Keluarga Sehat Keluarga Bahagia

Icon

Dengan memberi asi exclusive sampai 6 bulan dan MPASI home made serta menerapkan Rational Use Of Medicine maka keluarga kita pasti akan menjadi keluarga sehat dan keluarga bahagia

Tata Laksana Asma

sumber : www.sehatgroup.web.id

PENGANTAR

Asma merupakan penyakit saluran napas kronik (menahun) yang paling sering ditemukan, terutama di negara maju. Penyakit ini umumnya dimulai sejak masa anak-anak. Dampak negatifnya seperti menyebabkan anak sering tidak masuk sekolah, membatasi kegiatan olahraga, dan aktivitas seluruh keluarga.
Pedoman Nasional Asma Anak (Indonesia) mendefinisikan asma sebagai kumpulan tanda dan gejala wheezing/mengi dan/atau batuk dengan karakteristik sebagai berikut:

  1. timbul secara episodik dan/atau kronik,
  2. cenderung pada malam/dini hari (nokturnal),
  3. musiman,
  4. adanya faktor pencetus di antaranya aktivitas fisik, dan
  5. bersifat reversibel (bisa sembuh seperti sedia kala) baik secara spontan maupun dengan pengobatan, serta
  6. adanya riwayat asma atau atopi (kecenderungan mengidap alergi) lain pada pasien/keluarganya,
  7. sedangkan sebab-sebab lain sudah disingkirkan.

MEKANISME TERJADINYA ASMA

Konsep terkini mekanisme terjadinya asma, yaitu asma merupakan suatu proses inflamasi (peradangan) kronik/menahun yang khas, melibatkan dinding saluran respiratorik/napas, menyebabkan terbatasnya aliran udara, dan peningkatan reaktivitas (hiperreaktif/hipersensitif) saluran napas. Hiperreaktivitas ini merupakan awal terjadinya penyempitan saluran napas, sebagai respon terhadap berbagai macam rangsang.

Gambaran khas adanya inflamasi saluran napas adalah aktivasi sel-sel dalam darah dan sel berupa eosinofil, sel mast, makrofag, dan sel limfosit T pada mukosa (selaput lendir) dan lumen (muara) saluran napas. Perubahan ini dapat terjadi, meskipun secara klinis asmanya tidak bergejala. Sejalan dengan proses peradangan, perlukaan epitel (lapisan terluar) bronkus (batang paru-paru) merangsang proses perbaikan saluran napas yang menghasilkan perubahan struktural dan fungsional, dikenal dengan istilah remodelling.

DIAGNOSIS DAN KLASIFIKASI

Diagnosis

Mengi/wheezing berulang dan/atau batuk kronik berulang merupakan titik awal untuk menegakkan diagnosis. Termasuk yang perlu dipertimbangkan kemungkinan asma adalah anak-anak yang hanya menunjukkan batuk sebagai satu-satunya tanda, dan pada saat diperiksa tanda wheezing, sesak dan lain-lain sedang tidak timbul.

Asma sulit didiagnosis pada anak di bawah 3 tahun. Untuk anak yang sudah besar (>6 tahun) pemeriksaan faal/fungsi paru sebaiknya dilakukan. Uji fungsi paru yang sederhana dengan peak flow meter, atau yang lebih lengkap dengan spirometer. Lainnya bisa melalui uji provokasi bronkus dengan histamin, metakolin, latihan (exercise), udara kering dan dingin, atau dengan NaCl hipertonis.

Pemeriksaan ini berguna untuk mendukung diagnosis asma anak melalui 3 cara, yaitu didapatkannya:

  • Variabilitas pada PFR (peak flow rate) atau FEV1 (forced expiratory volume in 1 second) ≥15%

Variabilitas harian adalah perbedaan nilai (peningkatan/penurunan) hasil PFR dalam satu hari. Penilaian yang baik dapat dilakukan dengan variabilitas mingguan yang pemeriksaannya berlangsung ≥ 2 minggu.

  • Reversibilitas pada PFR atau FEV1 ≥15%

Reversibilitas adalah perbedaan nilai (peningkatan) PFR atau FEV1 setelah pemberian inhalasi bronkodilator.

  • Penurunan ≥20% pada FEV1 (PD20 atau PC20) setelah provokasi bronkus dengan metakolin atau histamin.

Penggunaan peak flow meter merupakan hal penting dan perlu diupayakan, karena selain mendukung diagnosis, juga mengetahui keberhasilan tata laksana asma. Jika tidak tersedia, dapat menggunakan Lembar Catatan Harian sebagai alternatif.

Pada anak dengan tanda dan gejala asma yang jelas, serta respon terhadap pemberian obat asma baik sekali, maka tidak perlu pemeriksaan diagnostik lebih lanjut.

Klasifikasi Derajat Penyakit Asma Anak

Dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tata Laksana Asma Jangka Panjang

Tujuan tata laksana asma anak secara umum adalah untuk menjamin tercapainya potensi tumbuh kembang anak secara optimal. Secara lebih rinci, tujuan yang ingin dicapai adalah:

  1. Anak dapat menjalani aktivitas normalnya, termasuk bermain dan berolahraga.
  2. Sesedikit mungkin angka absensi sekolah.
  3. Gejala tidak timbul siang ataupun malam hari.
  4. Uji fungsi paru senormal mungkin, tidak ada variasi diurnal (dalam 24 jam) yang mencolok.
  5. Kebutuhan obat seminimal mungkin dan tidak ada serangan.
  6. Efek samping obat dapat dicegah agar tidak atau sesedikit mungkin timbul, terutama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Apabila tujuan ini belum tercapai, maka perlu reevaluasi tata laksananya.

Tata Laksana Medikamentosa (dengan Obat-obatan)

Obat asma dapat dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu obat pereda (reliever) dan obat pengendali (controller).

Reliever, sering disebut obat serangan, digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma jika sedang timbul. Bila serangan sudah teratasi dan sudah tidak ada gejala lagi, maka obat ini tidak digunakan lagi.

Controller, sering disebut obat pencegah, digunakan untuk mengatasi masalah dasar asma, yaitu inflamasi respiratorik kronik (peradangan saluran napas menahun). Dengan demikian pemakaian obat ini terus-menerus dalam jangka waktu relatif lama, tergantung derajat penyakit asma, dan responnya terhadap pengobatan/penanggulangan. Controller diberikan pada Asma Episodik Sering dan Asma Persisten.

Asma Episodik Jarang

Asma episodik jarang cukup diobati dengan reliever berupa bronkodilator (melebarkan bronkus/batang paru-baru) beta agonis hirupan (inhaler/spray) kerja pendek (short acting β2-agonist, SABA) atau golongan xantin kerja cepat, bila terjadi gejala/serangan.

Kendala penggunaan spray ini adalah harganya yang mahal dan tidak tersedia di semua tempat. Selain itu pemakaian inhaler (Metered Dose Inhaler/MDI atau Dry Powder Inhaler/DPI) ini memerlukan teknik penggunaan yang benar (untuk anak besar), dan memerlukan alat bantu (untuk anak kecil/bayi). Bila obat hirupan tidak ada, maka beta agonis diberikan per oral (obat minum).

Penggunaan xantin kerja cepat (teofilin) sebagai bronkodilator makin kurang perannya dalam tata laksana asma, karena batas keamanannya (margin of safety) sempit. Namun mengingat di Indonesia obat beta agonis oral tidak selalu ada, maka dapat menggunakan teofilin dengan memperhatikan kemungkinan timbulnya efek samping. Selanjutnya dapat dilihat di lampiran 3.

Asma Episodik Sering

Jika penggunaan beta agonis hirupan sudah lebih dari 3x per minggu (tanpa menghitung penggunaan sebelum aktivitas fisik), atau serangan sedang/berat terjadi lebih dari sekali dalam sebulan, maka penggunaan anti inflamasi sebagai pengendali (controller) diperlukan, yakni steroid hirupan dosis rendah. Obat steroid yang sering digunakan pada anak adalah budesonid, sehingga digunakan sebagai standar.

Dosis rendah steroid hirupan adalah setara dengan 100-200 mg/hari budesonid (50-100 mg/hari flutikason) untuk anak berusia kurang dari 12 tahun, dan 200-400 mg/hari budesonid untuk anak berusia di atas 12 tahun. Pada penggunaan dosis 100-200 mg/hari belum dilaporkan adanya efek samping jangka panjang.

Sesuai dengan mekanisme dasar asma yaitu inflamasi/peradangan kronik, controller berupa anti inflamasi membutuhkan waktu untuk menimbulkan efek terapi. Penilaian dilakukan setelah 6-8 minggu, yaitu waktu yang diperlukan untuk mengendalikan inflamasinya. Apabila masih tidak respons (masih terdapat gejala asma atau gangguan tidur atau aktivitas sehari-hari), maka dilanjutkan dengan tahap kedua, yaitu menaikkan dosis steroid hirupan sampai dengan 400 mg/hari, yang termasuk dalam tata laksana asma persisten. Selanjutnya dapat dilihat dalam lampiran 3.

Prinsip pengobatan adalah: jika tata laksana suatu derajat penyakit asma sudah sesuai dengan panduan, namun respon tetap tidak baik dalam 6-8 minggu, maka derajat tata laksana berpindah ke yang lebih berat (step-up). Sebaliknya jika asmanya terkendali dalam 6-8 minggu, maka derajatnya beralih ke yang lebih ringan (step-down). Bila memungkinkan, steroid hirupan dihentikan penggunaannya.

Catatan: sebelum melakukan step-up, perlu dievaluasi (1) pelaksanaan penghindaran pencetus, (2) cara penggunaan obat, dan (3) penyakit penyerta yang mempersulit pengendalian asma (seperti rinitis dan sinusitis).

Asma Persisten

Cara pemberian steroid hirupan apakah dimulai dari dosis tinggi ke rendah selama gejala masih terkendali, atau sebaliknya dimulai dari dosis rendah ke tinggi hingga gejala dapat dikendalikan, tergantung pada kasusnya. Dalam keadaan tertentu, khususnya pada anak dengan penyakit berat, dianjurkan untuk menggunakan dosis tinggi dahulu, disertai steroid oral jangka pendek (3-5 hari). Selanjutnya dosis steroid hirupan diturunkan sampai dosis terkecil yang masih optimal.

Setelah pemberian steroid hirupan dosis rendah tidak mempunyai respons yang baik, diperlukan terapi alternatif pengganti, yaitu meningkatkan steroid menjadi dosis medium atau tetap steroid hirupan dosis rendah ditambah dengan LABA (long acting beta-2 agonist) atau ditambahkan teophylline slow release (TSR) atau ditambahkan anti-leukotriene receptor (ALTR). Dosis medium adalah setara dengan 200-400 µg/hari budosenid (100-200 µg/hari flutikason) untuk anak berusia kurang dari 12 tahun, dan 400-600 µg/hari budosenid (200-300 µg/hari flutikason) untuk anak berusia di atas 12 tahun.

Apabila dengan pengobatan lapis kedua selama 6-8 minggu tetap terdapat gejala asma, maka dapat diberikan alternatif lapis ketiga, yaitu dapat meningkatkan dosis kortikosteroid sampai dengan dosis tinggi, atau tetap dosis medium ditambahkan dengan LABA, atau TSR, atau ALTR. Yang dimaksud dosis tinggi adalah setara dengan > 400 µg/hari budesonid (> 200 µg/hari flutikason), untuk anak berusia kurang dari 12 tahun, dan > 600 µg/hari budesonid (> 300 µg/hari flutikason) untuk anak berusia di atas 12 tahun.

Penambahan LABA pada steroid hirupan dibuktikan dapat memperbaiki FEV1, menurunkan gejala asma, dan memperbaiki kualitas hidup. Apabila dosis steroid hirupan sudah mencapai > 800 mg/hari namun tidak mencapai respon, maka baru menggunakan steroid oral (sistemik). Jadi penggunaan kortikosteroid oral sebagai controller (pengendali) adalah jalan terakhir. Langkah ini diambil hanya bila bahaya dari asmanya lebih besar daripada bahaya efek samping obat. Sebagai dosis awal, steroid oral dapat diberikan 1-2 mg/kgBB/hari. Dosis kemudian diturunkan sampai dosis terkecil yang diberikan selang hari pada pagi hari. Efek samping steroid sistemik dapat dilihat dalam lampiran 4.

Pemberian antileukotrien (zafirlukas) dikontraindikasikan pada kelainan hati. Pemberian obat anti histamin generasi baru non sedatif (misalnya setirizin dan ketotifen), dipertimbangkan pada anak dengan asma yang disertai rinitis.

Cara Pemberian Obat

Cara pemberian obat asma harus disesuaikan dengan umur anak, karena perbedaan kemampuan menggunakan alat inhalasi. Perlu dilakukan pelatihan yang benar dan berulang kali.
Pemakaian alat perenggang (spacer) mengurangi deposisi (penumpukan) obat dalam mulut (orofaring), sehingga mengurangi jumlah obat yang tertelan, dan mengurangi efek sistemik. Deposisi (penyimpanan) dalam paru pun lebih baik, sehingga didapatkan efek terapetik (pengobatan) yang baik. Obat hirupan dalam bentuk bubuk kering (DPI = Dry Powder Inhaler) seperti Spinhaler, Diskhaler, Rotahaler, Turbuhaler, Easyhaler, Twisthaler memerlukan inspirasi (upaya menarik/menghirup napas) yang kuat. Umumnya bentuk ini dianjurkan untuk anak usia sekolah.

