Seksualitas Balita

Mengenali Seksualitas Balita..!

1/22/2007

Jakarta, Selasa

Seksualitas dan perasaan seksual manusia dimulai jauh sebelum bayi lahir dan terus berlangsung hingga kehidupannya berakhir.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan Kinsey Institute, segera setelah lahir semua bayi yang normal akan mengalami perubahan hormonal. Dalam satu atau dua hari, pasokan hormon testosteron dan estrogen akan menurun secara drastis. Pada bayi laki-laki hormon testosteron akan meningkat sebulan kemudian. Selama sebulan itu pasokan hormon tetap tinggi. Setelah itu pasokan hormon akan menurun hingga tingkat terendah. Keadaan itu akan terus berlangsung hingga anak-anak mengalami perubahan hormonal lagi semasa pubertas dimulai, yaitu sekitar usia 8-12 tahun.

Untuk itulah orangtua harus mengenali sekaligus mengambil langkah tepat untuk membantu perkembangan seksualitas balita. Hal yang harus dikenali antara lain:

Kenal Identitas Kelamin

Perkembangan tubuh seksual anak tidak sepesat intelektualitas dan kejiwaannya. Namun, pada usia balita hingga kanak-kanak ini terjadi perubahan penting pada perkembangan seksual anak.

“Orang memperlihatkan betapa beragamnya perkembangan seksual mereka di masa kanak-kanak dan banyak faktor yang turut mempengaruhi. Meski demikian, di antara berbagai perbedaan ini ada tahapan perkembangan yang umum terjadi pada setiap orang,” tulis Robert Crooks dan Karla Baur.

Menurut Kinsey Institute, sejak lahir hingga usia tiga tahunan seorang anak menemukan identitas jenis kelaminnya (gender identity). Setiap orangtua pasti akan menghadapi masa anak mulai mempertegas siapa dirinya dan termasuk golongan mana.

Anda ingat bagaimana mereka menyatakannya? “Hei, aku cewek, kamu cowok. Cewek kalau pipis jongkok, dong!” Begitu kurang lebih yang sering kita dengar saat balita mulai mengenal identitas kelaminnya.

Pada masa ini pengaruh lingkungan atau biologis sangat kuat dan pengenalan identitas diri ini biasanya tidak berubah lagi selamanya. Itu sebabnya orangtua sangat dianjurkan untuk membantu anak-anak mengenal identitas kelaminnya secara jelas agar mereka tidak bingung.

Kadang kita temukan kasus orangtua tanpa maksud buruk dan tanpa sadar telah menyebabkan anak mengalami keraguan mengenai jenis kelaminnya. Saya ini perempuan atau laki-laki? Kalau perempuan mengapa saya diperlakukan seperti laki-laki? Demikian juga sebaliknya.

Saking besarnya keinginan orangtua memiliki anak perempuan, bayi laki-lakinya didandani seperti perempuan dan dibelikan boneka. Perlakuan seperti ini akan menyebabkan anak kesulitan mengenal indentitas kelaminnya.

Tahu Peran Jenis Kelamin

Di usia tiga tahun anak mulai mengenal apa yang disebut dengan peran jenis kelamin (gender role), yaitu kesadaran tentang apa yang lazim dilakukan laki-laki dan perempuan.

Dasar dari pengetahuan peran jenis ini adalah pengenalan identitas kelamin.

Kesadaran ini juga yang kelak akan membuat anak menentukan hidupnya dan memilih pekerjaan. Lalu, bagaimana anak mengenal peran jenis kelaminnya?

Biasanya ada dua cara. Pertama, belajar dari orangtua (sebagai figur yang paling dekat) dan teman-teman sejenisnya. Anak laki-laki meniru tingkah laku ayah atau figur penggantinya seperti kakek atau paman. Dalam psikologi, perkembangan ini disebut imitasi. Mereka juga belajar tentang peran jenis dengan meniru tindakan atau apa yang dilakukan oleh sesama anak laki-laki.

Kedua, anak belajar peran jenis dari lawan jenisnya. Anak laki-laki tahu tentang apa yang diharapkan untuk dilakukan anak perempuan dari melihat tingkah ibunya dan apa yang dilakukan oleh anak perempuan. Dengan memahami peran dari lawan jenisnya ia jadi tahu peran apa yang diharapkan dari jenis kelaminnya sendiri.

Mungkin sering kita dengar bagaimana anak-anak mengungkapkan pengenalan mereka tentang peran jenis kelamin. “Hei, kamu ’kan cewek, masa main robot-robotan?”

Ketika di pertokoan atau di taman bermain, kadang kita menjumpai anak-anak yang menunjukkan dengan jelas bagaimana mereka melakukan imitasi. Misalnya, anak laki-laki menirukan gaya jalan ayahnya secara persis. Anak perempuan biasanya ingin memakai lipstik dan kutek seperti ibunya.

Memiliki Kesadaran yang Kuat

Seperti diungkapkan Kinsey Institute, anak-anak dengan keyakinan kuat tentang identitas dan peran jenis kelaminnya ketika dewasa akan bersikap lebih fleksibel menyangkut maskulinitas dan femininitas.

Ide atau gagasan tentang tingkah laku yang seharusnya dilakukan mereka atau lawan jenisnya juga tidak terlalu kaku. Sikap semacam inilah yang semakin dibutuhkan oleh peradaban, yaitu meletakkan kedua jenis kelamin ini secara setara, tidak ada yang lebih superior maupun inferior.

