Manfaat ASI


ASI? Air susu ibu (breast feeding) merupakan makanan terbaik bagi bayi pada awal kehidupannya. ASI eksklusif (yaitu pemberian ASI tanpa makanan pendamping lain) telah cukup untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi dalam enam bulan pertama setelah dilahirkan. Sebaiknya, pemberian ASI diteruskan sampai umur dua tahun.

Apa Manfaat ASI bagi ibu?

  • ASI mudah diperoleh, selalu siap diberikan setiap saat, dan secara ekonomi jauh lebih murah.
  • Saat bayi mengisap payudara ibu, tubuh ibu akan merespon isapan tersebut dengan mengeluarkan sejenis horman (oksitosin) yang menimbulkan kontraksi pada kandungan (uterus) ibu, sehingga kandungan ibu lebih cepat untuk kembali ke ukuran normal.
    Ibu memperoleh kepuasan emosional karena merasa mampu memberi makanan yang bergizi bagi bayinya.
  • Menyusui kadang membantu ibu menurunkan berat badan yang naik saat hamil.
    Ibu yang menyusui bayinya jarang menderita “depresi setelah melahirkan”.
    Ibu menyusui mempunyai resiko yang jauh lebih kecil untuk terkena kanker payudara, kanker kandungan, dan kanker ovarium.
  • Ibu yang menyusui bayinya, akan menjadi contoh bagi ibu lainnya untuk menyusui bayinya juga.

Apa Manfaat ASI bagi bayi?

  • ASI mengandung nutrisi yang seimbang yang cocok untuk tumbuh kembang bayi.
  • ASI mengandung jenis protein yang mudah dicerna oleh usus bayi yang masih lemah.
  • ASI mengandung antibodi yang berguna untuk kekebalan tubuh bayi dari serangan penyakit.
  • ASI mengandung asam amino DHA dan AA yang berguna untuk perkembangan otak bayi.
  • ASI akan menurunkan resiko terkena eksim dan asma.
  • ASI akan mengurangi resiko kegemukan, terkena penyakit tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, kelak saat dewasa.

Apa Manfaat ASI bagi keduanya?
Saat menyusui, terjadi kontak fisik antara ibu dan bayinya. Kontak fisik ini sangat berperan memperat hubungan kasih sayang antara keduanya, tidak hanya saat proses menyusui, tapi juga pada kehidupan mereka selanjutnya.

ASI Eksklusif Tekan Angka Kematian Bayi Indonesia

UNICEF menyatakan, sebanyak 30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak Balita di dunia pada tiap tahunnya, bisa dicegah melalui pemberian ASI (Air Susu Ibu) secara eksklusif selama enam bulan sejak tanggal kelahirannya, tanpa harus memberikan makanan serta minuman tambahan kepada bayi. “Meskipun manfaat memeberikan ASI Eksklusif dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan anak telah diketahui secara luas, namun kesadaran Ibu untuk memberikan ASI Ekslusif di Indonesia, baru sebesar 14 persen saja, itu pun diberikan hanya sampai bayi berusia empat bulan,” demikian siaran pers UNICEF yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.

UNICEF menyebutkan bukti ilmiah terbaru yang dikeluarkan oleh jurnal Paediatrics pada tahun 2006 ini, terungkap data bahwa bayi yang diberi susu formula, memiliki kemungkinan untuk meninggal dunia pada bulan pertama kelahirannya. Dan peluang itu 25 kali lebih tinggi dari bayi yang disusui oleh ibunya secara eksklusif.

Banyaknya kasus kurang gizi pada anak-anak berusia di bawah dua tahun yang sempat melanda beberapa wilayah Indonesia dapat diminimalisir melalui pemberian ASI secara eksklusif. Oleh sebab itu sudah sewajarnya ASI eksklusif dijadikan sebagai prioritas program di negara berkembang ini.

UNICEF menyebutkan bahwa ketidaktahuan ibu tentang pentingnya ASI, cara menyusui dengan benar, serta pemasaran yang dilancarkan secara agresif oleh para produsen susu formula, merupakan faktor penghambat bagi terbentuknya kesadaran orang tua didalam memberikan ASI eksklusif.

