Artikel ASI


sumber : NAKITA

ASI ANUGERAH SEMPURNA BAGI IBU DAN BAYI

Minggu pertama bulan Agustus dicanangkan sebagai pekan ASI Sedunia. Untuk tahun ini, tema yang diangkat adalah “Breastfeeding and Family Food: Loving and Healthy.” Tema ini sepertinya tepat sekali ditujukan bagi anak-anak di negeri tercinta. Maraknya kasus busung lapar di berbagai daerah di Indonesia rasanya tidak akan terjadi seandainya semua orang tua mendapat pencerahan akan manfaat ASI.

Namun banyak ibu mengeluh bukannya tidak mau memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, hanya saja jumlah ASI-nya dirasa tak mencukupi. Sebenarnya hal ini tidak akan terjadi bila ibu menguasai teknik menyusui maupun memerah ASI dengan benar. Bagaimana caranya? Jangan khawatir, kami akan membagikan kiatnya untuk Anda. Mulai masa persiapan selama kehamilan, apa yang harus dilakukan bila ASI pertama keluar, sampai bagaimana posisi menyusui yang benar.

Bagi ibu bekerja, dilema kembali menghadang setelah waktu cuti tiga bulan berlalu. Apakah ASI eksklusif akan diteruskan atau cukup sampai di sini saja? Padahal kembali bekerja bukanlah hambatan untuk memberikan ASI eksklusif. Dengan teknik memerah yang benar serta penyimpanan yang tepat, si kecil tetap terpenuhi haknya. Tak kalah pentingnya adalah peran ayah serta dukungan lingkungan.

Tentu masih banyak pertanyaan seputar pemberian ASI yang perlu dituntaskan. Untuk itu, kami mencoba meluruskan mitos dan kesimpangsiuran informasi mengenai ASI.

Selanjutnya, pemberian makanan pendamping ASI menjadi tugas penting saat si bayi telah berusia 6 bulan. Tujuannya mengenalkan rasa dan tekstur makanan yang lebih padat daripada susu. Bagaimana membuatnya? Ikuti aneka resep yang kami sajikan di buklet ini.

Nah, bila Anda ingin memberikan yang terbaik bagi si buah hati, bulatkan tekad untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Daya tahan bayi terhadap penyakit jelas lebih tinggi, dan jalinan emosi ibu-anak akan begitu serasi. Kalau Anda yakin, Anda pasti bisa!

Marfuah Panji Astuti

MANFAAT ASI: IBU SEHAT, BAYI KUAT

Dengan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, sederet manfaat akan didapat oleh bayi maupun sang ibu.

Banyak penelitian telah membuktikan kehebatan ASI. Cairan kehidupan ini ditengarai memiliki kandungan gizi, nutrisi, dan antibodi yang paling lengkap. Salah satu hasil penelitian yang dilakukan di 6 negara berkembang membuktikan, bayi usia 0-2 bulan yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih rentan terkena infeksi pencernaan hingga 400%!

Yang dimaksud dengan ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa dicampur dengan apa pun, termasuk air bening, vitamin dan obat. Bayi yang sakit dan terpaksa harus diberi obat berarti sudah tidak mendapat ASI eksklusif lagi. Namun harap dipahami, pada dasarnya bayi tipis kemungkinan sakit bila 6 bulan pertama dalam kehidupannya mendapat ASI eksklusif secara benar. Sebab zat antibodi yang terkandung dalam ASI sedemikian sempurna sehingga bisa membentengi bayi dari penyakit apa pun.

Satu hal yang harus diyakini terlebih dulu adalah tiap ibu pasti bisa memberikan ASI untuk bayinya. Tuhan Yang Maha Pemurah telah menciptakan mekanisme produksi ASI begitu rupa sehingga semua bayi pada dasarnya bisa memperoleh haknya. Kendala-kendala yang muncul bisa diatasi selama persiapan yang dilakukan dan teknik pemberiannya benar.

MANFAAT ASI BAGI BAYI

Pemberian ASI secara eksklusif (tidak dicampur apa pun selama 6 bulan berturut-turut) memberikan sederet manfaat:

* Kesehatan

Kandungan antibodi yang terdapat dalam ASI tetap ampuh di segala zaman. Karenanya, bayi yang mendapat ASI eksklusif lebih sehat dan lebih kuat dibanding yang tidak mendapat ASI. ASI juga mampu mencegah terjadinya kanker linfomamaligna (kanker kelenjar).

ASI juga menghindarkan anak dari busung lapar, seperti yang marak belakangan ini. Sebab komponen gizi ASI paling lengkap, termasuk protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin, dan zat-zat penting lain yang belum terungkap. Apalagi ASI adalah cairan hidup yang mampu diserap dan digunakan tubuh dengan cepat. Manfaat ini tetap diperoleh meski status gizi ibu kurang.

* Kecerdasan

Manfaat berikutnya adalah mencerdaskan anak. Dalam ASI terkandung DHA terbaik, selain laktosa yang berfungsi untuk proses mielinisasi otak. Seperti diketahui, mielinisasi otak adalah salah satu proses pematangan otak agar bisa berfungsi optimal. Saat ibu memberikan ASI, terjadi pula proses stimulasi yang merangsang terbentuknya networking antarjaringan otak hingga menjadi lebih banyak dan terjalin sempurna. Ini terjadi melalui suara, tatapan mata, detak jantung, elusan, pancaran dan rasa ASI.

* Emosi

Saat disusui, bayi berada dalam dekapan ibu. Ini akan merangsang terbentuknya EI (Emotional Intelligence). Selain itu, ASI merupakan wujud curahan kasih sayang ibu pada buah hatinya. Doa dan harapan yang didengungkan di telinga anak selama proses menyusui pun akan mengasah kecerdasan spiritual anak.

MANFAAT MEMBERIKAN ASI UNTUK IBU

Selain bermanfaat untuk bayi, proses pemberian ASI juga bermanfaat bagi ibu. Berikut di antaranya:

* Diet alami

ASI eksklusif adalah diet alami bagi ibu. Dengan memberikan ASI eksklusif, berat badan ibu yang bertambah selama hamil akan segera kembali mendekati berat semula. Naiknya hormon oksitosin selagi menyusui, menyebabkan kontraksi semua otot polos, termasuk otot-otot rahim. Nah, karena ini berlangsung terus-menerus, nilainya kurang lebih sama dengan senam perut. Begitu juga aktivitas bangun malam untuk menyusui si kecil yang haus dan mengganti popok basahnya yang setara dengan olahraga. Belum lagi berbagai kegiatan yang dilakukan di siang hari, seperti, menggendong, memberi makan, mengajak bermain dan sebagainya.

* Mencegah kanker

Jangan salah, ASI bisa mencegah kanker, khususnya kanker payudara. Pada saat menyusui, hormon estrogen mengalami penurunan. Sementara tanpa aktivitas menyusui, kadar hormon estrogen tetap tinggi dan inilah yang diduga menjadi salah satu pemicu kanker payudara karena tidak adanya keseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron.

* Mengurangi risiko anemia

Saat memberikan ASI, otomatis risiko perdarahan pascabersalin berkurang. Naiknya kadar hormon oksitosin selama menyusui akan menyebabkan semua otot polos mengalami kontraksi. Kondisi inilah yang mengakibatkan uterus mengecil sekaligus menghentikan perdarahan. Harap diketahui, perdarahan yang berlangsung dalam tenggang waktu lama merupakan salah satu penyebab anemia.

* Manfaat ekonomis

Dengan menyusui, ibu tidak perlu mengeluarkan dana untuk membeli susu/suplemen bagi si kecil. Cukup dengan ASI eksklusif, kebutuhan bayi selama 6 bulan terpenuhi dengan sempurna. Selain tak perlu repot-repot mensterilkan aneka peralatan untuk memberikan susu kepada si kecil.