Pencegahan dan Intervensi Dini

Pencegahan dan tindakan dini harus menjadi tujuan utama dalam menangani anak asma. Pengendalian lingkungan, pemberian ASI ekslusif minimal 6 bulan, penghindaran makanan berpotensi alergenik (mampu mencetuskan alergi), pengurangan pajanan terhadap tungau debu rumah dan rontokan bulu binatang, terbukti mengurangi manifestasi alergi makanan, dan khususnya dermatitis atopik pada bayi, juga asma.

Penggunaan antihistamin non sedatif (tidak menyebabkan kantuk) seperti ketotifen dan setirizin jangka panjang dilaporkan dapat mencegah terjadinya asma pada anak dengan dermatitis atopik. Namun obat-obat ini tidak bermanfaat sebagai obat pengendali asma (controller),

Faktor Alergi dan Lingkungan (Menghindari Pencetus)

Saat ini telah banyak bukti bahwa alergi merupakan salah satu faktor penting berkembangnya asma. Paling tidak 75-90% anak asma balita terbukti mengidap alergi, baik di negara berkembang maupun negara maju. Atopi (kecenderungan mempunyai satu atau beberapa jenis dari kelompok besar alergi) merupakan faktor risiko yang nyata untuk menetapnya hiperreaktivitas bronkus dan gejala asma. Terdapat hubungan antara pajanan alergen (pencetus alergi) dengan sensitisasi. Pajanan yang tinggi berhubungan dengan peningkatan gejala asma pada anak.

Pengendalian lingkungan harus dilakukan untuk setiap anak asma. Penghindaran terhadap asap rokok merupakan rekomendasi penting. Keluarga dengan anak asma dianjurkan tidak memelihara binatang berbulu, seperti kucing, anjing, burung. Perbaikan ventilasi ruangan, dan penghindaran kelembaban kamar perlu untuk anak yang sensitif terhadap debu rumah dan tungaunya.

Perlu ditekankan bahwa anak asma seringkali menderita rinitis alergi dan/atau sinusitis yang membuat asmanya sukar dikendalikan. Deteksi dan diagnosis kedua kelainan itu yang diikuti dengan terapi adekuat akan memperbaiki gejala asmanya.

Beberapa penelitian menemukan bahwa banyak bayi dengan wheezing tidak berlanjut menjadi asma pada masa anak dan remajanya. Adanya asma pada orangtua, dan dermatitis (penyakit kulit eksim) atopik pada anak dengan mengi merupakan salah satu indikator terjadinya asma di kemudian hari. Apabila terdapat kedua hal tersebut, maka kemungkinan menjadi asma lebih besar.

Tata Laksana Serangan Asma

GINA membagi tata laksana serangan asma menjadi dua, tata laksana di rumah dan di rumah sakit. Tata laksana di rumah dilakukan oleh anak asma (atau orangtuanya) sendiri di rumah. Hal ini dapat dilakukan oleh mereka yang sebelumnya telah menjalani terapi dengan teratur, dan mempunyai pendidikan yang cukup. Terapi awal berupa inhalasi beta agonis kerja pendek hingga tiga kali dalam satu jam. Kemudian anak atau keluarganya diminta melakukan penilaian respons untuk penentuan derajat serangan, untuk ditindaklanjuti sesuai derajatnya. Namun untuk kondisi di negara kita, pemberian terapi awal di rumah seperti di atas cukup riskan, dan kemampuan melakukan penilaian juga masih dipertanyakan. Dengan alasan demikian, maka apabila setelah dilakukan inhalasi satu kali tidak mempunyai respons yang baik, maka dianjurkan mencari pertolongan dokter.

Obat Lain untuk Serangan Asma

  • Magnesium Sulfat

Pada penelitian multisenter, pemberian magnesium sulfat intravena (infus) di rumah sakit mempunyai efektivitas sama dengan pemberian beta agonis.

  • Mukolitik (pengencer dahak)

Pemberian mukolitik (misalnya Bisolvon sirup) pada serangan asma dapat saja diberikan, tetapi harus berhati-hati pada anak dengan refleks batuk yang tidak optimal. Pemberian mukolitik secara inhalasi (hirupan) tidak mempunyai efek yang signifikan, tetapi harus berhati-hati pada serangan asma berat.

  • Antibiotika

Pemberian antibiotika pada asma tidak dianjurkan, karena sebagian besar pencetusnya bukan infeksi bakteri, melainkan infeksi virus. Pada keadaan tertentu, antibiotika dapat diberikan, yaitu pada infeksi saluran napas yang dicurigai karena bakteri, atau dugaan sinusitis yang menyertai asma.

  • Obat sedasi (mempunyai efek membuat kantuk)

Pemberian obat sedasi pada serangan asma sangat tidak dianjurkan, karena menekan pernapasan.

  • Anti histamin (anti alergi)

Anti histamin jangan diberikan pada serangan asma, karena tidak mempunyai efek yang bermakna, bahkan dapat memperburuk keadaan.

TERAPI INHALASI

Pengobatan asma bertujuan untuk menghentikan serangan asma secepat mungkin, serta mencegah serangan berikutnya, ataupun bila timbul serangan kembali, serangannya tidak berat. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu diberi obat bronkodilator pada saat serangan, dan obat anti inflamasi sebagai obat pengendali untuk menurunkan inflamasi yang timbul.

Pemberian obat pada asma dapat melalui berbagai macam cara, yaitu parenteral (melalui infus), per oral (tablet diminum), atau per inhalasi. Pemberian per inhalasi adalah pemberian obat secara langsung ke dalam saluran napas melalui hirupan. Pada asma, penggunaan obat secara inhalasi dapat mengurangi efek samping yang sering terjadi pada pemberian parenteral atau per oral, karena dosis yang sangat kecil dibandingkan jenis lainnya.

Untuk mendapatkan manfaat obat yang optimal , obat yang diberikan per inhalasi harus dapat mencapai tempat kerjanya di dalam saluran napas. Obat yang digunakan biasanya dalam bentuk aerosol, yaitu suspensi partikel dalam gas.

Jenis Terapi Inhalasi

Pemberian aerosol yang idel adalah dengan alat yang sederhana, mudah dibawa, tidak mahal, secara selektif mencapai saluran napas bawah, hanya sedikit yang tertinggal di saluran napas atas, serta dapat digunakan oleh anak, orang cacat, dan orang tua. Namun keadaan ideal tersebut tidak dapat sepenuhnya tercapai.

Berikut beberapa alat terapi inhalasi:

  • Metered Dose Inhaler (MDI)
    1. MDI tanpa Spacer
    2. MDI dengan Spacer

Spacer (alat penyambung) akan menambah jarak antara alat dengan mulut, sehingga kecepatan aerosol pada saat dihisap menjadi berkurang. Hal ini mengurangi pengendapan di orofaring (saluran napas atas). Spacer ini berupa tabung (dapat bervolume 80 ml) dengan panjang sekitar 10-20 cm, atau bentuk lain berupa kerucut dengan volume 700-1000 ml. Penggunaan spacer ini sangat menguntungkan pada anak.

  • Dry Powder Inhaler (DPI)

Penggunaan obat dry powder (serbuk kering) pada DPI memerlukan hirupan yang cukup kuat. Pada anak yang kecil, hal ini sulit dilakukan. Pada anak yang lebih besar, penggunaan obat serbuk ini dapat lebih mudah, karena kurang memerlukan koordinasi dibandingkan MDI. Deposisi (penyimpanan) obat pada paru lebih tinggi dibandingkan MDI dan lebih konstan. Sehingga dianjurkan diberikan pada anak di atas 5 tahun.

  • Nebulizer

Alat nebulizer dapat mengubah obat yang berbentuk larutan menjadi aerosol secara terus-menerus, dengan tenaga yang berasal dari udara yang dipadatkan, atau gelombang ultrasonik. Aerosol yang terbentuk dihirup penderita melalui mouth piece atau sungkup.
Bronkodilator yang diberikan dengan nebulizer memberikan efek bronkodilatasi yang bermakna tanpa menimbulkan efek samping. Hasil pengobatan dengan nebulizer lebih banyak bergantung pada jenis nebulizer yang digunakan. Ada nebulizer yang menghasilkan partikel aerosol terus-menerus, ada juga yang dapat diatur sehingga aerosol hanya timbul pada saat penderita melakukan inhalasi, sehingga obat tdak banyak terbuang.

Sumber

Pedoman Nasional Asma Anak, UKK Pulmonologi PP Ikatan Dokter Anak Indonesia 2004
Referensi mengenai Asma pada anak lainnya bisa Anda dapatkan di:
www.aaaai.org/members/resources/initiatives/pediatricasthmaguidelines/default.htm
Read the rest of this entry »

Filed under: TATA LAKSANA PENYAKIT ,

My Baby Is Fussy

My baby is fussy! Is something wrong?

What is normal baby fussiness?
Whether breastfed or formula fed, during their first few months, many babies have a regular fussy period, which usually occurs in the late afternoon or evening. Some babies’ fussy periods come so regularly that parents can set their clocks by it! The standard infant fussiness usually starts at about 2 to 3 weeks, peaks at 6 weeks and is gone by 3 to 4 months. It lasts on “average” 2 to 4 hours per day. Of course, there is a wide variety of normal.

To distinguish between “normal” and a problem, normal usually occurs around the same time of day, with approximately the same intensity (with some variation); responds to some of the same things each time, such as motion, holding, frequent breastfeeding, etc.; and occurs in a baby who has other times of the day that he is
contentedly awake or asleep. Normal fussiness tends to occur during the time of the day that the baby usually stays awake more, the most common time is in the evening right before the time that the baby takes his longest stretch of sleep.

What causes babies to be fussy?
If you feel that your baby’s fussiness is not normal, it’s never a bad idea to get baby checked by the doctor to rule out any illness. A common cause of fussy, colic-like symptoms in babies is foremilk-hindmilk imbalance (also called oversupply syndrome, too much milk, etc.) and/or forceful let-down. Other causes of fussiness in babies include diaper rash, thrush, food sensitivities, nipple confusion,
low milk supply, etc.

Babies normally fuss for many reasons: overtiredness,
overstimulation, loneliness, discomfort, etc. Babies are often very fussy when they are going through growth spurts. Do know that it is normal for you to be “beside yourself” when your baby cries: you actually have a hormonal response that makes you feel uncomfortable when your baby cries.

Comfort measures for fussy babies (many fit into several different categories)

Basic needs
• Nurse
• Burp baby
• Change his diaper
• Undress baby completely to make sure no clothing is “sticking” him

Comforting Touch
• Hold baby
• Carry baby in a sling
• Give baby a back rub
• Carry baby in the “colic hold” (lying across your forearm, tummy down, with your hand supporting his chest)
• Lay baby across your lap & gently rub his back while slowly lifting & lowering your heels
• Lay baby tummy-down on the bed or floor and gently pat his back
• Massage your baby

Reduce stimulation
• Swaddle baby
• Dim lights and reduce noise

Comforting Sounds
• Play some music (try different styles and types of voices to see which baby prefers)
• Sing to baby
• Turn on some “white noise” (fan, vacuum cleaner, dishwasher)

Rhythmic motion / change of pace
• Nurse baby in motion (while walking around or rocking)
• Give baby a bath
• Rock baby
• Hold baby and gently bounce, sway back and forth or dance
• Put baby in a sling or baby carrier and walk around inside or outside
• Put baby in a baby swing (if he’s old enough)
• Take baby outside to look at the trees
• Take baby for a walk in the stroller
• Go for a car ride
• Set baby in a baby carrier (or car seat) on the dryer with the dryer turned on (stand by him, as the vibration can bounce the seat right off the dryer onto the floor)

One of the most interesting things I’ve seen in the research regarding infant fussiness is that almost anything a parent tries to reduce fussiness will work, but only for a short time (a few days), and then other strategies need to be used.

If you nurse and it doesn’t seem to help, then try other comfort measures. If you pick him up or nurse him, and baby is content, then that was what he needed. If it works, use it!

I’m worried about spoiling my baby
Your baby will not be spoiled if you hold him and nurse him often – quite the opposite, in fact. Studies have shown that when babies are held often and responded to quickly, the babies cry less, and the parents learn to read baby’s cues more quickly. A young child’s need for his mother is very intense – as intense as his need for food.

Know that your child really needs you. It is not about manipulation or something you can “fix” with the right discipline. Often a baby who is perceived as fussy is simply a baby who needs more contact with mom (and is smart enough to express this need) and is content once his needs are met. See the links below to read more about
spoiling.

Conclusion
Caring for a fussy baby can be very stressful! Give both yourself and baby some extra TLC. Surround yourself with supportive people, de-stress in other areas if possible (for example, minimize housework), and tell yourself you are doing a great job. It is very difficult to feel good about yourself as a parent when you have a
fussy baby. Don’t be too alarmed if your efforts seem to have no positive effect – they are. When you stay with your baby to try to provide comfort you are beginning to teach your baby that he can count on you and that he is loved.

Filed under: PERILAKU BAYI DAN ANAK

Tangisan Bayi

Memahami Tangis Bayi

Meliana Simarmata

“Bayi menangis karena ia ingin mengekspresikan sesuatu. Artinya, si kecil Anda mencoba untuk mengkomunikasikan sesuatu,? kata Eileen Costello MD, dokter anak dari Boston, Amerika Serikat. Hanya saja, bagi para orangtua baru hal ini bisa jadi masih membingungkan karena Anda masih kesulitan untuk mengartikan apa yang ingin dikomunikasikan si kecil melalui tangisnya. Lapar atau hauskah dia ataukah justru yang diinginkan olehnya adalah pelukan hangat dari Anda?