Meskipun aturan pemasaran produk pengganti ASI terdapat dalam kode etik internasional yang juga telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dalam SK Menteri Kesehatan, namun tetap saja para produsen susu bayi melakukan promosi secara gencar, bahkan sampai menyediakan susu formula itu di rumah sakit ataupun klinik-klinik bersalin.

Dalam upaya meredam maraknya promosi dan pemasaran susu pengganti ASI, serta menumbuhkan semangat dan kesadaran ibu dalam memberikan ASI eksklusif untuk anak-anaknya, maka UNICEF akan menggelar diskusi yang bertemakan “Menggugat Promosi Gencar Susu Bayi” di Jakarta, Rabu (9/8).

Tujuan dari diskusi tersebut yakni, guna menumbuhkan peraturan baru untuk meredam gencarnya pemasaran produk susu formula serta mendorong terselenggaranya program Agustus ini sebagai bulan ASI di Indonesia. [TMA, Ant]
Sumber : Gatra

ASI Air Sakti dari Payudara Ibu

Bayi berumur nol sampai enam bulan mutlak memerlukan ASI. Karena ASI mampu memenuhi 100 persen kebutuhan bayi terhadap zat gizi. ASI yang diberikan secara eksklusif diperkirakan dapat menekan angka kematian bayi.

Setelah berumur enam bulan bayi memerlukan lebih banyak zat gizi, dan ASI hanya bisa menopang 60-70 persen kebutuhan gizi pada bayi sehingga bayi memerlukan makanan pendamping lain. Pemberian ASI lebih aman bila dihentikan saat anak berumur dua tahun, demikian menurut Prof Rulina Suradi, SpA (K) IBCLC, Konsultan Neonatology RSCM. Karena itu disarankan bagi para ibu untuk memberi air susu ibu secara penuh selama 6 bulan (atau lebih) dan juga untuk tetap memberikan ASI dengan makanan tambahan lainnya setelah 6 bulan.

Akibat tidak memberikan ASI saja pada bayi, yaitu : Bila bayi umur 0-6 bulan diberi makanan lain selain ASI, dapat terjadi gangguan alat pencernaan, Bayi tidak mempunyai ketahanan tubuh untuk mencegah penyakit, Bila bayi diberikan susu botol sering terjadi mencret, kemungkinan bayi tidak cocok dengan susu bubuk atau cara membuatnya tidak bersih, dan pengeluaran biaya rumah tangga lebih banyak. Mengurangi ikatan cinta kasih antara ibu dan anak.

Kegunaan memberikan ASI saja, yaitu : ASI merupakan makanan bayi yang paling sempurna, murah dan mudah memberikannya pada bayi, sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi, ASI saja dapat mencukupi kebutuhan gizi bayi untuk tumbuh kembang dengan normal pada bayi, dengan ASI mempererat ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi.

Peneliti Ruowei Li, MD, PhD seorang epidemiologist bersama CDC mengatakan sebagian besar bayi mendapatkan ASI hanya dalam bulan awal-awal saja, ketika bayi berumur 2 atau 3 bulan tetapi kemudian menghentikannya ketika waktunya bagi ibu untuk kembali bekerja.

Ibu-ibu sebaiknya memberikan ASI sedikitnya satu tahun, semakin lama bayi diberi ASI, semakin banyak manfaat yang diperoleh. Sebagian masyarakat masih tidak setuju terhadap pemberian ASI akibat faktor gaya hidup. wanita berpikir mereka tidak dapat melakukanya di tempat umum karena merasa malu. Tetapi di beberapa negara lain, hal ini masih dapat diterima dan alami bagi seorang wanita menyusui bayinya di tempat umum.

Lebih jauh Rouwei mengutip keuntungan menyusui: “Susu sapi itu bagi anak sapi. ASI adalah makanan paling bergizi bagi bayi karena ASI dilengkapi dengan enzim dan antibodi terutama dibuat bagi manusia.” Para ahli bahkan telah mencoba membuat ASI tetapi tidak mampu mengkopi seluruh nutrisi yang terkandung dalam ASI.

ASI sangat penting dan peranannya tidak dapat digantikan jenis susu lain. Perlu Anda ketahui bahwa ASI mengandung lebih dari 1000 jenis nutrien. Sehingga tidak ada satu pun jenis susu lain yang bisa menyamainya. Selain itu, tidak semua zat gizi yang terkandung dalam susu lain mampu diserap oleh bayi seperti layaknya ASI. Apalagi untuk bayi berumur 0-6 bulan, ASI yang terbaik.