Gazali Solahuddin. Foto: Ferdi/NAKITA Narasumber:

Dr. I.G.A.N. Partiwi, Sp.A., MARS

ASI TERPAKSA TAK DIBERIKAN SECARA EKSKLUSIF JIKA…

* Ibu terinfeksi HIV, mengidap TBC aktif, dan Hepatitis B aktif.

* Puting ibu terlalu masuk sehingga tak mungkin diisap bayi dan menghambat pemberian ASI. Beberapa kasus puting mendelep masih bisa diatasi. Hanya perlu waktu bagi bayi untuk bereksplorasi dan belajar mengisap pada puting payudara ibu dengan kondisi seperti itu. Toh, bentuk puting seperti apa pun semestinya tidak sampai mengusik refleks isap yang merupakan refleks dasar bayi.

* Si bayi karena berbagai sebab harus mendapat perawatan terpisah dari ibunya dalam jangka waktu lama. Bayi seperti ini tetap dimungkinkan mendapat ASI, meski tentu saja sudah tidak eksklusif lagi. Si bayi pun butuh waktu lebih lama untuk belajar mengisap ASI langsung dari ibunya. Namun seperti kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

JANGAN LUPA, SIAPKAN DIRI SEBELUM MENYUSUI

Persiapan mental dan fisik yang cukup membuat proses menyusui menjadi mudah dan menyenangkan.

PERSIAPAN KALA HAMIL

Proses menyusui sebaiknya sudah dipersiapkan jauh hari sebelum melahirkan. Ini penting supaya ibu benar-benar siap, baik secara mental maupun fisik. Kesiapan ini akan memengaruhi kualitas dan kuantitas ASI. Berikut beberapa hal yang harus dipersiapkan:

· NIAT

Niat adalah kunci sukses untuk memberikan ASI eksklusif bagi sang buah hati. Niat ini harusnya sudah tertanam kuat jauh hari sebelumnya. Ibu harus bertekad akan memberikan makanan yang terbaik bagi bayinya. Dengan niat bulat, ibu akan berpikir optimis. Dari situ terbentuk energi positif yang akan memengaruhi kesiapan semua organ-organ menyusui sehingga ASI pun bisa mengalir lancar. Jika ibu yakin bisa menyusui, ASI yang keluar pasti banyak. Buang jauh-jauh pikiran negatif, seperti bagaimana kalau ASI tidak keluar, seandainya payudara bermasalah, dan sebagainya.

· HILANGKAN STRES

Usahakan selalu berpikir positif tentang kehamilan. Seandainya ada masalah, konsultasikan pada dokter kandungan. Kehamilan hendaknya jangan sampai memenjarakan Anda. Lakukan semua hal yang menyenangkan selama hamil, seperti jalan-jalan ke mal, berekreasi, berkumpul dengan teman-teman lama, mendalami hobi yang memungkinkan, dan sebagainya. Semua aktivitas tersebut sangat penting untuk menjaga ketenangan batin karena perasaan tenang dan bahagia berpengaruh pada produksi ASI

· PIJAT PAYUDARA

Pijat payudara sangat baik sebagai persiapan sebelum menyusui. Rangsanglah secara lembut dan pelan kedua puting susu dengan tangan. Buatlah gerakan memutar dan lakukan beberapa kali dalam sehari. Konsultasikan aktivitas ini dengan dokter kandungan, sebab pada kasus tertentu tindakan ini pantang dilakukan, terutama untuk ibu yang pernah melahirkan bayi prematur.

· PENUHI GIZI IBU HAMIL DAN MENYUSUI

Kebutuhan gizi ibu meningkat saat hamil dan menyusui. Selain untuk ibu, janin pun membutuhkan pasokan gizi yang tidak sedikit. Itulah sebabnya, asupan makan yang dikonsumsi ibu harus menganut pola makan gizi yang cukup dan seimbang. Sumber tenaga didapat dari karbohidrat; sumber pembangun ada di protein; sedangkan sumber pengatur dan pelindung terdapat pada vitamin dan mineral dari sayur dan buah-buahan. Perhatikan juga pola makan dan usahakan selalu untuk mengonsumsi makanan sehat. Jauhi jajanan yang tidak terjamin kebersihannya. Ingat, pola makan sehat saat hamil tidak hanya penting untuk janin, tapi juga memengaruhi kualitas ASI kelak.

· CIPTAKAN GAYA HIDUP SEHAT

Tujuannya agar kehamilan dan persalinan berlangsung lancar dan janin pun berkembang optimal. Hindari makanan atau minuman yang mengandung kafein dan alkohol, serta jauhi asap rokok. Agar stamina tubuh terjaga, lakukan olahraga secara teratur. Tentu saja bukan olahraga yang berat dengan gerakan menghentak, tapi olahraga ringan seperti berenang atau jalan-jalan pagi. Kondisi ibu yang sehat turut meningkatkan produksi ASI.

Saeful Imam

Narasumber:

dr. Karel A.L Staa, Sp.A, M.D.,
dari RS. Pondok Indah, Jakarta

PEMBERIAN ASI PERTAMA

“Aku pasti bisa!” Itulah yang harus diyakini ibu saat akan menyusui bayinya.

Proses menyusui harus sudah dimulai sejak bayi keluar dari rahim ibu. Dengan begitu, menit-menit pertama setelah persalinan merupakan momen yang sangat menentukan. Begitu pula hari-hari selama ibu dirawat untuk pemulihan. Apa saja yang mesti dilakukan dan diperhatikan? Inilah beberapa di antaranya:

* BERI SENTUHAN KULIT KE KULIT

Skin to skin contact dengan ibu begitu bayi lahir (sebelum dibersihkan) merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Ini penting untuk mengenalkan keberadaan ibu pada bayinya. Selain itu, sentuhan kulit ke kulit merangsang refleks bayi untuk mencari puting dan langsung menyusu pada ibunya. Tindakan ini juga merangsang keluarnya hormon oksitosin yang berguna mengurangi risiko perdarahan pada ibu sesudah bersalin. Oksitosin juga turut berperan merangsang keluarnya kolostrum, yakni zat penting dalam ASI yang kaya protein, antiinfeksi, dan pembersih usus bayi. Kolostrum biasanya keluar sejak hari pertama hingga ketujuh seusai melahirkan.

Khusus untuk bayi yang dilahirkan secara sesar, sentuhan kulit ke kulit bisa dilakukan dengan cara mendekap bayi di dekat pipi ibu. Dua jam seusai operasi, bayi bisa langsung disusui.

Sedangkan untuk bayi dengan berat lahir rendah atau bayi prematur, sentuhan kulit ke kulit masih bisa dilakukan dengan mendekap bayi di perut. Konsultasikan hal ini sebelumnya dengan dokter. Sentuhan kulit ke kulit dan menyusui sesegera mungkin bisa semakin menumbuhsuburkan rasa cinta ibu pada bayinya.

* JANGAN BERI CAIRAN LAIN

Beberapa ibu umumnya tidak langsung bisa menyusui bayinya setelah melahirkan. Mereka membutuhkan waktu puluhan menit hingga satu jam sampai ASI-nya keluar. Pada kondisi ini, banyak ibu yang memberi bayinya air putih atau minuman lain, apalagi jika bayi terlihat sangat kehausan. Ini sebaiknya jangan dilakukan karena bayi baru lahir membawa cukup cairan dalam tubuhnya. Bayi mampu bertahan meski tidak diberi cairan sedikit pun selama 4-6 jam pertama kehidupannya.

