Masalah-Masalah ASI


9 PROBLEMA MENYUSUI
Tahukah Ibu, kapan menyusui harus dilakukan pertama kali?

“Saya bahagia punya bayi. Saya ingin sekali menyusuinya sampai usia
setahun, bahkan dua tahun.” Tapi apa yang terjadi? Baru sebulan saja,
produksi ASI berhenti. Ibu mana yang tak sedih, bahkan mungkin merasa
kurang berharga karena tidak dapat memberikan manfaat ASI kepada
bayinya. Sementara banyak ibu lain dengan persiapan biasa-biasa saja
dapat lancar menyusui. Kadang, sampai tumpah ruah produksi ASI-nya.
Mengapa bisa demikian?

Sebenarnya, baik menyusui dan menyusu merupakan aktivitas yang
kompleks bagi ibu dan bayi. Di tengah jalan, prosesnya bisa saja
mengalami hambatan. Persoalan ini dialami banyak ibu. Kadang faktor
penyebabnya terlalu samar dan coba dinafikan oleh yang bersangkutan.
Apa saja persoalan itu, kami merangkumkan 9 yang paling banyak
ditemui pada pengunjung Klinik Laktasi, RS St. Carolus, Jakarta
Pusat, tahun 2006. Semoga tulisan ini membantu Ibu mencari jalan
keluar dari masalahnya.

1. Merasa ASI kurang
Para ibu yang merasa ASI-nya kurang menduduki peringkat utama atau
yang terbanyak. Tercatat sekitar 464 ibu yang mengeluhkan masalah ini
ke Klinik Laktasi RS St. Carolus. Faktor penyebabnya ternyata lebih
bersifat psikologis (emotional factor). Yakni, ibu merasa produksi
ASI kurang, padahal sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan bayi.
Ketidakpedean ibu sebenarnya bisa diatasi dengan diberi motivasi agar
ibu lebih yakin bahwa ia bisa memproduksi ASI sesuai kebutuhan bayi.
Termasuk ibu yang ingin menyusui bayi kembar, sebenarnya kebutuhan
ASI akan tercukupi.

Ada beberapa langkah untuk meningkatkan produksi ASI, di antaranya:
* Pastikan ibu menyusui dengan posisi yang benar dan perlekatan yang
baik.
* Memberikan kesempatan pada bayi untuk menyusu sesering mungkin dan
sesuai keinginan bayi (on demand). Kalau dihitung secara umum, dalam
sehari bisa 10-12 kali menyusu.

* Bayi tidak diberikan dot/empeng.
* Pastikan ibu mendapatkan asupan makanan bergizi dan minum yang
cukup.
* Usahakan untuk selalu relaks dan cukup istirahat.
* Jangan lupa skin to skin contact, misalnya saat tidur bersama bayi
atau saat mengganti popoknya bila buang air kecil/besar.

2. Kurang memahami penatalaksanaan laktasi
Tercatat 307 ibu yang kurang paham soal ini. Padahal penjelasan
informasi tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya seharusnya
dimulai sejak masa kehamilan (usia kandungan 32 minggu/antenatal
preparation), lalu pada masa bayi lahir sampai berusia 2 tahun.
Termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui.

Menyusui bayi dalam 30 menit setelah melahirkan, yang dilakukan di
ruang bersalin juga menentukan kelancaran proses berikutnya. Apabila
ibu menjalani operasi sesar pun bayi tetap disusui segera setelah
lahir, kecuali ada kendala medis. Tujuannya untuk memberikan
perangsangan sesegera mungkin pada payudara agar kegiatan produksi
dan pengaliran ASI berjalan mulus. Bayi pun dilatih menggunakan
refleks mengisapnya sesegera mungkin agar dapat menyusu dengan
lancar. Biasanya pada proses menyusu pertama kali, bayi memang tidak
langsung mendapat ASI. Ada yang baru pada hari ke-3 ASI mengalir ke
luar. Nutrisi yang dibawa bayi dari kandungan membuatnya mampu
bertahan hidup selama menunggu ASI keluar.