Sebenarnya ada pola tertentu dalam setiap tangis bayi yang perlahan-lahan bisa Anda kenali. Semakin Anda jeli dan paham akan perbedaannya akan makin mudah pula mengatasi tangisannya dan memenuhi dengan segera yang menjadi kebutuhan si kecil. Catharine Shaner MD, konsultan ahli dari American Safety & Health Institute memberikan beberapa petunjuk untuk membantu Anda memahami tangisan si kecil, antara lain :

?Aku lapar.? Hal yang paling sering menjadi alasan seorang bayi yang baru lahir hingga berusia 3 tahun menangis adalah karena ia merasa lapar. Demikian diungkapkan Adam Pallant MD, Direktur the pediatric residency program Hasbro Children’s Hospital, Providence. Biasanya, tangisannya terdengar berirama, pendek-pendek dan makin lama terdengar makin intens. Selain itu, jika diperhatikan si kecil juga terlihat membuka mulutnya dan mulai menggigit atau memasukkan jari ke dalam mulutnya.

“Aku lelah.” Bayi yang butuh tidur bisa mengeluarkan tangisan yang terdengar sangat mengganggu dan tidak beraturan. Atau bisa juga ia kelihatannya ingin menangis tetapi tidak. Si kecil juga akan menguap dan menggosok-gosok matanya, atau malah menjauh dari Anda. Untuk meredakan tangisnya, Janet Squires MD, profesor pediatri dari University of Texas, Dallas,menyarankan, “Bawa si kecil ke tempat yang tenang kemudian peluk, gendong, ayun-ayunkan dan usaplah dengan lembut perut atau tubuhnya. Tataplah ia agar ia merasa aman.? Jika hal itu tidak berhasil, cobalah untuk memandikan dia dengan air hangat agar si kecil merasa lebih rileks.

?Aku bosan.? Bisakah bayi yang baru berumur 6 minggu merasa bosan? Tentu saja! Saat si kecil sedang tertawa-tawa senang kemudian tiba-tiba mengeluarkan suara tinggi dan rendah yang terdengar tidak alami dan berlebihan, sebenarnya dia sedang mencoba mengkomunikasikan kalau ia merasa bosan. Yang dia inginkan adalah suasana berbeda yang dapat menghiburnya. Cobalah beberapa cara berbeda untuk mengatasinya seperti, menyanyi untuknya, menyalakan mainan yang bisa bergerak-gerak atau menarik perhatiannya, atau pindahkanlah si kecil ke tempat yang dapat memberinya pemandangan berbeda.

“Aduh, sakit!” Semakin keras dan intens tangisan bayi makin besar kemungkinan ia sedang merasa kesakitan. Tangisan seperti ini biasanya juga diikuti dengan mulutnya yang terbuka lebar serta tangan dan kaki yang menegang. Periksa segera bayi Anda untuk mencari tahu hal apa yang menyebabkannya merasa tidak nyaman dan kesakitan. Mungkin saja ia terjepit atau tertusuk sesuatu.

?Aku mau dipeluk!? Mungkinkah bayi menangis hanya karena ingin dipeluk? Tentu! Karena begitu ia menangis, tangisnya akan segera berhenti begitu Anda memeluknya. Tubuhnya yang bersentuhan dengan kulit dan tubuh Anda langsung dapat merasakan kedekatan dan kehangatan yang ia rindukan.

?Ganti popokku Ma.? Beberapa bayi akan dengan segera mengkomunikasikan ketidaknyamanannya karena pipis atau BAB, meskipun beberapa bayi lain terlihat tidak terlalu terganggu dengannya. Untuk mengatasinya Anda tinggal memeriksa apakah popoknya kotor, kemudian menggantinya. Masalah pun beres.

Mengapa Bayi Anda Menangis?

Oleh suririnah

Tangisan bayi ternyata mempunyai suara yang berbeda-beda untuk mengungkapkan setiap keinginannya. Anda akan belajar pelahan-lahan untuk memahami arti dari setiap tangisan bayi anda.

Mengapa bayi selalu menangis? Bayi menangis sebab ini satu-satunya cara mereka berkomunikasi dengan orang tuanya. Sebagai orang tua baru anda akan merasa bahwa semua tangisan terdengar sama dan bertanya apa sebenarnya yang diingikan bayi anda. Tapi dengan berjalannya waktu anda akan belajar pelahan-lahan memahami arti dari setiap tangisan bayi anda, sehingga anda tidak menjadi panic atau putus asa karena tangisannya lagi.

Yakinlah bersamaan dengan waktu anda akan belajar bahwa tangisan bayi mempunyai suara yang berbeda, memang tidak mudah memahaminya, dan memerlukan waktu untuk mengerti arti tangisan bayi anda, serta dibutuhkan kesabaran dari ayah-ibu, tapi disinilah kebahagian menjadi orang tua anda belajar mengerti bayi anda, jangan lupa sikecilpun sedang belajar mengerti anda.

Beberapa alasan mengapa bayi anda menangis:

Lapar. .Tangisan karena lapar biasanya terus menerus, iramanya teratur, lama kelamaan bertambah keras. Check juga kapan terakhir anda memberi makan/susu kepada bayi anda?, Jika bayi belum disusui(ASI) setelah 1-2 jam atau dengan susu formula sekitar 2 jam maka mungkin bayi anda menangis karena lapar.

Minta Ganti Popok. Bayi juga dapat merasa tidak nyaman dengan tubuhnya, baik itu terasa kotor atau basah pada popoknya dan mereka belum dapat menyatakan ketidaknyaman itu pada kita sehingga mereka hanya menangis. Tangisannya mirip seperti tangisan lapar tapi anda dapat mencek kapan terakhir anda memberikan susu. Pada beberapa bayi tidak menangis meskipun basah atau kotor. Perlunya bagi orang tua untuk mengecek popok si kecil secara berkala, umumnya setelah waktu minum.

Kedinginan. Bayi baru lahir merasa senang bila dibungkus dengan kain sehingga menjadi hangat. Karena mereka terbiasa dengan kehangatan dan kenyamanan sewaktu mereka dalam rahim ibunya. Sehingga sewaktu anda membuka baju bayi anda untuk dimandikan atau diganti popok, bayi akan menangis sebagai penyataan kehilangan rasa hangat dan nyaman. Tangisan terdengar seperti rintihan. Tapi setelah anda memberikan baju atau selimut bayi akan berhenti menangis. Juga jangan terlalu membungkus rapat atau memberikan baju yang berlebihan karena bayi juga dapat merasa kepanasan.

Minta digendong dan dipeluk. Bayi sangat senang melihat wajah orang tuanya mendengar suara, detak jantung dan mencium bau tubuh ibu (terutama bau dari air susu ibu). Mereka senang untuk dipeluk setelah selesai disusui, dimandikan atau digantikan popoknya, dan yakinlah bayi anda akan tertidur dalam pelukan/gendongan anda. Jadi bayipun menangis untuk menarik perhatian anda.

Kelelahan. Beberapa bayi yang tidak terbiasa dengan lingkungan baru akan menangis ketika mereka merasa lelah, dan biasanya bayi yang belum tidur sejenak, maka akan lebih mudah rewel, dan akna mulai menangis dengan gangguan kecil saja. Kita dapat menilai kalau bayi kelelahan dengan melihat bayi mengusap-usap matanya atau telinganya. Anda dapat menghindari hal ini dengan selalu memberikan waktu rutin dimana bayi mempunyai waktu untuk istirahat.

Stimulus yang berlebihan. Tidak semua bayi dapat beradaptasi dengan mudah pada lingkungan barunya. Jika bayi berada di tempat baru dengan banyak wajah-wajah baru, yang ingin mengendongnya bergantian, bagi bayi dapat menjadi sangat tidak menyenangkan dan tidak nyaman. Bayi akan menangis karena stimulasi yang berlebihan. Dalam situasi seperti ini tenangkan sikecil, gendong, ajak ketempat yang agak sepi, cobalah untuk membatasi jumlah orang yang akan mengendong bayi anda.

Bosan. Jangan pikir bayi hanya menangis karena lapar dan basah popok. Bayi anda juga dapat merasa bosan dengan rutin yang ada. Cobalah bawa bayi anda berkeliling dengan tempat duduknya bawalah kemana anda pergi, ikutkan dalam aktivitas anda. Bayi senang melihat warna-warni jadi bila bayi sudah cukup kuat untuk tengkurap anda dapat meletakkan mainan atau buku dengan gambar yang menarik.

Tangisan karena sakit. Tangisan karena bayi anda kesakitan berbeda dengan tangisa karena lapar, bayi menangis dengan keras, menahan nafas sebentar karena rasa tak enaknya, dan sekali-kali menangis dengan nada yang tinggi. Percayalah terhadap naluri anda ketika bayi menangis tidak dengan seharusnya. Anda dapat membawa ke dokter untuk memastikanya.

Kolik. Kolik dimana bayi menangis dalam 3 jam sehari atau 3 hari perminggu. Jika bayi menangis dalam kesakitan, mukaya menjadi kemerahan, perutnya tegang, menarik kakinya, dan mengepalkan tangannya, kemungkinan terjadi kolik pada bayi anda. Sekitar 1 dari 5 bayi mengalami kolik tapi biasanya berakhir setelah bayi berusia 3 bulan. Menenangkan bayi yang sedang kolik tidak mudah, karena bayi sedang kesakitan cobalah untuk meringankan kesakitannya dengan memngendong dan mengayunkan perlahan, nyanyikan lagu yang lembut, usaplah punggung atau perutnya. Bila berlanjut bawalah ke dokter secepatnya

Apapun yang anda lakukan ingatlah bahwa bayi anda menangis karena inilah satu-satunya cara komunikasi yang dapat dilakukannya, jadi jangan menjadikan anda putus asa–Bayi anda hanya ingin berbicara pada anda melalui tangisannya.

© Dr.Suririnah-www.InfoIbu.com

Mempelajari Tangisan Bayi

Setiap kali seorang bayi menangis, pasti si ibu akan menyorongkan payudaranya atau membopongnya. Tapi, ketika dua hal itu sudah dilakukan, dan si mungil masih saja menangis, barulah si ibu bingung.

Nah, coba saja si ibu tahu arti tangisan itu, kan tak perlu bingung?

Tapi, bagaimana tahu arti tangisan bayi?

Tangisan merupakan alat komunikasi pertama yang dikuasai bayi. Lewat tangisan, bayi mengutarakan keinginan dan kebutuhannya secara efektif. Tak heran, bayi menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas ini.

Dalam buku Your Child’s Body Language, Dr. Richard Woolfson menjelaskan bahwa tangisan bayi mempunyai arti berbeda-beda. Setiap jenis tangisan mengkomunikasikan pesan tersendiri untuk ayah ibunya.

Di bawah ini beberapa contoh tangisan bayi dan cara mengatasinya.

Tangisan Aku Ingin Menyusu:
Bayi Anda akan mulai menangis jika lapar. Tangisannya biasanya berulang-ulang. Pertama, ia menangis lalu berhenti sejenak untuk mengambil napas, menangis lagi, berhenti sejenak untuk mengambil nafas, demikians seterusnya. Mengatasinya, susui dia hingga kenyang. Atau, jangan-jangan sudah waktunya makan?

Tangisan Popokku Kotor:
Bayi lebih suka popoknya bersih dan kering. Jika popoknya basah ia akan menangis karena merasa tidak dari rasa tidak nyaman. Tangisan pengumumam popokku kotor biasanya perlahan, kemudian makin keras dan makin keras. Anda juga bisa memperhatikan bahwa ia bergeliut-geliut di tempat tidurnya. Mengatasinya, segera periksa popoknya. Ia barangkali memerlukan popok yang baru.

Tangisan Badanku Sakiiit:
Semua bayi menangis jika ia merasa sakit. Tangisan jenis ini adalah tangisan bernada tinggi, hampir seperti jeritan, kemudian ia terengah-engah pada saat menarik nafas, lalu menjerit lagi. Jalan keluar, cobalah temukan apa yang membuatnya kesakitan. Pegang perutnya, jangan-jangan kejang. Goyang-goyang tangan, kaki atau leher dan kepalanya. Jika ia menjerit lebih keras ketika menggoyang bagian tertentu, mungkin ada yang sakit karena terjatuh tanpa sepengetahuan Anda. Kompreslah bagian yang sakit dengan air hangat.

Tangisan Aku Bosan:
Bayi selalu memerlukan stimulasi dan akan timbul bosan jika ia tidak memperolehnya, atau bahkan bosan dengan satu aktivitas saja. Tangisan jenis ini dirancang untuk mendapat perhatian Anda. Makanya, tangisan ini lebih mirip teriakan ketimbang tangisan. Dan, ia akan tetap menagis seperti ini selama ia merasa bosan. Mengatasinya, ganti aktivitasnya. Misal, temani dia bermain, menyenandungkan nyanyian, membacakan cerita atau bisa juga ajak jalan-jalan.

Tangisan minta gendong:
Bayi Anda akan menjadi cengeng jika lelah, walaupun ia mungkin tidak ingin tidur. Ia akan merengek dengan menjengkelkan. Kepalanya mungkin terangguk-angguk untuk beberapa detik, dan mungkin Anda melihat bahwa ia menggosok-gosokkan tangannya pada mata serta wajahnya. Mengatasinya, ayunlah ia perlahan-lahan sampai akhirnya ia jatuh tertidur.

Tangisan kesepian:
Bayi Anda senang bergaul. Ia ingin Anda selalu berada di sisinya. Jika merasa kesepian, tangisannya akan terdengar menyedihkan. Seakan ia tengah sedih atau marah. Mengatasinya, luangkan waktu bersamanya paling tidak sampai ia tenang. Jika Anda perlu menyelesaikan sesuatu, gendonglah ia sampai tenang, kemudian lanjutkan pekerjaan anda bersamanya di sisi Anda.