Khasiat ASI tidak dapat dipungkiri, ASI yang pertama keluar disebut kolustrum berwarna kekuningan, kental yang muncul di awal-awal menyusui sampai hari’ke 4 atau 7 dan mengandung zat kekebalan untuk mencegah timbulnya penyakit. Jadi, jangan sia-siakan kolostrum untuk diberikan pada sang buah hati pada saat baru lahir, oleh karena itu harus diberikan kepada bayi dan jangan sekali-sekali dibuang,

ASI yang baru saja keluar itu mengandung sejumlah zat penting. Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi untuk menjaga kekebalan bayi. Disamping itu, kolostrum juga mengandung zat pencahar untuk melancarkan pengeluaran mekonium, yakni kotoran bayi baru lahir yang berwarna kehijau-hijauan. Pengeluaran mekonium ketika bayi baru lahir sangat penting agar bayi tidak mengalami bayi kuning. Kolostrum juga mengandung vitamin A kadar tinggi dan zat pemacu pertumbuhan serta pematangan sel mukosa usus. Dengan begitu, si mungil tidak akan mudah mengalami alergi.

Seperti disebutkan bahwa dalam ASI mengandung enzim pencemaan. Nah, enzim inilah yang dapat membantu pencemaan dalam memproses berbagai nutrisi dan kandungan zat imun atau anti infeksi lebih maksimal. Zat imun inilah kelak yang dapat menjadi benteng kokoh anak dari berbagai penyakit infeksi yang berbahaya. Zat anti infeksi ini banyak terdapat pada kolostrum. Susu ini tinggi protein rendah lemak. Kemunculannya di awal-awal ASI keluar, makanya begitu bayi lahir susuilah terus. Sebab, rugi bila kolostrum ini merembes keluar dan tidak diminum bayi.

Diantara keuntungan menyusui bayi dengan ASI adalah melindungi bayi terhadap penyakit diare dan infeksi seperti infeksi telinga dan saluran pernapasan. Sebuah penelitian baru menunjukan ASI tidak menyebabkan obesitas dikemudian hari dan jauh dari resiko berkembangnya diabetes.

Komposisi kandungan ASI berubah sesuai dengan pertambahan usia dan kondisi bayi. Kalau seorang bayi terserang diare dengan sendirinya komposisi zat gizinya berubah. Komposisi kandungan ASI akan bereaksi terhadap penyakit diare yang diderita bayi. Sehingga mengurangi bahkan menyembuhkan diare bayi.

Komposisi ASI juga akan berubah sesuai kebutuhan bayi pada setiap usia. Misalnya ASI yang keluar pada minggu pertama atau kolostrum beda komposisinya dengan ASI pada minggu kedua, bahkan berbeda dari menit ke menit. Bahkan ASI yang dihasilkan ibu yang melahirkan kurang bulan, juga berbeda dengan ASI yang dihasilkan oleh ibu yang melahirkan cukup bulan.

Air susu ibu (ASI) atau susu formula harus merupakan makanan utama bayi anda selama 12 bulan pertama kehidupannya. Amat penting untuk mengenal tanda-tanda yang diberikan oleh bayi dan memberikan apa yang dibutuhkannya. Bila bayi memiliki masalah nutrisi atau sedang tidak sehat, ia akan kehilangan berat badannya.

Bila bayi anda diberi susu formula, ia mungkin akan menangis bila pada saat susunya habis ia masih merasa lapar. Sebaliknya, bila ia telah mendapatkan jumlah yang cukup dalam 10 menit pertama, ia mungkin akan berhenti minum dan tertidur. Bayi yang diberi ASI memiliki kebiasaan yang berbeda. Mereka tidak selalu menangis bila mereka lapar.

Untuk meyakini bahwa ia sudah mendapatkan susu yang cukup adalah dengan melihat pertambahan berat badannya. Ia harus diberi minum paling tidak setiap 3-4 jam dan jangan dibiarkan tertidur selama pemberian susu sampai ia berusia 4 minggu. Pada akhir minggu pertama kehidupannya, bayi anda harus dapat mengkonsumsi 60-90 ml ASI atau susu formula pada setiap kali minum dan perlu mendapat minum 6-10 kali sehari. Antara minggu ketiga, konsumsinya harus ditingkatkan menjadi 120-150 ml setiap pemberian dan frekuensi pemberiannya dikurangi menjadi 5-7 kali sehari. Antara minggu ketiga sampai kelima, bayi anda akan mengalami pertumbuhan yang cepat yang membuat ia lebih sering lapar dibandingkan biasanya. Bersiap-siaplah untuk memberinya minum lebih sering bila ia mendapat ASI. Bila ia mendapat susu formula, cobalah untuk memberi susu sedikit lebih banyak pada setiap pemberian.