Manajemen laktasi juga mencakup bagaimana cara menyusui yang benar
dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas
indikasi medis. Diharapkan ibu tak memberikan makanan atau minuman
apa pun selain ASI kepada bayi baru lahir. Ini juga termasuk tidak
memberikan dot atau empeng kepada bayi yang diberi ASI perah.

Sayang, banyak ibu baru mengetahui manajemen laktasi setelah
melahirkan. Alhasil, mereka kerap mengalami berbagai kendala
menyusui. Misal, kesulitan mencari posisi menyusui yang tepat,
kendala payudara bengkak dan sebagainya. Bila ibu sudah paham
manajemen laktasi sejak hamil, tentu persoalan menyusui diharapkan
takkan ditemui. Kalaupun ada kendala, masalahnya tak sampai berat dan
dapat diatasi segera. Dengan begitu, ibu pun bisa lancar memberikan
ASI eksklusif pada si kecil.

3. Relaktasi
Relaktasi adalah suatu keadaan dimana ibu yang telah berhenti
menyusui ingin memulainya kembali. Ada beberapa situasi yang
mendorong dilakukannya relaktasi, di antaranya:

* Bayi sakit dan sudah lama tak menyusu pada ibu.
* Bayi sudah diberikan makanan pendamping, tapi ibu ingin kembali
menyusui.
* Ibu menderita sakit sehingga berhenti menyusui.
* Ibu merasa bersalah lantaran memberikan susu botol, padahal ASI
adalah yang terbaik bagi bayi.
Sepanjang 2006, terjadi peningkatan jumlah ibu yang melakukan
relaktasi di RS St Carolus, yakni sekitar 198 ibu. Akan tetapi,
proses relaktasi tidaklah selalu mudah. Perlu ketekunan dan kesabaran
ibu. Apalagi bayi yang sudah lama tak menyusu, tentu akan mengalami
bingung puting. Proses relaktasi kadang harus menggunakan alat
suplementer berupa pipa plastik atau slang yang diletakkan dekat
puting payudara sehingga lama-kelamaan bayi akan beralih menyusu
lagi. Dengan usaha yang terus-menerus, motivasi yang kuat, konsisten
serta relaktasi lebih dini, kemungkinan untuk berhasil akan lebih
tinggi.

4. Sudah mendapat prelacteal feeding
Maksudnya ibu memberikan makanan atau minuman lain selain ASI terlalu
dini (di bawah 6 bulan). Contoh, bayi diberi air putih, air gula,
bahkan susu formula. Tercatat sekitar 186 ibu yang berkonsultasi ke
klinik laktasi mengaku melakukan hal ini. Mereka umumnya kurang
memahami penatalaksanaan laktasi yang benar sehingga memberikan
makanan/minuman lain selain ASI.

Kekurangpahaman ibu akan manajemen laktasi juga berkaitan dengan
banyak tempat bersalin/rumah sakit yang kurang peduli akan manfaat
ASI. Para ibu yang melahirkan di sana dan ASI-nya tidak/belum keluar
tidak didukung oleh petugas kesehatan yang malah memberikan air putih
atau susu formula. Selain kehilangan manfaat ASI sejak fase
kolostrum, bayi pun akan menghadapi masalah seperti bingung puting.
Ibu sendiri mengalami payudara bengkak karena tidak menyusui. Umumnya
ibu yang menyadari bahwa pemberian prelakteal tak ada gunanya karena
malah akan mengganggu proses menyusui, berusaha untuk melakukan
relaktasi.

