairan, yang dapat dikeluarkan isinya setelah ujung tabungnya berada di dalam anus.

Segera bawa ke rumah sakit bila dalam, diatas 10 menit kejang tidak berhenti.

 
5 Comments

Posted by pada April 16, 2008 in DEMAM

 

Kaitkata:

Fever

Fever

Original Article:
http://www.mayoclinic.com/invoke.cfm?id=DS00077
Overview

When you or your children aren’t feeling well, one of the first things you may do is check for a fever. Although a fever isn’t an illness itself, it’s usually a sign that something’s going on in your body. Yet fevers aren’t necessarily bad. In fact, they seem to play a key role in helping your body fight off a number of bacterial and viral infections.

A fever occurs when your temperature rises above its normal range. What’s normal for you may be a little higher or lower than the average temperature of 98.6 F. That’s why it’s hard to say just what a fever is. But a “significant” fever is usually defined as an oral or ear temperature of 102 F or a rectal temperature of 103 F. If you’re an adult, a fever may be uncomfortable, but it usually isn’t dangerous unless it rises above 103 F. For very young children and infants, however, even slightly elevated temperatures may indicate a serious infection. In newborns, a subnormal temperature — rather than a fever — may be a sign of serious illness.

Because a fever can occur with many different conditions, other signs and symptoms can often help identify the cause. For example, nausea and vomiting with a fever may mean gastroenteritis. A fever in addition to a cough that produces thick, yellow or green phlegm might be pneumonia.

If you don’t know why you have a fever, it’s best not to try to lower your temperature. This may only mask your symptoms and make it harder to determine the cause. In addition, some experts think that aggressively treating all fevers actually interferes with your body’s immune response. That’s because the viruses that cause colds and other respiratory infections thrive at cool temperatures. By producing a low-grade fever your body may actually be helping eliminate the virus. What’s more, most fevers go away in a relatively short time — usually within a few days.

Signs and symptoms

Depending on what’s causing your fever, your signs and symptoms may include:

* Sweating

* Shivering

* Headache

* Muscle aches

* Lack of appetite

* Dehydration

* General weakness

Very high fevers, between 103 and 106 F, may cause hallucinations, confusion, irritability and even convulsions.

Approximately four percent of children under age 5 experience fever-induced seizures (febrile seizures). The signs of febrile seizures, which occur when a child’s temperature rises or falls rapidly, include a brief loss of consciousness and convulsions. Although these seizures can be extremely alarming, most children don’t experience any lasting effects. Febrile seizures are often triggered by a fever from a common childhood illness such as roseola, a viral infection that causes a high fever, swollen glands and a rash.

Causes

Even when you’re well, your body temperature varies throughout the day — it’s lower in the morning and higher in the late afternoon and evening. In fact, your normal temperature can range from about 97 F to 99 F. Although most people consider 98.6 F a healthy body temperature, yours may vary by a degree or more.

Your body temperature is set by your hypothalamus, an area at the base of your brain that acts as a thermostat for your whole system. When something’s wrong, your normal temperature is simply set a few points higher. The new set-point, for example, may be 102 F instead of 97 F or 98 F.

When a fever starts and your body tries to elevate its temperature, you feel chilly and may shiver to generate heat. At this point, you probably wrap yourself in your thickest blanket and turn up the heating pad. But eventually, as your body reaches its new set-point, you likely feel hot. And when your temperature finally begins to return to normal, you may sweat profusely, which is your body’s way of dissipating the excess heat.

A fever usually means your body is responding to a viral or bacterial infection. Sometimes heat exhaustion or an extreme sunburn or certain inflammatory conditions such as temporal arteritis — inflammation of an artery in your head — may cause fever as well. Some medications such as antibiotics and drugs used to treat hypertension or seizures may do the same. In rare instances, a malignant tumor or some forms of kidney cancer may cause a fever.

Viral infections, strep throat and ear infections (otitis media) are the most common causes of fevers in children. Some infants and children develop fevers after receiving routine immunizations, such as the diphtheria, tetanus and pertussis (DTaP) or pneumococcal vaccines.

Sometimes it’s not possible to identify the cause of a fever. If you have a temperature higher than 100.5 F for more than three weeks and your doctor isn’t able to find the cause after extensive evaluation, the diagnosis may be fever of unknown origin. In most cases, though, the reason for your fever can be found and treated.

When to seek medical advice

Fevers by themselves may not be a cause for alarm — or a reason to call a doctor. Yet there are some circumstances when you should seek medical advice for your baby, your child or yourself.

For infants
An unexplained fever is greater cause for concern in infants and children than in adults. Call your baby’s doctor if your baby:

* Is younger than 3 months of age and has a rectal temperature of 100.5 F or more or an ear temperature of about 99.5 or higher. Even if your baby doesn’t have other signs or symptoms, call your doctor just to be safe.

* Is more than 3 months of age and has a temperature of 102 F or higher.

* Is a newborn who has a lower-than-normal temperature — under 95 F rectally.

