Diet BRATY, mitos atau bukan?

sumber : http://milissehat.web.id/?p=1862

Diet BRAT dikenal sebagai bagian dari tatalaksana diare. Anak-anak dengan diare tidak dianjurkan makanan lain selain BRAT (Banana = pisang, Rice= nasi, Applesauce = saus apel, Toast = Roti). Apakah diet BRAT ini masih digunakan hingga sekarang?
Pisang mengandung tinggi kalium dan serat yang tahan terhadap enzim amilase. Pada saat diare, tubuh banyak mengeluarkan cairan dan elektrolit terutama kalium. Kekurangan kalium sering menjadi komplikasi pada diare. Nasi (kadang diberikan dalam bentuk air tajin) dan roti mengandung karbohidrat kompleks dengan daya tarik air yang rendah sehingga tidak menyebabkan tinja menjadi encer. Nasi dianggap memiliki zat anti sekretorik (mencegah pengeluaran air dari usus besar). Apel lebih terkenal di Negara empat musim, mengandung pectin yang dapat mengeraskan tinja.
Saat ini istilah BRAT diet sering ditambahkan dengan Yoghurt, menjadi BRATY diet. Yoghurt dianggap mengandung probiotik yaitu bakteri yang dapat menguntungkan saluran cerna. Bakteri ini akan berkompetisi dengan mikroorganisme pathogen (penyebab penyakit) dan mempercepat kesembuhan diare. Rasionalisasi penggunaan probiotik dapat dibaca pada artikel terpisah.
Diet BRAT terbukti menurunkan frekuensi diare dan mengentalkan tinja, parameter ini dipakai untuk menilai kesembuhan diare tanpa memperhitungkan status dehidrasi. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, tatalaksana diare saat ini tidak lagi bertujuan untuk mengurangi frekuensi diare ataupun mengentalkan tinja, tetapi untuk mencegah dehidrasi.
Sejak ditelitinya mekanisme penyerapan elektrolit dan air dalam saluran cerna pada anak diare , cairan rehidrasi oral dikembangkan (sekitar tahun 1940an), dan menjadi terapi utama pada diare. Saat ini, tatalaksana nutrisi yang dianjurkan AAP dan WHO pada anak diare adalah “early feeding” yaitu tidak memuasakan anak, memberikan makan seperti biasa. Pembatasan makanan saat diare dan hanya memberikan BRAT saja dinilai tidak efektif karena diet BRAT memiliki kalori yang rendah.
Berikut adalah panduan pemberian nutrisi pada anak diare:
- Jangan puasakan anak
- Jika anak masih menyusu, lanjutkan ASI.
- Jika muntah, tunggu 10 menit lalu berikan makan/minum sedikit-sedikit tapi lebih sering (setiap 2-3 jam)
- Tidak perlu mengganti susu dengan susu rendah/bebas laktosa, susu dapat dicampur dengan sereal atau makanan lain.
- Lanjutkan makan seperti biasa sesuai dengan usia (feeding of age-appropriate diet), makan dapat diinterupsi untuk pemberian oralit. Utamakan pemberian oralit pada anak diare.
- Pada anak dengan diare hebat disertai dehidrasi berat, modifikasi diet perlu dilakukan dibawah pengawasan tenaga medis.
- Hindari rehidrasi dengan cairan tinggi gula dan soda.
Sebagai kesimpulan, anak dengan diare sangat rentan terhadap dehidrasi dan kekurangan zat gizi. Pemberian makan dan minum sangat penting untuk mencegah dehidrasi, malnutrisi dan mempercepat pemulihan. Pisang, apel, nasi, roti adalah bagian dalam makanan sehari-hari, semuanya dapat diberikan kepada anak, namun jangan membatasi makan anak. Tidak ada anjuran khusus diet pada anak diare, berikan makan seperti biasa sesuai usia. (win)
Sumber :
- BRAT diet, Emergency Medicine News.
- Managing acute gastroenteritis among children, CDC
- The BRAT diet for acute diarrhea in children: should it be used? Pediatric Gastroenterology.
- Hospital care in children, WHO

Diphtheria

sumber : http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-vwmu278.htm

Parwati S. Basuki, Soegeng Soegijanto

BATASAN DIPHTHERIA
Adalah suatu penyakit infeksi toksik akut yang sangat menular, disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae dengan ditandai pembentukan pseudomembran pada kulit dan/atau mukosa.

PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI

Kuman masuk melalui mukosa/kulit, melekat serta berbiak pada permukaan mukosa saluran nafas bagian atas dan mulai memproduksi toksin yang merembes ke sekeliling serta selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfe dan darah. Toksin ini merupakan suatu protein dengan berat molekul 62.000 dalton, tidak tahan panas/cahaya, mempunyai 2 fragmen yaitu fragmen A (aminoterminal) dan fragmen B (carboxyterminal) yang disatukan dengan ikatan disulfida. Fragmen B diperlukan untuk melekatkan molekul toksin yang teraktifasi pada reseptor sel pejamu yang sensitif. Perlekatan ini mutlak agar fragmen A dapat melakukan penetrasi ke dalam sel. Kedua fragmen ini penting dalam menimbulkan efek toksik pada sel.

Reseptor-reseptor toksin diphtheria pada membran sel terkumpul dalam suatu coated pit dan toksin mengadakan penetrasi dengan cara endositosis. Proses ini memungkinkan toksin mencapai bagian dalam sel. Selanjutnya endosom yang mengalami asidifikasi secara alamiah ini dan mengandung toksin memudahkan toksin untuk melalui membran endosom ke cytosol. Efek toksik pada jaringan tubuh manusia adalah hambatan pembentukan protein dalam sel.

Pembentukan protein dalam sel dimulai dari penggabungan 2 asam amino yang telah diikat 2 transfer RNA yang menempati kedudukan P dan A dari pada ribosome. Bila rangkaian asam amino ini akan ditambah dengan asam amino lain untuk membentuk polipeptida sesuai dengan cetakan biru RNA, diperlukan proses translokasi. Translokasi ini merupakan pindahnya gabungan transfer RNA + dipeptida dari kedudukan A ke kedudukan P. Proses translokasi ini memerlukan enzim translokase (Elongation faktor-2) yang aktif.

Toksin diphtheria mula mula menempel pada membran sel dengan bantuan fragmen B dan selanjutnya fragmen A akan masuk dan mengakibatkan inaktivasi enzim translokase melalui proses :

NAD+ + EF2 (aktif) —toksin—> ADP-ribosil-EF2 (inaktif) + H2 + Nicotinamide ADP-ribosil-EF2 yang inaktif .

Hal ini menyebabkan proses translokasi tidak berjalan sehingga tidak terbentuk rangkaian polipeptida yang diperlukan, dengan akibat sel akan mati. Nekrosis tampak jelas di daerah kolonisasi kuman. Sebagai respons terjadi inflamasi lokal yang bersama-sama dengan jaringan nekrotik membentuk bercak eksudat yang mula-mula mudah dilepas. Produksi toksin semakin banyak, daerah infeksi semakin lebar dan terbentuklah eksudat fibrin. Terbentuklah suatu membran yang melekat erat berwarna kelabu kehitaman, tergantung dari jumlah darah yang terkandung. selain fibrin, membran juga terdiri dari sel-sel radang, eritrosit dan sel-sel epitel. Bila dipaksa melepas membran akan terjadi perdarahan. Selanjutnya membran akan terlepas sendiri dalam periode penyembuhan.

Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder dengan bakteri (misalnya Streptococcus pyogenes). Membran dan jaringan edematous dapat menyumbat jalan nafas. gangguan pernafasan/suffokasi bisa terjadi dengan perluasan penyakit ke dalam laring atau cabang-cabang tracheobronchial. Toksin yang diedarkan dalam tubuh bisa mengakibatkan kerusakan pada setiap organ, terutama jantung, saraf dan ginjal.