Lebih dari itu, biasanya mereka tidak akan cemas atau ragu meski sebagai anak laki-laki suka memasak dan sebaliknya anak perempuan lebih suka ikut ayah ke bengkel mobil daripada belanja ke supermarkat bersama ibu. Perlahan tapi pasti mereka bisa menjelaskan dengan yakin bahwa dirinya tetap laki-laki dan perempuan, bukannya banci atau homoseksual, meskipun tidak melakukan sesuatu yang lazim diperbuat orang-orang dari sesama jenisnya.

Sikap mau tahu dan kepedulian orangtua untuk masa perkembangan ini sangatlah bermanfaat. Bila orangtua mendidik secara androgini sesuai tuntutan zaman, anak tidak akan mengalami kebingungan identitas kelamin. Perkembangan zaman menuntut agar kita memperlakukan setara dan memberi hak yang sama bagi anak-anak untuk melakukan hal yang semula dianggap hanya untuk perempuan atau laki-laki.

Yang paling utama adalah tumbuhnya kesadaran pada anak maupun orangtua bahwa proses perkembangan seksual harus dicermati, bukan disikapi dengan kepanikan dan kekhawatiran yang berlebihan.

Pentingnya Pengetahuan Seks yang Benar ..!

Pengetahuan seks yang benar yang dimiliki orangtua akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang kejiwaan anak.

Beberapa hal atau peran yang dapat dimainkan orangtua seperti dijelaskan psikolog Dra. Ieda Poernomo Sigit Sidi, sebagai berikut:

    • Perhatikan perkembangan anak dan perilakunya dalam kaitan dengan perkembangan seksualnya. Dalam perkembangannya anak juga mengalami perubahan seksual sesuai pertumbuhan fisik dan mentalnya.
    • Ajak anak mengenali tubuhnya dan beritahu kegunaannya. Misalnya hidung untuk penciuman, mata untuk melihat, mulut untuk bicara dan makan, telinga untuk mendengar, perut untuk mengolah makanan, kaki untuk berjalan, tangan untuk memegang, dan kelamin untuk buang air kecil.
    • Beritahukan bahwa ia akan mengalami perubahan sesuai perkembangan tubuhnya. Dia akan tumbuh seperti orang dewasa dan tidak perlu cemas menghadapinya karena perkembangan itu menunjukkan bahwa dia normal. Ayah dan ibu bisa menggunakan gambar ilustrasi yang ada di buku-buku anatomi reproduksi.
    • Amati perilaku seksual anak, misalnya bagaimana dia memperhatikan dan memperlakukan kelaminnya.
    • Sejak balita ajarkan anak cara membasuh kelaminnya sesudah buang air kecil dan besar.
    • Biasakan anak mengenakan pakaian dalam yang bersih.
    • Dengarkan pertanyaan anak seputar perkembangan seksualnya. Kalau Anda tidak bisa menjawabnya saat itu, jangan segan untuk berterus terang. Sesudah itu carilah informasi yang diperlukan. Anda bisa mencari buku yang memuat informasi tersebut atau berkonsultasi kepada ahli (psikolog). Kemas informasi yang Anda peroleh dan sampaikan dengan bahasa yang dipahami anak sesuai perkembangan usianya.
    • Kalau anak bertanya, dari mana dia lahir? Jawablah terus terang, “Dari kelamin ibu.” Lanjutkan dengan penjelasan bahwa Tuhan menciptakan kelamin perempuan seperti itu untuk “jalan lahir” anak. Bagaimana bisa begitu? Katakan bahwa hal tersebut merupakan kebesaran Tuhan. Dalam keadaan tertentu, bayi tidak bisa lahir lewat jalan biasa, yaitu kelamin ibu, terpaksa dilakukan operasi. Dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan melakukannya di rumah sakit atau rumah bersalin.
    • Jelaskan bahwa Tuhan menciptakan kelamin laki-laki dan perempuan berbeda karena fungsinya juga tidak sama. Laki-laki tidak mengandung, melahirkan, dan menyusui anak karena tidak punya perangkat untuk itu. Perempuan diberi kodrat oleh Tuhan untuk mengandung, melahirkan, menyusui anak. Untuk itu Tuhan memberikan perangkatnya, yaitu rahim, bentuk kelamin seperti itu, dan payudara. Rahim disiapkan untuk pertumbuhan bayi di dalam kandungan, kelamin diciptakan seperti itu buat jalan lahir bayi, dan payudara tumbuh menjadi besar agar kelak bisa menyusui. Karunia ini harus dijaga dengan baik supaya bisa berfungsi dengan baik pada saatnya kelak, yaitu ketika ia sudah dewasa dan menikah.
    • Laki-laki diberi Tuhan sperma atau sel mani yang memungkinkannya untuk menghamili, yaitu ketika sel mani bertemu dengan sel telur milik wanita. Laki-laki harus menjaga kelaminnya dengan baik agar tetap sehat, sel maninya baik, dan pada saatnya kelak mampu membuahi sel telur.
    • Bicaralah tentang perkembangan seksual anak sesuai dengan tahapan usianya. Bicara dengan anak berumur tujuh tahun tentu berbeda dengan anak yang sudah berusia 15 tahun.
    • Cari informasi supaya bisa menyiapkan anak dengan bekal pengetahuan yang cukup, sehingga dia bisa menjaga perilaku seksualnya dengan baik, tidak terpengaruh lingkungan yang menyesatkan, mencoba-coba, dan mudah dibujuk, serta bisa menjaga dirinya dengan baik, termasuk melindungi diri dari pelecehan seksual dan bahkan perkosaan. Pelajari, bagaimana cara bicara dengan anak tentang perilaku seksualnya. Meminta bantuan ahli sangat dianjurkan.
    • Amati pergaulan anak di abad ini. Perhatikan acara di televisi dan radio. Ikuti perbincangan di masyarakat, sehingga Anda bisa memperoleh gambaran yang tepat mengenai kondisi dan situasinya. Jangan terperangkap oleh pikiran sendiri, apalagi menganggap dunia masih “aman”.