5. Ibu bekerja
Para ibu bekerja umumnya paling sering mengalami persoalan manajemen
laktasi. Terutama ketika sudah harus kembali bekerja. Tentu saja ASI
perah adalah jawabannya. Memerah di mana? Rancanglah pojok yang
nyaman dan memenuhi privasi di ruangan kantor. Lakukan setelah makan
siang, sebelum jam istirahan habis. Gunakan jari atau alat perah.
Jangan lupa, bawa wadah ASI (bisa berupa beberapa botol susu bayi).
Tanpa pendinginan atau di suhu ruangan, ASI bisa bertahan selama 6
jam. Hitunglah lamanya waktu kerja setelah memerah dan perjalanan
pulang ke rumah, apakah masih kurang dari 6 jam? Kalau lebih, bawalah
termos es atau sediakan kulkas portabel di bawah meja kerja supaya
ASI dapat bertahan lebih lama.

6. Kelainan ibu
Yang dimaksud adalah persoalan fisik seputar menyusui, misal puting
lecet karena digigit, payudara bengkak, mastitis, dan abses. Yang
cukup sering terjadi, kasus puting lecet karena posisi bayi menyusu
kurang tepat, atau bayi menggigit puting, yang tentunya membuat ibu
merasa sakit. Akhirnya, banyak ibu memutuskan berhenti menyusui.

Sebenarnya ibu tak usah berhenti menyusui, karena berikutnya akan
muncul masalah baru lagi yaitu payudara bengkak. Yang perlu
diperbaiki adalah posisi menyusui. Lecet pada puting dapat sembuh
dengan sendirinya bila masih ringan. Akan lebih membantu jika luka
tersebut diolesi ASI sedikit. Jika parah sampai timbul
mastitis/abses, mintalah saran dan obat dari dokter.

Nah ada beberapa cara agar masalah ini bisa teratasi, di antaranya:

* Berikan perhatian pada bayi terutama saat ia menyusu agar terjalin
perlekatan yang baik.
* Bila bayi tampak mengubah posisi mulutnya dan bersiap menggigit,
segera lepaskan payudara dengan memasukkan jari kelingking ke sudut
mulutnya sehingga pengisapan terhenti.
* Pindahkan bayi dari payudara sehingga bayi tak berada pada posisi
menyusu lagi.
* Dorong bayi lebih mendekat ke payudara hingga hidungnya terhalang
dan ia melepas puting untuk bernapas dengan mulutnya. Sedikit
trik “jahil” ini tidak mengapa dilakukan pada bayi demi melindungi
puting dan kelancaran proses menyusui berikutnya.

7. Kelainan bayi
Keluhan bayi sakit di klinik Latasi RS St Carolus cukup banyak
terjadi. Akibatnya, bayi sulit mendapat ASI eksklusif karena harus
mengonsumsi obat. Memang demikian kondisinya, namun ibu dianjurkan
untuk terus memberikan ASI selama si kecil sakit, bahkan jika ia
harus dirawat di rumah sakit. Jika ibu tak dapat mendampingi bayinya
setiap saat, titipkan susu perahan sebanyak yang diperlukan sampai
ibu datang menjenguk kembali kepada perawat yang menjaga dan mengurus
bayi. Mintalah padanya untuk memberikan ASI dengan sendok.

8. Kurang motivasi ibu/keluarga
Kurangnya motivasi baik dari ibu sendiri ataupun keluarga juga
menyebabkan proses menyusui terganggu. Misalnya, ketika si bayi rewel
terus, ia langsung diberi susu formula atau pakai dot supaya anteng.
Keluarga kurang mendukung untuk proses pemberian ASI sehingga ibu pun
tidak memiliki motivasi yang kuat untuk memberi ASI secara eksklusif
kepada bayinya. Untuk itu, keluarga pun setidaknya perlu mendapatkan
informasi atau manajemen ASI sehingga program ASI ekslusif bisa
dilakukan.