Usahakan untuk tetap bersikap relaks, tenang, dan optimis hingga ASI bisa keluar dengan lancar. Kerugian pemberian cairan lain selain ASI adalah bayi jadi enggan mengisap ASI, mengakibatkan diare karena cairan itu mungkin tercemar, alergi, ataupun mengalami bingung puting. Pemberian ASI pertama sesegera mungkin bertujuan untuk mengajari/membiasakan bayi mengisap ASI. Jadi, bukan untuk memberinya asupan makanan awal.

* UTAMAKAN RAWAT GABUNG

Rawat gabung merupakan pilihan tepat bagi ibu yang akan menyusui bayinya. Dengan cara itu, ibu bisa merawat dan memberi ASI kapan pun si kecil membutuhkan. Ada dua alternatif, ibu dan bayi memiliki ranjang terpisah, atau keduanya bersama dalam satu ranjang. Pilihan terakhir dilakukan jika ibu tidak sedang mengidap penyakit parah. Dari segi biaya, rawat gabung jelas lebih hemat sehingga lebih menguntungkan. Mintalah metode rawat gabung ini pada pihak rumah sakit atau klinik bersalin.

* PELAJARI CARA MENYUSUI YANG BENAR

Bagaimana teknik dan posisi menyusui yang benar bisa ditanyakan pada perawat, dokter, maupun pendamping persalinan. Ibu bisa berbaring sembari merangkul bayi atau meletakkan bantal dan selimut sebagai penopang kepala. Posisikan puting dan areola dengan benar. Pemilihan posisi bisa memengaruhi lancarnya ASI. Jangan khawatir bila merasakan demam ringan. Demam ASI ini akan menghilang beberapa jam setelah melahirkan.

Saiful Imam. Foto: Dok. NAKITA

Narasumber:

dr. Karel A.L Staa, Sp.A, M.D.,
dari RS. Pondok Indah, Jakarta


ASI MAKSIMAL BERKAT POSISI TEPAT

Agar nyaman, sesuaikan posisi menyusui dengan kondisi ibu.

Banyak sedikitnya ASI ternyata berhubungan langsung dengan posisi ibu saat menyusui. Posisi yang tepat akan mendorong keluarnya ASI secara maksimal. Apa pun teknik bersalinnya, ibu dapat menyusui bayi sesegera mungkin. Begitu pula jika melahirkan bayi kembar.

* Persalinan normal/spontan

Ibu yang melahirkan secara spontan bisa lebih leluasa dalam memilih posisi menyusui: sambil duduk atau berbaring menyamping pun tak masalah. Jika posisi duduk yang dipilih, gunakan kursi yang nyaman. Upayakan telapak kaki menginjak lantai. Gunakan dingklik (bangku kecil) sebagai pengganjal bila posisi kaki agak menggantung.

* Persalinan sesar

Football position adalah posisi menyusui yang disarankan untuk ibu yang melahirkan melalui persalinan sesar. Pada posisi ini, tubuh bayi digendong dengan salah satu tangan ibu. Upayakan letak kepala bayi berada tepat di bawah payudara dan membentuk garis lurus dengan badan bayi. Posisi ini aman karena bagian bawah perut ibu yang masih nyeri akibat operasi dapat terlindungi. Posisi ini pun merupakan posisi yang paling nyaman bagi ibu maupun bayinya.

* Bayi kembar

Sama dengan ibu yang melahirkan melalui persalinan sesar, football position juga tepat untuk bayi kembar. Caranya: kedua tangan ibu memeluk masing-masing satu kepala bayi, seperti memegang bola. Letakkan tepat di bawah payudara ibu. Posisi kaki bayi boleh dibiarkan menjuntai keluar. Untuk memudahkan, kedua bayi dapat diletakkan pada satu bidang datar yang memiliki ketinggian kurang lebih sepinggang ibu. Dengan demikian ibu cukup menopang kepala kedua bayi kembarnya saja. Cara lain adalah dengan meletakkan bantal di atas pangkuan ibu. (lihat gambar)

JIKA ASI BERLIMPAH

Untuk ibu yang beruntung memiliki ASI berlimpah dan alirannya deras, ada posisi khusus untuk menghindari agar bayi tidak tersedak. Caranya: ibu tidur telentang lurus sementara bayi diletakkan di atas perut ibu dalam posisi berbaring lurus dengan kepala menghadap ke payudara. (lihat gambar)

PERLEKATAN SAAT MENYUSUI

Selain posisi, hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah perlekatan antara bayi dan ibu saat menyusui. Perlekatan ini penting karena menentukan sedikit-banyaknya ASI yang keluar. Kalau sekadar menempel ke payudara ibu, maka hanya puting yang diisap oleh bayi. Akibatnya meski sudah menyedot sekuat tenaga, ASI hanya keluar sedikit mengingat “gudang” ASI tepat berada di bawah areola. Ibu akan merasa nyeri dan puting pun biasanya lecet.

Berikut tahapan untuk mendapat perlekatan yang baik:

- Temukan posisi senyaman mungkin

Bila ingin duduk, pilihlah kursi yang tidak terlalu tinggi. Upayakan telapak kaki menjejak lantai dengan nyaman. Bila ingin berbaring, perhatikan ketinggian posisi bayi. Usahakan bayi yang mendekatkan diri ke ibu dan bukan sebaliknya. Ini bermanfaat supaya ibu merasa nyaman dan tidak cepat lelah. Bila perlu, manfaatkan bantal sebagai penyangga tubuh bayi.

- Perhatikan posisi bayi

* Idealnya, kepala dan tubuh bayi haruslah lurus dan sejajar.

* Posisi payudara lebih tinggi dari kepala bayi. Jangan sampai kepala bayi lebih tinggi karena bayi pasti sulit menekuk kepalanya sedemikian rupa.

* Dagu bayi harus menempel pada payudara ibu.

* Usahakan supaya dada bayi menempel ke dada ibu atau perutnya menempel ke perut ibu.

* Upayakan semua bagian areola masuk ke dalam mulut bayi. Jika ibu memiliki areola yang besar, utamakan bagian bawahnya masuk lebih banyak dibanding bagian atas. Sekilas bibir bayi tampak dower bila perlekatannya baik dan akan terdengar suara bayi menelan susu (lihat gambar). Sebaliknya, perlekatan yang salah membuat ASI tidak keluar maksimal.

* Arahkan puting dan areola ke langit-langit bayi. Gunakan ibu jari dan jari telunjuk seperti posisi menggunting. Setelah areola masuk seluruhnya ke mulut bayi, jari tangan boleh dilepas.

* Jangan khawatir bayi tak dapat bernapas hanya karena mengisap ASI. Karena kalau tidak bisa bernapas, otomatis bayi akan melepaskan mulutnya dari payudara si ibu kemudian mencari mekanisme senyaman mungkin.

- Lamanya waktu menyusui

Tak perlu khawatir produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi sebab dengan kuasa Tuhan, kapasitas payudara ibu sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Hanya saja, lamanya waktu menyusui berbeda pada setiap bayi, bervariasi antara 15-30 menit. Setelah kenyang, otomatis bayi akan melepaskan isapannya dari payudara ibu. Biarkan saja bayi tertidur meski baru mengisap ASI dari satu payudara. Saat minta disusui kembali, lanjutkan dengan payudara yang satunya. Jadi, jangan buru-buru atau memaksa bayi melepaskan isapannya dari satu payudara hanya agar ia berganti dengan payudara lainnya.

Utami Sri Rahayu. Ilustrasi. Dok. NAKITA

Konsultan ahli:

Dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA.,
Fasilitator Laktasi pada Sentral Laktasi Indonesia


MASALAH YANG KERAP DIJUMPAI SAAT MENYUSUI

Beragam masalah dapat muncul saat ibu menyusui. Namun dengan dukungan keluarga, yakinlah masalah tersebut dapat teratasi.