Tentukan rambu-rambu yang Anda inginkan untuk diperhatikan anak dalam bergaul. Beritahukan macam-macam lingkungan atau situasi yang harus diwaspadainya. Jangan hanya sekadar melarang tanpa penjelasan.

Ekspresi Marah Pada Anak

Mengekspresikan Marah Secara Tepat Kepada Anak

Marah, adalah kewajaran bagi orangtua bila sedang jengkel dan dibikin pusing oleh anak. Namun bagi anak-anak tertentu, kemarahan orangtua identik dengan pukulan fisik, kekerasan verbal ( umpatan, makian, dan cacian ), dan menimbulkan luka psikis bagi anak. Sementara bagi orangtua, anak anak tertentu yang terlalu sering menimbulkan kejengkelan, bandel, nakal dan perilaku tidak menyenangkan lainnya yang memaksa orangtua menumpahkan segala macam ekspresi kemarahan. Tidak heran, orangtua pun tidak perduli manakala cap ” cerewet ” menghinggapi dirinya.

Tidak tepat

Marah itu memang mudah. Begitu mudahnya marah, sehingga setiap orang akan mampu marah. Tetapi, marah yang tepat, pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang pas, demi tujuan yang benar, dengan cara yang baik, bukanlah sesuatu yang mudah. Demikian ungkap Aristoteles dalam tulisannya The Nichomachean Ethics dan diungkap ulang oleh Dr. Daniel Goleman, psikolog yang mendalami ilmu-ilmu perilaku dan otak. Kata-kata tersebut cukup mewakili bagaimana sebenarnya posisi kemarahan pada setiap individu.

Bagi orangtua yang beraliran konservatif dalam mendidik anak, memang merasa berhak untuk selalu marah, bila merasa jengkel dan tidak menyukai perilaku anak. Hak ini didukung oleh argumen, bahwa kemarahan orangtua adalah demi kebaikan terhadap anak itu sendiri. Tujuan ini tentu saja dibenarkan, namun kadar, waktu, dan cara marah yang keliru, sering menimbulkan suasana semakin ruwet. Orangtua semakin marah, anak semakin memberontak. Orangtua mengecap anaknya sebagai anak yang bandel, nakal, suka membantah orangtua, sementara anak melakukan penyelesaian masalah dengan caranya sendiri. Misalnya dengan lari dari suasana rumah, berkeliaran di mal-mal, pulang larut malam, atau bahkan terlibat dalam obat-obatan terlarang.

Untuk itu dibutuhkan tidak saja ketrampilan kognitif intelektual manakala orangtua akan menggunakan hak marahnya kepada anak, melainkan juga dituntut adanya ketrampilan emosional. Ketrampilan kognitif intelektual tampak dari tujuan marah yang ilmiah, yakni karena kamu salah maka mama dan papa berhak untuk marah. Ketrampilan emosional, tampak dari bagaimana ketepatan orangtua untuk mengekspresikan marahnya secara tepat.

Empat langkah

Orangtua tertentu memang melakukan kesalahan fatal manakala mereka marah kepada anak. Kata-kata alasan marah, dan ekspresi emosi yang tidak terkendali, tumpah ruah kepada anak. Komunikasi macet, orangtua semakin marah, anak pun ikut- ikutan menolak kemarahan dan jadi ikut marah pula.

Daniel Goleman menyodorkan empat langkah alternatif marah yang tepat terhadap anak. Empat langkah ini terdiri atas strategi SOCS ( Situation, Option, Consequence, dan Solution ) Artinya, hendaknya kita mempelajari situasi psikologis anak ( badan capek, pikiran masih kacau, atau anak memang tipe pemberontak ), kemudian menuliskan alternatif- alternatif yang bisa dilakukan terhadap anak ( menasehati langsung, menasehati tetapi ditunta setelah anak memiliki waktu yang tepat, menasehati biasa, menasehati dengan nada keras, dsb), memikirkan segala konsekuensinya ( anak menerima tanpa syarat, diterima dengan syarat, atau anak menolak nasihat orangtua), lalu tuliskan atau pikirkan juga bagaimana solusi-solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah anak tersebut.

Tonjolkan aspek tanggung jawab kepada anak, bahwa setiap perilaku dan sikap yang dilakukan anak, akan membawa konsekuensi tersendiri. Konsekuensi itu tidak selalu menyenangkan, namun ada juga yang menyusahkan. Biarkan anak berpikir, mana yang akan ia pilih.

Dalam psikologi, dikenal adanya Analisis Transaksional. Salah satu aspek ajaran Analisis transksional ini adalah bahwa untuk mendidik anak jangan selalu dengan kemarahan fisik, larangan, dan menasehati. Sekali tempo konfrontasikan dengan konsekuensi yang mungkin akan dialami anak bila anak tidak menuruti nasehat orangtua, atau sebuah ujud kemarahan yang tersamar. Misalnya, tampak dengan nasehat kontroversial dan bersifat konfrontatif. Misal dengan mengatakan . kalau kamu tidak mau turun dari pohon yang terlalu tinggi itu, naik saja setinggi mungkin atau kalau kamu jatuh, sakitnya akan lebih terasa. Untuk mencapai tujuan secara baik, orangtua hendaknya lebih jeli mengamati tipe-tipe psikologis anak. Dengan demikian, marahpun memang dituntut ketepatan dalam mengekspresikannya.