Antitoksin diphtheria hanya berpengaruh pada toksin yang bebas atau yang terabsorbsi pada sel, tetapi tidak bila telah terjadi penetrasi ke dalam sel. Setelah toksin terfiksasi dalam sel, terdapat periode laten yang bervariasi sebelum timbulnya manifestasi klinik. Miokardiopati toksik biasanya terjadi dalam 10-14 hari, manifestasi saraf pada umumnya terjadi setelah 3-7 minggu. Kelainan patologi yang menonjol adalah nekrosis toksis dan degenerasi hialin pada bermacam-macam organ dan jaringan. Pada jantung tampak edema, kongesti, infiltrasi sel mononuklear pada serat otot dan sistem konduksi. Bila penderita tetap hidup terjadi regenerasi otot dan fibrosis interstisial. pada saraf tampak neuritis toksik dengan degenerasi lemak pada selaput mielin. Nekrosis hati bisa disertai gejala hipoglikemia, kadang-kadang tampak perdarahan adrenal dan nekrosis tubuler akut pada ginjal.

MANIFESTASI KLINIK
Tergantung pada berbagai faktor, maka manifestasi penyakit ini bisa bervariasi dari tanpa gejala sampai suatu keadaan/penyakit yang hipertoksik serta fatal. Sebagai faktor primer adalah imunitas penderita terhadap toksin diphtheria, virulensi serta toksinogenesitas (kemampuan membentuk toksin) C. diphtheriae, dan lokasi penyakit secara anatomis. Faktor-faktor lain termasuk umur, penyakit sistemik penyerta dan penyakit-penyakit pada daerah nasifaring yang sudah ada sebelumnya. Masa tunas 2-6 hari. Penderita pada umumnya datang untuk berobat setelah beberapa hari menderita keluhan sistemik. Demam jarang melebihi 38,9o C dan keluhan serta gejala lain tergantung pada lokalisasi penyakit diphtheria.

Diphtheria Hidung
Pada permulaan mirip common cold, yaitu pilek ringan tanpa atau disertai gejala sistemik ringan. Sekret hidung berangsur menjadi serosanguinous dan kemudian mukopurulen mengadakan lecet pada nares dan bibir atas. Pada pemeriksaan tampak membran putih pada daerah septum nasi. Absorpsi toksin sangat lambat dan gejala sistemik yang timbul tidak nyata sehingga diagnosis lambat dibuat.

Diphtheria Tonsil-Faring

Gejala anoroksia, malaise, demam ringan, nyeri menelan. dalam 1-2 hari timbul membran yang melekat, berwarna putih-kelabu dapat menutup tonsil dan dinding faring, meluas ke uvula dan palatum molle atau ke distal ke laring dan trachea.

Usaha melepas membran akan mengakibatkan perdarahan. Dapat terjadi lymphadenitis servikalis dan submandibularis bila bersamaan dengan edema jaringan lunak leher yang luas timbul bullneck. Selanjutnya tergantung derajat elaborasi toksin dan luas embran. Bila kasus berat, bisa terjadi kegagalan pernafasan atau sirkulasi. Dapat terjadi paralisis palatum molle baik uni maupun bilateral, disertai kesukaran menelan dan regurgitasi. Stupor, koma, kematian bisa terjadi dalam satu minggu sampai 10 hari. Pada kasus sedang, penyembuhan terjadi secara berangsur-angsur dan bisa disertai penyulit miokarditis atau neuritis. Pada kasus ringan membran terlepas dalam 7-10 hari; biasanya terjadi penyembuhan sempurna.

Diphtheria Laring

Biasanya merupakan perluasan diphtheria faring, pada diphtheria laring primer gejala toksik kurang nyata, tetapi lebih berupa gejala obstruksi saluran nafas atas. Gejala sukar dibedakan dari tipe infectious croup yang lain seperti nafas berbunyi, stridor progresif, suara parau, batuk kering dan pada obstruksi laring yang berat terdapat retraksi suprasternal, subcostal dan supraclavicular. Bila terjadi pelepasan membran yang menutup jalan nafas bisa terjadi kematian mendadak. pada kasus berat, membran meluas ke percabangan tracheobronchial. Dalam hal diphtheria laring sebagai perluasan daripada diphtheria faring, gejala merupakan campuran gejala obstruksi dan toksemia.

Diphtheria Kulit, Vulvovaginal, Konjungtiva, Telinga
Diphtheria kulit berupa tukak di kulit, tepi jelas dan terdapat membran pada dasarnya. Kelainan cenderung menahun. Diphtheria pada mata dengan lesi pada konjungtiva berupa kemerahan, edema dan membran pada konjungtiva palpebra. Pada telinga berupa otitis eksterna dengan sekret purulen dan berbau.

DIAGNOSIS
Harus dibuat atas dasar pemeriksaan klinis oleh karena penundaan pengobatan akan membahayakan jiwa penderita. Penentuan kuman diphtheria dengan sediaan langsung kurang dapat dipercaya. Cara yang lebih akurat adalah dengan identifikasi secara fluorescent antibody technique, namun untuk ini diperlukan seorang ahli. Diagnosis pasti dengan isolasi C, diphtheriae dengan pembiakan pada media Loeffler dilanjutkan dengan tes toksinogenesitas secara vivo (marmut) dan vitro (tes Elek). Cara Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat membantu menegakkan diagnosis difteri dengan cepat, namun pemeriksaan ini mahal dan masih memerlukan penjajagan lebih lanjut untuk penggunaan secara luas.

DIAGNOSIS BANDING

Diphtheria Hidung :
1. Rhinorrhea (common cold, sinusitis, adenoiditis)
2. Benda asing dalam hidung
3. Snuffles (lues congenita).

Diphtheria Faring :

1. Tonsilitis membranosa akuta oleh karena streptokokus (tonsillitis akuta/septic sore throat)
2. Mononucleosis infectiosa
3. Tonsilitis membranosa non bakterial
4. Tonsillitis herpetika primer
5. Moniliasis
6. Blood dyscrasia
7. Pasca tonsilektomi

Diphtheria Laring :
1. Infectious croup yang lain
2. Spasmodic croup
3. Angioneurotic edema pada laring
4. Benda asing dalam laring

Diphtheria Kulit :
1. Impetigo
2. Infeksi o.k. streptokokus/stafilokokus

PENYULIT

1. Obstruksi jalan nafas :
Disebabkan oleh karena tertutup jalan nafas oleh membran diphtheria atau oleh karena edema pada tonsil, faring, daerah sub mandibular dan cervical.

2. Efek toksin.
Penyulit pada jantung berupa miokardioopati toksik bisa terjadi pada minggu ke dua, tetapi bisa lebih dini (minggu pertama) atau lebih lambat (minggu ke enam). Manifestasinya bisa berupa takhikardi, suara jantung redup, bising jantung, atau aritmia. Bisa pula terjadi gagal jantung. Penyulit pada saraf (neuropati) biasanya terjadi lambat, bersifat bilateral, terutama mengenai saraf motorik dan sembuh sempurna. Kelumpuhan pada palatum molle pada minggu ke-3, suara menjadi sengau, terjadi regurgitasi nasal, kesukaran menelan. Paralisis otot mata biasanya pada minggu ke-5, meskipun dapat terjadi antara minggu ke-5 dan ke-7. Paralisa ekstremitas bersifat bilateral dan simetris disertai hilangnya deep tendon reflexes, peningkatan kadar protein dalam liquor cerebrospinalis. Bila terjadi kelumpuhan pada pusat vasomotor dapat terjadi hipotensi dan gagal jantung.

3. Infeksi sekunder dengan bakteri lain :
Setelah penggunaan antibiotika secara luas, penyulit ini sudah sangat jarang.

TATALAKSANA
1. Isolasi dan Karantina :

Penderita diisolasi sampai biakan negatif 3 kali berturut-turut setelah masa akut terlampaui. Kontak penderita diisolasi sampai tindakan-tindakan berikut terlaksana :

a. biakan hidung dan tenggorok
b. seyogyanya dilakukan tes Schick (tes kerentanan terhadap diphtheria)
c. diikuti gejala klinis setiap hari sampai masa tunas terlewati.

Anak yang telah mendapat imunisasi dasar diberikan booster dengan toksoid diphtheria.
Bila kultur (-)/Schick test (-) : bebas isolasi
Bila kultur (+)/Schick test (-) :pengobatan carrier
Bila kultur (+)/Schick test (+)/gejala (-) : anti toksin diphtheria + penisilin
Bila kultur (-)/Shick test (+) : toksoid (imunisasi aktif)

2. Pengobatan :

Tujuan mengobati penderita diphtheria adalah menginaktivasi toksin yang belum terikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal, mengeliminasi C. diphtheriae untuk mencegah penularan serta mengobati infeksi penyerta dan penyulit diphtheria.