Nah, itulah beberapa ciri tangisan bayi Anda. Dan, kini sudah tahu rahasianya, kan? Jadi, jangan langsung nyorongkan payudara lagi, ya? (ia/cbn/CN02)

(sumber: CyberNews Suara Merdeka)

Filed under: PERILAKU BAYI DAN ANAK

All About Sleep


http://www.kidshealth.org/parent/ general/sleep/ sleep.html

Sleep — or lack of it — is probably the most-discussed aspect of baby
care. New parents discover its vital importance those first few weeks
and months. The quality and quantity of an infant’s sleep affects the
well-being of everyone in the household — it’s the difference between
being cheerful, alert parents and members of the walking dead.

And sleep struggles rarely end with a growing child’s move from crib
to bed. It simply changes form. Instead of cries, it’s pleas or
refusals. Instead of a feeding at 3:00 AM, it’s a nightmare or
request for water.

So how do you get your child to bed through the cries, screams,
avoidance tactics, and pleas? How should you respond when you’re
awakened in the middle of the night? And how much sleep is enough for
your child? It all depends on your child’s age.

How Much Is Enough?
Charts that list the hours of sleep likely to be required by an
infant or a 2-year-old may cause concern when individual differences
aren’t considered. These numbers are simply averages reported by
large groups of children of particular ages.

There’s no magical number of hours required by all kids in a certain
age group. Two-year-old Sarah might sleep from 8:00 PM to 8:00 AM,
whereas 2-year-old Johnny is just as alert the next day after
sleeping from 10:00 PM to 5:00 AM. Still, sleep is very important to
a child’s well-being. The link between a child’s lack of sleep and
his or her behavior isn’t always obvious. When adults are tired, they
can either be grumpy or have low energy, but kids can become hyper,
disagreeable, and have extremes in behavior.

Most children’s sleep requirements fall within a predictable range of
hours based on their age, but each child is a unique individual with
distinct sleep needs. Here are some approximate numbers based on age,
accompanied by age-appropriate pro-sleep tactics.

The First 6 Months
There is no sleep formula for newborns because their internal clocks
aren’t fully developed yet. They generally sleep or drowse for 16 to
20 hours a day, divided about equally between night and day.

Newborns should be awakened every 3 to 4 hours until their weight
gain is established, which typically happens within the first couple
of weeks. After that, it’s OK if a baby sleeps for longer periods of
time. But don’t get your slumber hopes up just yet — most infants
won’t snooze for extended periods of time because they get hungry.

Newborns’ longest sleep periods are generally 4 or 5 hours — this is
about how long their small bellies can go between feedings. If
newborns do sleep for a while, they will likely be extra hungry
during the day and may want to nurse or get the bottle more
frequently.

Just when parents feel that sleeping through the night seems like a
far-off dream, their baby’s sleep time usually begins to shift toward
night. At 3 months, a baby averages 5 hours of sleep during the day
and 10 hours at night, usually with an interruption or two. About 90%
of babies this age sleep through the night, meaning 6 to 8 hours in a
row.

But it’s important to recognize that babies aren’t always awake when
they sound like they are; they can cry and make all sorts of other
noises during light sleep. Even if they do wake up in the night, they
may only be awake for a few minutes before falling asleep again on
their own. It’s best if babies learn early to get themselves to
sleep, so let your baby try.

If a baby under 6 months old continues to cry for several minutes,
it’s time to respond. Your baby may be genuinely uncomfortable:
hungry, wet, cold, or even sick. But routine nighttime awakenings for
changing and feeding should be as quick and quiet as possible. Don’t
provide any unnecessary stimulation, such as talking, playing, or
turning on the lights. Encourage the idea that nighttime is for
sleeping. You have to teach this because your baby doesn’t care what
time it is as long as his or her needs are met.

Ideally, your baby should be placed in the crib before falling
asleep. And it’s not too early to establish a simple bedtime routine.
Any soothing activities, performed consistently and in the same order
each night, can make up the routine. Your baby will associate these
with sleeping, and they’ll help him or her wind down. You want your
child to fall asleep independently, and a routine encourages babies
to go back to sleep if they should wake up in the middle of the night.

6 to 12 Months
At 6 months, an infant may nap about 3 hours during the day and sleep
about 11 hours at night. At this age, you can begin to change your
response to an infant who awakens and cries during the night.

You can give babies at this age 5 minutes to settle down on their own
and go back to sleep. If they don’t, you can comfort them without
picking them up (talk softly, rub their backs), then leave — unless
they appear to be sick. Sick babies need to be picked up and
comforted. If your baby doesn’t seem sick and continues to cry, you
can wait a little longer than 5 minutes, then repeat the short crib-
side visit.

After several days, your baby should find it easier to get back to
sleep on his or her own. But if your 6-month-old continues to wake up
five or six times each night, talk to your doctor.

Between 6 and 12 months, separation anxiety becomes a major issue for
some babies and may cause them to start waking up again. But the
rules for nighttime awakenings are the same through a baby’s first
birthday: Don’t pick up your baby, turn on the lights, sing, talk,
play, or feed your child. All of these activities encourage repeat
behavior.

If your baby wakes up crying at night, you can check in to make sure
he or she isn’t sick or in need of a diaper change. You can pat your
child lovingly on the back or belly. Using a pacifier or thumb
sucking can also help children of this age learn to calm and reassure
themselves. If your baby continues to cry, you can institute the 5-
minute visit pattern.

1 to 3 Years
From ages 1 to 3, most toddlers sleep about 10 to 13 hours.
Separation anxiety, or just the desire to be up with mom and dad (and
not miss anything), can motivate a child to stay awake. So can simple
toddler-style contrariness.

Note the time of night when your toddler begins to show signs of
sleepiness, and try establishing this as his or her regular bedtime.
And you don’t have to force a 2- or 3-year-old child to nap during
the day unless yours gets cranky and overly tired.

Parents sometimes make the mistake of thinking that keeping a child
up will make him or her sleepier for bedtime. In fact, though, kids
can have a harder time sleeping if they’re overtired.

Establishing a bedtime routine helps kids relax and get ready for
sleep. For a toddler, the routine may be from 15 to 30 minutes long
and include calming activities such as reading a story, bathing, and
listening to soft music.

Whatever the nightly ritual is, your toddler will probably insist
that it be the same every night. Just don’t allow rituals to become
too long or too complicated. Whenever possible, allow your toddler to
make bedtime choices within the routine: which pajamas to wear, which
stuffed animal to take to bed, what music to play. This gives your
little one a sense of control over the routine.

But even the best sleepers give parents an occasional wake-up call.
Teething can awaken a toddler and so can dreams. Active dreaming
begins at this age, and for very young children, dreams can be pretty
alarming. Nightmares are particularly frightening to a toddler, who
can’t distinguish imagination from reality. (So carefully select what
TV programs, if any, your toddler sees before bedtime.)

Comfort and hold your child at these times. Let your toddler talk
about the dream if he or she wants to, and stay until your child is
calm. Then encourage your child to go back to sleep as soon as
possible.

Preschoolers
Preschoolers sleep about 10 to 12 hours per night, but there’s no
reason to be completely rigid about which 10 to 12 hours they are. A
5-year-old who gets adequate rest at night no longer needs a daytime
nap. Instead, a quiet time may be substituted. Most nursery schools
and kindergartens have brief quiet periods when the children lie on
mats or just rest.

A 5-year-old child may still have nightmares and trouble falling
asleep some nights. You can prepare a “nighttime kit” that includes
activities to pass the time and relax your child. It might include a
flashlight, a book, and a cassette or CD player and story tape or CD.
Use the kit together, then put it in a special place in your child’s
room where he or she can get to it in the middle of the night.

School-Age Children and Preteens
Kids ages 6 to 9 need about 10 hours of sleep a night. Bedtime
difficulties can arise at this age from a child’s need for private
time with parents, without siblings around. Try to make a little
private time just before bedtime and use it to share confidences and
have small discussions, which will also prepare your child for sleep.

Children ages 10 to 12 need a little over 9 hours of shuteye a night.
But it’s up to parents to judge the exact amount of rest their
children need and see that they’re in bed in time for sufficient
sleep.

Lack of sleep for kids can cause irritable or hyper types of behavior
and can also make a condition like attention deficit hyperactivity
disorder (ADHD) worse.

Teens
Adolescents need about 8 to 9.5 hours of sleep per night, but many
don’t get it. And as they progress through puberty, teens actually
need more sleep. Because teens often have schedules packed with
school and activities, they’re typically chronically sleep deprived
(or lacking in a healthy amount of sleep).

And sleep deprivation adds up over time, so an hour less per night is
like a full night without sleep by the end of the week. Among other
things, sleep deprivation can lead to:

decreased attentiveness
decreased short-term memory
inconsistent performance
delayed response time
These can cause generally bad tempers, problems in school, stimulant
use, and driving accidents (more than half of “asleep-at-the- wheel”
car accidents are caused by teens).

Adolescents also experience a change in their sleep patterns — their
bodies want to stay up late and wake up later, which often leads to
them trying to catch up on sleep during the weekend. This sleep
schedule irregularity can actually aggravate the problems and make
getting to sleep at a reasonable hour during the week even harder.

Ideally, a teenager should try to go to bed at the same time every
night and wake up at the same time every morning, allowing for at
least 8 to 9 hours of sleep.

Establishing a Bedtime Routine
Here’s a summary of a few ways that may help your child ease into a
good night’s sleep:

Include a winding-down period in the routine.
Stick to a bedtime, alerting your child both half an hour and 10
minutes beforehand.
Allow your child to choose which pajamas to wear, stuffed animal to
take to bed, etc.
Consider playing soft, soothing music.
Don’t give your baby or toddler a bottle (of breast milk, formula, or
any sugar-containing drink) to aid sleep. This can cause a serious
dental problem called “baby bottle tooth decay” because the fluids
tend to pool in the child’s mouth.
Tuck your child into bed snugly for a feeling of security.
Encourage your older kid or teen to set and maintain a bedtime that
allows for the full hours of sleep needed at this age.
There isn’t one sure way to raise a good sleeper, but every parent
should be encouraged to know that most children have the ability to
sleep well. The key is to try, from early on, to establish healthy
sleep habits that may last a lifetime.

Reviewed by: Barbara P. Homeier, MD
Date reviewed: December 2004

About Us / Contact Us / Partners / Editorial Policy / Privacy Policy
& Terms of Use

Note: All information on KidsHealth is for educational purposes only.
For specific medical advice, diagnoses, and treatment, consult your
doctor.

©1995-2007 The Nemours Foundation. All rights reserved.

Filed under: NEW BORN

A-Z Gizi Anak

Kalau sudah menyangkut urusan gizi anak, para orangtua sangat peduli. “Apakah anak saya sudah mendapat cukup gizi?”. “Kok, anak saya kurus ya?” Eiit….., jangan buru-buru berkesimpulan.

A= Air susu ibu
Sebenarnya hanya 1% wanita yang benar-benar tidak bisa menyusui. Jadi, setiap wanita bisa memberikan ASI. Persiapan memberi ASI dimulai sejak bayi dalam kandungan. Begitu pula ketika ibu akan bekerja, ASI mulai diperas, dibekukan dan disimpan dalam lemari pendingin (frezeer) beberapa minggu bahkan beberapa bulan sebelumnya.

Pada awal kehidupannya, bayi sering sekali menyusu, sekitar 8-12 kali. Beri ASI saat ia meminta (on demand) agar produksi ASI dan pertumbuhan bayi optimal. Isapan si kecil dan pengosongan tuntas payudara Anda merupakan rangsangan terbaik untuk meningkatkan jumlah ASI.

Yang sering terlupakan adalah ASI bukan hanya sekadar kaya nutrisi, namun ASI adalah materi hidup, yang juga mengandung enzim yang membantu agar pencernaan bayi bisa menyerap nutrisi dengan baik.

B= Besi
Bayi, terutama saat-saat penyapihan, rentan kekurangan zat besi yang bisa menyebabkan anemia. Para ahli menganjurkan untuk deteksi dini satu kali sebelum usia anak satu tahun lewat pemeriksaan kadar hemoglobin.

Perbedaan penyerapan zat besi oleh tubuh dari berbagai sumber makanan:

  • Penyerapan tinggi: daging, ikan dan unggas cukup
  • Penyerapan sedang: gandum dan kacang-kacangan
  • Penyerapan rendah: sayuran

Untuk meningkatkan penyerapan, kombinasikan makanan kaya zat besi dengan vitamin C, misalnya selipkan potongan tomat dalam bekal roti daging untuk anak.

C= Camilan sehat
Di sela-sela makanan wajib, anak pun butuh camilan. Tetapi repot juga bila anak lebih memilih mengemil daripada makan. Solusinya, sediakan camilan sehat yang setara gizinya dengan makanan wajib. Misalnya, roti dengan selai kacang, kroket keju, biskuit gandum. Hindari camilan manis sejak dini. Namun, saat anak aktif dan memerlukan makanan berkalori tinggi, segelas es krim, puding susu, atau cheesecake akan menambah energi untuk aktifitasnya.

D= Diet
Bolehkah anak obesitas berdiet untuk menurunkan berat badan? Menurut para ahli, diet seperti ini tidaklah dianjurkan karena diet berlebihan ditakutkan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Diet lebih ditujukan untuk membentuk pola makan sehat dan menjaga agar berat badan tidak terus naik. Diharapkan, semakin tinggi anak, berat badan akan menjadi seimbang. Sertakan pola makan sehat dengan aktifitas fisik.

Ajak anak bermain di luar rumah dengan unsur kegiatan: jalan, lari, lompat, tangkap, tendang yang ‘menguras kalori’. Batasi nonton TV/main games kurang dari 2 jam/hari. Yang pasti aktifitas fisik memiliki banyak keuntungan untuk gaya hidup di masa depan.