Ledakan Emosi Anak

Mengatasi Ledakan Emosi Anak

Tak jarang balita Anda mengungkapkan emosinya dengan cara membanting mainannya, atau berteriak-teriak sambil menangis di tengah keramaian. Ledakan emosi seperti itu disebut dengan Temper Tantrum. Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan temper tantrum, dan bagaimana menghadapinya dengan benar?

Temper tantrum bisa bermacam-macam bentuk, mulai dari merengek, menangis, berteriak-teriak, menendang, memukul atau menahan napas. Pada umumnya sama saja pada anak lelaki atau perempuan dan biasanya terjadi pada anak usia satu sampai tiga tahun. Beberapa anak mungkin sering mengalami tantrum, ada pula yang hanya beberapa kali atau jarang.

Penyebab Tantrum

Meskipun sebaiknya temper tantrum jarang terjadi , namun tantrum termasuk normal dalam periode pertumbuhan anak dan tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif.

Ada beberapa penyebab dasar terjadinya tantrum, antara lain : anak mencari perhatian, lelah, lapar atau tidak nyaman. Sebagai tambahan, tantrum kadang terjadi karena anak frustasi pada dunia, misalnya tidak mendapatkan yang diinginkan. Frustasi pada anak bukan sesuatu yang tidak dapat diterima karena justru ia akan belajar mengenal orang lain, objek atau dirinya sendiri.

Sebelum menginjak usia dua tahun, anak mulai membangun rasa percaya diri yang kuat pada dirinya. Ia ingin belajar mandiri untuk mengekspresikan dirinya dan untuk menguasai lingkungan disekitarnya lebih dari yang sebenarnya mampu ia atasi. Anak akan merasa aku bisa melakukan sendiri atau aku ingin itu, atau berikan itu padaku. Ketika usia balita anak mulai menyadari bahwa ia tidak dapat melakukannya sendiri dan tidak mendapatkan semua yang diinginkan, terbentuklah tantrum.

Beberapa hal positif yang bisa dilihat dari perilaku Tantrum adalah bahwa dengan Tantrum anak ingin menunjukkan independensinya, mengekpresikan individualitasnya, mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah atau sakit. Namun demikian bukan berarti bahwa Tantrum sebaiknya harus dipuji dan disemangati.

Jika orangtua mengijinkan seorang anak melakukan sesuatu atau mendapatkan apa yang diinginkannya setelah tantrum, hal itu sama saja dengan menyetujui tantrum dan mengajarkan anak bertindak agresif. Dengan bertindak keliru dalam menyikapi Tantrum, orangtua juga menjadi kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut

Mencegah Tantrum

Cara paling baik untuk mengatasi tantrum adalah dengan mencegahnya. Pastikan anak Anda tidak kekurangan perhatian. Pada anak, perhatian yang negatif (respon salah orangtua pada tantrum) lebih baik daripada tidak ada perhatian sama sekali. Coba untuk mempertahankan kebiasaan untuk berlaku positif, dalam arti memberi penghargaan jika mereka bersikap baik.

Kenalilah sifat dan kebiasaan anak Anda. Temani mereka belajar dan bermain, ini akan menunjukkan kepada mereka bahwa orangtuanya peduli dan memiliki perhatian terhadap kegiatannya. Evaluasi pula cara Anda mendidik anak selama ini, apakah terlalu memanjakan, menuruti segala kemauannya, terlalu melarang, atau Anda sering tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan?

Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti.

Menghadapi Tantrum

Yang paling penting untuk diingat saat menghadapi anak yang tantrum, apapun sebabnya, tetaplah tenang. Jangan perumit masalah dengan frustasi Anda. Anak akan merasakan emosi orangtua yang naik, hal itu bisa menyebabkan emosi anak ikut meningkat sehingga tantrum semakin menjadi.

Seorang anak yang sedang mengalami tantrum tidak dapat menerima bujukan, ia justru akan merespons negatif tindakan Anda, jangan pula mengacuhkan. Yang terbaik adalah membiarkannya, Anda bisa tetap berada disampingnya, peluk atau gendonglah anak Anda dengan penuh cinta, hal itu dapat membantunya menenangkan diri.

Jika Tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama Tantrum (di rumah maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang membahayakan dirinya atau justru jika ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum anak jadi menyakiti teman maupun orangtuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak.

Selama anak belum tenang, jangan memberikan nasehat atas tindakannya, tetapi fokuskan hanya untuk menenangkan dirinya. Tentunya anda mengatakannya tanpa emosi ataupun bernada memarahinya.

Sebagai orangtua Anda perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi tantrum. Pada saat tenang, dalam situasi nyaman bagi orangtua dan anak, Anda perlu mengajarkan nilai-nilai kepada anak agar ia tidak mengulangi kesalahannya lagi.

Semoga saran diatas dapat menjadi referensi baru bagi Anda, terutama para Ayah/Ibu muda. (***/anna)

Mengatasi Emosi Anak

Mengatasi Ledakan Emosi Anak Anda

Minggu, 13 Mei 2007 – Dikirim oleh kj
Kategori : Perilaku Anak

Anak anda sering marah dengan emosi tinggi seperti memukul atau berteriak-teriak ? Jika YA, anda perlu melakukan hal-hal berikut…

Apakah anda pernah mengalami kejadian berikut ?