9. Berat badan turun
Beberapa ibu mengeluhkan berat badan bayinya turun atau tidak naik
secara cepat. Hal ini membuat ASI sering dipojokkan sebagai biang
keladi bayi tak tampak gemuk. Sebenarnya, tak masalah BB bayi turun
sedikit atau naik secara perlahan selama angkanya masih dalam batas
kurva BB normal. Jika masih sesuai dengan grafik pertumbuhan, bayi
masih dikatakan sehat. Perlu diketahui, umumnya berat badan lahir
bayi akan turun pada minggu-minggu pertama. Jadi ibu tak perlu
khawatir.

Hilman Hilmansyah. Foto: Iman/NAKITA

Mengatasi 7 Masalah dalam Menyusui

“KEDUA buah dada ibu lebih pandai merangkai suatu campuran makanan yang sesuai bagi bayi apabila dibandingkan kedua belah tangan dan otak seorang profesor yang ahli dalam bidang ini.”

BAHWA memberi ASI itu penting, nyaris semua mengetahuinya meski dalam prakteknya tidak semua wanita mampu melaksanakannya. Kasus-kasus gagal menyusui masih sering ditemui. Ibu-ibu muda –yang baru pertama kali punya anak– kerap mengalaminya.

Akan tetapi, bisa menyusui pun bukan berarti tanpa masalah. Timbulnya lecet pada puting misalnya atau juga ketakutan buah dadanya cepat kendur. Lagi-lagi hal ini pun paling banyak dikeluhkan para ibu muda. Beberapa alternatif berikut insya Allah dapat menolong para ibu dari 7 masalah berkaitan dengan menyusui.

1. Ogah keluar
Tidak perlu tergesa-gesa memberi formula bayi jika air susu ogah keluar. Usahakan untuk tetap tenang sambil terus berupaya untuk menyusui bayi pada waktu-waktu tertentu. Perasaan cemas bisa menghambat produksi ASI sedangkan sikap tenang dan isapan bayi akan menstimulasi buah dada mengeluarkan ASI. Selain itu, sejak hamil ibu pun perlu melatih buah dadanya agar memiliki otot yang kuat dan sehat serta makan makanan bergizi. Pada saat demikian peran suami sangat penting artinya.

Beberapa bahan makanan yang diketahui juga memiliki efek positif dalam memperlancar ASI adalah daun katuk dan lobak segar. Makanlah bahan makanan tersebut sebagai sayur atau lalapan serta biji jagung tua yang disangrai dengan ketumbar.

2. Bengkak
Bengkak terjadi biasanya akibat air susu yang melimpah tidak keluar. Langkah yang sebaiknya dilakukan adalah hindari mengonsumsi obat-obatan yang memiliki efek mengurangi pengeluaran air susu atau melakukan pengikatan buah dada dengan kain sebab dapat menyebabkan air susu cepat mengering hingga tersumbatnya kelenjar. Latihlah bayi agar kuat menetek dengan cara meneteskan air susu ke dalam mulutnya. Jika bengkaknya keras, panas, sakit bila disentuh serta warnanya kemeraha, kompreslah buah dada dengan air hangat sambil dipijit dengan gerakan berputar.

Cara lain yaitu dengan menempelkan remasan daun kacang panjang yang telah dicampur sedikit air kapur sirih pada bagian yang bengkak –kecuali bagian puting. Bisa juga dengan menggunakan daun dadap serep atau daun tembelekan yang diremas atau ditumbuk halus,kemudian dilumurkan pada bagian buah dada yang sakit.

3. Puting lecet seperti terbelah
Cara menyusui yang salah dapat menyebabkan puting lecet, demikian pula bila sang anak terlalu hot menetek. Obati puting yang lecet dengan gentian violet 1%. Bisa juga dengan mengoleskan daun wortel yang telah dipanggang hingga kering, ditumbuk halus, lalu ditambahkan minyak zaitun secukupnya pada puting susu. Bagian luka yang mengeras dapat diolesi minyak kelapa hangat.