1. STRES

Ibu yang kurang percaya diri saat menyusui biasanya akan dihantui bayangan stres. Apalagi bila yang dihadapi adalah anak pertama, dimana masih ada rasa “takut” untuk memegang, menggendong, maupun menyusui. Kondisi ini semakin bertambah buruk bila lingkungan keluarga terdekat seperti suami, orang tua, mertua atau saudara yang tinggal serumah tidak memberi dukungan. Padahal bayi yang rewel di usia 2 minggu, 4 minggu, 3 bulan dan 6 bulan adalah wajar karena sedang memasuki masa pertumbuhan yang amat pesat.

Cara mengatasi:

Dukungan dari suami dan keluarga untuk menenangkan atau bahkan membantu perawatan sederhana, seperti mengganti popok, menidurkan, dan sebagainya akan sangat bermanfaat. Bantuan sekecil apa pun semisal mengangkatkan bayi ke pangkuan ibu saat akan disusui pasti menumbuhkan rasa percaya diri ibu. Berikutnya, rasa percaya diri ini berpengaruh langsung pada kelancaran ASI. Bila ibu percaya diri, produksi ASI-nya dijamin lebih lancar dan berlimpah.

2. BINGUNG PUTING

Bayi yang langsung mengisap susu dari botol, umumnya akan mengalami bingung puting. Sebab prinsip kerja mengisap botol sangat berbeda dengan mengisap payudara ibu. Saat mengisap susu botol, bayi tidak perlu menggerakkan lidahnya karena dotnya sudah berlubang. Sedangkan saat menyusu pada payudara ibu, bayi harus menggerakkan lidahnya untuk menekan areola sambil melakukan gerakan mengisap. Jadi, memang butuh keterampilan tersendiri untuk mengisap ASI langsung dari payudara ibu.

Cara mengatasi:

Untuk mengatasinya ibu harus cermat mengamati tanda-tanda bayi yang mulai lapar atau haus. Antara lain bibirnya bergerak-gerak ke sana kemari pertanda gelisah atau langsung menangis. Bila tanda ini mulai terlihat, ibu dapat segera menyusui bayinya. Jangan panik/cemas bila ia terus menangis dan belum mau mengisap karena beberapa saat kemudian pastilah ia akan mencobanya lagi terdorong oleh rasa lapar dan haus. Bila bayi sudah mulai menyusu lagi, hindari pemberian susu melalui botol dan dot.

3. ASI SEDIKIT

Pada dasarnya produksi ASI sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam hal ini refleks oksitosin yang membuat ASI lancar mengalir dari “gudang susu” yang terdapat pada areola. Refleks ini bekerja sebelum dan saat menyusui. Isapan bayi akan menghasilkan rangsangan sensorik dari puting yang selanjutnya menghasilkan hormon oksitosin dalam darah. Pada saat yang sama terjadi pula rangsang sensorik dari puting yang menghasilkan hormon prolaktin dalam darah. Prolaktin inilah yang bertugas memberi perintah langsung kepada “pabrik susu” untuk kembali memproduksi ASI.

Cara mengatasi:

ASI akan berkurang bila tidak langsung diisap atau diperah. Jika payudara tetap penuh akan terbentuk PIF (Prolactin Inhibiting Factor), yakni zat yang menghentikan pembentukan ASI. Jadi, semakin sering diisap, maka produksi ASI pun akan semakin berlimpah.

4. PUTING LECET

Penyebabnya adalah perlekatan yang salah. Terutama bila areola tidak seluruhnya masuk ke dalam mulut bayi tapi hanya bagian putingnya. Akibatnya, puting terasa nyeri dan bila terus dipaksakan untuk menyusui akan lecet.

Cara mengatasi:

Oleskan ASI di puting dan sekitarnya sesaat sebelum menyusui. Efeknya, puting menjadi tidak kaku sekaligus berfungsi sebagai antibiotik meski yang paling penting tentunya memperbaiki perlekatan saat menyusui.

5. MASTITIS/PAYUDARA MERADANG

Bila ASI tak berhasil diisap dan tetap tertahan dalam payudara, maka payudara akan meradang. Untuk menguranginya, mau tidak mau ASI harus dikeluarkan, baik diisap langsung menggunakan alat khusus atau diperah dengan tangan. Umumnya, bayi tidak mau mengisap payudara yang tengah mengalami peradangan karena putingnya kaku.

Cara mengatasi:

Sebagai langkah awal, cobalah mengompres dengan air hangat, kemudian lakukan pemijatan. Caranya, topang bagian bawah payudara dengan satu telapak tangan. Gerakkan jari tangan ke arah puting sambil sesekali lakukan gerakan memutar. Sedangkan untuk memerah, letakkan posisi ibu jari dan telunjuk seperti jarum jam di angka 3 dan 9 (lihat hlm. 14-15), kemudian tekan tegak lurus ke arah dada lalu tarik ke arah luar sambil menekan puting. Lakukan gerakan ini secara berulang-ulang dan sesekali pindahkan jari pada posisi angka 6 dan 12 atau 5 dan 11.

6. PENGGUNAAN ALAT BANTU

Pada bayi-bayi prematur, refleks isap umumnya belum baik. Refleks ini baru muncul/berfungsi baik di usia 32­34 minggu.

Cara mengatasi:

Untuk merangsang kemampuannya mengisap, bantu dengan penggunaan alat khusus. Alat ini akan menampung ASI yang sudah diperas untuk kemudian dialirkan melalui selang halus yang ditempelkan pada payudara ibu. Dengan cara ini bayi akan terangsang untuk mengisap karena ada tetesan ASI melalui selang tadi. Alat ini kerap dimanfaatkan ibu yang mengadopsi anak. Dengan alat ini diharapkan bayi akan terangsang mengisap payudara ibu. Selanjutnya, lewat isapan tersebut produksi oksitosin dan prolaktin akan terpacu sehingga ibu benar-benar mengeluarkan ASI. Ibu dengan kondisi semacam ini umumnya akan berhasil memproduksi ASI dalam jangka waktu 1-6 minggu.

Utami Sri Rahayu. Foto: Dok. NAKITA

Konsultan ahli:

Dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA.,
Fasilitator Laktasi pada Sentral Laktasi Indonesia


5 LANGKAH MEMERAH ASI

Memerah ASI sebetulnya tak sulit selama dilakukan dengan teknik yang benar.

Niat memberikan ASI eksklusif saja ternyata tidak cukup. Banyak ibu
menghadapi kendala, seperti keharusan kembali bekerja. Demi memenuhi hak bayi mendapatkan ASI, ibu harus berupaya lebih. Tinggalkan ASI di rumah sementara ibu bekerja. Toh, ASI bisa diperah, disimpan, untuk kemudian diberikan kepada si kecil. Untuk itulah perlunya keterampilan memerah, terutama bagi ibu yang berhalangan memberikan ASI-nya secara langsung.

PERSIAPAN MEMERAH

Inilah tahapan persiapan memerah ASI:

* Cuci bersih kedua tangan ibu dengan benar dan menggunakan sabun.

* Usahakan relaks dan pilihlah tempat atau ruangan untuk memerah ASI yang tenang dan nyaman.

* Kompres payudara dengan air hangat. Gunakan handuk kecil, waslap, atau kain lembut lainnya.

* Mulailah mengurut payudara dengan langkah sebagai berikut:

A. Massage

* Pergunakan 2 jari, yaitu telunjuk dan jari tengah. Tangan kanan mengurut payudara kiri dan tangan kiri mengurut payudara kanan.

* Bila payudara besar, gunakan keempat jari.