* Has a fever and unexplained irritability, such as marked crying when you change your baby’s diapers or when he or she is moved. Some infants might have a fever and seem lethargic and unresponsive. In infants and children under age 2, these may be signs of meningitis, an infection and inflammation of the membranes and fluid surrounding your brain and spinal cord. If you’re worried that your baby might have meningitis, see your doctor right away. Don’t wait until morning to see your usual physician — meningitis is an emergency.

For children
Children often tolerate fevers quite well, although high temperatures may cause parents a great deal of concern. Still, it’s best to be guided more by how your child acts than by any particular temperature. If your child has a fever but is responsive and is drinking plenty of fluids and wanting to play, there’s probably no cause for alarm.

Call your doctor if your child is listless or irritable, vomits, or has a severe headache or stomachache. But don’t treat low-grade fevers (generally an oral temperature between 99 and 101 F) with any medications unless advised by your doctor.

For adults
Call your doctor about a fever if:

* Your temperature is more than 104 F

* Your temperature has been higher than 101 F for more than three days

* You have a temperature of 100.5 F for three weeks or more, but no other symptoms

In addition, call your doctor immediately if any of these signs and symptoms accompany a fever:

* A severe headache

* Severe swelling of your throat

* Unusual skin rash

* Unusual eye sensitivity to bright light

* Significant stiff neck and pain when you bend your head forward

* Mental confusion

* Persistent vomiting

* Difficulty breathing

* Extreme listlessness or irritability

* Abdominal pain or pain when urinating

* Any other unexplained symptoms

Screening and diagnosis

Your doctor will likely diagnose the cause of your fever based on your other symptoms and a physical exam. Sometimes you may need additional tests to confirm a diagnosis. If your doctor suspects pneumonia, for instance, you may have a chest X-ray following your physical exam. In other cases you may have blood or urine tests to check for signs of infection.

If you have a low-grade fever that persists for three weeks or more, but have no other symptoms, your doctor may recommend a variety of tests to help find the cause. These may include blood tests and X-rays.

Complications

A rapid rise or fall in temperature may cause a febrile seizure in a small percentage of children younger than age 5. Although they’re alarming for parents, the vast majority of febrile seizures cause no lasting effects.

If a seizure occurs, lay your child on his or her side. Remove any sharp objects that are near your child, loosen tight clothing and hold your child to prevent injury. Don’t place anything in your child’s mouth or try to stop the seizure. Although most seizures stop on their own, call for emergency medical assistance if the seizure lasts longer than five minutes.

If possible, try to time the seizure using your watch or a clock. Because they’re so alarming, seizures often seem to last longer than they really do. Also try to note which part of your child’s body begins to shake first. This can help your doctor understand the cause of the seizure. Your pediatrician should see your child as soon as possible.

Treatment

Medical treatment will depend on the cause of your fever. Your doctor will likely prescribe antibiotics for bacterial infections, such as pneumonia or tonsillitis. For viral infections, including stomach flu (gastroenteritis) and mononucleosis, the best treatment is often rest and plenty of fluids.

Your doctor may also suggest taking over-the-counter medications, such as acetaminophen (Tylenol, others) or ibuprofen (Advil, Motrin, others) to lower a very high fever. Adults may also use aspirin. But don’t give aspirin to children. It may trigger a rare, but potentially fatal, disorder known as Reye’s syndrome.

Prevention

The best way to prevent fevers is to reduce your exposure to infectious diseases. One of the most effective ways to do that is also one of the simplest — frequent hand washing.

Teach your children to wash their hands often, especially before they eat, and after using the bathroom, spending time in a crowded public place, or petting animals. Show them how to wash their hands vigorously, covering both the front and back of each hand with soap, and rinsing thoroughly under running water. Carry hand-washing towelettes with you for times when you don’t have access to soap and water. When possible, teach your kids not to touch their nose, mouth or eyes — the main way viral infections are transmitted.

Self-care

Because your body loses more water with a fever, be sure to drink plenty of fluids to avoid dehydration. Water is best, but if it’s hard to get your children to drink water, encourage them to drink juices or eat frozen ice pops. Adults and children should also get enough rest. Don’t be concerned with treating a fever just because it’s a fever. Often, a low-grade fever is actually helping fight off an infection. In addition, follow these guidelines for both children and adults:

For temperatures less than 102 F
Don’t give any medication for a fever in this range unless advised by your doctor. And don’t give children aspirin because of the risk of Reye’s syndrome. Instead, wear comfortable, light clothing and try bathing in lukewarm water. At bedtime, cover yourself or your children with just a sheet or light blanket.

For temperatures between 102 F and 104 F
Take acetaminophen or ibuprofen according to the label instructions or as recommended by your doctor. If you’re not sure about the proper dosage, be sure to check with your doctor or pharmacist. Adults may use aspirin instead. Be careful not to give too much medication. High doses or long-term use of acetaminophen may cause liver or kidney damage, and acute overdoses can be fatal. If you’re not able to get your child’s fever down, don’t give more medication. Call your doctor instead. Side effects of aspirin and other nonsteroidal anti-inflammatory drugs such as Motrin and Advil include stomach pain, bleeding and ulcers.