ASI Eksklusif Cegah Infeksi.

Berdasarkan hasil penelitian dari para ahli, berbagai penyakit berbahaya di masa bayi maupun usia dewasa bisa dihindari bila bayi diberi ASI eksklusif. Contohnya, penyakit seperti infeksi, diare, radang otak, radang paru-paru, diabetes, dan kanker. Bayi yang diberikan ASI, 20 kali lipat jarang terkena diare akut dibandingkan bayi yang hanya mengonsumsi susu formula. Selain itu, bayi yang diberikan ASI, 7 kali jarang terkena radang paru-paru dan 4 kali tidak terkena radang otak atau meningitis.

Menurut data dari Demographic and Health Survery World Health Organization tahun 1986-1989, persentase bayi di Indonesia yang mendapat ASI sebesar 96 persen. Sementara 36 persen bayi mendapatkan ASI secara eksklusif yang hanya mengkonsumsi ASI hingga berusia 4-6 bulan.

Akan tetapi Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1992, memperlihatkan adanya penurunan. Bayi yang menerima asupan ASI secara eksklusif tinggal 30 persen. Dan, pada 5 tahun berikutnya atau tahun 1997, Survei Demografi Kesehatan Indonesia, memperlihatkan bahwa hanya 52 persen ibu yang menyusui bayinya. Itupun rata-rata hanya selama 1,7 bulan. Bahkan, menurut data UNICEF, hanya 3% ibu yang memberikan ASI secara eksklusif.

Aneka Nutrisi dalam ASI

Sementara menurut dr Jacob R Pairunan, Sp.A, pada sebuah seminar di Siloam Graha Medika Hospital, Jakarta, distribusi energi dari ASI ialah protein 8%, karbohidrat 42%, dan lemak 50%. Selain mengandung zat-zat gizi, lanjutnya, ASI juga mengandung zat-zat nongizi untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit. Selain itu ikatan khusus yang dikembangkan antara ibu dan bayi, penting bagi emosional bayi dan perkembangan intelektual. Pemberian ASI juga dikaitkan dengan menurunkan resiko berkembangnya kanker payudara sebelum menopuse bagi ibu dan wanita menyusui akan kembali ke berat badan sebelum hamil lebih cepat.

Soal kecerdasan anak, kata Jacob, sebetulnya dipenganihi dua faktor. Pertama, faktor genetik dari kedua orangtuanya, dan kedua, faktor lingkungan atau sosial psikologi. Selain itu juga terdapat faktor-faktor khusus yang berhubungan erat dengan peningkatan kecerdasan anak yaitu zat-zat gizi. Tetapi sampai saat ini bisa dipastikan secara ilmiah belum ada satu gizi pun yang paling bertanggung jawab untuk meningkatkan kecerdasan, katanya.

Zat gizi yang selama ini dikatakan makanannya otak, sambung Jakob seperti asam arakhidonat (AA) dan asam dukosa heksanoat (DHA) sudah terkandung di dalam ASI. Lemak yang mengandung DHA dan AA berperan sebagai penunjang proses tumbuh kembang anak, terutama dalam hal kecerdasan. Lemak tersebut bisa diperoleh dari ASI, susu, mentega, kuning telur, daging, kedelai, dan jagung. la optimis bahwa tidak mustahil pada masa-masa mendatang akan terungkap karidungan ASI yang sampai saat ini belum diketahui. Perlu diketahui oleh para orang tua, setiap bayi membutuhkan 2-2,2 gr/kg protein yang terdapat dalam ASI, daging, ikan, susu, telur, dan keju. Karbohidrat juga merupakan sumber energi yang terdapat di dalam produk nabati seperti beras, kacang-kacangan, buah-buahan, dan umbi-umbian. Glukosa yang terdapat dalam karbohidrat merupakan sumber energi utama di otak dan menjaga integritas fungsi saraf. “Bayi juga memerlukan lebih banyak lemak dibanding orang dewasa. Fungsi utama lemak membantu ketersediaan dan penyerapan vitamin, dan memberikan rasa kenyang pada pencernaan,” tegasnya.