* Dengan tekanan ringan, lakukan gerakan melingkar dari dasar payudara dengan gerakan spiral ke arah puting susu.

B. Stroke

* Dengan menggunakan jari-jari tangan, tekan-tekanlah payudara secara lembut. Dari dasar payudara ke arah puting susu dengan garis lurus, kemudian dilanjutkan secara bertahap ke seluruh bagian payudara.

* Dengan menggunakan sisir yang bergigi lebar, “sisirlah” payudara secara lembut, dari dasar payudara ke arah puting susu.

* Dengan ujung jari, lakukan stroke dari dasar payudara ke arah puting susu.

C. Shake

Dengan posisi tubuh condong ke depan, kocok/goyangkan payudara dengan lembut, biarkan daya tarik bumi meningkatkan stimulasi pengeluaran ASI.

Teknik memerah ASI dengan tangan metode massage, stroking, dan shaking yang disebut metode Marmet dikembangkan oleh Chele Marmet, seorang Lactation Consultant yang menjadi Direktur Lactation Institute di California.

MEMERAH DENGAN TANGAN

1. Letakkan ibu jari di atas kalang payudara dan jari telunjuk serta jari tengah di bawah sekitar 2,5 ­3,8 cm di belakang puting susu membentuk huruf C. Anggaplah payudara sebagai jam, maka posisi/arah ibu jari berada pada jam 12, dua jari lain berada di posisi jam 6. Ibu jari dan jari telunjuk serta jari tengah saling berhadapan. Jari-jari diletakkan sedemikian rupa sehingga “gudang” ASI berada di bawahnya.

2. Tekan lembut ke arah dada tanpa memindahkan posisi jari-jari tadi. Payudara yang besar dianjurkan untuk diangkat lebih dulu. Kemudian ditekan ke arah dada.

3. Buatlah gerakan menggulung (roll) dengan arah ibu jari dan jari-jari ke depan untuk memerah ASI keluar dari gudang ASI yang terdapat di bawah kalang payudara di belakang puting susu. Jangan menggesekkan ibu jari dan jari-jari pada kulit karena akan menimbulkan rasa sakit atau nyeri.

4. Ulangi gerakan-gerakan tersebut (1,2,3) sampai aliran ASI berkurang. Kemudian pindahkan lokasi ibu jari ke arah jam 11 dan jari-jari ke arah jam 5, lakukan kembali gerakan memerah seperti tadi.

5. Lakukan pada kedua payudara secara bergantian. Begitu tampak ASI memancar dari puting susu, itu berarti gerakan tersebut sudah benar dan berhasil menekan gudang ASI. Jangan lupa untuk meletakkan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperah.

Seluruh prosedur persiapan dan pemerahan dengan tangan membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit, meliputi:

- Massage, stroke, dan shake.
- Perah kedua payudara selama 5-7 menit tiap payudara.
- Massage, stroke dan shake.
- Perah kedua payudara selama 3-7 menit tiap payudara.
- Massage, stroke dan shake.
- Perah kedua payudara selama 2-3 menit tiap payudara.

Sebagai catatan, waktu yang dibutuhkan untuk memerah ASI di atas hanyalah patokan saja. Bila pasokan ASI sudah baik/banyak, patokan tersebut dapat diabaikan karena patokan waktu ini bermanfaat bila ASI hanya keluar sedikit atau bahkan belum keluar sama sekali. Yang justru harus diperhatikan adalah aliran ASI. Bila mulai berkurang alirannya segera ganti dengan memerah payudara berikutnya.

Hilman Hilmansyah. Ilustrasi Dok. NAKITA

Konsultan ahli:

dr. Utami Roesli, SpA., MBA., CIMI., IBCLC,
Ketua Yayasan Sentra Laktasi Indonesia

ASI PERAH HANYA KALA IBU-BAYI TERPISAH

Harap diingat, aktivitas menyusui langsung (breastfeeding) sebenarnya lebih bermanfaat dibanding ASI perah. Keterikatan, kedekatan, dan terciptanya suasana aman serta nyaman saat menyusui langsung dapat meningkatkan pertumbuhan fisik maupun psikis bayi. Karena itu, berikan ASI perah hanya kala bayi “terpisah” untuk sementara waktu dari ibunya. Setelah ibu di rumah dan bertemu kembali dengan si kecil, aktivitas menyusui langsung dapat segera dilakukan.

KOSONGKAN “GUDANG” AGAR ASI TERUS DIPRODUKSI

Secara prinsip, payudara terdiri atas tiga unsur utama, yaitu “pabrik”, saluran, dan “gudang” ASI (di daerah warna cokelat atau aerola). Ketiganya ibarat bejana berhubungan. Agar produksi terus berjalan, ASI di gudang harus habis lebih dulu. Bila gudang kosong, barulah pabrik akan mengisinya kembali dan seterusnya. Pendek kata, ASI di gudang harus selalu dihabiskan supaya proses produksi terus berjalan.

Saat memerah ASI, prosesnya hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar. Jadi, bagian yang agak belakanglah yang harus ditekan. Bila tak keluar banyak, kemungkinan teknik yang dilakukan salah. Bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi aktivitas yang tidak sulit.

Kunci memerah ASI dengan tangan adalah menemukan posisi jari-jari yang tepat. Lakukan latihan sampai menemukan posisi atau tempat yang tepat. Menggabungkan pemerahan ASI dengan tangan dan pengurutan payudara merupakan cara memerah ASI yang efektif.

PERAH DENGAN TANGAN LEBIH DIANJURKAN

ASI yang diperah dengan pompa sebenarnya tak direkomendasikan atau tak dianjurkan diberikan kepada bayi. Kenapa? Karena banyak pompa ASI di pasaran yang tidak memenuhi standar. Bahan karet yang terdapat di bagian belakang pompa yang berbentuk seperti bohlam ternyata tak bisa disterilkan. Bahkan bisa menjadi media yang menyalurkan mikroba. Lantaran itu, ASI hasil pompa dianjurkan hanya sebatas untuk mengatasi pembengkakan payudara.

Memang ada pula pompa ASI yang memenuhi standar, seperti pompa elektrik dan pompa berbentuk piston. Namun harganya terbilang mahal. Jadi, yang dianjurkan tetaplah teknik memerah dengan tangan. Selain mudah, tak merepotkan serta tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli peralatan. Modalnya cuma satu, keterampilan ibu memerah ASI dengan tepat seperti di atas.

PENYIMPANAN DAN PEMBERIAN ASI

Setelah diperah, ASI harus disimpan dengan baik agar dapat bertahan lama.

Berikut trik menyimpan ASI:

1. Simpanlah ASI dalam botol atau gelas yang sudah disterilkan terlebih dahulu, lalu tutup rapat-rapat.

2. Sebaiknya cantumkan jam dan tanggal ASI diperah.

3. ASI yang berada di suhu ruangan hanya dapat bertahan 6-8 jam

4. ASI yang disimpan dalam termos es dapat bertahan selama 24 jam.

5. ASI yang disimpan di lemari es dapat bertahan 2 minggu (usahakan tempatnya terpisah dari bahan makanan lain).

6. Jika dimasukkan dalam freezer, ASI bisa tahan sampai 3 bulan. Akan tetapi jangan disimpan di bagian pintu freezer karena di bagian inilah perubahan dan variasi suhu udara paling besar terjadi.

Meski bisa disimpan lama, ASI dianjurkan segera dikonsumsi dalam waktu 2 hari atau 48 jam saja. Kenapa? Karena jika disimpan di lemari es selama 2 minggu kemungkinan ada zat antibodi yang mati akibat udara dingin. Makin lama disimpan tentunya makin banyak zat yang mati. Jadi sebaiknya jangan lewat dari waktu itu supaya kualitas atau komposisinya tidak berubah.