For temperatures greater than 104 F
Give adults or children acetaminophen or ibuprofen following the manufacturer’s instructions or as recommended by your doctor. Adults may use aspirin instead. If you’re not sure about the dosage, check with your doctor or pharmacist. Be careful not to give too much medication.

Acetaminophen is available in liquid, chewable and suppository forms for children, but it’s often easiest to give medications in liquid form. For a small child, use a syringe with measurements on the side and a bulb on the tip. Gently squirt the medicine in the back corners of your child’s mouth.

Use a sponge bath of lukewarm water to try to bring your own or your child’s temperature down. Recheck the temperature every 30 minutes. When it’s less than 102 F, you can stop sponging. If your child shivers in the bath, stop the bath, dry your child and wait. Shivering actually raises the body’s internal temperature — shaking muscles generates heat. If the fever doesn’t moderate or your child has a febrile seizure that lasts longer than five minutes, seek immediate medical care.

Taking a temperature
To check your or your child’s temperature level, you can choose from several types of thermometers, including electronic thermometers and ear (tympanic) thermometers. Thermometers with digital readouts and those that take the temperature quickly from the ear canal are especially useful for young children and older adults. Because glass mercury thermometers harm both humans and the environment, they’re being phased out and are no longer recommended.

Although it’s not the most accurate way to take a temperature, you can also use an oral thermometer for an armpit (axillary) reading. Place the thermometer in the armpit with arms crossed across the chest. Wait five minutes. The axillary temperature is about one degree less than an oral or rectal temperature.

Use a rectal thermometer for infants. Place a dab of petroleum jelly on the bulb. Lay your baby on his or her tummy. Carefully insert the bulb one-half inch to 1 inch into your baby’s rectum. Hold the bulb and your baby still for three minutes. Don’t let go of the thermometer while it’s inside your baby. If your baby squirms, it could go deeper and cause an injury.


By Mayo Clinic staff

DS00077

September 12, 2003

© 1998-2005 Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER). All rights reserved. A single copy of these materials may be reprinted for noncommercial personal use only. “Mayo,” “Mayo Clinic,” “MayoClinic.com,” “Mayo Clinic Health Information,” “Reliable information for a healthier life” and the triple-shield Mayo logo are trademarks of Mayo Foundation for Medical Education and Research.

 
Leave a comment

Posted by pada April 16, 2008 in DEMAM

 

Kaitkata:

Demam di Malam Hari Saja

Q: Why does my child always seem to get sick at night, but then appear
to be well the next morning? I either take him to the pediatrician and
try to convince her that my son really is sick (like when my car runs
perfectly for the mechanic) or I don’t take him and he gets sick again
as soon as the sun goes down (and my pediatrician’s office closes!)
San Mateo, California

A: You may feel like this only happens to your child, but you are not
alone! This happens to everyone, no matter what the age. There are
three primary reasons for this. First, the pressures in our bodies
change when we are horizontal. Lying down increases congestion, ear
pain, postnasal drip, sore throats, and several types of cough.

Additionally, our bodies are on a 24 hour clock called the Circadian
Rhythm. Hormone levels rise and fall according to this daily cycle.
Some hormones help us to wake up in the morning, others help us to
sleep at night. These same hormones affect how we feel pain. During
the day high levels of cortisol, a stress hormone, keep us from
feeling some of the pain and keep our fevers in check. At night our
fevers rise and our discomfort increases. As if this weren’t enough,
throughout the day our senses are barraged by gigabytes of stimuli
every second, and our brains are busy processing all the data. At
night the amount of stimuli we are bombarded with is drastically
reduced. This gives our brains an opportunity to pay more attention to
this already increased level of pain. These factors combine to greatly
amplify symptoms at night. Feeling better in the morning doesn’t mean
that you are better.

Obviously there are times that your child is so sick at night that you
will need to call your pediatrician for immediate care. If your son is
sick at night, but not sick enough to require urgent medical care, it
is still appropriate to take him to the pediatrician in the morning,
even if your child appears better. A good rule of thumb is, if you
wouldn’t want your son (or yourself) to have another night like the
last one, then it is time to consult your pediatrician.

Cukup jelas ya. Adanya irama sirkardian dalam tubuh kita mempengaruhi
hal ini juga. Namun prinsipnya, kita harus menguasai kapan anak perlu
dibawa ke dokter, dan ini sudah sering dibahas di milis (silakan lihat
arsip milis, atau guideline demam di websehat).

Angka 72 jam tidak menjadi patokan resmi, karena demam bisa saja
berlangsung hanya malam hari, namun 5 hari berturut-turut, dan
kemudian hilang dengan sendirinya. Guideline yg cukup singkat dan
mudah dipahami bagi anak Anda yg berumur 9 bulan ini bisa dibaca di
RCH: http://www.rch.org.au/clinicalguide/cpg.cfm?doc_id=5181

dr.apin

 
5 Comments

Posted by pada April 16, 2008 in DEMAM

 

Kaitkata:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.