E= Enyahkan mitos
Masyarakat seringkali lebih mempercayai mitos ketimbang kenyataan. Salah satunya mitos bahwa menyusui akan merusak estetika payudara. Banyak selebriti dunia dan dalam negeri berlomba-lomba menyusui bayinya, dan lihat betapa badan mereka tetap langsing. Intinya, selama pola hidup sehat dijalankan, maka tubuh kita pun akan sehat dan bugar. Jadi, demi memberi si Kecil makanan terbaik, mengapa Anda harus menundanya?

F= Fakta tentang vitamin
Awal tahun 1900-an, ahli menemukan sebuah substansi “vital” dalam makanan, yang belakangan disebut vitamin. Efek kekurangannya cukup fatal, dan pemenuhannya akan memberi banyak keuntungan hingga jutaan orang tua di dunia berlomba memberikan suplemen vitamin untuk anaknya. Namun, makanan kaya vitamin tetaplah menjadi pilihan utama.

Faktanya, jumlah vitamin yang diserap ternyata bervariasi tergantung dari:

  • Keadaan (status) nutrisi anak,
  • makanan yang dikonsumsi sebelumnya,
  • kondisi pencernaan,
  • proses pengolahan,
  • sumber vitaminnya.

Anak diare menyerap vitamin lebih sedikit. Anak yang mengalami operasi pemotongan usus akan kekurangan vitamin tertentu tergantung letak ususnya. Begitu juga sayuran yang direbus terlalu lama akan berkurang kadar vitaminnya, dan sumber vitamin alami lebih baik penyerapannya.

G= Gigi vs tekstur makanan
Banyak orang tidak mengetahui bahwa ada hubungan antara pola makan anak dengan kesehatan gigi. Kepadatan makanan anak harus disesuaikan dengan perkembangan giginya. Anak yang terus menerus diberi makanan dengan tekstur halus membuat perkembangan rahangnya terhambat. Jika perkembangan rahang dan gusi terhambat maka pertumbuhan gigi pun bisa terganggu.

H= Hindari
Saat si Kecil sedang belajar makan makanan padat, hindari mengenalkan makanan manis-manis. Makanan yang mengandung gula pemanis substitusi (sorbitol) juga harus dibatasi karena bisa menyebabkan diare. Sayur atau buah kalengan bisa mengandung natrium terlalu banyak hingga tak baik untuk si kecil.

Beberapa jenis makanan dapat menyebabkan tersedak seperti potongan wortel mentah, buah cherri, permen, potongan sosis, kacang, butiran buah anggur, dan popcorn. Hindari pula si kecil bermain dengan balon, koin, bola-bola kecil, ujung pulpen, tanpa pengawasan orang dewasa di sekitarnya.

I= Ikan
Ikan laut merupakan sumber omega-3 dan omega-6. Sertakan menu ikan di hidangan anak Anda. Tentu saja pilih ikan yang “aman”, artinya yang tidak memiliki banyak duri halus, misal ikan salem, tongkol/tuna, marlin, kakap, dsb. Selain itu perhatikan jenis pengolahan. Untuk tahap permulaan, sebaiknya pilih masak dengan cara tim.

J= Jangan paksa
Seringkali anak usia 2-3 tahun tak mau makan menu yang disediakan, seiring dengan keinginannya untuk menentukan pilihan sendiri. Saat-saat seperti ini, pemaksaan malah akan mengganggu kemampuan anak untuk memilih dan menentukan kesukaannya. Selain itu, anak yang dipaksa mencoba menu baru, meski diiming-imingi hadiah, ternyata lebih banyak yang menolak makanan dibandingkan dengan anak yang suka rela mencobanya. Anak yang dihukum tidak makan makanan kesukaannya juga malah akan semakin menginginkan makanan tersebut. Tugas orang tua adalah menyediakan makanan sehat, dan biarkan anak memilih dan menentukan sendiri jumlah makanan yang diinginkannya.

K= Kurus?
Benarkah si kecil kurus? Membandingkan berat badannya dengan teman-teman sebaya bukanlah cara akurat untuk memastikan kurus. Sebab ada anak yang memang berperawakan pendek dan ada pula yang tinggi.

Mengukur berat badan selain berdasarkan umur, idealnya berat badan juga dibandingkan dengan tinggi atau panjang badannya. Terkadang si kecil memang punya berat badan lebih ringan dari sebayanya tetapi bila dilihat dari panjang badannya, mungkin ia sebenarnya normal.

Penilaian kurus atau tidaknya seorang anak juga ditentukan oleh banyak hal antara lain tebal lemak dan ukuran lingkar lengannya. Jadi, sebelum anak divonis kurus, konsultasikan terlebih dulu dengan dokter.

L= Lemak
Lemak mutlak diperlukan oleh bayi yang relatif makan lebih sedikit daripada anak atau pun orang dewasa. Kebutuhan lemak untuk anak 1-3 tahun adalah 30-40% dari jumlah kalori sehari, sedangkan anak usia 4-18 tahun sebesar 25-35%. Lemak dibutuhkan untuk melarutkan beberapa jenis vitamin, untuk membangun sel termasuk sel saraf, untuk pertumbuhan otak, dan juga sebagai cadangan energi.

M= Menolak makan
Proses makan merupakan hasil interaksi, dan tidak melibatkan anak saja. Jangan salahkan anak bila ia menolak makan, bila faktor lain tak terpenuhi. Misalnya, suasana makan, jenis makanan yang diberikan, cara pemberiannya, stres, temperamen anak dan perkembangan keterampilannya turut berperan. Faktor budaya seperti memberi pisang yang dihaluskan pada bayi baru lahir akan mempengaruhi perkembangan keterampilan makan si kecil. Orang tua yang memaksa anaknya makan padahal ia tak lapar, atau anak yang selalu disuapi juga bisa menjadi salah satu sebab anak sulit makan. Jangan lupakan pula kondisi anak apakah ia sedang sakit atau tidak seperti bayi yang pilek bisa menolak makan karena pernapasannya terganggu.

N= Nutrisi anak aktif
Ketika si kecil mulai bersekolah dan menghabiskan separuh waktu siangnya di sana, ia butuh nutrisi lebih. Mereka butuh menu makan siang yang dapat memenuhi sepertiga dari kebutuhan energi, protein, vitamin A, vitamin C, zat besi, dan kalsium. Tanamkan pentingnya nutrisi bergizi, dan jangan biasakan mengganti dengan jajan. Pastikan ia mendapat sarapan sarat gizi agar dapat belajar optimal. Sarapan yang disarankan adalah segelas susu, satu porsi buah atau sayur, lauk pauk, dan sumber karbohidrat seperti sereal-sarapan roti, mie, atau nasi.

O= Obat penambah nafsu makan
Curcuma sudah diteliti dapat menambah nafsu makan. Kekurangan zinc dapat juga mengurangi nafsu makan. Sebaiknya jangan tergoda untuk buru-buru membeli suplemen yang mengklaim bisa menambah nafsu makan anak, karena belum tentu ia membutuhkannya. Konsultasikan dulu dengan dokter anak Anda.

P= Pilih-pilih makanan
Menurut sebuah studi, picky eaters (anak yang suka pilih-pilih makanan) biasanya diberi ASI kurang dari 6 bulan hingga pemberian ASI lebih dari 6 bulan diharapkan dapat mencegahnya dari pilih-pilih makanan. Studi juga menunjukkan jumlah makanan yang disukai anak tak akan banyak berubah dari usia 2-3 tahun sampai usia 8 tahun. Hingga anak yang sudah terlanjur pilih pilih makanan pada usia tersebut, akan lebih sulit diubah. Jadi, mengenalkan menu baru saat usianya dua hingga empat tahun akan lebih diterima ketimbang setelah usia empat tahun.

R= Rentan sakit
Beberapa elemen nutrisi akan meningkatkan daya tahan tubuhnya. Yang sudah diteliti antara lain antioksidan seperti selenium, vitamin C, A, E, zinc. Anak yang kekurangan nutrisi lebih mudah sakit. Begitu juga anak yang tidak minum ASI.

S= Sering muntah
Anak yang sering muntah juga akan mempengaruhi status nutrisinya. Ada batasan kapan anak muntah dikatakan patologis, pastinya periksakan dokter.

T= Tidak suka sayur
Kesukaan anak terhadap sayur dan buah dibentuk sejak bayi, terutama ketika ia mulai makan sama dengan orang di sekitarnya. Menurut ahli, anak yang diberi variasi makanan dan sering melihat Anda makan sayuran akan lebih suka sayur. Tawarkan berbagai macam sayur, berulang-ulang dan konsisten, sampai anak Anda mau mencobanya. Cara lain adalah menyelipkan sayuran dalam makanan yang disukainya, misalnya bakso daging yang diberi wortel.

Sebagai ukuran untuk balita, satu porsi sayuran kurang lebih satu sendok makan dikalikan usia dan setengah potong buah segar. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, satu porsi adalah satu potong buah atau satu cangkir sayuran mentah. Dalam satu hari, disarankan seorang anak mengonsumsi dua porsi buah dan tiga porsi sayuran.

U= Utamakan kenyamanan saat makan
Yang satu ini sering terlupakan. Orangtua hanya berpikir, “Hmm, waktu makan telah tiba dan anak harus makan!” Wah, tak perlu kaku begitu. Sebaiknya ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Misalnya mengajak anak makan di teras belakang rumah, di depan ikan mas koki yang berwarna-warni. Anda perlu sedikit “aktif berbicara” mengajaknya berbincang.

V= Variasi menu sehari
Sama seperti Anda, si kecil pun bisa bosan dengan jenis makanan yang itu-itu saja. Ayo sedikit kreatif. Nggak susah kok, tergantung kemauan Anda. Mau cara gampang, buka saja buku aneka resep bubur bayi, atau bertanya kepada orang-orang sekitar.

W= Waktu makan yang teratur
Keteraturan makan perlu diperkenalkan sejak dini. Idealnya anak makan tiga kali sehari dengan dua selingan di antaranya. Membiasakan si kecil makan sesuai jadwal akan membuat pencernaannya lebih siap dalam mengeluarkan hormon dan enzim yang dibutuhkan untuk mencerna makanan yang masuk.

X= X-tra hati-hati
Pengukuran berat badan setiap bulan pada bayi dan balita dapat menjadi deteksi dini apakah ia punya masalah kesehatan. Bila berat badannya tidak naik dua bulan berturut-turut sedangkan Anda telah memberinya nutrisi bergizi, hati-hati terhadap kondisi kesehatannya. Beberapa penyakit seperti tuberkulosis dan infeksi saluran kemih dapat menyebabkan gangguan makan dan berat badannya tak naik-naik. Beberapa masalh hormon, kelainan kromosom juga bisa menyebabkan berat badan dan tinggi badannya tidak naik seperti anak normal lainnya.

Y= Yodium
Meskipun dibutuhkan dalam jumlah kecil, yodium adalah zat gizi vital untuk kecerdasan anak. Sumber utama yodium adalah makanan laut, juga lewat suplementai (misalnya garam beryodium).

Z= Zinc
Zinc atau zat seng sudah terbukti meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah anak dari diare. Kandungannya tinggi pada makanan kaya protein seperti kerang, daging, daging unggas, dan hati, juga pada kacang-kacangan dan produk gandum. Kekurangan zat ini dapat menyebabkan anak kurang nafsu makan dan mudah sakit.

Sumber: Sahabat Nestle

Filed under: POLA MAKAN

Sabun Anti Bakteri

Sabun antibakteri tidak lebih efektif dibanding sabun biasa

Kalbe.co.id – Menurut penelitian dari Universitas Michigan yang mengkaji 27 studi yang dilakukan antara tahun 1980-2006 yang telah dipublikasikan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases bulan Agustus 2007, sabun antibakteri yang mengandung triklosan sebagai bahan aktif utama tidak lebih baik dalam mencegah infeksi dibanding sabun biasa/plain.

Tim tersebut juga menyimpulkan bahwa sabun antibakteri tersebut sebenarnya dapat berisiko karena dapat mengurangi efektivitas beberapa antibiotika yang umum digunakan seperti amoksisilin. Hal itu dikarenakan tidak seperti sabun antibakteri yang digunakan pada rumah sakit dan klinik lainnya, sabun antibakteri yang dijual ke masyarakat umum tidak mengandung konsentrasi triklosan yang cukup tinggi untuk membunuh bakteri seperti E.coli. Konsentrasi triklosan dalam sabun antibakteri di pasaran adalah 0,1-0,45%.

Menurut Allison Aiello dari U-M School of Public Health, E.coli dapat bertahan hidup pada konsentrasi triklosan dalam sabun antibakteri yang diformulasi untuk konsumen. Jadi sabun yang mengandung triklosan yang digunakan di masyarakat tidak lebih efektif dibanding sabun biasa dalam mencegah gejala penyakit infeksi.

Lebih lanjut, studi ini juga menemukan bahwa sabun antibakteri yang dijual ke masyarakat tidak menghilangkan lebih banyak bakteri dari tangan dibanding sabun biasa.