CARA DAN WAKTU PEMBERIAN

Sebelum diberikan kepada bayi, sebaiknya ASI dihangatkan lebih dulu. Tak perlu dipanaskan di atas api karena zat-zat yang terkandung di dalamnya justru akan mati. Jadi, sebatas “dipanaskan” dengan cara merendam gelas/cangkir tempat menyimpan ASI di dalam mangkuk yang telah diisi air hangat.

Berikan ASI perah dengan sendok atau pipet khusus agar si kecil tidak terbiasa mengisap dot dan jadi sulit menyusu pada payudara ibu. Setelah terbiasa dengan dot, bayi hanya akan mengisap ujung puting ibu seperti saat mengedot. Padahal cara menyusu yang benar adalah seluruh aerola ibu masuk ke mulut sang bayi. Alhasil, biasanya ASI yang keluar sedikit, di sisi lain puting ibu malah lecet. Jadi, jalan terbaiknya adalah memberikan ASI perah dengan cara disuapi menggunakan sendok. Tularkan keterampilan ini pada pengasuh, saudara, nenek/kakek sang bayi atau siapa pun yang akan mengasuh si kecil selama ditinggal bekerja.

Lalu kapan sebaiknya ASI perah diberikan? Ya setiap saat si bayi menginginkannya. Sentuhlah pipi si kecil dengan jari. Kalau bayi merespons dengan cara segera membuka mulut dan menoleh ke arah sentuhan tersebut, berarti dia lapar/haus. Segeralah berikan ASI perahan yang sudah disiapkan sebelumnya.

Satu lagi, tak perlu khawatir jika ASI yang berhasil diperah tergolong sedikit. Toh, sebenarnya bayi secara perlahan akan terbiasa dengan kondisi seperti itu. Awalnya mungkin si kecil gelisah karena merasa kurang kenyang, namun 3-4 hari kemudian, bayi akan beradaptasi sambil menunggu ibu kembali ke rumah.

Hilman Hilmansyah. Foto: Ferdi/NAKITA

Konsultan ahli:

dr. Utami Roesli, SpA., MBA., CIMI., IBCLC,
Ketua Yayasan Sentra Laktasi Indonesia

AYAH, DUKUNG IBU, SELAMA MENYUSUI, YA!

Dukungan ayah menentukan keberhasilan program ASI eksklusif.

Di hari pertama seusai melahirkan, ibu pastilah mengalami kelelahan fisik dan mental. Akibatnya, ibu merasa cemas, tidak tenang, hilang semangat, dan sebagainya. Ini merupakan hal normal yang perlu diantisipasi suami maupun pihak keluarga.

Namun dalam beberapa kasus, terutama pada anak pertama, banyak ayah yang lebih sibuk dengan bayinya daripada memerhatikan kebutuhan sang istri. Jika kondisi ini terus-menerus berlanjut maka ibu akan merasa bahwa perhatian suami padanya telah menipis sehingga muncul asumsi-asumsi negatif. Terutama yang terkait erat dengan penampilan fisiknya setelah bersalin. Tubuh yang dianggap tak lagi seindah dulu membuat suami lebih mencintai anak daripada dirinya sebagai istri. Perasaan negatif ini akan membuat refleks oksitosin menurun dan produksi ASI pun terhambat.

HASIL KERJA TIM

Karena pikiran negatif ibu memengaruhi produksi ASI, maka dukungan ayah sangat dibutuhkan. Pentingnya peran ayah dalam mendukung ibu selama memberikan ASI-nya memunculkan istilah breastfeeding father atau ayah menyusui. Jika ibu merasa didukung, dicintai, dan diperhatikan, maka akan muncul emosi positif yang akan meningkatkan produksi hormon oksitosin sehingga produksi ASI pun lancar. Bantulah ibu saat mulai proses menyusui, sehingga cukup waktu baginya untuk istirahat. Sebagai catatan, istirahat yang berkualitas pun penting untuk meningkatkan kualitas ASI.

Bentuk dukungan ayah menyusui sebenarnya cukup banyak, antara lain:

* Tetap memberikan perhatian kepada istri.

* Membantu istri menjaga anak-anak, termasuk kakak si bayi.

* Menciptakan kesempatan agar istri punya waktu lebih banyak dengan si bayi selain cukup waktu untuk beristirahat.

* Tidak melontarkan kritik terhadap bentuk tubuh istri yang umumnya memang melar setelah melahirkan.

* Menemani istri bangun malam hari untuk menyusui, mengganti popok, mengambilkan minum/makan setelah menyusui, menemani ke dokter dan hal-hal lain yang membuat istri menjadi tenang.

Intinya, ayah harus siap setiap saat bila ibu membutuhkan bantuan. Meski secara lahiriah suami tak bisa hamil dan tak bisa memberi ASI, bagaimanapun proses menyusui adalah proses keluarga. Bukankah anak terlahir sebagai bagian keluarga? Jadi merawat dan mendidik anak haruslah dilakukan secara bersama-sama pula.

Santi Hartono. Foto: Dok. nakita

Narasumber:Johanes Papu, Psi.,
psikolog pada www.e-psikologi. com,

sekaligus membagi pengalamannya sebagai ayah menyusui

BENTUK DUKUNGAN LINGKUNGAN:

* POJOK ASI DI MAL DAN TEMPAT UMUM

Saat ini belum banyak fasilitas umum yang menyediakan ruang untuk ibu menyusui. Ini tak lepas dari kebijakan pemerintah dan kesadaran ataupun kepedulian publik terhadap hak-hak anak, termasuk hak bayi untuk mendapatkan ASI. Padahal pemerintah bisa terlibat dengan berbagai cara, misalnya membuat peraturan yang mengharuskan setiap fasilitas umum dilengkapi dengan pojok ASI, sehingga ibu tetap nyaman memberikan ASI-nya meski sedang berada di tempat umum. Dukungan moral dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk mewujudkannya.

* KANTOR SAYANG IBU

Kembali bekerja bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif. Tentu saja dibutuhkan fasilitas di tempat kerja yang memungkinkan proses ini tetap berjalan. Misalnya tersedia tempat untuk menyusui, memberikan toleransi waktu bagi ibu untuk menyusui bayinya, atau menyediakan ruangan yang memadai untuk memerah dan menyimpan ASI.

Kondisi ini bukan saja baik bagi bayi, tapi juga bagi perusahaan. Penelitian menunjukkan, bayi yang diberi ASI eksklusif tumbuh lebih sehat. Artinya, ia jarang sakit sehingga ibu tak perlu sering izin dari kantor. Memang belum ada penelitian yang mengungkapkan adanya hubungan produktivitas ibu dengan aktivitas menyusui. Tapi satu hal pasti, jika ibu merasa “bersalah” terhadap anaknya karena tidak dapat memberikan ASI eksklusif, maka bisa saja produktivitas kerjanya menurun sebab si ibu sulit memusatkan perhatian pada pekerjaan.

PERTANYAAN FAVORIT SEPUTAR ASI

Banyak ilmu yang masih “abu-abu” seputar ASI. Apakah memang demikian faktanya ataukah sekadar mitos belaka?

* Jika ibu mengalami kesundulan (hamil lagi dalam jarak dekat), apakah pemberian ASI harus dihentikan?

Fakta: Hal ini masih kontroversial. Ada dokter kandungan yang melarang ibu hamil menyusui karena khawatir terjadi kontraksi rahim yang bisa menyebabkan keguguran. Namun ada juga yang tidak melarang. Belum ada penelitian yang betul-betul membuktikan hal tersebut. Juga tak ada anjuran yang pasti dalam keadaan bagaimana seorang ibu hamil harus ekstra hati-hati. Kalau memang merasa nyeri perut dan memiliki riwayat keguguran, bermasalah dengan kandungan, atau malah pernah mengalami perdarahan, sebaiknya hentikan. Akan tetapi kalau kehamilannya sehat-sehat saja alias tidak ada masalah, pemberian ASI bisa diteruskan.