Anda dan si kecil anda berjalan-jalan ke mall atau makan di restaurant. Karena suatu hal yang sepele si kecil anda ngambek, marah dan berteriak-teriak minta pulang. Ketika anda anda berusaha membujuknya, si kecil anda justru semakin meledak emosinya, memukul atau melempar apa saja yang ada di sekitarnya.

Mungkin anda tidak pernah mengalami kejadian seperti di atas, tapi kemungkinan besar anda mengalami hal yang hampir sama. Mengapa hal ini terjadi ?

Menurut banyak ahli perkembangan dan psikolog anak, hal ini sering terjadi karena anak mengalami frustasi dengan keadaannya sedangkan dia tidak mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata atau ekspresi yang diinginkannya. Hal ini sering dialami oleh anak usia 2-3 tahun.

Mengapa ? Anak usia tersebut biasanya sudah mulai mengerti banyak hal dari yang didengar, dilihat maupun dialaminya, tetapi kemampuan bahasa atau berbicaranya masih sangat terbatas.

Apa yang bisa anda lakukan ?

1. Janganikutan marah !

Saat anak anda sedang mengalami ledakan emosi, baik dengan teriakan maupun tindakan fisik lainnya, dia tidak akan bisa menerima alasan atau bujukan, tetapi justru terhadap apapun yang anda lakukan anak akan merespons secara negatif. Kemudian, jika anda tidak bisa menahan emosi, anda akan ikutan marah, dan mungkin anda akan meninggalkan anak anda sendirian.

Jangan lakukan itu ! Anak anda akan merasa bahwa anda telah mengabaikannya, dan semakin membuat anak merasa ketakutan dengan apa yag terjadi. Anak akan merasa lebih tenang jika anda tetap berada di dekatnya. Jika memungkinkan, gendong atau peluk anak anda sehingga dia akan lebih cepat menenangkan diri.

2. Anda yang tetap memegang kendali

Jangan mengikuti permintaan anak yang tidak realistik atau tidak bisa anda terima hanya untuk menghindari ledakan emosi anak. Hal ini sering terjadi di tempat-tempat umum seperti mall, yang mana pada saat anak minta sesuatu anda tidak mengijinkannya, tetapi begitu anak mulai meledak emosinya anda akan mengabulkannya karena malu dengan lingkungan.

Jadi, jika memang anak meminta sesuatu yang diluar toleransi, kita harus tegas mengatakan ”TIDAK”. Jika anak menjadi marah besar dan mulai memukul ataupun tindakan lain yang membahayakan, bawalah dia ke tempat yang lebih aman hingga anak menjadi tenang. Katakan bahwa dia dibawa ke tempat tersebut karena tindakannya yang membahayakan. Selama anak belum tenang, jangan memberikan nasehat atas tindakannya, tetapi fokuskan hanya untuk menenangkan dirinya. Tentunya anda mengatakannya tanpa emosi ataupun bernada memarahinya.

Memang, pada saat membaca tulisan ini kita bisa mengerti, tapi begitu mengalaminya langsung kemungkinan besar kita lupa dengan apa yang seharusnya kita lakukan.

Jadi bagaimana ?

Ketika anak anda mulai meledak emosinya, katakan pada diri anda sendiri, ”Ini kejadian yang wajar. Saya tahu cara menghadapinya !”. Kemudian ingatlah tulisan ini.. :)

Selain hal di atas, masih ada beberapa hal PENTING lagi yang HARUS anda lakukan supaya anak anda mengerti dan memahami apa yang sudah terjadi. Juga, tindakan anda untuk mencegah terjadinya ledakan kemarahan yang terlalu sering.

oleh: Taufan Surana

Membedakan Siang Dan Malam

Mengajar Membedakan Siang Dan Malam

Namanya juga baru lahir, tentu saja bayi belum bisa membedakan antara siang dan malam. Jadilah ia bangun kapan saja ia mau dan merasa perlu. Jika ingin si kecil tak banyak terbangun di waktu malam, berikut adalah cara-cara yang bisa Anda terapkan pada si buah hati:
* Bedakan tidur siang dengan malam. Di siang hari tidurkan ia di mana saja. Tapi di malam hari, baringkan ia hanya di kamarnya atau kamar Anda.
* Jangan biarkan ia tidur lebih dari 4 jam di siang hari.
* Beri rangsangan lebih banyak ketika ia bangun di siang hari. Entah itu dengan bernyanyi, bercakap-cakap atau memijatnya. Tapi jika ia terbangun di malam hari, suasana harus cukup tenang. Usahakan agar lampu kamar tak terlalu terang dan susui si kecil tanpa mengajaknya bercakap-cakap.

Indah

Mendengar Atau Terdengar

Mendengar atau Terdengar ?

Oleh Jacinta F. Rini

(Anak) : Mama…mama…adek nggak mau sekolah lagi…pokoknya nggak mau…sekolah itu nggak enak soalnya ada si dono yang badannya besar dan suka gangguin adek…adek takut, Ma…adek nggak mau ketemu dono….(sambil menangis) (Mama): (mamanya sambil matanya lekat ke sinetron yang sedang seru-serunya) Mmmm…Oooo…Aahh nggak apa-apa, kan…biasa itu…masa’ begitu saja takut…pokoknya besok sekolah seperti biasa…ya! anggap saja tidak ada apa-apa….ya sudah, sana..! lagi seru niiih..wah, jadi kelewat deh ceritanya…! kamu sih…! Problem Komunikasi Dalam Keluarga