Jacob mengatakan zat gizi dapat terbagi dua, yaitu makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien berupa protein, karbohidrat, lemak, dan air. Sedangkan mikronutrien dapat berupa vitamin, mineral, dan oksigen. Fungsi protein yang termasuk dalam makronutrien adalah untuk pembentukan dan pemeliharaan janngan tubuh, serta sebagian kecil sebagai sumber energi. Protein juga tidak dapat disimpan di dalam tubuh. Sedangkan untuk gizi mikronutrien yang berupa mineral, antara lain kalsium, fosfor, dan lain-lain. Mineral berfungsi dalam pembekuan darah, penyalur rangsang saraf, dan aktivitas enzim. Fosfor bersama-sama kalsium juga membentuk matriks tulang dan gigi. Faktor besi penting untuk pembentukan hemoglobin dari sel darah merah yang membawa oksigen dari paru ke seluruh tubuh terutama otak, dan juga untuk sistem enzim, yang terdapat dalam ASI dan hati

Kalium bersama kalsium, lanjut Jacob, mengatur aktivitas persyarafan otot, dengan sumbernya ialah susu, daging, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Zat seng ialah mineral yang berpengaruh dalam fungsi pengecapan, memperbaiki pertumbuhan, mempertahankan kekebalan tubuh, mempercepat penyembuhan luka, mempertegas garis keturunan, dan regulasi ekspresi genetik. Selenium untuk metabolisme otot, sebagai komponen enzim yang mencegah kerusakan membran sel oleh radikal bebas (antioksidan).

Untuk memperoleh ASI yang lebih bergizi dianjurkan untuk ibu agar dapat menyusui bayinya segera setelah melahirkan dan makan-makanan bergizi yang dapat meningkatkan ASI, misalnya kacang-kacangan, sayuran hijau, ikan, telur dan buah-buahan.

Setelah mengadakan observasi terhadap 345 anak antara 1 – 5 tahun, para ilmuwan denmark dan norwegia memberikan laporan bahwa anak anak yang diberi ASI selama 6 bulan keatas menunjukkan ciri ciri intelektual (IQ) yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang disusui selama kurang dari 3 bulan saja. Penelitian juga dikelompokkan dari usia ibu, dan IQ masing masing ibu. Menurut ketua tim peneliti, hubungan psikologis yang terbentuk antara ibu dan anaknya pada saat menyusui sangat mungkin menjadi faktor yang penting dalam perkembangan IQ. Selain itu tentu saja juga kekayaan nutrisi dalam air susu ibu yang menjadi pendukung utama dalam perkembangan anak. (dari berbagai sumber)

Mengapa Harus Menyusui?

Tak hanya bayi, ibu dan ayah, orang lain pun ikut “menikmati” kegiatan menyusui.

Coba hitung kenalan Anda. Berapa banyak ibu yang menyusui dan berapa yang memberi susu formula pada bayinya? Bila kelompok pertama lebih banyak, maka hal itu patut disyukuri. Karena, ASI merupakan makanan pertama dan utama di awal kehidupan anak. Bahkan, kini pemerintah Indonesia telah merevisi panduan pemberian ASI eksklusif (ASI tanpa makanan/minuman tambahan) dari semula empat bulan menjadi enam bulan, sesuai dengan anjuran WHO ( World Health Organization ) tahun 2002.

Selain itu, sudah tidak masanya lagi bila ibu menolak menyusui bayinya dengan alasan seperti khawatir mengurangi kecantikannya atau karena sibuk bekerja. Perlu diketahui, banyak manfaat menyusui yang telah terbukti kebenarannya. Berikut adalah beberapa manfaat menyusui bagi bayi, ibu, keluarga, dan negara.

Manfaat bagi bayi:

Komposisi sesuai kebutuhan . Air susu setiap spesies makhluk hidup yang menyusui itu berbeda-beda sesuai dengan laju pertumbuhan dan kebiasaan menyusu anaknya. Jadi, ASI memang dirancang sedemikan rupa untuk bayi manusia.

Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan . Dengan manajemen laktasi yang baik, produksi ASI cukup sebagai makanan tunggal untuk pertumbuhan bayi normal sampai usia enam bulan.

ASI mengandung zat pelindung . Antibodi (zat kekebalan tubuh) yang terkandung dalam ASI akan memberikan perlindungan alami bagi bayi baru lahir. Antibodi dalam ASI ini belum bisa ditiru pada susu formula.

Perkembangan psikomotorik lebih cepat . Berdasarkan penelitian, bayi yang mendapat ASI bisa berjalan dua bulan lebih cepat bila dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula.

Menunjang perkembangan kognitif . Daya ingat dan kemampuan bahasa bayi yang mendapat ASI lebih tinggi bila dibandingkan bayi yang diberi susu formula.

Menunjang perkembangan penglihatan . Hal ini antara lain karena ASI mengandung asam lemak omega 3.

Memperkuat ikatan batin ibu-anak . Rasa aman dalam diri bayi akan tumbuh saat ia berada dalam dekapan ibunya. Ia menikmati sentuhan kulit yang lembut dan mendengar bunyi jantung sang ibu seperti yang telah dikenalnya selama dalam kehamilan.

Dasar untuk perkembangan emosi yang hangat . Melalui proses menyusui, anak akan belajar berbagi dan memberikan kasih sayang pada orang-orang di sekitarnya.

Dasar untuk perkembangan kepribadian yang percaya diri . Terjalinnya komunikasi langsung antara ibu dan bayinya selama proses menyusui akan meningkatkan kelekatan di antara mereka. Rasa lekat dan percaya bahwa ada seseorang yang selalu ada apabila dibutuhkan lambat laun akan berkembang menjadi percaya pada diri sendiri.

Manfaat bagi ibu:

Mencegah perdarahan pasca persalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula . Hal ini karena hormon progesteron yang merangsang kontraksi otot-otot di saluran ASI sehingga ASI terperah keluar juga akan merangsang kontraksi rahim. Jadi, susuilah bayi segera setelah lahir, agar tidak terjadi perdarahan pasca persalinan dan proses pengerutan rahim berlangsung lebih cepat.

Mencegah anemia defisiensi zat besi . Bila perdarahan pasca persalinan tidak terjadi atau berhenti lebih cepat, maka risiko kekurangan darah yang menyebabkan anemia pada ibu akan berkurang.

Mempercepat ibu kembali ke berat sebelum hamil . Dengan menyusui, cadangan lemak dalam tubuh ibu yang memang disiapkan sebagai sumber energi selama kehamilan untuk digunakan sebagai energi pembentuk ASI akan menyusut. Penurunan berat badan ibu pun akan terjadi lebih cepat.

Menunda kesuburan . Pemberian ASI dapat digunakan sebagai cara mencegah kehamilan. Namun, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: bayi belum diberi makanan lain; bayi belum berusia enam bulan; dan ibu belum haid.

Menimbulkan perasaan dibutuhkan . Rasa bangga dan bahagia karena dapat memberikan sesuatu dari dirinya demi kebaikan bayinya akan memperkuat hubungan batin antara ibu dan bayinya.

Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium . Penelitian membuktikan bahwa ibu yang memberikan ASI secara eksklusif memiliki risiko terkena kanker payudara dan kanker ovarium 25% lebih kecil bila dibandingkan ibu yang tidak menyusui secara eksklusif.

3. Manfaat bagi keluarga:

Mudah pemberian . ASI selalu tersedia dalam suhu yang sesuai, dan dapat diberikan kapan saja saat bayi merasa lapar.

Mengurangi biaya rumah tangga . ASI tidak perlu dibeli, seperti halnya susu formula. Uang untuk membeli susu bisa dialihkan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga yang lain.

Mengurangi biaya pengobatan . Bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat menghemat biaya untuk berobat.

4. Manfaat bagi negara:

Penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian obat-obatan . Angka kematian dan kesakitan bayi yang mendapat ASI akan berkurang. Selain itu, dengan tertundanya masa suibur ibu, penggunaan obat/alat KB dapat dihemat untuk beberapa bulan.

Penghematan devisa untuk pembelian susu formula dan perlengkapan menyusu . Pemerintah dapat menghemat biaya pengeluaran untuk membeli susu formula, botol, dot, dan bahan bakar minyak/gas yang diperlukan dalam mempersiapkan air panas untuk membuat susu formula.