* Sebelum menyusui, ASI yang keluar pertama harus dibuang dulu?

Fakta: Tidak perlu. ASI pertama yang keluar adalah kolostrum yang mengandung banyak zat antibodi untuk kekebalan tubuh. Anggapan ASI yang keluar pertama adalah basi juga tidak benar karena ASI selalu terlindungi dalam payudara ibu. Dengan tujuan membunuh kuman, tiap tetes ASI yang keluar sebelum menyusui boleh saja dioleskan di seputar puting susu ibu.

* Benarkah ASI bisa anyep/dingin/basi?

Fakta: ASI selalu dalam keadaan terlindungi dalam payudara, sehingga tak mungkin basi atau dingin karena selalu sesuai dengan suhu tubuh, kecuali kalau ASI sudah dikeluarkan. Dalam suhu ruang ASI bisa bertahan sekitar 6 jam, dan 2 minggu hari bila ditaruh di kulkas serta 3 bulan di suhu freezer, asalkan tidak sering dibuka-tutup.

* ASI bisa berubah rasa dan warna?

Fakta: Rasa ASI memang bisa berubah dan lebih variatif sesuai dengan makanan yang dikonsumsi ibu. Komposisinya pun tergantung usia anak. Warna ASI juga bisa berubah sesuai kebutuhan zat gizi yang diperlukan bayi.

Inilah urutannya:

- Kolostrum

ASI yang pertama keluar adalah kolostrum yang warnanya agak kekuning-kuningan. Kolostrum banyak mengandung zat antibodi yang bermanfaat bagi tubuh.

- Mature milk

Setelah beberapa hari, tubuh ibu memproduksi susu matang (mature milk) dengan komposisi:

1. Foremilk

Selama 5 menit pertama ASI yang keluar berwarna kebiru-biruan dan tampak encer, dinamakan foremilk. Di dalamnya terkandung protein, laktosa dan nutrisi lainnya.

2. Hindmilk

Selanjutnya, ASI yang diproduksi tubuh disebut hindmilk. Warnanya putih dan mengandung banyak lemak.

* Benarkah payudara kanan mengandung makanan dan yang kiri minuman?

Fakta: Biasanya payudara mana yang disusukan pada bayi tergantung pada kenyamanan posisi ibu. ASI yang dikeluarkan, baik dari payudara kanan maupun kiri, sama-sama mengandung foremilk dan hindmilk atau dengan kata lain memiliki komposisi yang sama. Puaskan bayi pada satu payudara selama kira-kira 15 menit. Bila masih belum puas, barulah pindah ke payudara lainnya. Biasanya ASI yang keluar adalah bagian yang encernya dulu (foremilk), kemudian baru hindmilk.

* Makanan pedas dan bersantan yang dikonsumsi ibu bisa membuat bayi mencret?

Fakta: Tak pernah terjadi bayi mencret hanya gara-gara makanan yang dikonsumsi ibunya. Meski demikian, sebaiknya jangan mengonsumsi makanan yang terlalu merangsang karena ada juga bayi yang menjadi kembung karenanya.

* Ibu menyusui sebaiknya tidak minum es karena membuat bayinya pilek?

Fakta: Tidak ada hubungannya sama sekali. Suhu ASI dalam payudara tetap hangat 37 derajat Celsius. Apa pun yang dikonsumsi ibu akan diserap darah dan nantinya diproduksi menjadi ASI.

* Apakah obat aman dikonsumsi ibu menyusui yang sedang sakit?

Fakta: Rata-rata obat yang diresepkan dokter untuk ibu menyusui kala sakit aman bagi si bayi. Kalaupun ada yang sampai terbawa melalui ASI, pengaruhnya tidak signifikan atau membahayakan bayi. Konsumsi obat juga tidak menyebabkan berkurangnya produksi ASI, kecuali obat-obatan yang mengandung hormon estrogen seperti pil KB, atau obat jenis diuretik yang menyebabkan berkurangnya produksi ASI.

* Jika bayi sakit pilek/batuk maka ibunyalah yang minum obat?

Fakta: Tidak benar. Bila bayi yang sakit, maka obatnya pun harus diminum si bayi dan bukan ibunya. Biasanya obat yang diberikan kepada bayi hanyalah obat-obatan yang sifatnya mengurangi gejala saja. Kalau ibunya yang minum obat, meski keluar melalui ASI, jumlahnya sangat kecil dan tidak bisa dipastikan dosisnya.

* Semasa menyusui ibu harus makan dua porsi lebih banyak?

Fakta: Sebetulnya tidak demikian. Yang terpenting adalah konsumsi menu seimbang. Kalau merasa lapar silakan makan, tapi jangan dipaksa kalau sudah kenyang. Yang harus diperhatikan adalah keseimbangan dan kecukupan gizinya. Sebaiknya ibu pun tidak diet karena komposisi ASI bisa terganggu selain produksinya juga akan berkurang.

* Payudara besar identik dengan ASI berlimpah?

Fakta: Tidak benar. Payudara besar menandakan banyaknya lemak yang menunjang. Sedangkan banyak sedikitnya produksi ASI tergantung pada gudang ASI dimana terdapat kelenjar-kelenjar susu yang menghasilkan ASI. Setiap ibu mempunyai kelenjar yang banyaknya kurang lebih sama.

* Payudara jadi kendur bila menyusui?

Fakta: Justru proses menyusui membuat payudara jadi kencang. Karena adanya kontraksi dari otot-otot dan kelenjar payudara.

* Menyusui bisa mempercepat rahim mengecil kembali?

Fakta: Selama menyusui, refleks isap bayi pada puting susu mem-feedback hormon di otak ibu. Ini menyebabkan kontraksi rahim. Selain mempercepat mengecilnya rahim, kontraksi juga akan mengeluarkan darah nifas yang mungkin masih tertinggal usai melahirkan.

* Bila anak sudah 2 tahun ASI tak bagus lagi?

Fakta: Memang ada anjuran ASI diberikan sampai anak usia 2 tahun saja. Produksi ASI sendiri masih tetap baik. Demikian pula dengan komposisi kandungan gizinya, meskipun telah berubah sesuai usia anak.

* Bayi dengan ASI eksklusif akan susah diberi makanan pendamping lainnya?

Fakta: Justru bayi yang mendapat ASI eksklusif nantinya lebih mudah menerima variasi rasa makanan pendamping. Karena bayi sudah terbiasa memperoleh rasa ASI yang variatif.

* Setelah ibu bekerja produksi ASI akan berkurang?

Fakta: Tidak selalu. Caranya, sebelum dan sesudah bekerja ibu tetap memberikan ASI langsung kepada bayinya. Sementara selama ibu bekerja, ASI tetap dikeluarkan dengan cara diperah tiap 3 jam sekali. Kalau hanya diperah saja tanpa disusukan langsung, produksinya pun akan berkurang karena isapan bayi dapat merangsang kerja otak untuk menghasilkan hormon prolaktin. Bila hanya diperah, rangsang yang ditimbulkannya jelas berbeda.

* Bisakah ASI dikeluarkan kembali setelah menyusuinya terhenti sementara?