Situasi di atas sepertinya tidak asing lagi di jaman ini, di mana setiap orang, termasuk orang tua, seolah membangun dunia sendiri yang terpisah dari orang lain, bahkan anggota keluarganya sendiri. Komunikasi keluarga menjadi “barang mahal dan barang langka” karena masing-masing sibuk dengan urusan, pikiran dan perasaannya masing-masing. Akhirnya, komunikasi yang tercipta di dalam keluarga, adalah komunikasi yang sifatnya informatif dan superfisial (hanya sebatas permukaan). Misalnya, pemberitahuan agenda kerja ayah hari ini, rapat di kantor, janji bertemu orang, harus presentasi, atau mungkin membicarakan mengenai teman ayah punya pekerjaan baru, si Pak Tiar pergi ke luar negeri, tingkat bunga bank, kurs dollar, situasi politik, kerusuhan yang terjadi di luar daerah, dan lain sebagainya. Sementara ibu membicarakan tentang teman kerja di kantor, rencana bisnis ibu, rencana masak memasak, pertemuan arisan, acara televisi baru, atau membicarakan tentang anak teman ibu yang punya masalah. Anak-anak, punya dunianya sendiri yang sarat dengan keanekaragaman pengalaman dan cerita-cerita seru yang beredar di kalangan teman-teman mereka.

Dalam kepadatan arus informasi yang serba superfisial dan sempitnya “waktu bersama”, membuat hubungan antara orang tua – anak semakin berjarak dan semu. Artinya, hal-hal yang diutarakan dan dikomunikasikan adalah topik umum selayaknya ngobrol dengan orang-orang lainnya. Akibatnya, masing-masing pihak makin sulit mencapai tingkat pemahaman yang dalam dan benar terhadap apa yang dialami, dirasakan, dipikirkan, dibutuhkan dan dirindukan satu sama lain. Dalam pola hubungan komunikasi seperti ini, tidak heran jika ada orang tua yang kaget melihat anaknya tiba-tiba menunjukkan sikap aneh, seperti tidak mau makan, sulit tidur (insomnia), murung atau prestasinya meluncur drastis. Orang tua merasa selama ini anaknya seperti “tidak ada apa-apa” dan biasa saja. Lebih parah lagi, mereka menyalahkan anak, menyalahkan pihak lain, entah pihak sekolah, guru, atau malah saling menyalahkan antara ayah dengan ibu. Seringkali orang tua lupa, bahwa setiap masalah adalah hasil dari sebuah interaksi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Setiap orang, punya kontribusi dalam mendorong munculnya masalah, termasuk masalah pada anak-anak mereka.

Seni Mendengarkan

Komunikasi, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata. Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks : bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata. Seni mendengarkan, membutuhkan totalitas perhatian dan keinginan mendengarkan, hingga sang pendengar dapat memahami sepenuhnya kompleksitas emosi dan pikiran orang yang sedang berbicara. Bahkan, komunikasi yang sejati, sang pendengar mampu memahami apa yang terjadi / yang dirasakan oleh lawan bicara meski dengan kata-kata yang sangat minimal.

Bagaimana Cara Mendengarkan Yang Baik ?

Di awal artikel ini pembaca dapat menarik gambaran bagaimana suasana hati sang anak dan apa yang diharapkannya ketika ia mencoba “berkomunikasi” dengan sang ibu; dan bagaimana keadaan “hati” anak setelah itu? Kejadian tersebut tampaknya sangat umum terjadi di mana-mana, di hampir setiap keluarga. Memang, tidak ada orang tua sempurna, karena setiap orang tua memiliki masalahnya masing-masing hingga seringkali memblokir hubungan positif yang seharusnya terjalin antara mereka dengan anak-anak. Tapi, bukan berarti hal itu dapat selalu dimaklumi, bukan? Bagaimana pun, setiap kita para orang tua, perlu diingatkan kembali, bagaimana cara “mendengarkan” anak kita.

1. Fokuskan perhatian pada anak

Pada saat anak mencoba mengatakan sesuatu, berilah perhatian sepenuhnya pada ceritanya. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita mengalihkan perhatian sejenak dari film atau sinetron yang sedang ditonton, majalah, koran, atau dari pekerjaan yang sedang dihadapi. Tataplah langsung di matanya sambil memberi kesan bahwa kita benar-benar siap memperhatikan ceritanya, dan mendorongnya untuk bercerita.

2. Re-statement, mengulangi cerita anak untuk menyamakan pengertian

Tahanlah diri untuk tidak menginterupsi ceritanya sampai anak selesai bercerita. Ketika anak selesai bercerita, cobalah memberikan kesimpulan berdasarkan hasil tangkapan kita terhadap ceritanya. Pola ini, memberikan feedback bagi orang tua dan anak, apakah kita benar-benar telah memahami apa yang diceritakan atau apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh anak.

3. Menggali perasaan dan pendapat anak akan masalah yang sedang dihadapi

Kita boleh bertanya pada mereka : “bagaimana perasaan adek, waktu itu….”; cara ini jauh lebih baik ketimbang menjatuhkan penilaian subyektif atas diri mereka : “ah, kamu pasti takut! Kamu kan penakut….” atau “ah, paling kamu menangis…kan kamu cengeng…” atau “kamu nggak menangis, kan? Anak mama papa pemberani, tentu tidak pernah menangis!”…Penilaian tersebut malah membuat anak frustrasi karena mereka mengharap orang tua bisa mengerti perasaan mereka, bukan menilai sikap dan perasaan mereka. Selain itu, penilaian subyektif orang tua yang datang terlalu cepat, bisa membuat anak menarik diri untuk tidak lebih lanjut menceritakan perasaan yang sebenarnya, karena orang tua sudah punya anggapan tertentu. Misal, anak itu sebenarnya takut ketika berhadapan dengan teman sekolah yang lebih besar badannya dan suka mengganggunya – namun urung bercerita karena orang tua sudah memberi label pada sang anak sebagai “anak mama-papa pasti pemberani”. Menceritakan perasaan dan kejadian yang sesungguhnya, hanya akan membuat dirinya dimarahi atau malu karena dianggap lemah.