2.1. U m u m :

Istirahat mutlak selama kurang lebih 2 minggu, pemberian cairan serta diit yang adekwat. Khusus pada diphtheria laring dijaga agar nafas tetap bebas serta dijaga kelembaban udara dengan menggunakan nebulizer.

Bila tampak kegelisahan, iritabilitas serta gangguan pernafasan yang progresif hal-hal tersebut merupakan indikasi tindakan trakeostomi.

2.2. K h u s u s :

2.2.1. Antitoksin : serum anti diphtheria (ADS)

Antitoksin harus diberikan segera setelah dibuat diagnosis diphtheria.

Sebelumnya harus dilakukan tes kulit atau tes konjungtiva dahulu. Oleh karena pada pemberian ADS terdapat kemungkinan terjadinya reaksi anafilaktik, maka harus tersedia larutan Adrenalin 1 : 1000 dalam semprit.

Tes kulit dilakukan dengan penyuntikan 0,1 ml ADS dalam larutan garam fisiologis 1 : 1000 secara intrakutan. Tes positif bila dalam 20 menit terjadi indurasi > 10 mm.

Tes konjungtiva dilakukan dengan meneteskan 1 tetes larutan serum 1 : 10 dalam garam faali. Pada mata yang lain diteteskan garam faali. Tes positif bila dalam 20 menit tampak gejala konjungtivitis dan lakrimasi.

Bila tes kulit/konjungtiva positif, ADS diberikan dengan cara desensitisasi (Besredka). Bila tes hipersensitivitas tersebut di atas negatif, ADS harus diberikan sekaligus secara tetesan intravena.

Dosis serum anti diphtheria ditentukan secara empiris berdasarkan berat penyakit, tidak tergantung pada berat badan penderita, dan berkisar antara 20.000-120.000 KI.

Dosis ADS di ruang Menular Anak RSUD Dr. Soetomo disesuaikan menurut derajat berat penyakit sebagai berikut :
· 20.000 KI i.m. untuk diphtheria ringan (hidung, kulit, konjungtiva).
· 40.000 KI i.v. untuk diphtheria sedang (pseudomembran terbatas pada tonsil, diphtheria laring).
· 100.000 KI i.v. untuk diphtheria berat (pseudomembran meluas ke luar tonsil, keadaan anak yang toksik; disertai “bullneck”, disertai penyulit akibat efek toksin).

Pemberian ADS secara intravena dilakukan secara tetesan dalam larutan 200 ml dalam waktu kira-kira 4-8 jam. Pengamatan terhadap kemungkinan efek samping obat/reaksi sakal dilakukan selama pemberian antitoksin dan selama 2 jam berikutnya. Demikian pula perlu dimonitor terjadinya reaksi hipersensitivitas lambat (serum sickness).

2.2.2. Antimikrobial

Bukan sebagai pengganti antitoksin, melainkan untuk menghentikan produksi toksin. Penisilin prokain 50.000-100.000 KI/BB/hari selama 7-10 hari, bila alergi bisa diberikan eritromisin 40 mg/kg/hari.

2.2.3. Kortikosteroid

Belum terdapat persamaan pendapat mengenai kegunaan obat ini pada diphtheria. Di Ruang Menular Anak RSUD Dr. Soetomo kortikosteroid diberikan kepada penderita dengan gejala obstruksi saluran nafas bagian atas dan bila terdapat penyulit miokardiopati toksik.

2.2.4. Pengobatan penyulit

Pengobatan terutama ditujukan terhadap menjaga agar hemodinamika penderita tetap baik oleh karena penyulit yang disebabkan oleh toksin pada umumnya reversibel.

2.2.5. Pengobatan Carrier

Carrier adalah mereka yang tidak menunjukkan keluhan, mempunyai reaksi Schick negatif tetapi mengandung basil diphtheria dalam nasofaringnya.
Pengobatan yang dapat diberikan adalah penisilin oral atau suntikan, atau eritromisin selama satu minggu. Mungkin diperlukan tindakan tonsilektomi/adenoidektomi.

3. Pencegahan :

3.1. Umum
Kebersihan dan pengetahuan tentang bahaya penyakit ini bagi anak-anak. Pada umumnya setelah menderita penyakit diphtheria kekebalan penderita terhadap penyakit ini sangat rendah sehingga perlu imunisasi.

3.2. Khusus
Terdiri dari imunisasi DPT dan pengobatan carrier.

IMUNITAS

Test kekebalan :

Schick test : menentukan kerentanan (suseptibilitas) terhadap diphtheria. Test dilakukan dengan menyuntikan toksin diphtheria (dilemahkan) secara intrakutan. Bila tidak terdapat kekebalan antitoksik akan terjadi nekrosis jaringan sehingga test positif.

Moloney test : menentukan sensitivitas terhadap produk kuman diphtheria. Tes dilakukan dengan memberikan 0,1 ml larutan fluid diphtheria toxoid secara suntikan intradermal. Reaksi positif bila dalam 24 jam timbul eritema > 10 mm. Ini berarti bahwa :

- pernah terpapar pada basil diphtheria sebelumnya sehingga terjadi reaksi hipersensitivitas.
- pemberian toksoid diphtheria bisa mengakibatkan timbulnya reaksi yang berbahaya.

Kekebalan pasif : diperoleh secara transplasental dari ibu yang kebal terhadap diphtheria (sampai 6 bulan) dan suntikan antitoksin (sampai 2-3 minggu).
Kekebalan aktif : diperoleh dengan cara menderita sakit atau inapparent infection dan imunisasi dengan toksoid diphtheria.

DAFTAR PUSTAKA

1. Christie AB, ed. Infectious Diseases : Epidemiology and clinical practice. Edinburgh London New York : Churchill Livingstone, 1987; 1183-209.
2. Halsey NA, Smith MHD. Diphtheria. In: Warren KS, Mahmoud AAF, eds. Tropical and Geographical Medicine. International Student Edition. New York : Mc Graw-Hill, 1990, 860-6.
3. Hodes HL. Diphtheria. Ped. Clin.North America 1979; 26 : 445.
4. Wharton M. In : Gershon AA, Hotez PJ, Katz SL, eds. Krugman’s Infectious Diseases of Children. 11th ed St. Louis : The Mosby Co, 2004 : 85-96
5. Long SL. Diphtheria (Corynebacterium diphtheriae) in : Behrman RE, Kliegman RM, Jelson HB, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 16th ed Philadelphia London New York St. Louis Sydney Toronto : WB Saunders, 2000; 817-20
6. McCloskey RV. Corynebacterium diphtheriae (Diphtheria). In : Mandel GL, Douglas RG, Bennett JE, eds. Principles and practice of Infectious Diseases. Churchill Living stone : John Wiley & Sons inc. 1985; 1171-4.
7. Top FH, Wehrle PF, eds. Diphtheria. Communicable and Infectious Disease. St. Louis. The CV Mosby Co. 1976 : 223 – 38.

8 Langkah Mengatur Keuangan Keluarga

sumber : http://q-bonk.com/8-langkah-mengatur-keuangan-keluarga/

Uang bukanlah segalanya, tapi dapat membuat Anda kelimpungan jika Anda tidak mengelola uang Anda dengan baik. Uang bukan segalanya, tetapi miskin akan uang bisa menjadi awal dari sebuah kejahatan.
Banyak orang tidak begitu pusing dengan menajemen keuangan dan percaya bahwa pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi akan menyelesaikan semua masalah keuangan mereka. Kenyatannya tidak demikian. Lalu bagaimana sebaiknya?Jawablah dengan jujur pertanyaan ini;

1. Apakah saat ini anda tidak mempunyai hutang?
2. Apakah Anda memiliki tabungan diatas Rp. 50.000.000,-?
3. Apakah tabungan cukup untuk 10 tahun hidup tanpa bekerja?
4. Apakah anda sudah mempunyai Anggaran Pendapatan dan Belanja Keluarga?

Jika semua pertanyaan diatas jabannya adalah ya, silahkan hentikan membaca artikel ini. Ketika Anda mengelola uang Anda dengan baik maka tagihan dibayar tepat waktu, utang lunas, dan jangka panjang tujuan keuangan terpenuhi. Sebelum Anda mempertimbangkan mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, mengontrol keuangan Anda adalah pekerjaan pertama yang wajib Anda selesaikan.
Delapan Langkah Membuat Anggaran Keuangan
Untuk lebih baik dalam mengelola keuangan Anda harus membuat anggaran pendapatan dan belanja keluarga. Perhatikan baik-baik apa yang Anda lakukan, apa yang Anda habiskan, dan apa yang Anda simpan.