Fakta: Sangat mungkin ibu yang pernah menyusui dan memberhentikan ASI-nya kemudian ingin menyusui lagi. Caranya dengan proses relaktasi, yaitu dirangsang melalui isapan bayinya. Butuh waktu beberapa hari untuk bisa keluar lagi. Lebih mudah bila usia bayi kurang dari 2 bulan dibanding bayi 6 bulan ke atas. Namun prinsipnya, bila bayi sering didekatkan, maka suara, tangisan, isapan pada puting susu dan kedekatan ibu dengan bayinya akan membantu produksi ASI kembali, berapa pun usia si bayi.

* Meski ibu malnutrisi komposisi ASI tetap tak berubah?

Fakta: ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi. Kalaupun sampai terjadi malnutrisi, kualitas ASI tetap terjaga dengan mengorbankan sang ibu. Namun kompensasi ini ada batasnya, misalnya ibu dengan malnutrisi berkepanjangan sampai titik tertentu bisa membuat komposisi ASI berubah. Meski demikian tetap lebih baik ASI diberikan daripada tidak sama sekali.

* Bayi yang disusui sampai usia 2 tahun akan lebih lekat dengan orang tuanya?

Fakta: Berdasarkan banyak pengalaman, ikatan anak dengan ibunya menjadi lebih kuat. Kecerdasan emosinya pun lebih stabil dan bagus. Nantinya anak tumbuh menjadi pribadi yang mantap dan penuh percaya diri. Secara intelektual pun anak mempunyai kemampuan yang baik.

*ASI bisa menyebabkan obesitas?

Fakta: Tidak. ASI merupakan cairan hidup. Kandungan yang terdapat di dalamnya begitu diserap tubuh akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. Semua zat yang dibutuhkan seperti AA/DHA terdapat dalam ASI dan begitu masuk ke tubuh secara otomatis pula enzim-enzim berharga itu tercipta.

* Bila mengenai pipi bayi, ASI akan menyebabkan eksim/dermatitis?

Fakta: ASI relatif aman. Kemungkinan dermatitis pada pipi bayi karena ASI kecil sekali.

*Bila ASI terkena alat kelamin bayi laki-laki kelak bisa menyebabkan impoten?

Fakta: Tak ada hubungannya sama sekali antara ASI sebagai penyebab impotensi kelak.

*Bayi yang sakit mata bisa sembuh hanya dengan ditetesi ASI?

Fakta: Belum ada penelitiannya. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik segera bawa si kecil ke dokter mata.

* Dilarang menyusui saat magrib karena takut si bayi “kemasukan”?

Fakta: Ini jelas-jelas mitos yang tak ada alasannya. Bayi bisa disusui kapan pun dia membutuhkannya.

*Bolehkah bayi minum ASI donor?

Fakta: Meski bukan ASI dari ibunya, pengaruhnya tetap lebih baik buat si bayi dibanding bila ia mendapat susu formula.

*Bila bayi kuning, ASI harus dihentikan?

Fakta: Bayi kuning awal biasanya terjadi di hari kedua atau kesepuluh dalam kehidupannya. Untuk mencegah agar tak semakin parah, justru sangat dianjurkan pemberian ASI yang lebih banyak. Jadi, jangan batasi frekuensinya dan tak perlu memberi tambahan cairan lainnya seperti air mineral dan sebagainya.

Dedeh Kurniasih. Ilustrator: Pugoeh

Narasumber:

dr. Nanis Sacharina Marzuki, Sp.A.,
Konselor Laktasi dari Klinik Anakku, Cinere, Jakarta

KE MANA BERKONSULTASI TENTANG ASI

Sentra LAKTASI Indonesia:

Jl. Agung Perkasa Raya Blok J5 No. 16 Sunter Agung Podomoro, Jakarta Utara Telp. (021) 651 0183

Jakarta

* PK. St. Carolus
Jl. Salemba Raya No. 41 Jakarta 10440 Telp. (390) 4441 pes. 7257

* RS Husada
Jl. Raya Mangga Besar No. 137-139 Jakarta Barat Telp. (021) 626 0108

* RSAB Harapan Kita
Jl. S. Parman Kav. 87 Jakarta Barat Telp. (021) 566 8284 pes. 1205

* RS Pondok Indah
Jl. Metro Duta Kav. VE Jakarta Selatan Telp. (021) 765 7525

* RS OMC
Jl. Pulomas Barat VI No. 20 Jakarta Timur Telp. (021) 472 3332

* RS Pertamina Jaya
Jl. Achmad Yani No.2 By Pass Jakarta Pusat Telp. (021) 421 1911 ext. 4254

* RSAL Mintoharjo
Jl. Bendungan Hilir Raya Jakarta Pusat Telp. (021) 574 9037/574 9038

* RS Bunda Jakarta
Jl. Teuku Cik Ditiro Jakarta Pusat Telp. (021) 3192 4917

* RS Medistra
Jl. Gatot Subroto Kav. 59 Jakarta Selatan Telp. (021) 527 7382 ext. 217-222

Bekasi

* RSIA Hermina Bekasi
Jl. Kemakmuran No. 39 Margajaya, Bekasi Telp. (021) 884 2121

Depok

* RSIA Hermina Depok
Jl. Raya Siliwangi No. 50 Pancoran Mas, Depok Telp. (021) 7720 2525

Bogor

* RS PMI Bogor
Jl. Pajajaran 80 Bogor Telp. (0251) 324080

* RS Azra Bogor
Jl. Pajajaran No. 129 Bogor Telp. (0251) 318456

Bali

* RSB Puri Bunda
Jl. Gatot Subroto VI/19 Denpasar, Bali Telp. (0361) 437999 Fax. (0361) 433988

Makassar

* Poltekkes Makassar (Aswita Amir, Siti Mardiah, SKM) Jurusan Gizi
Jalan Paccerakkane KM 14 Daya Makassar Telp./Fax. (0411) 510197

Batam

* RS AWAL BROS BATAM
Jl. Gajah Mada Kav. I Baloi, Batam Telp. (0778) 431777

Riau

* RS Awal Bros Pekanbaru
Jl. Jendral Sudirman No.117 Tangkerang Pekanbaru, Riau 28282 Telp. (0761) 47333 ext. 2300

* RS PT Caltex Pacific Indonesia
Pekanbaru Riau Telp. (0761) 594297

Banten

* RS Misi Rangkasbitung Jl. Multatuli No. 41 Rangkasbitung Lebak, Banten 42311 Telp. (0252) 201014

* RS International Bintaro Jl. MH Thamrin No.1 Sektor 7 Bintaro Jaya Tangerang, Banten Telp. (021) 745 5500

* RS. Siloam Gleneagles Jl. Siloam No. 6 Lippo Karawaci Tangerang, Banten Telp. (021) 546 0055 pes. 7151

Surakarta

* Yayasan Kakak (Fajar Yulianta/Sofie)
Jl. Slamet Riyadi No. 534 B Telp. (0271) 711453

Medan

* RSU Dr. Pirngadi
Jl. Prof. H.M. Yamin SH. No.47 Medan 20217 Telp. (061) 453 6022 ext. 267

Yogyakarta

* RS Panti Rapih
Jl. Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223 Telp. (0274) 514845 pes. 227

Surabaya

* RS Mitra Keluarga Surabaya
Jl. Satelit Indah II Darmo Satelit Surabaya 60187 Telp. (031) 734 5333

Semarang

* RS St. Elisabeth
Jl. Kawi No.1 Telp. (024) 831 0076 pes. 7405

Kaltim

* RS Pupuk Kaltim
Jl. Oxygen, Bontang Kalimantan Timur 75313 Telp. (0548) 41118 pes. 237

Irfan Hasuki

About these ads

One thought on “Artikel ASI

  1. saya telah memberikan asi eksklusif 6 bulan kepada anak saya yang sekarang telah berusia 9 bulan, saya benar-benar merasakan keistimewaan dari pemberian asi eksklusif anak saya hampir tidak pernah sakit

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s