4. Terbelit kesibukan
Sebaiknya meneteki jangan diputus, sesibuk apa pun kegiatan ibu. Jika tidak mungkin membawa anak ke tempat kerja, memompa ASI yang telanjur diproduksi lalu membuangnya merupakan tindakan yang benar, meski akan lebih benar lagi seandainya ASI tersebut dimasukkan ke dalam botol steril dan dikirim segera ke rumah untuk diberikan pada sang bayi.

5. Bau amis dan berair
Menjaga kebersihan buah dada dan bra merupakan hal penting lainnya yang juga perlu diperhatikan. Untuk mengurangi efek bau amis, makanlah kunyit. Di samping itu, pijatlah buah dada secara memutar setelah meneteki agar air susu tidak menetes terus.

6. Air susu menetesi kuping dan pipi bayi
Air susu yang menetes ke kuping atau pipi bayi menyebabkan congekan dan koreng. Guna menghindarinya usahakan senantiasa menyusui dalam keadaan terjaga dan duduk sehingga tercecernya air susu dapat dihindari. Kulit yang koreng bisa ditanggulangi dengan lanolin. Meski demikian, supaya lebih aman segera konsultasikan hal ini ke dokter.

7. Takut kendur
Terkadang masih dijumpai juga anggapan negatif ihwal menyusui yang berpengaruh terhadap keindahan buah dada membuat kendur misalnya. Padahal tanpa menysui pun buah dada itu lama-lama bakal kendur juga. Akan tetapi, agar proses tersebut dapat diperlambat, usahakan tidak melepas buah dada begitu saja waktu meneteki, tahanlah dengan tangan, lakukan olah raga sehari 2 kali, terutama olah raga yang melatih otot dada, perut, dan punggung. Selain itu, memperbanyak konsumsi sayuran segar. Bisa juga dengan rajin meminum 60-100 gr jalar/sulur ketimun yang direbus dengan air secukupnya.

Resep tradisional lain yang disebut-sebut mampu mempertahankan kekencangan buah dada adalah mengurutnya dengan menggunakan minyak bulus; mengolesi dengan ramuan tumbuk halus 3 helai daun jarak, 2 buah pinang, 1 ibu jari jahe ditambah sedikit garam dan air. Mendiamkannya hingga kering, lalu dibilas air hangat, atau dengan mengoleskan sari kacang panjang hasil dari 10 batang kacang panjang yang telah bersih dan ditumbuk ke buah dada, didiamkan hingga kering lalu dibilas air hangat. (Yuga Pramita)***

Bayi ASI Overweight ?

Selama ini, putra saya (6 bulan, berat badan 10,1 kg) mendapat ASI eksklusif. Dia lahir dengan berat 3,7 kg dan panjang 51 cm. Apakah anak saya overweight ?

Saya berencana memberinya MP-ASI (Makanan Pendamping ASI), tetapi saya takut ia akan bertambah gemuk. Sebaliknya, kalau tidak saya beri MP-ASI, saya takut dia lemas. Bagaimana sebaiknya, Prof.? Patokan apa yang dapat saya pegang dalam mengambil keputusan untuk memberi MP-ASI? Perlu Prof. ketahui, ASI saya sampai sekarang masih banyak. Terima kasih.

Artin Wuriyani

Yogya

Bayi enam bulan dengan berat badan 10 kg memang besar. Tetapi, bila panjang badan sesuai dengan berat, dan aktifitasnya tidak terhambat (paling kurang dia sudah bisa tengkurap bolak balik), maka dia belum disebut overweight . Jadi, tidak perlu dikuatirkan dan tetap berikan ASI.

Rencana pemberian MP-ASI baik sekali, karena anak Anda memang sudah saatnya mendapatkan MP-ASI. Penggantian dua porsi ASI menjadi satu porsi nasi tim dan satu porsi jus buah justru akan mengurangi intake kalorinya, dan menambah jumlah seratnya. Untuk jus, pilih buah yang banyak airnya dan jangan ditambahkan gula.