Triklosan bekerja pada jalur biokimia dalam bakteri yang menyebabkan bakteri mempertahankan dinding selnya tetap utuh. Hal tersebut menyebabkan dapat terjadinya mutasi pada lokasi target. Aiello mengatakan bahwa mutasi dapat berarti bahwa triklosan dapat tidak lagi mencapat lokasi target dalam waktu yang lebih lama untuk membunuh bakteri karena bakteri dan jalur biokimianya telah berubah bentuk, sehingga bakteri menjadi resisten terhadap antibiotika. Perubahan tersebut belum terdeteksi pada tingkat populasi, tetapi E.coli dalam percobaan laboratorium menunjukkan resistensi jika dipaparkan sabun triklosan 0,1%.
Analisis tersebut menyimpulkan bahwa badan regulator pemerintah sebaiknya mengevaluasi klaim dan iklan produk antibakteri dan mendorong penelitian lebih lanjut. Sedangkan FDA tidak secara formal mengatur kadar triklosan yang digunakan dalam produk konsumen.
Produk antiseptik lain di pasaran yang mengandung bahan aktif lain seperti alkohol dan bahan sanitasi tangan tidak diteliti dan bahan-bahan aktif tersebut tidak diisukan.

sumber: http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=news&tipe=detail&detail=19168

Filed under: ANTIBIOTIK ,

Emosi Bayi


SEPERTI APA SIH, REAKSI EMOSI PADA BAYI

Jangan salah, bayi pun bisa menunjukkan emosinya. Entah yang baik maupun tidak. Asalkan ditangani dengan baik, reaksi emosi yang jelek tak bakalan menetap hingga besar.

Sering, kan, melihat bayi menangis kala ia lapar. Sebelum diberikan susu, ia tak akan berhenti menangis, bahkan tambah keras. Tapi bila kebutuhannya segera dipenuhi, akan berhenti tangisnya.

Nah, menangis pada bayi, selain sebagai salah satu bentuk komunikasi prabicara untuk memberitahukan kebutuhan/keinginannya, juga untuk menunjukkan reaksi emosinya terhadap suatu keadaan yang tak menyenangkan. Reaksi emosi bayi yang demikian, menurut Dra. Dewi Mariana Thaib, sebetulnya masih wajar, karena si bayi bereaksi terhadap suatu keadaan yang tak menyenangkan, yaitu lapar. “Hanya saja, kalau reaksinya berlebihan, semisal menangis terus, meski sudah diberikan susu, berarti ada sesuatu pada dirinya. Apakah dia sakit atau ada suatu kelainan pada sarafnya,” terang psikolog dari RS Bunda, Jakarta ini.

Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui dan mengenal reaksi emosi bayinya. Sebab, reaksi emosinya ini akan berpengaruh pula nantinya pada kehidupan si anak, terutama pada penyesuaian pribadi dan sosialnya. “Di usia satu tahun pertama ini, bayi sedang beradaptasi dengan udara, makanan, dan lingkungan sekitarnya. Di usia ini pulalah emosinya mulai berkembang.” Itulah mengapa, orang tua harus memperhatikan betul kebutuhan fisik dan mentalnya, sampai sekecil apa pun.

DAPAT DIBEDAKAN

Pada awalnya, terang Dewi lebih lanjut, saat lahir, reaksi emosi bayi masih sederhana, yaitu hanya mengungkapkan emosi kesenangan dan ketidaksenangan. “Ia akan bereaksi senang bila kebutuhan menyusunya terpenuhi, dengan mengeluarkan suara yang tampak puas. Sebaliknya, ia akan bereaksi tak senang dengan menangis bila popoknya basah.”

Yang pasti, pada bulan-bulan pertama, ia tak memperlihatkan reaksi secara jelas, yang menyatakan keadaan emosinya yang spesifik. Misal, marah. Semua rasa ketidaksenangan akan diekspresikan dengan tangisan. “Nah, pada bulan-bulan pertama ini, respon orang tua terhadap bayi pun akan berpengaruh nantinya. Misal, jika pemberian susunya terlambat sementara bayi sangat lapar atau popoknya basah didiamkan saja, maka bayi akan merasa tak nyaman. Meski dia hanya bisa bereaksi dengan menangis, tapi bibit-bibit emosi rasa kecewa dan marah mulai timbul.”

Mulai usia dua bulan bayi bisa bereaksi tersenyum bila dirinya merasa senang atau gembira. Usia tiga bulan mulai bisa bereaksi dengan mengeluarkan bunyi-bunyi yang mengungkapkan kekesalan, bila dirinya kesal atau marah, semisal, dia tak bisa menggapai mainannya. Kadang juga diungkapkan dengan tangisan dan jeritan.

Usia 6-9 bulan sudah mengenal rasa takut. Bukankah saat itu ia sudah mengenal orang-orang di sekitarnya? Hingga, kalau ia ditinggal oleh orang tuanya, ia akan merasa takut dan mulai mengeluarkan suara-suara ketakutan atau menangis.

“Pokoknya, makin usia bayi meningkat, reaksi emosinya makin dapat dibedakan dan bertambah. Sebab, sejalan dengan bertambahnya umur dan semakin matangnya sistem saraf serta ototnya, bayi pun mengembangkan berbagai reaksi emosinya.” Misal, kalau di usia 2 bulan emosi kegembiraannya diungkapkan dengan tersenyum saja, maka makin lama dia bisa mengekspresikan kegembiraannya dengan mengeluarkan suara-suara ataupun tertawa kala diajak bicara oleh orang tuanya. Bahkan, ketika dia sudah bisa jalan dan berlari, bila ada timbul rasa gembira, dia bisa melonjak-lonjak atau berlari-lari.

Demikian pula dengan emosi takut. Biasanya bayi takut dengan kamar gelap, binatang, berada sendirian, serta orang yang asing baginya. Mungkin awalnya, kalau takut ia hanya bereaksi dengan menangis. Seolah dirinya tak berdaya dan seperti meminta tolong. Makin bertambah usia dan motoriknya pun berkembang, ia bisa bersembunyi di balik tubuh ibunya atau memeluk ibunya, menarik selimut untuk menutupi wajahnya, atau berlari menghindar dari sesuatu yang membuatnya takut.

Akan halnya rasa marah, misal, di usia 6 ?9 bulan, kala bayi sudah bisa melempar benda atau menghentak-hentak kakinya, ketika emosi marahnya terangsang, bisa saja reaksinya dengan melempar. Ketika reaksi tersebut dirasa menyenangkan dan dapat memuaskan emosinya, maka akan diulang kembali. “Nah, untuk mengetahui apakah si bayi memang betul-betul dalam emosi marah atau hanya ingin mencoba-coba melempar benda dalam arti dirinya sedang bereksplorasi, tentunya orang tua harus melihat, apakah memang ada kebutuhannya yang tak dipenuhi atau ada sesuatu yang membuatnya marah ataukah tidak.”

MASIH BISA DIUBAH

Jadi, orang tua harus mengetahui dan mengenal reaksi emosi bayinya, entah yang baik maupun tidak. Jangan sampai, reaksi emosi yang jelek berlanjut sampai si bayi besar. Pasalnya, nanti anak akan belajar menggunakan reaksi ini sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Apalagi di masa-masa emosi sulit, yaitu usia 0 hingga balita. Bukankah tak jarang kita lihat, anak kecil yang kalau marah tiduran di lantai, duduk menghentak kaki, memukul, atau melempar segala macam benda?

“Sebetulnya, bila baru berusia sampai setahun, emosi bayi masih bisa berubah karena baru muncul dan baru akan berkembang,” kata Dewi. Itulah mengapa, orang tua harus tetap waspada dengan emosi bayinya. “Jika ada reaksi emosinya yang kurang baik, paling tidak, kita bisa menekannya atau meminimalkannya.” Dengan kata lain, orang tua harus melatih pengendalian diri anak sejak dini.

Tapi melatihnya harus dengan konsekuen, lo. Misal, bila bayi ingin minum susu dan menangis tak sabar, maka ibu harus segera meresponnya. Kalaupun harus membuatkan dulu susu botol, maka buatlah di dekat si bayi sambil mengajaknya bicara. Misal, “Iya, sabar, ya, sayang. Ini Ibu sedang buatkan susunya. Ibu tahu, kok, kalau Adek lapar.”

Bila si bayi sudah bisa merangkak dan kita lihat tampaknya dia kesal karena sulit menggapai mainan yang diinginkan, maka kita bantu untuk memudahkan dengan cara mainannya didekatkan. Ketika dia sudah bisa meraihnya, kita beri pujian, “Hore! Pintar anak Mama. Capek, ya? Ayo, kita duduk dulu.”

Begitu juga kalau si bayi sudah mulai banyak motoriknya, seperti bisa jalan atau lari. Bila reaksi marahnya dengan cara fisik, seperti menendang, melempar, atau memukul, maka kita harus selalu memberi pengertian. “Kalau kamu marah, tidak boleh seperti itu. Nanti kaki kamu jadi sakit kalau menendang kursi itu. Kenapa kamu marah? Bilang, dong, sama Ibu.” Jadi, anak dilatih untuk dapat mengendalikan fisiknya. Hingga nantinya kalaupun dia marah, mungkin tak sampai bereaksi berbahaya dengan fisiknya. Mungkin hanya mimik mukanya saja yang tampak memerah.

Menurut Dewi, biasanya seiring usia bertambah, reaksi emosi dengan menggunakan gerak fisik/otot makin berkurang. Apalagi ketika anak sudah bisa bicara, maka reaksi emosinya akan diwujudkan dengan reaksi bahasa yang meningkat.

JANGAN BANYAK LARANG

Namun, dalam melatih atau mendidik emosi anak, disarankan tak banyak larangan karena akan menimbulkan rasa takut pada anak. Misal, “Adek, jangan main ke situ, ada kecoa, lo. Nanti digigit!”

Sebetulnya, papar Dewi, usia bayi belum menyadari ada tidaknya bahaya bagi dirinya, tapi karena mimik muka ibunya dan nada suaranya menakutkan, maka mengkondisikan si bayi akan rasa takut. “Larangan boleh saja kalau memang ada yang membahayakan. Kalau tidak, sebaiknya dihindari.” Namun, dalam memberitahukannya harus dengan bahasa dan mimik muka yang baik.

Yang jelas, bila sejak bayi dilatih pengendalian emosi dengan baik, maka reaksi emosinya bisa ditanganinya dengan baik pula. Meski mungkin sifat jeleknya tetap ada, tapi tak terlalu menonjol. “Jadi, ini merupakan tindak pencegahan pula dari reaksi emosi negatif yang tak diinginkan.”

Ingat, lo, bila tak sejak dini kita melatihnya, maka akan sulit mengubahnya ketika anak bertambah usianya. Bahkan mungkin saja reaksi emosi tersebut akan menetap sampai si anak dewasa. Tentunya kita tak menginginkannya demikian, kan, Bu-Pak?

Dedeh Kurniasih
http://www.tabloid-nakita.com/

Filed under: PSIKOLOGI BAYI DAN ANAK

Bermain Dengan Bayi

Siapa bilang bayi tak bisa diajak bermain? Dan itu tak hanya membuatnya senang tapi sekaligus memberi rangsangan bagi tumbuh-kembangnya.

Jika bayi Anda tak tidur, ia pasti akan bermain. Dari menggerakkan jemarinya sampai memasukkan jari kaki mungilnya ke dalam mulutnya. Ia asyik bermain sendiri. Jika diajak main ibu/ayahnya, tangan mungilnya akan berusaha menggapai wajah ayah atau dengan kuat menggenggam jari-jari bundanya.

Kehidupan bayi memang tak bisa dilepaskan dari bermain. Sebab, bermain sangat penting untuk tumbuh-kembangnya. Antara lain, mengembangkan kemampuan pancaindera dan berbagai keterampilan fisik, mengenal orang dan benda di lingkungannya. Juga, bermain menimbulkan kegembiraan. Jika tak ada kesempatan bermain, ia akan bosan dan menangis untuk memperoleh perhatian.

Menurut doktor psikologi Mimi Patmonodewo, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan sebelum mengajak si kecil bermain. Pertama, ketahui ciri-ciri bayi atau tahapan tumbuh-kembangnya mulai dari 0-1 tahun. Sebab, “Konsepnya untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan dalam dirinya, baik kecerdasan, moral, sosial maupun fisik. Jadi, setiap kegiatan bermain maupun alat permainan pada bayi harus selalu diarahkan pada pengembangan aspek-aspek tersebut,” jelas staf pengajar di Fakultas Psikologi UI ini.

Kedua, perhatikan kesehatan dan gizi bayi sebelum secara intensif mengajak ia bermain. Menurut Mimi, hal-hal yang bersifat psikologis adalah beyond. Jadi harus didahului oleh kesehatan dan gizi. “Memang betul psikologi penting. Tapi pada usia bayi, yang lebih diutamakan adalah kesehatan dan gizi. Jadi, kita harus yakin anak dalam kondisi sehat dan gizinya baik, baru bisa diajak main. Bila ia tak sehat, diajak main apa pun, ya enggak bisa,” tutur Mimi.

Ketiga, sadarilah, tiap bayi berbeda. Ada yang cengeng, susah, tapi ada juga yang gampang. “Perbedaan ini tak bisa dihindari karena perkembangan anak bukan hanya dipengaruhi faktor pengasuhan, juga faktor pembawaan,” jelas Mimi.

Dan terakhir, jangan lupa tekankan faktor fun dalam bermain. “Bukan hasil akhir yang dipentingkan,” tegas Mimi. Misal, ibu mengajak bayinya yang berusia 10 bulan bermain balok dan berharap si bayi menyusun berselang-seling sesuai warna yang ditunjukkan ibu. Tapi si kecil tak menuruti petunjuk itu. Nah, jangan paksakan anak menuruti “aturan” Anda. Jika ia bisa bicara, mungkin ia akan berkata, “Saya mau susun yang hijau dulu karena hijau lebih bagus.” Jika Anda tetap memaksakan kehendak, bisa-bisa si kecil frustrasi dan mogok, tak mau diajak main lagi.