1. Identifikasi prinsip hidup Anda. Apa yang penting bagi Anda? Sebagai contoh, adalah mana yang lebih penting antara gaji yang tinggi dengan kerja lembur versus menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga Anda? Buat daftar tersebut dalam poin-poin sehingga mudah anda pelajari.
2. Tetapkan tujuan keuangan. Tujuan Anda harus mencerminkan nilai-nilai pribadi Anda. Sebagai contoh, jika keamanan finansial adalah prinsip pribadi nomor satu, maka ini akan membuat Anda untuk menyelamatkan tiga bulan biaya hidup daripada membeli sebuah televisi yang besar. Jika memiliki rumah Anda sendiri adalah sebuah nilai, menabung untuk uang muka rumah lebih penting daripada mimpi membeli lemari pakaian.
3. Menuliskan sumber-sumber pendapatan. Bagi kebanyakan orang, ini adalah bulanan atau gaji bulanan. Identifikasi jumlah bulanan. Mungkin ada tambahan lain? Tulis semuanya.
4. Tulis biaya yang anda keluarka. Apakah itu makanan, gas, permen, sewa, atau pembayaran mobil, setiap satu sen yang Anda belanjakan adalah biaya yang harus ditulis.
5. Tinjau kembali hutang Anda. Kumpulkan tagihan semua hutang Anda, hitung berapa total setiap bulannya. Ambil kalkulator, ambil napas dalam-dalam, dan hitung hutang Anda dengan seksama.
6. Buat rencana. Lihat pengeluaran Anda dan coba untuk menentukan cara untuk menghemat uang. Jika Anda memiliki hutang, atur rencana untuk membayar hutang Anda. Buat rencana anggaran yang terperinci berapa banyak uang yang akan Anda habiskan setiap bulan. Jangan lupa untuk menyisihkan uang sebanyak mungkin untuk tabungan.
7. Melacak pengeluaran. Sekarang saatnya untuk hidup di dalam rencana anggaran Anda. Menyimpan notebook, menyimpan kuitansi, atau menggunakan komputer genggam. Catat jumlah setiap kali Anda melakukan pembayaran, menulis cek, atau membeli sesuatu.
8. Evaluasi rencana Anda. Apakah Anda menghabiskan lebih banyak daripada yang Anda telah anggarkan? Jika demikian, bagaimana sikapmu terhadap pengeluaran itu? Jika demikian mengevaluasi kembali rencana Anda.

Ibu Penuh Cinta, Anak Tumbuh Sehat

sumber : http://health.kompas.com/read/2011/09/28/08434695/Ibu.Penuh.Cinta.Anak.Tumbuh.Sehat

Kompas.com – Bukan rahasia jika anak-anak yang berasal dari keluarga
miskin lebih rentan menderita penyakit di usia dewasa. Tidak sedikit
pula literatur yang menyatakan anak-anak dari keluarga dengan status
ekonomi rendah lebih sering menderita penyakit flu dan jantung.

Anak yang berasal dari orangtua yang berpendidikan rendah juga lebih
beresiko menderita sindom metabolik, kumpulan gejala penyakit kronik,
seperti hipertensi, gula darah tinggi, serta lemak perut.

Kendati begitu, dampak dari keterbatasan ekonomi bagi kesehatan itu bisa
ditangkal jika anak-anak tersebut memiliki ibu yang mengasuh penuh
perhatian.

Dalam studi yang dilakukan tim dari Universitas British Columbia,
psikolog Gregory Miller menganalisa data 1.200 orang dewasa yang pada
masa kecilnya berasal dari keluarga miskin. Para peneliti kemudian
melakukan survei pada responden untuk mengetahui kadar perhatian ibu mereka.

Para peneliti menemukan, meski dari keluarga miskin namun anak-anak yang
diasuh oleh ibu yang memberi perhatian penuh pada kebutuhan emosional
anak dan memiliki ikatan yang kuat dengan anaknya, akan tumbuh menjadi
anak yang sehat.

Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science,
para peneliti menyebutkan stres yang dialami anak berpengaruh pada
tumbuh kembangnya dan secara permanen mempengaruhi kemampuan tubuh anak
melawan infeksi.

Karena itu ibu yang penuh perhatian dan mengasuh anaknya dengan baik
akan meningkatkan kesehatan anak di masa depan. “Risiko penyakit yang
dihadapi anak-anak dari keluarga miskin itu bisa dikurangi jika
orangtuanya memberi perhatian pada tumbuh kembang anak,” kata Miller.

Miller menyarankan, untuk menumbuhkan anak yang sehat, orangtua dan guru
di sekolah harus bisa mengajarkan cara pengendalian stres, memberikan
contoh yang baik dalam mengelola emosi dan memberikan rasa aman pada anak.

Asupan Zinc Berlebih Memicu Epilepsi

http://health.kompas.com/read/2011/09/24/11161241/Asupan.Zinc.Berlebih.Memicu.Epilepsi

KOMPAS.com – Zinc (seng) adalah mineral penting yang terdapat pada
hampir setiap sel. Riset terbaru menunjukkan seng memainkan peran kunci
dalam meningkatakan memori seseorang. Tetapi harus diingat pula, asupan
zinc yang berlebih justru dapat memicu serangan epilepsi.

Temuan ini dipublikasikan dalam Journal Neuron. Peneliti berkesimpulan,
seng berperan penting dalam membentuk komunikasi antara neuron-neuron di
bagian otak besar (hippocampus), yang merupakan pusat memori dan
pembelajaran.

“Kami menemukan bahwa seng penting untuk mengontrol efisiensi antara dua
populasi sel saraf di hippocampus, kata peneliti utama Dr James
McNamara, dari Duke University Medical Center, North Carolina, AS.

Penelitian ini berdasarkan hasil uji coba pada tikus, dimana para
ilmuwan menggunakan bahan kimia pengikat seng. Tanpa adanya mineral,
komunikasi antara neuron pada otak tikus mengalami kerusakan. Meski
begitu, McNamara mengakui masih sedikit temuan yang menunjukkan adanya
hubungan antara konsumsi zinc dengan peningkatan memori.

Disamping itu, McNamara juga memperingatkan agar masyarakat tetap
berhati-hati khususnya dalam mengonsumsi suplemen yang mengandung zinc.
“Diperlukan kehati-hatian dalam mengonsumsi zinc karena selain penting
untuk memori, asupan zinc yang berlebih juga dapat mengembangkan
serangan epilepsi,”katanya.

Zinc dapat ditemukan di berbagai macam makanan seperti biji-bijian,
kacang-kacangan, beberapa makanan laut tertentu, padi-padian dan gandum,
sereal dan produk susu. Namun, kandungan zinc paling banyak dapat
ditemukan pada tiram.

10 Salah Asuh

sumber : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Terbaru/Terbaru/10.salah.asuh/001/007/1101/3

Bukan cuma anak yang bisa salah. Orang tua pun bisa salah. Coba cek, apakah Anda pernah melakukan kesalahan terhadap anak saat mengasuhnya.