Selain itu, kalau tengah malam dia terbangun, tidak usah disusukan. Dengan demikian, dia tidak akan bangun lagi malam hari (toh tidak diberi minum), dan untuk selanjutnya dia dapat terus tidur sampai pagi.


9 MITOS MENYUSUI DAN FAKTANYA

sumber: http://www.tabloid-nakita.com/

Katanya ASI bisa kurang kalau si bayi rakus.
Bagaimana faktanya? Dr. Rudy Firmansjah B. Rivai, Sp.A dari Rumah Sakit Anak dan Bersalin (RSAB) HarapanKita Jakarta menjelaskannya kepada kita.

1. ASI BELUM KELUAR PADA HARI PERTAMA SEHINGGA PERLU DITAMBAH CAIRAN LAIN
Salah
. Memang, banyak ibu yang mengalami kesulitan menyusui di hari pertama dan mengeluhkan ASI-nya tidak bisa keluar. Namun tak perlu cemas karena dihari pertama, selain bayi belum memerlukan cairan tambahan, di dalamtubuhnya pun masih ada cadangan cairan yang cukup.ASI sendiri terdiri atas 88% air. Jadi, kebiasaan memberi cairan seperti susu formula, air putih, teh manis kepada bayi baru lahir tentu kurangtepat. Di banyak negara tindakan ini sudah menjadi kebiasaan dengan alasanagar bayi tidak rewel atau sekadar menghilangkan hausnya. Ditambah lagi, bila cairan itu diberikan dengan dot, selain refleks mengisap bayi jaditidak terasah, ia juga berisiko bingung puting.

2. ASI TIDAK BISA MEMUASKAN BAYI “RAKUS”
Salah. ASI bisa mencukupi semua kebutuhan asupan makanan dan minuman bayi hingga bayi berusia 6 bulan. Rata-rata kebutuhan cairan bayi pada minggupertama sekitar 80-100 ml/kg per hari, dan meningkat menjadi 140-160 ml/kgpada usia 3-6 bulan. Semua itu cukup dipenuhi hanya dengan ASI. Bahkan bagi bayi superrakus sekalipun.Sebuah penelitian menyebutkan, 98 ribu dari 100 ribu ibu yang mengatakanproduksi ASI-nya kurang, ternyata memiliki cukup ASI. ASI tidak bisaberproduksi secara optimal karena manajemen laktasi yang kurang baik.

Misalnya, tidak tahu posisi menyusui yang tepat, stres, terpengaruhmitos-mitos menyusui, kurang istirahat, dan lain-lain.ASI yang dikeluarkan, baik dari payudara kanan maupun kiri, sama-samamengandung foremilk dan hindmilk atau dengan kata lain memiliki komposisi yang sama. Jadi, salah kalau ada yang menganggap payudara kanan mengandungmakanan dan yang kiri minuman. Puaskan bayi pada satu payudara selamakira-kira 15 menit. Bila masih belum puas, barulah pindahkan lagi ke payudara pertama.

3. PAYUDARA KENDUR GARA-GARA MENYUSUI
Tidak ada hubungannya. Kendur tidaknya payudara tidak ada hubungannyadengan pemberian ASI. Biang keladi perubahan payudara adalah kehamilan itu sendiri. Saat hamil hormon-hormon membuat payudara penuh berisi ASI. Ukuranpayudara pun terlihat lebih besar dari biasanya. Nah, pascamenyusui, ukuranpayudara kembali normal. Akibatnya, otot-ototnya pun mengendur dan membuat payudara sedikit kendur.Hal ini tidak perlu dikhawatirkan. Lewat pijat atau senam payudarakeindahan bentuk payudara bisa dipertahankan. Pilih juga bra yang tepatagar bisa membuat bentuk payudara tidak kendur. Selain itu, menyusui juga bisa memproteksi payudara dari serangan kanker payudara. Penelitianmembuktikan, risiko terkena kanker mengecil jika ibu menyusui anaknya.