Filed under: STIMULASI BAYI

Plus Minus POSPAK

PLUS MINUS PENGGUNAAN POPOK SEKALI PAKAI

1/22/2007

www.tabloid-nakita.com

Praktis, jelas. Tapi benarkah kaki anak jadi berbentuk X? Bahkan, kelak setelah besar anak jadi impoten?
Memang banyak informasi simpang siur soal pemakaian popok sekali pakai (pospak) yang bikin orang tua khawatir. Untuk itu, dr. Soenanto Roewijoko, Sp.A.(k), dari Fakultas Kedokteran UI mencoba meluruskannya.

Menyebabkan Impoten

Penggunaan pospak yang terlalu lama memang bisa menyebabkan suhu panas di sekitar alat kelamin. Demikian juga pemakaian celana yang ketat. Akibatnya, produksi sperma tidak optimal dan sel sperma pun tidak bisa hidup dalam suasana seperti itu. Namun, hal tersebut hanya terjadi jika usianya sudah melewati masa pubertas, bukan sebelumnya, apalagi bayi.
Jadi, pemakaian pospak dalam jangka waktu lama tidak akan menyebabkan gangguan reproduksi kini ataupun kelak. Selain itu, harus dibedakan antara impotensi dan gangguan reproduksi sperma. Fungsi reproduksi menyangkut ketersediaan sperma dalam testis. Bisa saja fungsi seksualnya normal, tapi karena tidak terdapat sperma, maka ia tidak bisa membuahi sel telur. Sementara impotensi dikaitkan dengan gangguan fungsi ereksi atau alat vital tidak bisa menegang. Akibatnya, memang tidak terjadi pembuahan.

Kebiasaan Mengompol Berlanjut

Sebenarnya tidak ada hubungan antara pospak dan kebiasaan si kecil mengompol. Anggapan ini ada karena anak yang memakai pospak umumnya merasa aman jika buang air. Dia merasa ada wadah yang menampung, sehingga ia tidak terbiasa untuk ke kamar kecil. Itulah mengapa, orang tua hendaknya tak lupa mengajari si kecil BAB dan BAK di toilet, sehingga ia pun bisa belajar mengatur waktu buang air. Tak perlu khawatir jika si kecil ternyata lebih lama mengompol dibandingkan yang lain.
Ingat, kemampuan satu individu berbeda dengan individu lainnya. Selain itu, ada juga beberapa penyakit yang membuat penderitanya kerap mengompol, salah satunya diabetes pada anak.

Berdaya Serap Tinggi Yang Terbaik

Popok berdaya serap tinggi dapat menghindarkan bayi dari kelembapan yang cukup tinggi sehingga mengurangi kemungkinan iritasi. Namun, bukan itu satu-satunya kriteria popok bagus, karena yang tak kalah penting adalah bahannya tidak beracun dan tidak membuat kulit gampang luka. Cari yang mengandung material penyerap cairan lebih banyak, sehingga kulit jadi kering dan bisa mempertahankan pH kulit mendekati normal.
Di pasaran juga telah beredar pospak dengan permukaan bagian dalamnya dilapisi formula yang mengandung petrolatum (vaselin) yang akan melekat pada kulit sehingga mengurangi kelembapan serta gesekan pada kulit.

Mengganggu Pertumbuhan Tulang Pinggul

Itu tak benar. Justru saat ini banyak orang berpendapat pospak sangat baik untuk perkembangan tulang pinggul. Dengan pospak, bayi bisa lebih leluasa bergerak. Apalagi desainnya bisa dipilih yang elastis. Kegiatan berjalan dan pertumbuhan tulang pinggul dengan demikian tidak terganggu. Sama Saja, Kok, Dengan Popok Kain Popok kain memungkinkan sirkulasi udara yang lebih baik bagi kulit bayi. Namun, saat ini banyak pospak yang dibuat dari bahan sedemikian rupa, sehingga sirkulasi udara tetap berlangsung sekaligus mengurangi kelembapan. Selain itu, daya serap pospak yang berkualitas juga sangat baik, sehingga kulit bayi tetap sehat dan tidak lembap.
Meski demikian, tidak berarti kita boleh bermalas-malasan mengganti popoknya. Bagaimanapun popok tersebut memiliki kapasitas maksimum yang tidak boleh dilampaui. Setidaknya, usahakan untuk mengganti popok setiap 6 jam sekali, meski belum terlalu penuh. Sebaliknya, meski baru saja diganti, kalau sudah tampak penuh harus segera dibuang. Penting diketahui, bayi yang baru lahir bisa buang air rata-rata setiap 30 menit sekali. Kalau Anda menggunakan popok kain dan tidak menggantinya secara cepat, air seni malah akan membuat kulitnya basah dan tak bisa bernapas.

Benarkah Pospak Akibatkan Ruam Popok?

Ruam popok merupakan iritasi yang disebabkan dekomposisi dari air seni. Pemakaian pospak di atas 12 jam bisa menyebabkan ruam popok. Selain urin, tinja pun bisa menyebabkan iritasi. Itulah yang menyebabkan adanya dugaan pospak sering membuat bayi terkena ruam popok, karena popok sekali pakai menampung air seni berjam-jam, sedangkan bila menggunakan popok kain, adanya kotoran bisa langsung diketahui, sehingga dapat langsung diganti.
Namun kini, daya serap pospak yang beredar di pasaran sudah semakin bagus, sehingga ruam popok bisa diminimalisir. Hasil penelitian atas studi perbandingan antara pengguna pospak dan popok kain juga membuktikan, kulit bayi yang mengenakan pospak jauh lebih sehat dibandingkan yang mengenakan popok kain. Riset yang diadakan di 16 negara serta telah dipublikasikan di Pediatric Dermatology, Journal of American Academy serta Journal of Pediatric Health Care itu semuanya menunjukkan pospak berdaya serap tinggi mampu menjaga kulit tetap kering, sehingga si kecil terhindar dari ruam popok. Walaupun begitu, jangan tunggu terlalu lama untuk mengganti pospak yang sudah kotor.
Ada juga bayi yang kulitnya sangat sensitif terhadap bahan pospak tertentu sehingga kerap teriritasi. Jika hal ini terjadi, hentikan pemakaian pospak, atau cari pospak lain yang lebih cocok. Umumnya, setiap merek mempunyai bahan yang sedikit berbeda dengan merek lain. Kalau sudah cocok dengan satu merek, sebaiknya jangan mengganti dengan yang lain, kecuali kalau memang susah dicari di pasaran. Namun bila memang tidak cocok dengan banyak merek, pakailah popok dari bahan kain.

Mengganggu Pertumbuhan Kaki

Memang ada yang menduga pospak bisa membuat jarak kedua kaki semakin lebar dan mengganggu pertumbuhannya. Setelah itu, diperkirakan cara berjalan anak juga terganggu. Istilah awamnya ngegang. Mungkin anggapan tersebut timbul akibat melihat tepi pospak yang sangat kaku. Apalagi jika dipakai secara terus-menerus. Hanya saja, kekhawatiran mengenai hal ini belum pernah dibuktikan secara ilmiah.
Selain itu, kalaupun terdapat kasus yang demikian, maka tak perlu khawatir karena biasanya akan segera pulih dalam waktu yang cukup cepat. Selain itu, cara jalan bayi dengan orang dewasa, kan, memang berbeda. Seorang bayi masih dalam tahap pertumbuhan tulang sehingga tak jarang cara berjalannya masih kurang sempurna. Baru saat menginjak umur 2 tahun, ia bisa berjalan dengan sempurna.

Ruam Popok Bisa Sembuh Dengan Memakai Pospak?

Pospak bukan menyembuhkan ruam popok, tapi menjadi bagian penting dari perawatan ruam popok. Pospak yang berdaya serap tinggi mampu mengurangi kebasahan, sehingga kulit tetap dalam keadaan kering. Pengobatan ruam popok adalah dengan menggunakan salep (zinc oxide dan petroleum). Hati-hatilah bila membersihkan kulit si kecil. Seka kulitnya dengan lembut karena jika terlalu kasar justru bisa memperlambat proses penyembuhan.

Berbedakah Pospak Anak Laki-Laki Dan Perempuan?

Sama saja, kok. Fungsi popok adalah untuk menampung urin dan tinja anak. Tidak ada perbedaan antara kotoran bayi laki-laki dan perempuan. Tapi penting diperhatikan, pilih popok yang sesuai dengan berat badan serta usia anak saat itu. Untuk masa awal bayi, popok sekali pakai ini dirancang memiliki daya serap yang tinggi sehingga selangkangan selalu kering. Sementara untuk yang sudah berusia 2 tahun dirancang agar anak merasa tidak nyaman setelah buang air atau kotoran. Ini dimaksudkan agar anak membiasakan diri untuk segera buang air di tempatnya.

Filed under: NEW BORN

Pertolongan Bayi Jatuh

PERTOLONGAN PERTAMA BAYI JATUH

Hati-hati jangan langsung menggendongnya. Pastikan dulu bagaimana
kondisinya!

Usia bayi adalah masa rawan terjadi kecelakaan. Saat ia belajar
berguling umpamanya dan orangtua lengah, ia bisa saja terjatuh dari
tempat tidur. Untuk itulah manajemen penanganan kasus bayi terjatuh
amat diperlukan. Yang pasti, saat si kecil terjatuh, jangan hanya
mengkhawatirkan bagian kepala saja, karena semua anggota tubuhnya
memiliki risiko yang sama untuk mengalami benturan yang dapat
membahayakannya. Berikut penjelasan dr. Anna Tjandra, Sp.A dari RSAB
Harapan Kita, Jakarta mengenai manajemen kecelakaan pada anak yang
sederhana, yaitu:

* Menyaksikan langsung anak terjatuh.

- Perhatikan bagian mana dari tubuh anak yang mengalami benturan.

- Ingat proses jatuhnya, apakah langsung menghujam ke lantai atau
terbentur sesuatu terlebih dahulu baru ke lantai.

- Pastikan dari ketinggian berapa meter anak terjatuh dan media apa
yang menjadi tempat pendaratannya.

- Lihat dan perhatikan baik-baik kondisi si kecil. Apakah setelah
jatuh langsung menangis dan menggerak-gerakkan semua anggota
badannya? Jika ya, kita bisa langsung menggendong untuk
menenangkannya. Setelah ia tenang, baru lakukan observasi.

- Adapun observasi yang perlu dilakukan adalah:

+ Cari dan ingat bagian-bagian mana saja yang lebam/benjol/ memar di
seluruh anggota badan bayi. Jika menemukan benjolan di kepala atau
memar di badan, boleh diobati dengan obat antitrauma oles. Jika pada
bagian kepala tidak ditemukan lebam atau benjol, tapi bayi menangis
saat dipegang, larikan segera ia ke rumah sakit terdekat.

+ Coba gerakkan kedua tangan bayi, ke samping, ke atas, ke bawah, ke
depan, lalu rentangkan dan angkat-angkatlah. Jika ada keluhan
pastikan di tangan yang mana dan saat dalam posisi seperti apa. Ini
sebagai bahan untuk dilaporkan ke dokter.

+ Lakukan hal yang sama pada kaki.

+ Tengokkan kepala bayi ke kanan dan ke kiri. Coba dekatkan dagu
bayi ke dada secara perlahan. Jika ada keluhan catat sebagai laporan
pada dokter.

+ Miringkan badan si kecil ke kiri dan ke kanan. Jika ada keluhan
catat dan laporkan ke dokter.

- Observasi perlu dilakukan selama 2×24 jam. Jika dalam kurun waktu
itu ada keluhan, apalagi sampai muntah dengan menyembur, segera
larikan ke rumah sakit terdekat.

- Sebaliknya bila setelah jatuh dalam keadaan sadar tapi pasif
(apalagi tidak menggerak-gerakkan anggota badannya) jangan
mengangkatnya. Hubungi UGD rumah sakit terdekat atau 118 untuk minta
pertolongan paramedis. Salah mengangkat dalam kondisi seperti ini
dapat berisiko fatal.

* Jika menemukan si kecil sudah di lantai.

- Perhatikan keadaan bayi; sadar atau tidak, menangis atau tidak,
dapat menggerak-gerakkan anggota badan atau tidak. Jika ia tidak
sadar atau sadar tapi pasif, ingat jangan menggendongnya, tapi
segera minta bantuan paramedis terdekat, UGD atau 118.

- Perhatikan dalam posisi seperti apa si kecil saat ditemukan.

+ Jika dalam keadaan tengkurap kemungkinan besarnya aman. Tapi kita
mesti melakukan pemeriksaan seputar bahu, kedua tangan, dada dan
kaki. Caranya gerakkan tangan ke atas, depan, samping. Jika ada
keluhan sakit segera bawa ke dokter.

+ Jika dalam keadaan telentang. Periksa dan perhatikan daerah kepala
bagian belakang, leher, punggung, dan panggul, mulai dari tanda
lebam atau merah, hingga keluhan sakit saat disentuh dan digerakkan
seperti yang telah disebutkan di atas. Pastikan bayi tidak muntah
atau mengalami penurunan kesadaran dalam 2×24 jam. Jika ada keluhan
segera larikan ke dokter.

+ Jika bayi ditemukan dalam posisi miring, kanan atau kiri.
Perhatikan dan periksa kepala, tangan yang menjadi tumpuan badan,
juga kaki. Lakukan pemeriksaan seperti yang disebutkan di atas. Jika
ada keluhan segera larikan ke dokter.

+ Jika ditemukan dalam posisi duduk. Periksa dan pastikan bayi masih
sadar, biasanya menangis, dan mampu menggerakkan anggota badan.
Periksa bagian panggulnya, ada tidak tanda memar, merah, atau sakit
saat dipegang atau digerakkan. Jika ya segera larikan ke dokter.

* Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan

- Dalam posisi apa pun jatuhnya si kecil, jangan lupa melakukan
pemeriksaan mata. Baiknya menggunakan senter:

+ Masih bereaksikah saat kita senter matanya, mengedip, menutup
matanya atau kaget. Jika tidak bawa segera anak ke rumah sakit.