4. Bantu anak mendefinisikan perasaan

Mendengarkan sepenuhnya cerita pengalaman anak, baik itu menyedihkan dan menyenangkan, membuat kita berdua (dengan anak) dapat berbagi rasa dan anak pun akan merasa orang tua menghargainya. Anak akan biasa bersikap terbuka karena yakin orang tua pasti bersedia mendengarkan mereka. Jika anak masih sulit mengidentifikasi perasaan mereka, bantulah dengan mendengarkan cerita mereka sungguh-sungguh, dan melontarkan kesan seperti “Wah..adek sepertinya sedih sekali”..atau “Kamu kelihatan sangat marah”…atau “adek sepertinya sedang bosan?”. Anak akan sangat lega ketika orang tua bisa menangkap perasaan mereka. Interaksi demikian, melatih anak mengidentifikasikan perasaan mereka secara tepat.

5. Bertanya

Hindari sikap memaksakan pendapat, cara, penilaian orang tua; alangkah lebih baik jika orang tua membimbing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka semakin memahami kejadian yang dialami, teman yang dihadapi, perasaan yang mereka rasakan serta sikap – tindakan yang harus mereka lakukan sebagai pemecahannya.

6. Mendorong semangat anak untuk bercerita

Hanya dengan memberi respon “Ooo….O ya?…Wow!…” sudah menjadi stimulasi bagi mereka untuk makin giat bercerita.Pola ini dapat membuat anak tenang dan nyaman karena merasa orang tua memahami apa yang mereka ungkapkan.

7. Mendorong anak mengambil keputusan yang tepat

Jika orang tua ingin membantu anak menghadapi masalahnya, sebaiknya kita tidak mengambil alih keputusan (“ya sudah, besok kamu tidak usah masuk sekolah”) atau tindakan (“biar mama yang hadapi si boy teman mu yang nakal…biar mama si boy tahu apa yang anaknya lakukan!). Sebaliknya, hadirkan beberapa alternatif yang membuat mereka berpikir dan memilih manakah solusi terbaik sambil membicarakan akibat-akibat yang bisa dirasakan baik oleh anak maupun oleh orang lain.

8. Menunggu redanya emosi anak dan mengajak berpikir positif

Jika anak masih diliputi emosi yang memuncak hingga membuatnya sulit berbicara, orang tua jangan memaksakan anak untuk segera bicara. Kita tidak akan berhasil membuatnya bercerita dan kita pun makin tidak sabar untuk tidak memberikan opini kita padanya. Konflik seringkali terjadi dan ini menyebabkan memburuknya hubungan orang tua anak. Berikan waktu untuk menyendiri sampai intensitas perasaannya mereda. Ketika emosinya mereda, anak akan lebih siap untuk diajak bicara. Sekali lagi, berusahalah untuk tidak memberikan opini kita pribadi, baik terhadap pilihan sikapnya, emosinya, dan tindakannya.Tanyakan pemikiran mereka terhadap masalah ini dan bagaimana kira-kira sikap yang sebaiknya mereka lakukan di kemudian hari. Sikap ini tidak saja menghindarkan anak dari perasaan dihakimi, namun juga membantu mereka lebih memahami kejadian / peristiwa itu secara obyektif serta menemukan nilai atau pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kejadian itu.

Apa manfaat dari mendengarkan?

Bagi seorang anak, komunikasi bukan hanya bertujuan untuk membuat orang dewasa atau orang lain mengetahui dan memenuhi kebutuhannya. Dari komunikasi itu lah, anak dapat menarik kesimpulan, bagaimana orang dewasa memandang dirinya; dan dari kesan ini lah seorang anak membangun rasa percaya diri dan sense of self. Anak akan merasa dihargai, merasa percaya diri dan mengembangkan penilaian positif terhadap dirinya, ketika orang tua menaruh perhatian tidak hanya pada ceritanya, tapi juga pada pendapat, keyakinan, kesimpulan, ide-ide, perasaan, bahkan ketika pendapat tersebut tidak sesuai dengan pendapat orang tua. Sikap orang tua yang “mendengarkan” anak, membuat anak berani membuat perbedaan dan menjadi berbeda, tanpa takut dihukum, dilecehkan atau ditertawakan. Hal itulah yang menjadi salah satu landasan keberanian dan keinginan anak, untuk menjadi diri sendiri apa adanya.

Dari tanggapan-tanggapan orang tua, anak akan belajar mengenal banyak informasi dan pengetahuan, mendengar sesuatu yang berbeda dari yang dipikirkannya selama ini, melihat alternatif yang lain, menilai pendapat dan tindakannya sendiri, menilai posisi dirinya di mata orang lain, dan menarik kesimpulan apa yang harus dilakukan olehnya. Proses saling mendengarkan dan didengarkan, mengasah daya kritis dan kreativitas berpikir anak karena ketika antara anak dengan orang tua terdapat jalur 2 arah yang terbuka, maka terbuka pula akses informasi, pengetahuan, perasaan, pemikiran dan pengalaman dari kedua belah pihak. Satu sama lain, saling belajar dan saling memperkaya, saling mengenal dan semakin memahami.