1. Tidak peduli kebutuhan dasar anak. Mungkin Anda mengira apa yang sudah Anda berikan kepada anak adalah yang terbaik. Sekolah mahal, mainan banyak dan selalu baru, memberinya les musik, menari, melukis. Tapi, waktu Anda untuk bertemu anak dan memanfaatkan waktu bersamanya hanya dua kali dalam enam bulan. Betulkah itu kebutuhan anak? Berikan diri Anda sebagai kebutuhan dasar anak. Berikan waktu Anda, curahkan perhatian Anda, dengarkan kisah-kisahnya yang lugu, lucu dan ajaib.
2. Perlakukan anak seperti orang dewasa. Banyak tuntutan tak masuk akal terhadap anak. Makan tak boleh berceceran, pakai baju harus match tanpa diajari, tidak boleh salah, harus cepat mengambil keputusan dan lain-lain. Anda menjadikan diri Anda sebagai standar. Tuntut anak sesuai dengan milestone atau tahap perkembangannya. Pahami tahap perkembangannya, ikuti iramanya. Pahami jalan pikirannya. Logika anak-anak jauh dari sempurna. Otaknya masih tumbuh, demikian pun fisiknya.
3. Dilayani habis-habisan. Mengambil buku di kamar, mengambil sepatu di rak sepatu atau mengambil minum di dapur harus Anda atau pengasuhnya yang mengambilkan. Ia diperlakukan sebagai bayi yang belum mampu melakukan apapun. Berikan kesempatan pada anak untuk melakukan sesuatu yang seharusnya sudah bisa ia lakukan. Bila perlu, sedikan tempat yang mudah ia gapai untuk mempermudah apapun yang ia butuhkan. Misalnya meja kecil untuk meletakkan gelasnya. Merasa diri mampu melakukan segala sesuatu sendiri, akan meningkatkan harga diri anak.
4. Tidak pernah berkata ‘tidak’. Kata “YA” selalu keluar dari mulut Anda. Bukan hanya pada sebuah pernyataan anak seperti “Gambar aku bagus, bunda?” Tapi juga untuk semua permintaannya. Ketika Anda pelit mengatakan ‘TIDAK,’ Anda tak peduli pada anak. Anda hanya peduli pada diri Anda, tak mau repot-repot konflik dengan anak. Anda tak mau berpikir, mengapa Anda mengatakan ‘tidak.’ Gunakan kata ‘YA’ dan ‘TIDAK’ secara adil. Pikirkan sebelum mengatakan ‘YA’ atau ‘TIDAK’ karena anak harus tahu mengapa dia mendapatkan jawaban itu. Terutama untuk bereksplorasi, dua kata ini sangat penting.
5. Bicara dengan bahasa yang kacau. Tidak ada standar bahasa yang jelas. Anda sesekali berkata ‘utu’ untuk ‘lucu’, ‘acih’ untuk ‘terima kasih’ atau ‘pepe’ untuk sebutan vagina. Terdengar lucu saat mengucapkan kata-kata itu, tapi jelas-jelas membingungkan anak. Bicara sesuai dengan kaidah bahasa. Ucapkan kata-kata dengan benar, tak perlu mengikuti anak bicara dengan ucapan cadel. Dia memang belum fasih bicara karena perkembangan bicaranya juga belum sempurna. Si kecil butuh role model untuk mengenal dan meniru. Jangan ragu untuk mengenalkan banyak kata kepada anak, bisa melalui lagu, buku atau film.
6. Tidak ada disiplin. Meletakkan tas sekolah di kolong meja, meletakkan sepatu di kursi tamu, ada sendok di rak buku. Menyedihkan sekali kondisi rumah si kecil. Sama seperti di jalan raya yang punya aturan, di rumah pun harus ada aturan karena aturan dibuah demi keamanan dan kenyamanan bersama. Ajarkan disiplin pada anak sejak dini. Buat daftar apa saja yang harus dipatuhi oleh semua penghuni rumah, agar semua anggota keluarga bersikap konsisten menjalaninya. Khusus untuk anak, Anda bisa membantu mengingatkannya bahwa sepatu tempatnya bukan di sofa, tas sekolah bukan di kolong meja tempatnya.
7. Tidak dituntut untuk menghormati orang tua. Demi menjaga keakraban dengan anak atau dianggap sebagai teman yang menyenangkan, Anda berperilaku seperti teman sebayanya. Atau Anda malah membiarkan si kecil memanggil Anda dengan sebutan nama atau dengan ucapkan “eh”. Tak ada batasan antara pemegang otoritas dan yang harus mematuhinya. Berlakukan konsep menghormati orang tua, apalagi Anda hidup dengan budaya timur. Mengucapkan salam saat bertemu orang lain, membungkuk ketika berjalan di depan orang yang lebih tua, sudah menjadi tata karma yang harus diikuti oleh anak.
8. Memberi hadiah berlebihan. Karena tak punya waktu untuk anak, Anda menggantikan kehadiran Anda dengan hadiah. Saat Anda sedang berjuang untuk mendorong anak melakukan yang terbaik, Anda juga memberikan hadiah yang berlebihan atau tidak seharusnya ia dapatkan. Misalnya Anda memberikan hadiah sepeda karena anak berhasil membereskan tempat tidurnya. Berikan penghargaan atau hadiah sesuai dengan usaha yang anak lakukan. Hadiah tak harus berupa benda. Ucapan atau pujian seperti “Kamu hebat” atau “Kamu pintar” dapat Anda gunakan. Fungsi hadiah sebenarnya adalah menghargai apa yang sudah dilakukan oleh anak.
9. Dibiarkan jauh dari Anda. Anda sudah ajarkan pada anak tentang siapa nama orang tuanya, tempat tinggalnya, nomor telepon Anda, atau harus menghubungi satpam bila kehilangan Anda. Tapi, bukan berarti Anda memberikan kepercayaan penuh pada anak untuk berada jauh dari jangkauan Anda. Usahakan anak selalu berada dalam pengawasan mata Anda saat berada di tempat umum. Selain Anda tidak mengetahui bahaya apa yang akan mengancam dari lingkungan, hati-hati juga dengan kemampuan logika atau berpikir anak. Kasus anak terjepit eskalator atau jatuh dari lantai atas tidak sedikit, bukan?
10. Tidak mengijinkan anak menjadi anak. Memaksakan selera atau mimpi Anda kepada anak, dilakukan para orang tua dari generasi ke generasi. Segala hal harus sesuai dengan kehendak Anda, jika tidak mau maka teror pun Anda lakukan. Misalnya menurut Anda pakaian t-shirt dengan rok jeans yang warnanya senada itu pakaian yang paling bagus untuk anak. Sedangkan menurut anak rok kotak-kotak berwarna merah dengan t-shirt kuning garis-garis sudah sangat keren. Dengarkan pendapat anak. Ia memang masih kecil, tapi tidak berarti suaranya tidak didengar oleh Anda atau orang dewasa . Saat Anda mau mendengarkan pendapatnya, ini juga menjadi cara untuk ajarkan anak belajar mendengarkan orang lain.

Roseola

sumber : Mayo Clinic

Tinjauan
Roseola adalah penyakit yang disebabkan oleh virus jinak yg
menjangkiti bayi dan anak2 kecil. Roseola ini menyebabkan suhu badan
yg meningkat selama beberapa hari, yang kemudian akan timbul bintik2
merah di tubuh.Dua tipe virus herpes menyebabkan roseola yang biasanya
menyerang anak-anak yg berumur antara 6 bulan hingga 3 tahun, walaupun terkadang menyerang dewasa juga. Hal ini sangatlah wajar, dan pada kenyataannya sebagian besar anak-anak pasti pernah terinfeksi virus
ini pada saat mereka memasuki usia sekolah.Ada sebagian anak yg
mengalami roseola ringan (tanpa adanya gejala penyakit), sementara
sebagian lainnya menunjukkan gejala dan tanda2 adanya roseola ini.
Infeksi dapat terjadi pada saat kapanpun.Roseola bukanlah penyakit
berat. Jarang sekali terjadi komplikasi jika tubuh mencapai suhu yang
tinggi. Penanganannya cukup dengan intirahat,cairan, dan
obat-obatanTanda- tanda dan Gejala
Biasanya tanda dan gejala terinfeksi akan timbul 1 atau 2 minggu
setelah anak Anda mengalami roseola dan terinfeksi virus – jika memang
tanda dan gejala muncul (tidak selalu muncul).