+ Gerakan senter ke kanan dan ke kiri, masih mampukah bayi mengikuti
gerakan sinar. Jika tidak ia harus segera dilarikan ke rumah sakit.

+ Perhatikan pupil matanya, apakah pupil mata yang kiri dan kanan
sama besar/kecilnya saat kita senter satu per satu. Jika sama kita
bisa bernapas lega. Bila tidak, bayi perlu menjalani pemeriksaan
lebih lanjut, seperti CT Scan.

- Ukur dan pastikan si kecil jatuh dari ketinggian berapa. Sebab
semakin tinggi pastinya gaya gravitasi bumi akan lebih kuat menarik
si anak. Tentu efek yang ditimbulkan pun semakin besar.

EFEK POSISI JATUH

Di bawah ini kemungkinan- kemungkinan yang bisa terjadi pada bayi
saat terjatuh. Dengan pengetahuan ini diharapkan orangtua bisa lebih
memahami kondisi bayi bila terjatuh dan mampu melakukan pertolongan
pertama yang benar:

* Jika kepala terlebih dahulu yang membentur lantai

Di sebelah mana pun benturan itu terjadi selama masih di kepala,
kita perlu mewaspadainya. Tulang tengkorak bayi masih rapuh dan ia
belum memiliki refleks untuk menahan dengan baik. Kemungkinan yang
bisa terjadi, bayi mengalami fraktur atau retak/patah tulang
tengkorak kepala, atau perdarahan di luar tengkorak atau di dalam
tengkorak.

Perdarahan di luar dapat ditandai dengan adanya benjol/memar. Selama
tidak ada fraktur, kondisi ini bisa dikatakan tidak parah. Rabalah
ubun-ubunnya apakah menjendol atau tidak. Ubun-ubun yang menjendol
menjadi tanda adanya peningkatan tekanan dalam otak yang dapat
terjadi karena edema otak atau perdarahan.

Harap diketahui, bila tidak ditemukan benjolan/memar, tapi bayi
menangis (atau justru tidak menangis dan langsung tertidur), tidak
sadarkan diri, mengalami kejang/muntah- muntah (yang menyembur bukan
gumoh), ada kecurigaan bayi mengalami perdarahan di dalam tengkorak
kepalanya. Segera larikan ke rumah sakit terdekat.

* Jika dada terlebih dahulu yang membentur permukaan

Kalau tempat mendaratnya datar, kemungkinan risiko bayi untuk cedera
lebih sedikit. Sebaliknya, tempat mendarat yang tidak mulus atau ada
tonjolan yang tepat mengarah ke dadanya dapat mengakibatkan
fraktur/parah tulang iga atau rusuk yang patahannya dapat mengenai
organ paru-paru atau jantungnya. Untuk itu perhatikan apakah si
kecil dapat bernapas secara normal atau tidak.

Umumnya jika bagian dada terlebih dahulu yang “mendarat”, secara
alami tangan akan membuat perlindungan terlebih dahulu. Karena itu
periksa juga kondisi tangan dan bahu bayi. Apakah ada pergelangan
tangannya mengalami patah atau adakah sendi yang keluar (dislokasi)
dari tempatnya. Periksa juga bagian kepala, khususnya dahi. Biasanya
saat mendarat, sekalipun dada terlebih dahulu, kepala langsung
menyusul membentur lantai.

* Jika panggul terlebih dahulu yang mendarat

Kemungkinan besar bayi akan mengalami dislokasi atau fraktur tulang
panggul. Karena panggul berhubungan langsung dengan tulang belakang,
dikhawatirkan ada saraf-saraf yang terjepit. Jika yang terjepit
saraf kaki biasanya si kecil tidak bisa menggerakkan kakinya alias
lumpuh.

* Jika yang mendarat kaki terlebih dahulu

Kejadiannya pada tiap bayi bisa berbeda. Jika ia sudah bisa berdiri
pasti akan menahan tubuhnya dengan kaki lalu jatuh bersimpuh. Risiko
kasus ini adalah dislokasi atau keseleo. Pada bayi di bawah 6 bulan
meski belum mampu menahan tubuhnya, secara alami badan bayi akan
terjatuh ke depan dan sebelum mendarat tangannya akan menjadi
bumper.

* Jika yang mendarat bokong duluan

Berbahaya karena kaitannya langsung dengan tulang belakang dan dapat
mengakibatkan patah pada tulang punggung bayi. Risiko lain, bila ada
saraf yang terjepit bisa mengakibatkan kelumpuhan. Bayi yang
ditemukan terjatuh pada posisi seperti ini jangan digendong. Biarkan
paramedis yang melakukan pertolongan. Tapi jika si kecil sadar dan
bisa aktif kita bisa langsung menggendongnya.

* Jika yang mendarat terlebih dahulu punggung

Menjadi bahaya jika saat mendarat posisi leher ikut
terlipat/tertekuk karena bisa mengakibatkan keseleo dan fraktur
tulang leher. Bila bayi dalam keadaan tidak sadar jangan mencoba
mengangkatnya. Langkah yang bisa kita lakukan adalah minta bantuan
paramedis di UGD di rumah sakit atau 118.

Filed under: KECELAKAAN PADA ANAK

Kesehatan Bayi

6. SEMBELIT
Penyebab sembelit bisa karena kurang makan makanan berserat. Oleh karena itu, bayi sebaiknya diberi banyak buah, sayuran, dan ASI. “Berikan puding atau agar-agar, buah-buahan, dan sayuran. Untuk bayi yang belum bisa makan, berilah ASI sebanyak mungkin. Biasanya, bayi yang masih minum ASI jarang sembelit, kecuali bayi yang diberi susu formula. Mungkin susunya kurang cocok.”

Untuk mengatasi sembelit, pilih susu yang cocok. “Sementara dokter biasanya akan memberi obat untuk melancarkan BAB-nya.” Namun, ada juga bayi baru lahir yang tak bisa buang air besar. “Keluhannya, perut kembung dan sering muntah. Itu karena saraf dari usus kurang, sehingga gerak peristaltiknya pun berkurang. Ini penyakit bawaan, harus dioperasi untuk membuang usus yang tidak ada sarafnya. Kasus seperti ini sering terjadi pada bayi baru lahir,” terang Kusnandi.

7. INFEKSI SALURAN KEMIH
Selain sulit BAB, infeksi saluran kemih juga sering terjadi pada bayi yang baru lahir. “Banyak terjadi pada bayi perempuan, karena saluran kemih perempuan lebih pendek dari saluran kemih bayi laki-laki, sehingga kuman lebih gampang masuk ke dalam tubuh. Jika bayi panas tanpa diserta batuk-pilek atau sakit telinga, orang tua harus selalu berpikir bahwa ini bisa saja sakit radang saluran kemih.”

Gejala infeksi saluran kemih hanya panas atau air kencingnya sedikit, dan bayi merasa nyeri di daerah perut atau kesakitan saat buang air kecil/kencing. “Kadang-kadang, radang atau infeksi saluran kemih ini tidak bergejala juga. Buang airnya pun normal. Justru jika gejala tak muncul, sangat berbahaya karena dapat merusak ginjal.” Oleh karena itu, jika bayi demam lebih dari 38,5 0 Celcius, segera periksakan ke dokter.

8. MUNTAH
Muntah atau gumoh disebabkan karena perut bayi yang baru lahir ukurannya masih sangat kecil. “Daya tampungnya masih sedikit. Kalau terlalu banyak diberi susu, dia akan memuntahkan susunya kembali.”

Oleh karena itu, untuk bayi yang diberi susu formula, pada saat disusui, posisi botol susu dan botol harus pas dengan mulutnya agar udara tidak ikut masuk ke dalam mulut bayi. Udara yang ikut masuk ini dapat menyebabkan bayi muntah. Sementara untuk bayi yang disusui ASI, posisi menyusui harus betul dan pas. Usai disusui, gendong bayi dengan posisi seperti berdiri hingga bersendawa. Setelah itu bayi ditidurkan dengan posisi miring ke kiri.

9. ALERGI
Banyak hal yang dapat menyebabkan alergi pada bayi. “Yang paling sering alergi susu sapi atau susu formula. Jika ibu atau keluarganya punya bakat alergi, bayi pun jadi gampang alergi. Sebagian besar alergi timbul karena makan telur, sea food, dan susu formula.”

Untuk menghindarinya, ibu menyusui sebaiknya menghindari konsumsi makanan alergen seperti telur, kacang-kacangan, sea food, atau makanan pemicu alergi. “Pasalnya, alergi ini dapat langusng terbawa melalui ASI. Dokter biasanya memberikan susu anti-alergi khusus untuk bayi yang memiliki bakat alergi atau alergi pada susu formula. Susu antialergi ini mudah didapat dan sudah banyak dijual, kok.”

10. RUAM POPOK
Usai buang air atau pipis, popok bayi harus segera diganti agar tidak menimbulkan iritasi atau merah-merah pada kulit bayi. Jika kulit bayi mengalami iritasi, kuman akan lebih mudah masuk ke dalam tubuh bayi. Untuk mencegahnya, gantilah popok sesering mungkin dan pakaikan pampers yang dapat menyerap banyak air.

Untuk popok kain, sebaiknya rajin-rajin mencuci popok. “Teknologi sudah semakin canggih, orang kini menciptakan pampers yang dapat menyerap air lebih banyak agar lebih praktis. Namun, bukan berarti bayi harus seharian pakai pampers yang itu-itu terus. Udara juga harus bisa keluar masuk, dong. Hanya saja, kelebihan pampers dapat mengurangi frekuensi pergantian popok, dibandingkan popok kain.”

Pengobatan untuk ruam popok, jika kulit bayi terkena popok basah, dapat diobati dengan memberikan bedak, talek, atau salep. “Tetapi yang paling penting harus sesering mungkin mengganti popok atau pampers. Artinya, kondisi kulit bayi harus tetap dalam keadaan kering.”

WASPADA BILA …
Selain 10 penyakit di atas, ada beberapa tanda pada bayi yang harus diwaspadai dan segera dibawa ke RS, antara lain:

1. Kejang
Jika bayi kejang disertai panas atau tanpa panas, harus segera di bawa ke RS untuk mengetahui penyebab kejangnya. Setiap kejang, akan mengakibatkan terjadinya kerusakan otak, sehingga bayi tidak boleh kejang. Jadi, secepatnya harus diatasi. Jika bayinya kejang disertai demam, orang tua harus selalu membawa obat anti panas dan anti kejang. Karena biasanya sakit kejang ini suka kambuh. Kemana pun si bayi pergi, harus selalu membawa obat anti kejang untuk mencegah kejang. Jangan sampai bayi sering kejang.

Pemicu kejang ini macam-macam, bisa karena proses di kepala atau otak, atau di luar kepala. Kalau di dalam otak atau kepala, kemungkinan ada infeksi di otak atau tumor di otak, dan perdarahan di otak. Tapi yang terjadi di luar otak, bisa karena kekurangan natrium atau garam dan gula, sehingga terjadi gangguan-gangguan elektrolit. Misalnya karena sering diare, atau kejang karena adanya elektrolit atau garam yang keluar dari tubuh.

2. Sesak napas
Jangan sampai bayi Anda sesak napas, apalagi sampai membiru. Itu tandanya si bayi sudah kekurangan oksigen. Oksigen itu terutama dialirkan ke dalam otak dan organ lainnya. Jika bayi Anda sesak napas, secepatnya harus diatasi, apakah sesak itu disebabkan karena sumbatan saluran napas, atau karena infeksi di paru-paru, harus segera diatasi dan dibawa ke dokter.

3. Syok
Tanda-tandanya, denyut nadi tak teraba, muncul keringat dingin, kesadaran berkurang, serta jumlah cairan tubuh berkurang. Penyebab syok pada bayi bermacam-macam juga. Dapat dikarenakan kehilangan cairan tubuh, misalnya demam berdarah, yang mengakibatkan cairan dari dalam darah melalui pembuluh darah keluar menuju jaringan. Bisa juga karena diare dan kekurangan cairan, terjadinya perdarahan, kelainan jantung, atau karena syok lain yang disebabkan karena kesakitan yang biasa dokter sebut dengan neorogenik shock. Perawatannya, harus harus segera diinfus.

4. Tak sadarkan diri
Ini dapat terjadi karena adanya gangguan kesadaran. Setiap ada gangguan kesadaran pada bayi, orang tua harus hati-hati dan harus segera membawanya ke dokter. Ciri-ciri bayi yang tak sadarkan diri, secara fisik dapat terlihat seperti mula-mula setengah sadar, mengacau, panas tinggi, atau mungkin saja langusng tidak sadar. Di cubit pun, tak akan merasakan sakit dan tak tahu apa yang terjadi disekelilingnya.

Filed under: NEW BORN

Dapurku..

Jurnalku

Pembaca Terhormat Saya Bukan Dokter

Artikel-artikel ini hanya untuk keperluan saya pribadi dari hasil browsing sana dan sini dan untuk referensi saya sendiri dalam mengasuh anak saya. jangan dijadikan patokan yaaaa

Quote Of The Day

Bayi tidak perlu computer atau mainan bagus-bagus. Yang mereka butuhkan adalah orang dewasa yang mengerti apa yang mereka rasakan dari waktu ke waktu. dan orang dewasa itu adalah kedua orang tuanya

Anda Pengunjung Ke :

Page Rank

Kalendar

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Top Rated

YMku Online Ga Ya?

My Son Birthday

Lilypie

My Honey

Image019

Image017

Image016

Image015

Image013z

Image013

Image012z

More Photos

Isi Buku Tamu ya..