Mengurangi polusi . Pemberian ASI tidak akan menyebabkan terjadinya tumpukan kaleng/karton susu dan pencemaran udara.

Mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas . Anak yang jarang sakit dan tumbuh-kembang dengan optimal akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berpotensi sebagai SDM yang berkualitas.

Dewi Handajani

Konsultasi ilmiah: Prof. dr. Rulina Suradi, Sp.A(K), IBCLC, Divisi Perinatologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Foto: Dok. Ayahbunda

Menyelamatkan bayi lewat asi

“Selamatkan Bayi!”. Seruan itu disampaikanKoalisi Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli ASI di sejumlah media cetak,termasuk harian ini, Selasa pekan lalu.Lewat surat terbuka yang ditandatangani Agus Pambagio, Dr Utami Roesli, danEmmy L. Smith, Koalisi mendesak pemerintah segera menuntaskan RencanaPeraturan Pemerintah tentang Pemasaran Susu Formula.”Kami bermaksud melindungi ibu dan bayi dalam pemberian air susu ibueksklusif enam bulan tanpa ada ‘gangguan’ dan ‘godaan’ dari kalanganindustri susu formula, rumah sakit/rumah bersalin, dan para tenagaprofesional kesehatan lainnya,” Agus memaparkan saat ditemui Tempo, Senin lalu.

Di sebagian rumah sakit/rumah bersalin, ruang persalinan dan perawatan bayimasih terpisah. Karena itu, pada malam hari, para suster enderung memberikan susu formula kepada bayi-bayi yang baru lahir. Dalihnya, takingin mengganggu istirahat si ibu.

Tempo pernah punya pengalaman tentang halini.Saat melahirkan putra pertama pada Oktober tahun lalu di sebuah klinik dikawasan Warung Buncit, suster memang langsung memberikan bayi kepada kamiuntuk disusui. Namun, pada malam hari, otomatis bayi kami diberi susuformula. Yang membuat merinding justru cerita seorang sahabat saat melongokputra kami di ruang perawatan bayi. Dari balik tirai, dia mengaku melihatseorang suster hanya menopang botol susu yang disorongkan ke mulut bayidengan bantal. “Gila, kalau sampai tersedak, gimana?” ujarnya.

Jangankan menopang botol seperti itu, memberikan susu formula kepada bayisesungguhnya sudah merupakan kejahatan tersendiri. Kode Badan KesehatanDunia (WHO Code) menyatakan bayi harus diberi ASI secara eksklusif selamaenam bulan. Konvensi Hak-hak Anak dari Dewan Umum Perserikatan Bangsa-BangsaPasal 24 ayat 2e juga menjamin pentingnya pemberian ASI.

Di sebuah Rumah Sakit bersalin di Jatinegara, meski ruangan terpisah, kataseorang suster, hal itu tidak menyulitkan pemberian ASI kepada bayi. “Kan,ada jam menyusui.” Di rumah sakit itu, waktu menyusui dilakukan selama tigajam sekali mulai pukul 07.00 WIB. “Kalau bayinya rewel, nanti suster yangakan menenangkannya.” Entah dengan cara apa!

Menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Survei Demografi KesehatanIndonesia Tahun 1997 dan 2002 menunjukkan pemberian ASI kepada bayi satu jamsetelah kelahiran menurun dari 8 persen menjadi 3,7 persen. Pemberian ASIeksklusif selama enam bulan menurun dari 42,2 persen menjadi 39,5 persen,sedangkan penggunaan susu formula meningkat tiga kali lipat dari 10,8 persenmenjadi 32,5 persen.

Padahal, kata Ketua Sentra Laktasi Dokter, Dr Utami Roesli, ASI adalahcairan hidup atau mengandung enzim penyerapan. Selain mengandung protein,karbohidrat, dan lemak, ASI memiliki enzim penyerap zat-zat ini. Jika ASItidak diberikan, seluruh zat atau nutrisi yang masuk ke tubuh bayi hanyadapat diserap sekuat daya serap yang ada di tubuh bayi itu sendiri.”Sebagian besar nutrisi itu tidak terserap dan akan menggumpal di dalamusus,” katanya. Akibatnya, risiko anak terkena diare menjadi lebih besar.

*RiniKustiani*-TEMPO

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s