Berikut gejala2 roseola:
Demam. Roseola biasanya diawali dengan demam, sering hingga 103
derajat farenheit/ 39 derajat Celcius. Selain itu,biasanya anak juga
mengalami tenggorokan kering dan idung meler (pada saat atau sebelum
mengalami demam). Selain itu amandel membengkak juga mungkindialami
bersamaan saat demam. Demam berlangsung selama 3 – 7 hari. Bercak
merah di tubuh (Rash). Setelah demam mereda, akan timbul bercak merah
di tubuh (walaupun tidak selalu). Rash ini berbentuk bintik-bintik
atau bercak merah muda yang rata (flat) atau timbul(raised) . Bercak
tersebut kadang dikelilingi oleh garis putih. Bercak akan timbul
pertama kali di pundak, punggung dan perut, lalu menyebar ke leher dan
lengan. Bercak2 ini tidak harus sampai ke kaki dan muka. Bercak ini
tidak menyebabkan gatal dan tidak mengganggu penderita, dan akan
hilang dalam waktu beberapa jam hingga beberapa hari.
Gejala-gejala roseola lainnya:Kelelahan, Rewel, Diare ringan, Nafsu
makan menurun, Kelopak mata bengkak

Penyebab
Penyebab roseola yang paling sering adalah virus herpes tipe 6
(HHV6)atau HHV7. Virus-virus herpes tersebut berhubungan tetapi
berbeda dengan virus herpes yang menyebabkan tenggorokan kering dan
herpes genital. Seperti penyakit lainnya yg juga diakibatkan oleh
virus, contohnya flu, roseola menular melalui air ludah. Contoh, seorang anak yg sehat dapattertular jika menggunakan gelas minum,yang sama dengan anak yg sedang mengalami Roseola, anak yg sehat tersebut dapat tertular.Roseola mudah menular walaupun pada tubuh penderita tidak timbul bercak. Ini artinya, seorang anak yg sedang demam namun belum kelihatan roseola tetap berpotensi untuk menularkan penyakit ini kepada anak lain.Untuk itu, berjaga-jagalah dari kemungkinan anak anda mengalami roseola jika dia berinteraksi dengan anak alinnya yg memiliki penyakit tersebut karena proses penularan penyakit ini kadang tidak jelas.Tidak seperti cacar air (chickenpox) atau penyakit virus lainnya yg cepat menyebar, penyakit roseola jarang menyebar sedemikian cepatnya.

Faktor-faktor Resiko Bayi yang sudah lebih besar (biasanya antara 6 – 12 bulan) paling mudah untuk terkena roseola karena mereka belum
memiliki antibody untuk melawan berbagai jenis virus. Pada saat masih
di dalam kandungan, bayi-bayi mendapat antibody dari ibunya yg akan
melindungi mereka dari paparan infeksi saat dilahirkan. Namun begitu,
sejalan dengan waktu, kekebalan tersebut akan menghilang.Kapan perlu
mengunjungi dokter.

Roseola menyebabkan demam hingga 39 derajat Celsius (103 F) atau lebih. Biasanya DSA memerlukan pengecekan fisik anak untuk menghindari kemungkinan adanya penyakit lain yg lebih serius dari roseola.

Anak anda dapat mengalami kejang demam (febrile seizure) jika dia mengalami demam yg terlalu tinggi, atau kenaikan suhu badan yang terlalu cepat (menyebabkan kita tidak sempat melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk menghindari kejang). Jika anak anda mengalami kejang yg tidak diketahui penyebabnya, segera hubungi dokter. Jika anak anda
terjangkit roseola dan demam lebih dari 7 hari, atau jika bercak tubuh
tidak menghilang setelah 3 hari, hubungi dsa anak anda. Apabila
stamina tubuh sedang melemah dan ternyata anda melakukan kontak dengan sesorang yg sedang mengidap roseola, hubungi dokter anda untuk
berjaga-jaga dari kemungkinan anda tertular roseola tersebut, yang
bisa jadi lebih parah dibanding jika seorang anak mengalaminya.

Penyakit Roseola

sumber :http://sehat-enak.blogspot.com/2010/12/penyakit-roseola.html

DEFINISI
Penyakit Roseola merupakan infeksi ringan yang umumnya menyerang anak-anak usia 2 tahun. Walaupun kadang-kadang menyerang orang dewasa.

Sangat umum bahwa kebanyakan anak-anak terinfeksi roseola saat mereka masuk taman kanak-kanak. Dua strain virus herpes menyebabkan roseola. Hanya beberapa anak saja yang menunjukkan gejala ayng serius mengenai roseola, sisanya hanya menunjukkan beberapa gejala ringan. Karena demam ini tidak tergolong serius, perawatan dirumah saja mampu menghilangkannya.

PENYEBAB
Roseola biasanya ditimbulkan oleh banyak macam virus herpes. Seperti flu, penyakit ini juga menular lewat kontak antar manusia. Biasanya anak yang terkena roseola akan menunjukkan bintik-bintik merah di tubuhnya, namun bukan berarti anak yang tidak menunjukkan bintik merah tidak terinfeksi, karena ada juga anak yang hanya menunjukkan gejala demam.

GEJALA
Jika anak Anda melakukan kontak pada seseorang dengan roseola dan terinfeksi virus, biasanya akan memakan waktu satu atau dua minggu tanda-tanda dan gejala infeksi muncul. Gejalanya seperti:

1. Demam
2. Timbul bintik-bintik atau memar-memar merah di kulit.

Dan gejala lain yang menunjukkan kurang sehat pada anak seperti mata bengkak, atau lemas.

PERAWATAN DAN PENCEGAHAN
Kebanyakan anak sembuh dari roseola dalam waktu seminggu dari awal demam. Biasanya dokter akan memberikan obat-obat seperti acetaminophen (Tylenol, others) atau ibuprofen (Advil, Motrin,others).

Sedangkan tindakan pencegahan yang dapat dilakukan mislanya janga bisarkan dulu anak Anda keluar rumah sampai sembuh. Itu akan meminimalkan penyebaran virus. Bila di rumah banyak orang dewasa yang mengadakan kontak dengannya biasakan cuci tangan sesudahnya karena itu sangat berpotensi menularkan virus.

BILA ANAK TERKENA CAMPAK

Hati-hati bila anak demam dibarengi munculnya bercak merah di
sekitar tubuh. Jangan dianggap enteng, Bu.

Hari itu, di rumah keluarga Ibu Niken terjadi kepanikan. Pasalnya,
kulit Nandia (13 bulan) berbercak merah, bahkan seperti
menghitam. “Memang, beberapa hari ini dia panas tinggi. Tapi, saya
pikir dia demam biasa saja,” ujar Ibu Niken dengan rasa bersalah.

Ternyata, dari pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa Nandia terkena
campak. “Hal itu bisa saja terjadi. Memang adakalanya penyakit campak
tak terlihat karena campaknya belum keluar,” ujar DR.Sri Rezeki H.
Hadinegoro, Dr. Sp.A(K), dari RSUPN Cipto Mangunkusumo.

Apa yang dialami Ibu Niken kerap juga dialami ibu-ibu lain. Mari kita
mengenal campak lebih jauh, agar tak langsung panik saat
menghadapinya.

PNYEBABNYA ADALAH VIRUS

Penyakit campak/measles disebabkan oleh virus Morbili. Pada tahun 60-
an, di Amerika campak merupakan penyakit yang mengakibatkan kematian
400 balita setiap tahunnya. Gejala campak memang agak sulit dideteksi
secara dini. Karena, gejala campak, seperti batuk, pilek, dan demam,
menurut Sri, hampir sama dengan penyakit flu biasa. “Padahal, campak
merupakan penyakit infeksi yang berbahaya.” Bahkan, gejala munculnya
bercak merah di kulit pun hampir mirip dengan karena keracunan obat
atau alergi karena dingin.

Gejala awal penyakit campak ini dimulai dengan adanya batuk-batuk.
Lalu, 1-2 hari kemudian timbul demam yang tinggi dan turun naik
berkisar antara 38-40 derajat, selama lima hari. Biasanya dibarengi
dengan mata merah dan seperti berair.

Pada saat itu pula, biasanya muncul bintik putih seperti Koplik spot
di sebelah dalam mulut. Dan ini biasanya akan bertahan 3-4 hari.
Kadang-kadang juga disertai dengan munculnya diare. Memasuki hari
kelima demamnya akan tinggi sekali. “Pada waktu itulah, bercak merah
mulai keluar.”

Bercak merah campak berbeda dengan bercak biang keringat, misalnya.
Karena, biang keringat tidak dibarengi dengan demam. Bercak-bercak
merah ini muncul secara bertahap dan merambat. Lokasi “khusus” ini
biasanya muncul pertama kali di belakang kuping, leher, dada ke
bawah, tangan, kaki lalu ke muka.