4. SULIT TURUNKAN BB JIKA MENYUSUI
Salah. Konon, menyusui membuat nafsu makan ibu bertambah lahap, sehingga sulit mengatur berat badan. Ini tidaklah tepat. Sebuah penelitianmenyebutkan, menyusui dapat membantu ibu menurunkan berat badan lebihcepat. Kala menyusui timbunan lemak yang terjadi pada waktu hamil diubahmenjadi energi. Sebaliknya, timbunan lemak ini sulit disingkirkan jika ibutidak menyusui.

5. UKURAN PAYUDARA TENTUKAN BANYAKNYA ASI
Salah. Banyak tidaknya ASI tidak ditentukan oleh besar kecilnya payudara, tapi tergantung seberapa banyak kelenjar pembentuk air susu. Payudaraberukuran besar kanan bergizi yang cukup dan seimbang.Bahkan menyusui bisa memberi perlindungan terhadap zat kimia beracuntertentu. Pada kecelakaan kebocoran reaktor di Chernobyl, didapat fakta bahwa kadar zat radio aktif dalam ASI jauh lebih sedikit daripada dalamtubuh ibu. Para ahli pun berkesimpulan, ada mekanisme tubuh tertentu yangmenyaring racun sehingga konsentrasinya dalam ASI sangat rendah.

7. BANYAK BERISTIRAHAT BISA MENAMBAH PRODUKSI ASI
Kurang tepat. Mitosnya saat istirahat produksi ASI akan berjalan lancar.Ini tidak sepenuhnya benar. Yang betul makin sering ASI diberikan, makinbanyak pula ASI dihasilkan. Produksi ASI meningkat seiring dengan gerakan mengisap. Sebaliknya, jika dihentikan maka lambat laun produksi ASI punberkurang. Itulah mengapa, berikan ASI atau pompalah secara teratur. Janganlupa untuk merawat dan memijat payudara agar produksi ASI tetap lancar.

8. TIDUR BAYI LEBIH LELAP JIKA MINUM SUSU FORMULA
Tidak tepat. Memang, bayi-bayi yang diberikan susu formula cenderung tidurlama. Penyebabnya, susu formula umumnya tidak dapat dicerna dengan cepat,sehingga efek rasa kenyangnya lebih lama dan tidurnya pun terkesan lebih lama. Tapi kuantitas tidak menjamin kualitas. Jadi, tidak ada perbedaankualitas tidur antara bayi peminum ASI dan susu formula.

9. MENYUSUI TANGKAL KEHAMILAN
Tidak sepenuhnya salah. Sebuah riset mengemukakan, menyusui bisa menurunkan kesuburan. Pada ibu yang tidak menyusui, kesuburan biasanya muncul kembalidalam 4-6 minggu pascapersalinan. Pada ibu menyusui, rentangnya bisa lebihlama, karena proses ovulasi terhambat.Saat menyusui produksi hormon prolaktin meningkat. Hormon ini cukup efektif menghambat ovulasi, menstruasi pun menjadi tertunda. Itulah mengapa, kalamenyusui, tubuh tak mampu menghasilkan sel telur matang. Walhasil, spermayang masuk tidak akan menemukan “pasangan”nya. Kehamilan pun tidak akan terjadi atau disebut KB alami, yang sering diistilahkan LAM (LactationAmenorrhoe Methode).Meskipun efektivitasnya mencapai 98%, menyusui tidak menjamin ibu tidakhamil. Karena persyaratan menyusui sebagai KB alami sangat ketat, di antaranya ASI harus diberikan secara eksklusif. Frekuensi pemberiannyaharus diatur, 10 kali dalam satu hari, disamping banyak syarat lain yangharus dipenuhi. Risiko kehamilan tetap besar jika ibu tidak bisa mematuhi syarat-syarat tersebut.

About these ads

2 thoughts on “Masalah-Masalah ASI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s