Proses komunikasi antara orang tua dengan anak, sangat membantu anak memahami dirinya sendiri, perasaannya, pikirannya, pendapatnya dan keinginan-keinginannya. Anak dapat mengidentifikasi perasaannya secara tepat sehingga membantunya untuk mengenali perasaan yang sama pada orang lain. Lama kelamaan, semakin anak terlatih dalam mengenali emosi, tumbuh keyakinan dan sense of control terhadap perasaannya sendiri (lebih mudah mengendalikan sesuatu yang telah diketahui). Misal, jika anak sudah tahu bagaimana rasanya marah, sedih, kecewa, takut, kesepian, dsb, maka akan lebih mudah bagi orang tua memberikan alternatif-alternatif cara menghadapi dan menyelesaikannya.

Mendengarkan anak secara sungguh-sungguh, membuat anak percaya pada orangtua. Hubungan mutual trust, ini membuat anak merasa lebih nyaman berada bersama orang tua, lebih memilih ‘curhat dengan orang tua dan siap menjadi “partner” ketika orang tua yang giliran butuh didengarkan.

Evaluasi Diri

Mendengarkan dan didengarkan, adalah kunci hubungan orang tua-anak yang sangat bermanfaat, baik untuk pengembangkan kematangan emosional, kepandaian intelektual, kemampuan membina kehidupan sosial yang baik serta penanaman nilai prinsip moral yang baik pada anak. Dengan mendengar dan didengar, jalur komunikasi 2 arah terbuka lebar antara orang tua – anak, memungkinkan keduanya saling mengerti dan membuat orang tua dapat memberikan dukungan yang diperlukan oleh anak. Namun sebaliknya, jika kata-kata yang diucapkan anak hanya sekedar “terdengar” di telinga kita, akan hilang begitu saja terbawa angin dan tidak memberikan makna serta kontribusi apapun dalam proses pertumbuhan anak. Nah, apakah kita sebagai orang tua, tega mengorbankan kualitas perkembangan dan tingkat kematangan emosional, intelektual, moral, dan kemampuan sosial anak kita demi kesenangan sesaat (film yang menarik, obrolan gossip yang asik, berita yang sedang dibaca, dan lain sebagainya)…..Inilah saatnya kita sebagai orang tua merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita sudah lebih sering mendengarkan anak….ataukah, cerita mereka hanya terdengar sayup-sayup oleh kita?…(jr)

Perilaku Buruk Anak

Mencegah Perilaku Buruk Anak

Pernahkah anda merasa jengkel pada anak yang membantah perintah orangtua? Biasanya anak-anak pada usia balita (2-5 tahun) sedang nakal-nakalnya, karena pada usia itu anak-anak senang memikirkan keinginannya sendiri dan tidak memperdulikan omongan orangtuanya. Misalnya, seorang anak berusia 7 tahun setiap kali ibunya menyuruh belajar, jawabannya selalu, “Tidak, nanti aja, Ma!” atau “Nggak ah, lagi malas Ma !”. Sikap membantah pada anak sebenarnya wajar-wajar saja. Anak-anak ingin menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan orang tuanya. Sifatnya ini sebenarnya menunjukkan perkembangan daya berpikir anak. Jadi selama orangtua bisa memberikan alasan yang jelas atas setiap larangan atau perintah, anak juga akan mengerti.

Banyak hal yang dapat dilakukan orangtua untuk menghadapi sikap dan perilaku anak yang buruk, diantaranya:

1. Berikan perintah yang jelas.

Jangan sekedar mengatakan ‘tidak boleh!” atau ‘jangan !’, tanpa memberikan si anak alasan mengapa Anda menyuruhnya demikian. Misalnya, ketika melarang anak makan di depan pintu, katakan, “Jangan makan di depan pintu, nanti orang tidak bisa lewat!” atau ketika anak melompat-lompat di atas tempat tidur, berikan penjelasan jika ia sering melompat di atas tempat tidur nanti akan ambruk atau tempat tidur akan rusak dan seterusnya. Dengan begitu, anak akan mengerti mengapa anda melarangnya.

2. Buat batasan.

Seorang anak bisa bersikap keras kepala jika dilarang atau diperintah. Hadapilah sikapnya dengan sikap tegas anda, tapi jangan mengomel atau merayunya. Katakan apa yang anda inginkan, tegaskan bahwa si anak harus melakukan apa yang Anda katakan.

3. Jika memungkinkan, berikan pilihan yang jelas.

Misalnya, “Kamu mandi sekarang! Kalau mandinya nanti, airnya sudah keburu habis!”, atau ketika seorang anak yang kepergok merokok, katakan, “Kalau kamu merokok nanti paru-parumu jadi rusak”, dan sebagainya. Dengan begitu anak akan mengerti apa akibatnya kalau ia tak segera menuruti perintah Anda.

4. Peringatkan lebih awal.

Ketika seorang anak anda sudah terlalu lama bermain dan sudah waktunya untuk tidur, cobalah untuk mengingatkannya lima atau sepuluh menit lebih awal. Dengan begitu, anak anda tahu bahwa sebentar lagi ia harus berhenti bermain. Sehingga ketika saatnya benar-benar tiba, ia tak akan membantah Anda karena ia sudah mempersiapkan dirinya untuk berhenti bermain.

Satu hal yang perlu diingat oleh orangtua adalah, bahwa anak tetaplah anak dengan pikiran polosnya. Bagi anak, dunianya penuh dengan kegembiraan dan keceriaan. Sehingga kekerasan bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi sikapnya. Cobalah untuk menunjukkan rasa kasih sayang dan dukungan Anda kepadanya.