Jadi, terang Sri, bercak-bercak merah ini tak sekaligus muncul ke
seluruh tubuh. Perlu waktu, biasanya seminggu barulah memenuhi
seluruh tubuh. Tetapi, jika daya tahan tubuh anak cukup bagus bercak
merahnya tak terlalu menyebar atau tak terlalu penuh. Umumnya jika
bercak merah ini sudah keluar, demamnya akan turun dengan sendirinya.
Usai itu, kulit kemudian menjadi hitam bersisik, kira-kira selama 2
minggu. Timbul warna kehitaman itu merupakan periode penyembuhan.
Lama-lama tanda hitam itu akan rontok, hilang atau sembuh dengan
sendirinya.

Yang jelas, bercak-bercak merah ini menimbulkan gatal luar biasa.
Yang dikhawatirkan, kata Sri, timbul infeksi karena anak menggaruk
dengan tangan yang tidak bersih. Infeksi ini muncul seperti bisul-
bisul kecil bernanah. Ditambah lagi kebiasaan yang tidak benar dari
para ibu ini, yang tidak memandikan anak yang sedang terkena
campak. “Padahal anak yang campak, bila panasnya sudah turun tetap
harus dimandikan,” tandas Sri. Minimal, dilap handuk basah untuk
membersihkan keringatnya. Dan, usahakan untuk menggunakan sabun bayi
yang tak terlalu merangsang kulit atau yang tak terlalu keras.
Gosoklah seluruh bagian tubuhnya seperti biasa, asal tidak terlalu
keras. Justru, bila anak tak dimandikan, anak akan berkeringat dan
tentu rasanya lebih gatal lagi. “Dengan mandi anak akan merasa
nyaman. Nah, untuk mengurangi rasa gatalnya, sehabis mandi bisa
dibedaki dengan salycyl talc,” papar Sri.

KOMPLIKASI

“Yang terang, disebut campak apabila demam itu berlanjut dengan
timbulnya bercak-bercak merah. Kita sering salah kaprah, bila anak
demam tinggi dan tidak mengeluarkan bercak-bercak merah, menandakan
bahwa campaknya tidak keluar. “Tanpa bercak merah, kendati demamnya
tinggi, namanya bukan campak.”

Anak yang terkena campak ini tergolong sakit berat. Paling tidak
menghabiskan waktu sakit selama tiga minggu. Dan campak ini juga
dikategorikan atas ringan dan berat. Disebut ringan, kata Sri,
apabila setelah keluar campak, demamnya akan turun. “Sedangkan campak
yang berat bila sampai ada komplikasinya. Komplikasi itu bisa terjadi
disepanjang berlangsung penyakitnya,” jelas Sri. Komplikasi terberat
bisa sampai menimbulkan kematian. Radang paru (pneumonia) merupakan
komplikasi yang paling sering mengakibatkan kematian pada anak.

Komplikasi ini bisa terjadi karena virus Morbilli bisa menyebar
melalui aliran darah ke mana-mana. Selain ke kulit, ke selaput lendir
hidung, mulut, pencernaan. Bahkan bila virus itu masuk ke daerah otak
bisa menimbulkan kejang-kejang, kesadaran menurun/ensefalopati.

Bila ke daerah pencernaan bisa menimbulkan diare atau muntah-muntah
sehingga anak kekurangan cairan atau dehidrasi. Selain itu karena ada
sariawan juga membuatnya perih dan tak mau makan. “Umumnya campak
yang berat ini terjadi pada anak yang gizinya buruk,” ujar Sri.

Perlu diketahui, campak ditularkan lewat udara yang terhisap melalui
hidung atau mulut. Karena penularannya terjadi langsung, penyakit
campak menular begitu cepat. Penularan sudah berlangsung 1-2 hari
sebelum keluarnya bercak-bercak merah. Karena itu, anak yang campak
harus diisolasi agar tidak menularkan pada anak yang lain. Ia pun
perlu mendapat istirahat yang cukup. Kemudian, makan bergizi.

PENANGANAN CAMPAK

Anak yang diduga terkena campak harus dipastikan dulu apakah betul-
betul campak atau bukan. Bila diagnosis sudah ditegakkan, dan tak ada
komplikasi, anak cukup dirawat di rumah. “Tetapi, bila sampai terjadi
komplikasi harus dirawat di rumah sakit.”

Yang terang, bila campak tak diobati akan berbahaya karena dampaknya
yang bisa bermacam-macam tadi. Anak pun akan rewel, sulit minum, tak
bisa tidur, bisa kejang, kekurangan cairan, sesak nafas dan
sebagainya. “Jadi jangan punya anggapan bahwa campak didiamkanpun tak
apa-apa. Karena ini termasuk penyakit berat,” tandas Sri.

Dan, pengobatan campak dilakukan untuk mengobati gejalanya. Hal ini
disebabkan karena penyebab campak adalah virus. “Jadi, bukan
mematikan virusnya. Karena begitu gejala penyakitnya timbul virusnya
sendiri sudah tak ada,” jelas Sri. Jadi, anak akan diberi obat
penurun panas untuk demam, obat sariawan untuk sariawan (bila ada),
dan obat diare untuk mengatasi diarenya. Dan obat batuk untuk
mengobati batuknya. Lalu disiapkan pula obat anti kejang bila anak
punya bakat kejang.

Sebaiknya anak berpantang makanan yang merangsang batuk, seperti
goreng-gorengan, permen dan coklat. Selain itu, berilah anak makanan
yang mudah dicerna.

Umumnya bila anak terkena campak akan rentan sehingga mudah sekali
terkena penyakit lain. Misalnya bila di sekitarnya ada yang flu,
radang tenggorokan atau bahkan TBC, maka diapun bisa terkena.
Biasanya masa rentan ini berlangsung sebulan setelah sembuh.

IMUNISASI

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya timbulnya campak
pada anak?

Untuk diketahui, semua penyakit virus itu bersifat endemis. Artinya
penyakit itu tidak mengenal musim, karena bisa muncul sepanjang
tahun. Karena itu, pencegahan dilakukan hanya dengan imunisasi
campak. “Imunisasi pertama dilakukan pada usia antara 6-9 bulan. Lalu
diulang pada usia 5-6 tahun atau ketika sekolah TK atau SD kelas
satu.”

Vaksin campak ini tergolong ringan sekali, tak ada efeknya. Cuma
biasanya setelah satu minggu, badan agak hangat dan adakalanya
diare. “Tapi, vaksin ini lebih ringan daripada vaksin DPT.”

Karena umumnya campak banyak menyerang anak usia balita, itulah
mengapa imunisasi diberikan di bawah usia setahun. Karena itu bila
dalam satu keluarga, misalnya kakaknya yang usia TK terkena campak,
lalu ada adiknya yang masih bayi, orang tua harus ekstra hati-
hati. “Jika adiknya belum diimunisasi akan berbahaya sekali.
Sebaiknya kakak atau adiknya dipisahkan dari rumah, misalnya
dititipkan atau tinggal sementara di rumah nenek atau saudara
lainnya,” saran Sri.

Kemudian, lakukan pemantauan terhadap si adik selama kurang lebih
tiga minggu, apakah tertular atau tidak. Bila adiknya tak terkena
dalam waktu itu, segera berikan imunisasi. “Tapi, bila yang terjadi
dalam waktu 3 minggu itu adiknya terkena campak, tak perlu
diimunisasi tapi harus diobati.” Hal ini disebabkan, lanjut Sri,
vaksin imunisasi merupakan virus yang hidup tapi dilemahkan. Jadi,
kalau sudah tertular virus dalam badannya maka jangan diberikan lagi.

Anak yang sudah mendapatkan imunisasi diharapkan tak terkena campak.
Karena sudah ada imunnya. Kalau toh terkena tak akan sampai berat.
Perlu diingat, “Seorang anak akan terkena campak sekali seumur hidup.
Kalau dikatakan sampai 2-3 kali terkena campak, itu salah, berarti
diagnosisnya tak betul,” kata Sri.

Dan bila masa kecilnya tak terkena campak bisa saja terkena di usia
setelah besar. Kecuali bila daya tahan tubuhnya kuat, ada kemungkinan
tidak terkena.

Meningkatkan Kemampuan Mengeja Kata

Sumber : http://milissehat.web.id/?p=1792

Beberapa anak mengalami masalah yang cukup pelik dalam hal kemampuan mengeja. Ada beberapa cara yang dapat anda gunakan, dengan hanya menggunakan bahan yang berada di sekitar anda, yang dapat membantu kenikmatan dan ketertarikan anak anda terhadap membaca dan menulis.
Anda dapat membantu anak anda dengan tips-tips di bawah ini:
• Melalui magnet dengan karakter huruf yang biasa di tempelkan pada lemari es, atau dengan karpet lantai dengan karakter huruf, dan lakukanlah permainan kata. Buatlah sebuah kata, dan ambil beberapa huruf dari kata tersebut. Dan mintalah anak anda untuk meletakan huruf tersebut pada tempat yang tepat.
• Bermain dengan menggunakan sejumlah kata, dalam bentuk daftar. Mintalah anak anda untuk menyusun kata tersebut berdasarkan huruf pertama dari setiap kata (misalnya: Cat, Fat, Hat, Mat, dan Sat). Atau anda dapat meminta anak anda untuk menyusun, berdasarkan huruf kedua dari setiap kata (misalnya: bag, beg, big, bog, bug).
• Selain itu, permainan menemukan kata, dapat di pertimbangkan. Berikan anak anda majalah atau Koran, mintalah mereka untuk ditandai atau lingkari setiap kata yang berakhiran –ed, atau kata yang diawali dengan huruf “p”. Berikan permainan yang lebih sulit lagi, tentu saja di dasarkan pada kemampuan anak anda.
• Gambarlah atau gunting gambar dari koran atau majalah secara berpasangan, dimana perbedaan nama benda tersebut hanya 1 huruf (misalnya: pen dan pin). Hal ini bertujuan agar anak dapat membedakan bunyi vokal dari setiap kata yang di ucapkan (a, i, u, e, o).
• Berikan cermin kepada anak anda, sehingga mereka dapat melihat gerakan mulut mereka ketika mereka mengucapkan setiap kata, sehingga ketika mereka menulis kata-kata tersebut mereka dapat membedakan berdasarkan cara mengucapkan, seperti huruf m dan w, p dan g.
• Berikan permaninan yang bertujuan agar anak anda dapat melihat adanya perbedaan antara dua kata yang hampir sama, seperti tap dan tape, hop dan hope, kata yang huruf terakhir dari kata itu, berperan dalam cara mengucapkan seluruh kata tersebut.
• Ajaklah anak anda untuk bermain menyusun huruf, membentuk kata yang lain (anagram), selain nama mereka, atau kata yang lain yang mereka tahu.

KAPAN HARUS MENGHUBUNGI DOKTER

sumber : Milis Sehat

DEMAM:

Pada umumnya, demam tidak membahayakan, namun demikian, ada beberapa kondisi
dimana orang tua harus waspada. Pada bayi misalnya, semakin muda usianya,
orang tua harus harus semakin waspada. Tengok patokan umum di bawah ini;
pada bayi yang lebih tua (usia 6 bulan atau lebih), kita baru menghubungi
dokter bila suhunya mendekati 40°C. Pada bayi yang lebih muda, dianjurkan
untuk menghubungi dokter bila suhunya 38°C atau lebih.

. Bila bayi berusia 6 bulan, dengan suhu tubuh ³ 40°C

Selain tingginya suhu tubuh, dokter juga perlu dihubungi pada beberapa

kondisi berikut ini:
- Apabila kondisi anak memburuk
- Demam sudah berlangsung 72 jam
- Susah minum atau tidak mau minum atau sudah mengalami dehidrasi
- Rewel atau menangis terus menerus, tidak dapat ditenangkan
- Tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan (lethargic)
- Kejang atau kaku kuduk leher
- Sakit kepala hebat yang menetap
- Sesak napas
- Muntah, diare terus-menerus

SELESMA:
- Demam lebih dari 72 jam
- Batuk lebih dari satu minggu; atau batuk hebat dengan muntah-muntah.
- Rewel dan letargi
- Sesak napas atau tampak kebiruian sekitar bibir dan mulut
- Jarang buang air kecil (lihat dehidrasi) atau tidak mau minum
- Dahak ada darahnya
- “Ingus” hijau kental lebih dari 2 minggu

BATUK:
- Mengalami kesulitan bernapas atau bernapas dengan sekuat tenaga (otot-otot
pernapasan tambahan ikut dikerahkan sehingga tampak otot-otot di sela-sela
iga tertarik ke dalam, otot di atas belikat juga tertarik ke dalam, napas
cuping hidung);
- Kebiruan di bibir, lidah atau wajah;
- Demam tinggi terutama bila tidak ada batuk pilek; sedangkan pada bayi
berusia kurang dari 3 bulan, dokter harus tetap dihubungi (tanpa memandang
tingginya demam);
- Bayi berusia < 3 bulan yang terbatuk-batuk selama beberapa jam;
- Bila terdengar suara whooping saat bernapas sesudah terbatuk;
- Bila batuk ada darahnya (kecuali bila anak baru saja mengalami mimisan,

maka biasanya darah di batuknya tidak perlu dikhawatirkan);

DIARE:
- Popoknya tidak basah selama 8 jam, serta tanda-tanda dehidrasi yang sudah
dikemukakan di atas.
- Demam tinggi.
- Tinjanya berdarah.
- Mengantuk luar biasa, lemas, sulit dibangunkan.
- Bila anaknya mengalami diare kronis.

INFEKSI TELINGA:
Bawa anak ke dokter bila anda mencurigai adanya otitis media. Namun harap
diingat, dokter tidak otomatis akan memberikan antibiotika setiap kali
telinga anak terlihat merah.
- Bayi dan anak kecil berisiko untuk kerap terkena infeksi telinga
- Otitis media tidak selalu harus diobati dengan antibiotika
- Untuk beberapa lama (sampai dengan 3 bulan) sesudah otitis media, akan
terdapat cairan di rongga telinga tengah. Ini merupakan kondisi yang normal
dan tidak membutuhkan pengobatan apapun.

MUNTAH:
Muntah yang tidak disertai dengan gejala lain dan tidak berulang, biasanya
bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Bawa segera anak ke rumah sakit bila:
- Muntah kehijauan.
- Sakit perut selama 6 jam.
- Bintik-bintik merah muda/keunguan yang tidak hilang saat ditekan.

Hubungi dokter bila anak menunjukkan gejala berikut:
- Bayi muntah-muntah selama 6 jam terakhir atau anak selama 12 jam
- Apabila bayi menunjukkan gejala dehidrasi (ubun-ubun besar cekung (bayi),
matanya cekung, bibir kering; buang air kecil sedikit dan berwarna lebih tua
dari biasanya; elastisitas kulit menurun.
- Tidak mau minum.
- Mengantuk luar biasa dan rewel.

KONDISI GAWAT DARURAT: KENALILAH

* Mengantuk luar biasa (drowsiness). Kesadaran agak menurun, kontak mata berkurang. Berbagai rangsangan (termasuk rangsangan
suara) tidak menimbulkan respons dari pihak si anak
* Letargi atau penurunan aktivitas. Anak berbaring lunglai, kaki dan tangan jarang digerakkan. Anak juga tidak tertarik untuk terlibat dalam suatu kegiatan.
* Gangguan napas. Anak bernapas dengan cepat atau merintih saat bernapas, atau setiap kali menarik napas, otot-otot dada tertarik ke dalam.
* Tidak mau minum atau makan (poor feeding). Minum jauh lebih sedikit dari biasanya. Bayi tidak mau menetek atau meneteknya sangat jarang dan hisapannya lemah. Bayi non ASI hanya minum separuh dari kebutuhannya dalam 24 jam. Bayi juga samasekali menolak makan.
* Muntah menyemprot. Muntah ini tidak ada kaitannya dengan makan atau minum, tidak ada pula kaitannya dengan batuk. Muntah kuat terjadi secara tiba-tiba. Pikirkan kemungkinan adanya peningkatan tekanan di rongga kepala seperti yang biasa terjadi pada meningitis.
* Produksi urin berkurang atau dehidrasi berat. Anak buang air kecil kurang dari 4 kali dalam 24 jam (popoknya tetap kering selama 6 – 8 jam).
* Bayi tersedak (bayi tidak bisa bernapas, muka menjadi merah lalu biru).
* Diare terus menerus selama 12 jam terakhir. Muntah-muntah hebat.
* Kondisi lain yang juga perlu untuk dibawa ke unit layanan kesehatan adalah muntah berwana hijau, kejang berulang atau lama, demam tinggi (terutama demam pada bayiberusia kurang dari 6 bulan), hernia, rewel terus menerus dan sulit ditenangkan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.